• Tidak ada hasil yang ditemukan

(1)TINJAUAN FIQH MUAMALAH TERHADAP PRAKTIK WANPRESTASI PERJANJIAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PT

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "(1)TINJAUAN FIQH MUAMALAH TERHADAP PRAKTIK WANPRESTASI PERJANJIAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PT"

Copied!
146
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN FIQH MUAMALAH TERHADAP PRAKTIK WANPRESTASI PERJANJIAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA PADA MASA PANDEMI

COVID-19 DI PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MATARAM

OLEH

BQ. WINDRIANI NIM 160201133

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH (MUAMALAH) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2021

(2)

TINJAUAN FIQH MUAMALAH TERHADAP PRAKTIK WANPRESTASI PERJANJIAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA PADA MASA PANDEMI

COVID-19 DI PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MATARAM

Skripsi

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh Bq. Windriani NIM 160201133

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH (MUAMALAH) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2021

(3)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi oleh: Bq. Windriani, NIM: 160201133 dengan judul “Tinjauan Fiqh Muamalah Terhadap Praktik Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram”, telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.

Disetujui pada tanggal………...Juli 2021

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Zaenudin Mansyur, M.Ag. Heru Sunardi, S.H., M.H NIP. 197708142005011003 NIP. 197409042000031002

(4)

NOTA DINAS PEMBIMBING

Mataram,…….…Juli 2021 Hal : Ujian Skripsi

Yang Terhormat

Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram di :

Mataram

Assalamualaikum, Wr, Wb,

Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi saudari:

Nama mahawasiswa : Bq. Windriani

NIM : 160201133

Jurusan/ Prodi : Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)

Judul : Tinjauan Fiqh Muamalah Terhadap Praktik Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram.

Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Syariah UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera dimunaqasyahkan.

Wasalammu‟alaikum, Wr, Wb.

Pembimbing I, Pembimbing II,

Dr. Zaenudin Mansyur, M.Ag. Heru Sunardi, S.H., M.H NIP. 197708142005011003 NIP. 197409042000031002

(5)

PENGESAHAN

Skripsi oleh: Bq. Windriani, NIM: 160201133 dengan judul “Tinjauan Fiqh Muamalah Terhadap Praktik Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram”, telah dipertahankan di depan dewan penguji Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah) Fakultas Syariah UIN Mataram pada tanggal ……. Juli 2021

Dewan Penguji :

Ketua Sidang/ : Dr.Zainuddin Mansyur, M.Ag (_____________) Pembimbing I NIP. 197708142005011003

Sekretaris Sidang/ : Heru Sunardi, S.H., M.H. (_____________) Pembimbing II NIP. 197409042000031002

Penguji I : (_____________)

Penguji II : (_____________)

Mengetahui Dekan Fakultas Syariah

Dr. H. Musawar, M.Ag.

NIP. 196912311998031008

(6)

MOTTO













“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu” (Q.S Al-Maaidah (5) :1)

(7)

PERSEMBAHAN

“Skripsi ini peneliti persembahkan untuk yang tercinta kedua orang tua peneliti, ibu Sakrah, dan bapak L. Mustiana yang telah melewati banyak perjuangan dan rasa sakit dalam membiayai kuliah, kakak-kakak peneliti Lalu Junaidi, Lalu Suhairi Lalu Pandriamin, terimakasih atas segala motivasi, doa, dan dorongan yang tak pernah usai sehingga peneliti mampu menyelesaikan tugas akhir skripsi ini”

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas kehadirat Allah swt, yang telah memberikan nikmat sehat serta hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

Terimakasih yang tiada ujungnya kepada kedua orang tua peneliti atas segala motivasi, bimbingan dan penyemangat selama menjalankan kegiatan perkuliahan, semoga ilmu yang telah didapat berkah dan bermanfaat untuk banyak orang.

Kepada Bapak Dr. Zaenuddin Mansyur, M.Ag., selaku dosen pembimbing I, terimakasih atas waktu yang diberikan selama bimbingan, masukan serta saran juga dorongan untuk secepatnya menyelesaikan skripsi ini.

Kepada Bapak Heru Sunardi S.H., M.H., selaku dosen pembimbing II, peneliti mengucapkan terimakasih atas segala masukan, bantuan, saran dan penjelasan yang tiada henti diberikan dengan penuh kesabaran.

Peneliti juga ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang turut memberikan motivasi baik secara lansung maupun tidak langsung selama penulisan skripsi ini. Untuk itu peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram, Bapak Dr. H.

Musawar, M.Ag., yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menempuh Program Studi Sarjana (S1) Hukum Ekonomi Syariah.

(9)

2. Bapak Saprudin, M.Si., selaku Ketua Program Studi Hukum Ekonomi Syariah;

3. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram, yang telah memberikan ilmu kepada peneliti selama menempuh pendidikan di Fakultas Syariah UIN Mataram.

4. Pimpinan Cabang, Karyawan dan Konsumen Pembiayaan Modal Kerja PT.

BNI Syariah Cabang yang tidak bisa peneliti sebutkan namanya satu persatu, terimakasih atas kesediaannya memberikan informasi dan kebutuhan lainnya kepada peneliti selama peneliti melakukan penelitian.

5. Kasub.bag akademik Fakultas Syariah UIN Mataram beserta seluruh stafnya yang telah membantu dalam kelengkapan administrasi surat-menyurat penelitian skripsi ini.

6. Teman-teman Program Studi Muamalah Kelas C angkatan tahun 2016, khususnya sahabat seperjuangan (Fikha, Hida, Juliatin) terimakasih atas semua cerita dan pengalaman yang telah dilewati.

Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Mataram,…Juli 2021 Peneliti

Bq. Windriani

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTO... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat ... 7

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 8

E. Telaah Pustaka ... 9

F. Kerangka Teori... 15

G. Metode Penelitian... 21

H. Sistematika Penulisan... 29

BAB II PRAKTIK WAN PRESTASI PERJANJIAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MATARAM ... 31

A. Gambaran Umum PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram ... 31

(11)

B. Mekanisme atau Prosedur Terjadinya Akad atau Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 Di

PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram ... 41

1. Pengajuan Aplikasi Permohonan Pembiayaan……… 44

2. Verifikasi Berkas dan Kelayakan Permohonan……….. 46

3. Melakukan Proses Administrasi Pembiayaan………. 50

4. Pencairan Pembiayaan Modal Kerja………... 56

C. Praktik Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram……….. 57

1. Bentuk dan Isi Akad Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram………. ... 57

2. Bentuk-Bentuk Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram……… 75

3. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah ... 84

4. Upaya Penanganan Terhadap Nasabah Pembiayaan Modal Kerja Yang Melakukan Wanprestasi Pada Masa Pandemi Covid-19 Oleh PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram……. ……… 88

(12)

BAB III TINJAUAN FIQH MUAMALAH TERHADAP PRAKTIK WANPRESTASI PERJANJIAN MODAL KERJA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI PT. BANK BNI SYARIAH CABANG

MATARAM ... 95

A. Aanalisis Terhadap Mekanisme atau Prosedur Terjadinya Akad atau Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 Di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram ... 95

B. Analisis Terhadap Praktik Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram……….. ... 101

BAB IV PENUTUP ... 107

A. Kesimpulan ... 107

B. Saran……….. ... 108 DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN

(13)

TINJAUAN FIQH MUAMALAH TERHADAP PRAKTIK WANPRESTASI PERJANJIAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA PADA MASA PANDEMI

COVID -19 DI PT. BANK BNI SYARIAH CABANG MATARAM

Oleh:

BQ. WINDRIANI 160201133 ABSTRAK

Dalam pemberian pembiayaan modal kerja di Bank BNI Syariah Cabang Mataram kepada nasabah yang ingin mengembangkan usahanya sehingga nasabah dapat meminjam modal usaha tersebut kepada bank BNI Syariah Cabang Mataram, dengan syarat pembiayaan yang telah diberikan bisa terbayar dengan waktu yang telah ditentukan. Namun kebanyakan nasabah yang tidak memikirkan masalah kedepannya bagi mereka yang tidak melaksanakan pembayaran angsuran pada tepat waktu.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis sosiologis. Jenis data berupa data primer dan data skunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan berupa reduksi data, dan validitas data dilakukan melalui perpanjangan pengamatan, kecukupan referensi dan triangulasi.

