TUGAS INDIVIDU KEPERAWATAN DASAR TELAAH JURNAL MENGGUNAKAN METODE PICO
KLAS P14 PRODI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS SUMATRA BARAT NO NAMA PENELITI JUDUL
PENELITAIAN LENGKAP PROBLEM
(MASALAH) INTERVENTION
(INTERVENSI) COMPARISON
(PERBANDINGAN) OUT COME
(HASIL) 1 Totok Hernawan, dan
Fahrun Nur Rosyid.
“Pengaruh senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah lansia dengan hipertensi di Panti Wredha Kelurahan Pajang Surakarta”
Masalah klinik dari jurnal ini adalah untuk mengetahui adakah
pengaruh senam
hipertensi terhadap penurunan tekanan darah lansia dengan hipertensi.
Populasi penelitian adalah seluruh lansia yang tinggal di Panti Wredha Kelurahan Pajang Surakarta berjumlah 82 orang dan sample sebanyak 28 lansia yang mengalami hipertensi dengan teknik sampling jenuh.
Senam hipertensi merupakan aktifitas fisik yang dilakukan berupa gerakan senam khusus
penderita hipertensi yang dilakukan selama 30 menit dengan tahapan 5 menit
latihan pemanasan, 20 menit gerakan peralihan dan 5 menit gerakan pendinginan dengan prekuensi 4 kali dalam 2 minggu.
Senam ini bertujuan untuk melestarikan peredaran darah dan meregangkan otot kaku pada lansia
hipertensi.
1. Pengaruh senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah lansia dengan hipertensi di Panti Wredha Kelurahan Pajang Surakarta
Dari hasil penelitian
Pengaruh senam
hipertensi terhadap penurunan tekanan darah lansia dengan hipertensi
di Panti Wredha
Kelurahan Pajang
Surakarta, dapat
disimpulkan tekanan darah sebelum pemberian intervensi sebagian besar adalah prehypertension (39%), tekanan darah setelah pemberian
intervensi senam
hipertensi sebagian besar adalah normal (56%), danterdapat pengaruh
Dari hasil penelitian Pengaruh senam hipertensi terhadap penurunan
tekanan darah lansia dengan hipertensi di Panti Wredha Kelurahan Pajang
Surakarta, dapat
disimpulkan tekanan darah
sebelum pemberian
intervensi
sebagian besar adalah pre hypertension (39%), tekanan darah setelah
pemberian intervensi senam hipertensi sebagian besar adalah normal (56%),
dan terdapat pengaruh senam hipertensi terhadap tekanan darah lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Pajang Surakarta (p-value = 0,001).
senam hipertensi terhadap tekanan darah lansia di Panti Wredha Dharma Bhakti Pajang Surakarta (p-value = 0,001).
2. Pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di posyandu lansia dusun banaran 8 playen gunungkidul
Hasil uji statistik dengan paired t-test menunjukkan nilai p (value) tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah dilakukan senam lansia didapatkan p value 0,024 dan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah dilakukan senam lansia didapatkan p value 0,010 dengan taraf signifikasi 0,05 (p<0,05).
Sehingga dapat
disimpulkan ada
pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia penderita hipertensi di POSYANDU Banaran 8 Playen Gunung Kidul.
2 Nurul Jannah, dkk
“Faktor Risiko Yang Mempercepat
Terjadinya
Komplikasi Gagal Jantung Pada Klien Hipertensi”
Masalah klinik dari jurnal ini adalah untuk mengetahui adakah hubungan antara usia saat pertama menderita hipertensi dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi.
Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi yang melakukan perawatan baik rawat jalan maupun rawat inap RSUDAM Provinsi Lampung
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor- faktor apa saja yang mempercepat
terjadinya
komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi di RSUDAM Provinsi Lampung. Teknik pengumpulan
primer diperoleh dengan cara memberikan
kuesioner kepada responden,
sedangkan dara sekunder diperoleh dengan membaca data-data yang terdapat dalam status medik klien
1. Faktor Risiko Yang Mempercepat
Terjadinya Komplikasi Gagal Jantung Pada Klien Hipertensi.
