• Tidak ada hasil yang ditemukan

tradisi lenguwai perspektif 'urf (studi terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "tradisi lenguwai perspektif 'urf (studi terhadap"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Wanita yang hendak dilamar bukanlah wanita yang termasuk makhrom laki-laki yang hendak melamarnya. Jadi adatnya sendiri mengharuskan laki-laki untuk membawa Lenguwai ketika ingin melamar/berceramah kepada wanita yang dicintainya.

Rumusan Masalah

Hal menarik inilah yang kemudian dijadikan bahan penelitian, yaitu terletak pada adanya kewajiban adat bagi laki-laki tersebut. Padahal, dalam Islam sendiri, tradisi ini tidak menjadi syarat untuk melangsungkan atau melamar.

Tujuan Masalah dan kegunaan penelitian

Untuk mengetahui hukum dalam Tinjauan Urf Implementasi Tradisi Lenguwai dalam Upacara Lamaran di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dan landasan bagi para peneliti selanjutnya, dan kami berharap penelitian ini dapat dijadikan referensi dan landasan yang berguna untuk memahami kajian 'Urf dalam kaitannya dengan adat atau tradisi mengenai keberadaan lenguwai. dalam adat pernikahan dalam kajian 'Urf di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten. Bengkulu Tengah.

Penelitian Terdahulu

12 Tesis Sipti Rahayu, “Tradisi Mangkal Luagh di Walimatul „Urs Adat Pasema di Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan.” (Tesis Diploma, Mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Bengkulu, Bengkulu, 2019), hal. 7-8. Sedangkan peneliti sebelumnya tentang tradisi pergaulan di Walimatul 'Urs Adat Pasema di Kecamatan Kedurang Kabupaten Bengkulu Selatan.

Metode Penelitian

19 Dimana peneliti akan melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui informasi lebih mendalam mengenai keberadaan leguwai dalam adat perkawinan dalam kajian „Urf. Maka dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis deskriptif yaitu mendeskripsikan keberadaan lenguwai dalam adat pernikahan yang diteliti.

Sistematika Penulisan

Dan tinjauan hukum dan kajian hukum mengenai tradisi leguwai dalam upacara adat perkawinan di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu Tengah.

LANDASAN TEORI

Pemahaman Adat dan „Urf

  • Pengertian dan perbedaan Adat dan „Urf
  • Metode Mengistimbat hukum melalui pemikiran „Urf dan

Dengan kata lain: tidak ada persyaratan yang berarti 'Urf atau adat istiadatnya tidak dapat diterapkan sesuai dengan ketentuannya. Yakni 'Urf, yaitu berupa perbuatan atau adat istiadat masyarakat yang berkaitan dengan perbuatan biasa atau Mu'amalah sipil. Dalam hal ini syar’i juga menjunjung tinggi ‘urf bangsa Arab’ yang benar (sah) dalam pembentukan undang-undang.

Urf Fasid adalah 'Urf yang tidak baik dan tidak dapat diterima karena bertentangan dengan syariat'. Maksud ayat ini adalah 'Urf adalah kebiasaan manusia dan apa yang sering dilakukannya (yang baik). Kelompok Syafi'iyah dan Hambaliyah, keduanya tidak menganggap 'Urf sebagai hujjah atau dalil hukum syariah.

Banyak juga yang mengakui keberadaan 'Urfa yang digunakan di masyarakat, seperti hadis yang berkaitan dengan jual beli pesanan (salam).

Pemahaman tentang Khitbah dan permasalahannya

  • Pengertian Khitbah dan dasar hukum khitbah
  • Macam-macam cara Khitbah dan hal-hal yang terkait dengan

40 Menurut pendapat ulama, lelaki (meminang) boleh melihat perempuan (pengantin) yang akan dikahwininya di bahagian-bahagian tertentu yang boleh menarik perhatian. Namun, dalam pelaksanaannya, ia tidak menolak kemungkinan wanita mengajak lelaki berkahwin. Lelaki itu boleh berjumpa dengan wanita atau keluarganya secara langsung, atau dengan bantuan perantara yang boleh dipercayai.

Abu Bakar berkata, “Seandainya Rasulullah tidak melamar Hafsah, tentu beliau menerimanya.” Artinya diperbolehkan bagi wali atau orang tua dari pihak perempuan untuk mencari calon laki-laki yang menurutnya laki-laki terbaik. 46Masduki, “Kontekstualisasi hadis tentang perempuan melamar laki-laki”, Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur’an dan Hadits -ISSN p);. Jika seorang pria melihat lamarannya tidak menarik, hendaknya ia diam dan tidak mengatakan apa pun yang dapat menyakiti hatinya, karena bisa jadi wanita yang tidak disukainya akan disukai orang lain.

Yang biasanya digunakan untuk menyelesaikan masalah atau melamar/menghasilkan uang dari laki-laki kepada perempuan.

