BAB 3 MENURUT BU GOMO BAGIAN KETIGA
FILOLOGI SEBAGAI PENGGALI BUDAYA MASA LAMPAU A. Pengantar
Filologi Penggali Budaya masa Lampau, pada bab ini akan dijelaskan berbagai hal mengenai filologi sebagai alat evaluasi dan sumber inspirasi
pengembangan dan kebudayaan, politik kebudayaan, peranan budaya masa lampau dalam pengembangan kebudayaan, filologi sebagai penggali inspirasi
pengembangan kebudayaan.
Khusus untuk filologi sebagai penggali budaya masa lampau diharapkan melalui filologi dapat digali budaya yang lahir dan tumbuh di wilayah Kesatuan Republik Indonesia. Termasuk filologi sebagai alat evaluasi dan sumber inspirasi dalam pengembangan kebudayaan, tanpa adanya pengembangan kebudayaan itu akan mati, budaya perlu dikembangkan agar bisa diterima oleh semua lapisan tanpa menghilangkan roh dari budaya itu. Politik kebudayaan lebih pada bagaimana cara menonjolkan semua hal yang berhubungan dengan pengembangan kesenian, agar budaya bisa memiliki nilai tawar yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kekuatan karakter bangsa kita. Baik sebagai penggali dan sebagai pengembang kebudayaan, peran filologi harus dioptimalkan dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.
B. Filologi sebagai Penggali Budaya Masa Lampau
Dalam pembicaraan masalah objek filologi telah dikatakan bahwa filologi
mempunyai sasaran kerja yang berupa naskah. Khusus filologi Indonesia, naskah- naskah yang ditangani oleh para ahli filologi adalah naskah yang mengandung teks- teks klasik sastra Nusantara. Mengingat ruang lingkup Nusantara itu sangat luas dan jumlah naskahnya cukup banyak maka cukup beraneka ragam pula khazanah
kebudayaan lama yang dikandungnya. Masyarakat Nusantara bersifat Majemuk. Dalam segi kesukaannya,
misalnya dapat dilihat adanya suku Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Batak, Bugis, Irian dan lain-lain, dalam segi agama, misalnya terdapat agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, dan lain-lain. kemajemukan itu, dalam perkembangan sejarahnya menunjukkan adanya persatuan dan kesatuan. Persatuan dan kesatuan itu realisasinya, antara lain, tampak dalam ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 dan kemudian dijelmakan sebagai Bhineka Tunggal Ika dalam lambang negara.
Sastra lama Indonesia memperlihatkan adanya unsur-unsur kedaerahan yang saling berkaitan dan bergantungan. Hubungan lintas melalui batas bahasa dan suku dapat diamati dari segi-segi sejarah dan segi tipologi. Dari segi sejarah, sejumlah besar naskah berisi hubungan antar bahasa dan antar suku, seperti karya sastra Jawa dari dahulu sampai sekarang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, Sunda, Bali, Madura, Sasak, dan lain-lain. selai itu, ada pula interaksi yang terus-menerus antara sastra lisan dan sastra tulisan dalam kawasan Nusantara (teeuw, 1982:13-14).
Sastra lama merupakan hasil sastra yang unik. Kebanyakan sastra lama
dibuat khusus untuk perseorangan atau golongan tertentu, seperti kaum bangsawan dan pemerintah negara. Oleh karena itu, naskah yang diciptakannya tidaklah banyak jumlahnya dan hal ini menjadikan naskah itu sangat berharga. la merupakan
warisan sastra dan khazanah negara yang menarik dan mempunyai nilai intrinsik
intelek yang perlu disimpan, dilindungi, dan dipelihara. Dari naskah yang berbagi jenis bentuk dan isinya itu, dapat diketahui dengan jelas susunan masyarakat dan cara hidup orang-orang zaman silam. Naskah menjadi puncak kekayaan tempat menggali kejadian dan peristiwa yang telah berlalu serta hubungan masyarakat dan sistem kenegaraan pada suatu mass. Dengan lain perkataan, naskah lama merupakan sumber utama yang penting bagi penyelidikan bahasa, sejarah, agama, peradaban, kebudayaan, dan politik masyarakat Nusantara pada waktu silam.
Mempelajari sastra lama tidak saja rapat hubungannya dengan mempelajari
sejarah peradaban bangsa pemilik sastra itu, tetapi dapat dikatakan memasuki dan hidup dalam masyarakat pemilik sastra tersebut, Orang akan mengetahui masyarakat
zaman silam, perkembangan kejiwaannya, perasaan, pikiran dan gagasan
masyarakat masa itu melalui ungkapan-ungkapan pengarangnya, sehingga dapat mempelajari sastra lama orang dapat memperluas dan memperkuat pandangan hidupnya.
C. Filologi Alat Evaluasi dan Sumber Inspirasi Pengembangan Kebudayaan Mempelajari dan memahami sastra lama dapat mengenal dan menghayati pikiran serta ciri-ciri pada zaman dahulu menjadi pedoman kehidupan yang
diutamakan oleh para nenek moyang bangsa Indonesia, sastra lama juga merupakan sumber ilham yang sangat dibutuhkan bagi pengembangan kebudayaan. Semakin giat penelitian diadakan terhadapnya akan semakin besar kemungkinan datangnya ilham. Dengan demikian, studi filologi terhadap sastra lama sangat besar
bantuannya bagi pengembangan kebudayaan Indonesia.
