TINJAUAN KONDISI FISIK ATLET KARATE (LEMKARI) DOJO PALAPA SAIYO KAB. PADANG PARIAMAN
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang
SKRIPSI
Oleh:
FERDIAN 2007/85627
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA JURUSAN KEPELATIHAN OLAHRAGA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012
ABSTRAK
Ferdian, 2012 : "Tinjauan Kondisi Fisik Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
Masalah dalam peneltian ini adalah rendahnya prestasi Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman diduga kurangnya tingkat kondisi fisik atlet. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif, dimana bertujuan untuk mengetahui tingkat kondisi fisik Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman yang berkenaan dengan kecepatan kelincahan, daya ledak otot tungkai dan daya tahan (VO2max).
Populasi penelitian berasal dari atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman di tahun 2012 dengan jumlah 30 orang yang terdiri atlet putera yang berjumlah 18 orang dan atlet puetri 12 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposif sampling yaitu atlet putera yang berjumlah 18 orang yang dijadikan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan cara melakukan tes dan pengukuran pada masing-masing unsur kondisi fisik. Kecepatan diukur dengan lari sprint 30 meter, kelincahan diukur dengan shuttle run tes, daya ledak otot tungkai diukur dengan vertical jump test, dan daya tahan (VO2max) diukur dengan bleeptest.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif (tabulasi frekuensi). Dari analisis data sesuai dengan jawaban dari pertanyaan penelitian diperoleh hasil :
1. Rata - rata tingkat kecepatan Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman 4,76 detik tergolong kategori sedang.
2. Rata - rata tingkat kelincahan Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman 13,81 detik tergolong kategori sedang
3. Rata - rata tingkat daya ledak otot tungkai Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman 80,4 tergolong kategori sedang
4. Rata - rata tingkat daya tahan aerobic (VO2max) Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman 35,8 ml/kgBB/menit tergolong kategori sedang.
Kata kunci: Kecepatan, Kelincahan, Daya ledak otot tungkai dan Daya tahan aerobic (VO2max).
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan Kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini dengan judul “ Tinjauan Kondisi Fisik Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman”. Penulisan Skripsi ini dibuat untuk melengkapi persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana pada Jurusan Kepelatihan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Padang (UNP).
Dalam penyusunan penulisan Skripsi ini peneliti menyadari masih banyak kekurangan, untuk itu peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan. Dalam pelaksanaan penyusunan Skripsi ini peneliti banyak mendapat bantuan dan bimbingan baik moril maupun materil dari berbagai pihak. Untuk itu melalui ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Drs. Arsil, M. Pd Sebagai Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang.
2. Bapak Drs. Maidarman, M. Pd selaku Ketua Jurusan Kepelatihan Olahraga.
3. Bapak Roma Irawan, S.Pd M. Pd sebagai Pembimbing I sekaligus Penasehat Akademik. dan Bapak Dr. H. Syahrial B. M.Pd Pembimbing II.
4. Bapak Drs. Suwirman, M.Pd, Bapak Drs. Masrun, M.Kes AIFO dan Bapak Padli, S.Si M.Pd sebagai tim tim penguji Jurusan Kepelatihan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang..
5. Pengurus, Pelatih dan Atlet Karate-Ka Dojo Palapa Saiyo
6. Kepada kedua orang tua dan keluarga besar yang telah memberikan dorongan dan doa .
7. Rekan-rekan seperjuangan yang turut memberikan dukungan moril dalam penulisan skripsi ini.
Akhirnya peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu, semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal dan penulisan Skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Padang, Juli 2012
Peneliti
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR……….vi
DAFTAR LAMPIRAN……….vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 5
C. Pembatasan Masalah ... 6
D. Perumusan Masalah ... 7
E. Tujuan Penelitian ... 7
F. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori ... 9
a. Hakekat Karate ... 9
b. Hakekat Kondisi Fisik ... 12
1. Kelincahan ... 14
2. Daya Ledak Otot Tungkai ... 17
3. Kecepatan ... 19
4. Daya Tahan ... 22
B. Kerangka Konseptual ... 23
C. Pertanyaan Penelitian ... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian………..28
B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 28
C. Populasi dan Sampel ... 29
D. Defenisi Operasional ... 30
E. Jenis Data dan Sumber Data ... 31
F. Teknik Pengumpulan Data ... 31
G. Instrumen Penelitian ... 32
H. Teknik Analisis Data ... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskriptif Data ... 41
B. Analisis Data ... 44
1. Kecepatan... 44
2. Kelincahan ... 46
3. Daya Ledak Otot Tungkai ... 48
4. Daya Tahan ... 49
C. Pembahasan ... 50
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 56
B. Saran-saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
1. Tabel 1. Jumlah Populasi atlit………..29 ...
2. Tabel 2. Norma Tes Kecepatan……….33 ...
3. Tabel 3. Norma Tes Kelincahan………...35 ...
4. Tabel 4. Norma Tes Vertical Jump ...37 ...
5. Tabel 5. Klasifikasi Kebugaran (VO2Max)...39 ...
6. Tabel 6. Hasil Pengukuran Kecepatan Atlet Karate
(LEMKARI)...41 ...
7. Tabel 7. Hasil Pengukuran Kelincahan Atlet Karate
(LEMKARI)………..42 8. Tabel 8. Hasil Pengukuran Daya Ledak Otot Tungkai Atlet
Karate (LEMKARI)……… … …43 9. Tabel 9. Hasil Pengukuran Daya Tahan Aerobik(VO2Max)
Atlet Karate (LEMKARI)...44 10. Tabel 10. Distribusi Frekuensi Kecepatan Atlet Karate (LEMKARI)
Dojo Palapa Saiyo ... ... ...45 11. Tabel 11. Distribusi Frekuensi Kelincahan Atlet Karate (LEMKARI)
Dojo Palapa Saiyo...46 12. Tabel 12. Distribusi Frekuensi Daya Ledak Otot Tungkai Atlet
Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo...48 13. Tabel 13. Distribusi Frekuensi Daya Tahan Aeorobik Atlet Karate
(LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo...49
DAFTAR GAMBAR
1. Gambar 1. Kerangka Konseptual
...………..…26
2. Gambar 2. Lintasan Tes Kecepatan
... ………...33 3. Gmbar 3. Lintasan Tes Kelincahan
... ………...35 4. Gambar 4. Tes Daya Ledak Otot Tungkai
... ………36 5. Gambar 5. Histogram Tingkat Kecepatan Atlet Karate
(LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo
...45 6. Gambar 6. Histogram Tingkat Kelincahan Atlet Karate
(LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo
... ...47 7. Gambar 7. Histogram Tingkat Daya Ledak Otot Tungkai
Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo
... ...48 8. Gambar 8.Histogram Tingkat Daya Tahan Aerobik Atlet
Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo
... ………..50
DAFTAR LAMPIRAN
1. Data Mentah Tes Kecepatan ... 58
2. Data Mentah Tes Kelincahan ... 59
3. Data Mentah Tes Daya Ledak Otot Tungkai ... 60
4. Data Mentah Daya Tahan Aerobik ... 61
5. Dokumentasi ... 62
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakakang Masalah
Pembangunan dibidang olahraga salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat saat ini. Hal ini disadari sepenuhnya bahwa melalui olahraga akan meningkatkan prestasi, kesegaran, rohani serta pembentukan sikap yang sesuai dengan hakekat pembangunan manusia seutuhnya.
Hal ini terdapat dalam UU RI No. 3 Tahun 2005 tentang sistem keolahragaan Nasional (2005 : 6) yang menyatakan bahwa:
“keolahragaan nasional bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan dan kebugaran, kualitas, manusia,menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan bangsa, memperkukuh ketahanan nasional serta mengangkat harkat martabat dan kehormatan bangsa“
Berdasarkan kutipan di atas, maka dapat diungkapan bahwa untuk meningkatkan manusia yang bekualiatas, sadar akan pentingnya kesehatan jasmani dan rohani adalah dengan melakukan aktifitas olahraga. Dalam rangka meningkatkan kontribusi olahraga sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kegiatan olahraga yang dilakukan tidah hanya memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat, akan tetapi masyrakat Indonesia memiliki jiwa dan raga yang
sehat serta kesegaran jasmani yang baik, tetapi lebih dari itu adalah untuk mencapai prestasi yang maksimal dalam kerja maupun olahraga.
