MAKALAH EKONOMI MONETER ISLAM Teori Dan Konsep Dasar Keuangan Islam
Dosen: Samsul, S.A.B., MA.
Di Susun Oleh Kelompok 2
Andini Putri (90500119018)
Nurhasisa (9050011033)
Muh. Fakhrul Aqiel (90500119030)
Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
2021
Kata pengantar
Segalah puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadiratTuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Karunianya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Tugas Makalah yang berjudul “Teori Dan Konsep Keuangan Islam”.
kami berharap agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai Teori Dan Konsep Keuangan Islam. Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah kami terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna.Oleh sebab itu kami berharap adanya kritik,saran,dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat.
Semogah makalah kami dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami mohon kritik dan saran yang membangun dari andademi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Samata, 22 September 2021
Penulis
Daftar isi
Sampul makalah ...i
Kata pengantar ...ii
Daftar isi ...iii
Bab I Pendahuluan...4
A. Latar belakang...4
B. Tujuan pembahasan ...5
Bab II Pembahasan...6
A. Ruang lingkup keuangan islam...6
B. Filosofi keuangan islam...9
C. Prinsip maqashid syariah keuangan islam ...11
D. Hokum dan moral islam dalam keuangan islam ...16
E. Implikasi hokum dan moral islam dalam aktivitas ekonomi dan keuangan 19. F. Implementasi system keuangan islam...20
G. Infrastruktur system keuangan islam...22
Bab III Penutup ...24
A. Kesimpulan...24
B. Saran ...24
Daftar pustaka ...25
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan keuangan Islam kian hari semakin signifikan. Hal ini ditandai dengan banyak indikator. Mulai dari tumbuh dan berkembangnya industri perbankan dan keuangan Islam, diakuinya ekonomi Islam sebagai mazhab ekonomi, menjamurnya perguruan tinggi Islam maupun non Islam dalam mengkaji dan memperdalam ekonomi dan keuangan Islam, penerapan sistem ekonomi dan kuangan Islam dalam sistem moneter dan fiskal suatu negara, berlakunya syariat Islam dalam berekonomi dan terakhir tumbuhnya halal industri dan masih banyak lagi indikator yang menandai tumbuh dan berkembangnya ekonomi dan keuangan Islam.
Ekonomi dan keuangan Islam dirasa lebih berkeadilan dan mampu menjadi solusi untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Hanya saja, Dunia masih tersipu malu untuk mengakui hal tersebut. Untuk lebih mengenal ekonomi dan keuangan Islam, pada makalah ini akan dijelaskan konsep dasar ekonomi dan keuangan Islam. Pembahasan mengenai konsep dasar ekonomi dan keuangan Islam, mutlak diperlukan sebelum melangkah lebih jauh dalam mengkaji ekonomi dan keuangan Islam. Hal ini guna menggambarkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki sistem ekonomi dan keuangan Islam dibanding sistem ekonomi dan keuangan lainnya. Pembahasan dalam makalah ini meliputi fondasi ekonomi Islam, tujuan penciptaan manusia, falah tujuan hidup di dunia dan pilar-pilar ekonomi dan keuangan Islam.
Berbicara mengenai konsep dasar ekonomi dan keuangan Islam, maka idealnya adalah berbicara mengenai fondasi dari ekonomi dan keuangan Islam. Hal ini untuk mendapatkan gambaran secara utuh dari mana sumber ekonomi dan keuangan Islam berasal dan supaya dapat memaknai secara mendalam akan karakteristik ekonomi dan keuangan Islam. Ketidaktahuan akan sumber ini akan menyebabkan adanya anggapan bahwa ekonomi dan keuangan Islam merupakan sebuah sistem ekonomi dan keuangan konvensional yang diislamkan atau adanya
anggapan bahwa sistem ekonomi dan keuangan Islam memiliki kesamaan dengan sistem ekonomi keuangan lainnya.1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ruang lingkup keuangan islam?
2. Bagaimana filosofi keuangan islam?
3. Bagaimana prinsip maqashid syariah keuangan islam?
4. Bagaimana hokum dan moral islam dalam keuangan islam?
5. Bagaimana implikasi hokum dan moral islam dalam aktivitas ekonomi dan keuangan?
6. Bagaimana implementasi system keuangan islam?
7. Bagaimana infrastruktur system keuangan islam?
C. Tujuan
Untuk memecahkan dan mencari tau serta menjelaskan poin-poin yang terdapat dalam rumusan masalah
BAB II
1 https://pkebs.feb.ugm.ac.id/2018/07/02/prinsip-sistem-keuangan-syariah
PEMBAHASAN A. Ruang Lingkup Manajemen Keuangan Islami
Ruang lingkup keuangan terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Financial service
Ini merupakan bidang keuangan yang berhubungan dengan pembuatan desain dan konsultasi produk finansial, baik kepada individu, bisnis maupun pemerintah. Bidang ini berkaitan dengan jasa keuangan yang meliputi, Loan officers, Pialang dan juga Konsultan keuangan.
2. Managerial finance
Managerial finance yaitu kegiatan yang berhubungan dengan tugas-tugas manajer keuangan di perusahaan aktif dalam mengelola keuangannya. Aktivitas tersebut meliputi penyusunan budge, peramalan keuangan, manajemen kas, administrasi kredit, mencari dana dan investasi.
Kedua bidang dalam manajemen keuangan ini dalam praktiknya selalu berjalan searah (berbanding lurus), saling mendukung, berkaitan dan ketergantungan satu dengan lainnya.
Artinya. keduanya selalu dibutuhkan dalam mencapai tujuan perusahaan secara keseluruhan.
Dalam hal keuangan, di Indonesia sendiri sudah banyak lembaga yang menaungi keuangan Islami. Hal semacam ini dilakukan untuk menjauhkan nasabah dari beberapa hal terkait riba. Dengan begitu, harta akan lebih aman dan halal.
Adapun beberapa lembaga terkait, misalnya:
a) Lembaga Keuangan Bank Syariah
Manajemen keuangan Islami salah satunya melalui bank syariah. Keuangan bank merupakan lembaga yang memberikan jasa keuangan yang lengkap dan operasional dibina atau diawasi oleh bank indonesia. Sedangkan pembinaan dan pengawasan dari sisi pemenuhan prinsip-prinsip syariah dilakukan oleh MUI. Lembaganya terdiri dari :
o Bank Umum Syariah. Kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
o Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Khusus melayani masyarakat kecil di kecamatan dan pedesaan. Sehingga, perekonomian lebih merata dan terjangkau luas.
b) Lembaga Keuangan Non Bank
Jika didefinisikan, merupakan lembaga keuangan yang lebih banyak jenisnya daripada bank. Pembinaan dan pengawasan dari sisi pemenuhan manajemen keuangan Islami dan dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia. Macam-macamnya antara lain sebagai berikut:
Pasar Modal
Pasar modal memiliki pengertian sebagai tempat transaksi antara orang yang mencari dana dengan semua penanam saham. Di sini, produk yang dijual belikan meliputi bursa efek layaknya saham dan obligasi jangka panjang.Pasar modal meliputi underwriter, broken, dealer, guarantor, trustee, custdian serta jasa penunjang. Dalam pelaksanaanya di Indonesia, akan diawasi dalam lingkup operasionalnya ole Bapepam LK serta dibarengi pemenuhan dasar syariah bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pasar Uang
Pasar uang sama halnya dengan pasar modal, yaitu pasar tempat memperoleh dana dan investasi. Perbedaanya hanya terletak pada jangka waktu berlaku serta pemanfaatannya saja ketika digunakan untuk bisnis. Di sini, proses transaksi akan lebih sering menggunakan media elektronika atau digital. Sehingga, customer bisa mengaksesnya dimanapun serta tidak perlu kerepotan untuk datang langsung sendiri ke sana.
