• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI DAN KONSEP PEMBENTUKAN PERUNDANGUNDANGAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TEORI DAN KONSEP PEMBENTUKAN PERUNDANGUNDANGAN DI INDONESIA"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

Saat ini pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia melalui tahapan yang cukup kaku yaitu perencanaan, persiapan, pembahasan, pengesahan atau pengesahan, dan pengesahan. Penelitian sejawat ini akan membahas keprihatinan tentang pembuatan undang-undang yang baik (tahun pertama), praktik terbaik dan perbandingan pembuatan undang-undang dan evaluasi (tahun kedua), dan implikasi penerapan praktik terbaik dalam sistem pembuatan undang-undang. dan regulasi di Indonesia (tahun ketiga).

PROLOG

Berdasarkan asas negara hukum yaitu bahwa pemerintahan diselenggarakan atas dasar undang-undang, dalam menjalankan pemerintahan harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang menjadi pedoman penyelenggaraan negara berdasarkan kehendak. dari orang-orang. Sedangkan Executive Review adalah peninjauan atau peninjauan kembali terhadap suatu peraturan perundang-undangan yang dilakukan oleh pemerintah.

TEORI PEMISAHAN KEKUASAN

Dalam hal pemisahan kekuasaan, pembagian kekuasaan dilakukan sedemikian rupa, sehingga satu atau beberapa lembaga pemegang kekuasaan tidak saling mengganggu wewenang, sedangkan pembagian kekuasaan, sekalipun asas pembagian kekuasaan telah dilaksanakan, apakah masih ada kemungkinan – kemungkinan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar negara yang bersangkutan 27. Pemisahan kekuasaan dalam sistem demokrasi dan ketatanegaraan yang telah diciptakan sedapat mungkin telah menciptakan sistem check and balances , baik antar lembaga negara dalam hal ini yaitu antara lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif maupun yang terjadi dalam satu lembaga.

TEORI PERWAKILAN

Dalam hal pemisahan kekuasaan, pembagian kekuasaan dilakukan sedemikian rupa, sehingga satu atau beberapa lembaga pemegang kekuasaan tidak saling mengganggu wewenang, sedangkan pembagian kekuasaan, sekalipun asas pembagian kekuasaan telah dilaksanakan, apakah masih ada kemungkinan – kemungkinan yang diberikan oleh UUD negara yang bersangkutan.48. Montesqueue, karena pemisahan kekuasaan yang tegas justru akan menimbulkan arogansi sektoral masing-masing lembaga, yang dapat menghambat operasionalisasi fungsi negara.

TEORI PERUNDANG- UNDANGAN

Yang dimaksud dengan “asas keadilan” adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara. Yang dimaksud dengan “asas ketertiban dan keamanan hukum” adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus dapat menciptakan ketertiban masyarakat dengan jaminan kepastian hukum.

TINJAUAN UMUM PERATURAN

Hadjon pembentukan peraturan perundang-undangan harus dilakukan atas dasar asas-asas pembentuk peraturan perundang-undangan yang baik (algemene principle van gegende regealing)96. Disebutkan bahwa perencanaan dapat dilakukan dalam rancangan peraturan perundang-undangan, sehingga reformasi hukum juga dapat direncanakan.

SEJARAH PERKEMBANGAN PERATURAN PERUNDANG-

Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana tercantum dalam ayat 3 Pasal 1 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sejak UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, UUD Negara Republik Indonesia telah lahir perjalanan jauh.

Jenis peraturan perundang-undangan di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang tertuang dalam Pasal 7 dan 8 undang-undang tersebut.

HARMONISASI DAN SINGKRONISASI

UNDANGAN DI INDONESIA

Harmonisasi Pembulatan dan Pemantapan Perancangan Undang-Undang (Pemerintah)

12 Tahun 2011 tentang Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan dan Peraturan Lainnya diatur bahwa dalam Pasal 47 ayat 3 “Koordinasi, Pemersatuan dan Pemantapan Rancangan Undang-Undang yang dikeluarkan oleh Presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum". 143 Suhartono, Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan dalam Pelaksanaan APBN (Solusi Pencairan APBN yang Efektif, Efektif dan Akuntabel), Skripsi Magister, Jakarta: Universitas Indonesia, 2011, hal. Unit eselon II pada Direktorat Jenderal Perundang-undangan yang menyelenggarakan tugas koordinasi, penyatuan, dan pemantapan rancangan peraturan perundang-undangan adalah Direktorat Koordinasi Peraturan Perundang-undangan I dan II145.

Penyusunan undang-undang berdasarkan Program Legislatif Nasional, keikutsertaan wakil-wakil Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam setiap panitia antarkementerian, dimaksudkan untuk menyelaraskan rancangan undang-undang dan teknik penyusunan peraturan hukum.

