• Tidak ada hasil yang ditemukan

Translate 2

N/A
N/A
Reny Tiarantika

Academic year: 2023

Membagikan "Translate 2"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEBERLANJUTAN PERTANIAN PERKOTAAN, DI JAKARTA PUSAT, INDONESIA

Jurnal: Jurnal Ilmu dan Manajemen Keberlanjutan ID Naskah JSUSM-2022-0228

Jenis Naskah: Artikel Asli Kata

kunci:

Berkelanjutan, penskalaan multidimensi, pertanian perkotaan

(2)

ANALISIS KEBERLANJUTAN PERTANIAN PERKOTAAN, DI JAKARTA PUSAT, INDONESIA

Abstrak: Lahan sempit di perkotaan merupakan salah satu masalah utama dari unsustainable urban pertanian, selain pertambahan penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberlanjutan pengembangan urban farming di Petamburan, Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif 1) tahap persiapan penelitian (2) tahap pengumpulan (3) tahap analisis data untuk melihat keberlanjutan pertanian perkotaan dengan menggunakan Pendekatan Multi Dimension Scaling (MDS). Hasil studi menunjukkan bahwa pertanian perkotaan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta terkenal dan sangat didukung oleh warga Desa Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat; perkotaan warga umumnya sudah memiliki pengetahuan dan wawasan tentang urban farming. Bentuk dari dukungan masyarakat untuk kegiatan pertanian perkotaan menggunakan pekarangan mereka untuk menanam sayuran, rempah-rempah, dan tanaman buah musiman lainnya. Indeks keberlanjutan pertanian perkotaan di Desa Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat sangat rendah, termasuk kategori destruktif dan tidak berkelanjutan berdasarkan hasil multidimensi analisis baik dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi sehingga diperlukan pembenahan melalui penyuluhan dan motivasi bagi pelaku pertanian perkotaan.

Kata kunci: Berkelanjutan; penskalaan multidimensi; pertanian perkotaan; Kabupaten Tanah Abang PENGANTAR

Daerah Khusus Ibukota Jakarta juga merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang Pemerintah gencar mengembangkan usaha urban farming. Hal ini terlihat dari masuknya urban farming dalam rencana tata ruang Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan penerbitan desain besar pertanian perkotaan untuk Provinsi Ibukota Khusus Wilayah Jakarta Tahun 2018-2030 oleh Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Pemprov DKI Jakarta, 2017). Di Indonesia, kegiatan urban farming merupakan bentuk revitalisasi sektor pertanian untuk mendukung pembangunan kota yang berkelanjutan pembangunan, kegiatan urban farming terkait promosi gaya hidup kembali ke alam, promosi pertanian organik, mempercantik lanskap perkotaan, pendidikan lingkungan fasilitas bagi penduduk kota, hobi/kesenangan, serta mata pencaharian bagi masyarakat miskin kota (Abdullahdkk.,2017). Pertanian perkotaan dapat memiliki banyak ekspresi yang berbeda, bervariasi dari tanaman, unggas, dan produksi ternak untuk budidaya (De Bondkk.,2010; Drechsel & Dong, 2010).

Petani perkotaan merampingkan penggunaan sumber daya dengan mengintegrasikan sub-sektor budidaya tanaman-ikan untuk memaksimalkan keuntungan (Victordkk.,2018). Kondisi pertanian di daerah perkotaan, khususnya Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dan keterkaitannya dengan berbagai permasalahan lingkungan, perlu dirancang dan dirumuskan kebijakan yang komprehensif untuk pembangunan berkelanjutan pertanian. status keberlanjutan pembangunan pertanian perkotaan dalam kondisi eksisting menunjukkan nilai indeks sebesar 48,70 persen atau kurang berkelanjutan (Sampelilingdkk.,2012). Itu alih fungsi lahan pertanian di perkotaan dan terjadinya urbanisasi di perkotaan menimbulkan banyak masalah antara lain sosial, budaya, lingkungan, dan ekonomi ketidakstabilan (Peerzadodkk.,2019). Fungsi ekologis ruang terbuka semakin berkurang karena

