KONSELING
Cindy Asli Pravesti1, Elia Firda Mufidah2, Maghfirotul Lathifah3
1,2,3
Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
Co-Author: [email protected] / 082232008415
Info Artikel
Masuk : 10/01/2023
Revisi : 04/05/2023
Diterima : 14/05/2023 Alamat Jurnal
https://ojs.uniska- bjm.ac.id/index.php/A N-NUR/index
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia disseminated below https://creativecommons.
org/licenses/by/4.0/
Abstract: This study aims to describe the level of academic self-efficacy of students of the Guidance and Counseling Study Program at PGRI Adi Buana University, Surabaya. The research samples were taken randomly in the 2020, 2021 and 2019 batches. This study used a descriptive quantitative approach using a self-efficacy scale. Data analysis used descriptive analysis with the help of SPSS.
The results of the analysis show that the self-efficacy level of students in class 2019 is 93.37, class 2020 is 93.81 and class 2021 is 94.19. Individuals who have high self-efficacy are expected to perform better than individuals who are low, but in some conditions high self-efficacy can reduce effort on a task due to overconfidence, and thus lead to lower performance.
Keywords: self-efficacy; academic; student
PENDAHULUAN
Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling merupakan cikal bakal untuk menjadi guru Bimbingan dan Konseling atau biasanya dikenal dengan istilah konselor. Peran guru bimbingan dan konseling tentunya tidak bisa disepelekan dimana peran guru bimbingan dan konseling yakni mendampingi peserta didik dalam menyelesaikan tugas perkembangannya dan terintegrasi dengan system yang ada di sekolah (Mufidah et al., 2022). Beberapa poin terkait kemampuan dasar atau bekal untuk menjadi guru bimbingan dan konseling yakni dimilikinya kometensi akademik dan kompetensi kepribadian. Kompetensi tersebut diperoleh dari pendalaman materi dan praktek-praktek yang dikuasai dalam proses belajar dalam perkuliahan.
Profesi guru bimbingan dan konseling menuntun adanya sikap untuk mau membantu orang lain. Sikap tersebut mengarah kepada kompetensi kepribadian yang biasanya mengarah kepada kemampuan untuk menampilkan jati diri utuh dan berarti untuk menggerakkan keberhasilan layanan (Putri, 2016). Selain itu, mahasiswa juga dituntut untuk mampu menguasai kompetensi akademik yang merangarah kepada penguasaan konsep dan teori terkait layanan bimbingan dan konseling. Mahasiswa juga dituntut untuk mengembangan soft skillnya guna mendukung aktualisasi diri. Beberapa tuntutan tersebut membutuhkan kemampuan individu dalam mengelola diri untuk menumbuhkan keyakinan agar mampu mencapai tujuan akhir yakni menyelesaikan perkuliahan dengan baik. Kemampuan tersebut biasanya dikenal dengan efikasi diri.
Efikasi diri mahasiswa terkait kemampuannya dalam melaksanakan tugas, mengatur aktivitas belajar sendiri ini merupakan bagian dari aktivitas belajar (Baron & Byrne, 2004).
Lebih lanjut diungkap bahwa efikasi diri penting dalam mencapai keberhasilan tugas dalam kesiapan belajar mandiri (Baron & Byrne, 2004). Keyakinan diri seseorang memberikan peran dalam diri guna mencapai tujuan, tugas, dan tantangan. Hal ini seperti seseorang yang memiliki keyakinan diri belajar tinggi lebih banyak berusaha (motivasi) dalam belajarnya hingga mencapai tujuan.
Skala efikasi diri merupakan salah satu instrumen yang dibutuhkan oleh konselor dalam pelayanan bimbingan dan konseling (Ifdil et al., 2019). Selain itu, informasi yang dikumpulkan dari hasil dapat digunakan dalam memberikan bantuan pribadi dan sosial (Pravesti et al., 2022). Ketika konselor memiliki pemahaman pribadi yang baik tentang mahasiswa, mereka akan mampu memberikan dukungan yang memadai.
