• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI ORGANISASI - Konsep, Struktur & Aplikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TEORI ORGANISASI - Konsep, Struktur & Aplikasi"

Copied!
148
0
0

Teks penuh

Sistem politik Organisasi terdiri dari pendukung internal yang mencoba mendapatkan kendali dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan posisi mereka. Organisasi publik adalah organisasi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tanpa mengharapkan atau berorientasi pada pencapaian keuntungan. Organisasi regional : wilayah yang mencakup beberapa negara (wilayah) seperti ASEAN, MEE dll. Organisasi internasional : wilayah yang mencakup negara-negara di dunia seperti PBB, UNESCO dan lain-lain).

Tabel :1  Macam organisasi  No  Macam organisasi  jenis  A  Dari jumlah Pucuk
Tabel :1 Macam organisasi No Macam organisasi jenis A Dari jumlah Pucuk

Organisasi Fungsional, Lini dan Staff

Organisasi Lini dan Staff

Piramid Mendatar (flat)

Hanya cocok untuk organisasi yang pengangkatan pegawainya untuk formasi fungsional seperti universitas, lembaga penelitian dan lain-lain dan dibawah ini adalah gambar organisasi berjenis piramida terbalik. Organisasi publik biasanya merupakan organisasi yang mempunyai pimpinan tunggal yaitu pemerintah dan beberapa lembaga negara seperti DPR. Seperti yang telah dibahas di awal, organisasi publik adalah organisasi yang entitasnya harus melayani masyarakat dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan barang publik.

EVOLUSI TEORI ORGANISASI

  • Frederick Winslow Taylor
  • Henry Fayol
  • Percobaan penerangan lampu ruangan
  • Percobaan yang disebut Relay Room Eksperiment Penelitian dilanjutkan dengan meneliti kerja 2 orang pekerja
  • Lanjutan relay room exsperiment yang disebut Mica splitting test room study
  • Percobaan Bank wiring room exsperiment

Taylor mengungkapkan bahwa setiap pekerjaan manajemen yang dilakukan dalam suatu organisasi hendaknya dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah. Artinya Davis menyatakan bahwa struktur organisasi sangat bergantung pada tujuan organisasi. Perspektif perencanaan rasional memberikan model yang sederhana dan langsung untuk merancang suatu organisasi. Karyawan tidak selalu bertanggung jawab secara individu, namun kelompok informal dalam organisasi sangat menentukan dalam pengambilan keputusan.

Tabel 3. kesimpulan Sistem kerjasama Barnard.
Tabel 3. kesimpulan Sistem kerjasama Barnard.

LINGKUNGAN ORGANISASI

Daerah yang berdaya saing adalah daerah yang pemerintahannya mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat. Kerja sama antara eksekutif dan legislatif dalam penyelenggaraan pemerintahan merupakan salah satu faktor penentu kemampuan daerah mempunyai daya saing yang tinggi dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik. Tata kelola daerah yang baik dan mampu menciptakan daya saing mencakup seluruh komponen tata kelola.

Dukungan organisasi dan persepsi yang diberikan kepada pemerintah daerah akan menjadi komponen pendukung daya saing daerah, dan komponen tersebut perlu dikelola dengan baik dalam rangka tata kelola daerah yang baik. Artinya tata kelola yang baik akan menciptakan daya saing daerah melalui munculnya masyarakat yang mandiri dan mampu. Ini hanyalah salah satu contoh bahwa menciptakan keunggulan kompetitif untuk menciptakan daya saing daerah tidaklah mudah.

Daerah yang memiliki daya saing yang didukung dengan tata kelola yang baik akan mampu menarik investor eksternal untuk berinvestasi. Jadi tujuan daerah dan kegiatan yang dikembangkan untuk mencapai daya saing daerah saling berkaitan. Dalam mewujudkan daerah yang mempunyai daya saing dengan menciptakan keunggulan kompetitif, kebijakan merupakan komponen yang harus menjadi penunjang, bukan penghambat.

Kebijakan yang mendukung terciptanya daya saing daerah merupakan kebijakan yang tidak lepas dari upaya mencapai cita-cita dan tujuan pemerintah daerah.

STRUKTUR ORGANISASI

Naik turunnya penerapan sistem pemerintahan Nagari turut berkontribusi terhadap perubahan desain organisasi. Naik turunnya penyelenggaraan pemerintahan Nagari terjadi pada masa sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979, yang dapat dilihat dari masa pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Perubahan dalam penyelenggaraan pemerintahan Nagari mempunyai implikasi langsung terhadap perubahan desain organisasi dari waktu ke waktu.

