BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kebun dan Pabrik Teh Wonosari berada di lereng Gunung Arjuno di desa Wonosari Kecamatan Singosari, Kabupaten Lawang dengan ketinggian 950-1.250 meter dari permukaan laut. Kebun dan Pabrik Teh Wonosari merupakan agrobisnis dan agrowisata yang dapat menambah devisa negara.
Kebun teh Wonosari ini berdiri pada tahun 1878 yang dikelola oleh perusahaan asing dari Belanda NV Cultur Maatshappij, kemudian di awal tahun 1910 sampai 1942 kebun ini ditanami teh dan kina. Tetapi pada jaman Jepang sebagian tanaman teh diganti dengan tanaman pangan, seperti umbi singkong dan sejenisnya. Pada tahun 1945 kebun ini diambil alih oleh Negara Indonesia dan pada tahun 1950 tanaman kina diganti dengan tanaman teh.
PT. Perkebunan Nusantara XII (Persero), yang selanjutnya disebut PTPN XII ini adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan status Perseroan Terbatas yang keseluruhan sahamnya dimiliki oleh pemerintah Republik Indonesia.
Kebun Teh Wonosari ini menghasilkan jenis teh hitam yang 90% hasil produksinya ditujukan untuk ekspor menggunakan sistem auction (lelang) dengan Negara tujuan seperti Amerika, Malaysia, Belanda, Kanada, Pakistan, Irak, Aljazair, Jerman, Perancis, Mesir, Korea, Swiss, Inggris, Rusia, New Zealand, Australia, dan Mongolia. Sisanya dipasarkan di dalam negeri, dengan merk sendiri (Rolas Tea Celup dan Seduh, serta Rolas White Tea) dan juga dipasarkan secara bebas (free sale), misalnya kepada produsen teh Sariwangi, Sosro dan lain-lain.
Pada awalnya perusahaan ini mampu memproduksi hingga 17 ton per hari, namun sekarang hanya mampu ± 23 ton per hari. Permintaan yang terus menerus membuat perusahaan dituntut untuk menjadi perusahaan yang
berkompeten dalam bidangnya. Permasalahan yang terjadi saat ini adalah tidak tercapainya target produksi yang telah ditentukan oleh pihak perusahaan.
Tidak tercapainya target produksi dapat diakibatkan oleh adanya proses rework yang terjadi pada proses sortasi teh, adanya inventory di gudang atau di dalam teabin (penyimpanan sementara pada peti miring) yang terlalu lama yang mengakibatkan kualitas teh turun dan perusahaan merubah mutu menjadi mutu lokal, dan pada akhirnya target perusahaan untuk mutu 1 dan mutu 2 tidak terpenuhi. Dalam meminimasi hal tersebut apabila dilakukan dengan cara yang kurang tepat dapat menyebabkan naiknya biaya yang pada akhirnya akan dibebankan pada konsum teh dengan kualitas mutu dan membuat perusahaan kehilangan pelanggan akibat menaikkan harga jual produk yang tinggi.
Upaya mengeliminasi hal tersebut diyakini mampu menstimulasi keunggulan bersaing perusahaan terutama pada peningkatan produk.
Peningkatan produk terjadi bila adanya perampingan operasi yang dapat mengidentifikasi lebih dini waste dan masalah kualitas yang akan terjadi ke depannya. Cahyanti, Dkk (2012) melakukan penelitian di PT. Berlina Tbk Pandaan dengan menggunakan pendekatan Lean Six Sigma terhadap proses produksi botol X.
Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode lean six sigma yang digunakan untuk meminimasi kegiatan yang tidak bernilai tambah. Dengan pendekatan lean, ditunjukkan agar dapat menurunkan kegiatan yang tidak bernilai tambah yang terjadi di perusahaan. Sedangkan pendekatan six sigma dapat menurunkan variasi proses dan peningkatan kualitas produk. Oleh karena itu dalam penelitian Skripsi ini digunakan suatu metode yaitu pendekatan lean six sigma yang diharapkan dapat meminimasi kegiatan yang tidak bernilai tambah dan menurunkan variasi proses dan peningkatan produk yang terjadi pada proses pengolahan teh hitam di PT.
Perkebunan Nusantara XII (Persero) Kebun Wonosari Lawang.
B. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan diadakan penelitian ini adalah :
1. Membandingkan teori-teori yang telah diperoleh selama kuliah 2. Dan manfaat perkebunan teh selain untuk produksi
C. MANFAAT PENELITIAN
1. Mengetahui langsung teori teori yang diperoleh selama kuliah
2. Selain teh yang sngat banyak manfaat nya ternyata perkebunan teh juga bisa dibuat tempat berwisata
BAB II
KERANGKA TEORI
A. TATA CARA PENANAMAN TEH
Ada dua cara pembibitan teh yaitu pembibitan yang berasal dari biji dan pembibitan yang berasal dari stek.
1. Pembibitan teh dengan setek
Pembibitan dengan menggunakan stek harus menggunakan sek dari klon unggul dengan cara sebagai berikut :
a. Menyiapkan pohon induk yang dipangkas 6 bulan sebelum rencana pengambilan stek agar ranting-rantingnya menumbuhkan tunas;
b. Setelah 6 bulan, ranting yang telah memiliki mata tunas sebagai bahan stek. Tiap ranting mempunyai delapan atau Sembilan daun;
c. Bahan stek kemudian dibungkus dengan kain basah sesaat setelah diambil dari pohon induk, dan diletakkating menjadi stek yang memiliki daun. Pemotongan harus dengan pisau bersih dan tajam dengan arah potongan 30 - 45 derajat. Stek daun telah siap ditanam.
Daunnya dibiarkan menempel pada kayu ranting;
d. Penyemaian stek dlakukan dengan dua cara yaitu dengan tanpa polibag dan penyemaian dengan polibag.
2. Penyemaian tanpa polibag
Penyemaian dilakukan dengan cara sebagai berikut;
a. Buat bedengan dengan lebar 120 cm, panjang sesuai keadaan tempat, dan tinggi 15-20 cm. Bedengan dibuat membujur dari utara ke selatan dengan jarak antar bedeng 40 cm;
b. Media terdiri dari campuran pasir dan kompos dengan perbandingan 1:1 sebanyak 20 kg/m2;
c. Untuk menghindari terkenanya sinar matahari langsung, bedengan diberi atap yang biasanya terbuat dari anyaman bambu/anyaman daun kelapa/daun ilalang dengan tinggi 50 cm dari atas bedengan;
d. Setelah ditanaman dibedengan, stek daun harus ditanam dulu di pendederan;
e. bagian yang ditanam adalah 0,75 bagian dari panjang stek (intermodia) dengan daun di permukaan tanah, kemudian disiram lalu disungkup p;astik;
f. kelembaban tanah dan udara harus cukup tinggi (sekitar 70-80%).
Penyiraman dilakukan dua kali sehari pagi dan sore;
g. setelah berumur 6 bulan, stek sudah siap dipindahkan ke bedeng pesemaian;
h. setelah berumur 4-6 bulan, bibit dipindahkan ke lokasi penanaman (kebun).
3. Penyemaian dengan polibag,
Penyemaian dengan polibag dengan cara sebagai berikut :
a. Polibag yang,digunakan berupa kantong plastik yang bergaris tengah 10 cm dengan tinggi 25 cm. Kantong diberi lubang di sepertiga bagian bawahnya sebanyak 12 dengan jarak 5 cm;
b. Kemudian polibag diisi dengan pasir dan kompos dengan perbandingan 1:1;
c. sebelum penanaman, terlebih dulu dibuat lubang tanam dengan tugal berdiameter 0,5 cm dan dalam 4-5 cm;
d. Sebelum ditanam bibit dicelupkan dalam larutan Dihane M-45, kemudian bibit ditanam di polibag; (5) Perawatan bibit ;
e. Perawatan bibit meliputi pengaturan kelembaban, pengaturan sinar matahari, penyiraman dan pemupukan; sampai umur bibit 2 bulan, kelembaban udara diatur sekitar 70-90% dengan menutup bedengan dengan sungkup atau plastik. Jarak plastik dari permukaan polibag sekitar 30 cm;
f. setelah bibit berumur 4 bulan, dilakukan pemupukan seminggu sekali dengan pupuk campuran 150 gram Urea, 150 gram KOC dan 15 liter air yang diberikan melalui daun (tiap tanaman disemprot dengan 5 cc larutan), dan juga diberikan pupuk melalui tanah berupa 25 kg pupuk kandang, 200 gram aluminium sulfat dan 200 gram Dithane M-45 dalam 100 liter air. Larutan diendapkan selama 2 jam sebelum diberikan, Pemberian pupuk ini dilakukan setiap 2 minggu sekali sebanyak 50 cc;
g. setelah berumur 6-7 bulan, tinggi tanaman mencapai 20 cm, yang mempunyai tinggi lebih dari 30 cm dapat dipangkas;
h. pada umur 6-12 bulan tanaman dapat dipindah ke pertanaman (kebun).