Olahraga kian berkembang pesat saat ini, terbukti dengan banyak nya klub yang bergerak dibidang keolahragaan. Salah satunya adalah cabang olahraga karate. Olahraga cabang karate adalah cabang olahrag yang manuntut kekuatan, kecepatan dan daya tahan kekuatan. Olahraga karate melibatkan hampir seluruh otot tubuh, mulai dari otot jari, otot tangan, otot lengan, sampai otot kaki,faktorlainnya ialah keberanian, ketenangan, kelenturan tubuh, dan teknik yang benar.
Olahraga karate sudah lama berkembang di Indonesia sejak tahun 1972 yang dibawa oleh putra putri Indonesia yang belajar di Jepang.
Sekarang olahraga karate sudah mulai menampakan prestasi yang cemerlang pada even even nasional maupun internasional. Olahraga karate dalam pembinaan atlet selalu menginginkan prestasi yang lebih tinggi untuk kejayaan bangsa dan Negara. Untuk mencapai prestasi yang tinggi harus didukung oleh kematangan mental atlit, kedisiplin atlit dalam latihan danfaktorlain yang dapat mendukung terhadap peningkatan prestasi. Sebab pencapaian prestasi yang tinggi harus melalui metode latihan yang tepat, atlet yang berbakat, perencanaan yang matang dan pembinaan kondisi fisik yang baik.
Pembinaan kondisi fisik bertujuan untuk mengoptimalkan kemampuan fisik olahragawan. Kemampuan fisik olahragawan sebagai dasar penunjang pencapaian prestasi puncak. Kondisi fisik dalam
pembinaan karate harus diberikan seirama dengan latihan teknik, taktik dan kematangan bertanding. Karena pertandingan secara umum adalah sarana untuk melihat sejauh mana hasil pembinaan yang dilakukan untuk membuktikan apakah program latihan yang diterapkan sudah tepat.
Sehingga melalui hasil pertandingan dapat dievaluasi untuk memperbaiki program latihan sesuai dengan yang ingin dicapai. Seorang karateka memerlukan kemampuan kondisi fisik yang prima. Untuk itu perlu mempedomani dan melakukan latihan dalam kondisi fisik yang stabil.
Pembinaan kondisi fisik seorang karate bertujuan untuk mengoptimalkan dalam menerima latihan latihan karate. Perhatian terhadap pembinaan kondisi fisik hendaknya sejalan dengan aspek teknik, taktik, dan mental karna keempat aspek ini merupakan komponen yang penting dan saling berhubungan.
Peningkatan kemampuan kondisi fisik harus dilakukan melalui penambahan beban secara bertahap. Pemberian beban latihan fisik selalu terkait dengan proses superkompensasi. Hal ini dapat dicapai dengan memfariasikan volume, intensitas dan durasi dalam setiap latihan. Fariasi latihan terjadi kapan seorang atlet diberi beban latihan ringan, normal dan berat serta waktu istirahan yang tepat. Perbandingan beban latihan fisik ini sangat tergantung pada kemampuan awal atlet, pada memberikan fariasi latihan kondisi yang harus diperhatikan menurut Harsono (1980 : 112 ) menyatakan bahwa, “jika intensitas latihan terlalu tinggi dan volume latihan terlalu banyak akan terjadi over training, sebaliknya apabila
intensitas dan volume rendah maka akan terjadi flateu (prestasi stabil tanpa kemajuan)
Dalam pencapaian prestasi olahraga karate kondisi fisik sangat dibutuhkan terutama pada saat pertandingan. Untuk mendapatkan fisik yang baik maka hal itu dapat tewujud melalui latihan yang sistematis, terencana terus menerus, dan meningkat. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ballreich dalam Syafruddin (1994:32) bahwa : “ Komponen- komponen yang mempunyai pengaruh langsung dalam pencapaian prestasi adalah kondisi fisik, teknik,taktik dan mental.”
Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa keempat aspek tersebut dapat meningkatkan prestasi atlet karate Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman. Pentingnya kondisi fisik pada atlet berperan pada saat pertandingan terutama pertandingan laga. Faktor-faktor kondisi fisik yang dibutuhkan dalam olahraga karate diantaranya yaitu : kelincahan, kecepatan, daya ledak dan daya tahan.
Kecepatan dalam olahraga karate berperan pada saat atlet melepaskan serangan kelawan. Bentuk serangan yang dilepaskan harus cepat dan tepat pada sasaran. Serangan yang cepat tidak akan bisa ditangkap oleh lawan, sehingga atlet mendapatkan poin. Semakin cepat gerakan atlet maka semakin banyak poin yang diperoleh dan atlet mudah meraih kemanangan.
Dalam olahraga karate kelincahan dibutuhkan pada saat atlet menghindar dari serangan lawan dalam pertandingan. Pertandingan
olahraga karate pada kategori kumite atau tanding membutuhkan beberapa bentuk serangan. Serangan yang dilakukan baik tendangan maupun pukulan harus dilakukan dengan cepat dan lincah.
Faktor daya ledak dalam pertandingan karate dibutuhkan pada saat atlet melakukan serangan. Serangan yang membutuhkan daya ledak yang kuat ini adalah berupa tendangan dan pukulan. Tendangan yang dilakukan haruslah dengan kuat dan cepat baik latihan maupun dalam pertandingan.
Semakin kuat dan tepat tendnagan atlet dalam pertandingan maka semakin mudah atlet meraih kemenangan.
Ketiga faktor kondisi fisik di atas juga membutuhkan daya tahan dalam olahraga karate. Pertandingan kumite pada olahraga karate selama 4 menit, dengan demikian daya tahan atlet dituntut selama pertandingan berlangsung atau dari awal sampai pada akhir pertandingan.
Selain membutuhkan kondisi fisik ynag baik olahraga karate ini juga membutuhkan teknik,taktik dan mental atlet yang pantang menyerah.
Teknik yang dominan dilakukan dalam pertandingan adalah teknik tendangan dan pukulan. Tendangan dalam olahraga karate terdiri dari : tendangan maegeri ( lurus ), tendangan mawashi (melingkar), tendangan kikomi (samping). Untuk mencapai prestasi atlet yang baik dalam pertandiangan harus menguasai teknik-teknik tersebut dengan latihan yang rutin dan efisien. Kondisi fisik yang baik dan teknik sernagan yang tepat dan lincah belum sepenuhnya mendukung prestasi atlet dalam
pertandingan secara maksimal. Hal itu juga membutuhkan taktik yang terencana agar atlet dapat mengalahkan lawan dengan mudah.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa dalam pencapaian prestasi yang maksimal dibutuhkan 4 (empat) aspek latihan yang tiadak dapat dipisahkan terutama latihan kondisi fisik. Oleh karena itu peneliti ingin mengadakan penelitian dengan judul “ Tinjauan Kondisi Fisik Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi fisik atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
2. Bagaimana kelincahan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
3. Bagaimana kecepatan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
4. Bagaimana daya ledak atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
5. Bagaimana daya tahan tubuh atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
6. Bagaimana penguasaan teknik atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
7. Bagaimana taktik atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab.
Padang Pariaman ?
8. Bagaimana mental atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab.
Padang Pariaman ?
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, untuk meraih prestasi yang maksimal ternyata banyak faktok pendukung yang lain. Oleh karena berbagai keterbatasan maka penelitian ini membatasi hanya pada masalah :
1. Kecepatan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
2. Kelincahan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
3. Daya ledak atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
4. Daya tahan tubuh atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab.
Padang Pariaman ?
D. Perumusan Masalah
Sehubungan dengan pembatasan masalah di atas maka dapat disusun perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1. Sejauhmana kecepatan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
2. Sejauhmana kelincahan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
3. Sejauhmana daya ledak atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
4. Sejauhmana daya tahan tubuh atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengungkap :
1. Kecepatan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
2. Kelincahan atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
3. Daya ledak atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
4. Daya tahan tubuh atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab.
Padang Pariaman ?