(3)

meningkatnya perluasan dan distribusi kawasan terbangun. Sistem pertanian perkotaan dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan keseimbangan lingkungan perkotaan dan sosial ekonomi masyarakat perkotaan (Abdullahdkk.,2017). Masalah pertanian perkotaan biasanya berkisar pada makanan produksi dan peningkatan ekonomi, tetapi kinerja terkini menunjukkan bahwa pertanian perkotaan juga dapat menumbuhkan modal sosial, kesejahteraan masyarakat, dan keterlibatan masyarakat dalam sistem pangan. (Kulludkk., 2020). Dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur di daerah perkotaan, dan penduduk akibat urbanisasi, sedangkan lahan pertanian semakin berkurang dan kebutuhan akan produksi pertanian bagi masyarakat perkotaan terus berlanjut. Budidaya tanaman produktif adalah sangat diperlukan untuk konsumsi masyarakat dan juga untuk menambah suplai oksigen, penawarnya terhadap pencemaran udara, dan memperbaiki kondisi tanah (Indrawati, 2017). Memahami perkotaan karakteristik pertanian di Jakarta merupakan langkah penting menuju perumusan kebijakan pemerintah yang tepat dan rencana pembangunan masa depan untuk mengintegrasikan pertanian perkotaan menjadi sistem perkotaan (Chandra & Dhiehl, 2019).

Keberadaan lahan/ruang pertanian perkotaan memegang peranan yang sangat penting dalam sistem produksi pertanian dan menjaga kualitas lingkungan karena merupakan penentu luasan RTH dan hasil pertanian di perkotaan. Mempertahankan keberadaan lahan/ruang tidak hanya untuk keberlanjutan pertanian sistem produksi tetapi juga untuk menjaga kualitas lingkungan. Dalam hal ini, perkotaan pertanian menyediakan lapangan kerja dan menjadi sumber tambahan pendapatan masyarakat dan merupakan penyangga stabilitas ekonomi dalam situasi kritis, dan terkait langsung dengan pengentasan kemiskinan upaya dan lingkungan yang berkelanjutan (Sampellingdkk.,2012). Pertanian perkotaan memiliki potensial untuk dikembangkan di pekarangan perumahan perkotaan. Fungsi ekosistem taman sangat mendukung terwujudnya konsep arsitektur lanskap perkotaan yang berkelanjutan.

Konsep pengembangan lanskap kota yang produktif dapat menciptakan bangunan yang berkelanjutan lingkungan dan mendukung ketahanan pangan. Keterbatasan lahan untuk pemukiman perkotaan dapat dimanfaatkan konsep optimalisasi pekarangan sangat sempit, sempit, sedang, lebar, dan sangat luas (Irwan & Sarwadi, 2015). Dalam konstruksi sosial ekonomi, keragaman sosial ekonomi dan lapangan kerja telah menjadi sub-konstruksi untuk variabel pertanian perkotaan. Pertama, sosialKeragaman ekonomi mengacu pada berbagai sektor bisnis yang dapat dihasilkan oleh masyarakat perkotaan melalui pertanian perkotaan (Sallehdkk.,2021). Oleh karena itu, keberlanjutan pertanian perkotaan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh perilaku komponen dan sistem pendukungnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat keberlanjutan pembangunan urban farming di Jakarta Pusat.

METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan dari bulan Mei sampai dengan Juli 2021 di Desa Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat. Daerah ini terletak di 2,60 meter di atas permukaan laut, dimana lokasi penelitian disajikan (Gambar 1).

(4)

Gambar 1: Peta Lokasi Penelitian Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data utama berupa informasi aspek biofisik, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Pengumpulan data primer adalah observasi lapangan dan survei dengan menyebarkan kuesioner, dan survei dilakukan dengan 20 responden yang terlibat dalam pertanian perkotaan, yang diambil dengan sampling acak sederhana.

Pengumpulan data sekunder diperoleh dari literatur dan instansi yaitu Kecamatan Petamburan, Kantor Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat Perkantoran, dan Dinas Kehutanan Kota Jakarta Pusat.