Berdasarkan pada hasil penelitian ini, dalam praktik wanprestasi perjanjian pembiayaan modal kerja tersebut terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya wanprestasi perjanjian pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19 ialah dikarenakan ketidaktelitian petugas bank dalam menganalisis pemberian pembiayaan modal kerja. Oleh sebab itu bank BNI Syariah melakukan penanganan terhadap nasabah pembiayaan modal kerja yang wanprestasi pada masa pandemi covid-19 dengan tujuan mengantisipasi agar tidak terjadinya praktik wanprestasi kedepannya, yaitu dengan melakukan penjadwalan kembali, penagihan dengan cara intensif, pemberian surat teguran dan surat somasi jika nasabah tersebut tidak mengindahkan dengan apa yang telah bank berikan dalam penanganan tersebut sehingga nasabah masih saja melakukan wanprestasi maka pihak bank akan melakukan pemasangan plakakat pelelangana barang jaminan.

Kata Kunci: Wanprestasi perjanjian pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19

(14)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Bank merupakan lembaga keuangan yang mempunyai peran yang sangat strategis dalam menyeserasikan dan mengembangkan stabiltas perekonomian nasional. Kegiatan utama dari perbankan adalah menyerap dan menyalurkan dana ke masyarakat. Hal ini dikarenakan fungsi bank yang utama adalah sebagai perantara (intermediary) pihak-pihak kelebihan dana(surplus of funds) dan pihak yang memerlukan dana (luck of funds). Sebagai agent of development, bank merupakan alat pemerintah dalam membangun perekenomian bangsa melalui pembiayaan semua jenis usaha pembangunan yaitu sebagai financial intermediary (perantara keuangan) yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan Negara.1

Segala aktivitas perbankan khususnya penyaluran dana ke masyarakat memiliki risiko yang sangat besar. Sehingga pada dasarnya risiko itu melekat (inherent) pada seluruh aktivitas bank.2 Oleh karena itu risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial baik yang dapat diperkirakan maupun yang tidak dapat diperkirakan yang berdampak negattif terhadap pendapatan dan permodalan.Risiko tersebut tidak dapat dihindari namun dapat dikelola dan dikendalikan.3Banyak ragam risiko yang harus dihadapi oleh bank, diantaranya adalah risiko kredit atau pembiayaan yaitu sebuah risiko

1Adiwarman A. Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta: Radja Grafindo Persada, 2006), hlm.78.

2Rachmadi Usman, Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hlm.291.

3Rachmadi Usman, Bank…, hlm. 255.

(15)

akibat kegagalan debitur atau nasabah dalam memenuhi kewajibannya kepada bank. Risiko kredit atau pembiayaan dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti penyaluran atau penyediaan dana, tresuri dan investasi dan pembiayaan modal usaha atau modal kerja kepada masyarakat.4

Menghadapi risiko kredit atau pembiayaan ini maka bank diwajibkan untuk selalu mematuhi peraturan yang dibuat oleh Negara dalam menjalankan setiap aktivitas kegiatannya. Di Indonesia, perturan yang mengatur tentang perbankan dilakukan dalam berbagai bentuk dan jenis, baik berupa Undang- Undang, Peraturan Bank Indonesia maupun Peraturan Otoritas Jasa Keuangan.

Khusus untuk perbankan syariah, pengaturan saat ini adalah Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Pasal 2 Undang-Undang tersebut di atas menyatakan bahwa :“perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usaha berasaskan prinsip syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian”. Pasal ini kemudian diperkuat kembali pada Pasal 35 ayat (1)nya yang menyatakan : “Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah dalam melakukan kegiatan usahanya wajib menerapkan prinsip kehati-hatian”.

Penerapan prinsip kehati-hatian menjadi faktor pertama dan utama bagi perbankan syariah khususnya dalam menjalankan aktivitas kegiatannya. Oleh karena itu, salah satu ikhtiar penting dalam menjalankan prinsip kehati-hatian ini pihak perbankan selalu menggunakan perjanjian atau akad tertulis dalam bentuk akta notaril dalam penyaluran dana atau pembiayaan. .

4Rachmadi Usman, Aspek…hlm.292.

(16)

Akad atau perjanjian yang dibuat oleh lembaga perbankan syariah juga harus sesuai dengan hukum Islam yang sebagian besar telah termanifestasikan dan tertuang dalam beberapa aturan Fatwa Dewan Syariah Nasional (Fatwa DSN).Akad bagi dunia perbankan syariah merupakan jantungnya kehidupan bank mengingat tanpa adanya akad maka besar kemungkinan aktivitas perbankan akan berhenti karena banyaknya masyarakat yang akan melakukan tindakan cidera janji atau wanprestasi. Cidera janjinya sesorang atas suatu perjanjian yang telah dibuatnya, merupakan suatu kondisi yang terkadang telah menjadi kebiasaannya. Namun demikian, dalam praktik terkadang sukar untuk menentukan seseorang itu telah memenuhi prestasinya atau belum memenuhi prestasinya5

Terkait dengan cidera janji atau wanprestasi ini, Islam mengajarkan dengan jelas agar setiap manusia yang melakukan perjanjian maka ia harus memenuhi perjanjian yang telah dibuatnya. Hal ini sebagaimana Firman Allah swt., yang berbunyi :



6

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”.

Ayat lainnya yang juga berkaitan dengan perintah Allah swt., kepada manusia untuk memenuhi janji tersebut sebagaimana Firman Allah swt., yang berbunyi :

5Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 132.

6Q.S Al-Maaidah (5) : 1

(17)



7

“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabnya”.

Namun demikian, dalam kondisi tertentu seringkali manusia tidak dapat memenuhi janjinya atau menjalankan kewajibannya yang telah diperjanjikan tersebut dikarenakan adanya kondisi-kondisi tertentu karena ketidakmampuannya manusia tersebut untuk menjalankan prestasi atau kewajibannya.Ketidak mampuan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya adalah adanya bencana, baik itu bencana alam maupun bencana non alam.

Sejak tahun 2000 tepatnya pada tanggal 2 bulan Maret, Indonesia diserang dengan sebuah penyakit yang dinamakan dengan corona virus desease atau yang lebih dikenal dengan sebutan covid-19.Pada awal kedatangannya ke Indonesia, penyakit ini baru menyentuh masyarakat Ibukota Jakarta, namun mengingat covid-19 mudah menular pada akhirnya seluruh kawasan Indonesia sudah terjangkit covid-19. Kemudahan untuk menularkan dari satu manusia ke manusia lain dengan tingkat kematian yang sangat tinggi, menyebabkan virus ini sangat ditakuti diseluruh dunia. Tatanan politik, sosial, budaya, agama, dan ekonomi dengan seketika berubah.Tidak terkecuali dunia usaha yang ada di Indonesia.8

7Q.S Al-Isra‟ (17) : 34

8Detiknews, “Kapan Sebenarnya Corona Pertama Kali Masuk Ke Indonesia”, dalam website https://news.detik.com diunduh tanggal 12 September 2020.

(18)

Bidang ekonomi khususnya dunia usaha dengan adanya covid-19 benar- benar runtuh, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, menengah.Kondisi ini secara langsung maupun tidak, berdampak terhadap pemenuhan prestasi atau kewajiban para pelaku usaha.Oleh karena itu berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia No. 12 Tahun 2020 menetapkan bahwa penyebaran covid-19 sebagai Bencana Non Alam.Keputusan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan beberapa aturan lainnya seperti Keputusan No. 7 Tahun 2020 tentang Gusgus Tugas Perceepatan Penanganan covid-19sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Presiden No. 9 Tahun 2000.

