MAKALAH
CINTA DAN IBADAH DALAM TASAWUF
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf Dosen pengampu: R.A. Mulia Nur Aminah, LC., M.Ag.
Disusun oleh:
1. Fatikhatul Choirunnissa 53020230064
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SALATIGA TAHUN 2023
i
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb.
Kami ingin memulai makalah ini dengan mengucapkan Alhamdulillahhirobbil’alamin, sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih kepada Allah SWT, sumber segala kebijakan dan rahmat-Nya. Shalawat serta salam kami panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, pemimpin kami, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada dosen pengampu mata kuliah akhlak tasawuf,, Ibu R.A. Mulia Nur Aminah, LC., M.Ag. atas bimbingan dan bantuan dalam proses pembelajaran kami. Demikian pula, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan kontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini bertujuan untuk menyajikan pengetahuan tentang "Cinta dan Ibadah dalam Tasawuf". Kami sadar bahwa karya ini belum mencapai kesempurnaan, dan kami sangat menghargai kritik serta saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan peningkatan mutu makalah ini. Semoga isi makalah ini dapat memberikan manfaat dan pemahaman yang lebih baik kepada pembaca pada umumnya.
Wassalamualaikum wr.wb
Salatiga, 13 Oktober 2023
Penyusun
ii DAFTAR ISI
COVER ... i
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... iii
A. Latar Belakang ... iii
B. Rumusan Masalah ... iii
C. Tujuan ... iii
BAB II ... 1
A. Cinta Menurut Tasawuf ... 1
1. Secara Etimologi ... 1
2. Secara Terminologi ... 2
3. Pandangan Al-Quran Tentang Cinta ... 5
4. Cinta Menurut Rabiah al-Adawiyah ... 7
B. Ibadah Menurut Tasawuf ... 10
1. Pengertian Ibadah ... 10
2. Motivasi Ibadah dalam Tasawuf ... 11
3. Peran Ibadah dalam Tasawuf ... 13
BAB III ... 16
PENUTUP... 16
A. Kesimpulan ... 16
B. Saran ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Tema "Cinta dan Ibadah dalam Tasawuf" adalah subjek yang menarik dan relevan dalam konteks pemahaman tentang ajaran Tasawuf dalam Islam. Tasawuf adalah cabang dalam Islam yang bertujuan untuk mencapai kedekatan spiritual dengan Allah SWT dan pengembangan batin. Salah satu aspek utama dalam praktek Tasawuf adalah pemberian nilai besar terhadap cinta dan ibadah sebagai sarana untuk mencapai tujuan spiritual tersebut.
Pentingnya pemahaman tentang hubungan antara cinta dan ibadah dalam Tasawuf telah memotivasi penelitian dan pembahasan yang lebih mendalam tentang topik ini. Dalam Islam, cinta pada Allah dan ibadah yang dilakukan dengan tulus dan penuh kasih sayang dianggap sebagai bagian integral dari perjalanan spiritual. Oleh karena itu, makalaj ini akan membahas sejauh mana pengaruh cinta terhadap ibadah dalam Tasawuf dan bagaimana hubungan ini memengaruhi kehidupan spiritual kaum Muslim.
Selain itu, pemahaman yang lebih dalam tentang cinta dan ibadah dalam Tasawuf juga relevan dengan kebutuhan umat Islam di berbagai belahan dunia untuk mencapai kehidupan spiritual yang lebih kaya dan bermakna. Makalah ini akan membantu menyediakan wawasan yang lebih baik tentang prinsip-prinsip Tasawuf, serta memberikan panduan praktis bagi individu yang ingin mengintegrasikan cinta dan ibadah dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan cara yang lebih mendalam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud cinta menurut tasawuf?
2. Apa yang dimaksud ibadah menurut tasawuf?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian cinta menurut tasawuf.
2. Untuk mengetahui ibadah menurut tasawuf.
1 BAB II PEMBAHASAN
A. Cinta Menurut Tasawuf 1. Secara Etimologi
Penjelasan mengenai makna "mahabbah" atau cinta dalam konteks Tasawuf adalah suatu komponen yang sangat penting dalam pemahaman ajaran ini. Dalam bahasa Arab, "mahabbah" berasal dari kata dasar "ahabba," "yuhibbu," dan
"mahabbatan." Secara harfiah, kata tersebut berarti mencintai secara mendalam atau kecintaan yang dalam. Dalam buku "Mu'jam al-Falasafi," Jamil Shaliha menjelaskan bahwa "mahabbah" merupakan lawan dari "al-Baghd," yang berarti benci. Dengan demikian, "mahabbah" dapat diartikan sebagai cinta yang mendalam atau lawan dari benci.1
Dalam bahasa Indonesia, kata "Cinta" memiliki beberapa makna yang mencakup: a) Suka sekali, sayang sekali. b) Kasih sekali. c) Ingin sekali, berharap sekali, rindu, makin ditindas makin terasa rindunya. d) Susah hati (khawatir) tiada terperikan lagi.2 Sementara dalam bahasa Inggris, kata "Love" memiliki makna yang meliputi: a) Cinta. b) Asmara. c) Asmara pada pandangan pertama. d) Kecintaan. e) Kasih. f) Kasih sayang.3
Ada pendapat mengatakan bahwa kata mahabbah berasal dari kata “al- habâb” yang berarti “air meluap ketika hujan deras turun”. Sehingga, kata mahabbah adalah luapan hati ketika seorang pecinta merindukan kekasih.4
Ada pula yang berpendapat bahwa kata mahabbah diambil dari kata “hubb”
yang berarti bejana besar yang dapat dipakai untuk memuat berbagai macam benda sampai penuh sehingga tidak ada ruang lagi untuk menempatkan benda lain.
