Skripsi oleh: Leni Mei Lamdani, NIM berjudul “Review Hukum Ekonomi Syariah Studi Kasus Sistem Karcis Penangkapan Ikan di Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur” telah memenuhi syarat dan telah disetujui untuk diuji. Judul : Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Sistem Karcis Penangkapan Ikan Studi Kasus di Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Terima kasih kepada kedua orang tua, ayah dan ibu saya (Sukardi dan Mariah) serta adik saya Linda Yuliani yang selalu mendoakan dengan tulus, menasehati dan membimbing saya dengan penuh kasih sayang.
Proposal ini berjudul: Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Sistem Karancing (Studi Kasus di Desa Rarang Tengah, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur). Seluruh pengajar yang telah bekerja keras mendidik dan membimbing peneliti dengan penuh keikhlasan dan kesabaran selama menuntut ilmu di UIN Mataram.
SISTEM PEMANCINGAN DENGAN TIKET DI DESA RARANG TENGAH KECAMATAN TERARA KABUPATEN LOMBOK TIMUR 31
Sistem penangkapan ikan kartu adalah jual beli dengan cara memancing, yaitu calon nelayan yang ingin mengikuti kegiatan penangkapan ikan ini harus membayar sejumlah Rp. Fokus yang dikaji dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana sistem penangkapan kartu di Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur? Data sekunder bersumber dari dokumentasi, hasil penelitian terdahulu dan sumber lain yang berkaitan dengan penelitian.Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui diskusi sejawat dan triangulasi.
Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem tilang di desa Rarang Tengah tidak diperbolehkan dikarenakan salah satu syarat dalam jual beli yaitu barang atau benda tidak dapat diantarkan langsung oleh pengelola perikanan ke perikanan dan persyaratan benda adalah. tidak terpenuhi. Oleh karena itu jual beli melalui penangkapan ikan dilarang dalam hukum Islam karena mengandung unsur gharar atau ketidakjelasan di dalamnya yang mengakibatkan keuntungan dan kerugian yang dialami oleh setiap nelayan.
PENDAHULUAN
Nes Jambi Muaro Jambi, penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan bagaimana revisi undang-undang ekonomi Islam tentang penjatahan dalam jual beli ikan di Jl. 16Ye' Nasrullah, “Tanggapan Tokoh Agama terhadap Praktek Penangkapan Ikan di Waduk dengan Sistem Jual Beli Tiket di Desa Montong Gamang Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah”, (Skripsi, UIN Mataram, 2019). 17Sepni Khoiriah, “Revisi syariat Islam tentang sistem ransum dalam jual beli ikan di Perikanan Jl.
Penelitian yang dilakukan oleh Lora Marlinda pada tahun 2021 dengan judul Revisi Hukum Ekonomi Syariah terhadap jual beli ikan kiloan dengan sistem tangkap di Jl. Danau Dendam, Desa Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana tinjauan hukum ekonomi syariah tentang jual beli ikan kilogram dengan sistem penangkapan ikan di Jl.
ﻳﺲ
اﻟْ
Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk menyelidiki atau mencari sebagai bahan informasi tentang sistem penangkapan ikan kartu di Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Metode observasi ini digunakan untuk memperoleh data terkait sistem mancing kartu pada saat praktek atau sistem mancing kartu di Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Adapun hal-hal yang telah diwawancarai penyidik kepada informan tentang bagaimana sistem penangkapan kartu di Desa Rarang Tengah.
Pada bab ini diuraikan tentang data dan temuan peneliti selama proses penelitian yaitu gambaran lokasi penelitian, sistem tilang di Desa Rarang Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. SISTEM TIKET MENANGKAP DI DESA RARANG TENGAH KECAMATAN TERARA KABUPATEN LOMBOK TIMUR A. Paparan Lokasi Penelitian. Terbentuknya desa baru di wilayah Desa Rarang Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur yaitu Desa Rarang Tengah.