Keputusan Presiden di atas, diikuti dengan Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 13A Tahun 2020 tentang Perpanjangan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wa nbah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia. Tidak kalah cepat dengan hal tersebut adalah dikeluarkannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.11/POJK.03/2020 Tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran covid-19. Kemudian disusul oleh Peraturan Bank Indonesia No. 22/4/PBI/2020 Tentang Insentif Bagi Bank Yang Memberikan Penyediaan Dana Untuk Kegiatan Perekonomian Tertentu Guna Mendukung Penanganan Dampak Perekonomian Akibat Wabah Virus Corona.9

Konsekuansi dari seluruh aturan di atas, PT. Bank BNI Syariah mengeluarkan satu kebijakan atau regulasi yang dinamakan Pedoman

9Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 132.

(19)

Implementasi Restrukturisasi atas Pemenuhan Regulasi Stimulus Pembiayaan Pada Bank Syariah Dampak covid-19.Pedoman ini merupakan sebuah Standar Operasional Prosedur (SOP) bagi seluruh pimpinan dan karyawan PT. BNI Syariah dimanapun juga untuk memperhatikan dan menangani para nasabah yang melakukan wanprestasi atas pembiayaannya, dalam bahasa perbankan hal tersebut disebut dengan restrukturisasi.

PT. BNI Syariah Cabang Mataram merupakan salah satu Cabang dari PT. BNI Syariah yang berada di Jakarta, oleh karena itu sudah selayaknya berpedoman pada SOP yang ada dalam menangani nasabah yang ingkar atau ciderai janji atau wanprestasi. Hal ini penting dilakukan mengingat terjadi trent kenaikan nasabah yang wanprestasi pada pembiayaan modal kerja di PT.

Bank BNI Syariah Cabang Mataram pada masa pandemi covid-19. Hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 3 Desember 2020 terjadi peningkatan yang sangat signifikan pada nasabah yang melakukan wanprestasi, yaitu tahun 2016 dan 2017 sebanyak 1 orang, tahun 2018 sebanyal 0, tahun 2019 sebanyak 1 orang, dan tahun 2020 sampai tanggal 2 Desember sebanyak 8 nasabah.10

Berdasar uraian diatas penulis tertarik untuk mengeksplor lebih lanjut kedalam sebuah penelitian dengan judul “Tinjauan Fiqh Muamalah Terhadap Praktik Wanprestasi Perjanjian Pembiayaan Modal Kerja Pada Masa Pandemi Covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram”.

10Bensuares, (Staf SME Account Officer PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram, Wawancara, 3 Desember 2021..

(20)

B. Rumusan Masalah

Peneliti memfokuskan kajian dengan merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana mekanisme atau prosedur terjadinya akad pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19 di PT. Bank Syariah Cabang Mataram?

2. Bagaimana praktik wanprestasi akad pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram?

3. Bagaimana tinjauan fiqh muamalah terhadap praktik wanprestasi di masa pandemi covid-19 pada akad pembiayaan modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram?

C. Tujuan dan Manfaat Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan mekanisme atau prosedur terjadinya akad pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19 di PT. Bank Syariah Cabang Mataram.

2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan praktik waprestasi akad pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19 di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram.

3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan tinjauan fiqh muamalahterhadap praktik wanprestasi di masa pandemi covid-19 pada aka pembiayaan modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dari 2 aspek, yaitu:

(21)

1. Aspek teoritis, dapat dijadikan sebagai sumbang pemikiran bagi kajian dan pengembangan ilmu pengetahuan terkait dengan tinjauan fiqh muamalahterhadap praktik wanprestasi perjanjian pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram.

2. Aspek praktis, dapat memberikan kontribusi informasi dan bahan referensi kepada pihak perbankan khususnya PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram dan masyarakat yang telah dan akan menjadi konsumen pembiayaan modal kerja tentang bentuk-bentuk wanprestasi yang timbul dari akad perjanjian pembiayaan modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram, dan penanganan wanprestasi yang sesuai dengan koridor fiqh muamalah.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Sebuah penelitian perlu dibatasi ruang lingkupnya agar penelitian tersebut tidak melebar jauh pada hal-hal yang tidak diinginkan.Oleh karena itu, peneliti membatasi penelitian ini hanya terbatas pada prosedur atau mekanisme terjadinya akad atau perjanjian pembiayaan modal kerja pada masa pandemi covid-19 di PT. Bank Syariah Cabang Mataram, wanprestasi pada perjanjian pembiayaan modal kerja serta tinjauan fiqh muamalahnyaterhadap praktik wanprestasi tersebut.

Setting penelitian dilakukan di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram dengan argumentasi peneliti bahwa PT. Bank BNI Syariah adalah salah satu bank syariah milik pemerintah yang diwajibkan oleh pemerintah untuk melakukan restrukturisasi atas pemenuhan regulasi stimulus pembiayaan pada

(22)

Bank Syariah dampak covid-19 kepada nasabah yang melakukan wanprestasi, namun demikian salah satu kantor cabangnya yaitu cabang Mataram ternyata tidak melakukan hal tersebut sesuai dengan regulasi hukum yang berlaku.

E. Telaah Pustaka

Telaah pustaka merupakan penelusuran terhadap karya-karya terdahulu baik dalam bentuk hasil penelitian, jurnal maupun buku-buku yang berkaitan dan berhubungan dengan penelitian yang peneliti lakukan. Berdasarkan hasil telaah pustaka, peneliti menemukan beberapa topik yang berhubungam, diantaranya yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Fatkhul Jannahi, berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penyelesaian Mudharib Wanprestasi di BMT Barokah Desa Cepego Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara”. .

Fatkhul Jannah berdasarkan hasil penelitiannya menguraikan bahwa dalam penyelesaian mudharib wanprestasi langkah-langkah yang diterapkan dengan i). cara penagihan rutin;ii). penyelamatan pembiayaan dengan cara rescheduling, reconditioning, restructuring; iii). Penghapusan hutang. Ketiga cara ini dianggap sudah sesuai dengan hukum Islam menurut Fatkhul Jannah.11

Gambaran hasil penelitian yang dilakukan oleh Fatkhul Jannah di atas, terlihat persamaan dan perbedaan dengan penelitian peneliti.Persamaannya, sama-sama bertema tentang wanprestasi pada

11Fatkhul Jannah, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penyelesaian Mudharib Wanprestasi di BMT Barokah Desa Cepogo Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara”, (Skripsi: Fak. Syariah dan Hukum UIN Walisongo, 2016), diakses dari http://eprints.walisongo.ac.id diunduh pada tanggal 12 Januari 2021, pukul 10.00 WITA

(23)

pembiayaandengan jenis penelitian kualitatif. Perbedaannya, walaupun Fatkhul Jannah meneliti tentang wanprestasi pembiayaan, namun Fatkhul Jannah fokus pada upaya penanganan wanprestasi tersebut dan sama sekali tidak menyinggung tentang praktik wanprestasi itu sendiri diantaran bentuk-bentuk wanprestasi dan alasan-alasan terjadinya wanprestasi.

Perbedaan lainnya adalah penelitian Fatkhul Jannah dilakukan sebelum terjadinya covid-19 pada sebuah lembaga pembiayaan mikro bernama BMT sedangkan peneliti melakukan penelitian terhadap praktik wanprestasi saat terjadinya pandemi covid-19 pada lembaga perbankan syariah, hal ini tentu saja berbeda regulasi atau aturan main pada kedua lembaga tersebut dan pada situasi yang berbeda.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Abdullah Nawawi berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penyelesaian Akibat Wanprestasi Pada Akad Ijarah (Studi Kasus di KSPPS BMT Mentari Bumi Kemangkon Purbalingga}”.

