PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Salah satu bentuk tindak pidana gabungan makar makar yang juga menjadi studi kasus penelitian ini. Secara bersama-sama yang juga menjadi studi kasus penelitian ini, laporan makar makar adalah tentang tindak pidana makar yang dilakukan oleh tersangka Mon alias Simon Victor Taihuttu. .. .Alasan penulis memilih topik “Peninjauan kembali persekongkolan pidana terhadap tindak pidana makar” adalah karena sejak Indonesia merdeka, banyak terjadi peristiwa-peristiwa yang mengancam kepentingan umum terhadap keutuhan dan keamanan negara atau daerah, apakah dilakukan oleh satu orang. seseorang atau secara kolektif.
Rumusan Masalah
5 beberapa kali sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal ke hadapan Polda Maluku sambil mengibarkan bendera RMS, yang dapat dikatakan merupakan tindakan makar dan upaya ikut serta dalam tindak pidana. Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Penilaian Peradilan Permufakatan Bersama Terhadap Tindak Pidana Makar Tinggi (Studi Kasus: Putusan Nomor 212/Pid.B/2020/PN.Amb)”.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peninjauan kembali terhadap tindak pidana permufakatan jahat terhadap tindak pidana makar (Studi Kasus: Putusan No.212/Pid.B/2020/PN.Amb)”. 6 b) Untuk mengetahui pertimbangan hukum Majelis Hakim dalam menjatuhkan pidana persekongkolan terhadap tindak pidana makar dalam Surat Keputusan No.212/Pid.B/2020/PN.Amb.
Manfaat Penelitian
Keaslian Penelitian
6 b) Mengetahui pertimbangan hukum majelis hakim dalam menjatuhkan pidana persekongkolan terhadap tindak pidana makar dalam Putusan Nomor 212/Pid.B/2020/PN.Amb. Ketujuh perbedaan tersebut terdapat dalam pembahasan yaitu pada disertasi yang ditulis oleh Alvin Muslim Br. Saimima yang membahas tentang faktor-faktor yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang melakukan tindak pidana makar di wilayah Polda Maluku dan cara mengatasi tindak pidana makar yang dilakukan aparat penegak hukum di wilayah tersebut. wilayah kepolisian daerah maluku. Sedangkan berbeda dengan penelitian yang diajukan penulis, penulis membahas tentang pengaturan persekongkolan jahat terhadap tindak pidana makar dalam hukum pidana dan pertimbangan hukum majelis hakim dalam mengambil keputusan mengenai pengujian hukum permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana tersebut. tindak pidana makar (Studi Kasus: Putusan No.212/Pid.B/2020/PN.Amb), secara normatif penulis ingin mengupas lebih dalam mengenai persekongkolan tindak pidana makar bersama.
Tesis yang ditulis oleh Shafira Saodana Tahun 2021 di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin dengan Judul Tinjauan Hukum Tindak Pidana Pengkhianatan Dalam Kasus Pengibaran Bendera Bintang Kejora (Studi Putusan No.1303/Pid.B/2019/PN.Jkt.Pst ). Skripsi ini mempunyai persamaan dengan kasus yang diangkat oleh penulis yaitu membahas tentang makar, khususnya makar yang menyerang kepentingan umum terhadap keutuhan daerah, sedangkan perbedaannya adalah skripsi yang ditulis oleh Shafira Saodana membahas tentang tindakan pengibaran bendera Bintang Kejora dan membicarakan referendum pemisahan Papua dari NKRI secara unjuk rasa. 1303/Pid.B/2019/PN.Jkt.Pst yang mendakwa pelaku pasal Makar melakukan tindakan mengibarkan bendera Bintang Kejora dan berbicara meminta referendum pemisahan Papua dari NKRI saat aksi unjuk rasa.
Berbeda dengan penelitian yang penulis ajukan, penulis membahas tentang pengaturan pengujian hukum permufakatan jahat terhadap tindak pidana makar dalam KUHP dan pertimbangan hukum yang dilakukan majelis hakim dalam mengambil keputusan mengenai peninjauan kembali pidana. konspirasi. terhadap tindak pidana makar (Studi Kasus : Putusan No.212/Pid.B /2020/PN.Amb), secara normatif penulis ingin menyelidiki lebih dalam mengenai Tindak Pidana Persekongkolan Makar Bersama.