Waduk Penggek terletak di Desa Sekamben, Desa Rarang Tengah, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur, dan air waduk dipasok oleh irigasi. Ikan yang ditemukan di Waduk Penggek di Desa Rarang Tengah adalah ikan mujair dan ikan caper. Jika dilihat dari segi subjek, karcis mancing di Desa Rarang Tengah tergolong mampu melakukan tindakan hukum, baik pemancing maupun pengelola waduk sudah dewasa, dewasa dan cerdas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai responden, dapat disimpulkan bahwa praktik penangkapan ikan di Waduk Penggek Desa Rarang Tengah, dalam praktik ini para nelayan mencapai hasil yang berbeda-beda. Kajian hukum ekonomi syariah sistem tilang ikan di Desa Rarang Tengah Kecamatan Terara Kabupaten. Adapun tempat dilakukannya jual beli Ijab Qabul dilakukan langsung oleh pengelola dan nelayan dalam satu tempat yaitu Waduk Pengek Desa Rarang Tengah.
Ijab qabul yang dilakukan dalam praktik penangkapan ikan karcis di Waduk Penggek Desa Rarang Tengah menggunakan akad lisan, meskipun nelayan membeli karcis masuk sebagai tanda sah dari transaksi jual beli yang dilakukan dengan cara mancing dan pembayaran. itu bisa dilakukan di awal atau saat memancing selesai. Badan atau orang yang melakukan kontrak jual beli dalam sistem tilang ikan di Desa Rarang Tengah adalah badan antara penjual dan pembeli yaitu pengelola waduk.
اﻟﺴُّ
ﻗَﺎﺗَ
Mengenai tafsir hadits, barang yang akan dijadikan objek jual beli harus suci karena ini merupakan syarat untuk melakukan jual beli yang sah, oleh karena itu barang seperti jual beli minuman yang memabukkan, bangkai . , babi dan jual beli patung adalah najis dan diharamkan dalam Al-Qur'an. Barang atau barang yang diperjualbelikan dapat dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan, ikan yang dijadikan sebagai barang jual beli karcis mancing di Desa Rarang Tengah dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai lauk makan, ikan juga bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. tubuh manusia. Benda atau barang yang diperjualbelikan harus menjadi milik orang yang mengadakan akad, dimana orang yang mengadakan transaksi jual beli barang itu harus menjadi milik dirinya sendiri, atau penjual harus mendapat izin terlebih dahulu dari pemilik sah barang tersebut. objek untuk membeli dan menjual. sistem penangkapan ikan.
Oleh karena itu, jika pembelian dilakukan oleh orang yang bukan pemiliknya atau tanpa izin pemilik yang sah dari barang tersebut, maka pembelian tersebut batal atau batal demi hukum. Selain itu, barang yang diperjualbelikan harus berada di tangan penjual dan dapat diserahkan, serta barang yang diperjualbelikan harus diketahui jumlah, berat, ukuran dan mutu barang atau objek jual beli. harus diketahui. Maka jual beli yang mengandung unsur ketidakjelasan atau ketidakjelasan hukumnya haram karena termasuk penipuan.
Namun syarat barang yang akan diperdagangkan harus diserahkan belum terpenuhi dan objeknya juga tidak jelas atau tidak diketahui baik jumlah, berat, ukuran dan kualitasnya. Ikan tidak bisa dipasok langsung oleh pengelola waduk, namun nelayan harus melaut terlebih dahulu. Memancing di Waduk Penggek di desa Rarang Tengah harus membayar tiket masuk Rp.