Demikianlah adanya hati seorang pecinta juga tidak akan menyisakan ruang lagi selain sang kekasih.5
1 Bahrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: A-Empat, 2015) h. 71
2 KBBI, pencarian ‘cinta’ diakses dari https://kbbi.web.id/cinta diakses pada hari Jumat, 13 Oktober 2023 pukul 19:24
3 John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia, 1993), h. 366
4 Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Penerjemah Fuad Syaifudin Nur (Jakarta: Qisthi Press, 2011) h. 25
5 Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, h. 26
2
Ada pula yang berpendapat bahwa kata mahabbah diambil dari kata “hubb”
yang berarti empat batang kayu yang digunakan untuk meletakkan bejana atau wadah lainnya. Hal itu menggambarkan bahwa seorang pecinta selalu siap memikul beban apapun demi sang kekasih sebagaimana halnya kayu “hubb” siap memanggul bejana yang berat.6
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dimengerti bahwa mahabbah adalah kecintaan kepada sesuatu yang sangat mendalam, hatinya diliputi dengan kecintaanya, dan tak ada yang dapat mengisi hatinya kecuali yang dicinta. Dirinya ingin menyatu dengan yang dicinta sekalipun dengan pengorbanan.
2. Secara Terminologi
Dalam perspektif mayoritas kaum sufi, hakikat cinta tidak akan pernah dapat didefinisikan. Imam al-Qusyairi mengatakan, cinta tidak dapat dilukiskan dengan suatu gambaran dan tidak dapat dibatasi dengan suatu penjelasan melainkan dengan kehadiran cinta itu sendiri.7 Justru dengan mendefinisikannya, ia akan semakin kabur. Definisi cinta adalah wujud itu sendiri, karena pada dasarnya definisi hanya berlaku untuk ilmu. Sedang cinta adalah sebuah keadaan perasaan yang terpendar ke dalam lubuk hati para pengagungnya. Tak ada yang dapat diutarakan kecuali perasaan cinta itu sendiri. Tak ada yang dapat dibicarakan tentangnya kecuali penjelasan tantang bekas-bekas yang ditinggalkannya, ungkapan atas buahnya, dan segenap penjelasan tentang sebab-sebabnya.8 Meskipun demikian, kaum sufi tetap menguraikan tentang makna cinta dalam segala bentuk keterbatasannya.
Cinta kepada Allah adalah tujuan yang paling luhur dalam segenap maqamat-maqamat yang ada, selain merupakan derajat yang paling tinggi karena setelah derajat itu tak ada lagi kecuali hanya buah dari cinta itu sendiri yang selalu selaras dengannya, Seperti: kerinduan, damai, dan ridla. Adapun maqamat- maqamat yang ada sebelum cinta adalah tak ubahnya semacam mukaddimah untuk dapat menuju cinta, seperti taubat, sabar, dan zuhud.9
6 Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Raudhatul Muhibbin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, h. 26
7 Zaprulkhan, Ilmu Tasawuf: Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), h. 55
8 Syekh ‘Abdul Qadir ‘Isa, Cetak Biru Tasawuf: Spiritualitas Ideal dalam Islam, Penerjemah Tim Ciputat Press (Ciputat: Ciputat Press, 2007), h.257
9 Syekh ‘Abdul Qadir ‘Isa, “Cetak Biru Tasawuf: Spiritualitas Ideal dalam Islam,” Penerjemah Tim Ciputat Press (Ciputat: Ciputat Press, 2007), h.257
3
Secara istilah mahabbah terdapat perbedaan menurut kalangan ulama ataupun sufi, karena persepsi yang mereka ungkapkan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka.
Pendapat kaum Teologi yang dikemukakan oleh Webster bahwa mahabbah berarti: a) keridhaan Tuhan yang diberikan kepada manusia, b) keinginan manusia menyatu dengan Tuhan, dan c) perasaan berbakti dan bersahabat seseorang kepada yang lainnya. Pengertian tersebut bersifat umum, sebagaimana yang dipahami masyarakat bahwa ada mahabbah Tuhan kepada manusia dan sebaliknya, ada mahabbah manusia kepada Tuhan dan sesamanya.10
Sejalan dengan hal tersebut, al-Razi menjelaskan bahwa jumhur Mutakallimin mengatakan bahwa mahabbah merupakan salah satu kebahagian dari iradah. Iradah itu tidak berkaitan kecuali apa yang dapat dijangkau, sehingga mahabbah tidak mungkin berhubungan dengan Zat Tuhan dan sifat-sifat-Nya, melainkan ketaatan dengan-Nya. Begitu pula pendapat al-Zamakhsyari sebagai salah seorang tokoh Mu’tazilah bahwa mahabbah adalah iradah jiwa manusia yang ditentukan dengan ibadah kepada yang dicintai-Nya bukan kepada selain-Nya.11