Pasar uang melayani banyak pihak, baik pemerintah, bank, perusahaan asuransi dan lembaga lainnya. Bentuk syariahnya juga telah hadir melalui kebijakan Operasi Moneter Syariah dengan instrumen-instrumen tertentu. Instrumen tersebut antara lain Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang Antar bank Syariah (PUAS). Terdapat juga, sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA) yang secara operasional di bawah pengawasan Bank Indonesia sedangkan prinsip syariahnya diatur MUI.
Perusahaan Asuransi
Asuransi syariah atau dalam Islam disebut dengan ta’min, takaful dan tadhamun, merupakan sebuah perusahaan yang mempunyai tujuan untuk saling melindungi pihak-pihak tertentu melalui investasi berbentuk aset. Asuransi syariah di sini tidak mengandung penipuan, perjudian, penganiayaan, suap serta barang maksiat dan haram lainya. Perusahaan-perusahaan jenis ini sekarang telah bersaing dengan bentuk konvensional.
Dana Pensiun
Dana pensiun merupakan perusahaan yang kegiatannya mengelola dana tua dari perusahaan pemberi kerja atau perusahaan itu sendiri. Pengumpulanya melalui iuran dan potongan dari gaji karyawan saat mereka masih aktif bekerja. Setelah dana tersebut terkumpul, maka oleh perusahaan akan diinvestasikan lagi pada beberapa bidang dengan keuntungan jelas.
Ini dilakukan supaya dapat benar-benar berkembang serta menjamin hari tua bagi karyawannya.
Perusahaan yang mengelola dana pensiun dapat dilakukan oleh bank atau lainnya. Di Indonesia, hal tersebut baru hadir dalam bentuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan dan diselenggarakan oleh beberapa DPLK bank serta asuransi syariah.
Perusahaan Modal Venture Syariah UU
Perusahaan modal venture merupakan sebuah sebuah sistem pembiayaan dengan jenis usaha mengandung resiko sangat tinggi. Hal ini relatif dan masih jarang keberadaanya untuk diterapkan di Indonesia. Dalam menjalankan usahanya, perusahaan ini memberikan biaya atau dana pada sesorang tanpa melibatkan jaminan yang notabene pasti tidak seperti sistem lembaga lain. Selain itu, juga menjalankan usaha berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
Lembaga Pembiayaan
Lembaga pembiayaan merupakan sebuah perusahaan yang tidak termasuk bank maupun non-bank. Ia secara khusus didirikan untuk mengelola dan membawahi bidang usaha pada sektor-sektor berikut ini:
Lembaga Sewa Guna Usaha (Leasing).
Perusahaan Anjak Piutang (Factoring).
Perusahaan Kartu Plastik.
Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance).
Perusahaan Pegadaian Lembaga Keuangan Syariah Mikro yang meliputi Lembaga Pengelola Zakat (BAZ dan LAZ), Lembaga Pengelola Wakaf, 2
B. Filosofi Sistem Ekonomi dan Keuangan Syariah
Ekonomi syariah dibangun di atas empat karakteristik, yaitu:
1) Dialektikanilai-nilai spritualisme dan materialism;
2) Kebebasan berekonomi;
3) Dualisme kepemilikan;
4) Menjaga kemaslahatan individu dan masyarakat.
Hasil Penelitian menunjukan bahwa konsep dasar ekonomi dan keuangan islam adalah terdapat pada Bangunan ekonomi Islami itu didasarkan atas lima nilai universal, yakni:
o Tauhid (keimanan), o ’Adl (keadilan).
o Nubuwwah (kenabian), o Khalifah (pemerintah), o Ma’ad (hasil).
Kelima ini menjadi dasar inspirasi untuk menyusun proposi-proposisi dan teori-teori ekonomi Islami. Dalam operasionalnya, lembaga keuangan syariah yang menerapkan keuangan Islam berada menerapkanprinsip-prinsip keadilan, yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai kontribusi dan resiko masing-masingpihak. Kemitraan, yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan pengguna dana, serta lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra usaha yang saling bersinergi untuk memperolehkeuntungan. Transparansi, lembaga keuangan Syariah akan memberikan laporan keuangan secara terbuka dan berkesinambungan
2 https://www.kompasiana.com/amp/handikasurbakti/5e9413a7097f36075f06e282/filosofi-
agar nasabah investor dapat mengetahui kondisidananya. Universal, yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan dalam masyarakat sesuai dengan prinsip Islam sebagai rahmatan lilalamin.3
Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan keuangan Islam kian hari semakin signifikan. Hal ini ditandai dengan banyak indikator. Mulai dari tumbuh dan berkembangnya industri perbankan dan keuangan Islam, diakuinya ekonomi Islam sebagai mazhab ekonomi, menjamurnya perguruan tinggi Islam maupun non Islam dalam mengkaji dan memperdalam ekonomi dan keuangan Islam, penerapan sistem ekonomi dan kuangan Islam dalam sistem moneter dan fiskal suatu negara, berlakunya syariat Islam dalam berekonomi dan terakhir tumbuhnya halal industri dan masih banyak lagi indikator yang menandai tumbuh dan berkembangnya ekonomi dan keuangan Islam.4
Menurut JM. Muslimin (2017) ada tiga asas filosofi ekonomi dan keuangan Syariah, yaitu: Semua yang ada di alam semesta, langit, bumi serta sumber-sumber alam lainnya, bahkan harta kekayaan yang dikuasai oleh manusia adalah milik Allah, karena Dialah yang menciptakannya. Manusia sebagai khalifah berhak mengurus dan memanfaatkan alam semesta itu untuk kelangsungan hidup dan kehidupan manusia dan lingkungannya.
Allah menciptakan manusia sebagai khalifah dengan alat perlengkapan yang sempurna, agar ia mampu melaksanakan tugas, hak dan kewajibannya di bumi. Semua mahluk lain terutama flora dan fauna diciptakan Allah untuk manusia,agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup manusia dan kehidupannya.