Efikasi diri telah dikaitkan dengan ketekunan, keuletan, dan prestasi dalam pengaturan pendidikan (Bandura, 1986; Zimmerman & Schunk, 1989). Sebuah metaanalisis penelitian dalam pengaturan pendidikan menemukan bahwa efikasi diri memiliki hubungan terhadap kinerja akademik (r = 0,38) dan ketekunan (r = 0,34) (Multon et al., 1991). Kontribusi efikasi diri terhadap pencapaian pendidikan didasarkan pada peningkatan penggunaan aktivitas dan strategi kognitif yang spesifik, serta berdampak positif pada keterampilan metakognitif dan kemampuan mengatasi yang lebih luas dan lebih umum.
Mahasiswa yang memiliki efikasi diri tinggi cenderung melakukan usaha, ketekunan, keuletan, dan ketekunan yang gigih (Datu et al., 2017; Kiranida et al., 2022). Efikasi diri mahasiswa biasanya menargetkan nilai tinggi, memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar untuk belajar, aktif bertanya di kelas, suka membaca dan mereview literatur, tidak mudah putus asa, dan menganggap kegagalan sebagai motivasi positif. Sementara itu, mahasiswa dengan efikasi diri yang lebih rendah lebih cenderung merasa malu dan ragu-ragu tentang
kemampuan mereka, menganggap masalah kompleks sebagai ancaman, diam, putus asa, lebih stres, dan tertekan. Selain itu, mahasiswa dengan efikasi diri yang lebih tinggi lebih mampu beradaptasi dengan tantangan dan tekanan hidup.
Bukti bahwa efikasi diri mampu meningkatkan kinerja di bidang kognitif tertentu berkembang dengan baik, dan juga sangat jelas bahwa efikasi diri lebih dari sekadar cerminan kemampuan spesifik konten. Seperti, saat mahasiswa dalam pemecahan masalah matematika, mahasiswa dengan efikasi tinggi ditemukan bertahan lebih lama dan menggunakan strategi pemecahan masalah yang lebih efisien daripada mahasiswa dengan efikasi diri rendah (Bouffard-Bouchard et al., 1991). Hal ini berarti bahwa mahasiswa dalam kondisi umpan balik positif (yaitu, efikasi diri tinggi) menetapkan aspirasi yang lebih tinggi, menunjukkan fleksibilitas strategis yang lebih besar dalam mencari solusi, mencapai kinerja yang lebih tinggi, dan lebih akurat dalam mengevaluasi tingkat kinerjanya.
Efikasi diri berperan untuk mempengaruhi tingkat dari usaha yang dilakukan individu, dari usaha tersebut akan berpengaruh kepada keberhasilan pencapaian tujuan (Mustaqim, 2008). Cara individu memahami dirinya sebagai pribadi juga menjadi wujud keayakinan diri (Sofianti & Mufidah, 2021). Lebih lanjut, keyakinan diri dapat diperoleh baik dalam meningkatkan maupun menurunkan melalui dorongan atau motivasi yang mempengaruhi pada kesiapan belajar dirinya (Wulandari & Pravesti, 2021). Efikasi diri memiliki dua unsur, yakni unsur kemampuan dari individu yang percaya dan yakin terhadap kemampuannya namun kondisi lingkungan sekitar tidak mendukungnya dan individu yang memiliki kemampuan untuk bisa bertahan pada situasi sulit yang terjadi (Ragil et al., 2019). Efikasi diri juga bersumber dari empat hal yang akan saling berpengaruh dalam membentuk efikasi diri yakni dukungan dari pihak lain (verbal persuasion), pengalaman dari kesuksesan orang lain (vicarious experience), pengalaman pada masa lalu (mastery experience), serta kondisi psikologis dan emosi (psychological states and emotional cues) (Holleb, 2016).