F. Manfaat Hasil Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang dikemukakan terdahulu dan memperhatikan masalah-masalah penelitian, maka diaharapkan hasil penelitian dapat bermanfaat bagi :
1. Peneliti untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta untuk mendapat kan gelar Sarjana pada Program studi Strata satu (S1) Jurusan Pendidikan Kepelatiahan Olahraga Fakultas Ilmu Keolahragaa Universitas Negeri Padang.
2. Pelatih dan pengurus karate untuk membuat dan menjalankan program latihan olahraga karate.
3. Peneliti selanjutnya sebagai bahan bacaan dalam menulis tugas-tugas, terutama pada tugas-tugas mengenai gerakan-gerakan yang terdapat dalam olahraga karate.
4. Para pembaca pada perpustakaan Universitas Negeri Padang, Khususnya pada perpustakaan Fakultas Ilmu Keolahragaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori 1. Hakekat Karate
Sejarah Karate Tote (karate) merupakan seni beladiri yang telah mengalami perkembangan di Okinawa selama berabad-abad. Untuk pertama kalinya , Tote di peragakan secara umum pada bulan Mei 1922 di dalam Pekan Olahraga Atletik Nasional di Tokyo yang di sponsori oleh ke Mentrian Pendidikan . Orang yang khusus di undang untuk memberikan peragaan yaitu ahli Karate yang bernama Gichin Funakoshi dan beliau dikenal sebagai bapak Karate moderen. Ketika itu Ginchin Funakoshi menjadi ketua umum dari Okinawa Shobu Kai. ( Persatuan Beladiri Perkasa Okinawa)
Tote mulai dikenal oleh masyarakat umumnya sebagai karate jutsu sekitar tahun 1929, Ginchin Funakoshi mengambil langkah-langkah revolusioner di dalam perjuangannya yang ulet dan pantang mundur untuk merubah Tote menjadi Karate-Do. Seiring dengan perkembangan jaman, karate tidak hanya dijadikan sebagai olahraga beladiri , olahraga prestasi, dan lebih luas lagi di jadikan sebagai ajang pendidikan. Dilihat dari proses pelatihannya olahraga karate menggunakan aktifitas jasmani sebagai
sarana pembentukan watak, mental dan kepribadian individu sebagai prilakunya
Menurut T. Chandra dalam Kamus Bahasa Jepang-Indonesia (Evergreen Japanes Course, Jakarta-2002) arti kata Karate-do adalah sebagai berikut ; ‘’kara’’mempunyai arti kosong/hampa/tidak berisi
‘’te’’ bearti tangan(secara utuh/keseluruhan) dan ‘’do’’ bearti jalan/jalur menuju suatu tujuan/pedoman. Menurut Chuck Norris dalam A Dictonary of the Martial Arts(Ohara Publications Inc.,Burbank CA,- 2003).Terminologi Katrate-do di jabarkan sebagai ; ‘’a kind of oriental martial art’’ atau dalam bahasa Indonesia ‘’ Sebuah jenis seni beladiri dari Timur’’ Maka jika disimpulkan dari pengertian tersebut Karate-do adalah seni perkasa yang bertujuan agar seseorang dapat mengatasi segala bentuk rintangan dan mampu membela dirinya walaupun tanpa senjata atau dengan tangan kosong. Karate sesungguhnya merupakan seni beladiri tangan kosong dimana tangan dan kaki dilatih secara sistematis.
Disamping itu Karate merupakan sistem latihan dimana Karateka dilatih dan dididik untuk menguasai semua gerakan tubuh seperti menangkis, menghindar, memukul, menendang dan mengatur keseimbangan.
Nakayama dalam Ferdi Ferdian ( 2006:1 ) menjelaskan bahwa “ karate adalah seni beladiri tangan kosong dimana tangan dan kaki di latih secara sistematis sehinga kekuatan serangan yang tiba-tiba dapat di kontrol dengan penampilan suatu kekuatan seperti mengunakan senjata sungguhan
“ di samping itu sensai April Hamid ( 2007:3 ) menyatakan bahwa,
“ karate adalah olahraga yang keras dan jika menguasai teknik-teknik karate dengan baik,teknik tersebut bisa merupakan senjata yang berbahaya bila di gunakan sembarangan tanpa ada rambu-ranbu pembatas,karna itu olahraga karate selain di latih fisik berupa teknik- teknik serangan atau tangkisan,seorang karateka di tuntut untuk memenuhi etika yang berlaku pada dunia karate “
Karate sebagai ilmu bela diri tangan kosong menuntut seorang Karateka dapat menggunakan seluruh anggota tubuhnya sebagai senjata, sehingga, dapat melumpuhkan lawan. Muchsin (1980:11; dalam Nakayama: 1980) menyatakan,
‘’ Karate-Do sesungguhnya merupakan seni beladiri tangan kosong, dimana tangan dan kaki dilatih sedemikian rupa secara sistematis sehingga serangan tiba-tiba dari musuh dapat di kendalikan dengan penampilan suatu kekuatan, tidak ubahnya seperti senjata sungguhan.’’
Berdasarkan beberapa pernyataan di atas dapat di simpulkan bahwa olahraga karate merupakan salah satu cabang olahraga beladiri tanpa mengunakan senjata tajam tetapi tangan kosong tersebut bisa dapat menjadi senjata yang sangat berbahaya jika di latih secara maksimal dan merupakan cabang olahraga yang keras,oleh karna itu setiap karateka di tuntut agar tidak menyalahgunakan ilmu beladiri karate tersebut. maka dari itu dalam cabang olahraga karate ada lima sumpah yang dapat menuntun sikap para karateka yaitu.
1. Sangup memelihara kepribadian 2. Sangup patuh pada kejujuran 3. Sangup mempertingi prestasi 4. Sangup mejaga sopan santun 5. Sangup menguasai diri
Dengan adanya lima sumpah tersebut maka di harapkan para karate-ka dapat menjadi karate-ka yang baik dan tidak menyalah gunakan ilmu beladiri yang di milikinya,kelima sumpah tersebut wajib di bacakan oleh seluruh karateka pada setiap upacara di awal dan di ahir latihan,dan setiap karate-ka diharapkan dapat memahami dan mengamalkanya dalam kehidupan sehari-hari.dapat di simpulkan bahwa dalam belajar bela diri karate bukan hanya di titik beratkan pada kemampuan fisik dan keahlian semata tetapi juga memperhatikan etika dalam membentuk watak dan kepribadian. seseorang.maka penulis berkesimpulan bahwa olahraga karate merupakan cabang olahraga yang baik yang dapat mendidik dan membina mental atlet.
Selain sebagai alat beladiri, Karate juga berfungsi sebagai seni, olahraga prestasi dan pendidikan. Karate sebagai seni tercermin pada nomor Kata (jurus) yang menuntut Karateka menampilkan suatu rangkaian jurus dengan teknik yang benar dan mengandung nilai. Karate sebagai olahraga prestasi adalah dengan di pertandingkannya Karate di berbagai pertandingan olahraga, baik ditingkat regional, nasional, maupun internasional. Adapun nomor-nomor yang dipertandingkan adalah nomor Kata (jurus), dan nomor Kumite (pertarungan/laga). Karate sebagai olahraga pendidikan tercermin pada proses pelatihannya yang menggunakan aktivitas jasmani sebagai sarana pembentukan watak dan kepribadian pelakunya
B. Hakikat Kondisi Fisik 1. Pengertian Kondisi Fisik
Pengertian kondisi secara umum menurut jonat / krepel dalam Syafruddin (1991:31) adalah meliputi keadaan fisik dan psikis serta kesiapan seorang atlit terhadap tuntutan-tuntutan khusus suatu cabang olahraga. Sedangkan kondisi fisik secara umum adalah kemampuan seorang olahragawan dalam melaksanakan kegiatan olahraga bagi pemain untuk mencapai penampilan yang opitimal. Kemudian kondisi fisik merupakan program pokok dalam pembinaan atlet dalam suatu cabang olahraga. Dan menurut Pasurney (2001:20) kondisi fisik secara umum adalah semua kemampuan jasmani yang menentukan prestasi yang realisasinya dilakukan melalui kemampuan pribadi. Jadi kondisi fisik dapat dilihat dalam arti sempit dan luas, dalam arti sempit merupakan keadaan yang meliputi kekuatan, kecepatan dan daya tahan.