Metode Penelitian
Bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian ini adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum mengikat yang terdiri dari norma atau aturan dasar yaitu Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, peraturan perundang-undangan dan yurisprudensi terkait, serta Putusan Pengadilan Negeri Ambon Nomor 211/Pid. B/2020/PN.Amb. Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer seperti teks akademik rancangan undang-undang, hasil penelitian dan pendapat para ahli hukum.
Bahan hukum sekunder yang paling penting adalah buku teks, karena buku teks mencakup prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan-pandangan klasik para sarjana yang berkualifikasi tinggi. 11 Penulis telah menggunakan pendekatan hukum dalam mengumpulkan bahan hukum primer, baik dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, peraturan perundang-undangan dan kasus hukum terkait, maupun dalam putusan pengadilan nomor 211 Ambon. /Pid.B/2020/PN.Amb. Bahan hukum sekunder penulis kumpulkan melalui teks akademik rancangan undang-undang, hasil penelitian dan pendapat para ahli hukum.
Bahan hukum yang diperoleh terdiri atas bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yang dianalisis secara sistematis, faktual dan akurat, kemudian disajikan secara deskriptif yaitu menjelaskan, menggambarkan dan menggambarkan permasalahan yang erat kaitannya dengan penelitian ini.
TINJAUAN PUSTAKA DAN ANALISIS KUALIFIKASI
Tindak Pidana
4 MENA MURIA berteriak berkali-kali sambil mengacungkan tangan kanan yang sudah mengepal dan beberapa saat kemudian ketiga orang tersebut tertangkap basah oleh anggota Polda Maluku yang sedang mogok kerja dan mengamankan Ape alias Abner Litamahuputty bersama Simon Victoor Tauhitu dan Ais alias Johanis Pattiasina beserta barang bukti berupa 1 (satu) buah bendera Royal Thread (RMS), (satu) buah masker kain yang dijahit bendera RMS di bagian depan dan 1 (satu) buah handphone milik Ape alias Abner Litamahuputty. Oleh karena itu telah terdapat tindak pidana permufakatan jahat untuk melakukan makar beserta majelis hakim dalam putusannya yang menyatakan bahwa terdakwa Mon alias Simon Victor Taihuttu terbukti bersalah melakukan tindak pidana permufakatan jahat untuk melakukan makar dengan melakukan atau turut serta melakukan makar. bertindak sesuai dengan ketentuan KUHP Pasal 110 ayat 1 juncto pasal 55 KUHP ayat 1, 1, menangkap Mon alias Simon Victor Taihuttu dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun. Pendekatan kasus merupakan pendekatan yang dilakukan dengan cara mengkaji perkara-perkara yang berkaitan dengan permasalahan yang ada yang telah menjadi putusan hukum yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
Pendekatan perundang-undangan adalah pendekatan yang dilakukan dengan menelaah seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan hukum yang sedang ditangani. Studi kepustakaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan penulis dengan tujuan memperoleh data sekunder dengan cara membaca, mencatat dan mengutip berbagai literatur, peraturan perundang-undangan, majalah, buku, media massa, dan bahan hukum tertulis lainnya yang berkaitan dengan penelitian. yang dilakukan. Suatu perbuatan dapat dikatakan tindak pidana apabila terpenuhi unsur-unsur dan syarat-syarat yang mendukung terjadinya tindak pidana tersebut.
Unsur subyektif merupakan unsur yang melekat pada diri pelaku dan mencakup segala sesuatu yang ada dalam hatinya. Sedangkan unsur obyektif adalah unsur-unsur yang berkaitan dengan keadaan, yaitu dalam keadaan di mana tindakan pelaku akan dilakukan.
Tindak Pidana Makar
Tindak pidana makar yang mengancam kepentingan hukum keselamatan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana tercantum dalam Bab I Buku II KUHP terdiri dari 3 bentuk, 19 yaitu. 16 Menurut Moeljatno dalam KUHP, “pengkhianatan dengan maksud membunuh, atau merampas kemerdekaan atau menghilangkan kesanggupan Presiden atau Wakil Presiden dalam memerintah, diancam dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama penjara sementara selama dua puluh tahun”. Pasal 104 KUHP menjelaskan objeknya adalah kepala negara yaitu presiden atau wakil presiden.