Analisis data

Untuk mengetahui keberlanjutan pertanian perkotaan di Jakarta Pusat bersifat multidimensi, yaitu:

ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi dengan MDS (Multi-Dimensional metode penskalaan). Metode MDS adalah analisis statistik berbasis komputer menggunakan RALED-SBH (Teknik Kajian Cepat Pembangunan Ekonomi Daerah-Sugen Budiharsono) Perangkat Lunak (Tim Pengembangan Ekonomi Daerah, BAPPENAS, 2007). Metode analisis yang digunakan adalah MDS (multi-dimensional scaling) dan Rap-Ur-Agri (Rapid Appraisal for Urban Pertanian). Analisis faktor utama menggunakan faktor leverage diikuti dengan keberlanjutan indeks (Tabel 1) dan skenario kebijakan pembangunan pertanian menggunakan analisis prospektif metode. Tahap analisis data untuk melihat keberlanjutan urban farming menggunakan Multi Pendekatan Dimension Scaling (MDS); metode MDS menggunakan proses ordinasi yang merupakan hasil modifikasi metode Rapid Assessment Techniques for Fisheries (RAPFISH), maka hasil analisis beberapa dimensi yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dan dimensi teknologi disajikan di diagram layang-layang.

(5)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebaran Penduduk dan Karakteristik Responden

Sebaran penduduk di Kecamatan Petamburan, Kabupaten Tanah Abang, Jakarta Pusat kota administrasi, adalah 40.938 orang, terdiri dari 21.024 laki-laki dan 11.914 perempuan. Rata-rata kepadatan penduduk di wilayah Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat, adalah 45.487 jiwa/km2 (BPS, 2020). Pertambahan penduduk perkotaan tanpa mendukung dan menyeimbangkan penyediaan pangan/gizi, pekerjaan, sarana perumahan, dan sarana dan prasarana untuk mendukung kehidupan lain akan menyebabkan masalah sosial ekonomi perkotaan, seperti kemiskinan perkotaan dan ketahanan pangan (Lovell, 2010; Listya Cahya, 2014). Jumlah responden dalam penelitian ini terdiri dari 20 responden, termasuk lima responden yang terlibat dalam kegiatan urban farming. Populasi status berdasarkan pekerjaan terdiri dari 6.900 orang dari perdagangan, 18.002 pegawai swasta, 136 PNS, 55 polisi, 230 pensiunan, 78 tukang kayu, dan 12.111 lainnya. Menurut Gallaher dkk. (2013), sebagian besar peserta pertanian terpadu Unban adalah rumah tangga dengan banyak anggota keluarga.

Dukungan untuk Pertanian Perkotaan

Keberadaan urban farming di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sudah sangat dikenal dan sangat didukung oleh warga Desa Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Tengah Kota Administrasi Jakarta; penduduk perkotaan umumnya sudah memiliki pengetahuan dan wawasan tentang pertanian perkotaan. Bentuk dukungan masyarakat untuk kegiatan pertanian perkotaan menggunakan pekarangan mereka untuk bercocok tanam sayuran, jamu, dan tanaman buah musiman lainnya. Pemanfaatan pekarangan penduduk untuk pertanian perkotaan akan menambah nilai estetika, memperbaiki iklim mikro, dan menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Inovasi sistem pertanian lebih lanjut berkontribusi pada penerapan pertanian perkotaan di lahan terbatas (vertikal) budidaya), aplikasi dengan tak dinodai budidaya (teknik hidroponik), dan praktik pengelolaan sumber daya (pengomposan). Teknik) (Sharifi, 2016). Pengembangan pertanian perkotaan di Provinsi Istimewa Jakarta menunjukkan bahwa faktor ekonomi merupakan pendorong terkuat untuk bertani di perkotaan, meskipun area bisnisnya terbatas.

Hal ini dipengaruhi oleh kemudahan dalam menanam dipasarkan dengan harga yang relatif tinggi dibandingkan dengan daerah di luar Jakarta (Mayasaridkk., 2015). Berdasarkan wawancara dan observasi di lokasi penelitian, banyak warga yang ingin berkembang sayuran dan tanaman semusim lainnya.