Hasil penelitian Abdullah Nawawi menunjukkan bahwa cara penyelesaian wanprestasi pada akad ijarah yang dilakukan oleh KSPPS BMT Mentari Bumi Kemangkon Purbalingga dengan cara member perinagatan kepada nasabah apabila nasabah belum juga membayar angsuran, jika belum juga dipenuhi maka pihak BMT akan mendatangi rumah nasabah untuk meminta agar nasabah melunasi hutang atau injamannya. Penanganan wanprestasi yang dilakukan oleh BMT Mentari

(24)

Bumi sudah sesuai dengan hukum Islam karena sesuai dengan etika bisnis Islam.12

Penelitian yang dilakukan Abdullah Nawawi sebenarnya mirip dengan apa yang dilakukan oleh Fatkhul Jannah. Oleh karena itu persamaan penelitian Abdullah Nawawi dengan penelitian peneliti adalah sama-sama dengan tema besar tentang wanprestasi dengan jenis penelitian kualitatif.

Perbedaannya terletak pada fokus penelitiannya, dimana Abdullah Nawawi fokus pada penyelesaian wanprestasi dan sama sekali tidak menyinggung praktik wanprestasi itu sendiri dan juga tidak meneliti sama sekali tentang bentuk-bentuk wanprestasi dan alasan terjadinya wanprestasi, hal ini justru menjadi kajian penting yang dilakukan oleh peneliti. Perbedaan lainnya terletak pada jenis akad, dan lembaga pembiayaan serta waktu wanprestasinya. Abdullah Nawawi melakukan penelitian pada pembiayaan dengan akad ijarah pada lembaga BMT dan sebelum terjadinya covid-19, sedangkan penelitian peneliti tidak melakukan pada akad ijarah dan juga penelitian ini dilakukan dilembaga perbankan pada saat terjadinya covid-19.Hal ini tentu saja berbeda mengingat dalam kondisi covid-19 ada regulasi-regulasi hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah terhadap lembaga perbankan guna penyelesaian wanprestasi dalam sebuah praktik perjanjian pembiayaan, khususnya pembiayaan modal kerja.

12Abdullah Nawawi, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penyelesaian Akibat Wanprestasi Pada Akad Ijarah : Studi di KSPPS BMT Mentari Bumi Kemangkon Perbalingga”, (Skripsi,Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Purwokerto, 2019), diakses dari http://repositori.iainpurwokerto.ac.id diunduh pada tanggal 12 Januari 2021, pukul 10.10 WITA.

(25)

3. Penelitian yang dilakukan oleh I Putu Krisna Adi Gunartha berjudul

“Penyelesaian Perjanjian Kredit Macet Akibat Wanprestasi Bagi Debitor Yang Meninggal Dunia Pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Waingapu NTT”.

I Putu Krisna Adi Gunartha dalam thesisnya menguraikan bahwaBank Rakyat Indonesia dalam penyelesaian hukum jika terjadi wanprestasi apabila debitor telah meninggal dunia dalam perjanjian kredit adalah dilakukan sama dengan debitur yang belum meninggal dunia yaitu dengan cara melakukan penagihan kepada ahli warisnya secara intensif, serta melakukan somasi jika ahli warisnya tidak juga berkenan untuk melakukan pelunasan terhadap kredit tersebut.13

Penelitian yang dilakukan olehI Putu Krisna Adi Gunartha diatas memiliki perbedaan dan persamaan dengan penelitian peneliti.

Persamaannya, topik besar penelitiannya sama-sama tentang wanprestasi dengan lokasi pada lembaga perbankan.Namun demikian terdapat perbedaan yang sangat signifikan yaitu penelitian I Putu Adi Gunartha mengkaji wanprestasi pada nasabah yang telah meninggal dunia pada lembaga perbankan konvensional sedangkan peneliti meneliti wanprestasi pada nasabah yang masih hidup yang terkena imbas dari covid-19pada lembaga perbankan syariah, sehingga regulasi yang digunakan sangat jauh berbeda.

13I Putu Krisna Adi Gunartha, “Penyelesaian Perjanjian Kredit Macet Akibat Wanprestasi Bagi Debitor yang Meninggal Dunia Pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Waingapu NTT”, (Thesis, Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Hasanudin Makasar, 2013), diakses dari http://digilib.unhas.ac.iddiunduh pada tanggal 12 Januari 2021, pukul 10.15 WITA.

(26)

4. Penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Ningsih, berjudul “Analisis Risiko Produk Pembiayaan Griya Konstruksi iB Hasanah (Studi Di Bank BNI Syariah Cabang Mataram)”.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Kurnia Ningsih menjelaskan bahwa terhdapat beberapa risiko pada produk pembiayaan Griya Konstruksi iB Hasanah diantaranya adalah risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko imbal hasil. Untuk mengatasi risiko tersebut maka pihak Bank BNI Syariah Cabang Mataram menangani risiko tersebut dengan melakukan pengendalian pada tingkat portofolio melalui earlt warning system (EWS) yang di monitor setiap bulan. EWS tersebut selain memonitor portofolio secara bank wide juga mampu memonitor proyeksi kualitas pembiayaan nasabah.14

Penelitian yang dilakukan oleh Kurnia NIngsih memiliki perbedaan dan persamaan dengan penelitian peneliti. Persamaannya, topik penelitian tentang pembiayaan komersil dengan jenis penelitian kualitatif dan lokasinya sama-sama di PT. BNI Syariah Cabang Mataram. Perbedaannya, Kurnia fokus pada risiko-risiko pada pembiayaan komersial berupa pembiayaan Griya Konstruksi iB Hasanah di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram, sedangkan peneliti memfokuskan penelitian pada prosedur dan mekanisme terjadinya perjanjian pembiayaan modal kerja dan praktik wanprestasi pada masa pandemic covid-19pada pembiayaan

14Kurnia Ningsih, “Analisis Risiko Produk Pembiayaan Griya Konstruksi iB Hasanah : Studi Di Bank Syariah Cabang Mataram”, (Skripsi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Mataram, 2019).

(27)

pembiayaan modal kerja. Selain itu, peneliti melihat dari perspektif fiqh muamalahnya yang hal ini tidak dilakukan oleh Kurnia.

5. Putri Yunia Pratiwi, dengan judul „‟Analisis Penanganan Pembiayaan Bermasalah di BNI Syariah Kantor Cabang Surakarta di Tinjau Dari Peraturan Bank Indonesia No.10/18/PBI/2008‟‟.

Putri Yunia Pratiwi dalam penelitiannya, menjelaskan bahwa terjadinya pembiayaan bermasalah disebabkan oleh mneingkatnya harga jual di pasar sehingga menurunnya daya beli masyrakat oleh karena itu timbulnya suatu ketidak mampuan debitur membayar pinjaman kepada bank dan pembiayaan tersebut di kategorikan bermasalah, adapun faktor lain terjadinya pembiayaan bermasalah adalah di sebabkan oleh debitur ketidaklancaran angsuran pembiyaan adanya kolektabilitas merupakan klasifikasi keadaan dalam kemampuan pembayaran pokok dan margin oleh nsabah.15

Berdasarkan hasil penelitian Putri Yunia Pratiwi di atas, terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelititian yanng peneliti lakukan.Persamaan, sama-sama meneliti tentang pembiayaan yang berlokasi di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram dengan jenis penelitian lapangan. Perbedaannya, Putri Yunia Pratiwi memfokuskan penelitiannya pada penanganan pembiayaan bermasalah dan dilakukan sebelum terjadinya covid-19 serta sama sekali tidak menyinggung tentang akad, jenis akad dan isi akad pembiayaan tersebut, sedangkan peneleliti

15Putri Yunia Pratiwi, „‟Analisis penanganan pembiayaan Bermaslah di BNI Syariah Kantor Cabang Surakarta di Tinjau Dari Peraturan Bank Indonesia No. 10/18/PBI/2008‟‟, (Skripsi : IAIN Surakarta, 2019)

(28)

memfokuskan pada isi akadnya sehingga dapat diketahui bentuk-bentuk wanprestasi yang dilakukan oleh nasabah. Perbedaan lainnya adalah Putri melihat pembiayaan bermasalah tersebut dari koridor PBI No.