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Wilayah

  • Letak Geografis Wilayah Penelitian
  • Kondisi wilayah penelitian

Tradisi Lengguai bagi calon pengantin pria hingga saat ini selalu menjadi bagian dari tradisi menjelang pernikahan yaitu pada saat lamaran, tradisi yang masih sama hingga saat ini yaitu menjelang pernikahan, begitu pula pada saat pelaksanaan tradisi tersebut. Mengenai orang-orang yang terlibat dalam tradisi ini, menurut peneliti tidak ditemukan ada yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, karena biasanya hukum dalam menjalankan tradisi ini sesuai dengan Sunnah. Dalam kaidah tersebut dijelaskan bahwa selama tidak ada dalil yang mengharamkan berkaitan dengan sesuatu, maka boleh dilakukan karena yang melakukan tradisi ini adalah orang-orang yang masih menjadi mahram calon mempelai pria atau mempelai pria. calon pengantin.

Masyarakat melakukan tradisi ini hanya untuk menjaga tradisi Lengguai karena masyarakat sudah paham mana yang baik dan mana yang buruk karena mereka tahu bahwa hal tersebut tidak akan diridhoi oleh siapapun dan Hakim Yang Maha Adil kecuali Allah SWT. Adapun bagi masyarakat yang turut serta dalam pelaksanaan tradisi ini, menurut peneliti tidak ada yang bertentangan dengan “Urf dan syariat Islam, karena biasanya yang memimpin atau melaksanakannya adalah mahram dari kedua mempelai itu sendiri dan calon pengantin. pernikahan itu sunnah.Review dengan 'Urf Pertunjukan Tradisi Lengguai yang digunakan pada saat pacaran calon pengantin pria di Kecamatan Karang Tinggi Kabupaten Bengkulu.

Adapun bagi yang terlibat dalam tradisi ini, menurut peneliti tidak ditemukan sesuatupun yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, karena biasanya yang melaksanakan tradisi ini (penerima lenguai) adalah mahromnya sendiri dan hukumnya dari segi sunnah. melaksanakan tradisi ini, calon mempelai pria. Laki-laki tidak keberatan dengan tradisi ini, dan menurut peneliti hukum, shalat adalah sunnah muaqad.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Tradisi Lamaran Di Karang Tinggi

  • Tata cara lamaran
  • Pelaksanaan Lengguai dalam sistem lamaran di Masyarakat
  • Istimbat Hukum terhadap pelaksanaan tradisi Lengguai

“Dalam menjalankan tradisi ini tidak ada kendala sama sekali kecuali tidak membawa Lengguai karena masyarakat di kabupaten Karang Tinggi sudah paham dan paham kenapa Lengguai menjadi suatu kebutuhan saat melamar seseorang, tentunya juga sebagai langkah untuk melestarikan adat istiadat yang ada. ." Jadi tradisi lengguai bagi calon mempelai pria ini merupakan sebuah kewajiban karena banyak makna yang terkandung di dalamnya yang ditujukan untuk kemaslahatan calon pengantin, alasan mengapa masyarakat masih melakukan tradisi ini adalah karena tradisi ini sudah dilakukan oleh banyak orang. nenek moyang masa lalu atau nenek moyang masa lampau yang didalamnya terdapat nilai-nilai kekeluargaan yaitu kewajiban pihak laki-laki untuk mengajarkan kesucian istri dan anak-anaknya yang artinya laki-laki akan bertanggung jawab sebagai kepala keluarga di kemudian hari, maka hal positif inilah yang juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. mengajak masyarakat untuk terus menjunjung tradisi Lengguai ini. Dari penjelasan di atas, jika kita melihat permasalahan murlah dan tinjauan terhadap 'Urf, maka tradisi Lengguai ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan kekurangannya, tradisi Lengguai ini tetap bisa dilaksanakan atau diperbolehkan hukumnya karena Lengguai ini tidak menghilangkan nilai-nilai keislaman yang ada di dalamnya sama sekali, dan tradisi ini telah banyak mengajarkan kita cara hidup bermasyarakat, oleh karena itu tradisi Lengguai ini termasuk dalam “Urf As-Sahih” Am dan Khas, yaitu mubah.

Adapun bagi orang-orang yang terlibat dalam tradisi ini, tidak ada sesuatu pun yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, baik itu kejahatan dan kerugian yang dilakukan oleh pihak-pihak tersebut. Adapun mengapa masyarakat masih melakukan tradisi ini, berdasarkan hasil observasi dan informasi yang diperoleh dari informan bahwa alasan masyarakat masih melakukan tradisi Lengguai pada calon pengantin pria hingga saat ini adalah karena tradisi tersebut sudah dilakukan secara turun temurun. turun temurun sejak jaman nenek moyang, dan adat istiadat ini sudah menjadi tradisi yang wajar bagi masyarakat kabupaten karang tinggi dan tidak membawa kerugian bagi calon pengantin, dengan adanya tradisi ini. Mereka mengatakan bahwa tradisi ini juga merupakan salah satu bukti kecintaan terhadap nenek moyang atau nenek moyang mereka.

Dengan banyaknya makna yang terkandung dalam unsur keislaman tradisi Lengguai, berarti menurut penulis pelaksanaan tradisi ini tetap melibatkan Allah SWT di dalamnya dan tidak bertentangan dengan substansi ajaran dan pandangan hukum Islam.

