TINJAUAN HUKUM ISLAM TENTANG PENGGUNAAN POHON DI PEDLAND. Studi Kasus di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur). Judul: Revisi Syariat Islam Terhadap Pemanfaatan Pohon di Tanah Gadai (Studi Kasus di Desa Wakan, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur).
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana praktek pemanfaatan pohon pada lahan yang digadaikan di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur. Bagaimana analisis Hukum Islam terhadap pemanfaatan pohon pada tanah yang digadaikan di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur.
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam melakukan praktek gadai dan dapat bermanfaat serta menambah wawasan bagi pemerintah Desa Wakan, serta dapat dijadikan acuan dalam melaksanakan ketentuan hukum gadai syariah. Kemudian masyarakat diharapkan mampu memahami dan melakukan transaksi muamalah khususnya akad gadai yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam, dan merubah adat kebiasaan di masyarakat yang tidak sesuai dengan syariat Islam.
Penelitian ini akan dilakukan di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur pada bulan, tahun. Kemudian dalam penelitian ini akan diambil objek penelitian yaitu masyarakat yang melakukan praktek gadai di Desa Wakan, dan akan mewawancarai langsung orang-orang tertentu. tentang pemanfaatan pohon gadai di tanah untuk menambah pengalaman dan wawasan. Kemudian data yang diperoleh akan disajikan secara deskriptif sehingga dapat menghasilkan hasil yang sesuai dengan fakta di lapangan.
Telaah Pustaka
Perbedaan penelitian Abdu Somad dengan penelitian ini adalah penelitian Abdu Somad membahas tentang penjaminan agen perkebunan, sedangkan penelitian ini membahas pemanfaatan pohon pada tanah yang digadaikan. Taharudin dengan penelitian ini membahas tentang transaksi antara pegadaian dan pegadaian yang dilakukan secara lisan tanpa ada kesepakatan dan pemanfaatan hasil tanah yang dijaminkan, sedangkan penelitian ini membahas bentuk pemanfaatan pohon pada tanah yang dijaminkan.
Menurut mereka, yang dijadikan cagaran bukan sahaja harta yang bersifat material, tetapi juga harta yang memberi manfaat tertentu. Harta yang dijadikan sekuriti sebenarnya tidak semestinya diserahkan, tetapi penyerahan juga boleh dilakukan secara sah. Ayat tersebut menjelaskan bahawa cagaran memudahkan seseorang untuk berurus niaga semasa di jalan raya dan tidak mencari kerani.
Namun berkenaan dengan penggunaan cagaran dijelaskan pada prinsipnya ia tidak boleh digunakan terlalu lama, kerana ini akan menyebabkan cagaran itu rosak atau hilang18. Masalah yang timbul ialah siapa sebenarnya yang berhak mendapat manfaat daripada cagaran tersebut. Mengenai penggunaan barang gadaian (mati), ulama Syafi'i mendakwa bahawa "orang yang menggadaikan (gadai) ialah orang yang berhak mendapat manfaat daripada barang gadaian, walaupun barang gadaian itu berada di bawah kuasa penerima gadaian. Kuasa ke atas barang yang dicagarkan tidak hilang, kecuali untuk mendapat manfaat daripada objek yang dicagarkan.
Jika terjadi kerusakan jaminan selama penggunaan barang, pemilik juga bertanggung jawab untuk itu. Sebagian ulama Hanafi, ada yang membolehkan penerima gadai menggunakan barang gadai jika mendapat izin dari pemberi gadai. ) memberikan izin, maka sahlah mengambil manfaat asuransi oleh pegadaian. Hal ini karena pihak yang berhak menikmati jaminan yang digadaikan adalah pihak yang menerima gadai. Pihak yang wajib memberikan jaminan adalah penggadai, karena benda itu berada di tangan penggadai.26.