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, terdapat tiga golongan
kebudayaan: daerah, kebudayaan umum lokal, dan kebudayaan nasional yang masing-masing mempunyai corak tersendiri. Ketiga golongan kebudayaan itu satu sama lain saling berbeda, tetapi saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan yang bemama kebudayaan Indonesia, masalah yang dihadapi oleh masyarakat majemuk adalah saling hubungan antara kebudayaan daerah, kebudayaan umum lokal, dan nasional. Di antara hubungan-bubungan ini, yang paling kritis adalah hubungan antara kebudayaan daerah dan umum lokal di satu pihak dengan kebudayaan nasional di pihak lain (Parsudi Suparlan, 1983:426).
D. Politik Kebudayaan
Unsur kebudayaan yang universal adalahı sistem teknologi sistem mata pencaharian, sistem kemasyarakatan. bahasa. sistem pengetahuan, religi, dan kesenian, Di antara unsur-unsur kebudayaan universal itu, yang dikembangkan
secara khusus dan dapat menonjolkan sifat khas serta mutu suatu kebudayaan hanyalah satu unsur : untuk kebudayaan Indonesia unsur itu ialah kesenian. Jadi,
masalah pengembangan kebudayaan Indonesia pada hakikatnya terbatas kepada masalah pengembangan kesenian Indonesia (Koentjaraningrat, 1982:112-113). Ruang lingkup kesenian itu meliputi seni rupa dan seni suara. Salah satu cabang seni suara adalah seni sastra. Seni sastra Indonesia yang bersifat daerah banyak macamnya menurut bahasa daerah yang menjadi pengembannya. Di antara kesusastraan daerah itu ada yang mempunyai sejarah tertulis yang panjang, seperti kesusastraan Jawa, Bali, Bugis, Melayu, dan lain-lainnya. Akan tetapi, sastra daerah yang kontemporer belum banyak berarti. Hal itu merupakan tanda bahwa kehidupan intelektual
kebudayaan daerah pada umumnya masih berorientasi ke masa lampau dan belum
dapat menyesuaikan diri dengan suasana hidup masa kini (Koentjaraningrat, 1982:115-118).
Munculnya bahasa Indonesia dan sastra Indonesia merupakan hasil
pertemuan antara kebudayaan daerah Nusantara dan pengaruh kebudayaan Eropa modem (Ajip Rosidi, 1976:11). Kebudayaan Indonesia merupakan kebudayaan yang masih sangat muda yang lahir kira-kira sesudah Perang Dunia I. Kebudayaan Indonesia didasarkan pada penggunaan bahasa Indonesia yang merupakan bahasa baru dan berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu merupakan salah satu bahasa daerah yang tua, Kesusastraan Indonesia bukanlah suatu kesusastraan daerah.
Peraturan-peraturan yang digunakan dalam hubungan antara orang-orang Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai orang Indonesia bukan peraturan-peraturan daerah. Seni tari, seni drama, seni lukis, dan seni bangunan Indonesia pun berbeda dengan kesenian daerah. Jadi, pada dasarnya kebudayaan Indonesia berbeda dengan kebudayaan daerah meskipun unsur-unsurnya diperkaya oleh berbagai kebudayaan daerah itu dan ditambah berbagai unsur kebudayaan asing. Kebudayaan Indonesia dianggap sebagai kebudayaan yang mengikat dan mempersatukan warga negara indonesia (Harsja W Bachtiar, 1973:4).
Pembangunan dan perkembangan kebudayaan yang memerlukan tiga
macam sumber yang dapat memberikan unsur-unsur baru. Tiga macam sumber itu adalah daerah nasional dan internasional (Selo Sumardjan, 1979:201). Sumber
daerah, khususnya sastra daerah, adalah bagian yang menjadi objek filologi.
Sumbangan sastra daerah terhadap pengemabangan kebudayaan Indonesia mempunyai nilai positif, baik ditinjau dari segi kualitatif maupun kuantitatif. Dari segi kuantitatif, banyaknya terjemahan dan saduran sastra daerah ke dalam bahasa Indonesia akan memperkaya dan memperluas horison khazanah kerohanian bahasa Indonesia, khazanah kerohanian yang dulunya hanya menjadi milik suku bangsa akan menjadi milik bangsa Indonesia. jika diperhatikan sumber golongan daerah yang dapat memberi pengaruh kepada pembangunan dan perkembangan kebudayaan daerah itu sebagian besar merupakan refleksi dari pengaruh kebudayaan pemerintah pusat (Selo Sumardjan, 1979:203).