Sedangkan Imam al-Ghazali mengatakan bahwa mahabbah adalah kecenderungan hati kepada sesuatu. Namun, tentunya yang dimaksud adalah kecenderungan kepada Tuhan karena bagi kaum sufi mahabbah yang sebenarnya bagi mereka hanya mahabbah kepada Tuhan. Hal ini dapat dilihat dari ucapannya,
“Barang siapa yang mencintai sesuatu tanpa ada kaitannya dengan mahabbah kepada Tuhan adalah suatu kebodohan dan kesalahan karena hanya Allah yang berhak dicintai.”12
Sementara itu, Al-Harits al Muhasibi berkata, “Cinta itu terjadi jika kau condong kepada sesuatu, kemudian kau menyukainya melebihi kesukaanmu pada dirimu, jiwamu, dan milikmu sendiri. Lalu, kau meridhainya lahir dan batin, dan kau mengetahui kekurangan cintamu kepada-Nya.”13
Al-Junaid pernah ditanya tentang cinta, lalu dijawab, “Cinta adalah masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat yang mencintainya.” Maksudnya,
10 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, h. 64
11 Rahmi Damis, “Al-Mahabbah dalam Pandangan Sufi,” Artikel diakses dari http://journal.uin- alauddin.ac.id/index.php/sls/article/view/4693/4246 diakses pada Rabu. 13 Oktober 2023 pukul 19:58
12 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, h. 64
13 Syekh Muhammad Hisyam Kabbani, Tasawuf dan Ihsan, Penerjemah Zaimul Am,(Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2007), h. 33
4
orang yang mencintai itu selalu memuji yang dicintainya, sehingga orang yang mencintai tenggelam dalam ingatan sifat-sifat yang dicintainya dan melupakan sifat-sifat dirinya sendiri dan perasaaanya pada sifat-sifat yang dimilikinya.14
Suhrawardi mengatakan, “sesungguhnya, mahabbah adalah mata rantai keselarasan yang mengikat sang pecinta kepada kekasihnya, ketertarikan kepada kekasih, yang menarik sang pecinta kepadanya, dan melenyapkan sesuatu dari wujudnya sehingga ia menguasai seluruh sifat dalam dirinya, kemudian menangkap zat-Nya dalam genggam Qudrah (Allah).”15
Adapun pengertian mahabbah menurut Harun Nasution antara lain adalah yang berikut:
a. Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan pada-Nya.
b. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
c. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi. Yang dimaksud dengan yang dikasihi di sini ialah Tuhan.16
Pengertian tersebut diatas, sesuai dengan tingkatan kaum muslimin dalam pengalamannya terhadap ajaran agama, tidak semuanya mampu menjalaninya, yang terbanyak adalah kelompok awam mahabbah- nya termasuk pada pengertian pertama. Sejalan dengan itu, menurut Abu Nashr as-Sarraj: orang-orang yang memiliki kondisi spiritual mahabbah ini dibedakan menjadi tiga tingkatan:
a. Cinta orang awam, dimana mahabbah ini lahir karena kebaikan dan kasih sayang Allah Swt. Kepada mereka. Kondisi spiritual ini memerlukan syarat yakni senantiasa mengingat Tuhan dengan Zikir, suka menyebut nama- nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Senatiasa memuji Tuhan.
b. Cinta orang yang siddiq, cinta yang muncul karena hati orang yang selalu melihat keagungan dan kebesaran Allah, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu- Nya, dan lain-lain. Cinta yang dapat menghancurkan tutup penghalang dan menyingkap rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Cinta tingkat kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu
14 Imam al-Qusyairi, Risalah Qusyairiyah, Penerjemah Ma’ruf Zariq dan Ali Abdul Hamid, (Jakarta:
Darul Khair, 1998), h. 479
15 Rosihin Anwar, Akhlak Tasawuf,(Bandung: Pustaka Setia, 2010), cet 10, h. 203
16 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 2010), cet 12, h. 55
5 rindu pada-Nya.
c. Cinta orang yang arif, di mana rasa cintanya muncul karena mereka melihat dan mengetahui keqadiman Cinta Allah yang tanpa sebab dan alasan apapun.
Maka demikian pula mereka harus mencintai Allah tanpa sebab dan alasan apapun. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.17
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat dipahami bahwa mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Allah dan tak ada sesuatu di hati kecuali Allah, sehingga sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai. Serta untuk mencapainya harus dilakukan dengan sebuah perjuangan dan pengorbanan.
