• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS Oleh : LELA AGUSTINA PANJAITAN NPM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TESIS Oleh : LELA AGUSTINA PANJAITAN NPM"

Copied!
199
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Identifikasi Masalah

Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini berdasarkan identifikasi diatas, permasalahan dibatasi pada materi segitiga Kelas VII, kemampuan penalaran, kemampuan pemecahan masalah, model pembelajaran Discovery Learning dan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning.

Rumusan Masalah

Adakah perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan penalaran matematis siswa? Adakah perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa?

Tujuan Penelitian

Adakah perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran Discovery Learning dengan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah matematis siswa? Keterampilan Penalaran Matematis dan Pemecahan Masalah: Diskusi/Kegiatan melalui Model Pembelajaran Discovery Learning v.

Manfaat Peneltian

KAJIAN PUSTAKA

Landasan Teori

  • Kemampuan Awal Matematika
  • Model Pembelajaran Discovery Learning
  • Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning 41
  • Kemampuan Penalaran Matematika
  • Kemampuan Pemecahan Masalah

Kajian Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Raja Sopiyah Nasution dan Syafari berjudul “Perbandingan Pemahaman Konsep Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Kontekstual dan Penemuan Terbimbing di Kelas VII Mts.S Al-Jihad Medan”. Begitu pula dengan rata-rata nilai posttest kemampuan pemahaman konsep matematika siswa sebesar 81,33 pada kelas eksperimen A dan 78,4 pada kelas eksperimen B. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dan model Discovery learning Learning (DL) dapat mengembangkan penguasaan konsep matematika siswa.

Persamaan penelitian terdahulu dengan yang saya teliti adalah model yang diterapkan melibatkan kedua siswa dalam berdiskusi selama pembelajaran.Perbedaannya terletak pada penerapan model pembelajaran yang dilakukan peneliti sebelumnya untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa, sedangkan peneliti sendiri menginginkannya. meningkatkan kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematis. Penelitian terkait dilakukan oleh Erlinawaty Simanjuntak dengan judul “Perbandingan Kemampuan Penalaran Siswa yang Menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Wingeom”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan penalaran matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Discovery Learning lebih baik dibandingkan kemampuan penalaran matematis siswa yang menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah.

Rata-rata peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Discovery Learning sebesar 17,933, sedangkan rata-rata peningkatan kemampuan penalaran matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning sebesar 12,833. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian yang saya pelajari terletak pada model pembelajaran yang diterapkan untuk meningkatkan kemampuan penalaran siswa dengan menggunakan model pembelajaran Discovery Learning. Bedanya, penelitian sebelumnya menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dan model pembelajaran berbasis masalah, sedangkan peneliti sendiri ingin menggunakan model pembelajaran Discovery Learning dan model pembelajaran kontekstual.

Kerangka Berpikir

Untuk melihat analisis adanya perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan penalaran matematis dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa merupakan tujuan dari penelitian ini. Selain itu juga terungkap adanya interaksi antara model pembelajaran dan kemampuan awal matematika terhadap kemampuan penalaran matematis dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini berkaitan dengan peningkatan kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang dipelajari melalui model pembelajaran Discovery Learning (DL) dan Kontekstual.

Disimpulkan terdapat perbedaan model pembelajaran dengan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada tingkat kepercayaan 95%. Interaksi model pembelajaran dan KAM terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis Kemampuan pemecahan masalah matematis. Terdapat perbedaan yang signifikan antara model Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.

Terdapat interaksi antara KAM dan Discovery Learning serta Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.

Gambar 2.1. Skema Kerangka Berpikir
Gambar 2.1. Skema Kerangka Berpikir

Hipotesis Penelitian

Tempat dan Waktu Penelitian

  • Tempat Penelitian
  • Waktu Penelitian

Populasi dan Sampel

  • Populasi
  • Sampel

Teknik Simple Random Sampling adalah suatu cara atau sistem penentuan sampel yang dilakukan secara acak dengan suatu populasi yang anggotanya dianggap homogen. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara pelemparan uang logam atau dadu, teknik undian dan angka acak.

Defenisi Operasional Variabel

Rancangan dan Desain Penelitian

Dalam penelitian ini perlakuan atau kegiatan pembelajaran model Discovery Learning diberikan kepada kelas eksperimen I, sedangkan perlakuan atau kegiatan pembelajaran Contextual Teaching Learning diberikan kepada kelas eksperimen II. Untuk melihatnya lebih detail dan jelas, keterlibatan antara variabel independen dengan variabel dependen serta variabel terkait dirinci pada Tabel 3.4. MIDTA merupakan kelompok mahasiswa tinggi dan menerima model pembelajaran Discovery Learning berdasarkan nilai MID pada semester pertama.

