BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tindak Pidana Narkotika Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2009.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan Narkotika yang ada dalam lampiran UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika.
Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika disahkan pada tanggal 12 Oktober 2009 di Jakarta oleh Presiden Doktor Haji Susilo Bambang Yudhoyono. UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika diundangkan Menkumham Andi Mattalatta pada tanggal 12 Oktober 2009 di Jakarta. Agar setiap orang mengetahuinya, Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 143. Penjelasan Atas UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika ditempatkan pada Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5062.
Pengertian tindak pidana narkotika dan psikotropika, tidak kita ketemukan dalam Undang-Undang narkotika dan Undang-Undang psikotropika, baik Undang-Undang yang berlaku sekarang yaitu Undang- Uundang Nomor 22 Tahun 1997 tentang narkotika dan Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1997 tentang psikotropika, maupun Undang-Undang yang berlaku sebelumnya, seperti stb, 1927. No. 278 jo No. 536 tentang VerDoovende Middelen Ordonantie dan Undang-Undang Nomor 9 tahun 1976 tentang Narkotika.
Undang-undang narkotika dan psikotropika tidak membahas mengenai pengertian tindak pidana narkotika dan psikotropika, namun atas dasar penegrtian dan penejlasan tentang tindak pidana di atas, akan membantu dalam memberikan pengertian tentang tindak pidana narkotika dan psikotropika yang tentu saja tetap mengacu pada ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang PSikotropika.
Untuk mempermudah pemahaman atas pengertian tentang tindak pidana narkotika dan psikotropika maka terlebih dahulu akan dijelaskan perbedaan istilah hukuman dan pidana. Dalam sistem hukum, bahwa hukum atau pidana yang dijatuhkan adalah menyangkut tentang perbuatan – perbuatan apa yang diancam pidana, haruslah terlebih dahulu telah tercantum dalam Undang-Undang Hukum Pidana, jika tidak ada Undang-undang yang mengatur, maka pidana tidak dapat dijatuhkan.
Bab I pasal 1 ayat (1) KUHP ada asas yang disebut “ Nullum Delicttum Nulla Poena Sine Praevia Lege Poenale”, yang pada intinya menyatakan bahwa tiada sutau perbuatan dapat dipidana kecuali sudah ada ketentuan Undang – undang yang mengatur sebelumnya. Jadi disinilah letak perbedaan istilah hukum dan pidana. Artinya adalah bahwa pidana harus berdasarkan ketentuan Undang-undang, sedangkan hukuman lebih luas pengertiannya.
Guna memahami lebih jauh tentang, pidana, hukum dan hukum pidana maka perlu dicermati definisi yang dikemukakan oleh para ahli hukum, diantaranya adalah:
1. Pendapat Sudarto, tentang pidana, beliau menyatakan pidana adalah penderitaan yang sengaja di bebankan kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat – syarat tertentu itu1.40
2. Simorangkir, merumuskan definisi hukum, sebagai peraturan – peraturan yang bersifat memaksa yang menentukan tingkah laku mausia dalam lingkungan masyarakat, yang dibuat oleh badan – badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan – peraturan tadi berakibat diambilnya tindakan, yaitu dengan hukuman yang tertentu2.
3. Chaerudin, memberikan deginisi hukum pidana yaitu sebagai berikut;
a. Hukum pidana adalah hukum sansi, denisi ini diberikan berdasarkan ciri yang melekat pada hukum pidana yang membedakan dengan lapangan hukum lain.
b. Hukum pidana adalah keseluruhan aturan ketentuan hukum mengenai perbuatanper-buatan yang dapat dihukum.
c. Hukum pidana adalah keseluruhan aturan mengenai :
1) Perbuatan yang dilarang yang disertai ancaman berupa pidana bagi pelanggannya.
