Vol. 3 No. 1, 2023
Tradisi Songkabala Dalam Pandangan Hukum Islam:
Studi Kasus Di Masyarakat Bone-Bone, Kabupaten Takalar
The Songkabala Tradition in the View of Islamic Law: A Case Study in the Bone-Bone Community, Takalar District
Meliani Sawitri*, Mubarak Dahlan Pendidikan Antropologi, Universitas Negeri Makassar, Makassar, Indonesia
*Penulis Koresponden: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini membahas tentang tradisi songkabala dalam pandangan hukum Islam (studi kasus masyarakat Bone-bone di kabupaten Takalar). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Songkabala yang dipahami oleh masyarakat Bone-bone yaitu sebagai sebuah tradisi dengan tujuan untuk memohon kekuatan dan perlindungan dari Allah SWT. agar terhindar dari bencana dan bahaya. Songkabala masih dipertahankan oleh masyarakat Bone-bone dan berdampak besar pada Kehidupan di desanya. Songkabala di anggap tidak bertentangan dengan hukum Islam, Karena tradisi ini hanya memanjatkan doa-doa untuk meminta keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT.
Sedangkan dari hubungan masyarakat tradisi ini di anggap sebagai tempat untuk memperkuat tali Silahturahmi. Kemudian dari segi makanannya, Islam tidak menganjurkan memasak makanan dan bahan-bahan tertentu. Islam hanya menganjurkan berdoa, tetapi persiapan makanan hanya boleh dimakan bersama sesudahnya berdoa. (Nur et al., n.d.)
Kata Kunci: Tradisi, Songkabala, Pandangan Dalam Islam
ABSTRACT
This research discusses the songkabala tradition in the view of Islamic law (a case study of the Bone-bone community in Takalar district). the research method used in this study is a qualitative research method with a descriptive approach. Songkabala, which is understood by the people of Bone-Bone, is a tradition with the aim of asking for strength and protection from Allah SWT. to avoid disaster and danger. Songkabala is still maintained by the people of Bone-Bone and has a big impact on life in their village. Songkabala is considered not contrary to Islamic law, because this tradition only prays to ask for safety and protection from Allah SWT. Meanwhile, from the community relations, this tradition is considered as a place to strengthen ties of sililahturahmi. Then in terms of food, Islam does not recommend cooking certain foods and ingredients. Islam only encourages praying, but food preparation should only be eaten together after praying.
Keywords: Tradition, Songkabala, view of Islamic law
1. PENDAHULUAN
Setiap Orang pasti memiliki keyakinan tertentu dalam hidupnya baik itu berupa peninggalan leluhur seperti benda, kepercayaan, surat, dan doa. Keyakinan masyarakat terhadap warisan leluhurnya pasti memiliki warisan yang begitu spesifik dan melekat bagi masyarakatnya bahkan dianggap keramat bila diganggu. Juga kepercayaan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun meskipun terjadi perubahan arus (Nur et al., n.d.).
Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia sanggatlah penting sehingga memungkinkan kita mengonstruksi konsep-konsep hukum yang berkembang sesuai dengan adat dan perilaku masyarakat. Selain itu masyarakat secara alami mempunyai kepercayaan dan agama yang mereka yakini, agama menjadi identitas dan jati diri masyarakat itu. Ada beberapa kelompok Sulawesi sudah membentuk atau mempraktikkan beberapa tradisi dan adat istiadat, sebelum Islam diterima di Sulawesi Selatan. Setelah Islam didirikan dan berkembang, tradisi dan warisan ini sering berubah ketika Islam masuk ke Nusantara, dan penyesuaian serta renovasi dilakukan untuk menyeimbangkan budaya lokal dan budaya Islam (Nur et al., n.d.).
Artinya, adat tersebut itu sudah ada sejak lama dan masih lestari sampai sekarang. kebiasaan yaitu sesuatu yang sudah ada dan terbentuk sejak lama dan masih ada sampai sekarang dan menjadi bagian penting dalam suatu kelompok masyarakat (Nur et al., n.d.).