3. Pandangan Al-Quran Tentang Cinta
Ketahuilah umat itu sependapat jika cinta kepada Allah Swt. itu wajib yang ditetapkan dengan dalil qath’i (pasti). Dan, bagaimana diwajibkan apa yang tidak ada wujud baginya. Juga bagaimana kecintaan itu ditafsirkan dengan taat, dan taat itu mengikuti kecintaan serta buahnya. Maka tidak boleh tidak mendahulukan kecintaan. Kemudian, sesudah yang demikian orang akan menaati orang yang dicintai. dan, yang menunjukkan atas ketetapan kecintaan kepada Allah Swt.18 adalah firmannya Surah al-Maidah/5: 54 berikut ini:
اَهُّـيَاـ ي ٰۤ
ََنۡيِذَّلا
َاۡوُـنَم ا
َۡنَم
ََّدَتۡرَّـي
َۡمُكۡنِم
َۡنَع
َهِنـۡيِد
ََف ۡوَسَف ٖ
َىِتَۡيَ
َُ ّللا
َ م ۡوَقِب
َۡمُهُّـبُِّيُّ
َهَن ۡوُّـبُِيَُّو
َٰۤۤ ٖ
َ ةَّلِذَا َۙ
َىَلَع
َ ۡ
ََ ۡيِنِمۡؤُم لا
َ ةَّزِعَا ىَلَع
ََنۡيِرِف ك لا ۡ
ََنۡوُدِهاَُيُ
َِلۡيِبَس َِۡف
َِ ّللا
ََلَو
ََن ۡوُـفاََيَ
ََةَمۡوَل
َ مِٕٮٰۤ َل
َ
َ ذ ٖ
ََكِل
َُل ۡضَف
َِ ّللا
َِهۡيِت ۡؤُـي
َۡنَم
َُءٓاَشَّي
ََ
َُ ّللاَو ٖ
َ عِساَو
َ مۡيِلَع
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
17 Abu Nashr as-Sarraj, Al-Luma’ rujukan lengkap ilmu tasawuf, Penerjemah Wasmukan dan Samson Rahman (Surabaya: Risalah Gusti, 2014) h. 121
18 Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin: Zuhud, Cinta, dan Kematian, (Jakarta: Republika Penerbit, 2013), h. 191
6
Adapun firman Allah didalam surat Ali Imron ayan 31 barikut ini:
َۡلُق
َۡنِا
َۡمُت ۡـنُك
ََن ۡوُّـبُِتُ
ََ ّللا
ََّتاَف
َِۡن ۡوُعِب
َُمُكۡبِبُۡيُّ
َُ ّللا
َۡرِفۡغَـيَو
َۡمُكـَل
َۡمُكَبۡوُـنُذ
َُ ّللاَو ٖ
َ رۡوُفَغ
َ مۡيِحَّر
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Dan Juga pada Surat Al-Baqoroh /2:165 berikut
ََنِمَو
َِساَّنلا
َ نَم
َُذِخَّتَـي
َ نِم
َِنوُد
ََِّللا اًداَد نَأ
َ مَُنَوُّبُِيُّ
َِّبُحَك
ََِّللا
ََو َ َ
ََنيِذَّلا اوُنَمآ
َُّدَشَأ اًّبُح
ََِِّلل
َ وَلَو َۗ
َىَرَـي
ََّلا
ََنيِذ اوُمَلَظ
َ ذِإ
ََن وَرَـي
ََباَذَع لا
ََّنَأ
ََةَّوُق لا
ََِِّلل اًعيَِجَ
ََّنَأَو
َََّللا
َُديِدَش
َِباَذَع لا
Artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan- tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”
Pada surah al-Maidah/5: 54, Allah menyebutkan cinta-Nya kepada para hamba sebelum cinta mereka kepada-Nya. Sedangkan pada surah Ali Imran/ :31, Allah menyebutkan cinta mereka kepada-Nya kemudian disusul cinta-Nya kepada para hamba. Dan pada surah al-Baqarah/2: 165, Allah menyebutkan cinta mereka kepada-Nya sebagaimana cinta-Nya kepada mereka.19
Menurut Imam al-Qusyairi, cinta adalah suatu hal yang mulia. Allah Yang Maha Suci menyaksikan cinta hamba-Nya dan Allah pun memberitahukan cinta- Nya kepada hamba itu. Allah menerangkan bahwa Dia mencintainya. Demikian juga hamba itu menerangkan cintanya kepada Allah Yang Maha Suci.20
19 Abu Nashr as-Sarraj, Al-Luma’ rujukan lengkap ilmu tasawuf, h.118
20 Imam al-Qusyairi, Risalah Qusyairiyah, h. 475
7
Dalam Surah al-Baqarah/2: 165, Said Hawa menjelaskan, “Orang beriman sangat cinta kepada Allah, hal itu merupakan bagian dari tuntutan iman yang nyata dan besar tentang mahabbah terhadap Allah, mahabbah kepada Allah menjadi berpengaruh dalam merasakan nikmat-nikmat yang dianugerahkannya.”21
Dalam surah al-Maidah/5: 54, Said Hawa menafsirkan ayat ini terkait makna mahabbah, “Di dalam maksud ayat tersebut, Allah meridai amal mereka yang menyanjung-Nya. Mereka taat kepada-Nya dan mengutamakan sikap rida terhadap ketetapan Allah, di samping itu mereka berprilaku pada jalan yang meningkatkan mahabbah terhadap Allah dan menghindari jalan yang tidak disukainya.”22
4. Cinta Menurut Rabiah al-Adawiyah
Sufi yang termasyhur dalam mahabbah ialah Rabiah al-Adawiyah. Ia dipandang sebagai pelopor tasawuf mahabbah dan dikenang sebagai “Ibu Para Sufi Besar (The Mother of The Grand Master). Bukan hanya itu, karena prestasi sufistiknya itu, Rabiah al-Adawiyah juga disebut-sebut sebagai “Ratunya Perempuan Sufi” (The Queen of Saintly Women). Gelar itu disematkan kepadanya karena kezuhudannya. Hingga saat ini, perempuan hebat ini menjadi simbol cinta spiritual dan sufistk, yang pemikiran dan sejarah hidupnya senantiasa terus menginspirasi bagi para pencari Tuhan. Bahkan tokoh sufi perempuan hanya Rabiah al-Adawiyah yang paling banyak ditulis dan dikaji oleh orang, baik dari kalangan sesama sufi maupun para penyair. Seperti, Abu Amr al-Jahizh (Bayan wa al-Tibyan), Abu Thalib al-Makki (Qut al-Qulub), Imam al-Qusyairi (al-Risalah), Abdurrahman al-Sulami (Dzikr al- Niswah al-Mut’abbidat al-Shufiyyat), Ibn al- Jauzi, Farid al-Din al-Atthar (Tadzkirah al-Awliya) dan yang lainnya.23
Rabiah al-Adawiyah di dalam hidupnya senantiasa melakukan ibadah, bertobat, dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya ia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhan. Ia betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan hanya ingin berada dekat pada Tuhan. Pada akhirnya