2) Dalam keadaan apa terhadap pelanggar dapat dijatuhi hukuman
1 Sudarto, Hukum Pidana, Bandung: Alumni, 1975, hal. 7.
2 Simorangkir, Pelajaran Hukum Indonesia, Gunung Agung, Jakarta, 1962, hal. 6.
3) Bagaimana cara penerapan pidana terhadap pelakunya3.42
Definisi tersebut di atas, dapat dicermati bahwa hukum pidana dapat dilihat melalui pendekatan dua unsur, yaitu norma dan sanksi. Selain itu, antara hukum dan pidana juga mempunyai persamaan, keduanya berlatar belakang tata nilai (value) seperti ketentuan yang membolehkan dan larangan berbuat sesuatu dan seterusnya. Dengan demikian norma dan sanksi sama – sama merujuk kepada tata nilai, seperti norma dalam kehidupan kelompok manusia ada ketentuan yang harus di taati dalam pergaulan yang menjamin ketertiban hukum dalam masyarakat. Sedangkan sanksi mengandung arti suatu ancaman pidana agar norma yang dianggap suatu nilai dapat di taati.
Pidana itu berkaitan erat dengan hukum pidana. Dan hukum pidana merupakan suatu bagian dari tata hukum, karena sifatnya yang mengandungsanksi. Oleh karena itu, seorang yang dijatuhi pidana ialah orang yang bersalah melanggar suatu peraturan hukum pidana atau melakukan tindak pidana atau tindak kejahatan. Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menentukan beberapa tindak pidana narkotika, yakni dalam Pasal 111 sampai Pasal 148 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika ditentukan bahwa pidana yang dapat dijatuhkan berupa pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan dan pidana denda. Pidana juga dapat dijatuhkan pada
3Chaerudin, Materi Pokok Asas-asas Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Islam As Syafiiyah, 1996,hal. 1.
korporasi yakni berupa pencabutan izin usaha; dan/atau. pencabutan status badan hukum.
Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika ini membentuk sebuah badan nasional, yaitu BNN, Badan Narkotika Nasional, sebagaimana Undang-Undang lainnya dalam rezim saat itu Narkotika merupakan zat atau obat yang sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan penyakit tertentu. Namun, jika disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. Hal ini akan lebih merugikan jika disertai dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika yang dapat mengakibatkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya akan dapat melemahkan ketahanan nasional.
Untuk lebih mengefektifkan pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika, diatur mengenai penguatan kelembagaan yang sudah ada yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN). BNN tersebut didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2007 tentang Badan Narkotika Nasional, Badan Narkotika Provinsi, dan Badan Narkotika Kabupaten/Kota. BNN tersebut merupakan lembaga non struktural yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden, yang hanya mempunyai tugas dan fungsi melakukan koordinasi. Dalam Undang-Undang ini, BNN tersebut ditingkatkan menjadi lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK) dan diperkuat kewenangannya
untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan. BNN berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden. Selain itu, BNN juga mempunyai perwakilan di daerah provinsi dan kabupaten/kota sebagai instansi vertikal, yakni BNN provinsi dan BNN kabupaten/kota.
UU 35 tahun 2009 tentang Narkotika memiliki tujuan untuk :
1. menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi;
2. mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan Narkotika;
3. memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan 4. menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi Penyalah
Guna dan pecandu Narkotika.
