PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana pendekatan penafsiran hakim dalam menerima permohonan pengembalian mahar putusnya perkawinan yang diajukan ke Pengadilan Agama Persiapan.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Dalam pelaksanaannya, diharapkan hasil penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi masyarakat, memberikan ide dan dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya di bidang yang sama. Dalam prakteknya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum yaitu unsur pengadilan, pihak-pihak yang berkepentingan, kelompok advokasi dan khususnya bagi para pencari keadilan dalam hal ini masyarakat yang mempunyai permasalahan yang sama sehingga menjadi paradigma baru dalam mengajukan tuntutan pengembalian mahar. pembatalan pernikahan tersebut.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan Teoretis
- Teori Pertimbangan Hakim (Ratio Decidendi)
- Teori Kepastian Hukum
- Teori Perubahan Hukum
- Teori Maslahat
Secara terminologi, al-mas{lah{at diberi makna oleh sebahagian ulama usu Imam Malik berpendapat bahwa mahar merupakan syarat sahnya suatu perkawinan, oleh karena itu tidak dapat diadakan perjanjian pembatalannya. Wahbah al Zuhaili berpendapat bahwa mahar bukan merupakan tiang dan syarat sahnya perkawinan, melainkan hanya merupakan konsekuensi logis yang harus dibayar dengan mengadakan akad nikah. Ahmad Mustafa al-Mara Munculnya perbedaan pendapat dikalangan para ulama mazhab menurut Ibnu Rusyd timbul dari ketidakjelasan akad nikah itu sendiri antara kedudukannya sebagai suatu bentuk pertukaran, karena yang dilakukan adalah kesediaan menerima pertimbangan, baik kecil maupun besar. seperti halnya jual beli, dan kedudukannya sebagai ibadah ada ketentuannya.85. Mengenai perbedaan jenisnya, para ulama fiqih sepakat bahwa mahar dibedakan menjadi dua, yaitu: mahar musamma dan mahar mis}l. Mah{r musamma< adalah mahar yang disebutkan atau dijanjikan jumlah dan jumlahnya pada saat perkawinan. Berdasarkan kajian teoretik terhadap pengertian mahar hingga pengembalian mahar, dapat disimpulkan bahwa mahar merupakan sesuatu yang sakral dan mempunyai kriteria yang jelas serta pengembalian mahar harus selalu mengacu pada ketentuan yang berlaku. Fasakh dapat bertindak jika syarat-syarat dalam akad nikah tidak terpenuhi atau karena hal-hal yang datang kemudian. Pembatalan perkawinan dalam kompilasi hukum Islam secara sederhana terbagi menjadi dua, yaitu batal demi hukum, sebagaimana tercantum dalam Pasal 70 KHI, karena bertentangan dengan aturan dan haram jika dilakukan (melawan hukum), yang kedua dapatkah dibatalkan sebagaimana disebutkan dalam pasal 71 KHI suami atau istri pada bagian ini mempunyai pilihan untuk membatalkan perkawinan atau tidak. Revisi kritis atas keputusan nomor: 372/Pdt.G/2019/PA.Pare tentang pengembalian mahar pada saat batalnya perkawinan. Lokasi ini dijadikan acuan oleh peneliti mengingat adanya putusan yang mengakomodir tuntutan pengembalian mahar jika terjadi pembatalan perkawinan. Pendapat hakim (narasumber) yang menangani perkara pembatalan perkawinan yang isi petitumnya meminta pengembalian mahar. Sebagai langkah terakhir, peneliti mengkaji, mengkaji dan menganalisis kasus pembatalan perkawinan di Domstol Religiøse Parepare dalam kaitannya dengan tuntutan pengembalian mahar. Pengadilan Agama Persiapan yang mempunyai kewenangan mutlak mempunyai kewenangan memutus perkara pembatalan perkawinan dan pengembalian mahar. Perkara tersebut di atas merupakan perkara pembatalan perkawinan dengan permohonan tambahan yaitu permohonan pengembalian mahar. Penelitian ini difokuskan pada wawancara mendalam untuk mengetahui pemahaman hakim Pengadilan Agama Persiapan tentang makna pengembalian mahar dan pembatalan perkawinan. Pendekatan interpretatif hakim dalam