Tantangan dan Strategi Pendidikan Islam di Era Perkembangan IPTEK
Aidia Lailika Nur
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta [email protected]
Azizah Halimatus Sa’diyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta [email protected]
Muhammad Fadhil Nuur Rahmat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta [email protected]
Abstrak
Pendidikan di era globalisasi saat ini mulai menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika dikaitkan dengan konstribusinya terhadap kemajuan peradaban dan budaya modern yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Tantangan tersebut diantaranya pendidikan Islam harus membuktikan kemampuannya dalam mengendalikan dan menangkal dampak negatif dari IPTEK, pendidikan Islam harus mampu menyeimbangkan konsep pembelajaran dengan IPTEK, serta pendidikan Islam perlu melakukan pembenahan persoalan internal tentang dikotomi Ilmu. Dalam artikel ini penulis mencoba menjabarkan beberapa langkah-langkah strategis untuk mengatasi segala tantangan yang di hadapi pendidikan Islam di era perkembangan IPTEK ini. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskripsif kualitatif melalui kajian pustaka. Sumber data yang diperoleh dari artikel ini adalah buku dan artikel. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik konten analisisis. Hasil dari penelitian ini adalah strategi pendidikan Islam di era perkembangan IPTEK harus menguatkan prinsip, pembenahan dikotomi Ilmu, pengunaan strategi global dan strategi sektoral.
Kata Kunci: Pendidikan; Islam; IPTEK
Abstract
Education in the current era of globalization is starting to face various challenges, especially when it is related to its contribution to the progress of modern civilization and culture which is relevant to the development of science and technology (IPTEK). These challenges include Islamic education having to prove its ability to control and counteract the negative impacts of science and technology, Islamic education having to be able to balance the concept of learning with science and technology, and Islamic education needing to improve internal issues regarding the dichotomy of science. In this article the author tries to describe several strategic steps to overcome all the challenges facing Islamic education in this era of science and technology development.
This research method uses a qualitative descriptive approach through literature review. The data sources obtained from this article are books and articles. The data analysis technique used is content analysis technique. The results of this research are that Islamic education strategies in the era of science and technology development must strengthen principles, improve the dichotomy of science, use global strategies and sectoral strategies.
Keywords: Education; Islam; Science And Technology
A. PENDAHULUAN
Pendidikan di era globalisasi saat ini mulai menghadapi tantangan demi tantangan, terutama ketika dikaitkan dengan konstribusinya terhadap kemajuan peradaban dan budaya modern yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Pada dimensi ini, pendidikan terutama pendidikan Islam mengalami kemunduran fungsi (degradasi fungsional) karena pendidikan Islam lebih berorientasi pada aspek batiniah daripada aspek lahiriah. Dengan demikian, pendidikan Islam menyebabkan terjadinya kemandulan dalam berpikir.
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pendidikan Islam hanya mampu menyesuaikan diri dengan pendidikan yang berorientasi pada materialistik (praktis dan pragmatis) sehingga tidak mampu menentukan langkahnya dengan independen. Hal ini terjadi sebagai akibat pendidikan Islam kalah bersaing dalam kebudayaan di tingkat global (Yahya 1) .
Dengan demikian, secara makro kondisi pendidikan Islam saat ini sudah ketinggalan jaman (out of dead) karena kalah berpacu dengan perkembangan dan perubahan sosial budaya. Konservatisme pendidikan merupakan salah satu sebab yang dirasakan menjadi “hambatan” sehingga komoditi yang diproduksi pendidikan Islam
selalu kalah bersaing dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya, yang mendorong pertumbuhan industri komunikasi dan informasi yang sedikit banyak telah mengubah pergeseran nilai dan budaya yang ada dalam masyarakat. Lebih “celaka” lagi,
pendidikan sebagai salah satu sistem sosial telah terbelenggu oleh berbagai aturan dan kebijakan pemegang kekuasaan yang menyebabkan pendidikan menjadi “mandul”,
tidak efektif, dan tidak fleksibel dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah kehidupan masyarakat.
Untuk memecahkan berbagai permasalahan di atas, dalam artikel ini penulis mencoba menjabarkan beberapa solusi untuk ikut meluruskan benang kusut yang sedang terjadi dalam dunia pendidikan. Penulis juga menawarkan wacana baru mengenai strategi pendidikan Islam dalam menghadapi kemajuan Iptek dengan
cakupan kajian yang meliputi; pengertian islam, pengertian iptek, serta tantangan dan strategi pendidikan islam dalam mrnghadapi perkembangan IPTEK.
B. METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskripsif kualitatif dengan melalui kajian pustaka, yang merujuk pada sumber yang diperoleh dari kepustakaan.
Sumber data yang diperoleh dari artikel ini adalah buku ilmiah, artikel, jurnal, hasil riset ilmiah, hasil kajian ilmiah, dan sebagainya. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis oleh penulis menggunakan teknik konten analisisis.
C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Pengertian Pendidikan Islam
Berbicara mengenai pendidikan tentu tidak lekang oleh waktu dalam pelaksanaannya. Padahal pendidikan dilakukan sejak dalam kandungan ibu, kemudian masuk sekolah dan akhirnya masuk ke alam kubur. Ada cukup banyak ayat dalam Al- Qur'an yang berbicara tentang perintah mencari ilmu. Jika kita berbicara mengenai pengertian pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari maknanya pendidikan pada umumnya. Maka penulis akan memaparkan sedikit definisi dari pendidikan antara lain (Maslaha 49):
a. Ki Hajar Dewantara menjelaskan bahwa pendidikan merupakan upaya yang dilakukan dengan penuh hati nurani yang bertujuan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Ia juga berpendapat bahwa pendidikan berarti upaya berkebudayaan, berdasarkan peradaban yaitu memajukan kehidupan dalam rangka memperbaiki derajat kemanusiaan
Selanjutnya pendidikan merupakan segala upaya yang dilakukan untuk menumbuhkembangkan segala potensi yang ada dalam diri manusia baik itu yang bersifat mental, fisik maupun moral untuk menghasilkan martunia yang dewasa dan dapat bertanggung jawab sebagai makhluk yang berbudipekerti mulia (Siswanto 9).
Pendidikan juga dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dimana mengandung unsur visi, misi, kurikulum, guru, sarana dan prasarana, biaya, alat, tujuan dari pembelajaran tersebut, kerjasama, sistem informasi dan evaluasi,lingkungan, manajemen pengelolaan, dan kelembagaan. Sebagai sebuah sistem unsur pendidikan tersebut berkaitan dengan fungsional antara yang satu dengan yang lainnya dengan terfokuskan kepada tercapainya visi, misi dan tujuan (Musyarif 16-17).
Sedangkan pendidikan Islam itu sendiri adalah suatu sistem pendidikan yang bersumber dari ajaran Islam dengan mencakup berbagai aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia manusia sebagai hamba Allah dimana Islam ini sebagai pedoman kehidupan dunia dan akhirat (Siswanto 9).
Dalam perjalanannya pendidikan islam memiliki tujuan untuk membentuk kepribadian muslim yang sempurna artinya mengembangkan seluruh kemampuan yang dimilikinya baik jasmani maupun rohani, serta menumbuhkembangkan hubungan harmonis dari masing-masing individu kepada tuhan, manusia lainnya, dan alam semesta. Maka dari itu pendidikan islam ini sebagai usaha dalam mengembangkan diri individu secara utuh agar relevan dengan apa yang diinginkan khususnya dengan tujuan duniawi ataupun ukhrawi (Maslaha 60).
Dalam pelaksanaannya, Pendidikan Agama Islam saat ini masih terdapat banyak permasalahan. Kritik didapatkan dari masyarakat terus bergantian, terutama mengenai banyaknya lulusan sekolah umum yang sudah sekian lama belajar PAI di sekolah dari SD sampai lulus sekolah menengah, namun masih tidak dapat membaca Al-Qur’an, apalagi dalam hal menulis Al-Qur’an (Multazam 82-83).
Kendala lainnya adalah PAI belum berpengaruh secara langsung terhadap tingkah laku anak yang dicontohkan dengan kenakalan remaja dengan berbagai macam bentuknya, seperti perkelahian,pergaulan bebas dan pelanggaran seksual. Kegagalan ini karena PAI lebih berfokus pada persoalan teoritis keagamaan yang bersifat pengetahuan dan kurang memperhatikan pada persoalan seperti pengetahuan agama yang kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu dihidupkan dalam peserta didik melalui berbagai cara, media, maupun forum (Multazam 83).
