• Tidak ada hasil yang ditemukan

(1)TINJAUAN HUKUM EKONOMI ISLAM TERHADAP KONTRAK GADAI EMAS DI PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER DESA BONDER KECAMATAN PRAYA BARAT LOMBOK TENGAH Oleh Lalu Lazuardi NIM

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "(1)TINJAUAN HUKUM EKONOMI ISLAM TERHADAP KONTRAK GADAI EMAS DI PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER DESA BONDER KECAMATAN PRAYA BARAT LOMBOK TENGAH Oleh Lalu Lazuardi NIM"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM EKONOMI ISLAM TERHADAP KONTRAK GADAI EMAS DI PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER DESA

BONDER KECAMATAN PRAYA BARAT LOMBOK TENGAH

Oleh Lalu Lazuardi NIM. 180.201.082

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN ) MATARAM 2022

(2)

ii

TINJAUAN HUKUM EKONOMI ISLAM TERHADAP KONTRAK GADAI EMAS DI PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER DESA BONDER KECAMATAN PRAYA BARAT LOMBOK TENGAH

SKRIPSI

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi

Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh Lalu Lazuardi NIM. 180.201.082

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM 2022

(3)

iii

(4)

iv

(5)

vi

(6)

vii MOTTO

ََاَْو

َُف

َْلاَاه

ََكَْي

ََوََل ََلَ

ََتَُك

َْهَُن

َِمَاه

ََنَ

َُمل َْا

َْخ

َِرَْي َِد

ََنَ

( ١٨١ )

Artinya: “Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu merugikan orang lain”

(7)

viii

PERSEMBAHAN

“Skripsi ini peneliti persembahkan untuk Ayah dan Ibu yang tidak pernah bosan membimbing, mendidik, menasihati, sehingga tidak bisa dibalas dengan cara apapun. Terima kasih atas semua do’a dan dukungan Ayah dan Ibu yang diberikan sehingga skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik”.

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya.

Amin.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian proposal skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak yang telah membantu sebagai berikut.

1. Dr. H. Ahmad Muhasim, M.Hi. sebagai pembimbing I dan Darmini, M.H. sebagai pembimbing II yang memberikan bimbingan, koreksi, motivasi, keikhlasan hati, koreksi yang mendetail, dan tanpa bosan di tengah kesibukan menjadikan proposal skripsi ini menjadi lebih matang dan cepat selesai

2. Dr. Saprudin, S.Ag.,M.Si. sebagai dosen wali yang memberikan saran yang sangat bermanfaat dalam penyusunan proposal skripsi ini.

3. Dr. Syukri, M.Ag. sebagai ketua jurusan.

4. Dr. Moh. Asyiq Amrulloh, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syariah.

5. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Syariah (Khususnya Jurusan Hukum Ekonomi Syariah) yang telah mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menuntut ilmu di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram.

6. Prof. Dr. Masnun Tahir selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberikan bimbingan.

7. Orang Tuaku yang tanpa lelah menasihati dan memberikan semangat yang tanpa henti.

8. Adriangga Zambiya dkk, sahabatku yang telah memberikan semangat dikala penulis merasa letih.

9. Teman-teman kelas C, terima kasih atas kebersamaan yang terjalin selama ini.

10. Teman-teman seperjuangan Hukum Ekonomi Syariah angkatan 2018.

(9)

x

11. Semua pihak yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu yang telah ikut membantu dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi banyak orang. Amin.

Mataram, Penulis,

Lalu Lazuardi

(10)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

HALAMAN MOTTO... vi

HALAMAN PENGESAHAN ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 4

C. Tujuan Dan Manfaat ... 5

D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ... 6

E. Telaah Pustaka ... 6

F. Kerangka Teori ... 9

G. Metode Penelitian ... 19

H. Sistematika Pembahasan... 26

BAB II RUANG LINGKUP PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER ... 28

A. Gambaran umum Pegadaian Syariah Unit Bonder ... 28

B. Nasabah Pegadaian Syariah Unit Bonder ... 35

C. Surat Bukti Rahn ... 37

D. Perhitungan Surat Bukti Rahn ... 40

(11)

xii

E. Sarana Dan Prasarana Pegadaian Syariah Unit Bonder ... 42

F. Prosedur Ijab Qabul Pegadaian Syariah Unit Bonder ... 43

G. Praktik Gadai emas Pegadaian Syariah Unit Bonder ... 44

BAB III TINJAUAN HUKUM EKONOMI ISLAM TERHADAP KONTRAK GADAI EMAS DI PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER ... 48

A. Praktik Gadai Emas Pegadaian Syariah Unit Bonder ... 48

B. Respon Masyarakat Terhadap Kontrak Gadai ... 50

C. Tinjauan Hukum Ekonomi Islam Terhadap Kontrak Gadai .... 52

BAB IV PENUTUP ... 64

A. Kesimpulan ... 64

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 66

(12)

xiii

TINJAUAN HUKUM EKONOMI ISLAM TERHADAP KONTAK GADAI EMAS DI PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER DESA

BONDER KECAMATAN PRAYA BARAT LOMBOK TENGAH Oleh

Lalu Lazuardi Nim. 180201082

ABSTRAK

Pegadaian syaraih merupakan salah satu lembaga keuangan syariah yang menerapkan hukum Islam dalam transaksinya dan menggunakan Al- Qur‟an dan hadist sebagai dasar hukumnya sehingga lembaga keuangan ini cukup diminati oleh masyarakat yang membutuhkan dana cepat karena terhindar dari riba (bunga). Selain terhindar dari riba (bunga) pegadaian syariah juga tidak menyulitkan para nasabahnya untuk melakukan pinjaman, cukup hanya dengan KTP dan proses pencairan uangnya yang cepat yakni hanya memakan waktu 15 menit saja maka nasabah akan langsung mendapatkan uang pinjamannya dengan menjaminkan barang (emas). Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana mekanisme dalam melakukan suatu kontrak gadai emas Pegadaian Syariah Unit Bonder dan bagaimana pandangan Hukum Ekonomi Islam terhadap kontrak gadai emas tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi atau berhadapan langsung dengan kejadian yang terjadi di lapangan dengan sumber data primer (yang diperoleh dengan cara observasi, wawancarara dengan pihak informan) dan data sekunder (yang diperoleh melalui literatur-literatur yang membahas tentang pegadaian syariah, baik dalam bentuk buku, jurnal, dan website).

Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kontrak gadai emas yang dilakukan Pegadaian Syariah Unit Bonder telah sesuai dengan ketentuan fatwa MUI dalam artian Hukum Ekonomi Islam yang berdasarkan kepada Al-Qur‟an, Al-Hadist, Ijma, dan kaidah fiqh telah membolehkannya atau menghalalkan kegiatan kontrak gadi emas tersebut.

Kata Kunci: Kontrak Gadai, Pegadaian, Syariah

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam lembaga ekonomi terdapat suatu konsep yang disebut dengan konsep ekonomi Islam atau ekonomi Syariah. Dalam kajian ekonomi Islam terdapat salah satu unsur penting yang mengatur dan menentukan hubungan antara para pelaku ekonomi dalam sebuah transaksi yaitu pembahasan terkait kontrak atau akad. Keterkaitan akad atau kontrak tersebut yang digunakan dalam sebuah transaksi dapat menjadi pembeda antara kontrak syariah dalam lembaga keuangan syariah dan kontrak dalam lembaga keuangan konvensional.

Pada hakikatnya sering kita jumpai dalam keadaan sehari-hari seorang yang melakukan perjanjian atau kontrak seperti jual beli, tukar menukar, penitipan barang, perjanjian kerja dan lain-lain. Sebagai subjek perjanjian atau kontrak si pelaku perjanjian ini harus mengetahui tata cara dalam pembuatan kontrak syariah. Hal tersebut dimaksudkan agar dikemudian hari tidak terjadi suatu konflik dari adanya perjanjian atau kontrak tersebut, terutama terkait dengan perealisasian kontrak.

