• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Industri dan Domestik

N/A
N/A
Cindy Aulia salsabila

Academic year: 2025

Membagikan " Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Industri dan Domestik"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PRAKTIKUM FISIK MANDIRI

CINDY AULIA SALSABILA J0413221141

PROGRAM STUDI TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN SEKOLAH VOKASI

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

2025

Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Tanggal : Minggu, 9 Februari 2025 Limbah Industri dan Domestik Pertemuan : 2

Kelas/Kelompok : A1/4

Dosen : Dr. Ir. Haruki Agustina, M.Env.Eng.Sc.

Asisten : 1. Nada Salsabila, B.Se 2. Angga Tryasnita Purba

(2)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Air merupakan kebutuhan utama yang memiliki peranan penting dalam aspek kehidupan. Makhluk hidup membutuhkan air untuk keberlangsungan hidup.

Manusia mengkonsumsi air bersih sebagai penunjang kehidupan untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti mandi, mencuci, irigasi dan lainnya. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat setiap tahunnya mengakibatkan kebutuhan akan air bersih juga meningkat. Kuantitas air dapat mudah diakses oleh masyarakat, namun secara kualitas, keadaan air masih perlu diperhatikan. Kualitas air merupakan sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air (Maksuk et al.2022). Kualitas air baku banyak tercemar akibat adanya perubahan tata guna lahan. Kualitas air baku yang tidak memenuhi syarat baku mutu dapat menimbulkan gangguan kesehatan, yaitu menimbulkan penyakit seperti disentri, typus, diare dan lainnya (Lestari et al. 2023). Kebutuhan air yang semakin meningkat dan kualitas air yang semakin menurun akibat adanya perubahan tata guna lahan, perlu dilakukan pengolahan air untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Sistem pengolahan air yang baik diperlukan dengan tepat untuk mengolah air baku menjadi air bersih. Pengolahan air adalah proses yang dilakukan untuk mengubah air kotor atau air yang tercemar menjadi air yang aman dan layak untuk digunakan. Pengolahan air memiliki beberapa proses atau tahapan dalam mengolah air baku. Pengolahan air baku dilakukan secara fisik dan kimia. Proses pada pengolahan air baku diantaranya adalah screening, sedimentasi, koagulasi- flokulasi, filtrasi dan desinfeksi. Setiap tahapan pengolahan memiliki tujuan dan hasil yang berbeda untuk membuat air baku menjadi air bersih sesuai dengan parameter yang ingin disesuaikan. Parameter fisik yang dilihat dari ketentuan air bersih diantaranya adalah jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa.

Kekeruhan pada air dapat disebabkan oleh banyak zat (Khair et al.2023). Penurunan kekeruhan dilakukan pada proses sedimentasi dan filtrasi. Penurunan tingkat kekeruhan pada proses sedimentasi dipengaruhi oleh ada atau tidaknya proses filtrasi, baik dalam segi waktu ataupun hasil air tersebut. Efisiensi proses sedimentasi dapat diukur menggunakan laju pengendapan, semakin cepat waktu yang dibutuhkan maka proses sedimentasi semakin baik.

1.2 Tujuan

1. Mengidentifikasi efisiensi proses sedimentasi berdasarkan laju pengendapan antara sedimentasi dengan adanya kapas dan sedimentasi tanpa adanya kapas

2. Menganalisa peranan kapas dalam proses sedimentasi

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

Kekeruhan air merupakan salah satu parameter fisik yang perlu diperhatikan dalam proses pengolahan air baku menjadi air bersih. Kekeruhan merupakan kondisi air yang menunjukan adanya partikel-partikel terlarut atau tersuspensi sehingga menyebabkan air menjadi tidak jernih. Partikel-partikel terlarut berupa tanah, lumpur, mikroorganisme, bahan organik dan bahan lainnya. Sedimentasi adalah proses pemisahan campuran padatan dan cairan menjadi cairan bening dan sludge.

Proses sedimentasi dapat mengurangi tingkat kekeruhan pada air baku yang diolah.