Sedangkan dalam arti luas meliputi kekuatan, daya tahan, kelenturan (fleksibility) dan koordinasi Jonath dan Krempel dalam Syafruddin (1999:39). Tugas pelatih adalah bagaimana meningkatkan kemampuan kondisi fisik atlet melalui suatu proses latihan. Sedangkan Harsono (2001:46) menyatakan, kondisi fisik adalah kemampuan fungsional dari organ tubuh agar dapat melakukan aktifitas fisik secara maksimal.
Kondisi fisik menurut Syafruddin dalam dasar-dasar kepelatihan olahraga (1999:23) kondisi berasal dari kata condition (bahasa latin) yang berarti keadaan. Sedangkan secara definitive yaitu keadaan fisik/ tubuh dan psikis serta kesiapan seorang atlet terhadap tuntutan-tuntutan khusus suatu cabang olahraga. Menurut istilah kondisi fisik berarti keadaan fisik, bisa meliputi sebelum (kemampuan awal), pada saat dan setelah mengalami suatu proses latihan.
2. Unsur-unsur Kondisi Fisik
Unsur-unsur kondisi fisik yang dijelaskan oleh Moeloek dalam Arsil, (2000 : 14) :
1. Daya tahan (cardiovascular-respiratory), 2. Kekuatan otot (muscle strenght)
3. Daya ledak otot (muscle explosive power), 4. Kelentukan (flexibility)
5. Kecepatan (speed), 6. Kelincahan (agility), 7. Keseimbangan (balance), 8. Koordinasi (coordination), 9. Ketepatan (accuracy), 10. Reaksi (reaction).
Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa faktor kondisi fisik sangat dibutuhkan dalam tiap cabang olahraga termasuk olahraga karate. Tidak semua faktor kondisi fisik yang dibutuhkan dalam cabang olahraga ini. Hal ini dilihat pada gerakan-gerakan dalam olahraga memiliki unsur teknik. Teknik
yang dilakukan atlet dalam latihan maupun dalam pertandingan yaitu : serangan dan tangkisan. Unsur kondisi fisik yang dibutuhkan dalam olahraga karate adalah :
1. Kelincahan
a. Pengertian Kelincahan
Menurut Poerwadarminto, (1986) “ kelincahan berasal dari kata lincah yang berarti gesit atau cekatan”.sedangkan menurut Suharno, (1985 : 32) mengatakan bahwa “ Kelincahan adalah kemampuan seseorang dalam merubah posisi dan arah secepat mungkin sesuai dengan situasi yang dihadapi dan dikehendakinya.
Kelincahan yang dimiliki merupakan hasil mengikuti latihan. Kelincahan juga merupakan modal dalam bergerak dengan cepat sesuai dengan situasi dan kondisi dari gerak yang akan dilakukan. Dalam hal ini Krejci dan Peter (1976) mengemukakan bahwa “ Kelincahan merupakan sekelompok otot untuk bergerak dengan fungsi motorik tinggi yang sangat bergantung dari masing-masing individu”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan kelincahan adalah kemampuan seorang untuk merubah arah dan posisinya yang dikehendaki dengan cepat dan tepat sesaat sedang bergerak tanpa kehilangan
kesadaran dan keseimbangan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.
b. Jenis – jenis Kelincahan
Dalam hal ini Suharno, (1985 : 33) membagi kelincahan sebagai berikut :
a. Kelincahan umum (general agility) artinya kelincahan seorang untuk hidup dengan lingkungan tempat tinggal.
b. Kelincahan khusus (special agility) berarti kelincahan seorang untuk melakukan cabang olahraga khusus dimana dalam cabang olahraga lain tidak dibutuhkan.
Kelincahan akan dipengaruhi oleh beberapa komponen kondisi fisik lainnya seperti : kekuatan, keseimbangan, kelentukan dan koordinasi. Maksudnya adalah kombinasi dari komponen-komponen kondisi fisik yang saling terkait.
Suharno, (1985 : 33) menjelaskan bahwa “ faktor-faktor penentu atau tidaknya kelincahan adalah : kecepatan reaksi, kemampuan berorientasi terhadap masalah yang dihadapi, kemampuan mengatur keseimbangan dan kemampuan mengerem gerakan-gerakan motorik”.
Dalam cabang olahraga karate kelincahan yang baik dapat mempermudah penguasaan teknik tangkisan ataupun menghindari serangan lawan efektif dan efisien didalam penggunaan tenaga. Selain itu kelincahan mempermudah orientasi lingkungan dan pergerakan diri serta gerak dalam menyerang ataupun bertahan. Melakukan gerak tipu atau melakukan gerakan yang dapat mematikan serangan lawan dengan gerakan yang tiba-tiba dan cepat dalam merubah arah.
Kelincahan dalam olahraga karate sering membantu atlet dalam mengatasi situasi yang sulit saat diserang oleh lawan, sedikit saja lengah dari serangan lawan akan mengakibatkan lawan mndapatkan nilai (point)
Mengingat banyaknya komponen yang mempengaruhi kelincahan, maka dapat dikatakan bahwa kelincahan merupakan suatu komponen yang sangat penting dalam olahraga karate.
Berdasarkan uraian di atas sangat perlu sekali perhatian khusus dalam pengembangan unsur kelincahan. Atlet yang memiliki kelincahan yang baik maka, hasil pergerakannya akan baik pula, terutama pada saat bertahan dari serangan lawan dan mencari kesempatan untuk melakukan serangan ke arah lawan tanpa harus kehilangan keseimbangan dalam olahraga karate.
Adapun beberapa contoh latihan kelincahan antara lain adalah : zig-zag run, shuttle run, squat thrust dan lain sebagainya.
Kelincahan yang baik dalam olahraga karate dapat mempermudah penguasaan teknik tangkisan ataupun menghindari serangan lawan efektif dan efisien didalam penggunaan tenaga. Selain itu kelincahan mempermudah orientasi lingkungan dan pergerakan diri serta gerak dalam menyerang ataupun bertahan. Semakin lincah atlet dalam melakukan gerakan maka mempermudah atlet dalam meraih kemenangan dalam pertandingan.
2. Daya Ledak Otot Tungkai
a. Pengertian Daya Ledak Otot Tungkai
Menurut Anarino, (1976) Daya ledak adalah berhubungan dengan kekuatan dan kecepatan kontraksi otot dinamis dan eksplosive dan melibatkan pengeluaran kekuatan otot maksimum dalam suaatu durasi waktu pendek. Sedangkan Friedrich (force) dan Boosey (1980) sama-sama mengungkap bahwa power adalah hasil dari kombinasi kekuatan dan kecepatan.
Jansen (1983) : power otot adalah kombinasi dari kekuatan dan kecepatan, yaitu kemampuan untuk menerapkan tenaga (force) dalam waktu yang singkat. Otot harus
menerapkan tenaga dengan kuat dalam waktu yang sangat singkat untuk memberikan momentum yang paling baik pada tubuh atau objek untuk membawa kejarak yang diinginkan.
Bompa (1990) menyatakan : bahwa power adalah hasil dari kekuatan maksimum dan keceoatan maksimum.
Berdasarkan beberapa pendapat dan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa daya ledak adalah kemampuan mengarahkan kekuatan dengan cepat dalam waktu yang singkat untuk memberikan momentum yang paling baik pada tubuh atau objek dalam suatu gerakan eksplosive yang utuh mencapai tujuan yang dikehendaki.
b. Jenis – jenis Daya Ledak Otot Tungkai
Jenis-jenis daya ledak secara umum menurut Bompa (1990) arah dan bentuk gerakan daya ledak terdiri dari daya ledak asiklik dan siklik. Cabang olahraga yang memerlukan daya ledak asiklik secara dominan adalah : melempar, meloncat dalam atletik, unsur gerakan senam, anggar dan gerakan yang memerlukan lompatan ( bola basket, bola volly, karate dan sebagainya ).