Sumber golongan nasional yang terkuat dalam mempengaruhi pembangunan dan perkembangan kebudayaan Indonesia adalah pemerintah Republik Indonesia atau pemerintah pusat. Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai sekarang, pemerintah pusat telah berkali-kali menciptakan pengertian-pengertian baru,
konsep-konsep baru, program-program baru dan peraturan-peraturan baru yang wajib ditiru atau diikuti oleh semua warga negara Indonesia, misalnya dalam bidang kenegaraan yang dapat disebut di sini Sang Saka Merah Putih, Lambang Negara Bhineka Tunggal Ika, dan sebagainya (Selo Soemardjan, 1979:202).
Sumber internasional yang mempengaruhi kebudayaan Indonesia amat luaş lingkungannya karena meliputi seluruh kebudayaan yang ada di dunia luar Indonesia, pada umumnya, sumber-sumber internasional yang berpengaruh itu adalah kebudayaan yang kuat dan agresif (Selo Sumardjan, 2979:201-202).
E. Peranan Budaya Masa Lampau dalam Pengembangan Kebudayaan Kebudayaan nasional adalah kebudayaan suatu bangsa sebagai strategi untuk menjamin eksistensi bangsa, mendinamisasikan kehidupan bangsa.
Membentuk dan mengembangkan kepribadian bangsa, dan menata kehidupan bangsa (Daoed Joesoef dalam Parsudi Suparlan, 1983:429). Untuk itu pendekatan
(1) sejarah bangsa di masa lampau,
(2) kenyataan-kenyataan sosial budaya masa kini, dan
(3) cita-cita nasional pada masa yang akan datang, yang secara keseluruhan pada hakikatnya didasarkan atas visi kebudayaan yang bersumber kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Selo Sumardjan, 1979:198).
Penggalian sejarah masa lampau berguna untuk memperkaya dan
menunjang pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) Il dinyatakan bahwa tujuan pokok pengembangan kebudayaan nasional adalah memperkuat identitas nasional, kebanggaan nasional, dan kesatuan nasional (Suhardi Ekadjati, 1982:5).
Kebudayaan nasional dari masyarakat majemuk seperti Indonesia biasanya belum mantap jika dibandingkan dengan kebudayaan daerah yang tercakup di
dalamnya. Usaha pembinaan dan pemantapan kebudayaan nasional harus dilakukan dengan mempertimbangkan kelangsungan hidup kebudayaan daerah yang ada di Indonesia dan memantapkan serta membina hubungan yang harmonis di antara berbagai suku bangsa dan golongan sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia yang majemuk dapat dipertahankan kelangsungannya (Parsudi Suparlan, 1983:429).
Identitas suatu bangsa didasarkan atas kebudayaannya, kebudayaan
Indonesia berakar pada sejarah. Sebagian besar dari sejarah itu dapat diangkat kembali melalui pengetahuan filologi. Pengetahuan bangsa Indonesia terhadap sejarahnya akan memperkuat kebudayaan yang dikembangkannya dan juga memperkuat identitas kebangsaannya (Harsja W. Bachtiar, 1973:3). Dalam hal ini, budaya daerah (masa lampau) memegang peranan penting dalam memantapkan dan menunjang pengembangan kebudayaan nasional Indonesia untuk memperkuat identitas kebangsaannya,
F. Filologi sebagai Penggali Inspirasi Pengembangan Kebudayaan Mengamati sastra lama dalam rangka menggali kebudayaan Indonesia
merupakan usaha yang erat hubungannya dengan pembangunan banysa Indonesia.
pembangunan negara yang sifatnya multikompleks memberi tempat kepada bidang pengembangan kebudayaan nasional Indonesia harus berorientasi kepada : mental dan spiritual. Sastra lama merupakan sumber yang kaya untuk menggali
unsur-unsur spiritual itu. dalam hal ini, bangsa Indonesia boleh berbangga karena memiliki dokumentasi sastra lama yang benar-benar merupakan khazanah yang penuh berisi kekayaan yang tidak terhingga nilainya. Sastra lama Indonesia yang terdapat di beberapa daerah, misalnya Jawa, Melayu, Sunda, Madura, Bali, Aceh, makasar, dan Bugis merupakan rekaman kebudayaan Indonesia dari kurun zaman silam yang mengandung berbagai lukisan kehidupan, buah pikiran, ajaran budi pekerti, nasihat, hiburan, pantangan, termasuk kehidupan keagamaan pada waktu itu
Untuk memahami hasil sastra, khususnya sastra lama, pengetahuan yang
memadai tentang latar belakang penciptaan dan sosial kultural karya sastra itu akan dapat membantu. Pengetahuan sosial kultural itu, antara lain, kepercayaan, agama, pandangan hidup, adat istiadat, sosial, politik, dan ekonomi (Wellek, 1956:61-62).
Untuk kembali mengungkapkan latar belakang kebudayaan sastra lama diperlukan pengetahuan masa hidup dan sejarah penyebarannya. Di antara manfaat
mempelajari sastra lama adalah mengenal kekayaan kebudayaan sendiri dan kebesaran masa yang akan datang, memperluas pandangan hidup kemanusiaan,
memperluas pengetahuan tentang dunia luas di luar masyarakatnya.
Generasi kemudian perlu memanfaatkan peninggalan yang tersebar di
berbagai daerah Indonesia. peninggalan-peninggalan itu perlu diamati dan digali serta hasilnya dipublikasikan untuk kepentingan masyarakat. Dengan demikian
persepsi tentang nusantara akan lebih luas, tidak terbatas pada daerah ataupun suku.