Hasil pengendapan pada proses sedimentasi dapat meringankan beban kerja unit filter dan memperpanjang kerja filter. Proses sedimentasi terjadi proses pengendapan secara alami, partikel-partikel padat yang tersuspensi di dalam zat cair karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi (Handayani 2023). Proses pengendapan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konsentrasi, ukuran butir, jenis partikel, densitas dan sebagainya.

Proses sedimentasi secara sederhana dapat dilakukan menggunakan tanah.

Pengamatan yang dilaksanakan dengan menggunakan alat dan bahan sederhana, yang terdiri dari dua buah gelas plastik, sendok kecil, tanah, kapas dan air sebanyak 60-70ml. Pengamatan bertujuan untuk melihat laju sedimentasi, yaitu waktu lamanya pemisahan partikel-partikel terlarut dengan zat cair antara proses sedimentasi tanpa kapas dan proses sedimentasi menggunakan kapas. Fungsi kapas pada pengamatan ini adalah sebagai media filtrasi. Penambahan kapas digunakan untuk melihat keefektifan proses sedimentasi dengan media filtrasi dan tanpa adanya media filtrasi.

Gambar 1. Sedimentasi tanpa menggunakan kapas

(4)

Gambar 2. Sedimentasi menggunakan kapas Laju pengendapan sedimentasi

● Perlakuan 1 (Tanpa Kapas) A/B = B/Y

70/60 = 25/Y 60*25 = 70Y Y = 21,42 ml/menit

● Perlakuan 2 (Menggunakan Kapas) A/B = B/Y

70/40 = 8/Y 60*8 = 70Y Y = 6,8 ml/menit

Hasil proses dari sedimentasi terbagi menjadi dua bagian, diantaranya adalah slurry dan supernatant. Slurry merupakan bagian yang memiliki konsentrasi partikel terbesar dan supernatant yaitu bagian cairan yang bening. Proses sedimentasi memanfaatkan gaya gravitasi, yakni dengan mendiamkan suspensi hingga membentuk endapan yang terpisah dari beningnya. Saat partikel padatan berada pada jarak yang cukup jauh dari dinding atau partikel padatan lainnya, peristiwa ini disebut dengan free settling. Saat partikel padatan berada pada kondisi saling berdesakan maka partikel akan mengendap pada kecepatan rendah, peristiwa ini disebut dengan hindered settling. Proses sedimentasi yang optimum perlu menentukan waktu pengendapan yang efektif. Waktu pengendapan efektif diasumsikan sebagai dasar saat terjadi perubahan pengendapan dari free settling ke kondisi hindered settling. Partikel padatan yang memiliki berat jenis lebih besar dari cairan maka partikel tersebut akan jatuh dengan kecepatan tertentu ke dasar dan membentuk endapan (Fahni et al.2023). Semakin besar konsentrasi slurry maka

(5)

kecepatan pengendapannya akan semakin rendah. Hal ini dikarenakan peristiwa hindered settling yaitu saat partikel-partikel mulai bergesekan menyebabkan waktu sedimentasi lama sehingga untuk mencapai dasar, maka proses pembentukan endapan sedimentasi akan semakin lama jika endapan sudah mulai terbentuk pada dasar dikarenakan partikel-partikel mulai berdesakan

Hasil proses sedimentasi pada Gambar 1. memiliki kondisi air dan partikel-partikel terlarut tidak terpisah sepenuhnya. Keadaan air masih terlihat keruh berwarna coklat pudar dengan padatan-padatan yang masih melayang. Proses sedimentasi pada Gambar 1 memiliki waktu yang lebih lama untuk mendapatkan hasil pemisahan antara zat cair dengan partikel-partikel padat. Hasil proses sedimentasi pada Gambar 2. memiliki kondisi air yang lebih jernih dibandingkan dengan gambar 1. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil proses sedimentasi tidak selama sedimentasi perlakuan pertama. Hal ini disebabkan karena adanya penambahan kapas pada proses sedimentasi. Filtrasi adalah proses penyaringan untuk menghilangkan zat padat tersuspensi dari air melalui media berpori (Pratiwi 2023). Kapas sebagai media filtrasi berfungsi untuk menyaring partikel padatan di dalam air. Serat kapas halus dapat menjebak partikel kecil seperti pasir, debu, buih dan lumpur yang terbawa oleh air. Kapas pada pengamatan menyaring partikel- partikel tanah yang tercampur oleh air. Kapas memiliki sifat higroskopis dan memiliki struktur serat yang relatif longgar dan berpori, sehingga serat dan pori pada kapas pengamatan menangkap zat padat tanah dan menyebabkan partikel- partikel tersebut mengendap lebih cepat. Selain itu partikel-partikel padat tanah memiliki waktu yang lebih lambat untuk berinteraksi dengan serat kapas dan menyebabkan partikel besar akan cepat terperangkap dalam kapas.