Seiring dengan perkembangan penelitian efikasi diri yang mengarahkan pada pengaruh motivasi, kegigihan, dan prestasi (Owen & Froman, 1988). Lebih lanjut, semua hasil
penelitian lebih memfokuskan pada peran efikasi diri. Sehingga, berdasarkan pada fenomena di atas fokus penelitian ini ialah tingkat efikasi diri mahasiswa prodi Bimbingan dan
Konseling di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
METODE
Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif deskriptif. Variable penelitian yakni efikasi diri. Sampel penelitian yakni mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Teknik pengumpulan data menggunakan skala efikasi diri yang dikembangkan oleh peneliti. Efikasi diri yang difokuskan pada penelitian ini yakni efikasi diri akademik. Skala efikasi diri disebarkan pada angkatan 2021, 2020 dan 2019.
Indikator efikasi diri akademik yang digunakan yakni keterbukaan pada situasi social, cara berfikir, dan keterampilan teknis. Ada 33 item dari skala efikasi diri akademik yang digunakan. Indikator yang digunakan berdasarkan pada Owen dan Froman terkait efikasi diri memiliki tiga hal (Owen & Froman, 1988). Tiga indikator tersebut, ialah (1) terbuka, situasi Sosial (misalnya, berpartisipasi dalam diskusi kelas), (2) proses kognitif (misalnya, mendengarkan dengan seksama selama kuliah tentang topik yang sulit), dan (3) keterampilan teknis (misalnya, menggunakan komputer). Kesimpulan yang didaptkan dari tiga indikator ini telah ditemukan bahwa perilaku yang dinilai paling tidak sulit adalah perilaku yang mungkin
paling banyak dialami dan berhasil oleh siswa (contoh: menghadiri kelas secara teratur, melakukan perhitungan matematika sederhana). Sedangkan, perilaku yang dinilai paling sulit adalah siswa jarang mencoba, jarang berhasil, dan jarang mengamati keberhasilan model (contoh: menantang pendapat profesor di kelas, menjawab pertanyaan di kelas besar). Hasil ini sesuai dengan prediksi dari analisis intuitif teori efikasi diri oleh Bandura . Hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptis menggunakan SPSS.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian menunjukkan data penelitian berdistribusi normal yakni > 0,05.
Uji homogenitas diperoleh data bahwa data bersifat homogen > 0,05. Berikut perhitungan yang sudah dilakukan;
Tabel 1. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
AK 19 AK 20 AK21
N 27 27 32
Normal Parametersa,b Mean 93.37.00 93.81 94.19.00
Std. Deviation 11.810 10.411 10.684
Most Extreme Differences Absolute .139 .128 .076
Positive .139 .128 .074
Negative -.103 -.098 -.076
Test Statistic .139 .128 .076
Asymp. Sig. (2-tailed) .196 .200 .200
Tabel 2. Uji Homogenitas
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Skor Efikasi Diri Based on Mean .450 2 83 .639
Based on Median .261 2 83 .771
Based on Median and with adjusted df .261 2 80.304 .771
Dari hasil perhitungan analisis deskriptif N (jumlah responden yang mengisi sebanyak) sebanyak 86, secara umum nilai minimal skala efikasi diri yakni 68 dan nilai maksimal 121.
Berikut hasil analisis yang sudah diolah menggunakan SPSS;
Tabel 3. Hasil Deskriptif Efikasi Diri
N Range Minimum Maximum Mean
Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Error Efikasi Diri
Valid N (listwise)
86 86
53 68 121 93.74 1.040
Std. Deviation Variance Skewness Kurtosis Std. Deviation Statistic Statistic Statistic Std.Error Statistic Statistic Efikasi Diri
Valid N (listwise)
9.647 93.063 .096 .260 .826 .514
Peneliti juga menguji hasil penelitian dengan uji ANOVA dengan hasil tidak terdapat perbedaan efikasi diri mahasisswa > 0,05. Berikut hasil perhitungan yang sudah dilakukan;
Tabel 4. ANOVA Efikasi Diri
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 9.778 2 4.889 .041 .960
Within Groups 9.983.245 83 120.280
Total 9.993.023 85
Peneliti mencoba untuk menganalisis hasil penelitian dengan membaginya menjadi 3 angkatan sesuai dengan responden skala efikasi diri yakni angkatan 2019, 2020, dan 2021.