Mempelajari sejarah memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan.
Ada tiga manfaat yang dapat ditemukan dalam mempelajari sejarah (Nugroho Notosusanto, 1946:61) yaitu :
(1) memberikan pendidikan,
(2) memberikan ilham atau inspirasi,
(3) memberikan kesenangan atau pleasure.
Ada sejumlah Nusantara yang mengandung fakta sejarah yang oleh pengarangnya diolah sedemikian rupa sehingga menjadi satu sajian yang berupa rekaan yang menarik, misalnya sejarah Melayu, Hikayat Hang Tuah, dan Babad Tanah Jawi.
Mengingat sastra Indonesia adalah cerminan masyarakat, dalam kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia, naskah-naskah sastra lama itu sangat penting dan sangat berguna untuk dipelajari. Dengan memahami sejarah Indonesia pada masa lampau maka arah pembentukan kepribadian bangsa Indonesia akan lebih jelas.
Sebagai contoh, penggalian naskah Nagarakretagama penting bagi
pembangunan Negara Republik Indonesia di masa kini karena Nagarakretagama berisi sejarah pembangunan kerajaan Majapahit di masa lampau. Sejarah masa silam merupakan senjata yang ampuh, yang dapat digunakan untuk menghilangkan hambatan-hambatan dalam perjuangan kebudayaan untuk membentuk kepribadian serta masa depan hangsa. Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada telah dapat mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara.
Pembangunan kerajaan Majapahit enam abad yang lampau itu ada titik pertemuan dengan pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa kini meskipun kondisinya berbeda (Slamet Muljana, 1979).
Pedoman memerintah yang diuraikan berdasarkan sejarah Islam dengan contoh-contoh dalam bentuk hikayat yang di sana-sini disertai dalil-dalil kutipan dari Quran dan Hadis dapat dikaji melalui naskah Tajussalatin dan Bustanussalatin.
Kedua karya itu merupakan hasil sastra lama yang memberi pelajaran tentang kewajiban-kewajiban secara moral yang harus dilakukan oleh raja-raja, menteri, hulubalang, bendahara, penulis, para duta, dan pejabat kerajaan lainnya. Terhadap Allah dan rakyat; demikian juga sebaliknya, bagaimana kewajiban harus
dilaksanakan oleh rakyat terhadap Allah dan negara (Siti Chamamah, 1981:Khalid Hussain, 1966). Lambang negara Bhineka Tunggal Ika, dari semula sudah diketahui bahwa asalnya bukan dari san sansekerta. Kalimat itu diambil dari kitab Jawa Kuno Sutasoma (CXXXIX, 5). Unsur sansekertanya hanyalah kata bhinna (Haryati
Soebadio, 1983:556 dan 561).
BAB 3 MENURUT OMAN FATHURAHMAN
SEJARAH PERKEMBANGAN STUDI NASKAH DAN ILMU FILOLOGI Hingga kini, tidak mudah menemukan referensi buku
yang memadai terkait sejarah perkembangan studi
naskah klasik dan filologi mulai dari Yunani, Eropa, Timur Tengah, apalagi hingga ke Nusantara. Di an- tara referensi yang pernah diterbitkan dalam bahasa Indonesia ialah Pengantar Teori Filologi karya Siti Baroroh Baried (1985), yang salah satu pembahasan- nya mengemukakan sejarah perkembangan filologi di dunia dan Nusantara. Beberapa artikel dalam Jurnal Filologi Melayu terbitan Perpustakaan Negara Malay- sia (PNM) juga mengandung pembahasan tentang sejarah filologi klasik, dan semuanya mengacu pada satu sumber yang sama, yakni Scribes & Scholars: A Guide to the Transmission of Greek & Latin Literature karya L.D. Reynolds & N.G. Wilson (1974).
Demikianlah, memang belum banyak referensi yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya diskusi terkait sejarah perkembangan studi naskah dan filo- logi, khususnya dalam konteks Nusantara. Di bawah
ini saya pun akan menghimpun dan merangkai kembali sumber-sumber yang telah disebutkan di atas, ditambah
dengan sejumlah sumber berbahasa Arab yang lumayan ba- nyak tersedia.
FILOLOGI KLASIK MAZHAB ISKANDARIYAH
Sejak awal perkembangannya di Yunani pada abad ke-3 SM, filologi telah berutang budi pada para pustakawan di Perpus- takaan Iskandariyah (Alexandria). Nama-nama seperti Aris- tophanes (k. 446-386 SM), Apollonius Rhodius (paruh perta- ma abad ke-3 SM), Aristarchus (k. 310-230 SM), Zenodotus (terkenal pada 280 SM), dan Eratosthenes (k. 295-214 SM) merupakan lima dari enam pustakawan sekaligus intelektual Yunani yang giat melakukan kajian, kritik teks, serta pener- jemahan naskah-naskah koleksi Perpustakaan tertua di du- nia tersebut. Berkat ketekunan dan dedikasinya itulah, dunia kemudian mewarisi karya-karya klasik agung yang diyakini terjaga otentisitasnya (Reynolds & Wilson 1974: 8).