Tradisi sendiri berasal dari kata “tradisional” yang berarti warisan dari masa lalu atau lampau. Tradisi ini dapat berupa penemuan, karya seni, atau buatan manusia, atau cerita, legenda, mitos, baik materi pelajarannya berupa materi, kepercayaan. Banyak tradisi yang masih ada di masyarakat sehingga menimbulkan ikatan dan jalinan yang harus didukung oleh masyarakat untuk menciptakan suasana yang harmonis di lingkungan masyarakat. Tradisi ini selalu dipantau secara tidak langsung. Nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, adanya tradisi dalam masyarakat, harus selalu dijadikan pedoman landasan dalam berpikir dan bertindak, dan membentuk sikap tradisional. Dengan kata lain, tradisional adalah tindakan pemecahan masalah berdasarkan suatu tradisi (Hadi Cahyono, 2017).
Tradisi sosial tidak lagi memudar bagi sebagian masyarakat Indonesia, terlebih khususnya di beberapa wilayah Indonesia. Kebiasaan atau adat istiadat biasanya dipraktikkan dalam jangka waktu yang lama, dan tindakan yang diturunkan dari generasi ke generasi disebut warisan. Karena apa yang orang sebut sebagai suatu warisan leluhur kuat dalam keutuhan pola perilaku masyarakat. Tradisi adalah sesuatu yang diketahui, pengetahuan atau ajaran yang diwariskan dari waktu ke waktu. Pengetahuan ini mengandung prinsip-prinsip umum yang digambarkan sebagai fakta dan keadaan yang sebenarnya saling terkait, sehingga semua fakta dan kebenaran bawahan ditawarkan (diterapkan) sebagai prinsip umum (Nur et al., n.d.).
Dalam kabupaten Takalar terlebih pada masyarakat didesa Bone-bone percaya akan sebuah tradisi yaitu tradisi songkabala. Yang dimana tradisi songkabala ini masih dilakukan dan dipertahankan sampai sekarang.
Masyarakat Bone-bone percaya bahwa tradisi songkabala berarti tradisi untuk menolak bencana dan malapetaka. Dengan kata lain, mencari keselamatan pada Allah SWT, di mana doa-doa dilakukan secara kolektif oleh mereka yang mengikuti tradisi ini. Itu dipimpin oleh orang yang religius atau pendeta desa.
Dalam ajaran Islam, doa adalah salah satu bentuk ibadah, dan ibadah merupakan ungkapan lahirnya kesadaran meminta pertolongan dan ampunan dari Tuhan (Nur et al., n.d.).
Tradisi Songkabala adalah tradisi daerah yang muncul dari hasil kegiatan atau aktivitas masyarakat yang telah ada berabad-abad yang lalu dan sejak itu berpindah-pindah dari gua ke gua, atau yang dikenal zaman paleolitikum. Tradisi ini ada sebagai kepercayaan, dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakat, dan dipandang sebagai pertahanan terhadap segala bencana atau bala. Desa Bone-bone adalah desa yang terletak pada kecamatan Pattallasang kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Dimana pelaksanaan tradisi songkabala pada masyarakat Bone-bone ini dilakukan atau dilaksanakan setiap 2 kali setahun. Para masyarakat mengakui bahwa dalam prosesi tersebut mereka sudah meyakini dan mengikuti syariat Islam, namun melihat prosesi tersebut, ada yang membentuk opini baru tentang tradisi songkabala ini (Nur et al., n.d.).
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Tradisi
Secara epistemologi, istilah tradisi berasal dari bahasa latin (tradition) yang berarti kebiasaan serupa dengan adat istiadat atau budaya (culture).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tradisi adalah suatu kebiasaan yang diwariskan secara turun- temurun oleh nenek moyang dan terus dipertahankan oleh masyarakat yang meyakini dan menilai bahwa cara-cara yang ada adalah yang paling benar dan terbaik (Rofiq, 2019)
WJS Poerwadaminto mendefinisikan tradisi sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup suatu masyarakat, misalnya adat istiadat, budaya, dan keyakinan mereka.
Sedangkan menurut Van Reusen menyatakan bahwa tradisi adalah suatu warisan atau norma adat istiadat, harta-harta dan kaidah-kaidah (Rofiq, 2019).