Data primer adalah data yang diperoleh peneliti dari sumber aslinya, dimana data ini dikumpulkan dengan memperhatikan siapa sumber utama yang dijadikan objek penelitian. Dalam penelitian ini data utama atau data primer adalah data yang diterima dari tokoh masyarakat yang mengamalkan gadai tanah di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur NTB. Data sekunder diperoleh dengan melakukan kepustakaan, yaitu cara peneliti memperoleh data sekunder yang diperoleh dengan membaca, mempelajari sumber-sumber kepustakaan yang valid seperti buku-buku dan catatan kuliah yang ada kaitannya dengan data sekunder atau hal-hal lain, mengkaji dan menganalisis. terkait diskusi.
Pengamatan ini diartikan sebagai suatu cara pengumpulan data yang dilakukan secara sengaja dengan mengamati dan merekam secara sistematis fenomena yang diselidiki secara menyeluruh dan mendalam. Sehubungan dengan hal tersebut maka peneliti akan melakukan wawancara dengan tokoh masyarakat yang melakukan atau melakukan praktek gadai di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur NTB dengan harapan peneliti dapat mengumpulkan data atau informasi mengenai bentuk pemanfaatan pohon di tanah yang digadaikan di Desa Wakan. Metode dokumentasi ini digunakan untuk mengumpulkan data tertulis yang dapat memberikan informasi sesuai kebutuhan dalam penelitian ini.
Oleh karena itu, peneliti selalu berpedoman pada keaslian referensi dengan membaca berbagai referensi yang mendukung penelitian ini.
Sistematika Pembahasan
Wakan memiliki arti cahaya dan panas, arti cahaya dipercaya dipercayakan kepada desa Wakan seiring berjalannya waktu dan diyakini akan perlahan-lahan berkembang. Adapun makna kehangatan, masyarakat Wakan secara alami mengartikannya sebagai desa Wakan, termasuk desa yang tandus, kering, dan penuh bebatuan, namun akhir-akhir ini desa tersebut terus mengalami perubahan sosial, budaya, dan keragaman. Desa Wakan merupakan salah satu desa yang menyebar dari desa induk yaitu desa Sukaraja. Penguasaan kawasan tersebut disepakati berdasarkan hasil musyawarah mufakat yang dilakukan oleh tokoh masyarakat yang diketuai oleh H.
Desa Wakan menjadi desa persiapan dan akhirnya dicanangkan menjadi Desa Wakan melalui peraturan no. Desa Wakan telah membagi desanya antara lain : Dusun Wakan, Dusun Menuri, Dusun Batu Tambun, Dusun Segaet, Dusun Mampe, Dusun Pejaik, Dusun Lingkok Lauk, Dusun Penalet, Dusun Tuping, Dusun Kelotok, Dusun Tangar Induk, Dusun Tangar Purnama, Dusun Saung , Dusun Bagek Jepeng. Desa Wakan menganut sistem kelembagaan pemerintahan desa dengan model minimal dan semua pemerintahan atau organisasi memiliki struktur organisasi.
Praktek pemanfaatan pohon di tanah gadai di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur.
Praktek Pemanfaatan Pohon di Atas Tanah Gadai di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur
Setelah melakukan transaksi gadai, Bpk. Hur segera menggunakan tanah kebun, karena menurut mr. Hur punya mrs. Yun sudah meminjam uang dan dia berhak atas isi tanah kebun itu. Setelah itu saya dan mr. Hur hanya dengan bahasa mengadakan perjanjian tanpa membuat perjanjian. Pion ini dibuat oleh mr. Awaludin dieksekusi untuk membiayai anaknya kuliah dan tanpa ada kesepakatan tertulis dan tidak ada batasan waktu yang disepakati kedua belah pihak. , Tn. Awaludin meminjam uang dan dia berhak atas isi kebun itu.
Setelah itu Jumudin dan saya membuat kesepakatan hanya dengan bahasa dan tidak ada kesepakatan yang dibuat. Setelah transaksi gadai, Pak Gur langsung memanfaatkan lahan kebun tersebut karena menurut Pak Gur, nenek Siti pernah meminjam uang dan dia berhak atas isi lahan kebun tersebut. Setelah itu guru dan saya membuat kesepakatan hanya dengan bahasa dan tidak membuat kesepakatan.
Akhirnya saya setuju, saat itu Siti dan nenek membuat kesepakatan hanya dengan bahasa tanpa membuat kesepakatan.