Pasal 153 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika menyatakan bahwa setelah UU 35/2009 tentang Narkotika berlaku maka:
a. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671)
b. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3698); dan
c. Lampiran mengenai jenis Psikotropika Golongan I dan Golongan II sebagaimana tercantum dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671) yang telah dipindahkan menjadi Narkotika Golongan I menurut Undang-Undang ini,
Pertimbangan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika adalah :
bahwa untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagai salah satu modal pembangunan nasional perlu dipelihara dan ditingkatkan secara terus-menerus, termasuk derajat kesehatannya;
bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan sumber daya manusia Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat perlu dilakukan upaya peningkatan di bidang pengobatan dan pelayanan kesehatan, antara lain dengan mengusahakan ketersediaan Narkotika jenis tertentu yang sangat dibutuhkan sebagai obat serta melakukan pencegahan dan pemberantasan bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;
bahwa Narkotika di satu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila disalahgunakan atau digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan saksama;
bahwa mengimpor, mengekspor, memproduksi, menanam, menyimpan, mengedarkan, dan/atau menggunakan Narkotika tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat dan saksama serta bertentangan dengan peraturan perundang-undangan merupakan tindak pidana Narkotika karena sangat merugikan dan merupakan bahaya yang sangat besar bagi kehidupan manusia, masyarakat, bangsa, dan negara serta ketahanan nasional Indonesia;
bahwa tindak pidana Narkotika telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan menggunakan modus operandi yang tinggi, teknologi canggih, didukung oleh jaringan organisasi yang luas, dan sudah banyak menimbulkan korban, terutama di kalangan generasi muda bangsa yang sangat membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara sehingga Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan situasi dan kondisi yang berkembang untuk menanggulangi dan memberantas tindak pidana tersebut;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e, perlu membentuk Undang-Undang tentang Narkotika;
Dasar hukum Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika adalah:
1. Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi Tunggal Narkotika 1961 beserta Protokol Tahun 1972 yang Mengubahnya
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3085);
3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotropic Substances, 1988 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika, 1988) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3673);
B. Bentuk Penerapan Double Track System Bagi Pelaku Tindak Pidana Narkotika.
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukantanaman, baik sintetis maupun scmisintctis, yang dapat mcnyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan pada era globalisasi ini masyarakat lambat laun berkembang, dimana perkembangan itu selalu dikuti protes penyesuaian diri yang kadang-kadang proses tersebut terjadi secara tidak seimbang. Dengan kata lain, pelantan terhadap norma- norma tersebut semakin sering terjadi dan kejahatan semakin bertambah, baik jenis maupun bentuk polanya semakin kompleks. Perkembangan masyarakat itu disebabkan karena ilmu pcngetahuan dan pola pikir masyarakat yang semakin maju. Masyarakat berusaha mcngadakan pembaharuan-pembaharuan di segala bidang.
Namun kemajuan teknologi tidak selalu berdampak positif, bahkan ada kalanya berdampak negatif. Maksudnya adalah dengan kemajuan teknologi juga ada peningkatan masalah kejahatan dengan menggunakan modus operandi yang canggih. Hal tantangan bagi aparat penegak hukum untuk mampu menciptakan penangulangannya, khususnya dalam kasus narkotika dan obat- obatan teriarang. Salah satu yang menjadi pemicu terhadap perubahan hukum pidana adalah kemajuan teknologi dan infonnasi 4
Akhir-akhir ini kejahatan narkotika dan obat-obatan terlarang telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan teknologi yang canggih, aparat penegak hukum di harapkan mampu mencegah dan menanggulangi kejahatan tersebut guna meningkatkan moralitas dan kuautas sumber daya manusia dt Indonesia khususnya bagi generasi penerus bangsa. Di antara aparat penegak hukum yang juga mcmpunyai pcran penung terhadap adanya kasus tindak pidana narkotika ialah "Penyidik", dalam hal ini penjndik POLRI dan penyidik BNN (Badan Narkotika Nasional), dimana pcn)- idik diharapkan mampu membantu proses penyelesaian terhadap kasus pelanggaran dndak pidana narkotika.
Perkembangan kualitas tindak pidana narkoba tersebut sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi kehidupan umat manusia. Meskipun Narkoba sangat bermanfaat dan diperlukan untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan, namun apabila disalahgunakan atau digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan, terlebih jika disertai dengan peredaran narkoba secara gelap akan
=
menimbulkan akibat yang sangat merugikan perorangan maupun masyarakat khususnya generasi muda, bahkan dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa.Penyalahgunaan narkoba di Indonesia telah sampai pada titik yang menghawatirkan.
