• Tidak ada hasil yang ditemukan

tata cara pencairan bantuan sosial - Repository UMJ

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "tata cara pencairan bantuan sosial - Repository UMJ"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan buku referensi berjudul Tata Cara Pencairan Bantuan Sosial Kepada Penyandang Disabilitas. Hadirnya buku referensi ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai seluruh masyarakat lokal yang memerlukannya sebagai referensi dalam cara pembayaran bantuan sosial kepada masyarakat lokal/penyandang disabilitas. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi yang telah memfasilitasi dana penelitian skripsi dengan anggaran tahun 2020. Demikian pula ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penelitian dan penyusunan makalah ini. buku.

Tidak ada gading yang tidak retak, sehingga masukan dari pembaca sangat dinantikan demi kesempurnaan buku ini. Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat dan menjadi bekal kebaikan dalam menyebarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat.

Pendahuluan

Bentuk-bentuk Bantuan Sosial

Program ini dirancang untuk membantu penyandang disabilitas berat memenuhi kebutuhan hidup dasar dan perawatan sehari-hari. Hingga Januari 2016, terdapat 7.140 penyandang disabilitas berat yang masuk dalam daftar tunggu calon penerima ASPDB. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemeliharaan kesejahteraan sosial penyandang disabilitas berat untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar sangat diperlukan.

Pemberian bantuan kepada penyandang disabilitas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penyandang disabilitas dalam menggunakan hak-hak dasarnya. Pemberian pelayanan dan kepedulian sosial bagi penyandang disabilitas yang memerlukan bantuan yang berguna dalam mobilitasnya. Tahapan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah: verifikasi dan seleksi, pengusulan bantuan, pengukuran, pemberian bantuan sosial yang digunakan sebagai pendampingan pergerakan penyandang disabilitas.

Penyandang disabilitas membutuhkan bantuan hingga bantuan sosial dapat disalurkan dan digunakan sebagaimana mestinya. Luaran kegiatan penyediaan alat bantu dapat dihitung berdasarkan jumlah penyandang disabilitas yang telah menerima bantuan berupa alat bantu; Alat bantu bagi penyandang disabilitas sensorik (reglet, tongkat putih, kacamata low vision, jam tangan bicara, komputer bicara, alat bantu dengar, dan lain-lain).

Bansos anak disalurkan oleh Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas melalui pihak ketiga yaitu PT POS Indonesia.

Instansi yang Terlibat dalam Bantuan Sosial

Selain UPT, pelaksanaan rehabilitasi sosial terhadap penyandang disabilitas juga dilakukan dengan melibatkan Dinas Sosial atau Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menangani permasalahan/permasalahan sosial khususnya penyandang disabilitas. Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas melaksanakan Program Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas secara terkoordinasi dan terpadu, dalam rangka menjaga hak-hak penyandang disabilitas. Kegiatan rehabilitasi sosial terhadap penyandang disabilitas dilakukan melalui program rehabilitasi sosial dan perlindungan sosial yang meliputi bantuan sosial, advokasi sosial, bimbingan.

Permasalahan Bantuan Sosial

Banyak pekerja dengan pendidikan pekerjaan sosial yang bekerja di bagian administrasi, padahal tenaga dan keahliannya sangat dibutuhkan untuk memberikan pelayanan secara langsung. Kendala yang mereka hadapi terkait dengan tingkat kesejahteraan pekerja sosial yang relatif kurang sehingga minat terhadap pekerja dengan pendidikan pekerjaan sosial sangat sedikit. Kurangnya data, kurangnya dukungan finansial, terbatasnya tenaga profesional pekerja sosial, dan kurangnya koordinasi dan sinergi antar program tentu berdampak besar pada perencanaan dan alokasi anggaran.

Perbaikan pada keempat aspek tersebut, khususnya penyediaan data yang akurat, mutlak diperlukan untuk meningkatkan kinerja perencanaan dan anggaran. Salah satu dampak negatif yang ditimbulkan oleh modernisasi adalah semakin banyaknya masyarakat yang mengalami stres tingkat tinggi yang menyebabkan gangguan jiwa, masyarakat terlantar, dan masyarakat yang mengalami kecacatan/cacat fisik. Tangsel, sebagai kota yang berkembang sangat pesat, juga tidak luput dari dampak negatif modernisasi.