Beriman kepada hari kiamat dan hari pengadilan. Keyakinan pada hari kiamat.
merupakan asas penting dalam sistem ekonomi Islam, karena dengan keyakinan itu, tingkah laku ekonomi manusia akan dapat terkendali, sebab ia sadar bahwa semua perbuatannya termasuk tindakan ekonominya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah. Pertanggungjawaban itu tidak hanya mengenai tingkah laku ekonominya saja, tetapi juga mengenai harta kekayaan yang diamanahkan oleh Allah kepada manusia.
3 Jamaludin Jamaludin, Vol 12 No 1 (2020): Januari-Juni 2020,
http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/mua/issue/view/375 , Konsep Dasar Ekonomi Menurut Syariat Islam, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
4 https://badilag.mahkamahagung.go.id/artikel/publikasi/artikel/konsep-dasar-ekonomi-dan-keuangan-islam-oleh- khoiruddin-hasibuan-lc-m-a-2-7
Filosofi ekonomi dan keuangan Syariah memiliki pandangan yang holistik, terutama posisi dan peran manusia sebagai hamba (abdullah) dan juga pengganti/
pengelola (khalifatullah) di alam semesta. Oleh karenanya, ekonomi Syariah sangat memperhatikan stabilitas dan kelangsungan ekosistem di alam semesta.
Selain itu, salah satu konsekuensi sebagai hamba dan pengelola tersebut adalah pertanggungjawaban kepada Allah Swt, sehingga segala daya upaya yang dilakukan dengan baik dan penuh tanggungjawab. Di era ini, hal ini disebut dengan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development.5
Aktivitas suatu perusahaan sangat ditunjang oleh modal atau dana yang dimiliki oleh para pendirinya. Dana tersebut digunakan untuk membelanjai aktivitas-aktivitasnya. Dalam hubungan ini, maka perusahaan akan menghadapi penentuan metode yang tepat untuk menggunakan dana secara optimal. Dana perusahaan dapat diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya dari pendiri, pasar uang, maupun pasar modal. Dalam kaitannya dengan manajemen keuangan, teori umumnya selalu berbicara mengenai, cara perusahaan mendapatkan dana dari pasar modal.
Kegiatan dalam manajemen keuangan mencakup kegiatan perencanaan keuangan, analisis keuanga dan pengendalian keuangan. Orang melaksanakankegiatan manajemen keuangan disebut sebagai manajer keuangan. Seorang manajer keuangan dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai securities and invesment analysis (analisis bisnis, investasi dan surat-surat berharga).
Manajemen keuangan syariah bisa diartikan sebagai manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan dengan bingkai syariah Islam yang berkaitan dengan masalah keuangan perusahaan.
Secara garis besar, fungsi-fungsi perusahaan bisa dikelompokkan ke dalam empat fungsi, yaitu;
(1) fungsi pemasaran, (2) fungsi keuangan; (3) fungsi produksi; (4) fungsi personalia. Keempat fungsi tersebut merupakan fungsi pokok suatu perusahaan. Fungsi-fungsi manajemen bisa dipecah kedalam beberapa hal; perencanaan (planning); pengorganisasian (organizing); staffing;
pelaksanaan; dan pengendalian. Dengan demikian, manajemen keuangan syariah dapat diartikan
5 https://badilag.mahkamahagung.go.id/artikel/publikasi/artikel/konsep-dasar-ekonomi-dan-keuangan-islam-oleh- khoiruddin-hasibuan-lc-m-a-2-7
sebagai kegiatan perencanaan, pengorganisasian, staffing, pelaksanaan, dan pengendalian fungsi- fungsi keuangan yang dituntun oleh prinsip-prinsip syariah.6
Nilai-Nilai Ekonomi dan Keuangan Syariah
Sebagaimana filosofinya, nilai-nilai ekonomi dan keuangan Syariah juga mengandung keselarasan peran dan fungsi manusia. Sebagaimana yang dirumuskan oleh Majelis Ulama Indonesia dan Bank Indonesia (2018), ada empat nilai-nilai ekonomi dan keuangan Syariah, yaitu:
1. Kepemilikan
Segala sesuatu adalah absolut milik Allah, manusia hanya dipercaya untuk mengelolanya.
2. Berusaha dengan Berkeadilan
Mencegah penumpukan harta untuk melakukan perniagaan atau investasi dan dorongan untuk menafkahkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial dan publik.
3. Pertumbuhan yang Seimbang
Pengelolaan harta dengan tetap memerhatikan keseimbangan spiritual dan kelestarian alam.
4. Bekerjasama dalam Kebaikan
Tolong menolong, bahkan dalam kompetisi sekalipun, harus dilakukan untuk dan dalam kebaikan.
Nilai-Nilai Dasar Ekonomi dan Keuangan Syariah
Selaras dengan filosofi dan nilai-nilai, prinsip dasar ekonomi dan keuangan Syariah terdiri dari enam aspek (MUI dan Bank Indonesia, 2018), yaitu:
6 Asy-Syar'iyyah, Vol. 2, No.1, Juni 2017, KONSEP DASAR DALAM SISTEM KEUANGAN SYARIAH, diakses pada tanggal 1 Oktober 2021
1. Pengendalian harta individu agar mengalir menuju investasi.
2. Distribusi pendapatan untuk menjamin inklusifitas seluruh masyarakat.
3. Optimalisasi investasi (jual beli) dan berbagi resiko.
4. Transaksi keuntungan terkait erat sektor riil, melarang spekulasi tidak produktif.
5. Partisipasi sosial untuk kepentingan publik.
6. Transaksi muamalah berdasarkan kerjasama berkeadilan, transparan, tidak membahayakan keselamatan, tidak zalim dan tidak mengandung zat haram.
Dari prinsip tersebut dapat dimengerti bahwa Islam menyelaraskan kegiatan ekonomi dengan nilai-nilai akidah dan etika serta Kegiatan perekonomian dibangun tidak hanya dengan nilai-nilai materialisme, namun juga spiritualitas, sehingga bernilai ibadah.7
C. Prinsip maqashid dalam keuangan Syara'
Secara konseptual, sebagai sebuah sistem, ekonomi Islam merupakan bagian dari tata kehidupan yang lengkap berdasarkan empat bagian nyata dari pengetahuan yaitu; yang diwahyukan (al-Qur’an), tauladan Nabi (sunah), deduksi analogik (qiyas), dan penafsiran masyarakat berdasrakan kesepakatan para ulama (Ijma’). Sehingga, dalam penerapannya, ekonomi Islam tidak bisa terlepas dari keempat hal di atas. Dalam aplikasinya, praktik ekonomi Islam terimplementasi dalam lembaga keuangan dan perbankan berbasis syari’ah yang tidak menjadikan bunga sebagai salah satu aset transaksi, lembaga pengelolaan zakat, dan praktik bisnis Islami. Pun diadakannya kajian ekonomi Islam, baik formal maupun nonformal untuk menghindari simbolisasi syariah semata karena pelaku di dalamnya tidak memahami landasan, filosofi dan aturan yang berlaku.
