Fokus penelitian ini adalah kisah Hayy bin Yaqdzon karya Ibnu Tufail yang memberikan wawasan tentang perbedaan manusia dan hewan yang hakikatnya terletak pada kemampuan berpikir. Manusia tergolong makhluk yang sangat dinamis dalam pelaksanaan kehidupannya dibandingkan dengan hewan yang cenderung statis, sehingga manusia dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna. Oleh karena itu, manusia sebenarnya adalah makhluk yang berada dalam keadaan ketiadaan dan selalu berusaha untuk memenuhinya meskipun tidak akan pernah berakhir, sehingga manusia menghadapi ketegangan antara identitasnya dengan identitas lain sebagai objek yang diinginkannya.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan psikoanalisis yang dikemukakan oleh Jacques Lacan, yang diawali dengan mengklasifikasikan pertumbuhan manusia ke dalam fase pra-oedipal dan oedipal, kemudian dielaborasi melalui konsep stadu de miroir yaitu fase nyata, fase gambaran. , dan simbolik, yaitu perkembangan manusia yang dimulai sebelum mengenal bahasa, berada dalam dunia fantasi dan mulai mengenal bahasa, namun belum terorganisir, mengenal bahasa dan mengungkapkannya dengan baik. Hasil dari penelitian ini adalah kisah Hayy bin Yaqdzon merupakan wujud pemikiran filosofis Ibnu Tufail yang diceritakan dalam bentuk sastra dengan menyajikan perjalanan manusia dari awal kelahirannya hingga menemukan jati dirinya. Dalam upaya mencapai telos sebagai derajat tertinggi, tokoh-tokoh dalam cerita ini mengalami transgresi eksistensial antara eksistensi diri yang material dan immaterial, karena telos sebagai puncak finalitas hidup melampaui keduanya.
Konsonan Rangkap karena Syaddah ditulis rangkap Konsonan rangkap, termasuk tanda syaddah, ditulis rangkap
Ta’ Marbutah
Vokal Pendek
Vokal Panjang
Vokal Rangkap
Vokal-Vokal Pendek yang Berurutan dalam satu kata Dipisahkan dengan apostrof ( ′ )
Kata Sandang Alif + Lam
Huruf Besar
Kata dalam Rangkaian Frasa atau Kalimat 1. Ditulis kata per kata, atau
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kekuatan dan bimbingan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini. Proses penyusunan skripsi untuk memperoleh gelar Magister Agama dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta memerlukan banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua penulis yang selalu mendoakan anaknya yang gemar merantau, dan kepada keempat kakak beradik yang selalu hadir dalam doa penuh kasih sayang.
Alim Roswantoro, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta beserta seluruh jajarannya, dan Dr. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Bung Giyan yang selalu menginspirasi para penulis untuk terus berkarya dan berkarya, serta Fitriliya Anjarsari yang selalu memberikan masukan kepada para penulis. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada Yogyakarta yang selalu bersedia menyediakan waktu dan tempat selama penulis menempuh studi S2 Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
PENDAHULUAN PENDAHULUAN
Latar Belakang
Di satu sisi, masyarakat mempunyai kebebasan untuk mengekspresikan keinginannya, namun di sisi lain, mereka juga bergantung pada orang lain; Upaya pemenuhan keinginan di atas dapat ditemukan pada Hayy bin Yaqdzon dalam novel Hayy bin Yaqdzon karya Ibnu Tufail.3 Dalam novel ini, Hayy bin Yaqdzon merupakan representasi diri manusia yang selalu mengalami kekurangan. Hayy sadar dengan mengamati rusa dan hewan lain di sekitarnya, namun Hayy selalu merasa tidak puas dengan dirinya sendiri.
Sedangkan dari segi fisik, Hayy merasa tidak puas dengan tubuhnya karena kulitnya tidak dilindungi bulu seperti tubuh rusa yang kulitnya ditumbuhi bulu yang lebat. Salah satu karyanya yang selamat dari gejolak perang saat itu adalah kitab Hayy bin Jaqdzon yang menjadi inti segala pemikirannya. Namun Hayy kurang senang dengan daun tersebut, karena selain mudah rusak juga tidak menyerupai rusa.