2.1. Tinjauan tradisi Songkabala
Tradisi songkabala merupakan suatu tradisi atau ritual yang dilakukan untuk mencegah suatu bencana terjadi pada wilayah masyarakat tertentu. Tradisi ini sudah menjadi ritual yang diwariskan turun temurun dan tidak dapat ditinggalkan, karena tradisi ini berkaitan erat dengan makhluk gaib dan masyarakat percaya bahwa dengan melakukan ritual ini maka akan terhindar dari semacam bencana seperti banjir, tsunami, penyakit dll (Gowa, 2021)
Tradisi songkabala yang dimulai pada tahun 2000 juga mulai terlihat momentumnya, karena pada tahun itu tradisi ini mengalami pasang surut, diawali dengan proses songkabala dan tata cara melaksanakan tradisi songkabala ini. Tradisi songkabala ini masih kuat hingga saat ini yang katanya tradisi ini tetap mengikuti ajaran orang-orang yang tetap mempercayai nenek moyangnya atau para leluhurnya.
Meskipun kita tahu bahwa islam pada abad ke 21 sudah ada tetapi masih ada yang meyakini dan mempercayai tradisi songkabala yang mengikuti ajaran tradisional “ma’baca-baca” yang merupakan ajaran masa lalu (Gowa, 2021).
3. METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik penelusuran perpustakaan, artikel ilmiah, jurnal, dan sumber buku. Mardalis,1998 menjelaskan bahwa penelitian kepustakaan adalah suatu penelitian yang mengumpulkan data dan informasi dengan menggunakan berbagai bahan pustaka seperti dokumen, cerita sejarah, jurnal dan lai-lain (Sari, 2020).
3.2. Desain Penelitian
Metode penelitian kualitatif deskriptif, bisa membantu peneliti menemukan dan mengeksplorasi bagaimana tradisi songkabala dalam pandangan hukum islam di masyarakat Bone-bone kabupaten Takalar.
3.3. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat yang digunakan untuk mengumpulkan dan mengukur data dari suatu variabel penelitian. Untuk mendapatkan informasi yang tepat dan menarik dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, maka diperlukan instrumen yang konsisten dan valid serta akurat dalam menghasilkan data penelitian (reliable) (Syamsuryadin &
Wahyuniati, 2017).
Dimana dalam penelitian kualitatif, peneliti sebagai alat penelitian yang utama. Karena peneliti sendiri yang akan mengumpulkan data, menganalisis data dan mengumpulkan temuannya (Syamsuryadin &
Wahyuniati, 2017)
Ciri khasnya yaitu menyajikan informasi dalam bentuk kata-kata, maupun gambar, tetapi tidak mengharuskan (menekankan) pada angka;
mengutamakan proses daripada produk, melakukan analisis data induksi, serta lebih menegaskan pada makna atau arti di balik informasi yang sedang di teliti(Hadi, 2016).
3.4. Analisis Data
Teknik analisis data adalah langkah selanjutnya untuk mengelola data yang telah diperoleh, disajikan, dikerjakan kemudian dimanfaatkan agar menjadi sebuah informasi.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Agama memegang peranan yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat.
Kepatuhan kepada agama membuat seseorang mengembangkan jalinan dengan tuhan, alam, manusia tumbuhan dan hewan. Agama dan juga tradisi mempunyai jalinan yang erat di Indonesia, terutama di daerah-daerah pedesaan. Agama sebagai tradisi pada umumnya diikuti tanpa adanya pertanyaan.
Agama terus meluas dan berkembang sehingga menjadi model yang diterima secara luas sebagai suatu kebenaran. Agama sebagai tradisi telah menjadi jati diri yang mengakar di dalam kehidupan manusia.
Pemikiran positivisme, tradisi keagamaan adalah inti dari suatu budaya dan superstruktur, penuh dengan adanya keyakinan, pengetahuan, norma dan nilai yang bertindak sebagai pedoman sosial. Tradisi dengan nuansa religi mempunyai fungsi melestarikan susunan sosial pada masyarakat ini(Rahman & Suhaeb, 2022).
Tradisi songkabala ini merupakan kegiatan dan ritual keagamaan masuk akal yang dilakukan untuk meminta keselamatan dan perlindungan Allah SWT, agar terhindar dari bala, atau bencana. Tradisi songkabala ini dilakukan seseorang secara berulang- ulang, namun apa yang kerjakan dan dilakukan ini tetap sama dari generasi ke generasi, seolah-olah sudah menjadi kebiasaan, seperti kebiasaan sehari- hari. Kegiatan yang rutin dan sering diulang dibuat tradisi, pasti ada keinginan dan kemauan untuk melakukannya(Nur et al., n.d.).
Di Indonesia masih banyak tradisi yang belum diketahui masyarakat, salah satunya songkabala (menolak bala atau bencana). Penolakan ini juga beragam sesuai kemampuan masyarakat di setiap daerah melakukannya, dan songkabala di desa Bone- bone ini akan menjadi topik penelitian ini(Nur et al., n.d.).