4. Pembibitan teh dengan biji
Ada beberapa langkah yang dilakukan untuk pembibitan dengan menggunakan biji, yaitu:
a. Biji teh harus berasal dari pohon induk yaitu pohon yang bukan untuk memproduksi daun teh, melainkan hanya untuk diambil bijinya dari
buah teh yang sudah matang. Waktu yang diperlukan dari bunga sampai menjadi buah teh matang sekitar 9 bulan.
b. Biji-biji teh yang dipetik perlu diseleksi biji yang baik dan sehat (tidak lapuk, tidak terserang hama/penyakit atau busuk) dengan cara merendam biji ke dalam air, bila tenggelam biji tersebut baik, sedang biji yang lapuk atau busuk akan mengapung.
c. Sebelum biji ditanam di kebun, terlebih dulu biji ditanam di pesemaian. Pesemaian harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : i) dekat air dengan sistem pengairan yang lancar; ii) subur dan gembur; iii) mudah diawasi; iv) dekat bedengan pengecambahan; ev) dekat areal perkebunan yang akan ditanami; f) mendapat cahaya yang cukup.
d. Setelah areal siap digunakan, biji yang sudah berkecambah disemaikan dengan jarak tanam 15 x 15 cm pada lubang tanam yang dibuat dengan cara ditugal (dengan kayu atau bambu berdiameter 2 cm) sedalam 5 cm. Penanaman biji dilakukan di bedengan (panjang 6 m dan lebar 90 cm) dengan cara meletakkan bagian yang berkecambah di bagian bawah, kemudian ditutup dengan tanah sekitar 1 cm lalu disiram.
e. Pesemaian diberi naungan sampai bibit berumur antara 1-2 bulan.
f. Penyiraman dilakukan kalau tidak turun hujan pada waktu pagi atau sore hari.
g. Penyiangan dilakukan dua kali dalam sebulan selama enam bulan, setelah itu penyiangan bisa dilakukan sebulan sekali.
h. Setelah daun mulai mengeras, tanaman dipupuk dengan urea sebanyak 60 g/m2 atau 600 kg/ha. Pemupukan dilaksnakan sebulan sekali selama enam bulan dengan cara menaburkan secara merata diantara barisan bibit.
i. Penyakit yang sering meyerang bibit muda adalah cacar. Penyakit ini diberantas dengan larutan perenox atau shell coper 0,2%. Sedang hama yang mengganggu adalah jangkrik, belalang dan bekicot. Pembratasan
dapat dilakukan dengan cara mekanis atau dengan pestisida azodrin atau lanate (jangkrik dan belalang) dan matadex (bekicot).
j. Perawatan dilakukan hingga bibit berumur 1,5 – 2 tahun, setelah itu bibit berupa stump dengan panjang akar 30 cm dan tinggi batang 30 cm tersebut dipindahkan ke areal penanaman sebenarnya. Menanam stump harus tegak tidak boleh miring. (Ir.Sri Puji Rahayu, MM/
BAB III
LOKASI PENELITIAN
Kebun Wonosari terletak di desa Toyomarto Kecamatan Singosari.
Lokasi Kebun Teh Wonosari tepatnya berjarak 6 km dari kota Lawang, 30 km dari kota Malang dan 80 km dari kota Surabaya. Kebun Teh Wonosari Malang terletak di ketinggian 950-1.250 meter dari permukaan laut dengan pabriknya yang berada pada ketinggian 950 meter. Kebun Teh Wonosari memiliki luas 1.144.32 ha yang letak geografisnya berada di lereng Gunung Arjuna dan memiliki topografi perbukitan. Di bagian utara, kawasan Kebun Wonosari dibatasi oleh Afdeling Gebuk Lor, sebelah barat dibatasi oleh kawasan hutan Perhutani, sedangkan di sebelah selatan dan timur dibatasi oleh lahan pertahian penduduk. Secara administratif Kebun Wonosari termasuk dalam wilayah dengan dua kecamatan yaitu Kecamatan Singosari dan Lawang, Kabupaten Malang.