Namun keterbatasan lahan, biaya, dan waktu menjadi yang utama rintangan. Dalam hal ini, Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kelurahan, adalah untuk meningkatkan program pertanian perkotaan, yang sangat berguna untuk meningkatkan lingkungan dan menyediakan pangan bagi keluarga, terutama masyarakat berpenghasilan rendah. Pemerintah juga membutuhkan melaksanakan dan meningkatkan penyuluhan secara berkala terkait urban farming sehingga urban farming Kegiatan dapat dimaksimalkan di Kecamatan Petamburan, Kabupaten Tanah Abang, dan Pusat Kota Administrasi Jakarta.

(6)

Status Keberlanjutan Pertanian Perkotaan

Pengamatan lokasi penelitian pada pengembangan pertanian perkotaan yang ada menunjukkan bahwa Pola urban farming bervariasi di Kecamatan Petamburan, Kabupaten Tanah Abang, Tengah Kota Administrasi Jakarta. Masyarakat mengembangkan praktik urban farming dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi sederhana seperti penanaman dalam pot, polibag, pemeliharaan anggur, sederhana sistem hidroponik, sistem panjat dan panjat pada dinding bangunan, taman rumah, dan sistem tanam langsung di tanah. Tanaman yang dikembangkan masyarakat sekitar adalah tanaman hias tanaman sayuran, tanaman pangan, tanaman semusim, dan tanaman herbal. Budidaya tanaman Teknologi yang digunakan masih sangat sederhana dan belum memanfaatkan sistem pertanian intensif.

Perkotaan Pembangunan pertanian bertujuan hanya sebagai hobi, estetika lingkungan, kebutuhan keluarga, dan a bagian kecil dari komersial.

Penetapan status keberlanjutan urban farming di Kecamatan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang Kota Administrasi Jakarta Pusat berdasarkan atribut yang dinilai pada masing-masing dimensi, yaitu ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi. Secara umum, kondisi pertanian perkotaan di Kecamatan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat kota administrasi, memiliki semua dimensi status tidak berkelanjutan, yaitu ekologi, dimensi ekonomi, sosial, dan teknologi (Tabel 2). Pertanian perkotaan masih membutuhkan peningkatan untuk komponen atribut sensitif yang memengaruhi keberlanjutan, tetapi peningkatan Intervensi dapat dilakukan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan pertanian perkotaan (Abdullah dkk., 2017). Indikator keberlanjutan urban farming dengan memilih empat dimensi sebagai indikator keberlanjutan telah mewakili indikator yang digunakan untuk menilai keberlanjutan urban farming di Kecamatan Petamburan, Kabupaten Tanah Abang, Tengah Kota Administrasi Jakarta

Selanjutnya, hasil analisis keberlanjutan urban farming di masing-masing dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi di Desa Petamburan, Tanah Kecamatan Abang, Kota Administratif Jakarta Pusat menggunakan metode Multidimensi Penskalaan disajikan sebagai berikut:

Dimensi Ekologis

Keberlanjutan urban farming di Kecamatan Petamburan, Kabupaten Tanah Abang, Jakarta Pusat Kota Administrasi, hasil analisis dimensi ekologi menunjukkan a indeks keberlanjutan sebesar 14,55 %. Jika dilihat dari kategori berkelanjutan pada skala 0-100 hasil analisis dimensi ekologi meliputi kriteria Buruk:

Tidak lestari. Hasil analisis dimensi ekologis MDS disajikan pada Gambar 2.

(7)

Gambar 2: Hasil analisis leverage dimensi ekologi

Kondisi lingkungan ini perlu dipertahankan atau lebih ditingkatkan sehingga peranannya fungsi ekologi dapat memberikan dampak yang lebih menguntungkan secara berkelanjutan (Abdullah dkk., 2017). Nilai atribut yang mempengaruhi indeks keberlanjutan pada dimensi ekologi adalah delapan atribut, antara lain kondisi pekarangan, kondisi irigasi, jenis tanaman hias tanaman, tanaman lokal, jenis ternak dan ikan, tanaman sayuran, tanaman buah-buahan, dan tanaman herbal. Menurut Wulandaridkk, (2018), dimensi ekologi adalah atribut yang paling sensitif, baik luas ruang terbuka hijau maupun keanekaragaman vegetasi; untuk meningkatkan keberlanjutan dari dimensi ekologi, perlu untuk campur tangan atau meningkatkan atribut sensitif.

