1
PANDANGAN MAHASISWA PADA FENOMENA BUNUH DIRI M. Fashihullisan1
[email protected] Martini 2
[email protected] Sri Iriyanti3
Abstrak
Bunuh diri merupakan salah satu masalah pelik dalam kehidupan modern. Masalah dan problem yang dihadapi manusia seringkali menjadikan seseorang putus asa dan memutuskan untuk bunuh diri. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang saat sekarang merasa menghadapi masalah pelik dalam hidupnya, bahkan banyak yang akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Oleh karena itulah dalam penelitian ini bertujuan untuk; 1) Menganalisis pandangan mahasiswa pada perilaku bunuh diri, 2) menganalisis pandangan mahasiswa pada pelaku bunuh diri, dan 3) menganalisis perilaku mahasiswa pada fenomena bunuh diri.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan pada mahasiswa di Jawa Timur secara accidental sampling. Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online dengan program google form. Kuesioner direspon oleh 108 orang mahasiswa dari berbagai kota di Jawa Timur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Banyak mahasiswa yang sudah melihat bahwa bunuh diri adalah suatu realitas yang ada di sekitar hidupnya, 2) Hampir semua mahasiswa masih berpandangan bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai ke-Tuhanan, keimanan, spirtualitas, kemanusiaan, 3) Lebih dari seperempat responden mahasiswa yang memiliki orang dekat yang telah mencoba atau bahkan melakukan bunuh diri, 4)Lebih dari sepertiga responden mahasiswa yang pernah berpikir untuk bunuh diri saat menghadapi masalah yang rumit dan berat dalam hidupnya.
Kata Kunci: mahasiswa, bunuh diri
Pendahuluan
1Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah, STKIP PGRI Pacitan
2 Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah, STKIP PGRI Pacitan
3 Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah, STKIP PGRI Pacitan
2
Akhir-akhir ini banyak diberitakan terjadi bunuh diri, tidak hanya pada orang dewasa tetapi bahkan pada remaja dan anak-anak. Fenomena bunuh diri menjadi semakin sering terjadi dimungkinkan akibat kepribadian yang lemah, spiritualitas keagamaan yang dangkal, dan problematikan kehidupan yang semakin komplek. Hal ini tentunya membuat kekhawatiran bagi semua kalangan karena bunuh diri berpeluang untuk semakin sering terjadi.
Muhammad (2023), menyampaikan data dari data pusat informasi kriminal POLRI di tahun 2023, dari Januari sampai Oktober 2023 terdapat lebih 900 kasus bunuh diri di Indonesia. Propinsi terbanyak kasus bunuh diri adalah propinsi Jawa Tengah yaitu 356 kasus dan propinsi kedua terbanyak adalah propinsi Jawa Timur dengan 184 kasus. Kasus bunuh diri tersebut lebih dari 700 kasus terjadi di perumahan. 4
Astungkoro (2023) melaporkan bahwa kasus bunuh diri di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Data dari POLRI, kasus bunuh diri tahun 2019 hanya sejumlah 230 kasus tetapi meningkat tajam menjadi 1.214 kasus di tahun 2023. Kondisi ini tentu saja sangat menghawatirkan, karena terlihat tren yang berlipat dari tahun ke tahun. 5
Metode Penelitian
4Muhammad, Nabila. 2023. 10 Provinsi dengan Kasus Bunuh Diri Terbanyak di Indonesia (Januari-Oktober 2023). Didowload dari:
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/10/18/ada-971-kasus-bunuh-diri-sampai- oktober-2023-terbanyak-di-jawa-tengah. Pada tanggal: 17 Januari 2024. 19.27 WIB.
5 Astungkoro, Ronggo. 2023. Makin Mengkhawatirkan, Kasus Bunuh Diri Terus Meningkat. Didownload dari: https://news.republika.co.id/berita/s5p7rv330/makin-
mengkhawatirkan-kasus-bunuh-diri-terus-meningkat , pada tanggal : 17 Januari 2024. 19.36 WIB.
3
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif. Hal tersebut dikarenakan penelitian ini digunakan untuk mengungkat pandangan awal dari mahasiswa mengenai bunuh diri yang belum banyak dilakukan penelitian. Diharapkan data deskriptif kuantitatif ini akan menjadi landasan bagi penelitian yang lebih mendalam mengenai fenomena bunuh diri, terutama pada kalangan mahasiswa.
Penelitian menggunakan populasi mahasiswa di Jawa Timur yang dilakukan secara accidental sampling. Hal tersebut dikarenakan isu bunuh diri masih dianggap sebagai isu yang sensitif sehingga diasumsikan tidak setiap orang bersedia menyampaikan pandangannya mengenai bunuh diri. Mahasiswa yang bersedia saja untuk menyampaikan pandangannya melalui isian kuesioner online dianggap sebagai sampel dari mahasiswa.