Pengembangan ekonomi Islam di bidang akademik dapat kita lihat dengan dibukanya program studi khusus di beberapa perguruan tinggi berkenaan dengan ekonomi Islam. Upaya ini tentunya bertujuan untuk menghasilkan tenaga ahli yang diharapkan mampu mengembangkan
7 https://www.kompasiana.com/amp/handikasurbakti/5e9413a7097f36075f06e282/filosofi-
sistem ekonomi Islam di masa mendatang baik secara konseptual maupun penerapannya di dunia kerja.8
Maqasid al-syariah mempunyai peran penting untuk merumuskan dan menafsirkan sesuatu yang mashlahah bagi umat manusia tanpa meninggalkan inti dari ajaran Islam, karena maqasid syariah hendak menghubungkan antara kehendak Allah dengan aspirasi atau keinginan manusia.
Tujuan utama dari ekonomi islam adalah maqashid al-syariahitu sendiri, yaitu tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat (falah) melalui tatanan kehidupan yang baik dan terhormat.
Itulah kesejahteraan hakiki yang untuk sampai padanya harus ada perlindungan terhadap keimanan, ilmu, kehidupan, keturuan, dan harta. Maqashid syariah bila diartikan secara bahasa adalah tujuan syariah.
Tujuan utama dari maqashid syariah adalah merealisasikan kemanfaatan untuk umat manusia (mashâlih al-'ibâd) baik urusan dunia maupun urusan akhirat mereka. Maqashid syariah adalah jantung dalam ilmu ushul fiqh, karena itu maqashid syariah menduduki posisi yang sangat urgen dalam merumuskan ekonomi syariah, menciptakan produk-produk perbankan dan keruangan syariah. Tujuan-tujuan syariah tersebut adalah untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat.
Setiap aktivitas pasti didalamnya mengandung tujuan. Begitupun sebuah syariah. Maqashid syariah bila diartikan secara bahasa adalah tujuan syariah. Tujuan utama dari maqashid syariah adalah merealisasikan kemanfaatan untuk umat manusia (mashâlih al-’ibâd) baik urusan dunia maupun urusan akhirat mereka.
Tujuan ini disepakati para ulama karena pada dasarnya tidak ada satupun ketentuan dalam syarî’ah yang tidak bertujuan untuk melindungi mashlahah. Terlebih syariah sangat mendorong untuk terciptanya maslahah dalam dua dimensi yaitu dimensi dunia dan dimensi akhirat.
Sehingga substansi dari maqashid syariah sendiri adalah maslahah.Salah satu ulama yaitu Imam Asy-Syatibi merumuskan maqashid syariah ke dalam 5 hal inti.
Apa saja 5 hal tersebut?
8 Lely Shofa Imama, Vol. II, No. 2, Desember 2008, Ekonomi Islam: Rasional dan Relevan, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
1) Hifdzun ad-diin (Menjaga Agama) 2) Hifdzun an-nafs (Menjaga Jiwa) 3) Hifdzun Aql (Menjaga Akal) 4) Hifdzun Nasl (Menjaga Keturunan) 5) Hifdzun Maal (Menjaga Harta)
Menjaga Agama
Dalam konteks ini, agama tidak pernah melakukan pemaksaan kehendak. Syari’ah Islam menjaga kebebasan berkeyakinan dan beribadah, tidak boleh ada tekanan dalam beragama sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 256 yang artinya, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”
Menjaga agama dalam maqashid syariah juga bisa dimaknai sebagai upaya untuk
menjaga amalan ibadah seperti shalat, zikir dan sebagainya serta bersikap melawan ketika agama Islam dihina dan dipermalukan.
Menjaga Jiwa
Pernah mendengar sosok Irfan Bahri? Ia adalah sosok santri yang berasal dari Bekasi. Ia viral karena videonya ketika melawan para begal. Sikap yang diambil oleh Irfan Bahri ketika melawan begal adalah sikap yang tepat terutama dalam poin maqashid syariah yaitu menjaga jiwa. Tindakan yang diambil Irfan mencerminkan perwujudan dari menjaga jiwa.
Hal tersebut mengacu pada hadist Nabi SAW yaitu, “Siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia syahid.” Selain itu, menjaga jiwa juga erat kaitannya untuk menjamin atas hak hidup manusia seluruhnya tanpa terkecuali. Hal ini tercantum dalam QS. Al- Maidah ayat 32 yang artinya,
” barangsiapa yang membunuh seorang manusia,bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh
manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya“
Menjaga Akal
Akal adalah sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Inilah salah satu yang menyebabkan manusia menjadi makhluk dengan penciptaan terbaik dibandingkan yang lainnya. Akal akan membantu manusia untuk menentukan mana yang baik dan buruk.
Penghargaan Islam terhadap peran akal terdapat pada orang yang berilmu, yang
mempergunakan akal-nya untuk memikirkan ayat-ayat Allah. Sebagaimana firman Allah, SWT dalam QS. Ali-Imran ayat 190-191 yang artinya,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka)
Menjaga Keturunan
Salah satu poin penting dalam sebuah pernikahan adalah lahirnya generasi penerus yang diharapkan dapat berkontribusi lebih baik. Keturunan menjadi penting, salah satu yang
menvelakai penjagaan keturunan adalah dengan melakukan zina.
Dalam Qur’an, Allah berfirman secara tegas mengenai zina yaitu pada QS. An-Nur ayat 2 yang artinya,
“Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah
(pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.”
Menjaga Harta
Pembahasan perkara harta lebih ke arah interaksi dalam muamalah. Menjaga harta adalah dengan memastikan bahwa harta yang kamu miliki tidak bersumber dari yang haram. Serta memastikan bahwa harta tersebut didapatkan dengan jalan yang diridhai Allah bukan dengan cara bathil sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 188 yang artinya, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” Lebih kurang selain menjaga jiwa, Irfan Bahri juga melakukan pembelaan dalam rangka menjaga harta dari sumber-sumber yang tidak diridhai alias diharamkan dalam Islam.
Hikmah Maqashid Syariah
Hikmah dari adanya maqashid syariah membuat lebih paham tentang tujuan-tujuan dari sistem syariah. Kelima komponen yang telah dijelaskan sebetulnya memberikan gambaran kehidupan secara keseluruhan. Komponen tersebut lengkap dan maqashid syariah menjadi panduan untuk mengarahkan rangkaian kehidupan ke arah yang lebih maslahah.
Kaidah di atas merupakan kaidah umum yang mencakup seluruh satuan-satuan aktivitas ekonomi, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dari al-Quran dan hadis Nabi.