Lembaga keuangan syariah saat ini cukup populer salah satunya adalah Pegadaian syariah, apabila membahas tentang pegadaian maka tidak terlepas dari kata gadai. Gadai atau Rahn secara etimologi adalah menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang, yang dapat dijadikan pembayar utang apabila orang yang berutang tidak bisa membayar utangnya itu (syafi‟iyah).1

Pegadaian Syariah Khususnya di wilayah Desa Bonder memberikan produk-produk yang menarik perhatian dan minat masyarakat sekitar Desa Bonder, selain dari pencairan uangnya yang cepat, Pegadaian Syariah juga dianggap tidak menyulitkan nasabahnya dalam melakukan gadai, cukup hanya dengan KTP maka nasabah akan mendapatkan kemudahan dalam melakukan gadai tersebut. Akan tetapi dengan kemudahan tersebut masih ada hal yang belum diketahui oleh masyarakat Desa Bonder dan sekitarnya, karena mereka tidak

1 Tim DSN-MUI Modul Pelatihan Pengawas Syariah Untuk Lembaga Keuangan Syariah 2019, hlm. 203.

(14)

2

memperdulikan pembiayaan apa saja yang harus mereka bayarkan.

Pegadaian syariah di Indonesia memang menawarkan beberapa produk- produknya, hal ini juga mudah untuk didapatkan oleh para masyarakat yang ada disekitarnya.

Dibalik kemudaahan tersebut ada beberapa pembiayaan yang mereka harus bayarkan. Pegadaian Syariah tidak menerapkan sistem bunga tetapi acuannya masih menggunakan bunga sedangkan dalam Hukum Ekonomi Islam melarang adanya bunga disebuah transaksi entah itu jual beli, sewa menyewa, hutang piutang, dan lain-lain.

Walaupun Pegadaian syariah tidak menggunakan sistem bunga, akan tetapi Pegadaian Syariah mempunyai kelemahan tersendiri yakni didalam Pegadaian Syariah dianggap adanya fanatisme Agama, sulit untuk menghilangkan mekanisme “bunga” yang sudah mengakar.

Namun walaupun Pegadaian Syariah memiliki kelemahan tersebut, Pegadaian Syariah menerapkan sistem biaya penitipan atau ujrah, biaya pemeliharaan, biaya penjagaan, dan biaya penaksiran. Dalam istilah- istilah perjanjian tersebut, maka dari sanalah Pegadaian Syariah mendapatkan keuntungan. Khususnya di biaya penitipan atau ujrah dalam transaksi gadai emas.

Respon masyarakat terhadap sistem pembiayaan yang diterapkan Pegadaian Syariah unit Bonder adalah Masyarakat masih mempunyai persepsi bahwa Pegadaian Syariah Unit Bonder masih menggunakan Bunga Masyarakat menganggap biaya yang mereka bayarkan melebihi jumlah pinjaman yang mereke dapatkan, hal ini terjadi karena ketidaktahuan mereka terhadap transaksi dan akad yang telah mereka sepakati. Sedangkan ketentuan yang diberlakukan oleh Pegadaian syariah mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia yang telah menentukan peratuan-peraturan yang harus diikuti oleh lembaga Ekonomi Syariah.

Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah Ayat 275 (QS.

Surah Al-Baqarah 2:275) tentang haramnya riba.

َ َنِمَ ُنٰطْيَّذلاَُوُطَّبَخَتَيَ ْيِذَّلاَ ُمْهُقَياَمَك َّلِإَ َنْهُمْهُقَي َلاهٰبِّرلاَ َنَهُمُكْأَيَ َنْيِذَّلَا

َْهُلاَقَْمُيَّنَأِبَ َكِلَٰذََِّۚسَمْلا

ََمَّرَحَوََعْيَبْلاَُاللهَ َّلَحَأَوََۗاهٰبِّرلَاَ ُلْثِمَُعْيَبْلاَاَمَّنِإَٓا

(15)

3

َىَلِاَ ٗٓۤٗه ُرْمَأَوَۦَ َفَم َسَاَمَ ٗوَمَفَيٰيَتْناَفَۦَ ٖوِّبَّرَ ْنِّمٌةَظِعْهَمَ ٗٓۤ

ٓٗهَءآَجَ ْنَمَفََْۚاهٰبِّرلا

َُدِلاَخَاَيْيِفَْمُىََۖ ِراَّنلاَ ُبٰح ْصَأََكِئ ٰٗٓۤلوُأَفَداَعَْن َمَوََۖ ِالله

َ َنْو

Artinya: “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”.2

Salah satu jasa yang ditawarkan oleh Pegadaian Syariah yaitu gadai emas, didalam perjanjian atau kontrak gadai emas tersebut ada biaya yang harus dibayarkan oleh Penggadai kepada Pegadaian guna untuk menjamin keamanan barang yang digadaikan (emas). Istilah yang digunakan Pegadaian Syariah dalam hal gadai emas adalah sistem biaya penitipan atau ujrah. Ujrah merupakan upah atau pengorbanan materi yang dikeluarkan lembaga keuangan dalam hal pelaksanaan akad gadai dengan penggadai (rahin) karena biaya penitipan (ujrah) merupakan upah yang dikeluarkan Pegadaian maka pihak pegadaian lebih mengetahui dalam menghitung rincian biaya penitipan (ujrah).

Setelah pegadaian menghitung total biaya penitipan (ujrah) kemudian nasabah atau penggadai mengganti biaya penitipan tersebut. Namun tidak banyak atau bahkan sangat jarang nasabah yang mengetahui rincian biaya penitipan tersebut.3

Sesuai ketentuan rahn berdasarkan fatwa DSN NO. 25/DSN- MUI/III/2002 tanggal 26 juni 2002 mengatakan bahwa terdapat lima point yang fundamental praktek gadai yang sesuai dengan syariat Islam salah satunya adalah “besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman”. Sementara praktik

2 QS. Al-Baqarah [2]: 275

3 Yulia Dwi Anggraini “Pengaruh Biaya Penitipan (ujrah) Terhadap Kepuasan Nasabah Gadai Emas” ( skripsi, FSEI UIN Raden Intan Lampung, Lampung, 2018 ) hlm. 3.

(16)

4

gadai syariah pada saat ini besar biayanya tergantung dari besar kecilnya pinjaman yang diambil terhadap barang gadai.

Jika dilihat dari fatwa MUI diatas maka perlu untuk dilakukan tinjauan Hukum Ekonomi Islam terhadap sebuah kontrak gadai emas yang di terapkan oleh PT Pegadaian Syariah, karena Pegadaian Syariah tidak menerapkan istilah “bunga” dalam transaksinya melainkan menggunakan istilah-istilah yang telah disebutkan diatas karena masih ada nasabah yang menganggap bahwa Pegadaian Syariah Unit Bonder masih menggunakan bunga maka perlu untuk melakukan tinjauan mengenai apakah kontrak atau perjanjian antara penggadai (rahin) dan penerima gadai (murtahin) dengan menggunakan istilah-istilah transaksi yang diterapkan oleh PT Pegadaian syariah masih mengandung unsur riba atau tidak.

Berdasarkan paparan diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti dengan fokus penelitian atau dengan judul “Tinjauan Hukum Ekonomi Islam Terhadap Kontrak Gadai Emas Di Pegadaian Syariah Unit Bonder, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana praktek kontrak gadai emas di Pegadaian Syariah Unit Bonder?

2. Bagaimana respon Masyarakat terhadap kontrak gadai emas di Pegadaian Syariah Unit Bonder?

3. Bagaimana tinjauan hukum ekonomi Islam mengenai praktik kontrak gadai emas di Pegadaian syariah?

C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan diadakannya penelitian ini, antara lain :

a. Untuk mengetahui prosedur atau tata cara dalam melakukan kontrak gadai emas di Pegadaian Syariah Unit Bonder.

b. Untuk mengetahui respon masyarakat terhadap kontrak gadai emas di pegadaian syariah Unit Bonder.