PENUTUP

Kesimpulan

Pada tahap persiapan sebaiknya dilakukan persiapan Lengguai yang biasa digunakan untuk acara lamaran. Kandungan dari Lengguai sendiri adalah keju, pinang, gambir, jeruk nipis dan tembakau. Tradisi ini dilakukan pada saat kita ingin meminang wanita yang kita cintai dan kita tidak diperkenankan untuk meminangnya, jika anda tidak mempunyai lengguai ini, hal ini dikarenakan adat tersebut mempunyai hukum tidak tertulis mengenai kewajiban membawa lengguai pada saat ingin meminang. sebuah aplikasi. Tahapan pelaksanaan yang pertama adalah bertemu dengan kepala desa dan tokoh adat serta meminta izin untuk melaksanakan lamaran di rumah calon pengantin. Setelah mendapat izin dari kepala desa dan tokoh adat, akan diadakan seruan bedusun dimana seluruh perangkat desa, tokoh agama, toko adat dan masyarakat berkumpul untuk mendengarkan rasan dan menentukan kapan pernikahan akan dilangsungkan. tradisi ini umumnya dilakukan menurut kedua belah pihak baik pagi, siang, atau malam hari.

Di tengah, pada tahap penyiapan bahan dan peralatan, hukumnya diperbolehkan, pada tahap pelaksanaan banyak poin-poin yang berupa siratuhrahmi dan akhlak, sehingga hukumnya sunnah. Ada hukumnya dalam hukum Islam bahwa Lenguwai tidak termasuk dalam rukun Khitbah, dari sudut pandang ushul fiqh Qowaidfiqiah, adat itu bisa dijadikan landasan hukum sepanjang tidak keluar dari ajaran Islam, ditinjau dari konteks pelaksanaan dan pesan moral yang terkandung dalam Lenguwai itu sendiri, dapat dikatakan bahwa hukumnya boleh jika berlaku atau termasuk dalam “Urf Sahih” Am dan Khas, maka tradisi ini tidak menyimpang dari agama Islam pada saat itu. semua.

Saran

Namun alangkah baiknya jika pemerintah kabupaten Karang Tinggi lebih memperhatikan tradisi ini dengan memberikan informasi tentang adat istiadat dan menyediakan buku-buku yang bercerita tentang tradisi atau adat istiadat. Yang nantinya dapat dijadikan referensi bagi masyarakat untuk mengetahui lebih jauh tentang adat istiadat daerah Karang Tinggi. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, terjemahan: Tolhah Mansoer, Kaidah Hukum Islam, (Bandung, 1985) Abu 'Abdul Rahman Ahmad bin Syu'aib An Nasa'i, Sunan An.

Amsir, Tokoh Adat Desa Renah Lebar, Wawancara, 30 Juli 2021 Asuandi, Tokoh Adat Desa Karang Tinggi, Wawancara, 06. Lutfullah Allah, “Review Hukum Islam Tradisi Nyuang Nganten, Studi Kasus di Desa Gunung Alam Makmur Arga Kabupaten, Kabupaten Bengkulu Utara,” (Skripsi, Iain Fakultas Syariah Bengkulu, Bengkulu, 2016). Orang tua kedua mempelai, Wawancara, 05 Agustus 2021 Pudin, Kepala Adat Desa Taba Mutung, Wawancara, 07 Agustus.

Redy Naldho,”Ulasan Hukum Islam Tradisi Mandi Pantai Puyang Biring Kecik Bagi Pengantin Kajian di Desa Bukit, Kecamatan Semidang Lagan, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Referensi

Dokumen terkait

Tradisi minggiran yang dilakukan di desa Pangkah Wetan untuk orang yang mengambil ikan yang masih dalam jaring pemilik tambak termasuk dalam ‘urf yang fa> sid yang

Tradisi piduduk sendiri akan menjadi al-„urf fasid dikarenakan terdapat bebrapa ritual atau prosesi yang diyakini oleh masyarakat tersebut yang berada di Kelurahan Sidomulyo

Tradisi mubeng gapura dalam pernikahan menurut perspektif „urf di Desa Loram Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus, tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam karena, jika

9 Mardani, Hukum Perkawinan Islam, hlm.. pernikahan, yaitu tradisi dendan. Tradisi ini diselenggarakan apabila yang mempunyai hajat menikahkan anaknya atau yang mau

Alasan masyarakat masih melaksanakan ritual di era modernisasi seperti sekarang ini karena masyarakat masih percaya kepada cerita atau mitos yang beredar tentang

kebiasaan yang berlaku disuatu daerah dan masyarakat tertentu saja.89 Sembeq senggeteng masuk dalam jenis ini dengan alasan bahwa tradisi tidak akan pernah ditemui di daerah lain,

karena diliputi rasa kesialan yang di sebabkan keduanya sangat tidak percaya adanya tradisi repenan dalam walîmah nikah.84 Dengan adanya kasus diatas masyarakat semakin percaya

Masyarakat desa Bandungrejo masih memegang teguh tradisi yang ditinggalkan oleh sesepuh desa Bandungrejo mengenai larangan perkawinan turus blandar yang ada di desa