Akan tetapi para pemancing tidak mengetahui ukuran atau ukuran ikan yang akan ditangkapnya, karena ikan yang ada di Waduk Penggek berbeda-beda ukurannya, dan pemancing juga tidak mengetahui berapa jumlah ikan yang akan ditangkapnya, pemancing tidak yakin dimana letak ikannya, karena air keruh. Pemancing hanya dapat memperkirakan jumlah yang tidak diketahui secara pasti, sehingga pemancing dapat untung jika beruntung, tetapi dapat mengalami kerugian. Dimana dalam sistem atau praktek jual beli tersebut jelas dilarang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Musnad Imam Ahmad Bin Hambal sebagai berikut :
رَاﻓِ
Maksudnya: Muhammad bin As Sammak menceritakan kepada kami daripada Yazid bin Abu Ziyad daripada Al Musayyab bin Rafi' daripada Abdullah bin Mas'ud katanya; Rasulullah s.a.w bersabda: "Janganlah kamu membeli ikan di dalam air, kerana itu adalah penipuan." 65. Maksudnya: "Dan ini telah diceritakan kepada kami oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah, ini telah diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Idris dan Yahya bin Sa'id dan Abu Usamah dari Ubaidullah. Dan diriwayatkan dari baris kedua. bahawa Zuhair bin Harb, sedangkan riwayat itu telah diriwayatkan kepada kami daripadanya oleh Yahya.
Dari interpretasi di atas dapat disimpulkan bahwa sistem tilang ikan di Desa Rarang Tengah subjek akad tidak memenuhi unsur ma'qud alaih karena objek yang diperjualbelikan tidak jelas karena pihak pengelola tidak menyerahkan ikan. langsung kepada pembeli atau nelayan, namun nelayan harus melaut terlebih dahulu sehingga menimbulkan unsur gharar atau ketidakpastian karena nelayan tidak mengetahui berapa jumlah, berat, ukuran dan kualitas ikan yang akan diperoleh nelayan. Oleh karena itu, dalam sistem tilang yang diterapkan di Waduk Penggek di Desa Rarang Tengah, dilarang memperdagangkan barang yang tidak diketahui atau tidak jelas letaknya, tanpa memandang jenis, ukuran dan jumlahnya. Selain itu, pada saat melaut, terjadi kecurangan yang dilakukan oleh nelayan lain, ketika ikan yang ditangkap banyak, dan nelayan lain belum mendapatkan ikan, selain itu terkait proses waktu, nelayan yang datang terlambat harus mengikuti aturan yang berlaku. mengatur jam, waktu mancing dihitung sama dengan pemancing lain yang datang tepat waktu, sehingga menimbulkan ketidakadilan bagi pemancing lain, banyak pemancing yang mengeluhkan ketidak adilan waktu, namun pengelola perikanan tidak membuat kebijakan dan keputusan karena berpatokan pada jumlah waktu, sehingga pemancing harus, yang datang terlambat, tetap pada jam yang telah disepakati atau apa yang tertulis di kartu mancing.
PENUTUP
SARAN
Setelah menyelesaikan tugas skripsi ini, penulis mencoba menyampaikan saran-saran yang diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta semua kalangan masyarakat. Pengelola perikanan hendaknya memberikan pemahaman yang lebih kuat kepada seluruh nelayan agar memahami bahwa penangkapan ikan yang berbeda di Waduk Penggek Desa Rarang Tengah bertujuan untuk menambah dana atau khazanah masjid dan memperhatikan sistem akad sesuai revisi KBRI. syariah. hukum ekonomi, seperti nelayan yang membayar sejumlah ikan yang didapat per kg yang diambil hanya dibayar sesuai timbangan. Bagi masyarakat yang melakukan praktek penangkapan ikan agar lebih memperhatikan jual beli yang akan dilakukan, lebih memperhatikan barang atau barang yang akan dijadikan akad, baik bentuk maupun jumlah barangnya agar tidak terjadi kerancuan dalam pembelian dan penjualan.
Sepni Khoiriah, “Tinjauan Hukum Islam Tentang Sistem Jatah Jual Beli Ikan Dalam Penangkapan Ikan di Jl. Ye’ Nasrullah,” Tanggapan Umat Beragama terhadap Praktek Penangkapan Ikan di Embung dengan Sistem Jual Beli Tiket di Desa Montong Gamang Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah, skripsi, UIN Mataram, 2019.