(17)

5

c. Untuk mengetahui tinjauan hukum ekonomi islam mengenai sistem pembiayaan pemeliharaan terhadap kontrak gadai emas Di Pegadaian syariah Unit Bonder.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis bagi penulis maupun pembaca.

a. Secara teoritis

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan pemahaman dan pengembangan ilmu khususnya ilmu dalam bidang hukum ekonomi syariah mengenai tinjauan hukum ekonomi islam terhadap kontrak gadai emas yang mana masih banyak masyarakat yang belum mengetahui secara jelas mengenai pembiayaan yang mereka gunakan dalam melakukan perjanjian baik itu dengan Pegadaian maupun Lembaga keuangan syariah lainnya.

b. Secara praktis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang luas dan memberikan pemahaman serta pengetahuan mengenai sistem pembiayaan apa saja yang digunakan Lembaga Keuangan Syariah sehingga tidak ada keraguan mengenai diperbolehkan atau tidaknya perjanjian tersebut menurut hukum islam.

D. Ruang lingkup dan setting penelitian 1. Ruang lingkup penelitian

Peneliti melakukan penelitian agar dapat mengorganisir atau mengedalikan dengan baik dan untuk menghindari berbagai persepsi yang tidak baik dalam melakukan sebuah kajian pada penelitian kali ini, maka peneliti mengkoordinir ruang lingkup penelitian ini yang berfokus kepada masalah mengenai tinjauan hukum ekonomi Islam terhadap sistem pembiayaan dalam melakukan gadai emas di Pegadaian Syariah unit Bonder.

(18)

6 2. Setting Penelitian

Lokasi atau setting penelitian bertempat di Pegadaian Syariah unit Bonder, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini dilakukan karena masyarakat sebagian besar dari masyarakat Desa Bonder berfikir bahwa Pegadaian Syariah unit Bonder masih menggunakan bunga sehingga mereka mempunyai persepsi bahwa walaupun Pegadaian telah menggunakan aturan Islam akan tetapi Pegadaian tetap saja menggunakan bunga untuk mendapatkan keuntungan.

sehingga penelitian ini perlu untuk dilanjutkan untuk meminimalisir persepsi-persepsi yang tidak baik tersebut.

E. Telaah Pustaka

Telaah pustaka adalah penelusuran terhadap studi atau karya- karya terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang saat ini sedang dilakukan, guna menghindari duplikasi, plagiasi, serta menjamin keaslian dan keabsahan dari penelitian yang akan dilakukan.

Berdasarkan pengertian tersebut dalam usaha penelusuran yang peneliti lakukan saat ini, ada beberapa kajian atau peneliti yang masih terkait dan masih ada hubungannya dengan penelitian saat ini diantaranya adalah :

1. Skripsi Arini Nurul Baiti, menulis skripsi tentang Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Gadai Emas Di PT Pegadaian Persero Unit Pegadaian Syariah Sentral Makassar, Jurusan Ekonomi Islam UIN Alauddin Makassar Tahun 2019. Fokus penelitian diatas adalah praktik gadai emas persepektif ekonomi islam guna untuk menghindari kesalahpahaman (miss-understanding) terhadap praktik gadai emas tersebut.4

Persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini adalah sama-sama meneliti tentang gadai emas.

Perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini adalah terletak pada subyeknya yang mana

4 Arini Nurul Baiti, Tinjauan Ekonomi Islam Terhadap Praktik Gadai Emas Di PT Pegadaian Persero Unit Pegadaian Syariah Sentral Makassar, (Skripsi, FSEI Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar), 2019, hlm, 4.

(19)

7

penelitian terdahulu membahas tentang Tinjauan Ekonomi Islam terhadap Praktik Gadai Emas. Sedangkan penelitian kali ini membahas tentang Tinjauan Hukum Ekonomi Islam Terhadap Kontrak Gadai Emas.

Dari hasil penelitian diatas Pegadaian Syariah Sentral Makssar dalam menjalankan sistem praktik operasionalnya telah sesuai dengan ketentuan syariah yang ada. Meskipun, masih terdapat kejanggalan atau keluhan yang dirasakan oleh nasabah yang melakukan gadai terkait penjelasan taksiran dari pihak pegadaian, tetapi hal ini tidak menjadi persoalan bagi nasabah, dikarenakan nasabah lebih mementingkan mendapatkan pinjaman yang cepat dan tidak merepotkan bagi mereka. Adapun pandangan atau pendapat ekonomi Islam terkait praktik gadai emas di Pegadaian Syariah cabang Sentral, dalam hal ini Fatwa MUI No. 25 Tahun 2002 dengan praktik gadai emas sudah relevan. Walaupun masih terdapat permasalahan-permasalahan didalamnya.5

2. Skripsi Acep Galih Ridwan, menulis skripsi tentang Penerapan biaya pemeliharaan (Ujrah) Pada Produk Gadai Emas BTN iB Di Bank Tabungan Negara Syariah Kantor Cabang Syariah Bandung, Jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2017. Fokus penelitian diatas adalah penelitian tersebut membahas tentang akad yang ada pada produk pegadaian dan segi kompensasi mengenai ada atau tidak adanya kompensasi tersebut.6 Persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini adalah diantara keduanya sama-sama meneliti tentang gadai emas namun dalam penelitian terdahulu lebih berfokus atau lebih mengutamakan kepada akad dalam gadai emas tersebut.

5 Ibid, hlm, 63.

6 Acep Galih Ridwan, Penerapan Biaya Pemeliharaan ( Ujrah ) Pada Produk Gadai Emas Di BTN iB Bank Tabungan Negara Syariah Kantor Cabang Syariah Bandung, (Skripsi, FSEI Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung), 2017, hlm 5.

(20)

8

Perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini terletak pada obyek atau tempat penelitian yang mana penelitian terdahulu menggunakan obyek atau tempat penelitian di sebuah Lembaga yaitu Bank Tabungan Negara (BTN) syariah, sedangkan penelitian kali ini obyek atau tempat penelitian dilakukan di Pegadaian Syariah, akan tetapi dari penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini sama-sama membahas tentang akad yang digunakan dalam sebuah kontrak gadai emas dalam masalah pembiayaan pemeliharaan.

3. Skripsi Alfin Muhammad Ikbal, menulis skripsi tentang Pelaksanaan kontrak Produk Gadai Emas Di Unit Pegadaian Syariah Ulujami Jakarta Selatan, Jurusan Hukum Ekonomi Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tahun 2020. Fokus penelitian diatas adalah seputar pelaksanaan kontrak terhadap produk gadai emas di Unit Pegadaian Syariah Ulujami Jakarta Selatan.7

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini memang sama-sama meneliti tentang kontrak gadai emas hanya saja penelitian terdahulu lebih berfokus kepada pelaksanaan kontrak gadai emas, berbeda dengan penelitian kali ini. Letak perbedaannya adalah penelitian kali ini lebih berfokus kepada peninjauan Hukum Ekonomi Islam Terhadap Kontrak Gadai emas. Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian kali ini terletak pada pelaksaan kontrak gadai emas, sedangkan penelitian kali ini meneliti tentang tinjauan hukum ekonomi islam.

Hasil dari penelitian terdahulu adalah kesesuaian antara kontrak gadai emas SBR di Unit Pegadaian Syariah Ulujami Jakarta Selatan dengan fatwa DSN-MUI Nomor 25/DSNMUI/III/2002 tentang Rahn dan fatwa DSN-MUI Nomor 26/DSNMUI/III/2002 tentang Rahn emas.

Secara umum kontrak ini sudah sesuai dengan apa yang ada dalam fatwa DSN-MUI hanya saja ada perbedaan

7 Alfin Muhammad Ikbal, Pelaksanaan Kontrak Gadai Emas Di Unit Pegadaian Syariah Ulujami Jakarta Selatan, (Skripsi, FSEI Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta), 2020, hlm, 4.