Dalam olahraga karate daya ledak berperan dalam melakukan tendangan dan pukulan. Tendangan merupakan serangan yang dominan dilakukan dalam pertandingan. Hal itu
dibuktikan bahwa tendangan memiliki point yang lebih tinggi dibandingkan dengan serangan yang lain.
Untuk mendapatkan tendangan dan pukulan yang tepat maka atlet mendapat latihan kekuatan dan daya ledak.
Tendangan dalam olahraga karate terdiri dari : tendangan maegeri ( lurus ), tendangan mawashi (melingkar), tendangan kikomi (samping).
Tendangan yang dilepaskan ke lawan harus memiliki daya ledak yang bertenaga sehingga tendangan yang dihasilkan efisien dan terkontrol. Otot yang bekerja dalam melakukan tendangan adalah otot tungkai. Dayaledak otot berperan dalam kuatnya tendangan yang dilakukan, semakin kuat daya ledak otot tungkai atlet dalam melakukan serangan maka semakin baik bentuk serangan dan dapat mempermudah atlet meraih kemenangan.
3. Kecepatan
a. Pengertian Kecepatan
Kecepatan diartikan sebagai kemampuan tubuh melakukan gerakan sebanyak mungkin dalam waktu tertentu.
Secara fisiologis kecepatan diartikan sebagai kemampuan yang berdasarkan kelenturan (flexibility), proses system persyarafan dan otot untuk melakukan gerakan-gerakan dalam satuan
tertentu. Sedangkan secara fisikalis, kecepatan dapat diartikan jarak dibagi waktu, dan hasil dari pengaruh kekuatan dari tubuh yang bergerak (syafruruddin, 1992 : 56).
Menurut Robinson (1976) dalam Arsil : kecepatan bergerak adalah kualitas yang memungkinkan orang bergerak, melaksanakan gerakan-gerakan yang sama atau tidak sama secepat mungkin. Menurut Mathews (1979) dalam Arsil kecepatan sebagai sutu kemampuan bersyarat untuk menghasilakan gerakan tubuh dalam waktu sesingkat mungkin.
Menurut Jarver (1989) dalam Arsil : kecepatan adalah kemapuan untuk bergerak dengan sangat baik, tepat dan cepat.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas peneliti menyimpulakan bahwa, kecepatan merupakan kemampuan tubuh mengarahkan semua sistemnya dalam melawan beban, jarak dan waktu yang menghasilkan kerja mekanik.
b. Jenis – jenis Kecepatan
Jenis kecepatan menurut Ozolin dalam Bompa (1990) kecepatan terdiri dari 2 (dua) macam :
a. Kecepatan umum ( general speed )
Kecepatan umum adalah kepastian untuk melakukan beberapa gerakan (reaksi motorik) dengan cara yang cepat.
b. Kecepatan Asiklis
Kecepatan asiklis dibatasi dengan faktor mengenai kecepatan gerak masing-masing otot dan yang terletak dalam otot. Terutama tenaga statis dan kecepatan kontraksi yang menentukan kecepatan gerak, dua faktor tersebut ditentukan fisikositas otot. Disamping itu juga dipengaruhi oleh kerja antagonis peregangan, sehingga awal kerja otot dan panjang tuas serta massa juga menentukan tingkat kecepatan.
Menurut Nosek (1982) dalam Arsil kecepatan digolongkan dalam 3(tiga) bentuk, yaitu :
a. Kecepatan reaksi (reaction speed)
Kecepatan reaksi adalah kecepatan menjawab suatu ransangan dengan cepat. Kecepatan reaksi berpengaruh kepada prestasi lari.
b. Kecepatan bergerak (speed of movement)
Kecepatan bergerak adalah kecepatan merubah arah dalam gerakan yang utuh.
c. Kecepatan sprint (sprinting speed)
Kecepatan sprint merupakan kemampuan organis untuk bergerak kedapan dengan cepat.
Kecepatan merupakan unsur biomotorik (unsur kondisi fisik) yang sangat penting dalam olahraga. Banyak sekali aktifitas dalam olahraga yang mesti dilakukan dengan cepat, misalnya :
seorang karate-ka akan mampu melakukan serangan jika ia mempunyai kecepatan dan sebakliknya ia akan mampu menghindar dari serangan lawan, jika ia punya kecepatan untuk beraksi. Dengan demikian jelaslah kecepatan merupakan unsur kondisi fisik yang sangat dominan dalam aktifitas olahraga.
Pada olahraga karate kecepatan dapat dilihat saat atlet melakukan serangan dalam pertandingan. Serangan yang cepat dan tepat akan mempermudah atlet untuk melakukan serangan yanag baru dan menghasilkan point bagi atlet sehingga atlet meraih kemenangan.
Dalam pertandingan karate atlet harus melakukan tendangan dengan cepat dan kuat. Tendangan yang cepat dapat dilatih dengan meningkatkan kecepatan menendang yang dilakukan dalam waktu 60 detik. Dengan demikian semakin cepat tendangan yang dilakukan atlet maka semakin baik serangan yang dilakukan.
4. Daya tahan
a. Pengertian Daya Tahan
Secara sederhana daya tahan dapat diartikan dengan kemampuan menghadapi kelelahan. “Weineck dalam Syafruddin (1992 : 67) mengartikan daya tahan sebagai atlet mengatasi kelelahan fisik psikis (mental)”. Dengan demikian
daya tahan dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh untuk mengatasi beban latihan tanpa menyebabkan kelelahan yang berarti. Menurut Nawawi, (2006:38) :
“ Tinggi rendahnya daya tahan seseorang akan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya VO2Max seseorang.
VO2Max adalah volume oksigen maksimal yang disebut juga sebagai kapasitas aerobic, yaitu kemampuan tubuh mengkonsumsi oksigen secara maksimal permenit.
VO2Max ditunjang oleh kemampuan paru-paru sebagai organ yang menyediakan oksigen, kualitas darah (hemoglobin) yang akan mengikat dan membawa oksigen keseluruh tubuh, jantung sebagai organ yang memompa darah keseluruh tubuh, pembukuh darah (sirkulasi) yang akan menyalurkan darah keseluruh tubuh dan otot rangka sebagai salah satu organ tubuh yang akan memakai oksigen untuk proses oksidasi bahan makanan sehingga menghasilkan energi “
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat kita anlisa bahwa daya tahan yang dibutuhkan atlet karate LEMKARI Sumatera Barat harus mencakupi kapasitas, apabila salah satu komponen tersebut kapasitasnya rendah, maka akan mempengaruhi tingkat VO2Max. Tujuan utama dari latihan VO2Max adalah meningkatkan kemampuan kerja jantung disamping meningkatkan kerja paru-paru dan system peredaran darah. Secara umum kemampuan VO2Max. yang tinggi dibutuhkan dalam semua cabang olahraga yang membutuhkan gerak fisik.
b. Jenis-Jenis Daya Tahan
Suharno (dalam Budiwanto, 2004:35) Daya tahan atau endurance dalam hal ini dikenal dua macam daya tahan, yakni:
1. Daya tahan umum atau general endurance kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, paru-paru, dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja secara terus menerus yang melibatkan kontraksi sejumlah otot dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama (Daya Tahan Aerobik)
2. Daya tahan otot atau local endurance yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan ototnya untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu yang singkat dengan beban tertentu (Daya Tahan Anaerobik)
Dari uraian di atas terlihat bahwa sangat penting oksigen maksimal (VO2Max) bagi tubuh manusia, terutama kesegaran jasmani dan kondisi fisik serat ketahanan jantung. Dengan demikian faktor daya tahan tubuh atlet sangat menunjang prestasi yang diraih oleh atlet itu sendiri.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa keempat faktor kondisi fisik sangat dibutuhkan dalam olahraga karate. Dengan empat kondisi fisik tersebut atlet akan mudah meraih kemenangan dan prestasi yang maksimal.