Masyarakat Bone-bone kabupaten Takalar memahami kata songkabala itu dalam bahasa Makassar mempunyai makna atau dalam bahasa Indonesia berarti penolakan bala atau bencana atau bisa diartikan berlindung kepada Tuhan yang Maha Esa(Lokal, 2014).
4.2. Pelaksanaan Tradisi Songkabala
Kebudayaan merupakan suatu peristiwa umum.
Ritual songkabala adalah suatu upacara ysng penting
oleh masyarakat. Dalam bahasa Melayu, songkabala mempunyai arti yaitu songka dan bala yang berarti penolakan akan bala, malapetaka atau musibah. Dari arti tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tradisi songkabala adalah sebuah tradisi yang dilakukan untuk menghindari bencana. Seperti peristiwa atau kejadian buruk, nasib yang kurang baik, sial dan semua hal yang akan mendatangkan malapetaka(Danilo Gomes de Arruda, 2021)
Ritual songkabala biasanya dilakukan pada malam Jumat dimulai sekitar jam 22.00. Dalam proses ritual ini pelaksana harus menyiapkan sesajenan atau bahan makanannya, yang harus dipersiapkan yaitu:
Ka’do massingkulu’, adalah jenis kue yang terbungkus daun pisang dan berbentuk persegi dan dimakan bersama kelapa parut yang telah digoreng. Jadi tujuan dari makanan ka’do massingkulu’ adalah untuk menangkal dan mencegah berbagai bencana yang akan terjadi.
Umba-umba, adala jenis makanan yang sering dijumpai pada ritual-ritual dan menjadi sajian khas Makassar. Umba-umba juga dikenal dengan sebutan onde-onde. Tujuan dari sajia ini yaitu sebagai tanda kebahagiaan tanpa adanya gangguan yang bisa membuat masyarakat setempat menjadi sengsara.
1) Lappa-lappa, adalah jenis makanan khas Makassar.
Lappa-lappa sendiri mempunyai arti yaitu lipat atau melipat. Tujuan dari sajian ini yaitu untuk melipat segala macam bencana yang akan terjadi serta untuk mencegah bencana yang akan terjadi agar masyarakat bisa dijauhkan dari segala macam bencana.
2) Unti te’ne (pisang manis), adalah sajian yang dipercayai mampu membawa keistimewaan bagi masyarakat setempat.
3) Dupa, merupakan sajian yang penting dan harus ada pada tradisi songkabala, yang tujuannya adalah untuk memberikan aroma wangi dalam proses pelaksanaan. Dupa ini dilakukan dengan cara menyebarkan atau menaburkan dupa pada bara api yang diletakkan pada paddupa.
4) Lilin, adalah bahan yang penting dan harus ada pada proses pelaksanaan tradisi songkabala. Lilin sendiri mempunyai arti yaitu memberikan
penerangan (cahaya). Lilin juga mempunyai arti lain yaitu pengorbanan.
5) Air segelas, adalah sajian yang harus ada dan menjadi syarat utama dalam pelaksanaan tradisi songkabala ini. Air mempunyai makna tenang dan selalu mengalir ke dataran rendah, hal ini memberikan kita pelajaran untuk terus rendah hati (Danilo Gomes de Arruda, 2021).
Setelah bahan atau sesajenan ini telah lengkap maka akan di bawa ke rumah warga yang akan melakukan ritual songkabala. Dimana dalam proses pelaksanaan tradisi songkabala ini, harus ada orang yang memimpin yaitu pemuka adat atau tokoh-tokoh penting dalam tradisi songkabala tersebut. Semua sesajenan yang ada disusun dengan rapi diatas kappara’ didekat dupa. Maka orang yang akan memimpin tradisi songkabala ini bersiap untuk membacakan doa. Sesudah proses pembacaan doa maka sesajenan yang ada dalam kappara’ itu dibawah ke rumah dan kemudian di percikkan (dihamburkan) air tersebut. Kemudian setelah semua tahapan prosesi dilakukan, maka para hadirin menyantap (memakan) sesajenan yang telah dipersiapkan bersama-sama.
Persembahan tang telah disiapkan sebenarnya bukanlah “persembahan” kepada Allah SWT. atau penjaga-penjaga tertentu, melainkan untuk dimakan bersama dan doa yang telah dilakukan merupakan suatu bentuk permohonan dan meminta lindungan kepada Allah SWT (Nur et al., n.d.).