10/18/PBI/2008. Sedangkan peneliti focus pada pedoman penanganan nasabah yang melakukan wanprestasi yang pedomannya dibuat dan berlaku khusus bagi kalangan PT. Bank BNI Syariah itu sendiri.

F. Kerangka Teori

1. Konsepsi Umum Tentang Perjanjian dalam Islam a. Pengertian Perjanjian dalam Islam

Perjanjian dalam hukum Islam sering disebut dengan istilah akad, kata akad berasal dari kata al-aqd yang berarti mengikat, menyambung atau menghubungkan (ar-rabt). Akad merupakan pertemuan ijab dan kabul sebagai tanda setuju kedua belah pihak atau lebih untuk melahirkan suatu akibat hukum pada objeknya.16

Definisi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Ahmad Abu al- Fath sebagaimana dikutip oleh Muslihin Muslim yang mengatakan akad adalah bertemunya qabul (penerimaan, akseptasi) dengan ijab (penawaran) yang menimbulkan akibat hukum pada obyeknya.Para pihak yang melakukan transaksi memiliki implikasi dalam pemenuhan hak dan kewajibannya. Oleh karena itu dalam Islam dikenal kaidah akad yang menyatakan bahwa pada asasnya akad adalah kesepakatan

16Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah, (Jakarta: Pers, 2010), hlm. 97.

(29)

kedua belah pihak dan akibat hukumnya adalah apa yang mereka tetapkan melalui janji.17

Berkaitan dengan definisi tentang perjanjian dalam Islam diatas, maka selanjutnya adapun perbedaan akad dengan perjanjian bahwa definisi perjanjian dapat dilihat dalam pasal 1320 KUHPerdata yaitu suatu perjanjian adalah perbuatan yang mana satu orang atau lebih mengingatkan dirinya terhadap orang lain. Sedangkan definisi akad menurut Jumhur Ulama adalah ikatan antara ijab dan kabul yang dibenarkan oleh syara‟ yang menimbulkan akibat hukum terhadap obbjeknya, lebih jelasnya sebagaima dalam firman Allah swt., yang berbunyi :

Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu b. Rukun dan Syarat Sahnya Perjanjian

Dalam melakukan transaksi perjanjian, terdapat suatu rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Mengenai rukun dan syarat sahnya perjanjian dalam Islam terdapat beragam pendapat dikalangan para ahli fiqh. Mazhab Hanafi menyatakan bahwa rukun akad hanya shighat al-

„aqad yang terdiri dari ijab (penawaran) dan qabul (penerimaan).

Sedangkan syarat akad ialah al-aqidain (subjek akad) dan mahal al-

„aqd (objek akad). Alasannya adalah al-„aqidain dan mahalul „aqd

17Muslihun Muslim, Fiqh Ekonomi, (Mataram: LKIM IAIN Mataram, 2005), hlm. 51.

(30)

bukan merupakan bagian dari tasharruf al-„aqd yaitu perbuatan hukum akad. kedua hal tersebut berbeda diluar perbuatan akad.18

Berbeda halnya dengan pendapat kalangan Syafi‟i termasuk Imam Ghazali dan kalangan Mazhab Maliki termasuk Syihab al- Karakhi, bahwa al-„aqidain dan mahal al-„aqd termasuk rukun akad karena hal tersebut merupakan salah satu filar utama dalam tegaknya perjanjian kerjasama.19

Terkait dengan syarat sahnya perjanjian ada lima yaitu: pertama, tidak ada paksaan; kedua, tidak menimbulkan kerugian (dlarar);ketiga, tidak mengandung ketidak jelasan (gharar);keempat, tidak mengandung riba; dan kelima, tidak mengandung syarat fasid.20

Sedangkan perbedaan syarat sah suatu akad dalam KHES dan KUHPerdata dapat dilihat pada ukuran kecakapan hukum, yaitu orang yang melakukan akad/perjanjian dalam KHES seseorang yang sudah berumur 18 tahun atau sudah menikah, sedangkan dalam KUHPerdata sudah berumur 21 tahun atau sudah menikah.21

Sedangkan syarat sahnya perjanjian menurut Hanafiyah yaitu: syarat yang berkaitan dengan semua bentuk perjanjian baik harta maupun lainnya dalam hal ini terdapat syarat yaituberkaitan dengan benda yang

18Muhammad Harfin Zuhdi, Muqaranah Mazhib Fil Mu‟amalah, (Cakranegara Mataram:

Sanabi Creative, 2015), hlm. 239.

19Ibid., hlm. 243.

20Muslihun Muslim, Fiqh Ekonomi…, hlm. 173.

21 Wirdyaningsih, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Depok: Kencana, 2005), hlm. 47.

(31)

diakadkan (ditransaksikan) harus berupa benda yang dapat diterima sebagai perwakilan.22

c. Jenis-Jenis Perjanjian atau Akad dalam Islam

Akad dibedakan menjadi beberapa macam yang dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu :23

1). Akad bernama dan tidak bernama

Akad bernama dan tidak bernama ini dilihat dari ditentukan atau tidak ditentukan namanya. Yang dimaksud dengan akad bernama ialah akad yang sudah ditentukan namanya oleh pembuat hukum dan ditentukan pula ketentuan-ketentuan khusus yang berlaku terhadapnya dan tidak berlaku terhadap akad lain. Para fukaha tidak sepakat tentang jumlah akad bernama, bahkan mereka tidak membuat penyusunan sistematis tentang urutan-urutan akad.

Adapun contoh dari akad bernama adalah: (1) sewa menyewa (al- ijarah), (2) pemesanan (al-istishna‟), (3) jual beli (al-bai‟), (4) penanggungan (al-kafalah), (5) pemindahan hutang (al-hiwalah), (6) pemberian kuasa (al-wakalah), (7) perdamaian (ash-shulh), (8) persekutuan (asy-syirkah), (9) bagi hasil (al-mudharabah), (10) hibah (al-hibah), (11) gadai (ar-rahn), (12) penggarapan tanah (al- muzara‟aah), (13) pemeliharaan tanaman (al-mu‟amalah/al- musaqah), (14) penitipan (al-wadi‟ah), (15) pinjam pakai (al-

„ariyah), (16) pembagian (al-qismah), (17) wasiat-wasiat (al-

22Abdul Rahman Ghazali, dkk., Fiqh Muamalah (Jakarta: Perpustakaan Nasional, 2010), hlm. 129-130.

23Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian…, hlm. 72-83.

(32)

washaya) , (18) perutangan (al-qardh). Akad tidak bernama ialah akad yang tidak diatur secara khusus dalam kitab-kitab fikih di bawah satu nama tertentu. Dengan kata lain akad tidak bernama adalah akad yang tidak ditentukan oleh pembuatan hukum namanya yang khusus serta tidak ada pengaturan tersendiri. Contoh akad tidak bernama adalah perjanjian penerbitan, periklanan, dan sebagainya.24

2). Akad Pokok dan Akad Asesoir . sumbernya belum

Dilihat dari kedudukannya, akad dibedakan menjadi akad pokok dan akad asesoir. Akad pokok adalah akad yang berdiri sendiri yang keberadaannya tidak tergantung kepada suatu hal yang lain.

Akad asesoir adalah akad yang keberadaannya tidak berdiri sendiri, melainkan tergantung kepada suatu hak yang menjadi dasar ada dan tidaknya atau sah atau tidak sahnya akad tersebut.