Tabel 5. Deskripsi Responden
N Mean Std.
Deviation
Std.
Error
95% Confidence
Interval for Mean Minimum Maximum Lower
Bound
Upper Bound
2019 27 93.37 11.810 2.273 88.70 98.04 68 119
2020 27 93.81 10.411 2.004 89.70 97.93 74 121
2021 32 94.19 10.684 1.889 90.34 98.04 68 119
Total 86 93.81 10.843 1.169 91.49 96.14 68 121
Hasil dari analisis deskriptif pada setiap angkatan diperoleh data bahwa angkatan 2019 rata-rata nilai efikasi diri yakni 93,37. Angkatan 2020 rata-rata nlai efikasi diri yakni 93,81 dan angkatan 2021 rata-rata nilai efikasi diri yakni 94,19. Melihat perbandingan hasil tersebut maka efikasi diri yang peling tinggi berada pada mahasiswa bimbingan dan konseling angkatan 2021.
Efikasi diri bersumber dari teori kognitif sosial Bandura. Teori ini membahas terkait keyakninan yang ada dalam diri individu dalam mengerjakan tugas berdasarkan kepercayaan atau keyakinan dirinya (Lianto, 2019). Efikasi diri menjadi hal yang penting dimiliki individu. Efikasi diri akan berpengaruh kepada penyesuaian psikologis, masalah psikologis, kesehatan fisik serta strategi perubahan perilaku yang dimiliki oleh individu. Efikasi diri mendorong individu dalam bentuk keyakinan untuk mampu bertindak dalam mencapai keinginannya (Maddux, 2009).
Efikasi diri mengarahkan individu untuk memiliki kapasitas dalam menggunakan cara untuk mencapai apa yang diinginkan. Sementara individu yang memiliki efikasi diri rendah menganggap dirinya tidak berdaya dan tidak memiliki efikasi untuk bertindak. Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi juga memiliki perasaan yang sejahtera dan harga diri yang tinggi. Individu tersebut mampu untuk mengambil inisiatif dalam bertindak sesuai dengan apa yang diperlukan. Selain itu juga individu yang memiliki efikasi diri tinggi akan lebih sedikit menghasilkan stress dalam dirinya (Flammer, 2001).
Efikasi diri yang berhubungan dengan keyakinan individu terkait kemampuan kinerjanya dalam hal tertentu memiliki dampak negatif juga. Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi diharapkan tampil lebih baik daripada individu yang rendah, tetapi dalam beberapa kondisi efikasi diri yang tinggi dapat mengurangi upaya pada suatu tugas karena terlalu percaya diri, dan dengan demikian menyebabkan kinerja yang lebih rendah (Gazica &
Spector, 2015).
PENUTUP
Efikasi diri penting dimiliki individu untuk meningkatkan keberhasilan dalam mencapai tujuan melalui keyakinan diri dalam bertindak. Efikasi diri mahasiswa prodi Bimbingan dan Konseling pada angkatan 2019 sebesar 93,37, kemudian angkatan 2020 sebesar 93,81 dan angkatan 2021 sebesar 94,19. Terlihat efikasi diri mahasiswa mulai menurun sejalan dengan lama mahasiswa menempuh perkuliahan. Namun hasilnya masih tergolong cukup tinggi.
Melihat hal tersebut tentunya diharapkan ada upaya untuk tetap mempertahankan efikasi diri mahasiswa prodi bimbingan dan konseling agar tetap tinggi.
REFERENSI
Bandura, A. (1986). The explanatory and predictive scope of self-efficacy theory. Journal of
Clinical and Social Psychology, 4(3), 359-373.
https://doi.org/https://doi.org/10.1521/jscp.1986.4.3.359 Baron, R. S., & Byrne. (2004). Social Psychology. Erlangga.
Bouffard-Bouchard, T., Parent, S., & Larivée, S. (1991). Influence of self-efficacy on self- regulation and performance among junior and senior high-school age students.