KPNMTB merupakan siswa yang mempunyai kelompok tinggi dan diberikan Pembelajaran Kontekstual dengan kemampuan penalaran matematis. KPMMMB merupakan kelompok siswa tinggi yang memperoleh Pembelajaran Kontekstual dengan kemampuan pemecahan masalah matematis.

Tabel  3.4  Rancangan Keterlibatan antara Variabel  Bebas  dan Variabel  Terikat Serta Variabel Penyerta
Tabel 3.4 Rancangan Keterlibatan antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat Serta Variabel Penyerta

Teknik Pengumpulan Data

  • Tes Kemampuan Awal Matematika
  • Tes Kemampuan Penalaran Matematika
  • Tes Kemampuan Pemecahan Masalah

Data diambil dari dua kelas eksperimen yaitu kelas Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning yang berupa tes hasil data kemampuan penalaran dan tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Dalam penelitian ini data hasil tes kemampuan penalaran matematis dan hasil tes kemampuan pemecahan masalah dianalisis. Dengan mengamati perbedaan mendasar antara Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning, tes berikut akan menguji kemampuan pemecahan masalah siswa.

Artinya terdapat hubungan linier antara kemampuan siswa dalam memecahkan masalah matematika dan. Perhitungan uji normalitas dan uji homogenitas untuk tes kemampuan pemecahan masalah matematis pada kelas DL dan eksperimen.

Tabel  3.5 Kriterian Kategorisasi Kemampuan Siswa Berlandaskan KAM
Tabel 3.5 Kriterian Kategorisasi Kemampuan Siswa Berlandaskan KAM

Teknik Analisis Data

  • Uji Validitas Butir Soal
  • Uji Reliabilitas Instrumen
  • Daya Pembeda
  • Tingkat Kesukaran
  • Gambaran Umum Kemampuan Penalaran dan Kemampuan
  • Uji Normalitas
  • Uji Homogenitas
  • Uji Anacova

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

  • Deskripsi Data
    • Deskripsi KAM
    • Deskripsi Kemampuan Penalaran Matematika 90
    • Deskripsi Kemampuan Pemecahan Masalah 92
  • Hasil Uji Persyaratan Analisis
    • Analisis KAM
    • Analisis Kemampuan Penalaran Matematika 98
    • Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah
  • Hasil Uji Hipotesis
    • Kemampuan Penalaran Matematika
    • Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa

Hasil rangkuman dirinci pada Tabel 4.1 berikut, sedangkan hasil penghitungan detailnya terdapat pada Lampiran 1. Tabel 4.2 di atas menunjukkan bahwa rata-rata tes kemampuan penalaran matematis kelas eksperimen Discovery Learning dan kelas Eksperimen Contextual Teaching and Learning berbeda untuk setiap indikator inferensi. Kelas eksperimen Discovery Learning memberikan nilai karakteristik sebesar 0,200 dan kelas Contextual Teaching and Learning memberikan nilai karakteristik sebesar 0,155 seperti terlihat pada Tabel 4.5 diatas yang didapat sebesar 0,05.

Dengan menggunakan program SPSS 17 yang dijelaskan lebih rinci pada Tabel 4.6 dan dapat dilihat lebih rinci pada Lampiran 4 di bawah ini, diperoleh hasil perhitungan uji homogenitas varians dari data siswa KAM. Melihat Tabel 4.6 diatas menyatakan nilai signifikan sebesar 0,598 yang berarti > tingkat signifikansi sebesar 0,05. Dengan menggunakan prosedur pengolahan SPSS 17 yang dirinci pada Tabel 4.8 di bawah ini dan yang dapat dilihat secara detail pada Lampiran 5, data hasil perhitungan normalitas Tes Kemampuan Penalaran Matematis disajikan di bawah ini.

Dengan menggunakan program SPSS versi 17, Tabel 4.11 menyajikan hasil perhitungan uji homogenitas sebagai berikut :. Berikut ini dirinci pada Tabel 4.12 data yang diperoleh pada ANACOVA dua faktor melalui kovariat tunggal kemampuan penalaran matematis: Nilai signifikansi pada kolom 6 Tabel 4.12 adalah 0,003, meniadakan pengaruh KAM pada model.