3). Akad Bertempo dan Akad Tidak bertempo. sumbernya belum Akad bertempo adalah akad yang didalamnya unsure waktu merupakan unsure asasi, dalam arti unsure waktu merupakan bagian dari isi perjanjian. Akad tidak bertempo adalah akad dimana unsure waktu tidak merupakan bagian dari isi perjanjian

4). Akad Masyru‟ dan Akad Terlarang. sumbernya belum

24 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, (Jakarta: Kencana, 2012h), hlm. 76-82

(33)

Akad masyru‟ adalah akad yang dibenarkan oleh syarak untuk dibuat dan tidak ada larangan untuk menutupnya.Sedangkan akad terlarang adalah akad yang dilarang oleh syara untuk dibat, dimana akad tersebut bertentangan dengan kesusilaan/akhlak Islam, ketertiban umum dan lainnya.

2. Konsepsi Umum Tentang Wanprestasi a. Pengertian Wanprestasi

Suatu perjanjian yang sah secara yuridis merupakan perikatan dan hal ini berarti bahwa kewajiban-kewajiban yang timbul dari perjanjian itu bila tidak dipenuhi dapat dipaksakan pelaksanaannya. Bila terdapat pihak yang berkewajiban yang tidak memenuhi kewajibannya maka pihak yang berhak dapat menuntut.

Wanprestasi berasal dari bahasa Belanda (wanpretatie) merupakan sikap seseorang yang tidak memenuhi atau lalai dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana yang telah ditentukan dalam perjanjian antara nasabah dan pihak bank25. Menurut Riduan Syahrani wanprestasi adalah debitur tidakmemenuhi prestasi sebagaimana yang telah ditentukan dalam sebuahperjanjian.26

b. Bentuk-Bentuk Wanprestasi

Menurut Subekti sebagaimana dikutip oleh Hardijan Rusli, seseorang dikatakan wanprestasi atau berprestasi buruk jika : i). tidak melakukan apa yang telah disanggupi akan dilakukannya; atau ii).

25Abdul R. Saliman, Esensi Hukum Bisnis Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 15.

26Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, (Bandung:PT Alumni, 2004), hlm. 218.

(34)

melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi tidak sebagaimana mestinya;

iii). Melaksanakan apa yang dijanjikan tetapi terlambat; atau iv).

Melakukan sesuatu menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.27

Dalam praktik terkadang sukar untuk menentukan apakah seseorang telah melakukan wanprestasi atau tidak.Oleh karena itu terkait dengan waprestasi perlu diberikan patokan-patokannya yaitu i).

Pihak yang menderita akan kehilangan keuntungan yang diharapkan;

ii). Pihak yang menderita akan mendapat penggantian selayaknya atas bagian dari keuntungan yang hilang; iii). Pihak yang gagal memenuhi atau menawarkan pemenuhan akan kena denda; iv). Terdapat kemungkinan pihak yang memenuhi atau menawarkan pemenuhan akan memperbaiki kegagalannya dengan mempertimbangkan semua keadaan termasuk memastikan secara beralasan; v). Kelakuan dari pihak yang gagal melakukan atau menawarkan pemenuhan sesuai dengan itikad baik dan usaha yang adil.28

3. Konsepsi Umum Tentang Pembiayaan Modal Kerja

Pembiayaan merupakan salah tugas bank, yaitu pemberian penyediaan dana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pembiayaan berarti financingadalahpendanaan yang dikelurkan untuk mendukung usaha masyrakat yang telah direncanakan yang dilakukan oleh Bank Syariah kepada Nasabah.29penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan didasari pada kepercayaan yang diberikan oleh pihak bank dan nasabah selaku

27Hardijan Rusli, Hukum Perjanjian…..hlm. 132.

28Ibid…..hlm. 132.

29Muhammad, Manajemen Bank Syariah, (Yogyakarta : Pustaka Insani, 2018), hlm. 260.

(35)

pengguna dana. Bahwa kreditur dalam bentuk pembiayaan yang diberikan kepada debitur maka pihak bank berharap bisa melunasi modal yang telah dipinjam sesuai dengan jangka waktu yang telah diperjanjikan dalam akad pembiayaan.30

Undang-undang perbankan No. 10 Tahun 1998, pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan, berdasarkan persetujuan antaran bank dan pihak lain dibiayai untuk mengembalikan tagihan setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan aatau bagi hasil.

Pembiayaan yang diberikan kepada nasabah berdasarkan prinsp syariah dan aturan yang digunakan sesuai dengan hukum Islam.

Dengan demikian pembiayaan modal kerja ialah pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan masyarakat dan untuk keperluan menjalankan usahanya.Pembiayaan modal kerja ialah pembiayaan jangka pendek yang diberikan kepada perusahaan untuk membiayai kebutuhan modal kerja usaha berdasarkan pinsip syariah.Jangka waktu pembiayaan modal kerja satu tahun dan dapat diperpanjang sesui dengan kebutuhan.

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini berjenis kualitatif, sebuah penelitian yang menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan

30Ismail, Perbankan Syariah, (Surabaya: Kencana, 2010), hlm. 105

(36)

gejala lain dalam masyarakat.31Jenis penelitian ini digunakan peneliti dengan alasan bahwa peneliti berusaha memaparkan hasil penelitian yang diperoleh dilapangan sesuai dengan kondisi objek yang alamiah dari objek penelitian, dalam hal ini adalah kondisi alamiah terhadap praktik wanprestasi di masa pandemi covid-19 pada perjanjian pembiayaan modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram. Praktik tersebut kemudian dianalisis dalam perspektif fiqh muamalahnya.

Pendekatan penelitianyang peneliti gunakan adalah yuridis sosiologis, yaitumengkaji keberlakuan hukum yang ada dalam kenyataannya di lapangan.32Hukum yang dimaksudkan disini adalah peraturan-peraturan tentang penanganan wanprestasi pada masa pandemi covid-19 yang diberlakukan pada pembiayaan di lembaga perbankan syariah.Peraturan tersebut berasal dari peraturan yang dikeluarkan oleh Peraturan Otoritas Jasa Keuangan, Peraturan Bank Indonesia, Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang terkait tentang Perpanjangan Status Keadaan Darurat Wabah Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia.

2. Jenis dan Sumber Data

Penelitian ini menggunakan jenis data primer dan data sekunder.Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Adapun sumber data primer yaitu wawancara, observasi, dan laporan dalam bentuk

31Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 25.

32Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, (Bandung: Mandar Maju, 2008), hlm. 130.

(37)

dokumen resmi.33Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen tidak resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian, hasil penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan peraturan perundang-undangan.34

Berangkat dari pengertian jenis dan sumber data di atas, sumber data primer yang peneliti gunakan yaitu observasi langsung ke tempat lokasi dan melakukan wawancara dengan para nasabah pembiayaan modal kerja serta pimpinan dan karyawan PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram yang berkompeten atau mengetahui persoalan wanprestasi pembiayaan modal kerja tersebut.Sedangkan sumber data sekunder yang peneliti gunakan berasal dari buku, jurnal, website, dan peraturan undang- undangan.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan antara lain : a. Observasi

Observasi menurut Sugiyono adalah pengamatan terhadap pola perilaku manusia dalam situasi tertentu, untuk mendapatkan informasi tentang fenomena yang diinginkan.Lebih lanjut Sugiyono menyatakan bahwa observasi terdiri atas dua macam yaitu observasi partisipasi dan observasi non partisipasi.35

33Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2015), hlm. 106.

34Ibid.

35Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods), (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm.

196 - 197.