Di bawah ini kita akan melihat desain pemerintahan Nagari sebagai pemerintahan terdepan di Sumatera Barat yang kini telah kembali berdiri. Sebelum diterapkannya undang-undang no. 5 Tahun 1979, pemerintahan Nagari dalam dokumen ini digolongkan menjadi dua periode, yaitu pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Setelah kedatangan penjajah Belanda di Minangkabau khususnya Sumatera Barat, sistem pemerintahan Nagari berupa pemerintahan tradisional masih tetap diterapkan.

Penerapan pemerintahan Nagari dari pemerintahan tradisional menjadi pemerintahan Nagari terkelola di bawah pemerintahan Belanda mulai mengubah model standar pemerintahan tradisional yang telah diterapkan sejak lama. Pengenalan birokrasi pada pemerintahan Nagari merupakan salah satu bentuk perubahan dan pengembangan organisasi, yang menurut Bechard dalam Ibrahim Indra Jaya (1997) merupakan suatu usaha yang terencana (karena dilakukan dengan membuat peraturan), dikelola dari atas (oleh Belanda). . , untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas organisasi (pencapaian tujuan).Penjajah Belanda menguasai desa-desa Diminangkabau) melalui intervensi terencana dalam proses-proses di dalam organisasi. Desain organisasi pemerintahan nagari ini sedikit lebih kaya dan kental dibandingkan dengan desain organisasi nagari yang sudah ada.

Dari waktu ke waktu, terhitung sebelum berlakunya UU No. 5 Tahun 1979 tentang pemerintahan desa, bahkan hingga terbentuknya kembali pemerintahan Nagari di Sumatera Barat, memiliki desain organisasi yang tidak jauh berbeda.

KEPEMIMPINAN

Dasar penyelenggaraan pilkada langsung di Indonesia adalah UU No. 1 Tahun 2015 yang disempurnakan dengan UU No. 8 Tahun 2015. Hal ini juga tertuang jelas dalam Peraturan KPU No. 7 Tahun 2015 tentang Dana Kampanye Peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati. , dan/atau walikota dan wakil walikota. Pemilihan kepala daerah merupakan salah satu upaya demokratisasi daerah dalam sistem pemerintahan presidensial di Indonesia.

Pemilihan pendahuluan daerah diharapkan menjadi alat untuk melegitimasi kedaulatan rakyat berkat adanya pemilu pendahuluan. Dalam pemilihan kepala daerah, kampanye merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum pemilu berlangsung. Pemilihan kepala daerah diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Umum. konstitusi gubernur, bupati, dan walikota.

Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2015 pasal 65 ayat 1 dan 2, terlihat adanya berbagai kegiatan kampanye yang dilakukan negara. Hal ini terlihat lebih jelas pada PKPU No. 7 Tahun 2015 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota. Sedangkan dana kampanye diatur dalam PKPU Nomor 8 Tahun 2015 tentang dana kampanye bagi peserta pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota.

Berlakunya UU No. 8 Tahun 2015 dan Permendagri no. 51 Tahun 2015 yang tertuang dalam PKPU No. 7 dan 8 Tahun 2015 yang mengatur dana kampanye pemilihan kepala daerah telah diperjelas, memberikan tanggung jawab kepada negara melalui KPU untuk membiayai pelaksanaan kampanye. oleh APBD.

PENGEMBANGAN ORGANISASI DAN BIROKRASI

Organizational development merupakan terjemahan bahasa Inggris dari B. Organizational development (OD) mempunyai arti yang sama dengan pengembangan organisasi. Miftah Thoha (1997) menjelaskan bahwa pengembangan organisasi adalah suatu proses, hasil atau pernyataan yang meningkat. Richard Bechard (1997) menyatakan bahwa; Pengembangan organisasi adalah upaya terencana yang mencakup organisasi secara keseluruhan, dikelola dari atas ke bawah dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi, melalui intervensi terencana dalam proses yang terjadi dalam organisasi, dengan menggunakan pengetahuan dari ilmu perilaku.

Singkatnya, tujuan pengembangan organisasi adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi, didorong dari atas dan dilaksanakan secara terus menerus. Pengembangan organisasi dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya metode pengembangan perilaku, metode pengembangan keterampilan dan sikap. Apabila bupati/walikota merupakan pemimpin pemerintahan daerah, maka pengembangan organisasi dilakukan dengan memperhatikan berfungsinya pemerintahan.

Pembentukan tim adalah metode pengembangan organisasi di mana perilaku kelompok dikembangkan melalui teknik intervensi yang disebut pembentukan tim. Terdapat kondisi yang menguntungkan di mana upaya pengembangan organisasi dianggap sebagai bagian integral dari seluruh kebijakan dan strategi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi. Untuk mengembangkan organisasi tersebut, selain mengembangkan faktor manusianya, perlu juga dikembangkan kelembagaan yang mewadahi mereka dalam bekerja.