B. Kerangka Konseptual
Dalam olahraga karate kondisi fisik sangat mempengaruhi prestasi atlet di lapangan. Komponen kondisi fisik itu adalah kecepatan, kelincahan, daya ledak dan daya tahan. Faktor kecepatan dalam olahraga ini berfungsi pada saat atlet melakukan serangan. Bentuk serangan yang dilakukan yaitu berupa pukulan, tendnagan, tangkisan dan hindaran.
Serangan yang cepat akan mempermudah atlet dalam melakukan serangan lanjutan sehingga atlet melakukan serangan sebanyak mungkin dan meraih point yang tinggi.
Selain faktor kecepatan yang dibutuhkan, faktor kelincahan dalam olahraga ini juga mendukung atlet dalam meraih point yang tinggi dalam pertandingan. Kelincahan dibutuhkan pada saat atlet melakukan hindaran dan tangkisan. Pada saat lawan memberikan serangan kepada atlet, hal utama yang dilakukan atlet adalah hindaran. Teknik hindaran secara defenisinya merupakan gerakan memindahkan posisi badan ke arah samping atau belakang yang dilakukan dengan cepat dan lincah.
Selain pada teknik hindaran dan tangkisan kelincahan juga berfungsi pada serangan. Dalam hal ini serangan yang dilakukan atlet harus dengan cepat, oleh karena itu kelincahan terjadi pada saat bersatunya kekuatan dan kecepatan. Hal-hal yang mempengaruhi kelincahan pada atlet diantaranya adalah : serangan yang diberikan lawan secara mendadak dan cepat, sehingga atlet mengantisipasi dengan tangkisan dan serangan.
Kecepatan dan kelincahan belum mendukung prestasi atlet dalam pertandingan. Olahraga karate sangat membutuhkan kekuatan terutama pada kekuatan otot tungkai. Hal itu dibuktikan pada saat pertandingan serangan yang dominan dilakukan oleh atlet adalah tendangan. Tendangan merupakan serangan yang memiliki point atau nilai yang tinggi dibandingkan serangan lainnya. Oleh karena itu atlet harus memiliki tendangan yang kuat cepat.
Daya ledak adalah kekuatan maksimal yang merupakan kemampuan tertinggi atlet dalam melakukan suatu gerakan. Dalam olahraga karate daya ledak merupakan kemampuan atlet dalam menahan beban dan melakukan tendangan yang kuat. Untuk menghasilkan tendangan yang kuat harus dilatih kekuatan otot tungkai. Dengan terlatihnya otot-otot pada kaki dapat memberikan pengaruh pada atlet dalam melakukan tendangan.
Daya tahan adalah salah satu faktor utama dalam pertandingan karate. Daya tahan yang dibutuhkan oleh atlet adalah kemampuan atlet dalam mempertahankan kondisi fisik dalam bertanding. Semakin baik daya tahan atlet maka semakin baik pula atlet meraaih prestasi.
Pentingnya faktor kondisi fisik kecepatan, kelincahan, daya ledak dan daya tahan dalam olahraga karate mempengaruhi prestasi atlet dalam bertanding. Semakain baik kondisi fisik atlet maka semakin baik pula prestasi yang diraih oleh sehingga atlet sehingga atlet memperoleh prestasi yang maksimal.
Untuk lebih jelas peneliti gambarkan dalam bentuk skema sebagai berikut :
Kelincahan ?
Gambar 1: Kerangka Konseptual
Kecepatan ?
Kondisi Fisik Atlet Karate LEMKARI DOJO Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
Daya Ledak ?
Daya Tahan ?
C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan kajian teori dan kerangka konseptual di atas maka pertanyaan penelitian adalah :
1. Bagaimana kecepatan yang dimiliki atlet karate LEMKARI DOJO Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
2. Bagaimana kelincahan yang dimiliki atlet karate LEMKARI DOJO Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
3. Bagaimana daya ledak otot tungkai yang dimiliki atlet karate LEMKARI DOJO Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ? 4. Bagaimana daya tahan aerobik yang dimiliki atlet karate
LEMKARI DOJO Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman ?
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif, yang bertujuan untuk mengungkapkan suatu apa adanya. Sebagaimana yang dikemukan Arikunto (1990:310) bahwa : “ penelitian deskriptif adalah penelitian yang tidak bermaksud untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan tentang apa adanya suatu variabel, gejala atau keadaan tertentu”. Dalam penelitian ini mengungkapkan bagaimana kondisi fisik yang dimiliki atlet karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman yang berkenaan dengan kecepatan, kelincahan, daya ledak dan daya tahan aerobik.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di perguruan karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni dan pengambilan data selama 2 (dua) hari pada tanggal 12 s/d 13 Juni2012
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi menurut Arikunto,(2002:115) “ merupakan keseluruhan dari objek penelitian”. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh atlet karate yang mengikuti latihan di Dojo Palapa Saiyo kab. Padang Pariaman berjumlah 30 orang
Tabel 1 Jumlah populasi
Atlet Jumlah
Putra 18
Putri 12
Jumlah 30
Sumber : LEMKARI Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman 2012
2. Sampel
Berpedoman pada jumlah populasi di atas, maka pengambilan sampel ditetapkan atlit putra sebanyak 18 orang dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposif sampling, sebagai mana yang dikatakan oleh Sugiono (2006 : 124) bahwa, purposif sampling adalah teknik pengambilan sampel yang diambil berdasarkan pertimbangan tertentu, dengan tujuan hasil tes homogen. Ini dikarenakan perbedaan kondisi fisik putra dan putri
D. Defenisi Operasianal
1. April Hamid ( 2007:3 ) menyatakan bahwa, Karate adalah “ karate adalah olahraga yang keras dan jika menguasai teknik-teknik karate dengan baik,teknik tersebut bisa merupakan senjata yang berbahaya bila di gunakan sembarangan tanpa ada rambu-ranbu pembatas,karna itu olahraga karate selain di latih fisik berupa teknik-teknik serangan atau tangkisan,seorang karateka di tuntut untuk memenuhi etika yang berlaku pada dunia karate “
2. Kecepatan menurut Robinson (1976) dalam Arsil : kecepatan bergerak adalah kualitas yang memungkinkan orang bergerak, melaksanakan gerakan-gerakan yang sama atau tidak sama secepat mungkin. Waktu tempuh atlet diukur dengan lari sprint menempuh jarak 30 meter.
3. Kelincahan menurut Suharno, (1985 : 32) mengatakan bahwa “ Kelincahan adalah kemampuan seseorang dalam merubah posisi dan arah secepat mungkin sesuai dengan situasi yang dihadapi dan dikehendaki. Atlet belari melintasi tiang sesuai dengan panah yang diukur dengan lari bolak balik.
4. Daya ledak sering disebut juga dengan power, karena proses kerjanya anaerobik yang memerlukan waktu tercepat dan tenaga yang kuat.
Kemampuan ini merupakan kombinasi antara kekuatan dan kecepatan,
untuk mengukur kekuatan daya ledak otot tungkai dilakukan dengan menggunakan tes Vertical Jump (Ismayarti,2006:23).
5. Daya tahan menurut Annarino (1976), adalah hasil kemampuan individu untuk gerakannya dalam kurun waktu tertentu. Yang diukur dengan Bleep tes yaitu dengan melakukan tes VO2Max.
E. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Jenis data yang diperoleh dari hasil tes yang dilakukan pada sampel yaitu tes kecepatan, kelincahan, daya ledak otot tungkai, dan daya tahan aerobik.
2. Sumber Data
Sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka data pada penelitian ini bersumber pada :
a. Data primer yaitu : data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dengan melakukan tes kondisi fisik dari atlet karate Dojo Palapa Saiyo yang merupakan sampel, dan data tersebut berupa : tes kecepatan, kelincahan, daya ledak otot tungkai dan daya tahan aerobik.
b. Data sekunder yaitu : data berupa jumlah atlet berupa nama-nama, umur yang didapat dari arsip-arsip atau dokumen-dokumen yang diberikan oleh pelatih karate Dojo Palapa Saiyo.