Double track sistem bagi penyalahguna narkotika yang sebaiknya dilakukan yaitu pemberian sanksi pidana yang berat ditambah dengan pemberian sanksi tindakan yang terpadu dan terawasi sampai pelaku benar- benar sembuh. Kebijakan hukum pidana di masa yang akan datang terhadap pelaku penyalahgunaan narkotika menurut perspektif KUHP dalam sistem pemidanaannya juga menganut sistem dua jalur (double track system), hal ini tercantum dalam Pasal 10 KUHP yang memuat sanksi yang terdiri dari pidana pokok dan pidana tambahan.
Dalam Pasal 10 KUHP yang dimaksud dengan dua jalur pemidanaan yaitu selain pelaku tindak pidana dikenakan jenis sanksi pidana pokok dapat dikenakan juga jenis sanksi pidana tambahan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Kemudian selain Pasal 10 tersebut, terdapat juga ketentuan Pasal 44 KUHP yang memuat sanksi tindakan berupa perawatan di rumah sakit jiwa bagi orang yang tidak mampu bertanggungjawab atas tindak pidana yang dilakukan karena terganggu jiwa. Namun dalam Pasal 44 KUHP tersebut, sanksi tindakan hanya diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu bertanggung jawab dan anak di bawah umur. Kemudian dalam pembeharuan hukum pidana sebagaimana diwujudkan dalam Rancangan KUHP juga menganut konsep double track system.
Hal tersebut dalam stelsel pemidanaannya secara jelas telah adanya sanksi tindakan dalam ketentuan pasalnya. berkaitan dengan penetapan tindakan sebagai bagian dari sistem pemidanaan. Tindakan yang dikenakan bagi pelaku harus memenuhi beberapa ketentuan dalam Pasal 40 dan Pasal 41 RKUHP.
Adapun Jenis-jenis tindakan yang dikenakan kepada pelaku berupa : a) Perawatan di rumah sakit jiwa,
b) Penyerahan kepada pemerintah; atau c) Penyerahan kepada seseorang.
Kemudian tindakan yang dapat dikenakan bersama-sama dengan pidana pokok terdiri atas :
a) Pencabutan surat izin mengemudi,
b) Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana, c) Perbaikan akibat tindak pidana, d) Latihan kerja,
e) Rehabilitasi; dan/atau f) Perawatan di lembaga.
Selain KUHP dan RKUHP terdapat konsep double track system, begitu juga dalam Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika ternyata undang-undang tersebut menganut konsep double track system dalam stelsel sanksinya. Hal tersebut diketahui karena dalam undang-undang narkotika mengatur dua sanksi sekaligus yaitu sanksi pidana dan sanksi tindakan di dalamnya. Sanksi Pidana untuk tindak pidana narkotika diatur dalam Pasal 111 sampai dengan Pasal 144 dan 147 UU Narkotika yang meliputi pidana mati,
pidana penjara, pidana kurungan dan pidana denda. Sedangkan sanksi tindakan dalam UU Narkotika yaitu Rehabilitasi yang diatur dalam Bab IX Pasal 53 sampai dengan Pasal 56 UU Narkotika.
Bentuk penerapan Double Track system dalam sistem pemidanaan, yaitu penerapan sanksi pidana yang dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana narkotika sebagai self victimizing victims adalah dalam bentuk menjalani masa hukuman dalam penjara, sedangkan sanksi tindakan yang diberikan kepada pelaku tindak pidana narkotika sebagai korban adalah berupa pengobatan dan/atau perawatan yang diselenggarakan dalam bentuk fasilitas rehabilitasi.
Sistim pelaksanaannya adalah masa pengobatan dan/atau perawatan dihitung sebagai masa menjalani hukuman
Pengaturan tentang penyalahgunaan Narkotika telah dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009. Penyalahgunaan Narkotika di Indonesia ternyata tidak saja dilakukan oleh orang dewasa namun juga dilakukan oleh anak-anak. Penyalahgunaan Narkotika yang dilakukan oleh anak semakin tahun semakin meningkat. Penyalahgunaan Narkotika merupakan kejahatan yang mempunyai dampak sosial yang luas dan kompleks.