Tidak berhenti untuk memperbaiki diri, kami mengembangkan pengembangan organisasi agar bisa berubah menjadi lebih baik.

ETIKA ORGANISASI

Sebagus apapun sistem diciptakan dan aturan ditegakkan, jika masyarakat tidak memiliki budaya kinerja yang tinggi, maka tujuan negara akan tetap sulit tercapai. Menurut Peter AC Smith dan Hubert, sebagian besar organisasi publik, khususnya organisasi pemerintah daerah, justru mengalami apa yang disebut dengan sindrom Titanic, penyakit pelat merah, yang mempengaruhi paradigma dan budaya kinerja pejabat publik. Lalu bagaimana anggota organisasi kita membentuk budaya kinerja yang tinggi agar tujuan organisasi dapat tercapai, menjadikan daerah mampu bersaing melalui pengelolaan yang baik padahal aparatur tidak mempunyai budaya kinerja yang baik?

Dalam organisasi publik, sikap ini lebih dilatarbelakangi oleh sifat pelat merah yang melekat pada organisasi publik. Ketidaksesuaian antara ideologi inti dan nilai-nilai dalam tindakan terlihat dari seringnya ditemukan organisasi publik yang anggotanya tidak memiliki budaya kinerja yang tinggi. Budaya kinerja tinggi merupakan suatu kondisi dimana anggota organisasi mampu menjadi pegawai yang unggul, dimana kinerja yang dihasilkan lebih besar dibandingkan pendapatan yang diterima.

Dalam konteks kepemimpinan yang berbasis budaya kinerja tinggi, pemimpin merupakan aspek penting yang sangat menentukan proses transformasi. Hasil dari nilai-nilai yang terbentuk (core ideologi) tentunya bukanlah ideologi yang berdampak pada anggota organisasi. Karena jika Anda membiarkannya, Anda membiarkan perusak budaya berkeliaran di organisasi Anda, dan itu adalah penyakit.

Untuk itu perlu memperhatikan etika ketika bergabung dalam suatu organisasi, khususnya organisasi publik seperti pemerintah.

ANALISIS KASUS – KASUS

Pemberlakuan segera RUU ini mungkin akan mengaktifkan kembali filter budaya kita yang telah lama bungkam dan mati. Yakni perubahan sistem pemerintahan desa sebagai sistem pemerintahan kecamatan terendah yang ada selama ini menjadi pemerintahan Nagari yang tidak lagi menjadi satu kesatuan. Perubahan ini kemudian membawa dampak positif bagi Nagari yang telah mempunyai kewenangan untuk mengesahkan kebijakan Nagari seperti Peraturan Nagari, Petunjuk Nagari Wali, Peraturan BPN dan Peraturan Pimpinan.

Setiap aparatur Pemerintahan Nagari harus mampu menjelaskan kepada masyarakat segala sifat, sikap dan perilaku politiknya sepanjang memenuhi tugas, wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya dalam pelaksanaan seluruh kebijakan Nagari yang telah ditetapkan. Akuntabilitas prosedural diperlukan dan diharapkan dapat memberikan penjelasan atas apa yang telah dilakukan, yang kemudian dikenal dengan akuntabilitas obyektif. Perubahan dari pemerintahan desa menjadi pemerintahan nagari dapat membawa perubahan dan pengembangan organisasi ke arah yang lebih baik dalam rangka tanggung jawab prosedural nagari yaitu bagaimana menentukan tata cara kebijakan nagari dalam perumusan/penetapan kebijakan publik, karena Perubahan dari desa yang pasif menjadi nagari yang dinamis tentu diharapkan adanya ketertiban umum yang lahir atas dasar pertimbangan-pertimbangan yang mengarah ke arah yang lebih baik (tanggung jawab prosedural).

Nagari yang kini ditata ulang bukanlah kembalinya bentuk semula seperti saat pertama kali lahir. Permasalahan paling mendasar yang menjadikan kebijakan-kebijakan yang lahir di daerah tidak berguna, lebih disebabkan oleh kurangnya sosialisasi yang dilakukan terhadap kebijakan-kebijakan yang lahir. Misalkan saja kalau kita kembali ke pemerintahan Nagari, maka mekanismenya kemudian diatur dalam peraturan daerah di Sumbar, yang kemudian disusul dengan peraturan daerah yang berbeda-beda di setiap daerah.

Dari yang masih dalam konteks dibenarkan aturan hingga yang melanggar aturan yang sudah ditetapkan.

Jangan lupa follow akun social media

Gambar

Tabel :1  Macam organisasi  No  Macam organisasi  jenis  A  Dari jumlah Pucuk
Tabel 3. kesimpulan Sistem kerjasama Barnard.

Referensi

Dokumen terkait