Para sarjana Mazhab Iskandariyah memiliki perhatian
lebih pada bidang-bidang ilmu sains dan sastra, meski bidang ilmu lainnya juga berkembang. Dua karya monumental
Homerus, Iliad dan Odyssey, merupakan objek telaah yang mengasyikkan para filolog dan kritikus sastra masa itu. Sa- yangnya, tidak semua naskah dari karya-karya agung peri- ode Yunani Hellenistik tersebut dapat diwarisi oleh generasi berikutnya mengingat terjadinya beberapa kali tragedi keba- karan yang menimpa Perpustakaan Alexandria.
Naskah-naskah yang tersimpan di Perpustakaan Iskan- dariyah yang dibangun pada masa Pemerintahan Ptolemaios I Soter atau Ptolemaios (k. 367 SM - 283 SM) dan anaknya Ptolemaios II (k. 283-246 SM) ini hampir semuanya ber-
bentuk gulungan (roll) dan terbuat dari papirus, yakni alas tulis yang terbuat dari pohon air (cyperus papyrus) yang
tumbuh di tepi dan lembah Sungai Nil, Mesir. Karena ber- bentuk gulungan, maka untuk membacanya seseorang harus terlebih dahulu membuka gulungan, menahannya dengan satu tangan, dan kemudian harus mengembalikan pola awal gulungannya seperti semula, agar pembaca kemudian juga bisa membacanya mulai dari bagian depan teks (lihat Baried 1994: 34).
Tentu saja cara membaca naskah gulungan semacam ini sangat tidak praktis, bahkan untuk ukuran zaman itu, ter- utama jika teks dalam naskahnya memang sebuah karya yang panjang, seperti karya Plato berjudul Symposium, yang panjangnya mencapai kira-kira 22 kaki, atau sekitar 670 cm (Reynolds & Wilson 1974: 2). Bahkan, seringnya sebuah nas- kah digulung akan lebih mempercepat tingkat kerusakannya.
Selain itu, teks yang tertulis di atas papirus konon juga lebih sulit dibaca dan dipahami, karena tidak adanya fung- tuasi bacaan, tidak ada pembagian paragraf, dan tidak ada ak- sentuasi. Dapat dibayangkan bahwa tingkat kesulitan mem- baca naskah yang dihadapi oleh para sarjana dan filologi pada masa itu, jelas jauh lebih kompleks ketimbang naskah bentuk buku yang dihasilkan pada periode-periode berikutnya.
Akan tetapi, berkat ketekunan para sarjana klasik masa itu, maka tradisi kritik teks, yang sangat memperhatikan pentingnya autentisitas dan kelak menjadi ciri khas studi filologi, mulai tumbuh, dan terutama diterapkan pada teks sastra. Salah satu prinsip kritik teks yang berkembang pada periode klasik ini adalah dengan menguji otentisitas sebuah teks melalui perbandingan dengan bagian-bagian teks ter- tentu lain yang ditulis oleh pengarang yang sama. Dengan cara ini, seorang filologis masa itu, Aristarchus, misalnya
BAB 3 MENURUT ACHADIATI IKRAM PERLUNYA MEMELIHARA SASTRA LAMA
PERLUNYA MEMELIHARA SASTRA LAMA
JIKA dikatakan bahwa kejayaan Indonesia di masa silam ter- bukti oleh peninggalan-peninggalan yang terdapat di bumi Indonesia, maka dalam pikiran setiap orang akan terkilas peninggalan material dalam bentuk candi, istana, masjid atau bangunan lainnya. Atau kita ingat sisa kebudayaan berupa benda sehari-hari seperti periuk, belanga, alat pertanian dan persenjataan atau pakaian yang masih banyak dipergunakan sampai saat ini, diwariskan beserta teknik-teknik pembuatan- nya seperti batik dan tenunan, ataupun benda rumah tangga yang sampai saat ini sama bentuknya seperti apa yang kita lihat
pada relief Borobudur yang dipahat seribu tahun yang lampau.
Biasanya dalam hubungan ini kita sering kali tidak me-
nyadari bahwa peninggalan kebudayaan kita, sebagian besar dalam bentuk tulisan. Padahal dari tulisan-tulisan inilah kita bisa memperoleh gambaran lebih jelas mengenai alam pikiran, adat-istiadat, kepercayaan, dan sistem nilai orang pada zaman lampau; suatu pengertian yang tidak mungkin tercapai jika bahan-bahan keterangan kita hanya terdiri dari peninggalan material; karena dalam hal itu banyak kesimpulan akan berda- sarkan dugaan belaka. Dalam penelitian, peninggalan tulisan dan kebendaan merupakan dua unsur yang saling melengkapi.
Sastra Lama Kurang Dikenal
Pada umumnya manusia Indonesia modern tidak kenal lagi akan sastra lama, tak pernah membacanya, bahkan tidak pernah mendengar namanya kecuali apa yang didapatnya
dari sekolah melalui pelajaran sastra lama. Keasingan sastra lama ini bagi kebanyakan orang memang banyak sebabnya.