21 Septiawadi, Tafsir Sufistik: Said Hawa dalam Al-Asas fi Al-Tafsir, (Jakarta: Lectura Press, 2013), h.
239
22 Septiawadi, Tafsir Sufistik: Said Hawa dalam Al-Asas fi Al-Tafsir, h. 247
23 Muhammad Muhibbuddin, Kitab Cinta Ulama Klasik Dunia, (Yogyakarta: Araska, 2018), h. 20
8
Tuhan baginya merupakan zat yang dicintai dan meluaplah dari hatinya rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan.24
Ajaran mahabbah yang dikembangkan Rabiah al-Adawiyah merupakan kelanjutan konsep zuhud yang diajarkan Hasan al-Basri, yang berawal dari ajaran khauf (takut) dan raja’ (berharap), Lalu dikembangkan oleh Rabiah al- Adawiyah ketingkat Mahabbah. Cinta suci yang murni itu lebih tinggi dari pada takut dan pengharapan. Rabiah al-Adawiyah mengatakan:
“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka, Bukan pula karena ingin masuk surge Tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada- Nya.”25
Pada suatu hari Rabiah al-Adawiyah terlihat membawa obor di sebelah tangannya dan air ditangannya yang sebelah lagi sambil berlari dengan cepat.
Orang-orang bertanya kepadanya ihwal arti dari perbuatannya itu dan kemana ia akan pergi. Ia menjawab, “Aku akan membakar surga dan menyiramkan air ke dalam neraka, agar kedua hijab (yang menjadi penghalang untuk melihat Allah secara benar) sama sekali akan hilang bagi mereka yang beribadah, dan tujuan mereka menjadi pasti, serta hamba-hamba Allah akan bisa melihat-Nya tanpa disertai perasaan khauf dan raja’.” Aku beribadah kepada Allah bukan karena takut neraka dan bukan karena ingin surga. Aku beribadah kepada Allah semata-mata karena cinta kepada-Nya dan bukan menginginkan sesuatu dari-Nya. Kalaupun tidak ada surga dan neraka, bukankah beribadah kepada Allah adalah tugas kita.
Dia layak disembah tanpa motif apapun.26 Rabiah al-Adawiyah mengatakan:
“Tuhanku, jika kupuja Engkau Karena takut kepada neraka, bakarlah aku didalamnya, dan jika kupuja Engkau Karena mengharapkan surga, jauhkanlah aku darinya, tetapi jika Engkau kupuja semata mata karena
24 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, h. 55
25 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, h. 56
26 Margaret Smith, kala Tuhan “Jatuh Cinta”: Biografi Ringkas dan Ajaran-ajaran Para Kekasih Allah, Penerjemah Nuruddin Hidayat, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2007), h. 24
9
Engkau, maka janganlah sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dariku”27
Ja’far bin Sulaiman berkata: aku mendengar Rabiah al-Adawiyah mengatakan bahwa Sufyan ats-Tsawri bertanya kepadanya, “Apakah cara yang paling baik bagi seorang hamba untuk mendekati Allah? Rabiah al-Adawiyah menangis dan menjawab: “Bagaimana bisa orang seperti aku ditanya hal seperti itu? Cara yang paling baik bagi seorang hamba untuk mendekati Allah adalah bahwa dia harus tau bahwa dia tidak boleh mencintai apapun di dunia ini atau diakhirat nanti selain Dia.”28
Adapun ungkapan Rabiah al-Adawiyah tatkala ada seseorang bertanya kepadanya, “Apakah engkau benci kepada setan?”. ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci kepada setan.” Ia pun pernah ditanya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad Saw. Rabiah al-Adawiyah menjawab, “Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”29 Dengan demikian, masih ada persoalan lagi dalam konteks cintanya Rabi’ah al-Adawiyah ini, mana yang lebih dipentingkan dan diutamakan olehnya: Allah atau cinta?
Jawabnya tentu saja Allah. Kenapa? Karena bagi Rabi’ah al-Adawiyah cinta bukanlah sebuah tujuan (ghayah), melainkan sebatas jalan (wasilah). Satu-satunya tujuan bagi Rabi’ah adalah Allah itu sendiri.30
Itulah sebagian ungkapan Rabiah al-Adawiyah yang menggambarkan kecintaannya kepada Allah Swt. seorang hamba yang benar-benar mencintai- Nya dan tak ada lagi ruang dihatinya untuk mencintai selain Allah. cinta suci murni kepada Tuhan tanpa dibarengi dengan pengharapan apapun adalah puncak dari tasawuf Rabiah al-Adawiyah.
27 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, h. 56
28 Abdurrahman as-Sulami, Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari, Penerjemah Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka Hidayah, 2004), h. 90
29 Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, h. 58
3030Muhammad Muhibbuddin, Kitab Cinta Ulama Klasik Dunia, h. 15
10 B. Ibadah Menurut Tasawuf
1. Pengertian Ibadah
Sudah menjadi maklum, bahwa peradaban modern telah memetakan umat manusia menjadi dua kelompok besar. Pertama; komunitas relegius, meyakini ajaran agama dan mengamalkannya. Kedua; komunitas hedonis, hanya mengedepankan kelezatan duniawi, tidak mengindahkan norma-norma agama, bahkan cenderung meragukan eksistensi Tuhan dan kehidupan di akhirat.