Penelitian dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online dengan program google form. Kuesioner direspon oleh 108 orang mahasiswa dari berbagai kota di Jawa Timur. Meskipun sampel penelitian didapatkan melalui accidental sampling, tetapi jumlah responden yang lebih dari 100 orang dianggap sudah mewakili kecenderungan pandangan mahasiswa di Jawa Timur.
Bunuh Diri
Crosby, Ortega, Melanson (2011) menyatakan bahwa percobaan bunuh diri adalah perilaku yang tidak fatal, diarahkan pada diri sendiri dan berpotensi melukai diri sendiri dengan keinginan untuk mati, dan suatu percobaan bunuh diri dapat atau tidak dapat menghasilkan luka. Silverman et al. (2007) menyatakan bahwa percobaan bunuh diri adalah perbuatan yang ditimbulkan oleh diri sendiri, suatu perilaku yang berpotensi melukai diri sendiri dengan hasil yang tidak fatal dan ada bukti baik itu eksplisit ataupun implisit dari keinginan untuk mati.
Untuk menggambarkan tingkat luka, maka dibedakan dengan percobaan bunuh diri tipe I untuk yang tanpa luka dan percobaan bunuh diri tipe II untuk percobaan bunuh diri yang menimbulkan luka.
Wenzel, Brown, dan Beck (2009) sebelumnya juga sudah menjelaskan pendapat Crosby yang mengatakan bahwa tindakan bunuh diri adalah perilaku yang berpotensi
4
melukai yang diakibatkan oleh perbuatan sendiri dengan keinginan untuk mati. Tindakan bunuh diri dapat atau tidak dapat menghasilkan kematian. Ide-ide bunuh diri adalah semua pikiran, gambaran, keyakinan-keyakinan, suara-suara atau pemikiranpemikiran tentang keinginan mengakhiri hidupnya. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat dipahami bahwa perilaku bunuh diri bukan hanya tindakan mengakhiri hidup, namun juga termasuk pikiran dan percakapan tentang bunuh diri, dan juga tindakan menyakiti diri sendiri dengan keinginan untuk mati.
Sikap Mahasiswa Pada Perilaku Bunuh Diri
Bunuh diri yang sering terjadi menjadikan sebuah pertanyaan apakah saat sekarang banyak orang yang sudah mulai melihat bahwa tindakan bunuh diri sebagai suatu hal yang wajar atau tidak. Mayoritas responden mahasiswa menunjukkan sikap bahwa perilaku bunuh diri bukan merupakan sikap yang wajar meskipun menghadapi masalah yang berat. Hanya saja yang patut menjadi perhatian bahwa lebih dari 30 persen reponden menyatakan bahwa menjadi sebuah kewajaran apabila manusia di era modern menyelesaikan masalah yang berat dengan bunuh diri.
Item Pertanyaan Wajar Tidak Wajar Bunuh diri sebagai Solusi penyelesaian
masalah manusia modern yang kompleks
34 orang (31,2%)
75 orang (68,8%)
Persentase mahasiswa yang mencapai 31,2 % berpandangan bunuh diri sebagai kewajaran menunjukkan fenomena yang mengerikan. Hal tersebut menunjukkan hampir sepertiga mahasiswa setidaknya melihat bahwa bunuh diri bukanlah hal yang tidak wajar untuk dilakukan oleh orang-orang yang menghadapi masalah pelik. Hal ini cukup mengagetkan kita semua karena mahasiswa merupakan kelompok yang memiliki tingkat intelektualitas yang cukup tinggi.
Item Pertanyaan Wajar Tidak Wajar
5 Bunuh diri sebagai Solusi penyelesaian masalah bagi mahasiswa
37 orang (33,9%)
72 orang (66,1%)
Hampir serupa dengan pandangan mahasiswa bunuh diri pada orang secara umum, ternyata hampir sama juga banyaknya mahasiswa yang berpandangan wajar pada bunuh diri sebagai penyelesaian masalah pada mahasiswa. Hampir sepertiga mahasiswa atau 33,9%
responden melihat sebuha kewajaran saat mahasiswa menghadapi masalah berat dengan penyelesaian bunuh diri. Hal ini tentu saja fakta yang cukup menghawatirkan karena banyak mahasiswa sudah mulai melihat kewajaran apabila mahasiswa melakukan bunuh diri saat menghadapi masalah yang berat.
Pandangan mahasiswa memperlihatkan fakta yang semakin mengagetkan saat bunuh diri terjadi pada teman atau saudara dekatnya. Hampir separuh atau 48,6% mahasiswa merasa mengerti apabila orang atau saudara dekat mereka melakukan bunuh diri saat menghadapi masalah yang berat. Hal ini menunjukkan bahwa hampir separuh mahasiswa mulai berkompromi pada fenomena bunuh diri pada orang-orang dekatnya.