Penjatuhan pidana kepada anak akan menimbulkan trauma yang berkepanjangan kepada anak sehingga berakibat negatif pada anak dalam perkembangan kehidupan5
5Ramdan Kurniawan. 2015. Kontroversi Tindak Pidana Narkotika Anak Dituinjau Dari undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak.
Sanksi Pidana Terhadap Narkotika Di Indonesia telah diatur peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penyalahgunaan Narkotika diantaranya peraturan perundang-undangan tersebut adalah:
a. Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentangPsikotropika;
b. Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika ; c. Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
Narkotika pada hakekatnya merupakan permasalahan yang berkaitan dengan persoalan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yaitu keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secarasosial dan ekonomis.
Apabila Narkotika disalahgunakan dapat menimbulkan penderitaan bagi pemakai dan lingkungan masyarakatnya serta sekaligus akan menjadi beban sosial. Adapun yang dimaksud dengan penyalahgunaan adalah penggunaan secara melanggar hukum, atau penggunaan diluar tujuan pengobatan atau tanpa pengawasan dokter yang berwenang atau penggunaan diluar tujuan ilmiah.Narkotika itu sendiri diatur dalam UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika yaitu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Contoh : Shabu, Ganja, Heroin / putauw, Morphine.Menyadari arti pentingnya Peran kesehatan dalam upaya memajukan kesejahteraan umum bagi bangsa Indonesia maka perhatian terhadap
pembangunan kesehatan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan yang pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya pembangunan seluruh masyarakat Indonesia (Undang-undang Kesehatan No.
36 Tahun 2009). Selanjutnya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur yang merata materiil spiritual maka dipandang perlu untuk dibentuk adanya
C. Penerapan Double Track System Bagi Pelaku Tindak Pidana Narkotika Dalam Perspektif Tujuan Pemidanaan
Double track system merupakan sistem dua jalur mengenai sanksi dalam hukum pidana, yakni jenis sanksi pidana dari satu pihak dan jenis sanksi tindakan dipihak lain. Keduanya bersumber dari ide yang berbeda. Sanksi pidana bersumber pada ide dasar : “mengapa diadakan pemidanaan”.
Sedangkan sanksi tindakan bertolak dari ide dasar : “untuk apa diadakan pemidanaan itu”. Dengan kata lain, sanksi pidana sesungguhnya bersifat reaktif terhadap suatu perbuatan, sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat antisipatif terhadap pelaku perbuatan tersebut.
Fokus sanksi pidana ditujukan pada perbuatan salah yang telah dilakukan seseorang melalui pengenaan penderitaan agar yang bersangkutan menjadi jera. Fokus sanksi tindakan lebih terarah pada upaya memberi pertolongan pada pelaku agar ia berubah. Jelaslah, bahwa sanksi pidana lebih menekankan unsur pembalasan. Ia merupakan penderitaan yang sengaja dibebankan kepada seorang pelanggar. Sedangkan sanksi tindakan bersumber
dari ide dasar perlindungan masyarakat dan pembinaan atau perawatan si pelaku. Seperti dikatakan J.E. Jonkers, sanksi pidana dititik beratkan pada pidana yang diterapkan untuk kejahatan yang dilakukan, sedangkan sanksi tindakan mempunyai tujuan yang bersifat sosial.6
Penyalahgunaan narkotika dalam hal ini perlu dilakukan upaya pencegahan dan mengurangi tindak kejahatan penyalahgunaan narkotika tersebut, yang tidak terlepas dari peranan hakim sebagai salah satu aparat penegak hukum yang tugasnya mengadili tersangka atau terdakwa. Keputusan hakim dalam mengambil suatu keputusan harus mempunyai pertimbangan yang bijak agar putusan tersebut berdasarkan pada asas keadilan. Hakim memiliki kebebasan untuk menentukan jenis pidana dan tinggi rendahnya pidana, hakim mempunyai kebebasan untuk bergerak pada batas minimum dan maksimum sanksi pidana yang diatur dalam undang-undang untuk tiap-tiap tindak pidana. Hal ini berarti bahwa masalah pemidanaan sepenuhnya merupakan kekuasaan dari hakim.7
Perihal menjatuhkan putusan terhadap tindak pidana narkotika, hakim harus mengetahui dan menyadari apa makna pemidanaan yang diberikan dan ia harus juga mengetahui serta menyadari apa yang hendak dicapainya dengan mengenakan pidana tertentu kepada pelaku tindak pidana penyalahgunaan narkotika. Oleh karena itu, keputusan hakim tidak boleh terlepas dari serangkaian kebijakan kriminal yang akan mempengaruhi tahap berikutnya.8
6J.E Jonkers, 1987, Buku Pedoman Pidana Hindia Belanda, Bina Aksara, Jakarta, h. 350.
