• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Partai Politik

N/A
N/A
Sahel Muzzammil

Academic year: 2023

Membagikan "Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Partai Politik"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Transparansi dan

Akuntabilitas Keuangan Partai Politik

Sahel Muzzammil

Peneliti Transparency International Indonesia 7 Mei 2022

(2)

Q1: bagaimana undang-

undang mengaturnya?

(3)

Pasal 13 huruf h UU 2/2008

Partai Politik berkewajiban membuat pembukuan, memelihara daftar penyumbang dan jumlah sumbangan yang diterima, serta terbuka

kepada masyarakat.

Pasal 13 huruf i UU 2/2008

Partai Politik berkewajiban menyampaikan laporan

pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan yang bersumber dari dana bantuan APBN dan APBD secara berkala 1 (satu) tahun sekali kepada Pemerintah setelah diperiksa oleh BPK.

(4)

Pasal 34A UU 2/2011

(1) Partai Politik wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran yang bersumber dari dana bantuan APBN dan APBD kepada BPK secara berkala 1 (satu) tahun sekali untuk diaudit paling lambat 1 (satu) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

(2) Audit laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

(3) Hasil audit atas laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Partai Politik paling lambat 1 (satu) bulan setelah diaudit.

(5)

Pasal 39 UU 2/2011

(1) Pengelolaan keuangan Partai Politik dilakukan secara transparan dan akuntabel.

(2) Pengelolaan keuangan Partai Politik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaudit oleh akuntan publik setiap 1 (satu) tahun dan diumumkan secara periodik.

(3) Partai Politik wajib membuat laporan keuangan untuk keperluan audit dana yang meliputi:

a. laporan realisasi anggaran Partai Politik;

b. laporan neraca; dan c. laporan arus kas.

(6)

Pasal 46 UU 2/2008

Pengawasan terhadap pelaksanaan Undang-Undang ini dilakukan oleh lembaga negara yang berwenang secara fungsional sesuai dengan

undang-undang.

(7)

Ketentuan Sanksi

Melanggar ketentuan Pasal 13 huruf h

• Pasal 47 Ayat (2) UU 2/2011: dikenai sanksi administratif berupa teguran oleh Pemerintah

Melanggar ketentuan Pasal 13 huruf i

• Pasal 47 Ayat (3) UU 2/2011: dikenai sanksi administratif berupa penghentian bantuan APBN/APBD sampai laporan diterima oleh Pemerintah dalam tahun anggaran berkenaan.

(8)

A1: UU Parpol mengatur

transparansi dan akuntabilitas

keuangan parpol secara tidak utuh.

Mekanisme akuntabilitas atas keuangan yang bersumber dari

non-negara absen dalam UU Partai Politik. Pada saat yang sama,

jaminan untuk transparansi juga terbilang lemah (tidak ada lembaga

pengawasan dan sanksi efektif).

(9)

BANTUAN DAN KEBUTUHAN PARTAI SEKELAS PAN 2010

Rp 0,68 miliar

1,32%

bantuan

Rp 51,2 miliar

100%

belanja

(10)

Q2: Apa konsekuensi dari

kelemahan regulasi yang ada?

(11)

Korupsi Politik

Data KPK sejak tahun 2004 s.d Mei 2021 menunjukkan terdapat 739 kasus korupsi, dimana 437 pelaku di antaranya adalah kader partai politik (Anggota DPR/DPRD, Kepala Daerah, Pejabat Negara).

Kegagalan Institusi Parpol

Parpol dimaksudkan untuk menjadi institusi yang mewadahi kepentingan publik, dan mentransformasikannya ke dalam sebuah kebijakan negara.

Dengan desain pengaturan tata kelola keuangan yang lemah, parpol rentan dibajak menjadi wadah kepentingan pemodal.

(12)

Rusaknya Demokrasi

Kegagalan institusi parpol dan identiknya parpol dengan korupsi politik perlahan akan menghapus kepercayaan publik terhadap idealisasi2

demokrasi. Ini ditandai dengan semakin rendahnya party id, tingginya toleransi terhadap politik uang, dan bahkan munculnya gerakan-gerakan yang coba menggantikan demokrasi (yang dianggap penuh kebohongan) dengan sistem lain sebagai reaksi kekecewaan.

(13)

A2: konsekuensi dari pengaturan tata kelola

keuangan parpol yang penuh kelemahan ialah kerusakan

parah dalam berbagai

tingkatan, mulai dari institusi parpol itu sendiri sampai

dengan perjalanan

berdemokrasi negara.

(14)

Q3: Yang harus segera

dilakukan?

(15)

Revisi UU Parpol

• Perlu ada lembaga yang menjadi adresat akuntabilitas formal serta mengawasi tata kelola keuangan partai politik. Pilihannya adalah membuat lembaga baru yang khusus memegang tugas ini (seperti Federal Election Commission (FEC) di Amerika Serikat), atau

menambah tupoksi lembaga yang sudah ada (Kemendagri?)

• Sanksi atas pelanggaran tertib pengelolaan keuangan partai yang transparan dan akuntabel harus diperkuat. Tidak cukup sekadar

teguran dari pemerintah. Perlu dipikirkan sanksi berjenjang, misalnya teguran untuk keterlambatan, denda ketika teguran tak diindahkan, sampai dengan sanksi tidak dapat mendaftar kepesertaan pemilu dan pencabutan status badan hukum.

(16)

Optimalisasi TI

• Transparansi keuangan partai politik semestinya dapat diwujudkan dengan potensi teknologi yang disediakan zaman ini. Negara telah

memulainya namun sayang belum integratif (dengan SIPOL, SIDAKAM, E-Banpol, dll.)

(17)

Sekian & Terima Kasih.

Referensi

Dokumen terkait

Hal-hal yang menyebabkan partai politik belum dapat menyusun laporan pertanggungjawaban dana bantuan keuangan yang bersumber dari APBD sesuai aturan dikarenakan fak.-tor kultur

Analisis laporan pertanggungjawaban partai politik tahun 2013-2015 menunjukkan masih terdapat ketidaksesuaian pengelolaan bantuan keuangan terhadap peraturan yang berlaku

Penghitungan, Penganggaran dalam APBD dan Tertib Administrasi Pengajuan, Penyaluran dan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik, maka

Partai Politik wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran yang bersumber dari dana bantuan Anggaran Pendapatan dan Belanjac. Negara dan

partai politik yang bersumber dari APBN dan APBD diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008. Tentang

Masih ada partai politik yang mendapat bantuan keuangan namun masih terlambat memberikan Laporan Pertanggungjawaban Penggunaan Bantuan Keuangan Partai Politik setiap

Politik hukum pertanggungjawaban partai politik dalam pengelolaan bantuan keuangan negara adalah suatu kebijakan hukum (legal policy) negara untuk mencapai tujuan nasionalnya

Pertanggungjawaban penerimaan dan pengeluaran keuangan partai politik di Kota Pekanbaru berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 36 Tahun 2018 tentang Tata Cara Penghitungan,