Dimensi Ekonomi

Dimensi ekonomi keberlanjutan urban farming di Kecamatan Petamburan, Tanah Kecamatan Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat, menunjukkan nilai indeks keberlanjutan 13,85 %, termasuk tidak memadai dan tidak berkelanjutan. Nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi lebih kecil dari dimensi ekologi 13,85%. Sebaliknya, yang lain faktor, yaitu pemasaran komoditas pertanian perkotaan dan penyediaan insentif, disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3: Hasil Analisis manfaat dari dimensi ekonomi

Perkembangan urban farming di Desa Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat mengandung arti menguntungkan dari segi ekologis dibandingkan dengan aspek ekonomi.

Pertanian perkotaan menyediakan lapangan kerja dan menjadi sumber tambahan pendapatan

(8)

masyarakat dan penyangga stabilitas keuangan dalam situasi kritis dan terkait langsung dengan upaya (pengentasan kemiskinan) (Sampelilingdkk., 2012). Oleh karena itu, untuk meningkatkan nilai indeks keberlanjutan dimensi ekonomi di masa yang akan datang, yaitu diperlukan perbaikan atribut-atribut untuk meningkatkan nilai indeks ekonomi dimensi. Salah satu dimensi minimal dari faktor keberlanjutan keuangan berdasarkan hasil dari analisis daya ungkit adalah bantuan bibit tanaman

Dimensi Sosial

Dimensi sosial dari indeks keberlanjutan adalah 13,94% kurang dan tidak berkelanjutan. Itu indeks keberlanjutan membutuhkan peningkatan status nilai dari dimensi sosial, dan itu adalah diperlukan perbaikan beberapa atribut yang mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan. Itu regenerasi petani yang sangat buruk juga menyebabkan kurangnya keberlanjutan dalam dimensi sosial; Rata-rata, anak-anak petani tidak mau melanjutkan kegiatan bertani milik sendiri orang tua. Anak-anak petani cenderung menjual tanah warisan orang tuanya atau mengonversi lahan untuk kegiatan non pertanian (Mawarsari

& Noor, 2020). Faktor yang dominan dalam keberlanjutan dimensi sosial berdasarkan hasil analisis leverage adalah job diversifikasi, pemahaman lembaga pertanian perkotaan, dan intensitas penyuluhan pada pertanian perkotaan. Atribut-atribut dimensi sosial memerlukan pengelolaan yang baik agar nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial dapat meningkat di masa mendatang. Sebaliknya, hasil analisis dimensi sosial analisis leverage ditunjukkan pada Gambar 4. Konstruksi layanan sosial terdiri dari tiga subkonstruksi: keselamatan dan keamanan, komunitas jasa, dan tenaga kerja atau perdagangan.

Pertama, keamanan dan keamanan mewakili pemangku kepentingan, pemimpin, dan masyarakat perkotaan (Sallehdkk., 2021).

Gambar 4: Hasil Analisis Dimensi Sosial Leverage Dimensi Teknologi

Analisis dimensi keberlanjutan teknologi terdapat nilai indeks keberlanjutan sebesar 13,43%, termasuk kriteria kurang dan tidak berkelanjutan. Faktor dominan untuk keberlanjutan dimensi teknologi merupakan hasil dari analisis leverage, yaitu upaya pengembangan komoditas dengan teknologi sederhana dan ramah lingkungan serta pengetahuan teknologi dan inovasi sederhana serta teknologi sederhana sistem irigasi. Hasil analisis leverage dimensi teknologi disajikan pada Gambar 5.

(9)

Gambar 5: Hasil Analisis Dimensi Teknologi Leverage

Ruang di luar kantor, sekolah dan pekarangan warga merupakan potensi untuk pengembangan pertanian perkotaan. Perubahan fungsi penggunaan lahan di kawasan perkotaan untuk kepentingan evolusi dan pembangunan, baik industri maupun perumahan, mengakibatkan luas lahan semakin menyusut. Tanah dan Sumber daya ruang kota merupakan peluang pemanfaatan ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.