4.3. Pandangan Hukum Islam Terhadap Tradisi Songkabala
Islam merupakan agama dengan kaidah serta petunjuk yang membawa sesuatu yang baik seperti nilai-nilai luhur tinggi dan mulia dan mengatur perilaku manusia terhadap sesama makhluk hidup atau hubungan antara manusia dengan pencipta. Agama diartikan sebagai sesuatu yang universal, yang pokok utamanya adalah tauhid, yang tidak terpengaruh oleh tempat dan waktu, dan oleh keadaan. Dalam kehidupan, orang-orang terikat oleh yang namanya norma dan aturan maupun agama, yaitu ajaran Islam, serta aturan yang ditetapkan negara dan adat. Jika dilihat dari kebutuhannya , derajat atau status orang adalah sama, maksudnya tidak ada perbedaan dalam menunaikan kewajibannya. Manusia dalam melakukan segala aktivitasnya pasti mempunyai pola- pola interaksi yang nantinya bisa mengikut sertakan manusia lain dalam proses komunikasinya untuk
memberikan atau menyampaikan informasi dan akan membuat kebudayaan. Dan Islam sebagai agama yang terbanyak (mayoritas) di Sulawesi Selatan bisa menjawab persoalan-persoalan manusia yang berkaitan dengan budaya, tradisi, dan adat istiadat, dan aspek-aspek lainnya. Dalam menciptakan atau membuat kebudayaan itu harus sesuai dengan norma- norma yang ada dalam suatu masyarakat, contohnya tradisi. Dimana contohnya tradisi songkabala, adalah tradisi yang masih ada dan dipertahankan oleh masyarakat Bone-bone kabupaten Takalar. Hal ini karena tradisi tersebut mempunyai nilai dan makna bagi masyarakat setempat (Nur et al., n.d.)
Kedatangan Islam di Nusantara tidak hanya untuk menghilangkan atau mengubah kebiasaan orang yang sudah berakar. Tetapi Islam datang masuk dengan cara damai karena ajaran atau nasihatnya dapat menyentuh fundamental kehidupan orang. Islam itu menghargai dan bisa dengan mudah beradaptasi dengan kondisi sosial yang berbeda. Islam sendiri memiliki cara atau metode agar masyarakat bisa menerimanya secara terbuka dengan cara perdamaian(Nur et al., n.d.)
Hukum Islam merupakan hukum yang bersumber dari ajaran agama Islam, yaitu suatu hukum yang diutus Allah SWT. untuk kepentingan para hambanya di dunia maupun di akhirat, dilihat dari hasil pemikiran hukum fiqih, pendapat ulama, yurisprudensi, perundang-undangan dan sosiologi hukum, yang dimana sumber hukumnya ini bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Hukum Islam dengan merupakan seperangkat aturan yang mengatur prinsip-prinsip doktrin dan hukum, berusaha untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, manusia satu sama lain, serta hubungan antara manusia dengan alamnya(Nur et al., n.d.).
Islam dalam mengambil sikap terhadap budaya dan tradisi tidak langsung menganggap bahwa tradisi atau budaya tidak baik dan boleh dilakukan. Melainkan islam mengambil sikap yang bijak, benar dan penyaringan (selektif). Islam akan menganggap budaya atau tradisi tersebut jika budaya atau tradisi ini tidak melanggar atau bertentangan dengan ajaran agama. Sebaliknya jika budaya atau tradisi ini bertentangan maka Islam akan membereskannya atau menyelesaikan dengan berbagai solusi seperti meniadakan budaya atau tradisi tersebut atau meminimalkan tingkat interpretasi dan budaya.
Karena perbuatan yang baik dan itikad yang baik merupakan nikmat yang begitu besar yang diberikan Allah SWT. untuk hamba-hamba-Nya(Nur et al., n.d.).
Dilihat dari teori dan penjelasan diatas, pandangan Islam terhadap tradisi songkabala yaitu:
1) Pandangan hukum islam di lihat dari segi prosesi pelaksanaan seperti berdoa, meminta keamanan dan perlindungan dari Allah SWT. Ini tidak bertentangan dengan hukum Islam, tertapi doa yang di panjatkan harus jelas di tujukan untuk siapa. Seperti yang di jelasakan pada Qs.Al-Kahfi (18) ayat 27 yang artinya: “Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.”