Kebun Wonosari memiliki luas areal sebesar 715,1262 ha yang terbagi menjadi 2 kebun yang terperinci pada Tabel 4. berikut:
Tabel 4. Pembagian Kebun Teh Wonosari berdasarkan Afdeling
Penggunaan Areal
Luas Afdeling
Luas Afdelin
Wonosari (Ha) Gebug Lor (Ha)
Tanaman yang menghasilkan 280,94 303,21
Tanaman yang belum 38 6,66
menghasilkan th. 1987
Tanaman teh tahun ini 4 5
Persemaian teh th. 1998 0,86 0,5
Kebun induk teh 1979 1,18 0,5
Cadangan tidak bisa ditanami 1,9 4,59
Kebun Teh Wonosari merupakan objek wisata yang biasa dikenal Agrowisata Kebun Teh Wonosari. Selain menawarkan fasilitas kunjungan kebun dan pabrik teh, juga terdapat fasilitas kolam renang, klinik kesehatan, wahana permainan dan outbond, pusat souvenir, wisata petik teh, gatehring hingga fasilitas penginapan.
Kebun Teh Wonosari juga menyediakan berbagai jenis penginapan seperti cottage, hotel dan room.Bangunan pabrik pengolahan teh Hitam CTC terletak di areal Wisata Agro Wonosari yang terdiri dari gedung utama, gedung produksi, dan gudang, serta Kantor RA (Rainforest Alliance) dan HACCP. Tata letak suatu pabrik dapat dikelompokkan menjadi tata letak produk, proses, posisi tetap, dan selular (Hadiguna, 2008). Tata letak yang digunakan pabrik pengolahan teh hitam CTC Wonosari termasuk tipe tata letak proses di mana mesin-mesin dan peralatan yang memiliki kesamaan fungsi diletakkan dalam satu ruangan. Luas pabrik pengolahan teh hitam CTC PTPN XII kebun Wonosari sebesar 2486,5 m2, rincian luasan dapat dilihat pada Tabel 5.
KETENAGAKERJAAN ATAU KARYAWAN
pembangunan perusahaan. wataTenaga kerja PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Wonosari berasal dari penduduk yang bertempat tinggal di sekitar pabrik.
Berdasarkan unit perusahaan, ketenagakerjaan dapat dibagi atas karyawan kebun, karyawan pabrik, karyawan agrowisata, dan karyawan kantor yang dapat disebut sebagai staf. Berdasarkan sistem pengupahannya dapat dibagi atas karyawan harian tetap dan karyawan harian lepas (KHL). Karyawan harian tetap pemberian gaji dilakukan setiap bulan sekali, sedangkan untuk karyawan harian lepas gaji diberikan seminggu sekali. Upah yang diberikan pemetik berdasarkan
berat pucuk dan persentase jenis petikan yang dipetik, semakin
banyak pucuk
yang dipetik, dan semakin banyak jenis petikan halus yang dihasilkan
maka gaji
yang diperoleh semakin banyak. Tabel 5. menunjukkan jumlah tenaga
kerja dan
karyawan dari PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Wonosari dan Tabel 6.
menunjukkan jumlah tenaga kerja tetap berdasarkan tingkat pendidikan yang
tercatat sampai bulan Desember 2019
Berikut foto-foto hasil survey:
Gambar hamparan kebun teh Wonosari
Foto diatas merupakan saat berada di kebun teh yang paling tinggi disana.
BAB IV PEMBAHASAN
ANALISIS USAHA BUDIDAYA TEH
Setiap perusahaan, baik perusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur pasti memerlukan persediaan barang jadi. Persediaan barang jadi harus ada dalam perusahaan untuk menunjang kelangsungan hidup perusahaan agar dapat terus memenuhi permintaan konsumen sesuai kuantitas, kualitas dan waktu yang diminta Peran perencanaan dan pengendalian persediaan produk teh hitam adalah sebagai salah satu faktor yang mendukung kontinuitas ekspor.