Secara tidak langsung hal di atas menunjukkan bahwa Hayy ditentukan oleh orang lain dan ia terus berusaha mewujudkannya dengan caranya sendiri, meski tidak pernah tuntas karena keinginan lain akan selalu muncul. Namun meski keduanya sudah mencapai taraf yang sama, ketidakpuasan tetap saja muncul sehingga ingin menularkannya kepada orang lain. Dengan kata lain, begitu mereka berdua menemukan identitas mereka sendiri, mereka tidak akan puas kecuali mereka mendefinisikan yang lain.
Berdasarkan penelusuran jati diri Hayy bin Yaqdzon di atas, nampaknya ia mempunyai ketidakpuasan terhadap dirinya yang awalnya hanya berkaitan dengan fisik saja, seperti keinginannya meniru rusa, hingga keinginan tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berhubungan dengan non fisik atau non-fisik. -fisik. materi, seperti keinginannya untuk mengetahui lebih jauh tentang ruh yang ada di balik semua makhluk hidup, yang kemudian dapat memindahkannya ke tingkat tertinggi. Di satu sisi manusia tidak didefinisikan oleh orang lain secara keseluruhan, di sisi lain mereka juga tidak bisa melepaskan diri dari definisi lain. Oleh karena itu, manusia terus-menerus terjebak dalam pencarian dirinya sendiri sehingga menimbulkan ketegangan dimana identitas manusia bergantung pada orang lain.
Dari berbagai fase tersebut, Lacan mempertemukan dirinya dengan konsep: kebutuhan, tuntutan dan keinginan 6 Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut pembentukan diri Hay bin Yaqdzon sebagai pribadi eksistensial dalam novel Hayy bin Yaqdzon karya Ibnu. .
Rumusan Masalah
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Kajian Pustaka
Dalam penelitiannya, Mas'udi lebih fokus pada upaya kesadaran manusia yang dapat dibangkitkan meskipun sejak kecil ia hidup di lingkungan binatang. Barangsiapa mampu memanfaatkannya secara maksimal, maka ia dapat mengungkap dinamika kehidupan yang terjadi disekitarnya hingga ia mencapai kesadaran bahwa keberadaan manusia tidak lepas dari pencipta pertamanya yaitu Allah. Mas'udi sebagai penulis justru ingin menunjukkan bahwa Ibnu Tufail melalui kisah Hayy bin Yadzon sebenarnya ingin menyadarkan semua kalangan khususnya umat Islam akan potensi akalnya untuk mencapai eksistensi dirinya sebagai wujud (eksistensi) dirinya. Tuhan.
Menurut Hadi, dengan bereksperimen dengan pemikiran ini, Ibnu Tufail berjaya mengemukakan teori ilmu baharu yang dinamakan falsafah makrifat. Melalui konsep tasyabbuhat (meniru tingkah laku alam), Ibnu Tufail memperoleh makrifat dari cahaya segala nur, yang akhirnya dia dapat musjahad zat Tuhan yang merupakan puncak kebahagiaan yang dapat dicapai oleh manusia. Idea utama dalam penulisan ini ialah jalan kebenaran boleh ditempuh dengan pelbagai cara, di mana setiap manusia mempunyai cara tersendiri untuk menerima petunjuk daripada Pencipta, sehinggalah dia menjadi insan terpilih, yang darjatnya naik ke puncak tertinggi.
Dari beberapa uraian di atas nampaknya sangat berbeda dengan penelitian yang akan dilakukan pada artikel kali ini, bahkan penulis menjadikan materi-materi yang telah diuraikan di atas sebagai bagian dari unsur dalam proses penelitian yang lebih mendalam mengenai cerita tersebut. karya Hayy bin Yaqdzon yang tidak hanya mengungkap keselarasan antara filsafat dan agama yang dituangkan dalam karya Ibnu Tufail, namun juga mencoba mengungkap adanya dialektika hasrat anak manusia dalam kehidupannya. Keinginan di sini merupakan salah satu bentuk penggerak dalam pembentukan atau pencarian jati diri manusia, yang tidak pernah berhenti hingga menemukan titik akhirnya yaitu sebagai jati diri. Pencarian jati diri di sini merupakan bagian dari kesadaran bahwa manusia mempunyai kapasitas akal dan intuisi untuk mengikutinya, namun dalam perjalanannya anak manusia tidak bisa lepas dari tahap pra-Oedipal dan Oedipal hingga ia mampu memahami keberadaan. al-gagal sebagai puncak perjalanan hidupnya.