Ibadah dalam bahasa Arab berarti kehinaan atau ketundukan. Dalam terminologi syariat, ibadah diartikan sebagai sesuatu yang diperintahkan Alloh sebagai syariat, bukan karena adanya keberlangsungan tradisi sebelumnya, atau karena tuntutan logika, atau akal manusia. Namun definisi yang lebih konkret dari ibadah dapat dilihat dari definisi yang diberikan oleh Ust. Ibrahim Muhammad Abdullah al Buraikan dalam bukunya Pengantar Studi Aqidah Islam, yaitu : “ Ibadah adalah nama yang merangkum segala sesuatu yang dicintai dan diridloi Alloh SWT, baik berupa perkataan, perbuatan yang tampak dan tidak tampak, dengan kecintaan, kepasrahan, dan ketundukan yang sempurna, serta membebaskan diri dari segala yang bertentangan dan menyalahinya.
Pada hakikatnya, hidup adalah untuk beribadah kepada Allah swt semata sebagaimana firman Allah swt yang artinya:
اَم َو تْقَلَخ ن ِجْلا َسْنِ ْلْا َو لِّإ ِنو د بْعَيِل
Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat; 51 : 56).”
Ibadah menurut asal bahasanya berarti segala usaha lahir dan batin yang sesuai perintah agama yang harus dituruti pemeluknya atau upacara yang berhubungan dengan agama. Sedangkan menurut Islam, ibadah mempunyai dua pengertian,yaitu:
a. Ibadah dalam pengertian khusus,yaitu “Lima Rukun Islam” yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim dengan beberapa pengecualian pada kondisi khusus.
11
b. Ibadah dalam pengertian luas atau umum,yaitu segala perbuatan yang dilakukan seseorang dengan niat untuk mencari keridaan Allah, seperti seorang suami pergi ke kantor guna mencukupi kebutuhan keluarganya31
ْدَقَل نَم اللّ
ىَلَع َنيِنِم ْؤ مْلا ْذِإ
َثَعَب ْمِهيِف ًلّو سَر ْنِم ْمِهِس فْنَأ و لْتَي ْمِهْيَلَع ِهِتاَيآ ْمِهيِ كَز ي َو م ه مِ لَع ي َو
َباَتِكْلا َةَمْك ِحْلا َو ْنِإ َو
او ناَك ْنِم لْبَق يِفَل ل َلََض نيِب م
Artinya: “Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang- orang yang beriman ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan (hati/jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al- Kitab (al-Qur-an) dan al-Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”
(QS Ali ‘Imraan ; 3 : 164).
Makna firman-Nya “mensucikan (Hati/jiwa) mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya atau hidayah Allah Ta’ala. Maka kebersihan hati seorang muslim merupakan syarat untuk mencapai kebaikan pada dirinya secara keseluruhan, karena kebaikan seluruh anggota badannya tergantung dari baik/bersihnya hatinya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
َلَّأ َو نِإ يِف ِدَسَجْلا ًةَغْض م اَذِإ ْتَحَلَص َحَلَص دَسَجلا هُّل ك َو اَذِإ ْتَدَسَف َدَسَف دَسَجْلا هُّل ك َلَّأ َيِه َو بْلَقْلا
“Ketahuilah, bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal (daging), yang kalau segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh (anggota) tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh (anggota) tubuhnya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati (manusia)”
2. Motivasi Ibadah dalam Tasawuf
Ibadah sebenarnya menjadi focus dan tujuan utama atas kehadiran manusia di muka bumi ini, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya :
31 Ahmad Zuhdi, Studi Tentang Pemahaman Islam, (STAIN Kerinci Press, 2009), cet.1, hal 135-136
12
اَم َو تْقَلَخ ن ِجْلا َسْنِ ْلْا َو لِّإ ِنو د بْعَيِل
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyaat ; 51 : 56).
Tujuan orang tasawuf beramal ialah membebaskan jiwa daripada belenggu hawa nafsu, membersihkannya daripada akhlak yang keji, menjauhkannya daripada sifat-sifat yang tercaci, sehingga kosonglah hati, tak berisi dengan satu apapun selain daripada Allah, hati seperti ini sudah berhias dengan zikir Allah(mengingat Allah).32 Besarnya hasrat dan kecintaan ibadah yang ingin diamalkan dalam tasawuf memang sangat luar biasa, karena mereka menyadari batapa manusia memerlukan Allah SWT. Sekecil apapun urusan dan kebutuhannya. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:
اَم دي ِر أ ْم هْنِم ْنِم ق ْز ِر اَم َو دي ِر أ ْنَأ ِنو مِعْط ي
“ Aku tidak berhajatkan rezeki sedikitpun dari mereka itu dan Aku tidak menghendaki mereka memberi Aku makan. “ (QS. Adz-dzaariyaat; 51 : 57).
Kemudian disebutkan lagi dalam ayat yang lain:
اَي اَهُّيَأ سا نلا تْنَأ م ءاَرَق فْلا ىَلِإ ِ اللّ
اللّ َوۖ َو ه ُّيِنَغْلا ديِمَحْلا
“ Hai manusia, kamulah yang berkhendak kepada Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(QS. Faathir ; 35 : 15).
ْنَم َلِمَع اًحِلاَص ِهِسْفَنِلَف ْنَم َوۖ َءاَسَأ اَهْيَلَعَف اَم َوۗ َكُّبَر م لََظِب ِديِبَعْلِل ْنَم َلِمَع اًحِلاَص ِهِسْفَنِلَف ْنَم َوۖ َءاَسَأ اَهْيَلَعَف اَم َوۗ َكُّبَر
ِب م لََظ ِديِبَعْلِل
“Sesiapa Yang mengerjakan amal soleh maka faedahnya akan terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa Yang berbuat kejahatan maka bahayanya akan menimpa dirinya sendiri; dan Tuhanmu tidak sekali-kali berlaku zalim kepada hamba-hambanya”.(QS. Fushilat ; 41 : 46).
