KEBIASAAN SISWA SETELAH JAJAN DI SEKOLAH PADA JAM ISTIRAHAT (KASUS: SISWA KELAS VII SMPN 2 KINALI KABUPATEN
PASAMAN BARAT)
Desi Marlina, Darmairal Rahmad, Sri Rahayu
Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This research background of students habits after school snack is not wrong, because the habit is already accustomed to happen in student life. Here seen students who have eaten or breakfast at home still also eat at break time, after students buy snacks from the stall there are activities that are done by both students who buy and who do not buy snacks. The formulation of this research is how students activity after snack at school break (case: student of class VII SMPN 2 Kinali West Pasaman District). The purpose of this study is to describe the activities of students after the snack at school breaks. The theory used in this reasons and goals of students to the habits of students after snack at school at break time. The research approach is qualitative approach with descriptive type.
The selection of informants in this study was intentional (purposive sampling), which amounted to 10 people. The type of data used in this research is primary data and secondary data. The method used is non participant observation, with in- depth interview and document study. The unit of analysis is individual. Data analysis with Miles and Huberman is data collection, data reduction, data presentation and conclusion. The results showed tha students habit after school snack during break time (case: class VII students SMPN 2 Kinali West Pasaman District) as follows: the phenomenon of students after school hajj at rest period that often occurs when students out of their classes to the warung because hungry, after students buy snacks from stalls, there are students who remain in the shop, some go to class, to the library, to the park and sit on the terrace class with friends to wait for the bell rang class sign.
Keywords: Habits, Students, and Snacks PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari, makanan adalah kebutuhan hidup manusia yang diperlukan tubuh dalam jumlah yang cukup sebagai sumber energi dan zat-zat gizi. Oleh
karena itu, dalam kesehariannya manusia tak lepas dari makanan. Pola makan masyarakat Indonesia umumnya tiga kali sehari, yakni makan pagi (sarapan), makan siang
dan makan malam (Hermina, 2009 Jurnal).
Untuk lebih optimalnya masa tumbuh dan berkembang anak usia sekolah tergantung pada pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik dan benar. Menurut Devi (2012:3), ”Usia anak dalam masa perkembangan yang pesat memerlukan nutrisi yang cukup dan seimbang agar proses berpikir, belajar, dan beraktifitas tidak terhambat.” Karena anak usia sekolah sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang cepat maka zat gizi yang diperlukan anak pada umumnya lebih tinggi dari pada orang dewasa. Pada dasarnya tumbuh kembang anak berlangsung secara berkesinambung.
Salah satuhal yang sangat . Agar kebutuhan gizi anak terpenuhi, maka dapat diberikan melalui hidangan sehari-hari yang terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, ditambah dengan susu yang biasa disebut dengan makanan empat sehat lima sempurna atau disebut dengan menu seimbang (Asmawarti, 2013 skripsi). Berdasarkan pengamatan
atau obsevasi yang peneliti lakukan di SMPN 2 Kinali ditemukan bahwa, pada saat jam istirahat berbunyi para siswa langsung menuju ke warung untuk membeli jajan baik itu siswa yang sudah makan di rumah maupun yang belum makan di rumah. Pada saat jam istirahat berlangsung ada saja kegiatan yang di lakukan oleh siswa baik itu siswa yang jajan maupun siswa yang tidak jajan seperti berikut: ada yang keperpustakaan, ada yang duduk- duduk di bawah pohon bersama temannya, ada yang di dalam kelas saja, ada yang bermain handphone di warung pada saat jam istirahat berlangsung dan ada yang duduk- duduk di teras bersama teman. Jam istirahat yang di berikan oleh sekolah ialah untuk siswa yang telah lama berada di dalam ruangan kelas dan diberi kesempatan untuk istirahat supaya tidak tegang pemikiran dan tidak merasa jenuh pada mata pelajaran berikutnya. Jam istirahat disini bukan hanya untuk membeli makanan jajan saja namun untuk memberi waktu bermain, untuk curhat kepada guru yang dapat memberikan solusi permasalahan
tentang mata pelajaran atau tentang masalah teman yang suka mencari perhatian teman dan guru.
Sebenarnya kebiasaan siswa setelah jajan di sekolah pada jam istirahat tidak salah, sebab kebiasaan itu artinya berulang-ulang atau kebudayaan yang sudah biasa terjadi pada kehidupan siswa tidak bisa di tinggal kan dari dalam diri seorang individu itu sendiri. Permasalah yang terjadi di dalam penelitian ini yaitu kebiasaan siswa jajan di sekolah pada jam istirahat dan siswa yang dituju disini ialah siswa yang sudah makan atau sarapan di rumah tetapi masih juga makan pada jam istirahat, dan siswa yang sering belanja ke warung. Berdasarkan pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa, kebiasaan setelah jajan ada yang bersifat individual dan ada yang bersifat sosial. Kebiasaan setelah jajan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah yang bersifat internal dan eksternal.