Item Pertanyaan Memahami Tidak Memahami Bunuh diri apabila terjadi pada teman
dekat, orang dekat atau saudara dekat
53 orang (48,6%)
56 orang (51,4 %)
Fakta tersebut semakin menunjukkan bahwa fenomena bunuh diri sebagai sesuatu yang diterima oleh hampir separuh mahasiswa saat terjadi pada orang-orang dekatnya. Hal ini semakin menunjukkan potensi bahaya karena bunuh diri merupakan sesuatu yang dipandang mungkin terjadi pada orang-orang dekat mahasiswa. Oleh karena itulah penting untuk melakukan mahasiswa memiliki pandangan bahwa bunuh diri bukan merupakan kewajaran apabila terjadi pada orang secara umum, di kalangan mahasiswa, atau bahkan pada orang-orang dekatnya.
Pandangan mahasiswa yang kompromis pada bunuh diri atau percobaan bunuh diri nampak pada pandangan mayoritas mahasiswa yang tetap menjenguh orang yang mencoba
6
bunuh diri atau melayat orang yang bunuh diri. Hampir semua mahasiswa tetap berpandangan bahwa orang yang mencoba bunuh diri masih layak untuk dejenguk dan layak untuk diajak berteman. Begitu juga hampir semua mahasiswa berpandangan akan melayat orang yang bunuh diri.
Item Pertanyaan Sepakat Tidak Sepakat Menjenguk dan siap tetap berteman
dengan teman dekat yang mencoba bunuh diri
102 orang (93,6%)
7 orang (6,4 %) Melayat orang yang bunuh diri 101 orang
(92,7%)
8 orang (7,3%)
Sudah banyak mahasiswa yang berpandangan bahwa bunuh diri dalam realitasnya menjadi kewajaran untuk dilakukan, tetapi mereka masih memiliki pandangan bahwa bunuh diri tidak sesuai dengan prinsip Ke-Tuhanan, keimanan, keagamaan dan spiritualitas. Berikut adalah pandangan mahasiswa saat melihat bunuh diri dari sisi Ke-Tuhanan, keimanan, keagamaan dan spiritualitas.
Item Pertanyaan Sepakat Tidak Sepakat Bunuh diri tidak akan terjadi pada orang
dengan keimanan kuat dan spiritualitas tinggi
97 orang (89%%)
12 orang (11 %) Berfikir bunuh diri merupakan
pelanggaran tertinggi pada prinsip keimanan, agama, ke-Tuhanan dan kemanusiaan
104 orang (95,4%)
5 orang (4,6%)
Meskipun hanya sebagaian kecil yang sepakat bahwa bunuh diri tidak selaras dengan prinsip ke-Tuhanan, keimanan, agama, spiritualitas dan kemanusiaan, tetapi sebagian besar masih tetapi meyakini hal tesebut. Hanya saja fakta ini menunjukkan bahwa mahasiswa mulai banyak yang berbeda pandangan saat melihat bunuh diri dari prinsip ideal dan pada tataran realitas. Oleh karena itulah perlu dikuatkan lagi pandangan mahasiswa dari sisi realitas
7
bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang harus dihindari karena tidak sesuai prinsip dasar kehidupan manusia.
Mayoritas mahasiswa juga tetap melihat bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang lebih buruk dari merampok dan membunuh orang lain semakin menegaskan pandangan ideal mereka. Apapun masalahnya bunuh diri bahkan bagi hampir semua mahasiswa dianggap tindakan yang lebih buruk dari membunuh orang lain dan merampok orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa secara ideal bunuh diri dipandang sebagai sesuatu yang salah dalam prinsip manusia sebagai mahluk Tuhan maupun manusia sebagai makhluk sosial.
Item Pertanyaan Sepakat Tidak Sepakat Bunuh diri adalah tindakan yang lebih
baik dari merampok atau membunuh orang lain saat menghadapi kesulitan ekonomi yang sulit dipecahkan
16 orang (14,7%)
93 orang (85,3 %)
Bunuh Diri di Sekitar Mahasiswa
Mahasiswa ternyata dalam realitasnya mulai banyak yang memahami fenomena bunuh diri karena ternyata lebih dari seperempatnya mengaku sudah ada orang dekatnya yang mencoba atau bahkan melakukan bunuh diri. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan banyak mahasiswa yang mulai berkompromi bahkan mencoba mengerti pada kasus bunuh diri. Tentu saja fakta ini menunjukkan bahwa bunuh diri merupakan suatu realitas nyata dalam kehidupan mahasiswa yang bahkan pernah dicoba dilakukan atau sudah dilakukan oleh orang dekatnya.