mengabulkan tuntutan pengembalian mahar atas pembatalan perkawinan yang diajukan ke Pengadilan Agama Persiapan. Analisis pendekatan penafsiran hakim dalam mengabulkan permohonan pengembalian mahar pembatalan perkawinan yang diajukan dalam pengembalian mahar pembatalan perkawinan yang diajukan di Pengadilan Agama Persiapan. Para tergugat mengajukan eksepsi bahwa berdasarkan fakta perkara seharusnya penggugat mengajukan gugatan cerai bukan pembatalan perkawinan ke Pengadilan Agama Parepare karena perkawinan antara tergugat II dan penggugat II telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan hukum Islam, maka perkawinan itu tidak dapat dibatalkan. Alur penyidikan lebih lanjut dengan memperjelas bahwa berdasarkan dalil-dalil penggugat, para tergugat menyatakan sebagaimana dalam jawabannya pada hakikatnya telah diajukan gugatan pembatalan perkawinan, penggugat berkeberatan karena perkawinan telah dilaksanakan menurut ketentuan yang berlaku. tata cara dan peraturan perundang-undangan serta berdasarkan hukum Islam, sehingga perkawinan antara tergugat II dan penggugat II tidak dapat dibatalkan. Majelis hakim berpendapat bahwa perkawinan antara Tergugat II dan Penggugat II tidak hanya dilakukan sebagaimana disebutkan di atas, tetapi juga telah diadakan perjanjian pranikah menurut adat Bugi, yaitu lamaran, pertunangan. Selain itu, juga diketahui bahwa perkawinan tergugat II dan penggugat II terjadi karena perjodohan, sehingga penggugat II dan tergugat II tidak saling mengenal. 1 pembuktian P.8 antara Penggugat II dan Tergugat II, dimana dalam komunikasi Tergugat II secara terang-terangan menyatakan tidak berkeinginan untuk menikah dengan Penggugat II, maka majelis hakim berpendapat bahwa perkawinan tersebut dilakukan bukan atas permintaan Tergugat II, melainkan atas kehendak Tergugat II. Terdakwa II. wasiat orang tua Tergugat II dalam perkara ini dan Tergugat I dalam perkara a quo. Majelis hakim menyatakan, berdasarkan keterangan para tergugat, baik saksi pertama, saksi kedua, maupun saksi ketiga pada pokoknya memberikan keterangan yang menyatakan bahwa perkawinan penggugat II dengan tergugat II dilakukan secara prosedural sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. peraturan dan juga sesuai dengan kearifan lokal (prosesi adat bugis). ) agar perkawinan itu sah menurut hukum agama dan menurut hukum perkawinan di Indonesia. Proses pencarian fakta menunjukkan bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, Majelis Hakim berpendapat bahwa perkawinan penggugat II dan tergugat II bukan atas dasar saling pengakuan dan cinta, melainkan atas dasar wasiat. Kesimpulan majelis hakim menilai dengan dilaksanakannya perkawinan tergugat II karena paksaan atau paksaan dari tergugat I, maka tuntutan penggugat telah terbukti dan terdapat dasar hukum bagi pembatalan perkawinan penggugat. II dan terdakwa II berdasarkan ketentuan. pasal 71 huruf (f) Ringkasan Hukum Islam. Menurut saya, pertimbangan yang saya gunakan untuk mencari perkara pengembalian mahar dalam perkara pembatalan perkawinan merujuk dulu pada pembukaan KHI yang hanya mengembalikan separuhnya. Tentunya untuk mengembalikan mahar secara utuh atau tidak, terlebih dahulu harus melihat klasifikasi alasan permintaan pengembalian mahar. Memutuskan perkara pengembalian mahar setelah terbukti qabla dukhul, kemudian menyelidiki sumber permasalahan pembatalan perkawinan, sehingga memungkinkan pertimbangan pengembalian mahar. Mengenai pengembalian mahar, saya berpendapat tidak ada cara untuk mengembalikan mahar secara penuh dengan kaidah kompilasi hukum Islam yang mengatakan bahwa qabla dukhul hanya mengembalikan setengahnya, jadi jika qabla dukhul hanya mengembalikan setengahnya, maka tidak ada. lagi ba'da dukhul. Jawaban pengembalian mahar secara penuh dalam hal