32 Abdulfatah Haron Ibrahim, Penyelamat Dari Kesesatan, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1991), cet.3, hal. 53
13
َلّ َو ر ِزَت ةَر ِزا َو َر ْزِو ىَرْخ أ ْنِإ َوۚ عْدَت ةَلَقْث م ىَلِإ اَهِلْم ِح ْلَمْح ي َلّ
هْنِم ء ْيَش ْوَل َو َناَك ىَب ْر قاَذ اَم نِإۗ رِذْن ت َنيِذ لا َن ْوَشْخَي
ْم ه بَر ِبْيَغْلاِب او ماَقَأ َو َة َلَ صلا ْنَم َو ۚ ى كَز َت اَم نِإَف ى كَزَتَي ِهِسْفَنِل ىَلِإ َوۚ ِ اللّ
ري ِصَمْلا
“Dan (ketahuilah), seseorang pemikul tldak akan memikul dosa perbuatan orang lain; dan jika seseorang Yang berat tanggungnya (dengan dosa), memanggil (orang lain) untuk menolong memikul sama bebanan itu, tidak akan dapat dipikul sedikitpun daripadanya, Walaupun orang Yang diminta pertolonganNya itu dari kerabatnya sendiri. Sesungguhnya Engkau (Wahai Muhammad) hanyalah memberi peringatan kepada orang-orang Yang takut (melanggar hukum-hukum) Tuhan semasa mereka tidak dilihat orang dan semasa mereka tidak melihat azab tuhan, serta mereka mendirikan sembahyang. dan sesiapa Yang membersihkan dirinya (dari Segala Yang dilarang) maka Sesungguhnya ia melakukan pembersihan itu untuk kebaikan dirinya sendiri dan (ingatlah), kepada Allah jualah tempat kembali.“(QS.
Fathir ; 35 : 18)
Berbicara masalah ibadah ada baiknya untuk memetakan ibadah itu sendiri.
Pertama, ibadah yang berbentuk “personal-ritual”. Ibadah ini merupakan ibadah mahdhah yang sudah lazim dilaksanakan oleh setiap muslim. Mulai dari shalat 5 waktu (beserta sunnah rawatibnya), puasa Ramadhan (dan puasa sunnah), zakat (baik fitrah maupun mal), dan ibadah haji. Semuanya sudah diatur dalam syariat.
Karenanya umat Islam tidak diperkenankan untuk melakukan ‘inovasi’ dalam hal ini. Tepatnya, lakukan saja sebagaimana adanya.
Kedua, disebut sebagai ibadah “sosial-aktual”. Ibadah ini merupakan tanggung jawab sosial (social responsibility) seseorang. Tanggung jawab sosial ini sebagai konsekuensi syukur seorang hamba. Bentuknya adalah pengabdian sosial untuk memberikan manfaat kepada umat manusia dan alam semesta. Ibadah ini memang umum dan karenanya manusia diperbolehkan melakukan inovasi.
Pasalnya, ibadah sosial haruslah aktual dan kontekstual. Sesuai dengan keadaan dan tepat guna. Sesuatu yang berguna bagi kelompok tertentu belum tentu berguna bagi kelompok yang lain. Disinilah letak urgensi dari aktualitas ibadah sosial.
3. Peran Ibadah dalam Tasawuf
Untuk membangun kedekatan kepada Allah, menurut para sufi dapat dilakukan dengan dua usaha: pertama dengan cara mulamazah.yaitu terus menerus berada dalam zikir kepada Allah, kedua dengan cara mukhlafah yakni secara
14
berkelanjutan dan konsisten menghindari segala sesuatu yang dapat melupakan Allah SWT, oleh para sufi disebut safar kepada Allah.33
Sehubungan dengan peran ibadah, bagi penganut sufi merupakan makanan batin yang sangat lezat dan nikmat. Bibir dan lidahnya tak pernah berhenti menyebut nama Allah, memuji dan membesarkannya.