(21)

9

dalam cara penyelesaian sengketa. Jadi terjadi sengketa dalam kontrak tercantumkan diselesaikan melalui Pengadilan Agama setempat akan tetapi dalam fatwa DSN-MUI Nomor 25/DSNMUI/III/2002 tentang rahn, ketentuan penutup ayat 1 tercantum jika terjadi sengketa maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah.8

F. Kerangka Teori

1. Hukum Ekonomi Islam

a. Pengertian Hukum Ekonomi Islam

Hukum ekonomi Islam/Syariah adalah kumpulan peraturan yang berkaitan dengan jual beli, perdagangan dan perniagaan di Indonesia, baik dalam bentuk perundang- undangan, peraturan Bank Indonesia (PBI), fatwa DSN dan peraturan-peraturan yang terkait dengan operasional bisnis syariah di Indonesia serta doktrin fikih.9

Hukum Ekomomi adalah sebagai seluruh kaidah dan putusan hukum yang secara khusus mengatur kegiatan ekonomi, oleh karena itu hukum ekonomi menurut Sunaryati adalah keseluruhan Kaidah, asas, pranata, dan lembaga, baik yang bersifat perdata maupun yang bersiat publik yang mengatur dan mengarahkan tata perekonomian nasional suatu negara. 10

Jika diatas hanya membahas tentang pengertian hukum ekonomi, maka ada pula pengertian ekonomi Islam menurut pandangan Abdul Aziz yang disederhanakan menjadi 3 pengertian sebagai berikut:

1. Ekonomi Islam adalah pengetahuan untuk menggali dan mengimplementasi sumber daya material untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan manusia.

Penggalian dan penggunaan itu harus sesuai dengan syariat Islam.

8 Alfin Muhammad Ikbal, Pelaksanaan Kontrak Gadai Emas Di Unit Pegadaian Syariah Ulujami Jakarta Selatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020, hlm, 77.

9 Dr. Madani, Hukum Bisnis Syariah, ( Jakarta : Prenadamedia, 2014 ), hlm, 1.

10 Dr. Farid Wajdi, S.H., M.Hum., Dr. Suhrawardi K. Lubis, S.H., Sp.N., M.H., Hukum Ekonomi Islam, (Jakarta Timur: Sinar Grafika, cet 1 2020 edisi Revisi), hlm, 3.

(22)

10

2. Ekonomi Islam merupakan Bagian dari bentuk usaha duniawi yang bernilai ibadah, juga merupakan suatu amanah, yaitu amanah dalam melaksanakan kewajiban kepada Allah (hablum minallah) dan kewajiban ke sesama manusia (hablum minannas)

3. Ekonomi Islam adalah tata aturan yang berkaitan dengan cara berproduksi, distribusi, dan konsumsi serta kegiatan lain dalam kerangka mencari ma’isyah (penghidupan individu atau kelompok atau negara) sesuai dengan ajaran Islam.11

b. Sumber Hukum Ekomomi Islam

Dalam hukum ekonomi Islam atau yang biasa disebut dengan Hukum Ekonomi Syariah atau dalam bahasa Arab disebut muamalah mempunyai dasar-dasar hukum sebagai berikut :

1. Al-Qur‟an

Al-Qur‟an adalah kalam Allah, yang menjadi mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dengan Mushaf, yang dinukil (diriwayatkan) secara mutawwatir, dan dipandang sebagai ibadah bagi yang membacanya.12

2. Al-Hadits

Al-Hadits yaitu sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapan beliau setelah diangkat menjadi Nabi.13

3. Ijma‟

11 Abdul Aziz, Ekonomi Islam: Analisis Mikro Dan Makro, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), hlm 3-4.

12 Burhanuddin S, Hukum Bisnis Syariah, (Yogyakarta: UII Press, 2011), hlm.2.

Dr. Madani, Hukum Bisnis Syariah, (Jakarta : Prenadamedia, 2014), hlm, 3.

13 Mardani, Hadis Ahkam, (Jakarta: Rajawali Press, Cet. 1, 2012), hlm, 2. Dr.

Madani, Hukum Bisnis Syariah, (Jakarta : Prenadamedia, 2014), hlm, 5

(23)

11

Ijma‟ yaitu kesepakatan para mujtahid dari kalangan umat Islam tentang hukum Syara‟ pada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah SAW. 14 4. Ijtihad

Ijtihad yaitu mengerahkan seluruh kemampuan secara maksimal, baik untuk mengistinbatkan hukum Syara‟ maupun dalam penerapannya. 15 2. Kontrak Syariah

Hukum perikatan atau Kontrak atau Perjanjian Syariah adalah sebuah relasi sesama manusia, dua orang atau lebih didasarkan atas seperangkat kaidah hukum islam yang bersifat spiritual-humanis, bersumber dari nas-nas Syari’ yang Sahih, mengenai sesuatu yang bersifat materil, berupa harta atau benda bernilai, yang objek perikatannya dihalalkan Syari’. 16

Kontrak merupakan sebuah perjanjian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dimana dari perjanjian tersebut akan menghasilkan kesepakatan antara kedua belah pihak.

Kontrak didalam Pegadaian Syariah merupakan sebuah kesepakatan atau perjanjian antara nasabah dengan Pegadaian itu sendiri, contohnya pada saat nasabah melakukan gadai emas di Pegadaian Syariah tersebut, pada saat menyepakati perjanjian Pegawai Pegadaian seharusnya merincikan semua biaya-biaya yang harus bayarkan oleh nasabah sehingga pihak nasabah tidak merasa dibebankan atau merasa dirugikan. Misalnya didalam pembiayaan pemeliharaan barang gadai ( emas ), dalam hal ini biasanya nasabah seolah-olah tidak terlalu perduli dengan hal itu yang penting proses peminjaman dengan jaminan barang gadai itu bisa dengan mudah didapatkan, padahal hal tersebut sangat penting untuk diketahui semua pihak agar tidak melanggar syariat Islam.

Berdasarkan norma hukum yang digunakan dalam Hukum Perdata (KUH Perdata), perjanjian merupakan bagian dari hukum

14 Satria Efendi M. Zein, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana, cet. 2, 2008), hlm, 125.

Ibid, hlm 5

15 Ibid, hlm 6

16 Dr.Yasardin, S.H, M.Hum. Asas Kebebasan Berkontrak Syariah, (Jakarta : Prenadamedia, 2018), hlm, 5.

(24)

12

harta kekayaan yang artinya, segala bentuk perjanjian pada dasarnya berkaitan dengan kekayaan yang memiliki nilai ekonomi.

Dalam pasal 1332 KUHperdata, bahwa yang dapat dijadikan sebagai objek perjanjian adalah segala benda yang dapat diperdagangkan (memiliki nilai ekonomi). Sehingga perjanjian merupakan salah satu kegiatan untuk memperoleh serta mengalihkan kekayaan dari dan untuk seseorang. 17

Asas kebebasan berkontrak awal mula muncul dan berlaku di Inggris dalam hukum perjanjiannya, sebagai awal dari sejarah timbulnya asas kebebasan berkontrak digunakan untuk merujuk pada dua asas umum diantaranya adalah :

a) Asas umum yang mengemukakan bahwa hukum tidak membatasi syarat-syarat yang telah diperbolehkan dalam perjanjian yang dilakukan oleh para pihak. Bahkan asas tersebut tidak membebaskan berlakunya syarat-syarat suatu perjanjian hanya karena syarat-syarat perjanjian tersebut dianggap perjanjian tersebut kejam atau tidak adil bagi suatu pihak.

b) Asas umum yang mengemukakan pada umumnya seseorang menurut hukum tidak dapat dipaksa untuk melakukan atau memasuki sebuah perjanjian.18

Asas kebebasan berkontrak telah menjadi asas utama dalam hukum perdata, khususnya dalam hukum perjanjian, dikenal dalam civil law system maupun dalam common law system bahkan dalam sistem hukum Islam.