2. Pengertian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Sebelum lebih dalam mencari makna apa itu pengertian IPTEK harus diketahui apa pengertian dari ilmu pengetahuan dan teknologi secara terpisah terlebih dahulu. Secara etimologi, istilah “ilmu” adalah sebagai arti dari kata science (bahasa Inggris), yang
berarti pengetahuan. Kata ini berasal dari bahasa latin, scientia yang diturunkan dari kata scire yang berarti mengetahui dan belajar (Gie 87).
Secara terminologi, pengertian ilmu sekurang-kurangnya mencakup tiga hal, yaitu pengetahuan, aktivitas, dan metode untuk mendapatkan pemahaman terhadap pengertian ilmu (Rahardjo 572).
Sementara itu, pengetahuan, menurut Jujun Surya Sumantri digolongkan menjadi tiga macam, yaitu etika (pengetahuan tentang baik dan buruk), estetika (pengetahuan tentang indah dan jelek), dan logika (pengetahuan tentang benar dan salah) (Thoyibi 2).
Ilmu dan pengetahuan adalah dua istilah yang tidak dapat dipisahkan, tetapi tidak berarti bahwa ilmu dan pengetahuan itu sama.
Ilmu sebagai pengetahuan (knowledge) adalah pengertian ilmu pada umumnya.
Ilmu dikatakan sebagai aktivitas (activity) adalah serangkaian aktivitas atau kegiatan yang dilaksanakan manusia sebagaimana dikatakan oleh Charles Singer, ilmu adalah proses yang membuat pengetahuan. Istilah ilmu juga merupakan suatu metode untuk memperoleh pengetahuan yang objektif dan dapat diperiksa kebenarannya (Gie 86-88).
Jadi, ilmu adalah serangkaian aktivitas berpikir manusia untuk berpikir secara sistematis, objektif, serta menggunakan metode yang benar sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang objektif pula.
Selanjutnya, pengertian teknologi secara etimologi, kata teknologi berasal dari kata techne dan logos. Techne berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek atau kecakapan tertentu, sedangkan logosmengacu kepada kata logi yang mengacu kepada makna tata piker (Tim Penyusun Fakultas Filsafat UGM 95).
Secara terminologi, teknologi mempunyai arti kemampuan manusia (masyarakat) untuk memanfaatkan kekuatan-kekuatan alam guna kepentingan hidupnya. Dalam
memanfaatkan kekuatan alam tersebut dilakukan dengan menciptakan alat-alat (Sumardjan 163).
Dari pengertian teknologi tersebut, maka dapat dipersingkat bahwa teknologi adalah aplikasi dari kreativitas manusia yang berkaitan dengan alat, bahan serta maateeri yang nantinya dapat membantu memenuhi kebutuhan manusia dibidang teknologi.
Setelah mengetahui pengertian masing-masing dari ilmu pengetahuan dan teknologi, selanjutnya adalah IPTEK itu sendiri. IPTEK merupakan kepanjangan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. IPTEK merupakan suatu sumber informasi yang mana dapat menambah wawasan maupun pengetahuan seseorang dalam bidang teknologi.
IPTEK Menurut Horton B, dan Chester L, H Ilmu Pengetahuan merupakan suatu saha untuk mencari pengetahuan yang masuk akal dan diandalkan serta bisa diuji secara sistematis menurut tahap-tahap yang teratur dan berdaarkan prinsip-prinsip serta prosedur tertentu (Mulyani 23).
IPTEK merupakan hasil dari gagasangagasan manusia dan bersifat objektif sehingga mudah diterima dan dijangkau oleh masyarakat. Dengan adanya IPTEK dapat memudahakan dalam menyampaikan informasi sehingga menyebabkan perubahan dan perkembangan pada budaya. Perkembangan tersebut membuat pola pikir dan hidup masyrakat terus berubah mengikuti kemajuan (Camelia 60).
Nantinya apabila masyarakat tidak dapat mengikuti perkembangan maka mereka akan ketinggalan sehingga membuat mereka kesusahan dalam memanfaatkan sumber daya alam. Berdasarkan hal itu, sebuah bangsa atau Negara akan mengalami kemunduran karena rakyat di dalamnya tidak mampu memanfaatkan sumber daya alam dalam hal IPTEK.
3. Tantangan dan Strategi Pendidikan Islam di era perkembangan IPTEK
Pada hakikatnya, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil karya dari potensi akal manusia. Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat dan mencakup semua sektor kehidupan manusia.