Pertama-tama karena belum banyak digarap menjadi bacaan yang mudah dipahami dan diterima orang banyak, sedangkan bukunya yang aslı, yang berupa tulisan tangan, tersimpan dalam jumlah yang amat terbatas; tempat penyimpanannya pun biasanya tidak diketahui khalayak ramai.
Berbeda dengan sastra modern yang diperbanyak dengan teknik cetak dalam jumlah yang besar, sastra lama disalin de- ngan tangan, suatu proses yang memakan waktu cukup lama.
Bahkan pembuatan bahan tulisnya saja kerap kali merupakan pekerjaan yang rumit. Misalnya pada sastra Jawa Kuna, yang oleh suatu peristiwa sejarah berhasil disimpan dalam jumlah yang amat besar, aksaranya digoreskan pada daun lontar de- ngan menggunakan pisau kecil. Daun itu kemudian digosok dengan bahan penghitam agar göresan-goresan aksara tampak jelas. Sebelumnya, daun lontar itu telah dipersiapkan dengan cara yang khusus. Teknik-teknik ini sampai saat ini masih dilakukan secara sempurna di Bali. Ada juga sastra lama yang mengenal bahan yang lebih modern, misalnya sastra Melayu lama yang menggunakan kertas dan tinta. Ada pula yang memakai bambu, kulit kayu, dan lain-lain.
Bisa dibayangkan, dalam iklim tropis seperti di Indonesia ini bahan-bahan seperti itu niscaya tidak akan tahan lama.
Umur rata-rata satu buku, apabila ia tidak dipelihara dengan cara khusus, misalnya dengan cara disimpan di tempat yang terlindung dari cuaca dan serangga, tidak lebih dari seratus tahun. Di masa lampau, di masa keraton merupakan pusat budaya dan sastra, pada waktu-waktu tertentu sastra yang dianggap penting setiap kali disalin kembali, sehingga semua naskah sastra lama yang kita miliki sekarang merupakan sali- nan yang ke sekian kali dari karangan yang asli.
Keperluan untuk setiap kali menyalin kembali karya
sastra membawa akibat tersendiri bagi kelestarian sastra itu.
Berbagai hal bisa menyebabkan hilangnya suatu tradisi tertulis, misalnya berkurangnya perhatian masyarakat terhadap suatu
bidang, hancurnya kerajaan vang menjadi pusat budaya atau berpindahnya pusat kekuasaan ke daerah lain; semuanya itu dapat mengakibatkan bahwa pekerjaan menyalin terputus untuk selama-lamanya. Maka, hilanglah tradisi itu ditelan kehancuran.
Banyak yang Hilang
Tak dapat diperkirakan berapa saja karya sastra yang
musnah dengan cara demikian; mungkin jumlahnya besar. Kita hanya dapat menduga-duga. Jika kita meneliti prasasti-prasasti dari abad ke tujuh dan ke delapan, dapat ditarik kesimpulan bahwa bangsa yang menyusunnya pasti telah memiliki sastra yang berarti; kabar-kabar Cina pun memberi kesaksian menge- nai Sriwijaya sebagai pusat pengajaran agama. Tetapi, kecuali prasasti, tidak ada tulisan selembar pun yang dapat menjadi sumber pengetahuan kita mengenai kegiatan-kegiatan pada masa itu. Sastra Melayu yang tertua yang diturunkan kepada kita berasal dari abad ke-16. Prasasti Jawa Kuna yang tertua pun menampakkan gejala gejala bahwa bahasanya telah meng alami perjalanan sejarah yang cukup lama.
Prasasti yang dituliskan pada bahan yang lebih tahan waktu, nasibnya lebih baik. Tembaga, perunggu, emas, dan batu tersimpan baik sampai beratus-ratus tahun dan memang isinya dianggap cukup penting untuk diketahui oleh beberapa generasi, yaitu mengenai masalah dalam bidang hukum, tata negara, dan sejenisnya. Hingga kini masih ada penemuan pra- sasti-prasasti baru yang banyak menambah pengetahuan kita mengenai fakta-fakta sejarah yang tadinya belum terungkap Sayang sekali pada umumnya yang ditemukan adalah prasasti pendek dan khusus sifatnya sehingga dalam bidang bahasa, mişalnya, kita sulit menarik kesimpulan-kesimpulan.
Dalam hal tiadanya sastra dari zaman Sriwijaya, tengge-
lamnya kerajaan itu beserta agama Buddha Lah yang dapat kita sebut sebagai penyebab utamanya. Orang tidak lagi melihat
kepentingan menyalın naskah-naksah itu: perhatian orang te- lah beralih kepada suatu aliran atau agama baru. Kedatangan suatu agama baru dapat pula menyebabkan sastra lama dengan sengaja dimusnahkan seperti yang telah terjadi dengan buku- buku lama pada peralihan dari agama Hindu kepada agama Islam, dalam tradisi Jawa.
Bahwa kemusnahan ini tidak terjadi atas sastra Jawa Kuna hanyalah karena peranan Bali dalam penurunan tradisi itu. Di situlah buku-buku Jawa Kuna terus-menerus disalin walaupun di tempat asalnya sastra itu sudah tiada lagi.