F. Teknik Pengumpulan Data
Kemampuan kondisi fisik di ukur dengan melakukan tes, agar pelaksanaan pengumpulan data secara teratur, sistematis dan tertib, maka perlu adanya langkah-langkah yang harus dipersiapkan dengan jelas yakni:
1. Menyiapkan alat-alat instrumen secara lengkap sesuai dengan yang diperlukan (dibutuhkan).
2. Menyiapkan atlet atau sampel yang akan melakukan tes.
3. Memberikan penjelasan dan mendemonstrasikan tentang instrumen.
4. Menyiapkan blangko dan alat tulis yang diperlukan dalam pengumpulan data. Menetapkan operator/pelaksana pengumpul data dan bekerja sesuai dengan masing-masing tugas yang telah diberikan penjelasan dan arahan.
G. Instrument Penelitian
1. Untuk mengukur kecepatan diukur dengan menggunakan tes lari sprint 30 meter. (Asril, 2010:94)
a. Tujuan : untuk mengukur kecepatan b. Perlengkapan
1) Lintasan lari yang lurus datar dan tidak licin dengan panjang 30 meter.
2) Bendera start, peluit, stop watch, formulir tes dan alat tulis.
c. Pelaksanaan
1) Tester berdiri dibelakang garis start
2) Pada aba-aba bersedia teste berdiri dengan salah satu ujung jari kaki tepat berada dibelakang garis start
3) Pada aba-aba siap teste mengambil sikap siap untuk berlari 4) Pada aba-aba “ya” teste berlari dengan kecepatan maksimal
menuju garis finis yang jaraknya 30 meter.
5) Teste yang mencuri start harus diulang
6) Pengambilan waktu dimulai dari bendera diangkat (aba-aba
“ya”) sampai teste melintasi garis finis.
d. Penilaian
1) Hasil yang dicatat adalah hasil yang dicapai teste menempuh jarak 30 meter.
2) Angka dicatat sampai perseratus detik
Lintasan lari sprint pada bidang yang datar sepanjang 30 meter 30 meter
Atlet
Atlet
Strat Finish
Gambar 2. Lintasan Tes Kecepatan 120 cm
Tabel 2. Norma Tes Kecepatan.
Sumber : Evaluasi Pendidikan Jasmani dan Olahraga, (Arsil, 2010)
2. Untuk mengukur kelincahan diukur dengan Tes lari bolak balik 4 x10 meter. (Arsil,2010:79)
a. Tujuan : mengukur kemampuan atlet dalam kelincahan b. Perlengkapan :
1) Lapangan yang panjangnya 10 meter 2) Kertas pencatar waktu
3) Pena 4) Peluit 5) Stop watch c. Pelaksanaan :
1) Pada aba-aba “bersedia” teste berdiri dibelakang garis lintasan 2) Pada aba-aba “siap” teste start dengan start berlari
3) Dengan aba-aba “ya” teste segera berlari menuju garis kedua setelah kedua kaki melewati garis kedua segera berbalik dan menuju kegaris pertama
Kategori Putra
Baik sekali 4,38-4,54
Baik 4,55-4,71
Sedang 4,72-4,88
Kurang 4,89-5,05
Kurang sekali 5,06-5,22
4) Teste berlari dari garis pertama menuju garis kedua dan kembali ke garis pertama dihitung satu kali
5) Pelaksanaan lari dilakukan sampai empat kali bolak balik sehingga menempuh jarak 40 meter
6) Setelah melewati finish, pencatat waktu dihentikan
7) Catatan waktu untuk menentukan norma kelincahan dihitung sampai persepuluh detik (0,1 detik) atau perseratus detik (0,01) Lintasan lari pada bidang ynag datar, panjang 10 meter dan garis batas 5 cm ditengah lintasan
10 meter
5 cm
Garis pertama Garis kedua
Gambar 3. Lintasan Tes Kelincahan Tabel 3. Norma tes kelincahan :
Kataegori Putra
Baik sekali < 12,10
Baik 12,11-13,53
Sedang 13,54-14,59
Kurang 14,98-16,39
Kurang sekali >16,40
Sumber : Evaluasi Pendidikan dan Olahraga, (Arsil,2010)
3. Untuk mengukur daya ledak otot tungkai dilakukan dengan menggunakan tes Vertical Jump (Ismaryati,2006:23)
a. Tujuan : Tes ini betujuan untuk mengukur power tungkai dalam arah vertikal.
b. Perlengkapan :
1) Papan berdiameter yang dipasang di dinding dengan ketinggian dari 150 – 350 cm tingkat ketelitiannya hingga 1 cm,
2) Bubuk kapur
3) Dinding sedikitnya setinggi 365 cm c. Pelaksanaan
1) Atlet berdiri menyamping arah dinding, kedua jari rapat, telapak kaki menempel penuh di lantai, ujung jari tangan yang dekat dinding dibubuhi bubuk kapur.
2) Satu tangan atlet yang dekat dinding meraih ke atas setinggi mungkin, kaki tetapmenempel di lantai, catat tinggi raihannya pada bekas ujung jari tengah.
3) Atlet meloncat keatas setinggi mungkin dan menyentuh papan.
Lakukan tiga kali loncatan. Catat tinggi loncatannya pada bekas ujung jari tengah.
4) Posisi awal ketika meloncat adalah telapak kaki tetap menempel di lantai lutut ditekuk, tangan lurus agak kebalakang.
5) Tidak boleh melakukan awalan ketika akan meloncat.
d. Penilain
Skor diperoleh dari selisih antara tinggi loncatan dan tinggi raihan. Nilai yang diperoleh atlet adalah selisih yang terbanyak antara tinggi loncatan dan tinggi raihan dari ketiga loncatan yang di lakukan.
Gambar 4. Tes Daya Ledak Otot Tungkai
Kemudian dihitung dengan rumus Nomogram Lewis
P = 4.9
W D"
Keterangan :
P = Power (daya ledak otot tungkai) W = Berat badan
D” = Jump reach (beda raihan dan lompatan)
Tabel 4. Norma tes vertikal jump
Kategori Putra
Baik sekali 103,58 – 115,82
Baik 91,33 – 103,57
Sedang 79,08 – 91,32
Kurang 66,83 – 79,07
Kurang sekali 54,58 – 66,82
Sumber : Evaluasi Pendidikan dan Olahraga, (Arsil,2010)
4. Untuk mengukur daya tahan diukur dengan Bleep tes yaitu dengan melakukan tes VO2Max (Irawadi, H. 2010 : 27)
a. Tujuan : untuk mengambil daya tahan atlet karate Dojo Palapa Saiyo
b. Perlengkapan :
1) Lintasan lari berjarak 20 meter
2) Blangko isian (formulir pencatatan hasil VO2Max) 3) Kaset tes
4) Tape recorder c. Pelaksanaan :
1) Teste harus berlari bolak balik dalam jarak 20 meter
2) Teste berdiri digaris start jarak 20 meter, setelah aba-aba dari kaset yang berbunyi “tut”, teste berlari kegaris finish mengikuti irama, dan segera berlari kembali ketempat start sesuai irama musik pada kaset. Begitu sampai segera kembali, dan begitulah
seterusnya sampai tidak sanggup lagi berlari sesuai denagn irama dan ketentuan. Jika suara “tut” pada saat sudah sampai pada garis finish belum terdengar, maka teste harus menggu sampai suara “tut” terdengar lari.
3) Teste dianggap tidak sanggup lagi apabila ia sudah terlambat sampai di tempat garis batas
4) Setiap level terdiri dari beberapa balikan dan harus ditempuh selama 1 menit
d. Penilaian
Penilaian diberikan berdasarkan tingkatan atau level dan balikan yang dicapai. Skor perolehan dikonversikan dalam
“VO2Max equivalent score” dengan menggunakan tabel.