Permasalahan di Tangsel, Dinas Sosial menangani masalah penelantaran, sedangkan penyembuhan luka ditangani oleh Dinas Kesehatan. Permasalahan tersebut diperparah dengan keterpurukan ekonomi sehingga banyak keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas kesulitan mendapatkan pengobatan untuk kesembuhannya. Hingga Dinas Sosial Tangsel secara sadar turun tangan menangani masalah disabilitas meski mereka bukan warga asli Tangsel.

Pemerintah Tangsel telah memberikan bantuan sebesar Rp300.000/bulan/orang kepada 38 penyandang disabilitas berat melalui bakti sosial dalam dua tahun terakhir. Menurut Lamro Siregar, Kepala Departemen Pelayanan dan Rehabilitasi Penyandang Disabilitas, banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa pemerintah menaruh perhatian besar terhadap hal ini dalam dua tahun terakhir. 34; Penyandang disabilitas, baik yang berasal dari Tangsel atau bukan dari Tangsel, khususnya penyandang disabilitas berat tetap kami layani dan bantu.

Kesulitan yang dialami Dinas Sosial selama ini adalah harus mengalihkan penyandang disabilitas dan terlantar ke RS Suharto Herdja Grogol dan RS Marzuki Mahdi Bogor. Mengingat semakin banyaknya kasus disabilitas dan orang terlantar, maka sudah selayaknya Pemerintah Kota Tangsel memberikan perhatian terhadap kebutuhan rumah rehabilitasi dan rumah singgah. Dengan demikian, Tangsel sebagai kota metropolitan juga bisa disebut sebagai kota yang ramah dan perhatian terhadap semua orang.

Penerima Bantuan Sosial

Kriteria Masyarakat yang Berhak Menerima

Disabilitas

Bantuan Sosial Bagi Penyandang Disabilitas Berat atau biasa disingkat ASPDB merupakan program bantuan pemerintah berupa bantuan langsung tunai sebesar Rp300.000 per orang. orang per bulan selama satu tahun, yang dibagi menjadi tiga fase. Data SUSENAS tahun 2012 menunjukkan jumlah penyandang disabilitas berat atau masyarakat yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri mencapai 170.120 orang. Dari jumlah tersebut, baru 29.701 orang yang menerima bantuan ASPBD sejak tahun 2006, termasuk mereka yang berpindah alamat dan tidak tepat sasaran serta digantikan dengan penyandang disabilitas berat lainnya berdasarkan usulan Dinas/Dinas Sosial.

Pada tahun 2017, jumlah penyandang disabilitas berat yang memenuhi kriteria dan dapat menjadi penerima manfaat ASPDB sebanyak 22.500 orang. Ia tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari sendirian, seperti makan, minum, mencuci, dan lain-lain. 3. selalu meminta bantuan orang lain). Saya tidak mampu menghidupi diri sendiri dan tidak mempunyai sumber penghasilan tetap. dari diri sendiri dan orang lain untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Dinas Sosial Kabupaten/Kota bersama pendamping program melakukan pendataan calon penerima ASPDB dan keluarganya. Informasi yang diperoleh dari hasil pendataan ini meliputi nama, alamat lengkap, jenis disabilitas, keadaan sosial ekonomi keluarga, dan Program Bantuan Pemerintah bagi perorangan, keluarga dan kelompok kurang mampu untuk Bantuan Sosial Terpadu Penerima Manfaat. Tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari sendiri, seperti makan, minum, mandi, dan lain-lain. 3. selalu membutuhkan bantuan orang lain).

Informasi yang diperoleh dari hasil pendataan ini meliputi nama, alamat lengkap, jenis disabilitas, status sosial ekonomi keluarga, dan. Pendataan ini disertai dengan foto seluruh tubuh yang menunjukkan disabilitas, fotokopi Kartu Keluarga, fotokopi penerima ASPDB (jika sudah memiliki) dan fotokopi KTP kepala keluarga dan wali. . Selain pendataan, pendamping program juga bertugas melakukan pemutakhiran data untuk menggantikan penerima ASPDB yang meninggal dunia, tidak memenuhi syarat, atau berpindah alamat.