Hasil penelitian pada penelitian ini didapatkan bahwa tidak ada jantung pada klien hipertensi, tidak ada hubungan antara jenis kelamin
dengan kecepatan
timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi, tidak ada
hubungan antara
terkontrolnya hipertensi dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi. Sesuai dengan hasil penelitian tersebut, maka disarankan untuk penelitian selanjutnya untuk membandingkan jumlah risiko yang dimiliki oleh pasien terhadap timbulnya komplikasi gagal jantung.
2. Tekanan Darah Dengan Kejadian Infark Pasien Acute
Berdasarkan pada hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Distribusi frekuensi klien hipertensi berdasarkan usia saat pertama didiagnosis hipertensi adalah sebagian besar atau sebanyak 72,2% dari 97 responden mulai menderita hipertensi diatas usia 40 tahun.
2. Distribusi frekuensi klien hipertensi berdasarkan jenis kelamin didapatkan sebagian besar atau sebanyak 53,6% dari 97 responden berjenis kelamin laki-laki.
3. Distribusi frekuensi klien hipertensi berdasarkan terkontrol atau tidaknya hipertensi didapatkan sebagian besar atau sebanyak 67% dari 97 responden memiliki hipertensi yangtidak terkontrol,
4. Tidak ada hubungan antara usia saat pertama
Coronary Syndrome.
Hasil penelitian bahwa pasien dengan tekanan darah sistole rata-rata tinggi memiliki kejadian infark 7.5 kali lebih besar dari sistole normal. Sementara pasien dengan tekanan diastole rata-rata tinggi memiliki kejadian infark 6.5 kali lebih besar dari tekanan diastole normal.
Tekanan darah sistole dandiastole tinggi pada pasien ACS harus dimonitor dan dikontrol oleh perawat secara intensif selama 24 jam pertama untuk mencegah atau mengurangi risiko kejadian infark
menderita hipertensi dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi,
5. Tidak ada hubungan antara jenis kelamin klien hipertensi dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi 6. Tidak ada hubungan
antara terkontrolnya hipertensi dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi, diharapkan peneliti selanjutnya untuk membandingkan jumlah risiko yang dimiliki oleh
pasien terhadap
timbulnya komplikasi gagal jantung
3 Asmi Farwati, dan Ruhyami
“Pemberian Buah Pepaya Terhadap
Tekanan Darah
Penderita Hipertensi di
Wilayah Kerja
Masalah klinik dari jurnal ini adalah untuk mengetahui Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai komplikasi komplokasi tersebut dapat terjadi pada otak
Pemberian pepaya pada penderita hipertensi.
Sebanyak 200 gram yang dikonsumsi pada sore
hari antara jam 16.00-18.00
1. Pemberian Buah Pepaya Terhadap
Tekanan Darah
Penderita Hipertensi di
Wilayah Kerja
Puskesmas Ngampilan Yogyakarta.
Hasil penelitian pada
Buah pepaya dapat menurunkan tekanan darah tinggi dalam waktu satu minggu (1minggu ). Karena memiliki kandungan kalium sebesar 257 mg/100 mg
kalium berfungsi
mempertahankan cairan
Puskesmas Ngampilan
Yogyakarta” yang meliputi stroke dan demensia serta daapat mengakibatkan gagal jantung maupun gagal ginjal
sebelum makan selama 7 hari.
Sebelum dan
sesudah
mengkonsumsi
pepaya akan
dilakukan pengukuran
tekanan darah setelah dilakukan pengukuran
tekanan pada
penderita hipertensi tekanan darah normal.
penelitian ini didapatkan bahwa Buah pepaya memiliki kandungan kalium sebesar 257 mg/100 mg kalium berfungsi
mempertahankan cairan intrasel. Selain itu buah
pepaya memiliki
kandungan antioksidan yaitu Vit C yang berfungsi mencegah kerusakan sel yang di sebabkan oleh radikal bebas dan donor elektron. Kerjasama antara Vit E dan Vit C betakaroten akan memper
mudah pelumpuhan
radikal bebas. Mengkudu sebanyak 5 gram dalam penelitian ini terbukti dapat dijadikan sebagai alternatif setelah memakan buah pepaya pada penelitian di
dapatkan terjadi
penurunan tekanan darah.