Klasifikasi Kebugaran (VO2Max) PUTRA (ml/kg.BB/min)
Sumber : Prefentife Medicine Center, Palo Alto Calif Dalam Arsil. 2010
NO Klasifikasi Kelompok Umur
20 - 30 30 – 39 40 – 49 50 – 59 60 – 69 1 Tinggi 49 ke atas 45 ke atas 42 ke atas 38 ke atas 35 ke atas
2 Bagus 38 – 48 34 – 44 31 – 41 28 – 37 24 – 34
3 Cukup 31 – 37 28 – 33 24 – 30 21 – 27 18 – 23
4 Sedang 24 – 30 20 – 27 17 – 23 15 – 20 13 – 17
5 Rendah s.d – 23 s.d – 19 s.d – 16 s.d – 14 s.d – 12
H. Teknik Analisa Data
Setelah semua data berhasil dikumpulkan kemudian diolah, karena jenis penelitian ini bersifat deskripsi maka teknik analisis yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan teknik distribusi frekuensi (statistik deskriptif) dengan perhitungan persentase, seperti dijelaskan oleh Arikunto, (1990), “ Bila suatu penelitian betujuan mendapatkan gambaran atau menemukan suatu sebagaimana adanya tentang suatu objek yang diteliti, maka teknik analisa datanya digunakan cukup dengan perhitungan persentase seperti rumus yang digunakan untuk menghitung persentase adalah sebagai berikut :
P = x 100 %
(Soejono, 1991 : 40) Keterangan:P = Persentase F = Frekuensi atlet
N = Jumlah atlet karate yang melakukan tes (sampel)
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan diuraikan tentang hasil penelitian dan pembahasan.
Data yang dianalisis sesuai dengan hasil temuan faktual di lapangan seperti apa adanya. Hasil analisis ini merupakan gambaran tentang Tinjauan Kondisi Fisik Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman.
A. Deskriptif Data
Deskripsi data tentang Kondisi Fisik yang dimiliki oleh Atlet Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman terdiri atas sub variabel kecepatan, kelincahan , daya ledak otot tungkai, dan daya tahan Aerobik (vo2max). Data dikelompokkan masing-masing berdasarkan nilai skor yang diperoleh atlet Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab.
Padang Pariaman, selanjutnya semua data dianalisis secara statistik dekskriptif dengan tabulasi frekuensi adalah sebagai berikut :
1. Kecepatan
Kemampuan Kecepatan diukur dengan menggunakan tes lari cepat (spint) 30 meter. Hasil pengukuran tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel : 6
Hasil Pengukuran Kecepatan atlet Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
No Nama Kecepatan
(Detik) Klasifikasi
1 Dede Anugrah 87.4 Kurang
2 Yuzalmi Fernando 87.4 Sedang
3 Fauzi A 47.5 Kurang
4 Teguh Budiman 874. Sedang
5 M. Ali Idrus 87.. Sedang
6 Yudha Ilham I 87.4 Sedang
7 Noki Tonagia 4755 Kurang
8 Wendi Yulman 8784 Sedang
9 Roesliansyah 87.5 Sedang
10 Sonny Arisyam 47.. Kurang
11 Acsyara Aulia 4754 Kurang Sekali
12 Irmadoni 878. Sedang
13 Rezi Febrian 87.5 Sedang
14 Lihandri 87.5 Sedang
15 Muharajes 87.. Kurang
16 Masril Efendi 4755 Kurang Sekali
17 M. Gufron 87.4 Sedang
18 Hanarky Nurfa’i 87.. Sedang
2. Kelincahan
Kemampuan kelincahan di ukur dengan menggunakan Shuttle-Run Test. Hasil pengukuran tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel : 7
Hasil Pengukuran Kelincahan atlet Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
No Nama Kelincahan
(detik) Klasifikasi
1 Dede Anugrah 54784 Baik
2 Yuzalmi Fernando 5.74. Baik
3 Fauzi A 587.5 Sedang
4 Teguh Budiman 5875. Sedang
5 M. Ali Idrus 5874. Sedang
6 Yudha Ilham I 5.74. Baik
7 Noki Tonagia 547.8 Kurang
8 Wendi Yulman 5475. Baik
9 Roesliansyah 5.7.. Sedang
10 Sonny Arisyam 5.7.8 Baik
11 Acsyara Aulia 5874. Sedang
12 Irmadoni 54745 Baik
13 Rezi Febrian 5874. Sedang
14 Lihandri 587.4 Sedang
15 Muharajes 547.5 Sedang
16 Masril Efendi 5.7.4 Sedang
17 M. Gufron 587.4 Sedang
18 Hanarky Nurfa’i 5475. Baik
3. Daya ledak Otot Tungkai
Kemampuan daya ledak otot tungkai di ukur dengan menggunakan vertical jump test. Hasil pengukuran tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel : 8
Hasil Pengukuran Daya ledak otot Tungkai atlet Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
No Nama Daya ledak Otot
Tungkai (meter) Klasifikasi
1 Dede Anugrah 94.88 Kurang
2 Yuzalmi Fernando 80.58 Kurang
3 Fauzi A 101.73 Kurang
4 Teguh Budiman 58.73 Kurang
5 M. Ali Idrus 86.95 Kurang
6 Yudha Ilham I 67.98 Kurang
7 Noki Tonagia 115.82 Sedang
8 Wendi Yulman 105.74 Kurang
9 Roesliansyah 89.22 Kurang
10 Sonny Arisyam 86.77 Kurang
11 Acsyara Aulia 93.57 Kurang
12 Irmadoni 69.56 Kurang
13 Rezi Febrian 87.79 Kurang
14 Lihandri 68.29 Kurang
15 Muharajes 65.45 Kurang
16 Masril Efendi 58.06 Kurang
17 M. Gufron 54.58 Kurang
18 Hanarky Nurfa’i 61.62 Kurang
4. Daya Tahan Aerobik (Vo2max)
Kemampuan daya tahan aerobik diukur dengan menggunakan bleep test. Hasil pengukuran tersebut dapat dilihat sebagai berikut :
Tabel : 9
Hasil Pengukuran Daya Tahan Aerobik (Vo2max) atlet Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
No Nama Daya Tahan
Aerobik (Vo2max) Klasifikasi
1 Dede Anugrah 42.4 Bagus
2 Yuzalmi Fernando 33.6 Cukup
3 Fauzi A .57. Cukup
4 Teguh Budiman .474 Cukup
5 M. Ali Idrus .474 Bagus
6 Yudha Ilham I ..74 Cukup
7 Noki Tonagia .47. Cukup
8 Wendi Yulman 38.8 Bagus
9 Roesliansyah ..74 Sedang
10 Sonny Arisyam ..78 Cukup
11 Acsyara Aulia 36.4 Cukup
12 Irmadoni .575 Bagus
13 Rezi Febrian 457. Sedang
14 Lihandri 4574 Sedang
15 Muharajes 46.2 Bagus
16 Masril Efendi 35.7 Cukup
17 M. Gufron .574 Bagus
18 Hanarky Nurfa’i 35.7 Cukup
B. Analisis Data
1. Kecepatan
Berdasarkan pengolahan hasil analisis data kecepatan Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariamansebagai berikut:
Tabel. 10
Distribusi Frekuensi Kecepatan Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
No Kelas Interval Frekuensi
Kategori Absolut (Fa) Relatif (%)
1 4,38-4,54 4 22,22% Baik Sekali
2 4,55-4,71 7 38,89% Baik
3 4,72-4,88 2 11,11% Sedang
4 4,89-5,05 1 5,55% Kurang
5 5,06-5,22 4 22,22% Kurang Sekali
Jumlah 18 100%
Rata – rata tingkat kecepatan Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman 4,76 tergolong kategori sedang. Agar lebih jelasnya data kecepatan tersebut dapat dilihat pada gambar histogram sebagai berikut :
Gambar. 5 Histogram Tingkat Kecepatan Atlet Karate (LEMKARI) Dojo Palapa Saiyo Kab. Padang Pariaman
4
7
2 1
4
0 2 4 6 8
4,38-4,54 4,55-4,71 4,72-4,88 4,89-5,05 5,06-5,22
Absolut
Interval