Item Pertanyaan Ya Tidak
Sudah ada orang dekat yang mecoba atau melakukan bunuh diri
29 orang (26,6%)
80 orang (73,4 %)
Apa yang terjadi pada orang-orang di sekitar mahasiswa inilah yang kemungkinan mengubah pandangan-pandangan mahasiswa pada bunuh diri. Bunuh diri meskipun
8
dipandang mayoritas mahasiswa sebagai sesuatu yang tidak selaras dengan nilai ke-Tuhanan, keimanan dan kemanusiaan, tetapi pada kenyataannya telah dicoba atau bahkan dilakukan oleh orang-orang di dekatnya.
Mahasiswa Berpikir Bunuh Diri
Kesadaran bahwa bunuh diri merupakan suatu realitas yang nyata dalam kehidupan banyak mahasiswa ternyata berdampak juga pada pengalaman hidup banyak mahasiswa. Banyak mahasiswa yang terpengaruh untuk berfikir bunuh diri saat menghadapi masalah yang rumit dalam kehidupannya. Hal ini dikonfirmasi dari pandangan mereka yang menyatakan pernah berfikir untuk bunuh diri saat menghadapi masalah yang rumit dan sulit diselesaikan.
Item Pertanyaan Ya Tidak
Pernah berfikir untuk bunuh diri saat menghadapi masalah yang rumit dan kompleks.
40 orang (36,7%)
69 orang (63,3 %)
Lebih dari sepertiga mahasiswa responden menyatakan pernah berpikir untuk bunuh diri saat menghadapi masalah yang kompleks. Hal ini merupakan jumlah mahasiswa yang tidak sedikit dan harus diwaspadai. Bagaimanapun orang yang pernah berpikir untuk bunuh diri, tentu saja akan lebih berpotensi merealisasikan ide bunuh diri dibandingkan orang-orang yang tak pernah berpikir untuk bunuh diri. Hal ini menjadi semakin penting untuk diwaspadai karena hal ini terjadi pada mahasiswa yang memiliki tingkat intelektualitas di atas rata-rata masyarakat Indonesia. Tentu saja patut untuk menjadi lebih khawatir tentang apa yang terjadi pada kelompok masyarakat yang memiliki tingkat intelektualitas lebih rendah dari mahasiswa.
9 Penutup
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Banyak mahasiswa yang sudah melihat bahwa bunuh diri adalah suatu realitas yang ada di sekitar hidupnya, bahkan hal itu sudah mulai dianggap wajar apabila terjadi pada masyarakat, mahasiswa atau bahkan orang-orang dekatnya.
Hampir semua mahasiswa masih berpandangan bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai ke-Tuhanan, keimanan, spirtualitas, kemanusiaan, bahkan dianggap tindakan yang lebih buruk dari merampok atau membunuh orang.
Lebih dari seperempat responden mahasiswa yang memiliki orang dekat yang telah mencoba atau bahkan melakukan bunuh diri.
Lebih dari sepertiga responden mahasiswa yang pernah berpikir untuk bunuh diri saat menghadapi masalah yang rumit dan berat dalam hidupnya.
10 Daftar Pustaka
Astungkoro, Ronggo. 2023. Makin Mengkhawatirkan, Kasus Bunuh Diri Terus Meningkat.
Didownload dari: https://news.republika.co.id/berita/s5p7rv330/makin- mengkhawatirkan-kasus-bunuh-diri-terus-meningkat , pada tanggal : 17 Januari 2024.
19.36 WIB
Crosby, A. E., Ortega, L., & Melanson, C. (2011). Self-directed violance surveillance:
uniform definitions and recommended data elements, version 1.0. Georgia: Centers for Disease Control and Prevention National Center for Injury Prevention and Control Division of Violence Prevention.
Muhammad, Nabila. 2023. 10 Provinsi dengan Kasus Bunuh Diri Terbanyak di Indonesia
(Januari-Oktober 2023). Didowload dari:
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/10/18/ada-971-kasus-bunuh-diri- sampai-oktober-2023-terbanyak-di-jawa-tengah. Pada tanggal: 17 Januari 2024. 19.27 WIB.
Silverman, M. M., Berman, A. L., Sanddal, N. D., O’Carroll, P. W., & Joiner, T. E. (2007).
Rebuilding the tower of Babel: A revised nomenclature for the study of suicide and suicidal behaviors part 2: Suicide-related ideations, communications, and behaviors.
Suicide & LifeThreatening Behavior, 37(3), 264-277.
Wenzel, A., Brown, G. K., & Beck, A. T. (2009). Cognitive therapy for suicidal patients.
scientific and clinical applications. Washington DC: American Psychological Association.