7 Sudarto, 1986, Kapita Selekta Hukum Pidana, Alumni, Bandung, h. 78.
8Ibidhal 100
Menyikapi hal tersebut Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Sekretariat Mahkamah Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Jaksa Agung, Kepala Kepolisian Republik Indonesia menyelenggarakan penandatanganan peraturan bersama terkait penanganan pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika ke dalam lembaga rehabilitasi. Hukuman bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika disepakati berupa pidana rehabilitasi. Paradigma baru ini selaras dengan konvensi-konvensi internasional tentang narkotika yang menekankan penanganan narkotika dengan pendekatan seimbang antara pendekatan demand 1 J.E Jonkers, 1987 (pencegahan, pemberdayaan, rehabilitasi) dan supply (pemberantasan jaringan peredaran gelap) serta memberikan alternatif penghukuman rehabilitasi bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika.
Dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 terdapat pembedaan sanksi pidana bagi para pengedar dan pengguna narkotika.9 , pada dasarnya pengedar narkotika dalam terminologis hukum dikatagorikan sebagai pelaku (Daders) akan tetapi pengguna dapat dikatagorikan baik sebagai pelaku dan/atau korban. Dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, pelaku penyalahguna narkotika terbagi atas dua katagori yaitu pelaku sebagai “pengedar” dan/atau “pemakai”, pada Undang-undang Narkotika secara eksplisit tidak dijelaskan pengertian “pengedar narkotika”, secara implisit dan sempit dapat dikatakan bahwa pengedar narkotika adalah
9 Tim Redaksi Pustaka Yustisia,2012. Perundangan Narkotrik,penerbit Pustaka Yustisia
orang yang melakukan kegiatan penyaluran dan penyerahan narkotika, akan tetapi secara luas pengertian “pengedar narkotika” tersebut juga dapat dilakukan dan berorientasi pada dimensi penjual, pembeli untuk diedarkan, mengangkut, menyimpan, menguasai, menyediakan, melakukan kegiatan mengeksport dan mengimport narkotika.
Dalam ketentuan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, “pengedar” diatur dalam Pasal 111 sampai dengan Pasal 125.
Begitu pula terhadap pengguna narkotika, hakikatnya pengguna adalah orang yang menggunakan zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. Hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang- undang Nomor 35 Tahun 2009.
Dalam ketentuan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika pengguna diatur dalam Pasal 116, Pasal 121, Pasal 126, Pasal 127, Pasal 128, Pasal 134. Terlupakannya korban tindak pidana tidak dapat dilepaskan dengan hukum pidana di Indonesia yang bersumber dari hukum pidana neo-klasik yang notabene melahirkan hukum pidana yang bersifat
“Daad Dader Straftrecht” yakni hukum pidana yang berorientasi pada perbuatan pelaku.