Kekhawatiran dalam makanan jajanan bukan hanya dari kemasan saja tapi juga dari segi kesehatan, gizi dari pemakaian bahan tambahan yang dilarang. Pada
dasarnya dari pihak sekolah sudah melarang tidak diperbolehkan membeli makanan jajan di luar perkarangan sekolah, karena kurang baik bagi kesehatan tubuh perkembangan siswa yang masih sekolah.
Kondisi penjualan makanan jajanan yang demikian, kurang menjadi perhatian bagi anak-anak sekolah, karena sebagian mereka lebih tertuju hanya pada keinginan untuk menkonsumsi makanan jajanan di sekolah dari pada makan di rumah. Hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, tanpa mempedulikan resiko berupa gangguan kesehatan yang akan terjadi.
Berdasarkan penjelasan di atas, kebiasaan siswa jajan di sekolah pada jam istirahat dari pada makan pagi di rumah yaitu diantaranya karena: kurangnya pengetahuan siswa tentang makanan jajanan yang memenuhi standar kesehatan, kebutuhan siswa tehadap makanan jajanan yang dipengaruhi oleh kebutuhan fisik dan gizi, sikap siswa yang cenderung memilih jajan di sekolah daripada sarapan pagi di rumah, belum adanya pengarahan
tentang makanan jajanan yang sehat dari orang tua, adanya pengaruh dari ajakan dan ditraktir oleh teman, dan kurangnya pengetahuan para pedagang makanan jajanan tentang hygiene dan sanitasi makanan yang mereka jual.
Wawancara dengan siswa yang bernama Mul pada tgl 21 April 2017.
”Kenapa pada jam istirahat adek masih beli jajan lagi di sekolah padahal adek sudah makan di rumah?”
Jawab:” Karena makan dirumah terburu-buru kak, jadi kalau jam istirahat berbunyi iya saya ikut teman makan di kantin kak”.
Siswa tersebut mengetahui makan di kantin belum tentu sehat.
Tapi, apa lagi kita beli makanan yang sembarangan akan berakibat buruk bagi tubuh dan kesehatan. Mereka beranggapan beli makanan di kantin terjangkau harganya, apa lagi belinya bersama teman, lebih asyik ketika makan bersama dan sambil bercerita di kantin.
Melihat kondisi penjualan makananj ajanan yang demikian, kurang menjadi perhatian bagi anak- anak sekolah, karena sebagian mereka lebih tertuju hanya pada
keinginan untuk menkonsumsi makanan jajanan di sekolah dari pada makan di rumah. Hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, tanpa mempedulikan resiko berupa gangguan kesehatan yang akan terjadi.
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan aktifitas siswa setelah jajan pada jam istirahat di sekolah (Kasus: Siswa Kelas VII SMPN 2 Kinali Kabupaten Pasaman Barat).
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi yang dikembangkan oleh Alfred Schutz. Fenomena tertarik dengan satu bentuk dari subyektifvitas yang disebutnya antar subyektifvitas. Konsep ini menunjuk kepada pemisahan keadaan subyektif atau secara sederhana menunjuk kepada dimensi dari kesadaran umum kesadaran khusus kelompok sosial yang sedang saling berintegrasi. Intersubyektivitas yang memungkinkan pergaulan sosial itu terjadi, tergantung kepada pengetahuan tentang peranan masing-masing yang diperoleh
melalui pengalaman yang bersifat pribadi. Konsep intersubyektivitas ini mengacu kepada suatu kenyataan bahwa kelompok-kelompok sosial saling menginterpretasikan tindakannya masing-masing dan pengalaman mereka juga diperoleh melalui cara yang sama seperti yang dialami dalam interaksi secara individual.
Faktor saling memahami satu sama lain baik antar individu maupun antar kelompok ini diperlukan untuk terciptanya kerja sama di hampir semua organisasi sosial. Schutz memusatkan perhatiannya kepada struktur kesadaran yang diperlukan untuk terjadinya saling bertindak atau interaksi dan saling memahami antar sesama manusia. Secara singkat dapat dikatakan bahwa interaksi sosial terjadi dan berlangsung melalui penafsiran dan pemahaman tindakan masing-masing baik antar individu maupun antar kelompok (Ritzer,2009:59-60).