Karena belum ada teknik percetakan, dengan sendirinya suatu karya tidak pernah hadir dalam jumlah yang besar;
apalagi jika dipikirkan bahwa banyak buku lama yang jumlah halamannya sampai beratus-ratus. Jika suatu naskah tersim- pan dalam jumlah yang agak besar, seperti Hikayat Muhammad Hanafiyyah, Hikayat Sri Rama atau cerita-cerita Panji, itu menan- dakan kepopulerannya pada masa lampau. Beberapa di antara naskah itu berasal dari abad yang silam dan disalin di Jakarta, yang pada saat itu memiliki banyak tempat bacaan untuk umum, tempat buku-buku ini disewakan. Menilik kekayaan sastra Melayu yang lahir di Jakarta, patut diperkirakan bahwa masih ada naskah-naskah lama yang disimpan oleh penduduk di daerah-daerah yang sering disebut-sebut dalam naskah-nas- kah yaitu Pejagalan, Krukut, Tanah Abang, dan sebagainya;
nama-nama yang dalam waktu singkat pasti akan hilang dari peta Jakarta.
Sebab lain darı tidak terkenalnya sastra lama ini ialah
aksaranya yang tidak umum dikenal lagi; cuma terbatas pada kalangan yang amat kecil. Jadi, kalaupun buku itu terdapat dalam jumlah yang cukup, tidak banyak orang yang bisa me- nikmatinya. Sebelum sampai pada khalayak banyak, harus lebih dulu diadakan penyalınan dari aksara aslinya ke dalam aksara Latin.
Setelah penyalınan terjadi, masih ada lagi satu kendala la- in, yaitu bahasanya. Bahasa yang dipakai dalam naskah-naskah itu merupakan sesuatu yang sudah asing bagi kita. Makin tua sastranya, makin asing bahasanya. Baru jika ia diterjemahkan, isinya bisa dimanfaatkan oleh orang yang bukan ahli.
Haşil terjemahan serupa ini belum banyak. Sering pula
dilakukan terjemahan ke dalam bahasa asing: Inggris, Jerman, Belanda, dan sebagainya sehingga tidak berapa berguna untuk masyarakat Indonesia, padahal merupakan sumber yang amat kaya guna pengetahuan dan perkembangan kebudayaan pada umumnya. Tidak heranlah kita, jika kebanyakan orang Indone- sia tidak mengenal aksara mereka sendiri, dan dari keasingan ini timbul sikap tak sayang.
Sastra Lama bagi Masyarakat Modern
Sastra lama pada hakikatnya merupakan sastra-sastra daerah. Di antara bangsa-bangsa di Asia Tenggara, kita ber- untung karena mewarisi khazanah sastra lama dalam jumlah yang besar sekali. Daerah yang disebut Indo Cina, misalnya, yang memiliki sisa-sisa kuno yang termasyhur di seluruh pen- juru dunia dan menunjukkan kebudayaan yang tinggi, tidak mempunyai peninggalan sastra dalam jumlah yang berarti.
Dapat diduga bahwa ini disebabkan oleh peperangan yang secara terus-menerus melanda daerah itu, bahkan sampai pada saat ini.
Bahasa-bahasa Nusantara yang memiliki sastra lama yang masih tersimpan antara lain bahasa Bali, Bugis, Maka-
sar, Sunda, Jawa, Melayu, Aceh, Batak, dan Minangkabau. Di samping sastra yang tersimpan dalam tulisan, hampir semua suku bangsa di Indonesia mempunyai sastra yang tersimpan dalam bentuk lisan, bahkan banyak juga yang memelihara keduanya. Sastra lisan ini pun terancam kepunahan karena hilangnya perhatian masyarakat terhadapnya akibat nilai-nilai
dan sikap hidup yang telah berubah. Fungsinya yang hidup juga berangsur-angsur menipis dan hilang
Semua sastra daerah ini mempunyai sifat yang khas,
aksara yang khas, bahkan bahan-bahan tulisan yang khas. Ada yang berupa kulit kayu, bambu, kertas padi, lontar, nipah, dan sebagainya.
Sastra ini timbul dan berkembang pada zaman yang belum mengenal nasionalisme, bahkan sebagian besar berakar pada feodalisme yang kita anggap sebagai suatu sikap hidup yang sudah usang. Dapatlah kita mengemukakan pertanyaan: masih adakah gunanya pemeliharaan naskah lama dalam konteks nasional sekarang ini?
Pertanyaan ini dapat dijawab dengan positif, karena sastra lama yang ruang lingkupnya amat luas dapat merupakan sum- ber yang tak ternilai bagi pengertian terhadap berbagai aspek kebudayaan kita yang pada hakikatnya bersumber kepada kebudayaan tradisional
Penelitian sejarah modern, misalnya, tidak hanya ingin mengungkapkan kejadian-kejadian "penting" dalam sejarah, tetapi ia juga ingin meneliti sikap, pikiran, dan perasaan masya- rakat yang menjalani dan mendukung kejadian-kejadian itu.