Saat ini dampak dari perkembangan dan kemajuan IPTEK telah bermunculan, yang pada prinsipnya berkekuatan melemahkan daya mental spiritual. Permasalahan baru yang tampaknya harus segera dipecahkan oleh pendidikan Islam pada khususnya adalah dehumanisasi pendidikan dan netralisasi nilai-nilai agama. Terjadinya benturan antara nilai-nilai sekuler dengan absolutisme dari Tuhan. Akibat rentannya pola pikir manusia teknologis yang bersifat pragmatis-relativistis menuntut pendidikan Islam harus membuktikan kemampuannya dalam mengendalikan dan menangkal dampak negatif dari IPTEK terhadap nilai-nilai etika keagamaan Islam serta nilai-nilai moral dalam kehidupan individual dan sosial (Hasbullah 13).
Hussein Badjerei (2001) mengatakan bahwa perubahan dan perkembangan IPTEK dengan beragam kemajuan yang dibawanya bersifat fasilitatif terhadap kehidupan manusia karena IPTEK akan membawa dampak positif dan negatif. Apabila kita bisa memanfaatkan teknologi dengan sebaik-baiknya, maka kita tidak akan terbawa arus dan hanyut ke dalam perkembangan IPTEK. Namun, apabila kita tidak dapat memanfaatkan kecanggihan IPTEK, maka kita akan terjerumus ke dalam dampak yang negatif (Yahya 5).
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat memberikan dampak positif dan dampak negatif, adakah kemajuan iptek itu mendekatkan kita kepada Allah ataukah menyebabkan kita jauh dari Allah bahkan bertambah ingkar dan bertambah tamak untuk mencari kepuasan dan kekuasaan sebanyak-banyaknya kalau ini yang menjadi tujuan menuntut ilmu maka ini juga tidak ada bedanya dengan peradaban Barat.
Pendidikan banyak dihadapi dengan berbagai persoalan dan tantangan yang berkaitan dengan IPTEK tak terlepas pada pendidikan Islam pula. Pertanyaannya bagaiman pendidikan Islam mampu berkontribusi dalam perkembangan IPTEK yang semakin hari semakin mengalami perkembangan. Sebagaimana yang disebutkan dalam karangan buku yang berjudul Kapita Selekta Pendidikan yang dirangkum oleh Habibie
mengatakan bahwa terdapat lima prinsip yang harus dilakukan guna mencapai IPTEK yakni (Nata 34):
a. Melakukan Pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) dalam bidang IPTEK yang relevan dengan pembangunan bangsa.
b. Mengembangkan konsep masyarakat tekhnologi dan industry serta melakukan usaha yang serius dalam merealisasikan konsep tersebut.
c. Adanya transfer, aplikasi dan pengembangan lebih jauh dari tekhnologi yang diarahkan pada pemecahan permasalahan yang nyata.
d. Kemandirian tekhnologi, tanpa harus bergantung ke luar negeri.
e. Perlu adanya perlindungan terhadap tekhnologi yang dikembangkan di dalam negeri hingga mampu bersaing di arena Internasional.
Maka yang menjadi tantangan pendidikan Islam ialah harus mampu menyeimbangkan konsep pembelajaran dengan IPTEK yang diberlakukan. Banyak orang yang beranggapan bahwasannya pendidikan Islam hanya akan menghambat kemajuan IPTEK pada suatu lembaga. Mengapa sebagian orang beranggapan demikian, karena mereka hanya memahmi bahwa pendidikan Islam yang selama ini mereka pelajari hanya bersifat materi dan praktik saja. Lantas Ilmu pengetahuan tersebut tidak mendukung perkembangan IPTEK. Padahal pendidikan Islam bukan sebagai alasan penghambat kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, juga tidak anti terhadap barang-barang produk tekhnologi baik yang terdapat pada masa lampau, sekarang dan yang akan datang. ( Maslaha 52).
Salah satu strategi yang dapat dilakukan pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan perkembangan IPTEK seperti yang dikemukakan di atas yaitu pendidikan Islam perlu melakukan pembenahan persoalan internal tentang dikotomi Ilmu.
Persoalan dikotomi ilmu agama dan ilmu umum melahirkan dualisme pendidikan, yaitu pendidikan Islam dan pendidikan umum. Dikotomi dan dualisme tersebut merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan sampai sekarang.