Prinsip-prinsip dimaksud, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Prinsip Tauhid Ayat-ayat al-Quran yang terkait dengan prinsip tauhid dalam menjalankan kegiatan ekonomi antara lain adalah surat al-Ikhlash yang artinya:
“Katakanlah (Muhammad); Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Q. S. Al-Ikhlas (112): 1-4)
b. Prinsip Amanah Amanah merupakan lawan kata dari khianat. Amanah berasal dari bahasa Arab, amuna, ya’munu, amanah, artinya dipercaya, jujur, lurus, setia. Dari akar kata yang sama terbetuk kata amina, ya’manu, amnan, artinya aman, sentosa.
c. c. Prinsip Kebolehan Kaidah dalam persoalan ibadah mahz}ah sangat berbeda dengan kaidah muamalah (ibadah ‘Ammah). Dalam persoalan ibadah mahdzah berlaku larangan melakukan sesuatu jika tidak ada landasannya dalam al-Quran atau hadis. Sebab suat ibadah harus dilakukan berdasarkan tuntunan al-Quran atau hadis. Kaidah dalam persoalan ibadah adalah: “al-Ashlu fi al-Ibadah al-Tawaqquf wa al-Ittiba’,” (Prinsip dasar dalam ibadah adalah menunggu dalil dan mengikutinya).
d. Prinsip Kerelaan Prinsip kerelaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem Ekonomi Islam. al-Quran sendiri ketika berbicara tentang jual beli menyebutkan kerelaan sebagai syarat dalam melakukan aktivitas ekonomi. Firman Allah swt. dalam surah anNisa’ ayat 29 yang artinya; “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu secara batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu.” (Q. S. An-Nisa’ (4): 29
e. Prinsip Mashlahat Secara sederhana, mashlahat bisa diartikan dengan mengambil manfaat dan menolak kemadaratan14 atau sesuatu yang mendatangkan kebaikan, keselamatan, faedah atau guna.
f. Prinsip Keadilan Di antara pesan-pesan al-Quran (sebagai sumber hukum Islam) adalah penegakan keadilan. Kata adil berasal dari kata Arab ‘Adl yang secara harfiyah bermakna sama. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, adil berarti sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak, berpihak kepada yang benar dan sepatutnya.21 Dengan demikian, seseorang disebut berlaku adil apabila ia tidak berat sebelah dalam menilai sesuatu, tidak berpihak kepada salah satu, kecuali keberpihakannya kepada siapa saja yang benar sehingga ia tidak akan berlaku sewenag-wenang.9
D . Prinsip hukum dan moral Islam dalam aktivitas ekonomi dan keuangan Islam
Ketidakpercayaan terhadap sistem ekonomi (konvensional) yang telah mapan terbangun berujung pada lahirnya gagasan dan pemikiran baru yang secara serius oleh para ekonom muslim, seperti M. Umar Chapra, Khursid Ahmad, Muhammad Najetullah Shiddiqi, dan yang
9https://qazwa.id/blog/maqashid-syariah
lainnya. Keseriusan tersebut terlihat dari konsistensinya dalam memperjuangkan untuk bisa keluar dari kondisi tersebut dengan mengajukan gagasan-gagasan ekonomi alternatif yang berbasis ajaran Islam. Dalam hal ini, ajaran Islam menjadi kerangka dasarnya, yang selanjutnya direalisasikan dalam institusi ekonomi praktis, yakni sistem ekonomi Islam atau sistem ekonomi syariah. Hadirnya institusi ekonomi berbasis syariah menjadi angin segar sekaligus memberikan harapan baru sebagai sebuah bangunan sistem ekonomi yang mampu bertahan terhadap krisis ekonomi (Didin, 2003).10 Sistem keuangan syariah merupakan bagian dari upaya memelihara harta agar harta yang dimiliki seseorang diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan syariah. Dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 29, Allah SWT berfirman yang artinya :
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu dan janganlah membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.
Harta yang dimiliki oleh setiap orang merupakan titipan dari Allah SWT yang akan dimintai setiap pertanggungjawabannya. Adanya aturan ketentuan syariah bertujuan agar tercapai kemaslahatan bagi setiap orang. Akan tetapi. Allah SWT memberikan kebebasan kepada setiap hamba-Nya untuk menentukan pilihannya dan harus menerima konsekuensi dari setiap pilihannya tersebut.
Praktik sistem keuangan syariah telah dilakukan sejak kejayaan Islam. Akan tetapi, dikarenakan semakin melemahnya sistem kekhalifahan maka praktik sistem keuangan syariah tersebut digantikan oleh sistem perbankan barat. Sistem tersebut mendapat kritikan dari para ahli fiqh bahwa sistem tersebut menyalahi aturan syariah mengenai riba dan berujung pada keruntuhan kekhalifan Islam. Pada tahun 1970-an, konsep sistem keuangan syariah dimulai dengan pengembangan konsep ekonomi Islam. Berdasarkan Al-Qur’an dan As-sunnah, prinsip sistem keuangan Islam adalah sebagai berikut:
Larangan Riba
Riba didefinisikan sebagai “kelebihan” atas sesuatu akibat penjualan atau pinjaman. Riba merupakan pelanggaran atas sistem keadilan sosial, persamaan, dan hak
10 Yuliyani, Iqtishadia, Vol 8, No. 1, Maret 2015,KONSEP DAN PERAN STRATEGIS EKONOMI SYARIAH TERHADAP ISU KEMISKINAN, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021.
atas barang. Sistem riba hanya menguntungkan para pemberi pinjaman dengan membebani penetapan keuntungan yang diperoleh pemberi pinjaman di awal perjanjian.
Padahal “untung” dapat diketahui setelah berlalunya waktu bukan hasil penetapan di muka.
Pembagian Risiko
Risiko merupakan konsekuensi dari adanya larangan riba dalam suatu sistem kerja sama antara pihak yang terlibat. Risiko yang timbul dari aktivitas keuangan tidak hanya ditanggung oleh penerima modal tetapi juga pemberi modal. Pihak yang terlibat tersebut harus saling berbagi risiko sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati.
Uang sebagai Modal Potensial
Dalam Islam, uang tidak diperbolehkan apabila dianggap sebagai komoditas yaitu uang dipandang memiliki kedudukan yang sama dengan barang yang dijadikan sebagai objek transaksi untuk memperoleh keuntungan. Sistem keuangan Islam memandang uang boleh dianggap sebagai modal yaitu uang bersifat produktif, dapat menghasilkan barang atau jasa bersamaan dengan sumber daya yang lain untuk memperoleh keuntungan.
Larangan Spekulatif
Hal ini selaras dengan larangan transaksi yang memiliki tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi, misalnya seperti judi.
Kontrak/Perjanjian
Dengan adanya perjanjian yang disepakati di awal oleh pihka-pihak yang terlibat dapat mengurangi risiko atas informasi yang asimetri atau timbulnya moral hazard.
Aktivitas Usaha harus Sesuai Syariah
Usaha yang dilakukan merupakan kegiatan yang diperbolehkan menurut syariah, seperti tidak melakukan jual-beli minuman keras atau mendirikan usaha peternakan babi.
Oleh karena itu, prinsip sistem keuangan syariah berdasarkan prinsip sebagai berikut : a) Rela sama rela (antaraddim minkum).
b) Tidak ada pihak yang menzalimi dan dizalimi (la tazhlimuna wa la tuzhlamun).
c) Hasil usaha muncul bersama biaya (al-kharaj bi al dhaman).
d) Untung muncul bersama risiko (al ghunmu bi al ghurmi).