Instructional Journal of Behavioral Development,, 14, 153-164.
https://doi.org/10.1177/016502549101400203
Datu, J. A. D., Yuen, M., & Chen, G. (2017). Grit and Determination: A Review of Literature With Implications for Theory and Research. Journal of Psychologists and
Counsellors in Schools, 27(2), 168-176.
https://doi.org/https://doi.org/10.1017/jgc.2016.2
Flammer, A. (2001). Self-Efficacy. In International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences, April.
Gazica, M. W., & Spector, P. E. (2015). Self-Efficacy. In In Wiley Encyclopedia of Management (pp. 1–2). : John Wiley & Sons, Ltd. .
Holleb, A. J. (2016). Principal Self-Efficacy Beliefs: What Factors Matter? Dissertation submitted to the faculty of the Virginia Polytechnic Institute and State University.
Ifdil, Bariyyah, K., Dewi, A. K., & Rangka, I. B. (2019). The College Academic Self- Efficacy Scale (CASES); An Indonesian Validation to Measure the Self-Efficacy of Students. Jurnal Kajian Bimbingan dan Konseling, 4(4), 115-121.
Kiranida, O., Komalasari, G., & Herdi. (2022). Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Gender sebagai Moderasi terhadap Efikasi Diri dalam Pengambilan Keputusan Karier di SMA Negeri. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia, 8(3), 96-104.
Lianto. (2019). Self-Efficacy: A brief literature review. Jurnal Manajemen Motivasi, 15, 55- 61.
Maddux, J. E. (2009). Self-Efficacy: The Power of Believing You Can. Oxford University Press.
Mufidah, E. F., Pravesti, C. A., & Farid, D. A. M. (2022). Urgensi Efikasi Diri: Tinjauan Teori Bandura. Prosiding Seminar & Lokakarya Nasional Bimbingan dan Konseling 2022, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Multon, K. D., Brown, S. D., & Lent, R. W. (1991). Relation of self- efficacy beliefs to academic outcomes: A meta-analytic investigation. 38(1).
https://doi.org/https://doi.org/10.1037/0022-0167.38.1.30 Mustaqim. (2008). Psikologi Pendidikan. Pustaka Pelajar.
Owen, S. V., & Froman, R. D. (1988). Development of College Academic Self-Efficacy Scale Paper presented at the Annual Meeting of the National Council on Measurement in Education (New Orleans, LA, April 6-8,1988),
Pravesti, C. A., Mufidah, E. F., Farid, D. A. M., & Lathifah, M. (2022). Pentingnya Self- Regulated Learning pada Mahasiswa. Seminar Nasional Hasil Riset dan Pengabdian ke-4,
Putri, A. (2016). Pentingnya Kualitas Pribadi Konselor dalam Konseling untuk Membangun Hubungan Antar Konselor dan Konseli. Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, 1(1).
Ragil, E., Ariyanto, R. D., Ratnawati, V., Ningsih, R., & Valdino, D. R. (2019). Penerapan Teknik Modeling Berbasis Sinema Edukasi untuk Meningkatkan Efikasi Diri Akademik Siswa. Nusantara of Research : Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Universitas Nusantara PGRI Kediri, 6(1), 50-59.
Sofianti, R. P., & Mufidah, E. F. (2021). Efektifitas Pendekatan Soluction-Focused Brief Therapy (SFBT) melalui Teknik Miracle Question dalam Konseling Individu untuk Meningkatkan Konsep Diri Remaja. Ristekdik (Jurnal Bimbingan dan Konseling), 6(1), 96-101.
Wulandari, D. P., & Pravesti, C. A. (2021). Pengembangan Permainan Ular Tangga Keyakinan dalam Peningkatan Efikasi Diri Siswa SMP. Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 11(1). https://doi.org/DOI: 10.25273/counsellia.v11i18882 Zimmerman, B. J., & Schunk, D. H. (1989). Self-Regulated Learning and Academic
Achievement: Theory, Research, and Practice. Springer-Verlag.