Perhatian terhadap pelaku tindak pidana yang memperoleh perlindungan yang berlebihan, dalam arti tidak seimbang dengan kepentingan korban, merupakan suatu gambaran timpang dari akibat dalam Hukum Acara
Pidana di Indonesia, lebih mengedepankan proses hukum yang adil” atau yang lebih dikenal sebagai “Due Process Model”. Pecandu narkotika merupakan
“self Victimizing victims” yaitu mereka yang menjadi korban karena kejahatan yang dilakukannya sendiri. Karena pecandu narkotika menderita sindroma ketergantungan akibat dari penyalahgunaan narkotika yang dilakukannya sendiri. Namun demikian korban penyalahgunaan narkotika itu sepatutnya mendapatkan perlindungan agar korban tersebut dapat menjadi baik.
Double track system merupakan sistim dua jalur mengenai sanksi dalam hukum pidana, yakni jenis sanksi pidana dan sanksi tindakan. Fokus sanksi pidana ditujukan pada perbuatan salah yang telah dilakukan seseorang melalui pengenaan penderitaan agar yang bersangkutan menjadi jera. Fokus sanksi tindakan lebih terarah pada upaya pemberian pertolongan pada pelaku agar ia berubah. Jelaslah bahwa sanksi pidana lebih menekankan pada pembalasan sedangkan sanksi tindakan bersumber dari ide dasar perlindungan masyarakat dan pembinaan atau perawatan si pelaku.
Berdasarkan hal tersebut double track system dalam perumusan sanksi terhadap tindak pidana penyalahgunaan narkotika adalah paling tepat, karena berdasarkan victimologi bahwa pecandu narkotika adalah sebagai self victimizing victims yaitu korban sebagai pelaku. Victimologi tetap menempatkan penyalahgunaan narkotika sebagai korban, meskipun dari tindakan pidana/kejahatan yang dilakukannya sendiri. Pembuktian penyalahguna narkotika yang merupakan korban narkotika sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, merupakan
hal yang sulit, karena harus melihat awal pengguna narkotika menggunakan narkotika dan diperlukan pembuktian bahwa pengguna narkotika ketika menggunakan narkotika dalam kondisi dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan narkotika.
Dalam implementasinya Mahkamah Agung mengeluarkan terobosan dengan mengeluarkan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 Tahun 2010 yang menjadi pegangan pertimbangan Hakim dalam memutus perkara narkotika. Sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, merupakan hal yang sulit karena harus melihat awal pengguna narkotika menggunakan narkotika dan diperlukan pembuktian bahwa pengguna narkotika ketika menggunakan narkotika dalam kondisi dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/atau diancam untuk menggunakan narkotika.
Oleh karena itu maka pecandu narkotika yang juga sebagai korban patut untuk mendapat perlindungan hukum, namun karena pecandu narkotika juga sebagai pelaku tindak pidana/kejahatan maka ia juga harus tetap dihukum.
Oleh karena hal inilah maka dikatakan bahwa double track system dalam perumusan sanksi terhadap tindak pidana penyalahgunaan narkotika adalah paling tepat. Sanksi pidana yang dijatuhkan kepada pecandu narkotika sebagai self victimizing victims adalah dalam bentuk menjalani masa hukuman dalam penjara, sedangkan sanksi tindakan yang diberikan kepada pecandu narkotika sebagai korban adalah berupa pengobatan dan/atau perawatan yang diselenggarakan dalam bentuk fasilitas rehabilitasi. Sistim pelaksanaannya
adalah masa pengobatan dan/atau perawatan dihitung sebagai masa menjalani hukuman
Perkembangan hukum pidana ditengah nuansa pembaruan hukum, mendorong pergeseran orientasi pemidanaan yang lebih menekankan kepada perbaikan pelaku, bukan bertujuan pembalasan yang bercorak kantianisme.
Tetapi, sebagaimana pendapat Gaber dan McAnany, bahwa pidana amatlah penting dan tidak mungkin disingkirkan di tengah hegemoni tindakan (pembinaan/perbaikan pelaku), sebab rehabilitasi yang berlebihan tanpa sanksi pidana merupakan bentuk memanjakan pelaku10.