Informasi keberadaan calon penerima ASPDB dapat berasal dari masyarakat, ormas, dan media massa, kemudian diseleksi dan diverifikasi oleh dinas sosial kabupaten/kota sebelum datanya kemudian dikirimkan ke dinas sosial provinsi untuk divalidasi dan disajikan. kepada Kementerian Sosial. Setiap penerima ASPDB ditandai dengan Kartu Bantuan Sosial Penyandang Disabilitas Berat yang berisi informasi nama wali, nomor identitas, nama, umur, jenis kelamin dan alamat lengkap penyandang disabilitas berat. Pekerja harian ASPDB, yang memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas berat dan keluarga penyandang disabilitas berat dalam perawatan penyandang disabilitas berat, yang dapat memberikan bantuan minimal sebulan sekali.

Tata Cara Pencairan Bantuan Sosial

Setelah ada perintah pencairan dana dari Direktorat RSPD, Kantor Distribusi Pusat berkoordinasi dengan masing-masing lembaga penyalur tingkat Kabupaten/Kota dan/atau Kabupaten. Lembaga penyalur di tingkat kecamatan melakukan pencairan langsung kepada penerima manfaat ASPDB atau wali mengambil dana langsung ke setiap kantor cabang penyalur dengan didampingi oleh fasilitator program. Pendamping ASPDB sebelumnya bertugas mensosialisasikan kegiatan ASPDB kepada keluarga/wali dan masyarakat setempat tentang bantuan keuangan dari Kementerian Sosial, termasuk menginformasikan pencairan dana ASPDB.

Mulai tahun 2017, mekanisme penyaluran bantuan mengalami perubahan dari sistem tunai menjadi sistem nontunai dengan mekanisme penyaluran dana seperti terlihat pada gambar di atas. Melalui mekanisme nontunai, penyaluran bantuan yang sebelumnya dilakukan melalui kantor pos di setiap daerah, kini berubah menjadi melalui perbankan. Wali penerima manfaat atau pendamping program diberikan kuasa untuk mengumpulkan dana bantuan ASPDB sesuai dengan tahapan dan ketentuan yaitu satu orang pendamping.

Namun, pada Pasal 4 ayat (3) Perpres Nomor 63 Tahun 2017 yang baru diterbitkan pada pertengahan tahun 2017, disebutkan bahwa manfaat bantuan sosial nontunai dapat dikecualikan bagi penyandang disabilitas berat, lanjut usia yang tidak berpotensi terlantar. mantan pasien penyakit kronis non-potensial, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan/atau daerah yang belum memiliki infrastruktur pendukung penyaluran bantuan sosial natura.

Contoh Tata Pencairan Bantuan Sosial

KESIMPULAN

Undang-undang tersendiri, karena dalam praktiknya penyandang disabilitas akan dikaitkan dengan banyak pihak, baik dengan politisi di berbagai kementerian lintas sektor, maupun dengan pihak swasta. Selain itu, pengaturan komprehensif mengenai penyandang disabilitas dalam undang-undang khusus juga bertujuan untuk menciptakan kepastian hukum dan keadilan di masyarakat, khususnya bagi penyandang disabilitas.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

bahwa untuk melaksanakan Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010, sebagai upaya

Pada saat Peraturan Presiden ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden Nomor 152 Tahun 2015

Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur;8. Peraturan Menteri PPN/ Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015–2019

Hal ini diatur dalam Pasal 3 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yaitu mewujudkan penghormatan, pemajuan, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi

Dilakukan dengan cara membandingkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang sistem pengendalian intern pemerintah dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 11 Tahun 2015 tentang Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas (Lembaran Daerah Kabupaten Bantul

Peraturan Bupati Rembang Nomor 28 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Bupati dan Keputusan Bupati sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bupati Rembang Nomor 2 Tahun