ْنَع َو يِبَأ َةَرْيَر ه يضر الله هنع َلاَق َلاَق: لو سَر ِ َ اللّ
ىلص الله هيلع ملسو ْنَم( َلاَق َناَحْب س: ِ َ ِهِدْمَحِب َواللّ
َةَئاِم ة رَم
ْت ط ح هاَياَطَخ ْنِإ َو ْتَناَك َلْثِم ِدَب َز ِرْحَبْلَا قَف ت م( ْيَلَع ه
“Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ’anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa membaca (artinya = Maha suci Allah dan aku memuji-Nya) seratus kali dihapuslah segala dosanya walaupun laksana buih air laut." (HR. Muttafaq Alaihi)
Ibnu Taimiyyah menyatakan bahawa: Ibadah ialah nama yang menggabungkan setiap perkara yang di sukai dan diredai Allah semata dari jenis perkataan atau perbuatan, batin atau lahir. Bagi kelompok sufi ibadah tidak hanya dalam bentuk ibadah fisik, melainkan zahir dan bathin. Ibadah lahir artinya seluruh anggota badannya menjalankan semua perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjauhi segala larangan-larangannya. Ibadah batin artinya tidak mengabaikan amal ibadahnya, akan tetapi selalu menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala kepadanya, baik itu berupa kenikmatan atau cobaan.34 Karena harapan seorang hamba yang hidup di dunia ini ada dua tujuan:
a. Agar dia dapat mengerjakan perintah-perintah pada lahirnya. Maksudnya mengerjakan semua keta’atan di dalam mengikuti semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya
b. Dan bergantung kepada Allah Ta’ala di dalam batin. Maksudnya hanya kepada Allah Ta’ala-lah tempat segala sesuatu, tempat bersandar, tempat pemberi pertolongan, bukan kepada yang lain.35
Selain apa yang disebutkan diatas, perlu juga dijelaskan bahwa tasawuf sendiri memiliki fungsi, yakni secara substansial adalah membentengi diri dari
33 M. Jamil, Ibid, hal 40
34 Muhammad Al-Ghazali, Tujuan Hidup Para Sufi, (Selangor D.E: Pustaka Ilmi, 1996), cet. 1, hal 94
35 Ibid, hal 95
15
segala macam penyakit hati, yang berupa keinginan untuk menguasai segala aspek keduniaan.36 Hal ini bukan berarti bahwa manusia harus antipati terhadap dunia, bahkan harus menjauhi dunia sejauh mungkin. Tetapi Islam memberikan kebebasan kepada para pemeluknya untuk mengambil segala aspek keduniaan secara proporsional, sebatas yang dibutuhkan tidak melampaui batas-batas kewajaran.
36 Syamsun Ni’am, Wasiat Tarekat, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, (Jakarta: Ar Ruzz Media, 2011), cet. 1, hal 73
16 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam makalah ini, kita telah menjelaskan bahwa cinta dan ibadah dalam Tasawuf memiliki keterkaitan yang kuat. Tasawuf, sebagai cabang dalam Islam yang mengejar kedekatan spiritual dengan Allah, menekankan pentingnya cinta yang mendalam dalam praktek ibadah. Cinta kepada Allah bukan hanya motivasi, tetapi juga inti dari ibadah dalam Tasawuf.
Kita juga melihat bahwa guru-guru spiritual memainkan peran penting dalam membimbing para murid dalam memahami cinta dan ibadah. Mereka menjadi sumber inspirasi dalam mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang cinta dan ibadah dalam Tasawuf.
Pemahaman tentang cinta dan ibadah dalam Tasawuf bukan hanya teori, melainkan memiliki dampak nyata dalam kehidupan spiritual individu. Studi lebih lanjut tentang hubungan ini dapat memberikan panduan praktis bagi mereka yang ingin mendalami jalan spiritual ini. Dengan demikian, cinta dan ibadah adalah unsur penting yang saling mendukung dalam Tasawuf, membantu individu mencapai kedekatan spiritual dengan Tuhan melalui ibadah yang didasari oleh cinta yang mendalam.
B. Saran
Sebagai manusia biasa kami memiliki keterbatasan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca sekalian guna memperbaiki dan menyempurnakan tulisan dan pengetahuan kami.
Inilah pengetahuan dan wawasan kami mengenai cinta dan ibadah menurut pandangan tasawuf. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembaca sekalian.
17
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihin. (2010). Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia.
as-Sarraj, Abu Nashr. (2014). Al-Luma’: Rujukan Lengkap Ilmu Tasawuf. Penerjemah:
Wasmukan dan Samson Rahman. Surabaya: Risalah Gusti.
as-Sulami, Abdurrahman. (2004). Sufi-sufi Wanita: Tradisi yang Tercadari. Penerjemah:
Ahsin Mohammad. Bandung: Pustaka Hidayah.
Bahrudin. (2015). Pengantar Ilmu Tasawuf. Serang: A-Empat.
Echols, John M., & Shadily, Hassan. (1993). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
Ghazali, Imam al. (2013). Ihya Ulumuddin: Zuhud, Cinta, dan Kematian. Jakarta: Republika Penerbit.
Haron Ibrahim, Abdulfatah. (1991). Penyelamat Dari Kesesatan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Hisyam Kabbani, Syekh Muhammad. (2007). Tasawuf dan Ihsan. Penerjemah: Zaimul Am.
Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
'Isa, Syekh 'Abdul Qadir. (2007). Cetak Biru Tasawuf: Spiritualitas Ideal dalam Islam.
Penerjemah: Tim Ciputat Press. Ciputat: Ciputat Press.
Nasution, Harun. (2010). Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Ni’am, Syamsun. (2011). Wasiat Tarekat, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Jakarta: Ar Ruzz Media.
Muhibbuddin, Muhammad. (2018). Kitab Cinta Ulama Klasik Dunia. Yogyakarta: Araska.
Qayyim al-Jauziyyah, Ibnul. (2011). Raudhatul Muhibbin: Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Penerjemah: Fuad Syaifudin Nur. Jakarta: Qisthi Press.
Qusyairi, Imam al-. (1998). Risalah Qusyairiyah. Penerjemah: Ma’ruf Zariq dan Ali Abdul Hamid. Jakarta: Darul Khair.
18
Septiawadi. (2013). Tafsir Sufistik: Said Hawa dalam Al-Asas fi Al-Tafsir. Jakarta: Lectura Press.
Smith, Margaret. (2007). Kala Tuhan “Jatuh Cinta”: Biografi Ringkas dan Ajaran-ajaran Para Kekasih Allah. Penerjemah: Nuruddin Hidayat. Bandung: Pustaka Hidayah.
Zuhdi, Ahmad. (2009). Studi Tentang Pemahaman Islam. STAIN Kerinci Press.