pembatalan perkawinan karena paksaan tidak menyebabkan pengembalian mahar secara penuh, namun kembali pada kedudukan pengadilan dan penafsiran atas dasar hukum yang digunakan dalam pengembalian tersebut. dari mahar. Pokok pembuktiannya adalah persoalan kabla dukhuli dalam perkara pembatalan perkawinan, lalu mencari kesediaan pihak perempuan untuk mengembalikan maharnya atau tidak. Berdasarkan pandangan beberapa informan di atas, maka pendekatan interpretasi hakim yang digunakan dalam menyelesaikan perkara pelunasan mahar pembatalan perkawinan dimulai dari kriteria qabla dukhul. Ketika kriteria ba’da dukhul terbukti, sebagian besar informan tidak setuju dengan pengembalian mahar. Pemahaman para informan dan majelis hakim mengenai pengertian pengembalian mahar dalam perkara pembatalan perkawinan nampaknya berbeda-beda, namun ada kesamaan pendapat mengenai boleh tidaknya pengembalian mahar dalam perkara qabla dukhul. . Apabila pengembalian mahar itu berkaitan dengan paksaan, cacat badan, salah paham, maka mahar dapat dikembalikan setengahnya. Penyelesaian perkara pengembalian mahar dalam pembatalan perkawinan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya dilakukan dengan pemeriksaan perkara di pengadilan yang dilanjutkan dengan proses penggandaan dan penggandaan. Apabila hal itu terbukti dan unsur batalnya perkawinan telah terpenuhi, maka serangkaian pemeriksaan terhadap keadaan perkawinan yang dimintakan kembali maharnya menjadi penentu. Pengembalian mahar klasifikasi kabla dukhul berdasarkan kaidah Ikhtisar Hukum Islam sudah layak dan dianggap adil bagi kedua pasangan. Pengembalian mahar secara penuh, mengingat perkawinan yang dilangsungkan tidak ada, hanya akan menghilangkan penetapan kemaslahatan bagi pihak yang berperkara. Terpenuhinya rasa keadilan para pihak menjadi tantangan tersendiri bagi hakim yang menangani perkara pengembalian mahar. Uji pengembalian mahar dalam perkara pembatalan perkawinan ditentukan oleh adanya tuntutan pembatalan perkawinan yang oleh majelis hakim dinyatakan memenuhi unsur cacat perkawinan, setelah itu penggugat dilanjutkan dengan permintaan pengembalian mahar. Aisyah, Nur, Peran Hakim Pengadilan Agama dalam Penerapan Hukum Islam di Indonesia, Jurnal Al-Qad}a>u, Volume 5 Nomor 1, Juni 2018. Urgensi Pemikiran Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyyah Tentang Perubahan Hukum Terhadap Perkembangan Sosial Hukum Islam di Lingkungan Peradilan Agama Daerah Sulawesi Selatan, Diktum: Jurnal Syariah dan Hukum, Volume 16 Nomor 2, Desember 2018. Helida, Nova, Akibat Hukum Batalnya Perkawinan Poligami Akibat Kurangnya Izin Istri Pertama Mengingat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Analisis Putusan Pengadilan Agama Nomor: 822/Pdt.G/2004/PA.Dpk.), Skripsi, Universitas Indonesia, 2011. Mutmainnah dan Rahmawati, Eksistensi dan Reformasi Hukum Keluarga Islam di Inggris, Diktum: Jurnal Syariah dan Hukum, Volume 18 Nomor 2, Desember 2020. Nuruddin, Amiur, dan Tarigan, Azhari Akmal, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Kajian Kritis Hukum Perkembangan Islam dari Fikih, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dalam KHI), Cet. Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Hukum Perkawinan (UU No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan), Yogyakarta: Liberty, 1999. Soimin, Soedharyo, Human and Family Law Perspective of Western Civil Law/BW, Islamic Law and Customary Law, Bengkulu: Sinar Graphic, 2010. Islamsko zakonsko pravo v Indoneziji, med Fiqh Munakahat in zakonskim pravom, Jakarta: Prenada Media, 2006.Tinjauan Konseptual
Bagan Kerangka Pikir
METODE PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Telaah Pengembalian Mahar dalam Pembatalan
Pendekatan Penafsiran Hakim dalam Mengabulkan
Pembahasan Hasil Penelitian
PENUTUP
Saran