2) Pandangan hukum Islam dilihat dari hubungan masyarakat terhadap tradisi songkabala. Ajaran islam tidak melarang, melainkan menyuruh kita untuk terus menjalin dan berhubungan baik kepada sesama manusia. Seperti yang dijelaskan dalam Qs.An-Nisa (4) ayat, yang artinya berbunyi :
“Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan istrinya (Hawa); dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang begitu banyak.”
3) Pandangan hukum islam dlihat dari segi makanan atau sesajenan yang disiapkan dalam proses tradisi songkabala. Sebenarnya di dalam Islam kita di anjurkan menyiapkan atau membuatkan makanan tetapi islam hanya menyuruh (menganjurkan) kita untuk mengirim doa-doa untuk meminta petunjuk dan perlindungan-Nya. Seperti yang dijelaskan dalam Qs.Al-Hijr (15) ayat 98, yang artinya berbunyi: “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (shalat).” Dan ayat lainnya juga di jelaskan dalam Qs-Al-Nahl ayat 114, yang artinya berbunyi:
“Maka makanlah yang halal lagi baik dan rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”(Lokal, 2014)
5. KESIMPULAN
Songkabala adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Bone-bone dengan tujuan meminta perlindungan, keamanan dari Allah SWT. agar terhindar dari bala, bencana, penyakit, atau musibah.
Tradisi songkabala juga dilakukan rutin setiap dua kali setahun dan dilaksanakan di rumah warga dengan melakukan dan menyiapkan beberapa makanan atau sesajenan.
Songkabala saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat Bone-bone karena mempunyai pengaruh besar bagi kampung atau tempat tinggalnya. Tradisi songkabala juga ini tidak bertentangan dengan hukum Islam karena hanya memanjatkan doa-doa untuk meminta lindungan dari Allah SWT, tradisi ini juga mempererat tali persaudaraan (silahturahmi).
DAFTAR PUSTAKA
Nur, Z, Abdul Halim Tallu, Ibun Izzah. (2022). Tradisi Songkabala Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Di Masyarakat Batulabbu Kabupaten Bantaeng). qadauna: jurnal ilmiah mahasiswa hukum keluarga Islam, 3 (2), 343-451.
Gowa, K. (2021). Perubahan Nilai dan Tata Cara Pelaksanaan Tradisi Songkabala. 19(2), 37–50.
Hadi Cahyono, A. J. M. D. (2017). Harmoni Masyarakat Tradisi Dalam Kerangka Multikuluralisme.
Asketik, 1(1), 27–34.
https://doi.org/10.30762/ask.v1i1.408
Hadi, S. (2016). Pemeriksaan Keabsahan Data Penelitian Kualitatif Pada Skripsi [Examination of the Validity of Qualitative Research Data on Thesis]. Ilmu Pendidikan, 22(1), 21–22.
Lokal, B. (2014). Rismawati Tradisi, Songkabala, Sanrobone, Budaya Lokal. II(1), 114–131.
Irman. (2021). Songkabala: Tradisi Menolak Bencana Masyarakat Islam Desa Minasa Upa Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Action Research Literate, 5 (2), 85-101.
Rahman, A., & Suhaeb, F. W. (2022). Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya Mappanre temme: Meaning Construction of Khatam Al-Qur’an Tradition in Buginese Community of South Sulawesi. 7249.
https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/Religiou s/
Rofiq, A. (2019). Tradisi Slametan Jawa dalam Perspektif Pendidikan Islam. Attaqwa Jurnal
Ilmu Pendidikan Islam, 15(2 September), 93–107.
https://doi.org/10.5281/zenodo.3383133
Sari, M. (2020). NATURAL SCIENCE : Jurnal Penelitian Bidang IPA dan Pendidikan IPA , ISSN : 2715-470X ( Online ), 2477 – 6181 ( Cetak ) Penelitian Kepustakaan ( Library Research ) dalam Penelitian Pendidikan IPA. Natural Science [Diakses 11 Juli 2022], 6(1), 41–53.
Syamsuryadin, S., & Wahyuniati, C. F. S. (2017).
Tingkat Pengetahuan Pelatih Bola Voli Tentang Program Latihan Mental Di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Jorpres (Jurnal Olahraga Prestasi),
13(1), 53–59.
https://doi.org/10.21831/jorpres.v13i1.12884