FIDYAH, DAM, QURBAN DAN TATA KELOLA
DAGING DAM
DISAMPAIKAN DALAM BIMBINGAN MANASIK HAJI/UMROH
TINGKAT KUA KABUPATEN INDRAMAYU OLEH: H. WAHYUDIN, ST, M.Pd.I
Minggu, 19 APRIL 2024
PENGERTIAN
DAM menurut bahasa artinya darah.
Sedangkan menurut istilah haji/umroh:
Mengalirkan darah (menyembelih) binatang karena ketentuan dalam manasik haji/umroh.
FIDYAH menurut bahasa artinya tebusan.
Sedangkan menurut istilah haji/umroh:
Memberikan sedekah untuk faqir miskin karena ketentuan manasik haji/umroh.
PENGERTIAN
QURBAN menurut bahasa artinya dekat.
Sedangkan menurut istilah :
Penyembelihan binatang qurban yang dilakukan pada Hari Raya Haji (setelah solat 'Idul Adhha) dan hari-hari Tasyriq iaitu ,11,12 dan 13 Dzulhijjah dengan tujuan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t..
Qurban merupakan syariat Nabi Allah Ibrahim a.s.
yang kemudiannya disyariatkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.
Hukum Qurban adalah Sunnah Muakkad.
DASAR HUKUM QURBAN
"Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berqurbanlah." (Surah al-Kauthar:2)
Diriwayatkan dari Aisyah r.a, Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, yang lebih dicintai Allah dari menyembelih qurban. Sesungguhnya binatang qurban itu pada hari kiamat kelak akan datang beserta dengan tanduk-tanduknya, bulu- bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) qurban itu."
(Riwayat al-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Hakim)
KETENTUAN DAM &
QURBAN
Tidak boleh memakan daging dari dam atau qurban yang dihukumi wajib.
Diperbolehkan memakan
sebagian dari daging dam
atau qurban yang tidak
wajib.
MACAM-MACAM DAM/FIDYAH
DITINJAU DARI SEBAB-SEBABNYA
DAM NUSUK
Yaitu dam yang harus dikeluarkan karena ketentuan manasik haji/umroh, bukan karena pelanggaran atas larangan-larangan ihrom.
DAM ISA’AH
Yaitu dam yang harus dikeluarkan karena
melakukan pelanggaran atas larangan-larangan ihrom.
1. DAM TARTIB TAQDIR
Yaitu dam yang dikeluarkan dengan menyembelih seekor kambing seperti
kambing kurban. Dan apabila tidak mampu, diganti dengan puasa 10 hari: 3 hari pada waktu haji dan 7 hari
setelah pulang.
Bentuk
Dam/Fidyah:
a. Menyembelih kambing.
b. Berpuasa 10 hari
(3 hari di tanah
suci, 7 hari di
tanah air).
1. DAM TARTIB TAQDIR
Sebab-sebab dikenai dam tartib taqdir:
a. Melakukan haji tamattu’/qiron.
b. Tidak wuquf di Arofah.
c. Tidak berihram pada miqatnya (tempat ihram).
d. Tidak melontar jumroh.
e. Tidak bermalam (mabit di Muzdalifah).
f. Tidak bermalam di Mina.
g. Tidak melakukan thawaf wada’
h. Mengingkari nadzar.
2. DAM TARTIB TA’DIlL
Dam yang dibayar dengan menyembelih seekor unta atau sapi atau 7 ekor kambing.
Jika tidak mampu atau mendapatkan kesulitan dalam menyembelih unta maka dibayar nilainya dengan makanan yang diberikan kepada faqir miskin di tanah Haram, atau berpuasa setiap satu mud satu hari puasa.
Bentuk Dam/Fidyah:
a. Menyembelih 1 ekor onta.
b. Menyembelih 1 ekor sapi.
c. Menyembelih 7 ekor kambing.
d. Sedekah senilai 1 ekor onta.
e. Berpuasa 1 hari =
1 mud (7,5 ons)
2. DAM TARTIB TA’DIlL
Sebab-sebabnya:
1. Berhubungan suami istri sebelum tahallul awal.
2. Tidak wuquf di Arofah karena terhalang (ihshor).
3. DAM TAKHYIR TAQDIR
Yaitu dam yang dibayar dengan menyembelih seekor kambing seperti kambing kurban atau berpuasa tiga hari atau bersedekah sebanyak setengah sha’ (kurang lebih 1.75 liter) kepada 6 orang fakir miskin
Bentuk Dam:
a. Menyembelih kambing.
b. Puasa 3 hari.
c. Sedekah
makanan 3 sho’ kepada 6 orang fakir miskin.