Kebebasan berkontrak tidak dapat menghasilkan distribusi kesejahteraan yang maksimal.19 Teori kehendak atau teori hukum kontrak klasik yang berasal dari prinsip private autonomy bermakna bahwa kehendak pihak yang menentukan hubungan hukum kontrak mereka. Otonomi individu tersebut kemudian menjadi dasar kbebasan berkontrak yang kemudian menjadi tlang punggung bagi perkembangan hukum kontrak.20

17 Saptono, Teori-Teori Hukum Kontrak Bersumber Dari Paham Individualisme, Edisi 1, Januari-Juni, 2014, hlm.68.

18 Ibid,.

19 Ibid, hlm.71.

20 Ibid, hlm.72.

(25)

13 3. Gadai Syariah

Gadai Syariah atau Ar-Rahn adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, dan barang tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan demikian, pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Dalam Hukum Islam, Pegadaian merupakan suatu tanggungan atas uang yang dilakukan apabila orang yang berutang gagal menunaikan kewajibannya dan semua barang yang pantas sebagai barang dagangan dapat dijadikan barang jaminan. Barang jaminan itu baru boleh dijual/dihargai apabila waktu yang disetujui kedua belah pihak, utang tidak bisa dilunasi oleh pihak yang berutang. Oleh sebab itu, hak pemberi piutang hanya terkait dengan barang jaminan apabila orang berutang tidak mampu melunasi utangnya.21

Menurut pasal 1150 KUH Perdata gadai Adalah suatu hak yang diperoleh seeorang berpiutang atas suatu barang bergerak yang diserahkan kepadanya oleh seseorang yang berhutang atau oleh orang lain atas namanya dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang lainnya; dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang dikeluarkan untuk menyelamatkan setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya tersebut harus didahulukan ( pasal 1150 KUH Perdata ).22

Dari rumusan pasal 1150 KUHperdata diketahui bahwa disebut gadai, maka unsur-unsur gadai harus dipenuhi seperti:23

a. Gadai diberikan hanya atas benda bergerak.

b. Gadai harus dikeluarkan dari penguasaan pemberi gadai.

c. Gadai memberikan hak kepada kreditur untuk memperoleh pelunasan terlebih dahulu atas piutang kreditur (droit depreference).

21 Mardanis, Gadai Syariah Dalam Persepektif Ekonomi Islam Dan Fiqh Muamalah, hlm. 3.

22 Fitri Anggiani, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengalihan Barang Gadai (Studi kasus Gadai Sepeda Motor Di Desa Karang Mulya Kec Bojong Kab Tegal), (Skripsi, FSEI Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang), 2016, hlm 3-4.

23 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Kekayaan: Hak Istimewa, Gadai, Dan Hipotek, Ed. 1, Cet. 1, Pertama, Jakarta: Kencana, 2005, hlm.74.

(26)

14

d. Gadai memberikan kewenangan kepada kreditur untuk mengambil sendiri pelunasan secara mendahulu tersebut.

Gadai adalah menjadikan materi (barang) sebagai jaminan hutang, yang dapat dijadikan sebagai pembayar hutang apabila orang yang berhutang tidak bisa membayar hutangnya.24

Beberapa perumusan tentang gadai menurut para ahli adalah sebagai berikut:

a. Frieda Husni Hasbullah merumuskan bahwa gadai adalah suatu hak kebendaan atas benda bergerak milik orang lain dan bertujuan tidak untuk memberi kenikmatan atas benda bergerak tersebut melainkan untuk memberikan jaminan bagi pelunasan hutang orang yang memberikan jaminan tersebut.25

b. Wirdjono prodjodikoro mengartikan gadai sebagai suatu hak yang didapat oleh orang yang berpiutang atas suatu benda bergerak, yang kepadanya diserahkan oleh si berhutang atau seorang lain atas Namanya, untuk menjamin atas pembayaran hutang, dan yang memberikan hak kepada si berpiutang untuk dibayar lebih dulu daripada berpiutang lain, diambil dari uang pendapatan-pendapatan barang itu.26

Gadai merupakan utang piutang dengan jaminan sebuah barang berharga yang didalamnya terdapat sebuah kesepakatan atau perjanjian.

a. Dasar Hukum a) Al-Qur‟an

Landasan hukum yang pertama pada Al- Qur‟an adalah surah Al-Baqarah ayat 283,

24 Fitri Anggiani, Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengalihan Barang, hlm.3.

25 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata Tentang Hak-Hak atas Benda, Jakarta:

Soeroengan, 1960, hlm.152

26 Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perdata Tentang Hak-Hak atas Benda, Jakarta:

Soeroengan, 1960, hlm.152.

(27)

15

َْمُك ُضْعَبََنِمَاَ ْنِاَفٌََۗة َضْهُبْقَمٌَنٰىِرَفاًبِتَاَكاْوُدِجَتَْمَلَّوِرَفَسَىٰمَعَْمُتْنُكَ ْنِاَو

َََۗةَداَيَّذلاَاهُمُتْكَت َلَوَۦَ ٗوَّبَرََاللهَِقَّتَيْلَوَٗوَتَناَمَاََنِمُتْؤاَىِذَّلاِّدَؤُيْمَفَا ًضْعَب

َ ْنَمَو

ٌَمْيِمَعََنْهُمَمْعَتَاَمِبََاللهَوََۗ ٗوُبْمَقٌَمِثٰاَٗوَّنِاَفَاَيْمُتْكَي

Artinya: “jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian dari kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.

Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.27

b) Hadist

Ada beberapa hadist yang menjadi landasan hukum gadai yaitu:

a. Aisyah berkata bahwa Rasul bersabda :

Rasulullah membeli makanan dari seorang yahudi dan meminjamkan kepadanya baju besi” (HR Bukhari dan Muslim)

b. Dari Abu Hurairah r.a Nabi SAW bersabda : “Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia memperoleh manfaat dan menanggung resikonya” (HR Asy‟Syafi‟i, Al Daraquthni dan Ibnu Majah).

c. Dari Abu Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda : “Apabila ada ternak digadaikan,

27 QS. Al-Baqarah [2]: 283.

(28)

16

maka punggungnya boleh dinaiki (oleh yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaganya). Apabila ternak itu digadaikan, maka air susunya yang deras boleh diminum (oleh orang yang menerima gadai) karena ia telah mengeluarkan biaya (menjaga)nya. Kepada orang yang naik dan minum, maka ia harus mengeluarkan biaya (perawatannya)”. (HR Jemaah kecuali Muslim dan Nasai- Bukhari).28

c. Akad Gadai Syariah

Pegadaian Syariah dan Nasabah melakukan akad dengan kesepakatan sebagai berikut :

a) Jangka waktu penyimpanan barang dan pinjaman ditetapkan selama maksimum empat bulan.

b) Nasabah bersedia membayar sebesar Rp 100,- (delapan puluh lima rupiah) untuk emas/berlian dari kelipatan taksiran Rp 12.300,- per 10 hari yang dibayar bersamaan pada saat melunasi pinjaman.

c) Nasabah bersediia membayar jasa simpan sebesr Rp 90,- (sembilan puluh rupiah) untuk elektronik dari kelipatan taksiran Rp 10.000,- per 10 hari yang dibayar bersamaan pada saat melunasi pinjaman.

d) Nasabah bersedia membayar jasa simpan sebesar Rp 95,- (sembilan puluh lima rupiah) untuk kendaraan bermotor dari kelipatan

28 Nurmala Damayanti, dkk, Pegadaian Syariah Dalam Tinjuan Konseptual, (Staf Pengajar Pada Program Studi Akuntansi Jurusan Ekonomi Dan Bisnis Politeknik Lampung), hlm. 3.