Praktek Pemanfaatan Pohon di Atas Tanah Gadai di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur
Setelah pengalihan uang dan jaminan hipotek antara pegadaian (murtahin) dan pegadaian (rahin), pegadaian (murtahin) sudah dapat memperoleh manfaat dari asuransi tersebut, begitu juga dengan pegadaian (rahin), yang memenuhi kebutuhannya dengan menggunakan uang tersebut. disediakan oleh pegadaian (murtahin). Pihak yang menggadaikan (murtahin) memanfaatkan jaminan gadai hingga pihak yang menggadaikan (rahin) melunasi utangnya, karena sebagian orang yang melakukan transaksi gadai tidak menyebutkan masa berlaku gadai. Sehingga perjanjian gadai yang telah dibuat akan berakhir jika pemberi gadai (rahin) mengembalikan uang yang dipinjamnya, gadai dilakukan oleh pemberi gadai, dan penerima gadai secara lisan tanpa kesepakatan.
Tatacara amalan gadaian yang dijalankan oleh masyarakat Desa Wakan iaitu penggadai yang datang kepada/mencari penerima gadai untuk meminjam wang dengan menyerahkan tanah kebunnya sebagai cagaran hutang yang diberikan. Peningkatan masa pemprosesan oleh penerima gadaian (murtahin) dengan penambahan wang yang diberikan kepada pemegang gadai (rahin). Ia masih digunakan oleh penggadai (murtahin) kerana pemberi gadai (rahin) belum melunaskan hutangnya walaupun telah melebihi masa dalam perjanjian.
Akhirnya dengan tanah kebun/cagaran gadai dijual kepada pemegang gadaian (murtah) atau dijual kepada orang lain.
Analisis Hukum Islam Terhadap Pemanfaatan Pohon di atas Tanah Gadai di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur
Mungkin diketahui bahawa barang yang dicagarkan adalah untuk pinjaman sahaja, bukan objek untuk digunakan oleh penggadai (murtahin). Salah seorang ulama yang tidak menghalalkan penggunaan barang gadaian adalah ulama Syafi'i, menurut ulama Syafi'i yang mendapat manfaat barang gadaian (mati) adalah seorang rahin, walaupun orang yang meninggal di bawah kekuasaan seorang murtahin. Daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah saw bersabda: Gadai tidak boleh disembunyikan daripada pemilik yang memegangnya, kerana dialah risiko dan akibatnya.
Pemberi gadai tidak berhak atas benda yang digadaikan apabila benda yang digadaikan tidak dapat melunasi utangnya karena benda yang digadaikan masih menjadi milik pemberi gadai. Benda yang digadaikan adalah dana yang ada di tangan pemberi gadai, yaitu untuk melindungi hartanya dari utang pemberi gadai. Analisis hukum Islam terhadap praktek pemanfaatan pohon pada tanah gadai oleh masyarakat di Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur dapat disimpulkan bahwa Islam tidak memperbolehkan penggunaan barang gadai.
Daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah saw bersabda: Gadai tidak boleh disembunyikan daripada pemiliknya, daripadanya risiko dan akibatnya” (HR. Ad-Daruqutni dan Al-Hakim).
SARAN
Praktek pemanfaatan pohon oleh masyarakat Desa Wakan menggunakan pohon dari lahan pekarangan yang digadaikan oleh pegadaian. Praktek pemanfaatan pohon pada lahan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Desa Wakan Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur hanya dengan kesepakatan lisan, dan tidak ada kesepakatan untuk membayar berakhirnya perjanjian hipotek, dan belum dibuat surat kesepakatan. . Abdu Somad, “Kajian Hukum Islam Terhadap Rahn Dengan Calo Di Desa Sesela Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Timur”, tesis Uin Mataram,.
Ahmad Azhar Basyir, Undang-Undang Islam Mengenai Riba, Hutang dan Gadai, Bandung: Al-Ma'arif, Cet. Taharudin, “Kajian Undang-Undang Ekonomi Syariah tentang Pelaksanaan Ikatan Tanah Perkebunan Kelapa di Desa Binaan Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragirihilir, Provinsi Riau”. Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju'fiAl-Bukhari, Kitab Sahih Bukhari Jld.