Fazlur Rahman (1985) menawarkan satu pendekatan untuk menyelesaikan persoalan dikotomi pendidikan yaitu dengan menerima pendidikan sekuler modern sebagaimana yang berkembang di dunia Barat dan mencoba untuk mengisinya dengan
konsep-konsep kunci tertentu dari Islam. Kemudian Ahmad Syafi'i Ma'arif (1991) mengatakan bila konsep dualisme dikotomik berhasil diselesaikan, maka dalam jangka panjang sistem pendidikan Islam akan berubah secara keseluruhan, mulai dari tingkat dasar sampai ke perguruan tinggi. Pendidikan Islam melebur secara integratif dengan pendidikan umum. Peleburan bukan hanya dalam bentuk satu departemen saja, tetapi lebur berdasarkan kesamaan rumusan filosofis dan pijakan epistemologisnya. Upaya intergrasi keilmuan di Indonesia dapat dilihat dengan perubahan kelembagaan perguruan tinggi Islam dari insitut menjadi universitas. Pada level madrasah dan pondok pesantren upaya ini diwujudkan dengan memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulum (Pewangi 8).
Selain itu, yang menjadi tantangan Pendidikan Islam dalam menghadapi perkembangan IPTEK ialah Pendidikan Islam harus mampu menahkodai dampak negative dari IPTEK khususnya terhadap nilai-nilai etika, serta moral dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu pendidikan Islam harus mampu menghadapi berbagai tantangan serta dampak yang di timbulkan dari kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan cara perbaikan kembali konsepsi dan sistemasi pendidikan yang ada.
Yang mana konsep tersebut harus disetarakan dengan kehidupan modern, berumuskan kembali konsep sosial dan ilmu pengetahuan alam, menyusun kembali kurikulum serta mengadakan pelatihan para pendidik sehingga mereka mampu menerapkan serta menanamkan nilai-nilai intelektual dengan menggunakan metode-metode pengajaran yang efektif dan efisien (Maslaha 53).
Dua strategi pendidikan islam dalam menghadapi kemajuan IPTEK, yaitu strategi global dan strategi sektoral. Strategi global mencakup dua pendekatan: sistematik dan proses. Pendekatan sistematik dalam bidang pendidikan memerlukan keputusan politik karena Negara Indonesia sebagai Negara kesatuan sehingga perlu disusun sistem nasional dalam berbagai bidang. Sedangkan pendekatan proses sebagai peningkatan sistem pendidikan nasional melalui pendidikan yang berwawasan nilai, maksud dari pendidikan yang berwawasan nilai adalah pendidikan yang sampai pada hakikat ilmu dan tekhnologi. Sedangkan strategi sektoral sendiri bersifat temporal dan kondisional
dengan maksud pendekatan yang ditawarkan tidak mampu diimplementasikan pada setiap kondisi dan waktu (Thoha 8).
Melalui beberapa pendekatan di atas maka yang menjadikan titik ukur yang baik bagi pembaharuan sistem pendidikan dan sebagai solusi agar pendidikan Islam mampu bersaing di era modernisasi serta dalam kemajuan IPTEK mampu berpegang teguh pada landasan dari pendidikan Islam yaitu Al-Qur’an dan hadist.
D. SIMPULAN
Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya pendidikan Islam harus mampu bersaing di tengah pesatnya Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi dengan berbagai tantangan yang mampu dihadapi. Tantangan-tantangan tersebut diantaranya pendidikan Islam harus membuktikan kemampuannya dalam mengendalikan dan menangkal dampak negatif dari IPTEK terhadap nilai keagamaan Islam, pendidikan Islam harus mampu menyeimbangkan konsep pembelajaran dengan IPTEK yang diberlakukan, serta pendidikan Islam perlu melakukan pembenahan persoalan internal tentang dikotomi Ilmu. Adapun langkah-langkah strategis yang dapat dilakukan diantaranya adalah pendidikan Islam harus menguatkan prinsip, pembenahan persoalan internal tentang dikotomi Ilmu dengan menerima pendidikan sekuler modern sebagaimana yang berkembang di dunia Barat dan mencoba untuk mengisinya dengan konsep-konsep kunci tertentu dari Islam. Kemudian strategi global dan strategi sektoral juga perlu diberlakukan. Strategi global mencakup dua pendekatan: sistematik dan proses.
DAFTAR PUSTAKA