Penerapan perencanaan dan pengendalian yang kurang baik akan menimbulkan permasalahan terutama terganggunya kegiatan ekspor dan kerugian bagi perusahaan karena kelebihan persediaan (overstock ) menyebabkan biaya persediaan menjadi besar dan menurunnya kualitas teh hitam. Kenyataannya persediaan teh hitam di gudang Kebun Wonosari masih terlalu besar karena perusahaan memproduksi teh setiap hari sedangkan permintaan teh dari PTPN XII yang berkantor pusat di Surabaya hanya seminggu sekali atau terkadang 2 sampai 3 kali dalam seminggu. Hal tersebut akan menyebabkan banyak produk yang tertumpuk di gudang dan kualitas teh bisa menurun.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: (1) Menganalisis peramalan permintaan teh hitam. (2) Menganalisis persediaan rata-rata.
(3) Menganalisis persediaan maksimum. (4) Menganalisis Reorder point. (5) Menganalisis Q optimal. (6) Menganalisis N optimal. (7) Menganalisis total biaya minimal persediaan. Hasil peramalan permintaan tahun 2012 menggunakan metode ARIMA seasonal (SARIMA) adalah 215.185 kg. Hasil tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan permintaan teh hitam pada tahun 2010 dan 2011.
Hasil peramalan permintaan tersebut digunakan untuk menghitung Reorder point, Q optimal, N optimal, dan total biaya minimal persediaan. Berdasarkan hasil analisis persediaan maksimum, persediaan paling banyak yang harus ada di dalam gudang pada tahun 2012 adalah 122 kg/produksi. Jika terdapat persediaan teh hitam yang bahkan lebih dari itu, maka gudang akan mengalami kelebihan persediaan. Hasil perhitungan persediaan rata-rata tahun 2012 adalah 61 kg/produksi. Persediaan rata-
harus memiliki persediaan teh hitam sebanyak 61 kg. Dalam perhitungan penelitian ini reorder point dilakukan dengan lead time 1.5 hari. Hal ini berarti waktu tunggu Kebun Wonosari untuk melakukan produksi kembali adalah 1,5 hari. Selain lead time diperlukan pula data ramalan permintaan teh hitam selama satu tahun yaitu sebesar 210.923 kg dan hari beroperasi Kebun Wonosari selama satu tahun adalah 311 hari.
Hasil perhitungan reorder point teh hitam tahun 2012 adalah 1.017 kg. Nilai reorder point di atas berarti bahwa Kebun Wonosari harus melakukan produksi kembali jika persediaan teh hitam di gudang sudah mencapai 1.017 kg.
Setiap 1,5 hari sekali Kebun Wonosari harus melakukan produksi kembali.
Berdasarkan perhitungan Q optimal untuk tahun 2012, teh hitam yang harus diproduksi oleh Kebun Wonosari agar produksinya optimal adalah sebesar 935 kg/produksi. Angka tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah produksi yang selama ini telah dilakukan oleh Kebun Wonosari. N optimal hasil perhitungan adalah 225 kali/tahun, angka ini sangat berbeda jauh dengan jumlah berproduksi yang selama ini dilakukan oleh perusahaan. Hal ini terjadi karena produksi sebanyak 622 kali menyebabkan overstock di gudang, sehingga dengan adanya perhitungan N optimal sebesar 225 kali dalam setahun perusahaan tidak perlu lagi memproduksi teh hitam setiap hari dan biaya set-up (biaya persiapan produksi) dapat ditekan.
Seluruh tujuan penelitian di atas menggunakan teori dan metode yang biasa digunakan untuk perusahaan industri dimana bahan bakunya bukan produk pertanian, padahal Kebun Wonosari merupakan perusahaan agroindustri yang berbahan baku pertanian.
Teh hitam hasil produksi Kebun Wonosari merupakan bahan baku utama dalam proses produksi dimana teh hitam merupakan produk musiman yang tergantung oleh iklim, rentan rusak, dan layu. Sehingga tujuan-tujuan tersebut belum cocok jika diterapkan pada Kebun Wonosari. Saran dari penelitian ini adalah:
a. Diperlukan pengendalian terhadap tenaga kerja pemetik dan penggiling sehingga kualitas teh hitam dapat lebih baik dan permintaan teh hitam akan terus bertambah. Pihak Kebun Wonosari perlu mengontrol tenaga kerja pemetik agar daun teh hitam yang dipetik merupakan daun teh hitam yang sesuai dengan standar pemetikan yaitu tiga daun pucuk teratas. Daun teh hitam yang dimasukkan ke dalam mesin penggilingan harus daun teh yang
muda. Kotoran-kotoran seperti rumput liar, daun-daun tua, dan dedaunan dari tumbuhan lain tidak boleh masuk ke dalam mesin penggilingan.
b. Kebun Wonosari perlu melakukan inovasi terutama pada produk hilir teh hitam sehingga akan selalu dijadikan teh utama dalam perdagangan teh dunia.