Darang instrumen-instrumen keuangan syariah terkait dengan kegiatan investasi maupun jual-beli sesuai dengan ketentuan syariah. Hal ini membantu pelaku ekonomi dalam memahami berbagai produk keuangan syariah dan ketentuan-ketentuan syariah dari setiap produk keuangan tersebut. 11
E. Implikasi hokum dan moral islam dalam aktivitas ekonomi dan keuangan
Prinsip hukum Islam, yang berdasarkan pada sejumlah surah dalam al-qur’an, menyatakan bahwa perbuatan memperkaya diri dengan cara yang tidak benar, atau menerima keuntungan tanpa memberikan nilai imbalan, secara etika dilarang. Menurut Schacht riba hanyalah sebuah kasus khusus dari perbuatan memperkaya diri secara tidak benar atau menurut al qur’an memakan (yaitu mengambil untuk kepentingan diri sendiri) milik orang lain dengan alasan yang tidak dibenarkan dan dilarang. Riba secara formal didefenisikan sebagai suatu keuntungan moneter tanpa ada nilai imbalan yang ditetapkan untuk salah satu dari dua pihak yang mengatakan kontrak dalam pertukaran dua nilai moneter.12
Secara lebih sederhana dan konkret, lahirnya paradigma manajemen keuangan Islam tidak terlepas dari faktor berkembangnya wacana ekonomi Islam modern yang sejak tiga dekade terakhir ini semakin marak. Nama-nama seperti M. Nejatullah Siddiqi, Umer Capra, M. Mannan, Ahmad Khan adalah nama yang tidak asing lagi dalam wacana ekonomi Islam.
Jauh sebelum mereka, nama-nama seperti Abu Yusuf (731-798), Yahya Ibnu Adam (m.
818), El-Hariri (1054-1122), Tusi (1210-1274), Ibnu Taimiyah (1262-1328), Ibnu Khaldun (1332-1406), Shah Waliullah (1702-1763), Abu dzar Ghifari (m. 654), Ibnu Hazm (m. 1064), al- Ghazali (1059-1111), Farabi (m.950), dan lain-lain juga telah memberikan kontribusi yang besar
11 Dendy Herdianto- maqashid syariah, November 24, konsep-dan-terminologi-lembaga-keuangan-syariah
12 Rahmat Ilyas, Vol. 2, No.1, Juni 2017, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
bagi berkembangnya wacana ekonomi Islam. Wacana ini semakin kongkret ketika sebagian dari sistemnya, yaitu yaitu sistem perbankan syariah dipraktekkan.
Lahirnya manajemen keuangan Islam sangat terkait dengan kondisi objektif yang melingkupi umat Islam secara khusus dan masyarakat dunia secara umum. Di antara kondisi tersebut ialahnorma agama. Semenjak pertama kali datang agama Islam telah memberikan persuasi normatif bagi pemeluknya agar melakukan pencatatan atas segala transaksi dengan benar dan adil.13
Reinterpretasi Hukum Islam Ungkapan Islam Sholih Likulli makan wazaman ( relevan dengan situasi dan kondisi / tempat dan waktu ) bukan sekedar lipstik atau kamuplase belaka begitu saja, tetapi memang betul-betul rasional dan riil karena Islam yang merupakan agama samawi tidak lepas dari dogmatisasi Ilahi, yang lebih konkret dimanisfestasikan dengan atuaran- aturan formal yaitu Alquran yang berisi semua pointer-pointer kehidupan secara universal yang memang membutuhkan multitafsir baik secara tekstual maupun secara kontekstual. Menurut Islam, sumber wewenang yang tertinggi hanyalah Allah semata.
Dalam cita hukum Islam semua orang kecuali Allah, termasuk Rasulullah dan para penguasa yang memerintah, adalah tunduk pada hukum Allah yang berasal dari wahyu samawi.
Hukum Islam lepas dari keragaman "sumber"-Nya, berasal dari Allah dan bertujuan untuk menemukan dan merumuskan kehendak-Nya. Kehendak Allah bukanlah suatu sistem yang statis dan telah ditentukan untuk berlaku selamanya tanpa mengalami perubahan, ia lebih merupakan sesuatu yang meliputi seluruh lapangan kehidupan manusia, dan terungkap secara progresif.
Pada prinsipnya Allah menurunkan hukum itu guna mnenciptakan kemaslahatan hidup bagi umat manusia Karena Islam memberikan tuntunan dalam semua lapangan kehidupan, maka fiqih yakni hukum Islam sebagaimana berkembang dari sejak awal, meliputi, dengan perhatian khusus, segi moral, relegius, sosial, ekonomi dan politik dalam kehidupan manusia. Itu sebabnya mengapa seorang manusia yang bertindak menurut hukum Islam, dalam segala macam situasi dan kegiatan, dianggap memenuhi kehendak Allah, jadi hukum Islam adalah perwujudan dari kehendak Allah.
13 M Luqman Hakim, Volume 1 Nomor 2 Maret – Agustus 2018, KONSEP DAN APLIKASI MANAJEMEN KEUANGAN ISLAM, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
Al-quran tidak mesti ditafsirkan secara tekstual saja, tetapi justru Al-quran harus lebih ditafsirkan secara kontekstual supaya lebih mengena terhadap realitas masyarakat, sehingga Islam Sholihul Makan Wazaman dapat termanisfestasikan.0TP7F 6 P0T PSecara jelas hari ini hukum Islam harus lebih ditekankan pada substansinya agar lebih berorientasi terhadap problem masyarakat. Berlaku bagi semua sumber hukum Islam yang empat ( diakui jumhur Ulama ) yaitu : Al-quran, al-Hadits, Ijma, Qiyas. Relevan dengan firman Allah yang termaktub dalam sabda Langitnya surat Annisa’ ayat 59:
"Wahai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah (Al-quran ), taatlah kepada Rosul (Al- hadits ), serta Ulil Amri ( ijma ), dan apabila kamu berbeda pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rosulnya (Qiyas)."
F. Implementasi system keuangan islam
Tantangan utama pengembangan sistem keuangan risk-sharing adalah ketidakseimbangan keuangan secara fiskal, moneter, dan faktor eksternal yang mempengaruhinya. Fenomena ini sering dialami negara-negara Islam sehingga sulit mengimplementasikan sistem keuangan Islam.
Padahal kebutuhan utama sistem keuangan Islam atau risk-sharing terletak pada kebijakan struktural atas sistem fiskal dan moneter. Sistem fiskal memegang peran penting dalam institusi negara Islam karena berkaitan dengan kebijakan pemerintah untuk mengatur sistem pajak (pendapatan negara) dan belanja pemerintah (government expenditure).