(38)

Penelitian ini menggunakan observasi non partisipasi, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram kemudian peneliti mengamati obyek penelitian yaitu mengamati sikap, prilaku dan hal-hal yang dlakukan oleh pimpinan, karyawan PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram serta konsumennya terkait dengan mekanisme timbulnya perjanjian pembiayaan modal kerja serta sikap dan perilaku mereka dalam menangani wanprestasi yang timbul dari perjanjian pembiayaan modal kerja tersebut. Dalam observasi ini, walaupun peneliti melakukan pengamatan secara langsung, namun peneliti tidak terlibat dalam kegiatan mereka, artinya peneliti tidak para pihak dalam perjanjian pembiayaan modal kerja tersebut, hal inilah yang merupakan konsekuensi atas digunakannya observasi non partisipasi.

b. Wawancara

Wawancara merupakan situasi peran antar pribadi bertatap muka (face to face), ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban- jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seorang responden.36 Wawancara terdiri atas terstruktur dan tidak terstruktur.

Penelitian ini menggunakan wawancata tidak terstruktur artinya artinya saat wawancara peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang

36Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar..., hlm. 82.

(39)

telah tersusun secara sistematis tetapi yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang ditanyakan.37

Wawancara dilakukan pada pimpinan dan karyawan PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang peneliti jadikan sebagai bagian dari wawancara kepada mereka adalah berkaitan dengan : 1). Sejarah berdirinya PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram; 2). Produk-produk pembiayaan serta prosedur sampai terjadinya kesepatan perjanjian pembiayaan modal kerja; 3).

Bentuk-bentuk wanprestasi yang terjadi dalam praktik perjanjian pembiayan modal kerja baik yang dilakukan oleh nasabah maupun oleh pihak bank; 4). Faktor-faktor penyebab terjadinya wanprestasi pada pelaksanaan perjanjian pembiayaan modal kerja; 5). Penanganan wanprestasi oleh PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram yang dilakukan oleh pihak nasabah; 6). Pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan penelitian.

Wawancara juga dilakukan kepada nasabah yang sudah membuat kontrak/perjanjian pembiayaan modal kerja. Wawancara yang dilakukan peneliti kepada nasabah sebagian pertanyaannya sama dengan apa yang peneliti tanyakan kepada pihak bank. Adapun wawancara tersebut berkaitan dengan 1). Prosedur sampai terjadinya penandatanganan perjanjian pembiayaan modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram ; 2). Bentuk dan faktor penyebab terjadinya

37Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hlm. 96.

(40)

wanprestasi yang dilakukan dan atau dialami oleh pihak nasabah; 3).

Penanganan wanprestasi yang dilakukan oleh pihak PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram ; 4). Tindakan-tindakan atau upaya yang dilakukan oleh nasabah atas penanganan wanprestasi yang dilakukan oleh pihak PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram; 5).Tindakan- tindakan ketika nasabah mengetahui adanya wanprestasi yang dilakukan oleh pihak PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram; dan ke 6).Pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan penelitian.

c. Dokumentasi

Dokumentasi adalah suatu metode dalam pengumpulan data dan pencatatan terhadap berkas-berkas atau dokumen-dokumen, serta buku-buku yang ada hubungannya dengan materi yang dibahas.38 Dokumen yang peneliti dapatkan langsung dari lokasi penelitian berupa brosur, laporan tahunan, kontrak atau draft perjanjian.

Hasil dari teknik dokumentasi ini, data yang peneliti peroleh yaitu sejarah berdirinya PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram, visi misi, standar operasional budaya kerja karyawan, struktur organisasi, serta produk-produk yang dimiliki oleh PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram. Selain itu juga diperoleh data berupa akad atau perjanjian pembiayaan modal kerja antara nasabah dengan pihak PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram

4. Teknik Analisis Data

38Abidin Zaenal Amirudin, Pengantar Metode dan Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 30.

(41)

Analisis data merupakan satu kegiatan menguraikan data dalam bentuk kalimat yang baik dan benar, sehingga mudah dibaca dan diberi arti (diinterprestasikan).39Analisis data yang peneliti gunakan adalah deduktif yaitu suatu analisis yang berangkat dari fakta-fakta umum kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.40

Proses analisis data yang peneliti lakukan mengikuti alur berupa reduksi data; penyajian data dan terakhir penarikan kesimpulan. Berkaitan dengan tiga alur ini, peneliti terlebih dahulu melakukan reduksi data yaitu data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang berkaitan dengan praktik wanprestasi pada perjanjian pembiayaan modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram pada masa pandemic tersebut dirangkum, memisahkan hal-hal yang penting untuk mendapatkan gambaran lebih jelas sehingga memudahkan peneliti melakukan pengumpulan data kedepannya. Setelah itu barulah peneliti melakukan penyajian data penelitian sedemikain rupa sehingga hasilnya dapat ditarik kesimpulan yang disajikan dalam bentuk naratif dan pada tahap akhir adalah dilakukan analisis menurut fiqh muamalahnya.

5. Validitas Data

Data dikatakan valid apabila data yang telah dikumpulkan tidak ada perbedaan antara apa yang dinyatakan oleh peneliti dengan kenyataan sesungguhnya yang terjadi pada objek yang diteliti. Namun kebenaran

39Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, (Lampung: Citra Aditya Bakti, 2004), hlm. 91.

40Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Ter. Tjetjep Rohendi Rohidi (Jakarta: UI-Press, 1992), hlm. 20.

(42)

realitas data menurut penelitian kualitatif tidak bersifat tunggal, tetapi jamak. Hal ini artinya bahwa data tersebut dapat berubah sehingga tidak ada suatu data yang tetap atau konsisten.41Adapun uji keabsahan data yang digunakan peneliti antara lain:

a. Perpanjangan pengamatan

Perpanjangan pengamatan dilakukan untuk menggali data dilapangan yang dibutuhkan sekiranya dianggap masih kurang.Hal ini peneliti lakukan mengingat lokasi penelitian di lembaga perbankan yang sangat sulit mendapatkan akses baik akses wawancara maupun akses dokumen. Oleh karena itu, perpanjangan yang peneliti maksudkan di sini dimulai sejak peneliti melakukan studi pendahuluan sampai berakhirnya penelitian, yang dalam hal ini memakan waktu yang sangat panjang sejak bulan Oktober 2020 sampai Juni 2021.

b. Kecukupan referensi

Bahan referensi dilakukan untuk memperoleh kepastian data yang disusun secara pasti dan sistematis, dengan cara membaca berbagai referensi buku, hasil penelitian maupun dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan penelitian yang dilakukan peneliti.

c. Triangulasi

Triangulasi yang peneliti gunakan adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

41Sugiyono, Metode..., hlm. 363.

(43)

1) Triangulasi sumber dilakukan untuk mendapatkan data atau informasi yang diperoleh dari beberapa sumber dengan teknik yang sama, seperti melakukan wawancara, observasi dan dokumentasidengan beberapa narasumber atau informan.

Kemudian membandingkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang satu dengan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi yang lain.

2) Triangulasi teknik dilakukan untuk mendapatkan data atau informasi dengan teknik yang berbeda-beda dari sumber yang sama, seperti melakukan teknik wawancara, observasi, dokumentasi kepada para pihak pelaku perjanjian pembiayaan modal kerja, dalam hal ini adalah pimpinan dan karyawan PT.

Bank BNI Syariah Cabang Mataram beserta nasabah pembiayaan modal kerja tersebut..

H. Sistematika Penulisan

Penelitian ini disusun berdasarkan sistematika penulisan sebagai berikut:

1. Bagian Awal

Bagian awal terdiri dari halaman sampul, halaman judul, persetujuan pembimbing, nota dinas pembimbing, pernyataan keaslian skripsi, pengesahan dewan penguji, halaman motto, halaman persembahan, daftar isi, daftar lampiran, dan abstrak.

2. Bagian Isi

Bagian isi terdiri dari :

(44)

Bab I Pendahuluan terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Paparan data terdiri atas gambaran umum PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram dan praktik wanprestasi di masa pandemi covid- 19 pada perjanjian modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram.