Kebun Wonosari selama ini masih memproduksi dan mengekspor produk hulu (teh hitam curah) sehingga permintaannya pun semakin menurun padahal, jenis teh yang semakin banyak diminati oleh konsumen di dunia adalah teh hitam dalam bentuk produk hilir seperti teh hitam kemasan, teh celup, dll.
c. Analisis Q optimal belum tepat jika diterapkan untuk perusahaan industri yang bahan baku utamanya adalah produk pertanian, dimana bahan baku untuk proses produksi merupakan produk pertanian yang harus dipanen setiap hari dan jika tidak dipanen justru akan merusak bahan baku tersebut.
Sehingga diperlukan pengembangan alat analisis untuk perhitungan jumlah produksi optimal pada perusahaan pertanian dimana bahan bakunya merupakan produk pertanian.
d. Kebun Wonosari perlu meningkatkan pemeliharaan kebunnya, salah satu cara adalah dengan menggunakan gunting atau mesin petik. Selain dapat mengurangi biaya upah buruh petik, penggunaan gunting dan mesin petik dapat meningkatkan kapasitas pemetik dua kali lipat dibandingkan cara manual dan dapat memacu pertumbuhan pucuk.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN
Perkembangan agrowisata perkebunan teh Wonosari dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase awal tahun 1994-1996, fase tengah tahun 1997-2001 dan fase akhir tahun 2002-2010. Pada fase awal, tidak banyak bangunan baru di perkebunan, hanya merubah mess assisten kebun menjadi penginapan dan merehab gudang menjadi aula. Pada fase tengah, pembangunan fasilitas ditingkatkan dengan membangun wisma Rolas dan kolam renang. Jumlah wisatawan terus meningkat sehingga pada fase akhir pihak PTPN XII (Persero) menambahkan wahana baru yaitu rumah pohon dan flyingfox.
Agrowisata perkebunan teh Wonosari berdampak secara sosial dan ekonomi terhadap masyarakat sekitar yakni penduduk desa Toyomarto.
Keberadaan agrowisata ini berdampak positif bagi pendapatan warung makan.
Pada hari libur dan tangal merah, pendapatan warung makan bertambah dan sebagian besar pembeli berasal dari wisatawan agrowisata perkebunan teh Wonosari. Selain itu, perkebunan teh Wonosari mampu menyerap tenaga kerja baik dari luar maupun dalam Desa Toyomarto.
B. SARAN
Penelitian mengenai agrowisata di Indonesia khususnya agrowisata perkebunan teh masih sedikit. Peneliti mengharapkan dengan adanya skripsi ini mengilhami para generasi penerus bangsa, terutama mahasiswa Unesa untuk meneliti sejarah perkebunan, baik yang masih asli fungsinya yaitu untuk menghasilkan komoditi pertanian maupun yang fungsinya telah bertambah seperti agrowisata.
Meneliti agrowisata perkebunan di Indonesia berarti kita belajar memanfaatkan usaha pertanian untuk dapat memberikan nilai tambah ekonomis dan mengajak wisatawan untuk berwisata bernuasa alam.
Penambahan fungsi perkebunan sebagai agrowisata tidak terlepas dari kebijakan pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 9 Tentang Kepariwisataan Tahun 1990 dan kebijakan Visit Indonesia Year tahun 1991 serta keberhasilan PTPN VIII (Persero) mengembangkan agrowisata perkebunan teh Gunung Mas di Jawa Barat.
Perkebunan yang dimanfaatkan sebagai agrowisata terbukti mampu menarik wisatawan. Hal ini terlihat dari penerimaan pendapatan asli daerah yang terus meningkat dan penambahan fasilititas agrowisata
DAFTAR PUSTAKA
https://eprints.umm.ac.id/34052/2/jiptummpp-gdl-cintyarosi-39137-2-babi.pdf http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/94725/MENYIAPKAN-BIBIT-TEH- DENGAN-STEK-DAN-BIJI/
file:///C:/Users/LENOVO/Downloads/8443-Article%20Text-11349-1-10- 20140702.pdf