(29)

17

taksiran Rp 10.000,- per 10 hari yang dibayar bersamaan pada saat melunasi pinjaman.

e) Membayar biaya administrasi yang besarnya ditetapkan oleh pegadaian pada saat pencairan uang pinjaman.29

d. Syarat-syarat gadai syariah

Para ulama fiqh telah mengemukakan syarat- syarat gadai sebagai berikut:30

a) Syarat yang terkait dengan orang yang berakad adalah cakap bertindak hukum b) Syarat shigat (lafal). Menurut ulama

hanafiyah akad gadai itu tidak boleh dikaitkan dengan syarat tertentu atau dikaitkan dengan masa yang akan dating karena akad gadai sama dengan akad jual beli. Menurut malikiyah, hanafiyah, dan hanabillah berpendapat bahwa apabila syarat itu mendukung kelancaran akad itu, maka syarat itu dibolehkan.

c) Syarat Al Marhun Bihi (utang) adalah hak wajib yang harus dikembalikan kepada orang tempat berhutang, hutang tersebut boleh dilunasi dengan barang jaminan tersebut, dan hutang itu jelas dan tertentu.

d) Syarat al marhun (barang yang dijadikan jaminan).

e. Jenis-jenis gadai

Gadai apabila dilihat dari sah tidaknya akad maka terbagi menjadi dua, diantaranya adalah:31

29 Nurmala Damayanti, dkk, Pegadaian Syariah Dalam Tinjuan Konseptual, hlm. 6.

30 Fadllan, Perspektif fiqh Muamalah Dan Aplikasinya Dalam Perbankan (Skripsi, FSEI Stain Pamekasan, Tanpa Tahun), hlm.33-34.

31 Abdurrahman Misno, Gadai Dalam Syariat Islam, ( Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam: Ad-Deenar, Tanpa Tahun), hlm.30.

(30)

18

a) Rahn shahih / lazim, yaitu rahn yang benar karena terpenuhi syarat dan rukunnya.

b) Rahn fasid, yaitu akad gadai yang tidak terpenuhi syarat dan rukunnya.

f. Berakhirnya akad gadai

Ada beberapa sebab yang menjadikan berakhirnya sebuah akad gadai, yaitu adalah:32

a) Barang gadai diserahkan kepada pemiliknya.

b) Hutang dibayarkan semuanya.

c) Penjualan barang gadai secara paksa oleh hakim.

d) Pembebasan hutang oleh Murtahin.

e) Pembatalan hutang oleh pihak Murtahin.

f) Rahin meninggal dunia.

g) Barang gadai rusak atau sirna

h) Pemindahan barang gadai kepada pihak lain baik berupa hadiah, hibah dan shadaqah.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif.

Penelitian ini menggunakan studi kasus dimana studi kasus ini berupa pengamatan terhadap suatu kejadian yang nyata adanya yang biasa disebut sebagai kasus dengan menggunakan cara yang sistematis dalam melaksanakan pengamatan, pengamatan informasi, pengumpulan data mengenai kasus yang sedang diteliti, dan pelaporan hasilnya untuk mendapatkan bukti yang jelas dan konkret.

Untuk hasil yang sudah didapatkan, akan diperoleh pengamatan yang sangat mendalam tentang mengapa sesuatu itu bisa terjadi dan dapat menjadi dasar untuk melakukan riset selanjutnya.

32 Ibid,hlm.34.

(31)

19

Penelitian kualitatif ini merupakan jenis metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah (sebagai bahan eksperimen). Penelitian kualitatif lebih menekankan arti dan makna dari pada generalisasi.33

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.

Ada bebearapa alasan dalam mnggunakan pendekatan penelitian kualitatif adalah sebagai berikut : a. Peneliti memang ingin menggunakan pendekatan

penelitian kualitatif dengan tujuan agar bisa dengan mudah mendapatkan pemahaman.

b. Pendekatan kualitatif sangat cocok dengan objek penelitian apabila berhadapan langsung dengan kenyataan yang ada di lapangan.

c. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif maka peneliti dengan mudah untuk mendapatkan informasi dari informan.

d. Pendekatan kualitatif akan mempermudah pemahaman bagi masyarakat awam dan masyarakat umum karena pendekatan penelitian kualitatif ini beupa uraian kata dan kalimat.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, metode deskriptif merupakan metode dalam meneliti status sekelompok orang, objek, suatu set kondisi, dan suatu pemikiran dimasa sekarang.34

2. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti sangatlah penting dalam sebuah penelitian. Kehadiran peneliti yang terjun langsung ke

33 Nurhalimah, AnalisisPeluang Dan Tantangan Pedagang Di Pasar Karang Bulayak Lombok Tengah Pasca Gempa Tahun 2018 ( Skripsi, FSEI UIN Mataram, Mataram, 2019 ) hlm. 26.

34 Muh. Nazir, Metode Penelitian, ( Jakarta: Ghalia Indonesia, cet 7, 2011 ) hlm.

54.

(32)

20

lapangan sangat membantu pada saat pengumpulan data dan mendapatkan data yang jelas dan akurat. Dalam penelitian ilmiah kehadiran peneliti dapat memperoleh data yang benar yang sangat diperlukan dalam penelitian tersebut. Peneliti juga mempunya kedudukan yang penting sekaligus cukup rumit, mengapa demikian?, karena peneliti adalah perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, sekaligus penafsir data yang pada akhirnya peneliti menjadi pelapor hasil penelitian. 35

Tujuan utama peneliti hadir di lapangan agar peneliti mengetahui bagaimana keadaan Pegadaian Syariah dengan cara melibatkan diri dan mengamati secara langsung bagaimana akad yang digunakan, dan pembiayaan yang dibebankan kepada nasabah dalam melakukan kontrak gadai.

3. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini ada beberapa metode dalam pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti. Untuk mendapatkan data yang akurat maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data, teknik tersebut meliputi sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang secara sistematis yang dilakukan oleh peneliti terhadap unsur - unsur dan gejala yang nampak pada obyek penelitian. Adanya observasi peneliti dapat mengetahui akad yang digunakan oleh Pegadaian Syariah unit Bonder dan juga biaya apa yang dibebankan kepada nasabah sekaligus apakah transaksi perjanjian tersebut masih mengikuti kaidah – kaidah syariah yang sesuai dengan ajaran Islam.

35 Lexy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013 ) hlm. 168.

(33)

21

Pernyataan dari seorang ahli yaitu Nasution yang menyatakan bahwa, observasi adalah dasar dari semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan bisa bekerja berdasarkan dua, yaitu fakta mengenai kenyataan yang diperoleh melalui observasi.36

Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa observasi membantu peneliti dalam melakukan penelitian agar bisa mendapatkan data yang akurat dan nyata berdasarkan fakta guna untuk mendapatkan keabsahan dari penelitian ini.

2. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang melibatkan antara dua orang atau lebih yang menimbulkan tanya jawab antara peneliti dengan narasumber. Apabila peneliti melaksanakan study pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti, peneliti juga ingin mengetahui hal – hal mengenai akad dan pembiayaan secara lebih mendalam maka peneliti harus melakukan wawancara terlebih dahulu.

Wawancara dalam penelitian kali ini ditujukan langsung kepada Pegawai Pegadaian syariah seperti Penaksir dan kasir Pegadaian Syariah unit Bonder dan nasabah yang melakukan gadai di Pegadaian Syariah Unit Bonder.

Daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber akan di lampirkan di halaman lampiran.

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah catatan penting yang berasal dari perorangan, organisasi, atau lembaga.

Dokumentasi merupakan pengambilan gambar yang dilakukan oleh peneliti untuk memperkuat hasil

36 Suaharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hlm. 136.

(34)

22

penelitian dan juga dijadikan sebagai bukti yang konkret. Dokumentasi bisa berbentuk rekaman, gambar, catatan, atau karya yang dihasilkan oleh seseorang.

Menurut seorang ahli (Arikunto) dokumentasi adalah mencari data mengenaai hal – hal atau variabel yang berupa buku, transkrip, surat kabar, catatan, majalah, lengger agenda, prasasti, notulen rapat, dan lain sebagainya. 37

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah Struktur Organisasi Pegadaian Syariah Unit Bonder, Surat Bukti Rahn, Data nasabah, sarana dan Prasarana yang terdapat di Pegadaian Syariah Unit Bonder.