Pasal 107 KUHP menjelaskan bahwa makar dengan maksud untuk menghapuskan atau mengubah bentuk pemerintahan tidak harus dilakukan dengan cara kekerasan, tetapi cukup dengan perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang ada. KUHP merupakan WvS Belanda yang dianut oleh pemerintah Indonesia, sehingga otomatis kata-kata makar tadi di WvS juga digunakan oleh pemerintah Indonesia. 19 Pada tahap kedua, instrumen hukum yang digunakan pemerintah adalah Undang-undang Nomor 20 Tahun 1946 tentang Pemenjaraan.
Selain itu, fase keempat memunculkan wacana instrumen hukum baru pengganti UUPKS yang dianggap sebagai salah satu bentuk pengaturan tindak pidana makar di era sekarang ini, yaitu RUU Keamanan Nasional.
Permufakatan Jahat
Berdasarkan pasal-pasal tersebut dapat dikatakan adanya tindak pidana persekongkolan, tidak hanya satu orang saja yang melakukan perbuatan tersebut melainkan terdiri dari beberapa orang, namun tidak setiap orang yang turut serta dalam terjadinya tindak pidana tersebut dapat dikatakan melakukan tindak pidana tersebut. menjadi peserta tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Untuk menentukan tindak pidana permufakatan jahat perlu dipahami rumusan Pasal dan 108 KUHP. Sianturi mengatakan, “Yang dimaksud dengan makar tidak diatur dalam KUHP.
Sedangkan Pasal 87 KUHP mengatur kapan dapat dikatakan makar tingkat tinggi.” 27 Dalam Pasal 87 KUHP hanya memberikan keterangan bahwa makar seharusnya ada apabila memang ada tujuan makar. dari mulainya pemberlakuan, seperti pada Pasal 53. Berdasarkan Pasal 104 KUHP, syarat pemidanaan adalah harus ada permulaan pemberlakuan, seperti dalam Pasal 87 KUHP. KUHP yang menyatakan bahwa makar adalah perbuatan apabila disengaja. Hasilnya, terbukti pelaksanaannya sudah dimulai sebagaimana diatur dalam Pasal 53 KUHP. Pasal 88 bis KUHP menyebutkan penggulingan pemerintahan bertujuan untuk menghapuskan atau mengubah bentuk pemerintahan menurut konstitusi secara tidak sah.
Menurut Wirjono, pengertian penghapusan atau penghancuran bentuk pemerintahan berdasarkan UUD, yaitu penghapusan seluruh bentuk pemerintahan menurut undang-undang dan penggantiannya dengan bentuk pemerintahan.
Analisis kualifikasi permufakatan jahat terhadap tindak pidana makar
Dari uraian pasal-pasal terkait tindak pidana makar tinggi dalam KUHP, terlihat jelas bahwa pengaturan tindak pidana makar tinggi mempunyai beberapa jenis, yang berbeda-beda tergantung pada perbuatan dan subjek serta objeknya. Pasal 107 KUHP mengacu pada makar tingkat tinggi dengan tujuan untuk menggulingkan pemerintah, dan dalam KUHP sendiri pengertian penggulingan pemerintah terdapat pada pasal 88 bis yaitu penggulingan pemerintah yaitu penghapusan atau melawan hukum. perubahan bentuk pemerintahan sesuai dengan undang-undang. Ada pembicaraan mengenai kesengajaan perbuatan itu apabila kesengajaan itu sudah jelas sejak awal pelaksanaannya, sebagaimana diatur dalam Pasal 53.”
Pasal 88 sebagaimana disebutkan di atas menjelaskan tentang persekongkolan jahat dan syarat-syarat terciptanya persekongkolan jahat, yaitu persekongkolan jahat apabila dua orang atau lebih sepakat untuk melakukan suatu tindak pidana. Mengetahui adanya persekongkolan dalam tindak pidana makar penting dilakukan sejak awal agar tindak pidana tersebut dapat dibasmi atau dicegah pada saat masih dalam tahap perencanaan, sehingga dapat dibasmi sebelum dilakukan. 38 Dalam hal tindak pidana makar tingkat tinggi, dapat dikatakan bahwa penghasutan hanya terjadi apabila dilakukan di muka umum atau
Berdasarkan uraian pasal-pasal tersebut, penulis berpendapat bahwa suatu tindak pidana dikatakan terjadi apabila ada kesengajaan, pelaksanaannya dimulai dan pelaksanaannya selesai, bukan semata-mata karena kemauannya sebagaimana diatur dalam Pasal 53. .
Jenis-jenis putusan
Pertimbangan Hukum Hakim dalam Menjatuhkan Pidana
Analisis pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan pidana
PENUTUP
Kesimpulan
Saran