2. Tekanan Darah Dengan Kejadian Infark Pasien Acute Coronary Syndrome.
Hasil penelitian bahwa Buah mengkudu
intrasel yang di konsumsi selama sore hari. Sedangkan pada the buah mengkudu mengandung scopeletin antibaktona antiflimasi yang dapat menurunkan tekanan darah tinggi dalam waktu satu bulan (1 bulan).
Sehingga buah pepaya lebih efektif dalam menurunkan tekanan darah.
mengandung senyawa scopoletin yang bersifat
antibaktonal dan
antiflamasi. Pada hipertensi antiflamasi yang mampu menurunkan tekanan darah. Efek yang diberikan buah mengkudu pada penderita hipertensi adalah efek peleburan pembuluh darah sehingga tekanan pada dinding- dinding pembuluh darah berkurang sehingga tekanan darah bisa turun.
Mengkudu sebanyak 5 gram dalam penelitian ini terbukti dapat dijadikan sebagai alternatif pengobatan tradisional serta efektif dalam menurunkan tekanan darah sebesar 26%
diastolik sebdar 20% pada kelompok lansia dengan hipertensi
4 Syatirah Rizky Ananda
“Efektifitas Jus Belimbing Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia di Kelurahan Tawangmas
Masalah klinik dari jurnal ini adalah hipertensi merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan
Intervensi yang diberikan pada jurnal ini adalah
dengan cara
pemberian jus belimbing.
1. Efektifitas Jus Belimbing Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Lansia di Kelurahan Tawangmas Baru, Kecamatan
Ada pengaruh pemberian jus belimbing terhadap penurunan tekanan pada lansia dengan hipertensi di Kelurahan Tawangmas Baru Kecamatan Semarang Barat.
Baru, Kecamatan
Semarang Barat” darah di atas normal yang di tunjukkan oleh angka sistolik (>140 mmHg) dan angka diastolik (>90 mmHg) pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik yang berupa cuff air raksa
(sphygmomanometer) atau alat digital.
Penyakit hipertensi terus mengalami
kenaikan dan
prevalensinya cukup tinggi dari tahun ketahun
Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami hipertensi di Kelurahan Tawangmas Baru, Kecamatan Semarang Barat dengan sampel
yang digunakan
sebanyak 21 responden.
Belimbing dapat membantu
memperlancar pencernaan
makanan, selain itu belimbing juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh, dan yang terpenting
belimbing dapat digunakan untuk membantu
menurunkan
tekanan darah seseorang.
Kombinasi antara zat
fitokimia dan
mineral yang
terkandung dalam belimbing seperti
kalium serta
kalsium
memungkinkan buah belimbing dijadikan obat untuk menurunkan
hipertensi. Jus belimbing diberikan sebanyak 200 ml sebanyak 1 kali
Semarang Barat.
Hasil penelitian dengan menggunakan uji statistic yaitu uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon didapatkan p value tekanan darah sistolik = 0.000 dan p value tekanan darah diastolik = 0.000 maka dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian jus belimbing terhadap penurunan tekanan pada lansia dengan hipertensi di Kelurahan Tawangmas
Baru Kecamatan
Semarang Barat.
Berdasarkan hasil penelitian maka jus belimbing dapat dijadikan sebagai intervensi mandiri terutama bagi lansia hipertensi..
2. Pengaruh
Mengkonsumsi Pisang
Ambon Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Lansia Penderita Hipertensi Di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto.