(6)

BAB III

KESIMPULAN

Pengolahan air merupakan salah satu perlakuan penting untuk dilaksanakan dengan tujuan untuk mengubah air baku menjadi air bersih siap digunakan sehingga terhindar dari penyakit yang disebabkan dari kondisi air. Sedimentasi merupakan salah satu proses pada pengolahan air untuk menurunkan tingkat kekeruhan.

Berdasarkan laju pengendapan proses sedimentasi menggunakan kapas lebih efektif dibandingkan tanpa kapas baik dalam segi waktu maupun dari kekeruhan air setelah dilakukan perlakuan. Air yang dilakukan perlakuan menggunakan kapas terlihat lebih jernih dan memiliki waktu yang lebih cepat untuk proses pengendapannya.

Fungsi kapas pada sedimentasi adalah sebagai media filter untuk menyaring partikel-partikel padat yang tercampur dengan air.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Fahni Y, Sufra R, Ahmad I M, Fadhilah S. 2023. Pengaruh penambahan koagulan terhadap laju sedimentasi pada proses sedimentasi larutan tepung maizena.

Hexatech: Jurnal Ilmiah Teknik. 2(1) : 17-22.

Handayani Y. 2023. Laju pengendapan dan konsentrasi hidrokarbon di sedimen perairan Sungai Donan. Lembaran publikasi minyak dan gas bumi. 57(2) : 1-7.

Khair A, Noraida N, Lutpiatina L. 2023. Pelatihan penurunan tingkat kekeruhan air Sungai Di Desa Sungai Rangas Tengah. JPEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 1(2) : 173-176.

Lestari D S, Sukamta S, Sari Y C. 2023. Status kualitas air DAS Sanggai di Kabupaten Penajam Paser Utara dan perumusan strategi pencegahan serta pengendalian pencemaran air. Jurnal Ilmu Lingkungan. 21(4) : 914-932.

Maksuk M, Priyadi P, Anwar K. 2022. Pengolahan air sungai sebagai sumber air bersih masyarakat di kawasan pertanian dengan penyaringan air sederhana. Abdi Dosen:

Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. 6(2) : 398-404.

Pratiwi D M. 2023. Perbedaan kualitas air sumur dengan metode filtrasi sederhana di Desa Kamolan Kabupaten Blora. Jurnal Ilmiah Teknologi Infomasi Terapan. 9(2).

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji pemanfaatan limbah industri pengolahan limbah rumput laut (LR) dan limbah rumput laut yang sudah diperkaya dengan unsur N (LRP) dibandingkan dengan media F/2

Berdasarkan kondisi tersebut, maka dilakukanlah kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat) tentang Pemanfaatan Teknologi Pengolahan Limbah bagi Peternak Puyuh Ramah

= 138.774 liter (dalam waktu 4 jam) Untuk pengolahan air limbah domestik teknologi yang digunakan adalah kombinasi proses biofilter anaerob-aerob, membutuhkan waktu

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan teknologi koagulasi dan denitrifikasi pada proses pengolahan limbah cair domestic sehingga lebih murah, mudah dan

Dari hasil penelitian diperoleh hasil bahwa potensi pemanfaatan daur ulang air limbah domestik kawasan industri, perhotelan dan kawasan permukiman rumah susun akan memberikan

Dokumen ini membahas efektivitas pengolahan air limbah domestik grey water dengan proses biofilter anaerob dan biofilter

Pengolahan Limbah Padat Domestik Berbasis Waste to Energy untuk Mengatasi Permasalahan

Sistem pengolahan air limbah domestik dibagi menjadi dua jenis, yaitu sistem setempat (SPLAD-S) dan sistem terpusat atau komunal