4. Jenis Dan Sumber Data 1. Jenis Data

Adapun jenis data dalam penelitian adalah data kuantitatif dan kualitatif.

a. Data kuantitatif

Data kuantitatif adalah jenis data yang dapat diukur dan dihitung secara langsung berupa informasi atau penjelasan yang dinyatakan dengan bilangan atau bentuk angka. Dalam hal ini data kuantitatif yang diperlukan adalah jumlah karyawan atau jumlah yang berupa sampel, jumlah sarana dan prasarana, dan hasil angket. 38

b. Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka yang termasuk data kuantitatif, dalam penelitian ini yaitu gambaran umum obyek penelitian meliputi sejarah singkat berdirinya, letak geografis objek, visi dan misi, dan struktur organisasi.39

37 Suharsimi Arikunto, Ibid. hlm. 274.

38 Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rakesarasin, 1996), hlm. 2.

39 Sugiyono, Statistik Untuk Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010) , hlm 15.

(35)

23 2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua macam, diantaranya : 40

a. Data primer : Data prmer adalah data yang diperoleh secara langsung dari tempat penelitian di Pegadaian Syariah unit Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Data tersebut merupakan data yang diperoleh dari para informan, yang dijadikan sebagai informan dalam penelitian ini adalah Nasabah, Pegawai Pegadaian syariah dan Pimpinan Pegadaian Syariah Unit Bonder, mengenai akad apa yang digunakan dalam melakukan gadai emas dan perjanjian apa yang disepakati dalam kontrak gadai emas.

b. Data Sekunder : Data sekunder adalah data yang diperoleh penelitian, pihak lain yang dimaksud adalah peneliti mendapatkan data dari buku, jurnal, skripsi, majalah, internet, diktat yang berkaitan dengan penelitian yang diteliti.

5. Analisis Data

Perolehan data dari berbagai sumber dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam, triangulasi dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.41 Teknik triangulasi merupakan pengumpulan data-data yang valid dari berbagai informasi sehingga dari hasil tersebut dijadikan sebagai kesimpulan atau hasil penelitian.

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum ke lapangan, pada saat di lapangan, dan setelah selesai dilapangan, analisis data

40 Lexy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, hlm.157.

41 Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor : Ghalia Indonesia. Cet 7, 2011), hlm.

243.

(36)

24

kualitatif dilakukan selama proses pengumpulan data berakhir sampai selesainya pengumpulan data.42

Sifat pengumpulan data yang dilakukan adalah Induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjaadi sebuah hipotesis. Dari data tersebut, perumusan berdasarkan hipotetis, maka dicarikan lagi data dari hipotesis tersebut, selanjutnya pencarian data dilakukan lagi secara berulang-ulang sehingga dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut ditolak atau diterima berdasarkan data yang dikumpulkan. Apabila berdasarkan data yang telah dikumpulkan secara berulang-ulang dengan teknik triangulasi, dan ternyata hipotesis tersebut diterima, maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori.43

Didalam analisa data terdapat beberapa langkah yang ditempuh diantaranya adalah :

a. Reduksi data, yaitu pemilihan dan penyederhanaan data kasar dan memberikan kode pada data yang dianalisa.

b. Penyajian data, yaitu setelah melakukan reduksi data kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat yang mudah dimengerti.

Pada kegiatan ini peneliti akan memilih data yang dapat mewakili dan apabila terdapat data yang tidak menunjang maka akan dihapus.

c. Verifikasi data, yaitu memberikan kesimpulan terhadap fakta dari data yang telah dianalisis.

Dengan menggunakan langkah-langkah analisa data diatas maka peneliti akan mudah dalam menganalisa data demi mendapatkan hasil yang valid

42 Nurhalimah, AnalisisPeluang Dan Tantangan Pedagang Di Pasar Karang Bulayak Lombok Tengah Pasca Gempa Tahun 2018 (Skripsi, FSEI UIN Mataram, Mataram, 2019) hlm. 32.

43 Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor : Ghalia Indonesia. Cet 7, 2011), hlm.

245.

(37)

25

dalam proses analisa data tentang kontrak gadai emas di Pegadaian Syariah Unit Bonder.

6. Validasi Data a. Triangulasi

Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan kebenaran atau keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang ada diluar untuk itu keeperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data tersebut.44

Pada proses validasi data ini peneliti menggunakan triangulasi dengan melakukan perbandingan antara apa yang terjadi pada saat pengamatan berlangsung dengan jawaban pada saat melakukan wawancara dengan mewawancarai beberapa nasabah dan pegawai Pegadaian Syariah.

b. Kecukupan referensi

Referensi yang digunakan dan dibutuhkan dalam penelitian ini terdiri dari dokumentasi, buku- buku, jurnal, yang ada kaitannya dengan permasalahan penelitian.

c. Perpanjangan keikutsertaan peneliti

Dalam mengenal suatu lingkungan harus membutuhkan cukup waktu, hubungan baik dengan orang-orang yang ada dilapangan sangat perlu, mengenal kebudayaan lingkungan, dan mengecek keberadaan informasi. 45 karena data yang diperlukan peneliti masih ada mengenai kontrak gadai dan pembiayaan yang ada di Pegadaian Syariah, maka peneliti akan menambah waktu penelitian agar data yang peneliti butuhkan dapat terlengkapi.

H. Sistematika Pembahasan

44 Burhan Bungin, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung : Rosdakaria, 2004), hlm. 207.

45 Lexy J. Moelong, Metode Penelitian Kualitatif, hlm. 330.

(38)

26

Sistematika pembahasan dalam penulisan skripsi ini terdiri dari beberapa bab yaitu :

Bab I Pendahuluan, bab ini berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian (pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, jenis dan sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data dan validasi data) dan sistematika pembahasan skripsi.

Bab II berisi tentang paparan dan temuan peneliti yang didapatkan di lapangan. Pada bagian dari bab ini peneliti akan mencoba menggambarkan secara singkat profil lokasi penelitian dan penemuan yang didapatkan selama melakukan penelitian terkait dengan kontrak gadai emas dan pembiayaan yang ada di Pegadaian Syariah Unit Bonder.

Bab III berisi tentang pembahasan. Dalam hal ini peneliti akan menguraikan tentang jawaban terhadap pertnyaan- pertanyaan yang ada di rumusan masalah yaitu tinjauan hukum ekonomi islam mengenai sistem pembiayaan pemeliharaan terhadap kontrak gadai emas dan pendapat hukum ekonomi islam terhadap pengambilan emas sebesar 1 miligram setiap melakukan gadai emas di Pegadaian Syariah unit Bonder.

Bab IV berisi tentang penutup. Penutup berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi tentang hasil penelitian mengenai analisis yang dilakukan terhadap hukum ekonomi islam mengenai sistem pembiayaan pemeliharaan terhadap kontrak gadai emas dan pendapat hukum ekonomi islam terhadap pengambilan emas sebesar 1 miligram setiap melakukan gadai emas di Pegadaian Syariah Unit Bonder.

(39)

27 BAB II

RUANG LINGKUP PEGADAIAN SYARIAH UNIT BONDER A. Gambaran umum PT. Pegadaian Syariah Unit Bonder

1. Sejarah Pegadaian Syariah Unit Bonder

Pegadaian Syariah Unit Bonder berdiri pada tahun 2010 dengan nama cabang Pegadaian Syariah Unit Bonder dan berlokasi Di Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah dan langsung beroperasi di tahun 2010, dan apabila dihitung dari tahun 2010 sampai tahun 2022 maka Pegadaian Syariah Unit Bonder telah beroperasi selama 12 tahun dengan Pimpinan kantor cabang yang menjabat selama 1 tahun dengan sistem rolling. Pegadaian Syariah Unit Bonder dibangun bertujuan untuk membantu masyarakat Desa Bonder dan sekitarnya untuk mendapatkan dana cepat dengan syarat menggadaikan barangnya sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman, dan pinjaman tersebut akan diberikan apabila telah memenuhi syarat yang diajukan Pegadaian Syariah kepada calon nasabahnya.