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif adalah metode penelitian
yang mengumpulkan dan
menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia serta peneliti tidak berusaha menghitung atau menganalisis angka-angka apabila diperlukan (Afrizal, 2014:13).
Dalam penelitian ini kriteria informan penelitiannya adalah siswa kelas VII, dalam hal ini peneliti mengambil informasi yang dapat memberikan informasi dan data yang maksimal mengenai kebiasaan siswa setelah jajan pada jam istirahat (Kasus: Siswa Kelas VII SMPN 2 Kinali Kabupaten Pasaman Barat).
Gunawan, 2013:160 dikutip (Setyadi, 2005) wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan merupakan proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan tekni wawancara mendalam (indepth interview)
merupakan suatu cara
mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang masalah yang diteliti (Bungin, 2011:157-158).
Peneliti menggunakan wawancara mendalam ini agar dapat mendeskripsikan kebiasaan siswa setelah jajan pada jam istirahat.
Kegiatan menghimpun data dengan melakukan wawancara mendalam akan dilakukan terhadap informan siswa kelas VII SMPN 2 Kinali Kabupaten Pasaman Barat.
Wawancara yang dilakukan bersifat tak berstruktur ini dikarenakan supaya peneliti bebas mengacak pertanyaan yang akan ditanyakan kepada narasumber.
Gunawan, 2013:176 dikutip (Sugiyono, 2007) dokumen adalah merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu yang berbentuk tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang. Dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan dokumen yang tertulis yang ada, berupa data siswa yang biasa masuk ke kelas setelah jajan pada jam istirahat, hasil wawancara mengenai kebiasaan
siswa setelah jajan yang bertujuan untuk memberikan keterangan, memperkuat, serta mendukung data yang diperoleh dalam penelitian dan data mengenai gambaran umum sekolah seperti jumlah siswa, jumlah guru, profil sekolah dan lain-lain.
HASIL DAN PEMBAHASAN Kebiasaan Siswa Setelah Jajan Di Sekolah Pada Jam Istirahat
Hasil dari penelitian yang didapat oleh peneliti disini yang mana kebiasaan siswa setelah jajan di sekolah pada jam istirahat (Kasus:
siswa kelas VII SMPN 2 Kinali Kabupaten Pasaman Barat) menjelaskan bahwa jam istirahat sekolah merupakan waktu untuk siswa beristirahat supaya tidak merasa jenuh di dalam kelas selama proses pembelajaran berlanjut dan untuk makan bagi yang belum sempat makan dari rumah maupun yang sudah makan dari rumah. Jam istirahat juga digunakan sebagai siswa untuk berkumpul bersama teman. Kebiasaan siswa setelah jajan di sekolah pada jam istirahat ini dilihat dari segi aspek aktifitas siswa setelah jajan pada jam istirahat.
Dimana aktifitas siswa setelah jajan dari warung tersebut berikut:
Aktifitas Siswa Setelah Jajan Pada Jam Istirahat di Sekolah.
1. Tetap di Warung
Jam istirahat merupakan waktu untuk siswa membeli jajan ke warung dan untuk bercerita bersama teman, disini kebiasaan siswa setelah membeli jajan dari warung mereka masih tetap berada di warung untuk bercengkrama bersama teman-teman yang berkaitan dengan mata pelajaran yang sulit dipahami serta dapat menghilangkan rasa suntuk supaya dapat mengerti ketika proses pembelajaran berlangsung selanjutnya. Jadi jam istirahat bagi siswa bukan untuk membeli jajan saja di warung, namun juga dapat sebagai tempat bercengkrama bagi siswa yang ingin bercerita sama teman dan saling bertukar pendapat di warung tersebut. Jadi aktifitas siswa setelah jajan pada jam istirahat di sekolah yaitu siswa masih tetap ingin berada di warung sampai berbunyi bel masuk ke kelas, bukan hanya membeli jajan di warung tapi mereka masih ingin bercengkrama bersama teman.
2.Pergi ke Kelas
Bagi siswa yang jajan pada saat jam istirahat mereka langsung menuju ke warung untuk membeli makanan mengisi perut yang kosong selama berada di dalam kelas.
Setelah siswa membeli jajan di warung sebagian dari mereka pergi meninggalkan warung tersebut lalu menuju ke kelas. Bagi siswa yang pergi ke kelas mereka ingin mengerjakan tugas yang belum terselesaikan dari rumah, maka siswa tersebut setelah membeli jajan dari warung langsung menuju kelas.