Kerangka Teori
9 Hasrat terbagi menjadi dua bentuk yaitu narsisme: pasif, misalnya seseorang ingin menjadi kekasih orang lain, dan aktif, misalnya seseorang ingin menjadi seperti orang lain. Sedangkan analitis: pasif, misalnya seseorang ingin dimiliki orang lain, dan aktif, misalnya seseorang ingin memiliki orang lain. Fase nyata merupakan suatu tatanan yang berada di luar bahasa karena tidak dapat diungkapkan melalui penanda, sehingga yang ada hanyalah kepenuhan atau kesempurnaan.
Fase sebenarnya dapat diposisikan sebagai titik tolak dan tujuan dalam terwujudnya keseluruhan. Oleh karena itu, tahapan nyata ini merupakan tatanan yang terjadi sebelum proses simbolisasi; tahap inipun menolak yang simbolis karena tidak terbatas dan tidak terbayangkan,11 sehingga selalu merangsang munculnya hasrat. Dalam hal ini Lacan mengungkapkan bahwa fase nyata mendukung fantasi, dan fantasi melindungi kenyataan.
Fase nyata banyak bekerja pada keadaan pertama orang-orang yang masih belum tersentuh oleh dunia luar atau orang lain. Konsep permintaan berkaitan dengan tahap imajinal, yaitu tahap dimana bayi manusia berusaha untuk dapat mewujudkan kebutuhannya melalui permintaan, sehingga. Pada tahap terakhir, anak tidak hanya memahami bahwa bayangan di cermin hanyalah bayangan belaka, melainkan bayangan dirinya sendiri dan berbeda dengan bayangan orang lain.
Lebih jauh lagi, ketika bayi semakin mampu membedakan dan memproyeksikan gagasan tentang Yang Lain, mereka mulai memasuki tahap simbolik. Simbolisme adalah adanya “aku” dalam struktur bahasa, yaitu keadaan dimana saya mengekspresikan diri melalui bahasa. Melalui tahap simbolik ini, anak manusia mulai mencoba mengungkapkan kebutuhannya dengan menggunakan bahasa.
Dalam fase simbolik inilah tersembunyi keinginan untuk memiliki identitas, yang mengantarkan seseorang meyakini dirinya sebagai objek. Oleh karena itu, setiap identitas mensyaratkan, atau setidaknya, bahwa identitas seseorang bergantung pada pengakuan orang lain.23 Subjektivitas manusia dengan demikian sepenuhnya bersifat relasional, yaitu subjektivitas hanya muncul melalui prinsip diferensiasi, melalui pertentangan terhadap orang lain: Saya dan Anda . . Sekalipun seseorang memandang orang lain seperti cermin untuk memahami citra dirinya, ia tidak akan pernah bisa melihat citra dirinya yang sebenarnya.
Metode Penelitian
- Metode Pengumpulan Data
- Metode Analisis Data
Dari hasil pengumpulan data, kemudian dilakukan analisis terhadap data tersebut berdasarkan konsep teori yang digunakan. Dalam penelitian ini akan diuraikan terlebih dahulu mengenai korelasi karya sastra dan filsafat dalam kisah Hayy bin Yaqdzon karya Ibnu Tufail. Selanjutnya mengenai proses perkembangan manusia dalam kisah Hayy bin Yaqdzon akan dijelaskan melalui konsep teori Psikoanalitik Lacan, hingga mencapai derajat kehidupan yang tinggi sebagai wujud eksistensi manusia yang otentik.
Sistematika Penyajian Penelitian
Selain itu, terdapat juga kritikan daripada penulis terhadap pemikiran Ibnu Tufail yang digambarkan dalam karya tersebut.
PENUTUP PENUTUP
Kesimpulan
Namun pencapaian pada derajat tertinggi ini tidak akan pernah tuntas, oleh karena itu setiap perjalanan manusia dalam memeluk telos selalu ada proses – keterbatasan hidup selalu mengalami pelanggaran.
Saran