Harmonisasi, Pembulatan dan Pemantapan Perancangan Undang-Undang (Inisiatif DPR)

Pengaitan Pasal 118 sebagai landasan acuan bagi DPR untuk melakukan tata cara harmonisasi, penyatuan, dan pemantapan konsep rancangan undang-undang yang meliputi aspek teknis, substansi, dan asas pembentukan peraturan perundang-undangan. Hal ini juga disebabkan letak atau letak harmonisasi pembentukan peraturan perundang-undangan berdasarkan undang-undang nomor 12. Tahapan harmonisasi, penyatuan dan pemantapan persepsi rancangan peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari evaluasi dan analisis suatu peraturan yang akan dikeluarkan yang memberikan kontribusi untuk konsepsi hukum baru dengan konstitusi.

150 https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/harmonisasi-peraturan-perundang-undang-sering-kurang-optimal.

KRITERIA PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

UNDANGAN YANG BAIK

Kriteria Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Ditinjau dari Aspek Landasan dan Dimensi Ideal

Selanjutnya ayat (2) menyatakan: “Setiap rancangan undang-undang dipertimbangkan oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama”. Dengan demikian, lembaga yang berwenang membentuk undang-undang adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Presiden secara bersama-sama. Undang-undang dibentuk menurut prosedur atau mekanisme yang secara tepat ditentukan dalam peraturan ini.

Kedua ketentuan tersebut mengatur hubungan kewenangan antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Presiden dalam pembentukan undang-undang.

Kriteria Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan Ditinjau dari Aspek Materil dan Formil

Kerana jika sesuatu undang-undang hanya berdasarkan asas undang-undang yang murni, maka undang-undang itu akan menjadi undang-undang yang mati. Manakala jika sesuatu undang-undang hanya berdasarkan asas sosiologi, maka apabila undang-undang itu mengalami penyimpangan atau pelanggaran, ia akan menjadi sukar untuk dilaksanakan. Manakala jika sesuatu undang-undang hanya berdasarkan falsafah, maka undang-undang itu hanya akan wujud sehingga ius constituendum.

Pada prinsipnya isi undang-undang harus memperhatikan asas-asas umum pembentukan peraturan hukum, antara lain:

Asas Keadilan (Rechtgerechtigheids)

Hal ini karena substansi hukum bersifat universal, sehingga hukum yang baik harus dapat memenuhi kepentingan seluruh elemen masyarakat. Sedangkan kepentingan proporsional melekat pada perolehan hak bagi subjek hukum menurut apa yang seharusnya menurut undang-undang. Merujuk pada teori keadilan yang dikemukakan oleh Aristoteles, muatan materiil hukum yang baik harus memenuhi rasa keadilan komutatif yang mensyaratkan persamaan dan juga memenuhi rasa keadilan distributif yang mensyaratkan pemenuhan hak secara proporsional sesuai dengan apa yang menjadi haknya. menurut hukum. .

Dengan kata lain, asas keadilan didukung oleh asas persamaan dan proporsionalitas sekaligus.

Asas Kepastian Hukum (Rechtzekerheids)

Sifat tetap inilah yang menimbulkan keyakinan dan rasa perlindungan terhadap hak-hak subjek hukum dalam suatu undang-undang. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka materi muatan hukum yang baik tidak boleh rancu dan mengandung multi makna atau multitafsir terhadap rumusan norma hukum, yang memungkinkan adanya interpretasi yang dapat merugikan kepentingan subyek hukum tertentu. Selanjutnya agar suatu undang-undang dapat memberikan jaminan kepastian hukum, maka tidak boleh memuat aturan yang tumpang tindih atau bertentangan, apalagi dengan ketentuan hukum yang lebih tinggi.

Dengan demikian jelas bahwa asas kepastian hukum hanya dapat diwujudkan jika asas kepercayaan, asas kebendaan dan asas lex superiore derogat lex inferiore ditegakkan.

Asas Tidak Berlaku Surut (Nonretroactive) Asas tidak berlaku surut atau disebut juga

Kriteria undang-undang yang baik tidak boleh mengabaikan prinsip larangan berulang. Prinsip bukan retroaktif ini konsisten dengan prinsip kesahihan, yang menghendaki sesuatu undang-undang itu terpakai dan mengikat hanya kepada peristiwa undang-undang yang berlaku selepas undang-undang itu diterbitkan. Dalam erti kata lain, undang-undang mesti wujud terlebih dahulu dan terpakai atau mendahului peristiwa undang-undang.

Bahkan ada yang menyamakan asas legalitas dengan asas larangan berlaku surut, mungkin karena persamaannya, yaitu sama-sama memberikan kepastian hukum.