Sebagian dari siswa setelah membeli jajan dari warung mereka hanya membeli jajanan saja, karena ada sebagian dari siswa tersebut yang membawa nasi dari rumah, maka dari itu siswa lebih baik ke kelas untuk makan nasi yang telah mereka bawa dari rumah.
3.Pergi ke Perpustakaan
Bagi siswa yang jajan pada jam istirahat mereka langsung menuju ke warung untuk membeli makanan mengisi perut yang kosong selama berada di dalam kelas.
Setelah siswa membeli jajan di warung sebagian dari mereka pergi
meninggalkan warung tersebut lalu menuju ke tempat perpustakaan.
Bagi siswa yang pergi ke perpustakaan lebih baik memanfaatkan waktu jam istirahat yang masih ada dengan membaca buku atau bisa juga untuk mengisi tugas yang belum terselesaikan dari rumah, dengan demikian jam istirahat siswa tidak hanya membeli jajan saja, namun bisa untuk meluangkan waktu untuk menuju ke perpustakaan guna untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan.
Ternyata aktifitas siswa setelah membeli jajan dari warung, mereka ke perpustakaan dengan tujuan supaya paham tentang materi apa yang akan dijelaskan oleh guru.
4. Di Parkiran
Jam istirahat kebanyaan siswa pergi ke warung untuk membeli jajan supaya perut tidak sakit karena sudah lama berada di kelas. Setelah siswa membeli jajan di warung sebagian dari mereka tidak langsung menuju ke kelas melaikan duduk-duduk dahulu di parkiran bersama teman-teman sambil bercerita dan melihat siswa yang lain membeli jajan ke warung, karena itu
sudah kebiasaan siswa setelah jajan di sekolah sambil melihat siswa lain.
Sebagian dari siswa menghabiskan waktu jam istirahat setelah membeli jajan dari warung, siswa lebih memilih duduk-duduk di parkiran bersama teman sambil menunggu bel berbunyi untuk masuk ke kelas.
Kebiasaan aktifitas siswa setelah jajan pada jam istirahat di sekolah ini yang disukai oleh siswa laki-laki, yang mana siswa lebih memilih ke tempat parkiran karena di parkiran tersebut tempat parkirannya sejuk dan membuat siswa lebih nyaman berada di parkiran. Ini merupaka aktifitas siswa setelah jajan pada jam istirahat di sekolah yang sering dilakukan bersama teman setelah siswa membeli jajan dari warung.
5. Di Teras Kelas
Jam istirahat merupakan waktu untuk siswa beristirahat setelah belajar berjam-jam di dalam kelas, jadi di jam istirahat siswa bisa membeli makanan di warung dengan sesuka hati. Kebiasaan siswa setelah jajan di sekolah pada jam istirahat yaitu setelah membeli jajan dari warung sebagian siswa ada yang
duduk-duduk di teras bersama teman-teman sambil bercanda gurau dan menunggu waktu bel masuk untuk belajar selajutnya. Kebiasaan siswa setelah jajan dari warung ini memang sering dilakukan di waktu jam istirahat, dimana siswa pada berada di teras bersama temannya kadang kala ada yang ngerumpi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai kebiasaan siswa setelah jajan di sekolah pada jam istirahat (kasus: siswa kelas VII SMPN 2 Kinali Kabupaten Pasaman Barat) terdapat adanya hal-hal yang menjadi alasan dan tujuan siswa terhadap aktifitas siswa setelah jajan pada jam istirahat di sekolah. Hal tersebut meliputi aktifitas masih tetap berada di warung, pergi ke kelas, pergi ke perpustakaan, duduk di parkiran, dan di teras kelas. Dengan demikian, dengan adanya berbagai cara yang dilakukan oleh siswa ketika jam istirahat, itu merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa pada saat jam istirahat berlangsung menjelang jam belajar dimulai.
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif...Jakarta: RajaGrafi ndo Persada
Asmawarti (2013). Faktor-Faktor Pendorong Kebiasaan Jajan Siswa SMPN 13 Sijunjung Kabupaten Sijunjung. Padang:
UNP.
Bungin, Burhan. 2011. Metode Penelitian Kualitatif.(Komunik asi Ekonomi dan Kebijakan Publik Serta Ilmu Sosial Lainya). Jakarta: Kencana Devi, Nirmala. 2012. Gizi Anak
Sekolah. Jakarta: Kompas.
Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara
Hermina, dkk (2009).Faktor Faktor
Yang Memengaruhi
Kebiasaan Makan PagiPada Remaja Putri Dl Sekolah Menengah Pertama (SMP), Factors Affecting Habitual Breakfast In Junior High School. PGM: Universitas Indonesia.
Ritzer, George. 2009. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali Press.