Pemikiran tersebutlah yang mendorong munculnya gagasan/ide mengenai kesetaraan antara sanksi pidana dan sanksi tindakan,108 yang dikenal dengan istilah double track system. Ide double track ini tidak sepenuhnya memakai satu di antara sanksi pidana dan tindakan, di mana kedua sanksi tersebut ditempatkan secara setara/berimbang. Ide double track ini selaras/sejalan dengan ide pembaruan hukum pidana nasional yang berlandaskan pada ide keseimbangan yang berlandaskan pada filsafat keadilan sosial menurut Pancasila.
Mendasarkan pada filosofi keseimbangan tersebut maka kejahatan dipandang sebagai bentuk gangguan terhadap keseimbangan, keselarasan, dan keserasian (evenwichtstoring) dalam kehidupan masyarakat yang mengakibatkan kerusakan individual maupun masyarakat. Sehingga pemidanaan merupakan reaksi
10 M. Sholehudin, Op-Cit, hal 29
masyarakat yang bertujuan untuk memulihkan kembali rusaknya keseimbangan, keserasian, dan keselearasan sebagai akibat dari suatu tindak pidana11.
Ide double track system yang menjalankan tindakan dan sanksi pidana secara setara merupakan konsep dari hukum pidana modern yang berorientasi kepada daad-daader strafrecht, yang itu serasi pula dengan cita-cita pengejawantahan prinsip monodualistik berupa keseimbangan antara kepentingan pelaku, korban dan masyarakat melalui sarana hukum pidana.
Sanksi pidana dalam double track system merupakan perwujudan perlindungan bagi masyarakat, yang oleh von Feuerbach disebut sebagai prevensi umum12.Sedangkan sanksi tindakan dalam double track system berfungsi sebagai prevensi khusus yaitu agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya dikemudian hari melalui jalan perbaikan pada diri pelaku. Tujuan gagasan double track system tersebut juga tercermin di dalam Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan, yang menggambarkan secara politis maupun secara filosofis mengenai arah tujuan pemidanaan melalui sarana hukum pidana Indonesia yang berpedoman kepada Pancasila sebagai landasan idiil bangsa Indonesia.
Penerapan Double Track System bagi pelaku tindak pidana narkotika dalam perspektif tujuan pemidanaan yaitu sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana narkotika dalam double track system merupakan perwujudan perlindungan bagi masyarakat sebagai prevensi umum.Sedangkan sanksi tindakan dalam double track system berfungsi sebagai prevensi khusus yaitu agar pelaku tindak pidana
11 Priyatno, Dwidja. Sistem Pelaksanaan Pidana Penjara di Indonesia.: PT Refika
Aditama. Bandung, 2006, hal 6
12 Eddy O.S. Hiariej, Prinsip-prinsip Hukum Pidana. Cahaya Atama Pustaka,
Yogjakarta, 2014, hal 33
narkotika tidak mengulangi perbuatannya dikemudian hari melalui jalan perbaikan pada diri pelaku.
Sebagaimana yang sudah diterangkan pada bagian sebelumnya, bahwa double track system merupakan sebuah makanisme pemidanaan yang mengedepankan prinsip kesetaraan/keberimbangan antara sanksi pidana (sebagai upaya menjerakan/prevensi umum) dengan sanksi tindakan (sebagai upaya rehabilitatif pelaku). Selain itu, sanksi pidana (khususnya pemenjaraan) memiliki dampak negatif, tidak terkecuali jika dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana yang memiliki latar belakang homoseksualitas, seperti dampak stigmatisasi dan prisonisasi. Selain itu, perlu diingat kembali bahwa tujuan pemidanaan dalam kerangka pembaruan hukum nasional mendorong pidana lebih ditujukan kepada perbaikan pelaku dan pengayoman masyarakat.