.Bab III Analisis yaitu bab yang berisi analisis terhadap temuan lapangan yang ada pada Bab II, sehingga pada bab ini peneliti memberikan analisis praktik wanprestasi di masa pandemi covid-19 pada perjanjian modal kerja di PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram yang ditinjau dari perspektif fiqh muamalahnya.

Bab IV Penutup, yang merupakan rangkaian akhir dari sebuah penelitian, terdiri dari kesimpulan dan saran. Kesimpulan dimaksudkan sebagai penegasan terhadap hasil penelitian yang tercantum dalam bab II dan bab III. Sedangkan saran merupakan rekomendasi peneliti pada stakeholder yang terlibat dalam perjanjian pembiayaan modal kerja tersebut.

3. Bagian Akhir

Bagian akhir ini terdiri atas daftar pustaka, serta lampiran-lampiran pendukung dari skripsi seperti surat ijin penelitian, surat keterangan penelitian, kartu konsultasi atau kartu bimbingan, dokumentasi penelitian, dan daftar riwayat hidup peneliti.

(45)

BAB II

PRAKTIK WANPRESTASI DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA PERJANJIAN PEMBIAYAAN MODAL KERJA DI PT. BANK BNI

SYARIAH CABANG MATARAM

A. Gambaran Umum PT. BANK BNI Syariah Cabang Mataram 1. Sejarah Berdirinya PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram42

Bank BNI berdiri pada tahun 1946, merupakan bank pertama yang secara resmi dimiliki oleh pemerintahan Indonesia. Pada tanggal 29 April 2000, PT. Bank BNI 46 membentuk Unit Usaha Syariah (UUS) sebagai unit bisnis strategis, hal tersebut merupakan implikasi atas terbitnya Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan. Keberlakuan UU No. 10 Tahun 1998 ini memiliki dampak atas lahirnya dual banking system yaitu suatu sistem yang membolehkan satu bank melakukan kegiatan usaha secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah. Dengan demikian, pada tahun 2000, PT. Bank BNI 46 melakukan kegiatan usaha baik secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah dengan dibentuknya unit usaha syariah. Operasional resmi PT. Bank BNI Syariah terjadi pada tanggal 19 Juni 2010 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor : AHU-15574, AH 0101 Tanggal 25 Maret 2010. Dengan modal dasar sebanyak Rp. 4.004.000.000.000,serta modal ditempatkan dan modal disetor sebanyak Rp. 1.501.500.000.000, dimana kepemilikan

42PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram, “Profil PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram”, Dokumen, dikutip tanggal 12 Januari 2021.

(46)

sahamnya dikuasai oleh PT. Bank BNI 46 sebanyak 99.09%. Berdasarkan SK tersebut, BNI Syariah yang awalnya hanya berupa unit usaha syariah dari PT. Bank BNI 46 berubah menjadi Bank Umum Syariah dengan nama PT. Bank BNI Syariah.

Pasca resmi beroperasi, PT. Bank BNI Syariah kemudian melakukan ekspansi dengan cara melakukan pendirian kantor cabang. Hal ini dimulai pembentukan kantor cabang di tahun yang sama yaitu tahun 2010 dengan pendirian 5 kantor cabang PT. Bank BNI Syariah yang terdiri atas kantor cabang syariah Yogyakarta, Malang, Pekalongan, Jepara dan Banjarmasin.

Pada tahun 2001 PT. Bank BNI Syariah membuka kembali kantor cabang yaitu di Jakarta sebanyak 2 cabang, Bandung, Makasar dan Padang. Yang diikuti dengan dua kantor cabang pada tahun 2002 yaitu di Medan dan Palembang. Seiring perjalanannya, pada tahun yang sama pula PT. Bank BNI Syariah membuka 28 kantor cabang pembantu yang tersebar pada kota-kota yang ada kantor cabang tersebut. Diawal tahun 2003 dengan pertimbangan. Diawal tahun 2003 dengan pertimbangan load bisnis yang semakin meningkat sehingga untuk meningkatkan pelayanan kepada masyrakat, PT. Bank BNI Syariah melakukan relokasi kantor cabang syariah yang ada di Jepara dipindah ke Semarang.

Khusus PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram secara resmi berdiri pada tanggal 7 Juli 2011 yang diresmikan langsung oleh Bapak Teguh Saptono selaku Kepala Cabang Mataram dan mulai beroperasi pada tanggal 25 Juli 2011. Namun demikian saat itu kantor dari PT,. Bank BNI

(47)

Syariah Cabang Mataram masih menggunakan bangunan milik pihak lain atau masih mengontrak bangunan milik pihak ketiga. Hingga pada tahun 2014 dibangun dan beroperasilah PT. BNI Syariah Cabang Mataram yang berlokasi di Jalan Pejanggik No. 23 Cakranegara Mataram NTB.

Selanjutnya seiring dengan kebijakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sejak bulan Maret 2020 terjadi penggabungan 3 (tiga) bank Syariah yaitu Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah dan Bank Syariah Mandiri menjadi PT. Bank Syariah Indonesia. Proses pendirianPT.

Bank Syariah Indonesia (BSI) terlebih dulu melalui tahapan yang cukup ketat mulai dari tahap perizinan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), proses pengesahan nama baru BSI yang dilakukan oleh kementrian Hukum dan HAM dan persiapan logo baru, setelah melawati tahap-tahap diatas selanjutnya tepat pada tanggal 1 Februari 2021 PT. Bank BNI Syariah telah sah mengganti nama menjadi PT. Bank Syariah Indonesia yangdiresmikan lansung oleh Presiden Joko Widodo, danberoprasi diwilayah Indonesia.Tujuan dari penggabungan 3 bank syariah yaituagar bisa membantu dan memepermudah perkembangan ekonomi Indonesia dari satu pintu yaitu BRI Syariah, Mandiri Syariah, dan BNI Syariah.

2. Visi dan Misi PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram43 a. Visi :

“Menjadi bank syariah pilihan masyarakat yang unggul dalam layanan dan kinerja”.

43Ibid.

(48)

b. Misi

1) Memberikan kontribusi kepada masyarakat dan peduli pada kelestarian lingkungan.

2) Memberikan solusi kepada masyarakat untuk kebutuhan jasa perbankan syariah.

3) Memberikan nilai investasi yang optimal bagi investor.

4) Menciptakan wahana terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi bagi pegawai sebagai perwujudan ibadah.

5) Menjadi acuan tata kelola perusahaan yang amanah.

3. Budaya Kerja PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram44

Terkait dengan budaya kerja ini, PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram memiliki budaya kerja sebagai berikut :

a. Amanah, artinya suatu prinsip budaya kerja dimana seluruh karyawan PT. Bank BNI Syariah Cabang Mataram wajib “menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh tanggung jawab untuk memperoleh hasil yang optimal”.Berdasarkan prinsip ini, maka seluruh karyawan dalam menjalankan tugasnya harus : i). Jujur dan tepati janji; ii). berani mengambil tanggungjawab; iii). semangat menghasilkan karya terbaik;

iv). bekerja ikhlas dan mengutamakan nilai ibadah; v). member pelayanan melebihi harapan.

b. Jama‟ah, artinya seluruh karyawan dalam bekerja : i). bersinergi dalam menjalankan tugas dan kewajiban; ii). sebarluaskan ilmu yang

44Ibid.

Gambar

Tabel  di  atas  adalah  nisbah  bagi  hasil  yang  diperoleh  oleh  bank  dan  nasabah,  dengan  demikian  jika  nasabah  menerima  pembiayaan  modal  kerja  sebanyak  Rp

Referensi

Dokumen terkait

At the AFS reunion ball, Professor Peter Kanowski Professor and head of the ANU Department of Forestry and his father Peter Kanowski who was a graduate of the AFS in the 1950s, jointly