Kondisi lingkungan perkotaan memerlukan analisis kapasitas dan penilaian keberlanjutan, khususnya pengembangan pertanian perkotaan sebagai solusi permasalahan perkotaan (Cahya, 2016).

Keberlanjutan pembangunan pertanian perkotaan di Desa Petamburan, Kabupaten Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat dengan model MDS, hasil analisis masing-masing dimensi terdiri dari dimensi ekologi 14,55 %, dimensi ekonomi 13,85%, dimensi sosial 13,94 %, dan dimensi teknologi 13,43 %. Hasil analisis tingkat kelestarian pada 32 atribut yang terdiri dari delapan atribut dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dan dimensi teknologi, masing-masing. Hasil analisis multi-dimensi dari indeks keberlanjutan yang disajikan pada (Gambar 6) menunjukkan bahwa empat dimensi yang dianalisis menghasilkan semua dimensi, termasuk kategori makhluk yang buruk tidak berkelanjutan, indeks keberlanjutan berkisar antara 13,43% hingga 14,55%. Pengembangan dari pertanian perkotaan di Desa Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat Pemerintah Kota membutuhkan penyuluhan dan motivasi bagi warga untuk memperbaiki diri; jika tidak ada ditingkatkan oleh pemerintah daerah, keberadaan pertanian perkotaan akan terus menyusut. Sumber daya alam dan sumber daya manusia sangat mempengaruhi keberlanjutan kota pertanian. Sumber daya alam meliputi ketersediaan lahan, media tanam, dan air sumber daya manusia yang mempengaruhi pertanian perkotaan adalah para pelaku pertanian itu sendiri, yaitu petani (Mayasaridkk., 2015).

(10)

Gambar 6: Indeks empat dimensi keberlanjutan pertanian perkotaan Petamburan di Tanah Abang, Kota Administrasi Jakarta Pusat.

Kesimpulan

Perkembangan urban farming di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat Kota Administrasi hasil dari analisis empat dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan model teknologi MDS tidak berkelanjutan. Hasil analisis setiap dimensi terdiri dari dimensi ekologi 14,55%, dimensi ekonomi 13,85%, dimensi sosial dimensi 13, 94%, dan dimensi teknologi 13, 43%. Di masa depan, pertanian perkotaan harus memperhatikan faktor pendukung keberlangsungan pembangunan pertanian. Faktor tersebut antara lain luas pekarangan, jenis dan variasi tanaman budidaya, penerapan inovasi dan teknologi yang dapat diterima dan dikembangkan oleh masyarakat perkotaan, meningkat penyuluhan dan pengembangan masyarakat, dan penyediaan pekarangan yang intensif dan bebas pajak dengan pertanian perkotaan.

Referensi

Dokumen terkait

Metode multidimensional scaling (MDS) dapat digunakan untuk menilai keberlanjutan bioremediasi limbah hidrokarbon ... Hasil penelitian dapat digunakan untuk menangani

(2012, 2013) karena keberagaman indikator serta dimensi yang digunakan dalam menilai kondisi keuangan daerah, maka diperlukan suatu model penelitian baru untuk

Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan Kota Batu sebagai kawasan agropolitan ditinjau dari empat dimensi keberlanjutan pembangunan

Dilakukan dengan empat proses, yaitu: Pertama, mengidentifikasi dimensi- dimensi kunci kepuasan pelanggan. Kedua, meminta pelanggan untuk menilai jasa perusahaan

(a) Status keberlanjutan dimensi sosial-budaya dan (b) Leverage analysis Pengelolaan indikator-indikator dimensi sosial-budaya perlu dilakukan dengan cara meningkatkan

Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi Hasil analisis dengan menggunakan Rap- Konawe terhadap 13 atribut, diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi

Variabel Modal Intelektual Untuk melihat Variabel, dimensi dan Indikator yang digunakan untuk mengukur modal intelektual pada pengurus kelompoktani padi sawah di Desa Empat Balai

Indikator yang digunakan ada 4 empat indikator sebagaimana dijelaskan berikut ini: Tabel 3 Rekapitulasi Kualitas Pelayanan Pada Dimensi Responsiveness Indikator Rata-rata Skor