Transparansi dan
Akuntabilitas Keuangan Partai Politik
Sahel Muzzammil
Peneliti Transparency International Indonesia 7 Mei 2022
Q1: bagaimana undang-
undang mengaturnya?
Pasal 13 huruf h UU 2/2008
Partai Politik berkewajiban membuat pembukuan, memelihara daftar penyumbang dan jumlah sumbangan yang diterima, serta terbuka
kepada masyarakat.
Pasal 13 huruf i UU 2/2008
Partai Politik berkewajiban menyampaikan laporan
pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan yang bersumber dari dana bantuan APBN dan APBD secara berkala 1 (satu) tahun sekali kepada Pemerintah setelah diperiksa oleh BPK.
Pasal 34A UU 2/2011
(1) Partai Politik wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran yang bersumber dari dana bantuan APBN dan APBD kepada BPK secara berkala 1 (satu) tahun sekali untuk diaudit paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
(2) Audit laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.
(3) Hasil audit atas laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Partai Politik paling lambat 1 (satu) bulan setelah diaudit.
Pasal 39 UU 2/2011
(1) Pengelolaan keuangan Partai Politik dilakukan secara transparan dan akuntabel.
(2) Pengelolaan keuangan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaudit oleh akuntan publik setiap 1 (satu) tahun dan diumumkan secara periodik.
(3) Partai Politik wajib membuat laporan keuangan untuk keperluan audit dana yang meliputi:
a. laporan realisasi anggaran Partai Politik;
b. laporan neraca; dan c. laporan arus kas.
Pasal 46 UU 2/2008
Pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang ini dilakukan oleh lembaga negara yang berwenang secara fungsional sesuai dengan
undang-undang.
Ketentuan Sanksi
Melanggar ketentuan Pasal 13 huruf h
• Pasal 47 Ayat (2) UU 2/2011: dikenai sanksi administratif berupa teguran oleh Pemerintah
Melanggar ketentuan Pasal 13 huruf i
• Pasal 47 Ayat (3) UU 2/2011: dikenai sanksi administratif berupa penghentian bantuan APBN/APBD sampai laporan diterima oleh Pemerintah dalam tahun anggaran berkenaan.
A1: UU Parpol mengatur
transparansi dan akuntabilitas
keuangan parpol secara tidak utuh.
Mekanisme akuntabilitas atas keuangan yang bersumber dari
non-negara absen dalam UU Partai Politik. Pada saat yang sama,
jaminan untuk transparansi juga terbilang lemah (tidak ada lembaga
pengawasan dan sanksi efektif).
BANTUAN DAN KEBUTUHAN PARTAI SEKELAS PAN 2010
Rp 0,68 miliar
1,32%
bantuan
Rp 51,2 miliar
100%
belanja
Q2: Apa konsekuensi dari
kelemahan regulasi yang ada?
Korupsi Politik
Data KPK sejak tahun 2004 s.d Mei 2021 menunjukkan terdapat 739 kasus korupsi, dimana 437 pelaku di antaranya adalah kader partai politik (Anggota DPR/DPRD, Kepala Daerah, Pejabat Negara).
Kegagalan Institusi Parpol
Parpol dimaksudkan untuk menjadi institusi yang mewadahi kepentingan publik, dan mentransformasikannya ke dalam sebuah kebijakan negara.
Dengan desain pengaturan tata kelola keuangan yang lemah, parpol rentan dibajak menjadi wadah kepentingan pemodal.
Rusaknya Demokrasi
Kegagalan institusi parpol dan identiknya parpol dengan korupsi politik perlahan akan menghapus kepercayaan publik terhadap idealisasi2
demokrasi. Ini ditandai dengan semakin rendahnya party id, tingginya toleransi terhadap politik uang, dan bahkan munculnya gerakan-gerakan yang coba menggantikan demokrasi (yang dianggap penuh kebohongan) dengan sistem lain sebagai reaksi kekecewaan.
A2: konsekuensi dari pengaturan tata kelola
keuangan parpol yang penuh kelemahan ialah kerusakan
parah dalam berbagai
tingkatan, mulai dari institusi parpol itu sendiri sampai
dengan perjalanan
berdemokrasi negara.
Q3: Yang harus segera
dilakukan?
Revisi UU Parpol
• Perlu ada lembaga yang menjadi adresat akuntabilitas formal serta mengawasi tata kelola keuangan partai politik. Pilihannya adalah membuat lembaga baru yang khusus memegang tugas ini (seperti Federal Election Commission (FEC) di Amerika Serikat), atau
menambah tupoksi lembaga yang sudah ada (Kemendagri?)
• Sanksi atas pelanggaran tertib pengelolaan keuangan partai yang transparan dan akuntabel harus diperkuat. Tidak cukup sekadar
teguran dari pemerintah. Perlu dipikirkan sanksi berjenjang, misalnya teguran untuk keterlambatan, denda ketika teguran tak diindahkan, sampai dengan sanksi tidak dapat mendaftar kepesertaan pemilu dan pencabutan status badan hukum.
Optimalisasi TI
• Transparansi keuangan partai politik semestinya dapat diwujudkan dengan potensi teknologi yang disediakan zaman ini. Negara telah
memulainya namun sayang belum integratif (dengan SIPOL, SIDAKAM, E-Banpol, dll.)