Asas Aturan yang Tinggi Mengenyampingkan Aturan yang Lebih Rendah (Lex Superiore

Selain ditentukan oleh sifat abstrak atau konkrit suatu norma, hierarki atau derajat norma hukum juga ditentukan oleh hierarki lembaga atau pejabat yang menyusunnya. Artinya, semakin tinggi kedudukan lembaga atau pejabat yang membentuk suatu peraturan, maka semakin tinggi hierarki atau derajat suatu norma hukum. Berpedoman pada hirarki peraturan perundang-undangan tersebut di atas, maka berdasarkan teori stufenbau, undang-undang tidak boleh bertentangan dengan UUD dan keputusan MPR, karena merupakan norma.

Asas Aturan yang Baru Mengenyampingkan Aturan yang Lama (Lex Posteriore Derogat Lex

Masalahnya, status hukum yang setara tidak bisa diuji satu sama lain. Pengujian norma hukum dalam undang-undang hanya dapat dilakukan terhadap konstitusi atau undang-undang dasar, bukan antar undang-undang. Hal ini berbeda dengan penerapan asas lex superiore derogat lex inferiore, di mana norma hukum suatu undang-undang bertentangan dengan konstitusi atau konstitusi, maka Mahkamah Konstitusi berwenang memeriksanya.

Untuk mengantisipasi timbulnya benturan norma hukum karena adanya 2 (dua) undang-undang yang identik secara substantif, maka pembentukan undang-undang diatur dengan pembentukan ketentuan peralihan.

Asas Aturan yang Khusus Mengenyampingkan Aturan yang Umum (Lex Specialis Derogat Lex

Yang dimaksud dengan “asas perlindungan” adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan untuk menciptakan ketentraman masyarakat. b) Prinsip. Yang dimaksud dengan “asas kebangsaan”. adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan karakter bangsa Indonesia yang majemuk, dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. Yang dimaksud dengan “asas keadilan”. adalah bahwa setiap materi muatan peraturan perundang-undangan harus mencerminkan keadilan yang proporsional bagi setiap warga negara. h) Asas persamaan dalam hukum dan pemerintahan.

Dengan “asas kejelasan tujuan”, setiap bentuk peraturan perundang-undangan harus memiliki tujuan yang jelas yang ingin dicapai.

DESAIN PEMBENTUKAN UNDANG-UNDANG YANG

Ini terjadi karena mengubah undang-undang berfokus pada masalah tertentu, sedangkan ay. Dengan demikian akan terbentuk harmonisasi norma hukum, karena perlakuan berlangsung dalam satu undang-undang. Meskipun metode penyusunan undang-undang menggunakan metode modifikasi yang lebih sederhana, akan tetapi pada saat penyusunan norma hukum perundang-undangan dapat timbul kesulitan.

Pola pengawasan dan peninjauan diatur dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

DAFTAR PUSTAKA

Haeruman Jayadi, “Kedudukan dan isi materi peraturan mahkamah konstitusi berdasarkan undang-undang nomor 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan”, Bandung: (Skripsi) Program Pascasarjana Unpad, 2009. Ranggawidjaja, R, Pengantar Perundang-undangan Indonesia, Mandar Maju, Bandung , 1998 dalam Jurnal Masalah Hukum, Bayu Dwi Anggono, Jenis Tatanan, Hierarki dan Materi Isi Peraturan Perundang-Undangan - Undangan: Masalah dan Pemecahannya, Jilid 47 No. Suhartono, Harmonisasi peraturan perundang-undangan dalam pelaksanaan APBN (Solusi pencatatan APBN yang efektif, efisien dan akuntabel), Tesis, Jakarta: Universitas Indonesia, 2011.

Widodo Eka Tjahyana, Pembentukan Perundang-undangan (Dasar-Dasar dan Teknik Penyusunannya), Bandung: Citra Aditya Bakti, 2008.

TENTANG PENULIS

Rofi Wahanisa, SH., MH, lahir di Rembang 12 Maret 1980, Dosen Bagian HTN-HAN Fakultas Hukum Universitas Negeri. Penulis memperoleh gelar sarjana pada tahun 1998 di Fakultas Hukum UNDIP, pada tahun 2004 memperoleh gelar magister Magister Ilmu Hukum UNDIP, pada tahun 2015 memperoleh gelar doktor pada Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP. Ade Kosasih, S.H., M.H lahir di Bengkulu pada tanggal 18 Maret 1982, merupakan anak keenam dari enam bersaudara dari ayah Indra Yakoeb dan ibu Srie Rahayu.

Pada tahun 2010 diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil Kabupaten Bengkulu Tengah dan menjabat sebagai Kasubbag Bantuan Hukum dan HAM dan Kasubbag Perundang-undangan pada tahun 2012-2016.

Referensi

Dokumen terkait

In the context of MSME actors, the benefits obtained by the program to increase Islamic financial literacy include: (a) MSMEs are able to choose and utilize Islamic

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori dimana diabetes mellitus cenderung disebabkan karena obesitas yang berkaitan dengan resistensi insulin sehingga terjadi