Tabel 4.1 Deskripsi Kemampuan Awal Matematika Siswa   Berdasarkan Pembelajaran
Tabel 4.1 Deskripsi Kemampuan Awal Matematika Siswa Berdasarkan Pembelajaran

Pembahasan

  • Kemampuan Awal Matematika Siswa
  • Kemampuan Penalaran Matematika
  • Kemampuan Pemecahan Masalah
  • Interaksi Antara Model Pembelajaran dan KAM Terhadap
  • Interaksi Antara Model Pembelajaran dan KAM Terhadap

Artinya hasil KAM dan perbedaan model Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning secara simultan berbeda 95% terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Untuk melihat perbedaan model pembelajaran DL dan CTL, kemudian diuji kemampuan matematika siswa. Maka dalam hal ini disimpulkan terdapat perbedaan model pembelajaran kemampuan penalaran matematis pada tingkat kepercayaan 95%.

Tahap pengujian selanjutnya adalah melihat perbedaan model DL dan SOL serta kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Terdapat perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan penalaran matematis siswa. Hal ini dapat diamati dari hasil analisis kovarians (ANACOVA) untuk melihat perbedaan Discovery Learning dan Contextual Teaching and Learning terhadap kemampuan penalaran matematis.

Sehingga disimpulkan terdapat perbedaan signifikan yang diperoleh dari model pembelajaran melalui kemampuan penalaran matematis siswa pada tingkat kepercayaan 95%. Maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan model pembelajaran melalui kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada tingkat kepercayaan 95%. Terdapat interaksi antara KAM dan Discovery Learning serta Contextual Teaching and Learning terhadap penalaran matematis siswa.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Menyiapkan kesimpulan yang merupakan hasil jawaban berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam rumusan masalah selama kegiatan pembelajaran Discovery Learning dan Contextual Teaching in Learning, dari hasil analisis data dan temuan peneliti, yang lebih menekankan pada kemampuan penalaran matematis siswa dan masalah matematisnya. keterampilan pemecahan. Dari model terlihat angka signifikan yaitu 0,003 lebih kecil dari 0,05 yang berarti ditolak dan dalam hal ini mengabaikan pengaruh KAM. Terlihat dari model angka signifikansi sebesar 0,008 lebih kecil dari 0,05 yang berarti dalam hal ini ditolak tanpa mempertimbangkan pengaruh KAM.

Saran

Pembelajaran penemuan dan pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada penemuan konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui siswa dan hal ini masih sangat asing bagi guru dan siswa, oleh karena itu perlu diadakannya sosialisasi oleh kepala sekolah atau instansi terkait agar hal tersebut dapat dipahami. harapannya dapat mengembangkan hasil belajar matematika siswa khususnya dalam mengembangkan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah siswa. Pembelajaran matematika menggunakan metode penemuan terbimbing untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis dan pemecahan masalah siswa. Perbedaan Keterampilan Penalaran Matematis dan Pemecahan Masalah pada Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pembelajaran Konvensional di SMA Negeri 1 Kualuh Selatan.

Upaya meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa dengan menerapkan teori belajar Bruner pada topik trigonometri pada kelas X SMA Negeri 1 Kualuh Hulu Aek Kanopan T.A. Setiawati, Diah dan Syahputra, Edi dan Rajagukguk, W. 2013. Perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis dan komunikasi siswa antara pendekatan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran konvensional pada siswa Kelas X di SMK Negeri 1 Bireuen. Perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa antara pendekatan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran konvensional pada siswa Kelas X SMK Negeri 1 Bireuen.

Jurnal Pendidikan Matematika PARADIKMA, Vol 6 Nomor 1, hal. 1-13. Analisis kemampuan penalaran siswa melalui proses penyelesaian masalah matematika pada materi peluang. Meningkatkan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa melalui pembelajaran berbasis masalah menggunakan soal open-ended untuk Kelas VIII SMPN 2 Siantar. Perhitungan Uji Normalitas dan Uji Homogenitas Tes Kemampuan Penalaran Matematis pada kelas eksperimen DL dan kelas eksperimen SOL.

Menggunakan rumus luas dan keliling persegi panjang, persegi, segitiga, trapesium, jajar genjang, belah ketupat, dan layang-layang dalam menyelesaikan soal sederhana. Menggunakan rumus luas dan keliling persegi panjang, persegi, segitiga, trapesium, jajar genjang, belah ketupat, dan layang-layang dalam menyelesaikan soal sederhana.

Gambar

Tabel 2.1 Tahap-tahap Pembelajaran Discovery Learning
Tabel 2.2 Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah Berdasarkan Tahap  Pemecahan Masalah oleh Polya
Gambar 2.1. Skema Kerangka Berpikir
Tabel  3.1  Populasi  Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bagi guru yaitu 1 penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning CTL dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, karena dengan model pembelajaran Contextual Teaching