Hal ini sudah dilakukan oleh beberapa orang dengan hasil yang berarti, misalnya penelitian mengenai feodalisme, sikap rakyat terhadap penguasa, dan ide kepahlawanan. Unsur-unsur ini dapat kita temukan dalam sastra sejarah yang sering banyak dicampuri dengan unsur-unsur dongeng setempat. Sebagai kontras dapat pula dikemukakan penulisan sejarah Sulawesi Selatan yang sifatnya amat lugas dan mencatat penanggalan yang jelas. Penulisan sejarah Makasar dan Bugis ini merupa- kan sastra yang unik dan menarik. Di daerah-daerah lain kita tidak menjumpai buku harian semacam ini, yang mencatat segala peristiwa yang dianggap penting atau tidak sehari-hari, seperti perang, perkawinan, kelahiran, gerhana, dan gempa bu- mi, yang terjadi di lingkungan suatu kerajaan. Bahkan dalam
menyampaikan suatu kejadian yang supranatural sumbernya disebut, seakan-akan pencatat mau bersikap objektif. Jadi,
sebenarnya lebih cocok dengan sikap orang modern terhadap sejarah.
Dulu-Sekarang
Buchari, dalam suatu artikel berdasarkan prasasti-prasasti, menganalisis struktur kemasyarakatan kuno dengan sistem pe- merintahannya, lengkap dengan tugas-tugas seperti pengatur
persediaan pangan, jawatan imigrasi, pengawas kesusilaan, dan sejenisnya; suatu struktur yang menarik untuk dibanding- kan dengan keadaan pemerintah masa kini. la juga mengemu- kakan bahwa suatu kebiasaan yang umumnya dianggap baru, yaitu membuat akronim atau singkatan, sudah lazim dilakukan di zaman purba, khususnya pada nama pangkat dan jabatan, tepat seperti yang terjadi sekarang ini.
Sebagai bahan perbandingan dengan sumber lain menge- nai fakta sejarah naskah-naskah lama, analisisnya juga amat berguna. Ini terbukti dalam penulisan sejarah tentang Kerajaan Pasai bahwa Hikayat Raja-Raja Pasai ternyata membantu dalam identifikasi dua nama yang tercantum pada batu nisan yang diketemukan di daerah Aceh, yaitu Malik al-Salih dan Malik al-Zahir yang kemudian dikenal sebagai raja-raja Pasai. Tanpa bantuan naskah itu, fakta tersebut tidak akan terungkap.
Sebaliknya, untuk menerima begitu saja bahwa apa yang disebut dalam naskah lama sebagai kejadian sejarah memang merupakan fakta yang nyata, tidaklah mungkin. Akal kita sering kali menolaknya. Tetapi dengan pendekatan tertentu, dapatlah kita menganalisis apa yang bersembunyi di balik mi- tos-mitos yang kita jumpai dalam sastra lama. Dalam metode fungsional untuk analisis mitologi, misalnya, kita beranggapan bahwa itu merupakan perwujudan dari cita-cita dan pandang- an hidup yang menggerakkan kegiatan rohani maupun jasmani suatu masyarakat. Di sini pula pengertian tentang mitos-mitos
menjadi kunci bagi pemahaman sikap-sikap dalam masyarakat tempat mitos-mitos itu hidup.
Rassers dalam bukunya De Pan-
ji-Roman merupakan orang pertama yang berusaha mendekati suatu karya sastra lama secara antropologis. Walaupun ia telah mendapat banyak tantangan, usaha semacam itu sebaiknya dilanjutkan oleh peneliti pribumi demi pengertian antardaerah yang lebih besar.
Para ahli hukum, misalnya, perlu mengadakan penelitian mengenai perkembangan historis hukum adat di Indonesia agar mereka memperoleh wawasan yang lebih dalam menge- nai sikap hukum masyarakat.
Di bidang adat-istiadat, sastra yang berasal dari Sulawesi Selatan berisi fakta-fakta dan menyebutkan berbagai benda praktis yang dipakai pada zaman itu, seperti senjata, gambaran rumah, dan kapal. Gambaran keadaan masyarakat sehari-hari juga diberikan dalam Negarakertagama yang termashur itu dan telah pula dianalisis oleh Pigeaud.
Mengenai kehidupan keagamaan, sudah banyak juga diteliti oleh antara lain Hooykaas dan Al-attas; tetapi khusus- nya untuk Indonesia banyak yang belum diselidiki, misalnya sejarah penyebaran agama Islam.
Semua unsur kebudayaan yang kita temukan dalam sastra lama membentuk gambaran tentang manusia dan kebudaya-
annya pada zaman lampau; jika kita tahu bagaimana mereka hidup, apa pekerjaan mereka sehari-hari, apa yang mereka rasakan, dan bagaimana sikap hidup mereka.
Kecuali bagi ilmu sejarah, antropologi, dan sosiologi se- perti yang telah dikemukakan di atas, dengan sendirinya ilmu bahasa amat berkepentingan dalam pemeliharaan naskah lama Perkembangan bahasa dan unsurya dapat diteliti dari da- lamnya. Gaya dan ungkapan serta kosakata sebaiknya diteliti dan dibandingkan.