Hasil penelitian
Berdasarkan hasil penelitian maka jus belimbing dapat dijadikan sebagai
intervensi mandiri terutama bagi lansia hipertensi.
sehari yang diberikan selama 7 hari.
sebelum mengkonsumsi pisang ambon, responden mengalami hipertensi sedang (75%) dan setelah mengkonsumsi pisang
ambon responden
mengalami hipertensi ringan yaitu 6 responden (50%). Uji wilcoxon signed rank test pada systole didapatkan p = 0,002 < α
= 0,05 pada diastole p = 0,001 < α = 0,05 sehingga artinya terdapat pengaruh mengkonsumsi pisang
ambon terhadap
penurunan tekanan darah
lansia penderita
hipertensi di Panti Werdha Mojopahit Kabupaten Mojokerto
5 Dewi yuliana, Novi Afrianti, dan Nosi Delianti
“Hypnosis Lima Jari Dalam Menurunkan
Kecemasan Pada Pasien Hipertensi”
Masalah klinik dari jurnal ini adalah hampir semua pasien dengan hipertensi mengalami kecemasan yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan meningkatkan tekanan darah. Kecemasan merupakan perasaan subjektif yang
Pemberian Hipnotis
5 Jari yang
dilakukan kepada lansia sangat efektif dilakukan untuk menurunkan
tingkat kecemasan.
Sebagai berikut:
1. Ciptakan
lingkungan yang nyaman
1. Hypnosis Lima Jari Dalam Menurunkan Kecemasan Pada Pasien Hipertensi.
Hasil penelitian pada penelitian ini didapatkan bahwa pada kelompok intervensi (hipnosis lima jari ) didapatkan nilai p = 0,001 (<0,05) yang menunjukkan hipnosis
Hypnosislima jari merupakan suatu pengobatan non farmakologi yang dapat digunakan dalam murunkan tekanan darah pada penderita hipertensi yang mengalami kecemasan.
Hypnosis lima jari dengan melakukan hypnosis pada diri sendiri serta
meliputi rasa takut, ketidakberdayaan, dan isolasi. Penerapan psikoterapi, seperti terapi hipnosis lima jari, dapat membantu mengelola tekanan darah.
Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami hipertensi sebanyak 30 orang.
2. Bantu klien untuk mendapatkan posisi istirahat yang nyaman
duduk atau
berbaring
3. Latih klien untuk menyentuh
keempat jadi dengan ibu jari tangan
4. Minta klien untuk tarik nafas dalam sebanyak 2-3 kali 5. Minta klien untuk
menutup mata agar rileks
6. Dengan diiringi musik (jika klien mau)/ pandu klien untuk menghipnosisi dirinya sendiri sesuai dengan arahan.
lima jari efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien hipertensi.
2. Efektifitas hipnosis lima jari terhadap
ansietas klien
hipertensi di
puskesmas rawasari jambi.
Hasil penelitian pada penelitian ini didapatkan
bahwa adanya
perbedaan tingkat ansietas dan hipertensi sebelum dan sesudah intervensi diberikan hasil uji pada kelompok pretest-posttest diketahui nilai rata-rata (mean) adalah 1,789 dengan standar deviasi 3,376 yang menunjukkan nilai sig. 0,000 dengan derajat kemaknaan 0,05.
Hasil sig. 0,000< 0,05
yang artinya ada
efektivitas terapi hipnosis lima jariterhadap ansietas klien hipertensi
menyetuhkan jari-jari sambil mengingat hal-hal yang baik yang dialami pasien, membayangkan saat pasien berada dalam keadaan sehat, membayangkan saat pasien bersama keluarga atau orang-orang yang dicintai serta sambil membayangkan berada di tempat yang disukai sehingga hipnosis lima jari ini dapat menurunkan kecemasan.
Disarankan keterlibatan keluarga dan masyarakat sangat membantu dalam penerapan hypnosis lima jari dalam menurunkan kecemasan pada pasien hipertensi
MAHASISWA
INTEN SUGANDI, Amd.Kep NIM. 241014201377