Menurut hasil wawancara dengan Bapak Ahlis selaku penjaga keamanan atau satpam di Pegadaian Syariah Unit Bonder tentang sejarah Pegadaian Syariah Unit Bonder, beliau mengatakan:

“Pegadaian Syariah Unit Bonder ini dibangun dan beroperasi sejak tahun 2010 yang menggunakan nama cabang Pegadaian Syariah Bonder yang pimpinan cabangnya diganti setiap setahun sekali dan juga bahkan ada yang menjabat selama 6 Bulan dan 3 Bulan semenjak saat itu banyak masyarakat yang melakukan gadai disini”.46

46 Wawancara dengan Bapak Ahlis selaku Satpam Pegadaian Syariah Unit Bonder tanggal 1 juni 2022. jam 14:44.

(40)

28 2. Visi dan Misi Pegadaian

Visi:

“menjadi The Most Valuable Financial Company Di Indonesia dan sebagai agen inklusi keuangan pilihan utama masyarakat”.47

Misi:

a. Memberikan manfaat dan keuntungan optimal bagi seluruh pemangku kepentingan dengan mengembangkan bisnis inti.

b. Membangun bisnis yang lebih beragam dengan mengembangkan bisnis baru untuk menambah proporsi nilai kepada nasabah dan pemangku kepentingan.

c. Memberikan service excellence dengan fokus nasabah melalui:

1) Bisnis proses yang lebih sederhana dan digital 2) Tekhnologi informasi yang handal dan mutakhir 3) Praktik manajemen resiko yang kokoh

4) SDM yang profesional berbudaya kinerja baik 3. Budaya Perusahaan Pegadaian

Untuk mendukung visi dan misi perseroan, maka telah ditetapkan budaya perusahaan yang harus selalu dipelajari, dipahami, dihayati, dan dilaksakan oleh seluruh orang-orang yang berhubungan dengan pegadaian yaitu jiwa G-values yang terdiri dari:

a. Integrity b. Professional c. Mutual trust d. Customer focus e. Social value

5. Produk Pegadaian Syariah

Adapun produk-produk yang ditawarkan Pegadaian Syariah unit bonder, antara lain:

a. Arrum hajji

47 www.pegadaian.co.id diakses tanggal 28 April 2022 Jam 19:46

(41)

29

Arrum hajji merupakan produk Pegadaian Syariah Unit Bonder yang memungkinkan kita untuk bisa mendapatkan porsi hajji dengan jaminan emas.

Arrum hajji memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut:

1. Memperoleh tabungan hajji yang langsung dapat digunakan untuk memperoleh nomor porsi hajji.

2. Biaya pemeliharaan barang jaminan yang ekonomis dan terjangkau.

3. Kepastian nomor porsi.

4. Jaminan emas dapat digunakan untuk pelunasan biaya hajji pada saat biaya hajji telah lunas.

5. Emas dan dokumen hajji aman tersimpan di pegadaian.

b. Multi pembayaran

Multi pembayaran online (MPO) melayani pembayaran berbagai tagihan seperti listrik, telepon, air, tiket, internet, TV berbayar, pembayaran iuran BPJS, dan lain-lain.

d. Tabungan emas.

Tabungan emas merupakan layanan pembelian dan penjualan emas dengan fasilitas titipan dengan harga yang cukup terjangkau. Layanan ini memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk berinvestasi emas.

e. Mulia

Mulia merupakan layanan penjualan emas batangan kepada masyarakat secara tunai atau angsuran dengan proses mudah dan jangka waktu yang fleksibel. Mulia dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan investasi yang aman untuk mewujudkan kebutuhan masa depan, seperti menunaikan ibadah hajji, mempersiapkan biaya pendidikan anak, memiliki rumah idapan dan kendaraan pribadi.

(42)

30 f. Gadai syariah

Pembayaran gadai syariah dari pegadaian syariah merupakan solusi tepat dalam kebutuhan dana cepat yang sesuai dengan syariah, prosesnya cepat cukum membutuhkan waktu hanya 15 menit dana cair dan aman penyimpanannya. Jaminan barang berupa perhiasan, elektronik dan kendaraan bermotor.

Adapun keunggulan dari produk gadai syariah antara lain, sebagai berikut:

1. Pelayanan gadai syariah tersedia di lebih dari 600 cabang pegadaian syariah di Indonesia.

2. Prosedur pengajuannya sangat mudah.

3. Prosedur pinjaman sangat cepat, hanya membutuhkan waktu 15 menit.

4. Pinjaman (marhun bih) mulai dari 50 sampai miliar ke atas.

5. Pinjaman berjangka waktu sampai 4 bulan dan dapat diperpanjang berkali-kali.

6. Pelunasan dapat dilakukan sewaktu-waktu dengan perhitungan mu’nah ( jasa pemeliharaan atau penjagaan) selama masa pinjaman.

7. Proses pinjaman tanpa harus membuka rekening.

8. Penerimaan marhun bih dalam bentuk tunai dan/atau transfer rekening nasabah.

(43)

31 6. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi Kantor Cabang Pegadaian Syariah Unit Bonder, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah.48

48 Sumber: Pedoman Struktur Organisasi Dan Tata Kerja PT. Pegadaian Syariah Unit Bonder

Pimpinan Cabang Muhammad Asfany

Manajer Operasional

Rangga Septian

Penaksir Rangga Septian

Pengelola agunan Rangga Septian

kasir

Muhammad Ary Maulana

(44)

32

Berikut ini merupakan uraian jabatan dan fungsi di kantor cabang Pegadaian Syariah Unit Bonder, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah berdasarkan peraturan direksi PT.

Pegadaian:

1. Pimpinan cabang, berfungsi sebagai perencana atau merencanakan, mengorganisasikan, menyelenggarakan, dan mengendalikan kegiatan operasional, administrasi dan keuangan usaha gadai. Untuk memenuhi penyelenggaraan fungsi tersebut, pemimpin cabang mempunyai tugas sebagai berikut:

1) Menyusun rencana kerja beserta anggaran kantor, berdasarkan acuan yang telah ditetapkan.

2) Mengorganisasikan, merencanakan, menyelenggarakan, serta mengendalikan operasional usaha gadai, berupa barang jaminan yang bermasalah, pengelolaan modal kerja, sistem praktik pembuatan laporan kegiatan, pemasaran dan pelayanan, ketertiban dan kebersihan kantor.

3) Mewakili setiap kepentingan perusahaan baik kedalam maupun keluar berdasarkan wewenang yang diberikan oleh kepala atasan

2. Manager operasional, mempunyai fungsi sebagai perencana atau merencanakan, mengkoordinasikan, mengawaqsi dan melaksanakan penetapan harga taksiran, penetapan kelayakan kredit, penetapan besaran uang pinjaman, keuangan, administrasi, serta pembuatan laporan kegiatan operasional usaha gadai. Adapun tugas manager operasional meliputi:

1) Mengkoordinasikan, merencanakan, melaksanakan dan mengawasi kegiatan operasional usaha gadai.

2) Menangani barang jaminan yang bermasalah berupa taksiran, barang jaminan rusak, barang jaminan palsu, dan barang jaminan jatuh tempo, kredit macet serta asuransi kredit.

Referensi

Dokumen terkait

SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PENGELUARAN KAS PRODUK GADAI SYARIAH PADA PT. PEGADAIAN SYARIAH CABANG KEUTAPANG

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ Pengaruh Biaya Penitipan (Ujrah) Terhadap Kepuasan Nasabah Gadai Emas (Studi Kasus Pada Pegadaian Syariah Way Halim Bandar Lampung) ”

Dari permasalahan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Prosedur Pembiayaan Gadai Emas Syariah pada PT Bank Syariah Mandiri Kantor

Lelang gadai emas di CPS Ahmad Ayani Pontianak ini ditujukan bagi nasabah yang masa gadainya telah habis. Dalam Pegadaian Syariah jika nasabah tidak menebus

Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi dalam penerapan akad Ijārah dan mu’nah dalam praktek gadai emas menurut tinjauan fatwa DSN Nasional

40 B yang berdiri sejak bulan April 2010 serta merupakan salah satu pegadaian Syariah yang ada di Surabaya dalam praktiknya untuk melakukan transaksi gadai emas, nasabah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran produk tabungan emas PT. Pegadaian (PERSERO) Unit Pelayanan Syariah