Sistem keuangan Islam bertujuan untuk memberikan jasa keuangan yang halal kepada komunitas muslim, di samping itu juga diharapkan mampu memberikan kontribusi yang layak bagi tercapainya tujuan sosio-ekonomi Islam. Target utamanya adalah kesejahteraan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, keadilan sosio-ekonomi dan distribusi pendapatan, kekayaan yang wajar, stabilitas nilai uang, dan mobilisasi serta investasi tabungan untuk pembangunan ekonomi yang mampu memberikan jaminan keuntungan (bagi hasil) kepada semua pihak yang terlibat (M. Umer Chapra, 2000).
Sistem keuangan Islam diharapkan mampu menjadi alternatif terbaik dalam mencapai kesejahteraan masyarakat. Penghapusan prinsip bunga dalam sistem keuangan Islam memiliki
dampak makro yang cukup signifikan, karena bukan hanya prinsip investasi langsung saja yang harus bebas dari bunga, namun prinsip investasi tak langsung juga harus bebas dari bunga.
Perbankan sebagai lembaga keuangan utama dalam sistem keuangan dewasa ini tidak hanya berperan sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediary), namun juga sebagai industri penyedia jasa keuangan (financial industry) dan instrumen kebijakan moneter yang utama (Heri Sudarsono, 2003).14
Kebijakan fiskal akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengantisipasi distorsi pertumbuhannya. Salah satu solusi Islam dalam kebijakan fiskal adalah membedakan antara pendapatan reguler dan pendapatan aksidental. Pendapatan reguler diperoleh dari zakat, sementara pendapatan aksidental dari pajak. Selain pendapatan negara, Islam juga mengatur pembelanjaan pemerintah dengan menerapkan prinsip efektif-efisien demi kemaslahatan umum dan asas manfaat yang maksimal.
Dengan demikian, titik keseimbangan sistem fiskal terdapat pada pilihan berbagai instrumen kebijakan pajak dan zakat serta pola pembelanjaan negara. Adapun sistem moneter Islam menerapkan variabel cadangan uang bukan suku bunga. Bank sentral mengimplementasikan kebijakan moneter dengan tujuan menghasilkan pertumbuhan sirkulasi uang untuk mencukupi pembiayaan pertumbuhan ekonomi potensial dalam output periode menengah panjang, stabilitas harga, dan tujuan sosial ekonomi lainnya. Dalam perspektif pelaku usaha, karena tidak ada aset berbasis bunga maka ia dihadapkan pada pilihan berinvestasi dengan profit-sharing dengan risiko tertentu atau mendiamkan uangnya menjadi tidak produktif. Jika pilihan kedua maka nilai uangnya akan dikurangi zakat. Di samping itu akan tersedia berbagai peluang bisnis dengan tingkat risiko berbeda. Investor akan memilih peluang investasi sesuai perkiraan laju keuntungan yang diharapkan. Titik keseimbangan sistem moneter terletak pada eliminasi bunga (zerointerest) sehingga tingkat keuntungan berdasarkan kegiatan investasi dan pembiayaan sektor riil yang dilakukan perbankan. Dengan demikian, sistem moneter Islammengaitkan sektor finansial dan sektor riil di mana investasi dan produktivitas sektor riil berpengaruh pada return sektorfinansial.
14 Muh. Arafah, M.E, Al-Kharaj: Journal of Islamic Economic and Business Vol. 1 No. 1, Juni 2019, SISTEM KEUANGAN ISLAM: SEBUAH TELAAH TEORITIS, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
Perkembangan keuangan syariah dunia hari ini telah bertumbuh pesat. Hal itu terlihat dari total aset keuangan syariah di dunia sebesar 137 miliar dollar AS pada 1996 dan telah mencapai 1,8 triliun dolar AS pada 2013 atau sekitar 13 kali lipat dalam kurun waktu 17 tahun. "Di beberapa negara besar, pangsa pasar keuangan syariahnya telah mencapai di atas 20 persen. Di Indonesia, total aset keuangan syariah mencapai sekitar Rp 524 triliun serta pangsa pasar syariahnya masih di bawah 10 persen. Ini merupakan kesempatan bagi kita.
Lembaga Keuangan Syariah (LKS) saat ini telah ada dan berkembang dengan cukup pesat. Telah banyak varian dari LKS diseluruh Indonesia dan termasuk pula adalah Bank Syariah. LKS merupakan lembaga keuangan yang beroperasional dan berjalan dengan prinsip syariah Islam.
Prinsip syariah Islam ini berbeda dari perbankan atau lembaga keuangan konvensional.
LKS sebagai lembaga keuangan dengan prinsip syariah awalnya hadir sebagai pilihan sekaligus solusi untuk muslim yang ingin terhindar dari praktek bank atau lembaga keuangan konvensional yang menggunakan system ribawi namun akhirnya juga dapat menjadi pilihan bagi selain umat muslim.
Penyelenggaraan LKS berarti wajib bertanggung jawab secara syariah untuk menjaga tidak hanya agar praktek dalam LKS itu bebas riba saja tapi juga harus bebas dari unsur unsure maysir/ judi dan Ghoror/spekulasi/judi. Islam memerintahkan untuk menjauhi hal hal tersebut karena hal tersebut dianggap sebagai berbuat zhalim atau kerusakan Penyelenggara LKS dituntut memiliki tidak hanya visi bisnis an sich yang bertujuan mengeruk laba yang setinggi tingginya dengan mengesampingkan syariah namun juga harus memiliki visi syariah. Proses agar LKS tentap berada dalam prinsip prinsip syariah ketika beroperasional menjadi tanggung jawab bersama antara lain pengelola LKS dan institusi negara yang ditunjuk untuk melakukan proses dan prosedur agar LKS tetap dalam koridor yang seharusnya dan tidak melakukan hilah/trik hanya sekedar kamuflase berkedok syariah dalam parktek dan operasionalnya.15
G. Infrastruktur sistem keuangan Islam
Untuk memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap ekonomi, sistem keuangan Islam perlu memiliki porsi yang lebih signifikan terhadap total asset keuangan, yakni setidaknya
15 Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2015. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat.
20 persen. Oleh karena itu, pemerintah, bank sentral, dan agen-agen ekonomi yang peduli pada sistem keuangan Islam perlu bekerja lebih keras. Terkait dengan itu, setidaknya ada lima langkah dalam mempercepat perkembangan sistem keuangan syariah, baik secara nasional maupun internasional.
Pertama, perlunya memperkuat sistem pengaturan dan pengawasan lembaga keuangan Islam. Tingkat pertumbuhan keuangan Islam sangatlah beragam di berbagai negara. Tingkat perkembangan ini memiliki korelasi yang positif terhadap tingkat pengaturan dan pengawasan.
Sistem keuangan yang kurang baik di berbagai negara terkadang disebabkan tidak layaknya peraturan dan pengawasan yang ada, sehingga diperlukan kolaborasi dalam mengisi kesenjangan pengaturan yang ada.