(1 sho’ = 2,75
kg)
3. DAM TAKHYIR TAQDIR
Sebab-sebabnya:
a. Memotong rambut/bulu.
b. Memotong kuku.
c. Memakai wewangian.
d. Memakai minyak rambut.
e. Melakukan hal-hal yang mendorong jima’.
f. Tidak berpakaian ihrom.
g. Berhubungan suami istri yang kedua kalinya.
h. Berhubungan suami istri di antara dua tahallul.
4. DAM TAKHYIR TA’DIL
Yaitu dam yang dikeluarkan karena membunuh binatang di waktu
melakukan manasik haji, maka orang tersebut harus menyembelih hewan yang sepadan dengan hewan yang dibunuhnya, atau dibayar nilainya dengan makanan yang diberikan kepada orang-orang miskin, atau berpuasa setiap satu mud satu hari puasa.
Bentuk
Dam/Fidyah:
a. Menyembelih hewan yang menyerupai.
b. Sedekah yang senilai dengan harga hewan.
c. Berpuasa 1 hari
= 1 mud.
4. DAM TAKHYIR TA’DIL
Sebab-sebabnya:
a. Berburu binatang liar di tanah haram.
b. Memotong tumbuh-tumbuhan di tanah haram.
Dam dan Fidyah serta Cara Pelaksanaannya
Membayar fidyah wajib bagi orang
yang berihram mencukur rambut
meskipun hanya tiga helai rambut
atau lebih. Dalam riwayat lain
menurut mazhab Hanbali, "Empat helai
rambut atau lebih dan dibawah jumlah
tersebut diharuskan membayar fidyah
untuk sehelai rambutnya adalah
satu mud makanan." (1 mud = ± 3/4
kg beras/ makanan pokok).
Contoh Pelaksanaan Dam/Fidyah
Sebagai contoh kasus: Jika seseorang ketika sedang berihram dengan sengaja mencabut sehelai rambut maka ia wajib
membayar fidyah 1 mud makanan pokok/ beras/ kurma/ gandum.
Cara menghitungnya: 1 mud setara dengan 3/4 kg beras. Harga 1 kg beras sekitar 6 real maka fidyah yang wajib dikeluarkan
adalah 4,5 real (genapkan menjadi 5 real).
Berikan fidyah tersebut ke orang miskin/pengemis di sekitar Masjidil Haram atau orang-orang yang membersihkan Masjidil
Haram (cleaning Service) sebab mereka masih tergolong orang miskin.
Jika seseorang mencabut dua helai rambut maka tiap satu helai adalah 1 mud, jadi jika 2 helai rambut, fidyahnya 2 mud (1,5 kg beras). Hitungannya 1,5 X 6 riyal = 9 riyal.
Jika mencabut/ memotong > 3 atau 4 helai rambut, wajib membayar fidyah atau bersedekah 1/2 sha' makanan yang mengenyangkan kepada 6 orang miskin.
Cara menghitungnya sebagai berikut:
(1/2 sha = 2 mud) = 1,5 kg x 6 orang miskin = 9 kg beras, harga per-kg = 6 riyal, jadi total sedekah yang harus dibayarkan 9 X 6 riyal=
54 riyal. Jadi masing-masing faqir miskin
mendapatkan 9 riyal.
Madzhab Hanafi & Maliki : Diwajibkan fidyah untuk semua pelanggaran ihram baik itu sengaja atau tidak, yang membedakan adalah berdosa dan tidak berdosa.
Madzhab Syafi’i : Apabila pelanggaran terjadi pada perbuatan-perbuatan yang bersifat menimbulkan kerusakan, seperti membunuh binatang buruan, mencukur rambut atau memotong kuku, maka dikenakan fidyah. Namun apabila pelanggaran terjadi pada perbuatan yang tidak bersifat merusak dan sekedar untuk kesenangan seperti dalam masalah wangi-wangian, pakaian, menyemir rambut, mencium istri, sampai pada perbuatan jimak dan hal-hal yang mengarah pada jimak, maka tidak dikenakan fidyah atau dam.
Madzhab Hanbali terbagi menjadi dua pendapat. Pertama, dikenakan fidyah baik itu pelanggaran yang bersifat merusak atau sekedar kesenangan. Kedua, jimak, memotong rambut, memotong kuku, membunuh binatang buruan, dikenakan fidyah. Sedangkan pelanggaran wangi-wangian, pakaian, tidak dikenakan fidyah jika dilakukan karena lupa atau tidak tahu.
HUKUM MELANGGAR LARANGAN IHRAM
KARENA LUPA/TIDAK TAHU
TATA KELOLA DAGING DAM