Kedua, perlunya koordinasi dan kerjasama internasional. Berdasarkan kodratnya, sistem keuangan Islam lebih tahan dan lebih stabil dari guncangan keuangan. Namun demikian, pada kenyataannya, harus disadari bahwa operasional dari sistem keuangan Islam tidaklah terisolasi dari sistem keuangan konvensional. Dalam situasi demikian, diperlukan kerja sama dan koordinasi internasional. Saat ini, sudah terdapat beberapa lembaga internasional, seperti internasional Financial Services Board (IFSB) di Malaysia, International Islamic Financial Markets (IIFM), dan Accounting & Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI) di Bahrain. Peran dari institusi-institusi tersebut sebaiknya diperkuat dan ditingkatkan.
Ketiga, perlunya kolaborasi di tingkat pengawasan sistem keuangan Islam lintas negara.
Saat ini, telah terlihat banyak lembaga keuangan Islam yang beroperasi secara global, namun memiliki kekurangan kolaborasi di dalam pengawasan lintas negara. Hampir seluruh kolaborasi pada sistem keuangan Islam fokus terhadap standar regulasi dan manajemen likuiditas.
Keempat, perlunya model bisnis sistem keuangan Islam khususnya di perbankan syariah, dengan memberikan penekanan pada bisnis di sektor rill ketimbang pasar keuangan. Selain lebih mempromosikan pertumbuhan yang berkesinambungan. Model seperti ini lebih mampu menahan tekanan krisis keuangan. Perkembangan keuangan ekonomi Islam di Indonesia sampai saat ini masih sejalan dengan model bisnis. Hal ini disebabkan adanya perkembangan produk sistem keuangan Islam yang didorong oleh pasar dalam memenuhi permintaan di sektor riil. Namun
demikian, strategi ini bukan berarti melupakan upaya perkembangan produk-produk keuangan Islam di Indonesia yang terhitung masih agak tertinggal.
Kelima, perlunya penetapan acuan rate of return berdasarkan prinsip Islam yang sesungguhnya. Prinsip berbagi keuntungan dan kerugian merupakan semangat terciptanya sistem keuangan Islam. Namun demikian, sampat saat ini, lembaga keuangan Islam sepertinya cenderung mengacu pada rate of return sistem perbankan konvensional, yakni suku bunga.
Perilaku seperti ini membawa risiko bagi reputasi lembaga keuangan Islam itu sendiri16
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Keuangan Islam adalah sebuah sistem yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah, serta dari penafsiran para ulama terhadap sumber-sumber wahyu tersebut. Dalam berbagai bentuknya, struktur keuangan Islam telah menjadi sebuah peradaban yang tidak berubah selama empat belas abad. Tujuan utama sistem keuangan Islam adalah: menghapus bunga dari semua transaksi keuangan dan menjalankan aktifitasnya sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, distribusi kekayaan yang adil dan merata, kemajuan pembangunan ekonomi. Sebagai bagian instrumen pengembang aktivitas di bidang ekonomi, beragam tantangan dihadapi sistem keuangan Islam, seperti pada
16 Jurnal Implementasi Prinsip Islam dalam Aktivitas Ekonomi: Alternatif Mewujudkan Keseimbangan Hidup Mursal dan Suhad, Februari 2015
aspek teoritis, operasional dan implementasi, Sistem risk-sharing telah lama hilang dari khazanah sistem keuangan modern. Salah satu penyebabnya adalah sistem perbankan modern melakukan intermediasi untuk menyediakan uang bagi pelaku usaha dengan tingkat bunga sesuai kontrak.
Tantangan utama pengembangan sistem keuangan risk-sharing adalah ketidakseimbangan keuangan secara fiskal, moneter, dan faktor eksternal yang mempengaruhinya. Sehingga Untuk memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap ekonomi, sistem keuangan Islam perlu memiliki porsi yang lebih signifikan terhadap total asset keuangan, yakni setidaknya 20 persen.
Oleh karena itu, pemerintah, bank sentral, dan agen-agen ekonomi yang peduli pada sistem keuangan Islam perlu bekerja lebih keras.
B. Saran
Singkatnya pemaparan materi ini, yang tentu tidak menutup kita hanya untuk mengetahuinya dari tulisan yang sangat singkat ini. Banyak hal lain yang juga sangat penting untuk mengupayakan perjuangan kita bisa berbangga atas perjuangan perjuangan kita yang melewati onak duri dan jalan yang berliku namun berakhir dengan kejayaan. Semoga Allah memberikan balasan yang terbaik kepada para pelaku ekonomi dan para ahli ekonomi, serta pejabat dan pemerintah yang berperan penting juga dalam kegiatan. Dan pada akhirnya mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan dari ini. Wallahu A’lam bish Shawab.
Daftar pustaka
A. Kumedi Ja'far Jurnal, Peranan Hukum Islam Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia Asy-Syar’iyyah, Vol. 2, No.1, Juni 2017, KONSEP DASAR DALAM SISTEM KEUANGAN SYARIAH, diakses pada tanggal 1 Oktober 2021
Dendy Herdianto- maqashid syariah, November 24, konsep-dan-terminologi-lembaga- keuangan-syariah
https://pkebs.feb.ugm.ac.id/2018/07/02/prinsip-sistem-keuangan-syariah
https://www.kompasiana.com/amp/handikasurbakti/5e9413a7097f36075f06e282/filosofi- https://badilag.mahkamahagung.go.id/artikel/publikasi/artikel/konsep-dasar-ekonomi-dan- keuangan-islam-oleh-khoiruddin-hasibuan-lc-m-a-2-7
https://qazwa.id/blog/maqashid-syariah
http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/mua/issue/view/375
Jamaludin Jamaludin, Vol 12 No 1 (2020): Januari-Juni 2020, Konsep Dasar Ekonomi Menurut Syariat Islam, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
Lely Shofa Imama, Vol. II, No. 2, Desember 2008, Ekonomi Islam: Rasional dan Relevan, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
Muh. Arafah, M.E, Al-Kharaj: Journal of Islamic Economic and Business Vol. 1 No. 1, Juni 2019, SISTEM KEUANGAN ISLAM: SEBUAH TELAAH TEORITIS, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
M Luqman Hakim, Volume 1 Nomor 2 Maret – Agustus 2018, KONSEP DAN APLIKASI MANAJEMEN KEUANGAN ISLAM, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2015. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta : Salemba Empat.
Jurnal Implementasi Prinsip Islam dalam Aktivitas Ekonomi: Alternatif Mewujudkan Keseimbangan Hidup Mursal dan Suhad, Februari 2015
Rahmat Ilyas, Vol. 2, No.1, Juni 2017, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021
Samsul, S., Hamid, N. M., & Nasution, H. G. (2019). Sistem Pengendalian Inflasi dalam Sistem Ekonomi Islam. Al-Azhar Journal of Islamic Economics, 1(1), 16-28.
Yuliyani, Iqtishadia, Vol 8, No. 1, Maret 2015,KONSEP DAN PERAN STRATEGIS EKONOMI SYARIAH TERHADAP ISU KEMISKINAN, diakses pada tanggal 2 Oktober 2021.