Soal No 1
Parlemen Indonesia dari Masa ke Masa
Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Parlemen Indonesia. Peringatan tersebut mengikuti keluarnya Maklumat Wakil Presiden Nomor X pada tanggal 16 Oktober 1945.
Maklumat tersebut memutuskan, memberi kekuasaan legislatif kepada Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) untuk ikut menetapkan garis-garis besar haluan negara
sebelum terbentuk MPR dan DPR. Dengan maklumat tersebut, KNIP yang semula dibentuk untuk membantu tugas presiden dan wakil presiden mulai mengemban tugas sebagai parlemen.
Parlemen, menurut KBBI, dipahami sebagai badan yang terdiri atas wakil-wakil rakyat yang dipilih dan bertanggung jawab atas perundang-undangan dan pengendalian anggaran keuangan negara. Selain itu, KBBI juga memahami parlemen sebagai padanan dari dewan perwakilan rakyat.
Dalam sistem demokrasi modern, parlemen merupakan badan yang terdiri atas wakil- wakil rakyat yang dipilih melalui pemilu untuk menyuarakan kepentingan rakyat serta bertugas, antara lain untuk membuat undang-undang dan mengawasi pemerintah.
Di Indonesia, lembaga parlemen dapat dirunut sejak zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda dengan terbentuknya lembaga Volksraad tahun 1918. Kemudian pada masa awal kemerdekaan, lembaga parlemen diwakili oleh KNIP. Periode KNIP
berlangsung sejak 29 Agustus 1945 hingga 15 Februari 1950.
Setelah itu, lembaga parlemen masuk periode DPR dan Senat Republik Indonesia Serikat (RIS), yaitu 15 Februari 1950 – 16 Agustus 1950. Selanjutnya, selama periode 16 Agustus 1950 – 26 Maret 1956, parlemen Indonesia terdiri atas DPRS dan MPRS.
Setelah pemilu pertama tahun 1955, nama lembaga parlemen kembali menjadi DPR hingga Dekrit Presiden 1959.
Setelah Dekrit Presiden yang kembali menggunakan konstitusi UUD 1945, Presiden menggunakan kewenangannya, membubarkan DPR dan kemudian memilih dan mengangkat anggota parlemen baru dalam wadah DPR Gotong-Royong. Lembaga parlemen itu menjalankan tugasnya hingga periode akhir rezim Orde Lama dan awal Orde Baru.
Sejak tahun 1971, anggota lembaga parlemen dipilih melalui proses pemilu. Lembaga parlemen ini terdiri dari MPR dan DPR. MPR sendiri terdiri dari DPR, utusan golongan, dan utusan daerah. Sementara, pada era Reformasi, parlemen Indonesia terdiri dari lembaga MPR, DPR, dan DPD. Lembaga MPR sendiri terdiri atas DPR dan DPD.
https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/parlemen-indonesia-dari-masa-ke- masa
Pertanyaan:
1. Berikan analisis anda, setelah amandemen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 sistem parlemen apa yang dianut di Indonesia?
2. Jelaskan kedudukan MPR, DPR, dan DPD di parlemen dalam mengubah/menyusun UUD dan undang-undang.
Soal No 2
Indonesia menerapkan sistem pemerintahan presidensial. Dalam pemerintahan
presidensial, Presiden berperan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan yang kedudukannya terpisah dari parlemen. Sebagai kepala pemerintahan, dia
melaksanakan berbagai kebijakan publik, setelah mendapat persetujuan DPR dan bertanggung jawab kepada DPR. Sebagai kepala negara, dia berkewajiban menjaga kesatuan bangsa dan memberikan jaminan bagi kelangsungan hidup bangsanya dalam suatu kesatuan teritorial negara. Dalam tugas ini dia tak hanya bertanggung jawab kepada DPR, tetapi juga kepada seluruh bangsa dan rakyat.
Presiden tak hanya memiliki kewenangan di bidang eksekutif, namun juga legislatif.
Pertanyaan:
1. Berikan analisis anda, perubahan apa yang terjadi pasca
amandemen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 terhadap kekuasaan presiden dalam membentuk undang-undang.
2. Berikan analisis anda hubungan antara presiden dan parlemen pasca amandemen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Soal No 3
Pernyataan 1
Kebebasan hakim merupakan salah satu prinsip penting sehingga diwajibkan kepada hakim untuk menjaga kemandirian peradilan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Yaitu bebas dari campur tangan pihak luar dan bebas dari segala bentuk tekanan.
Kebebasan hakim dalam pelaksanaan tugas peradilan tidak boleh dipengaruhi oleh kekuasaan apapun, bahkan ketua yang lebih tinggi, tidak berhak untuk ikut campur dalam soal peradilan yang dilaksanakan.
Pernyataan 2
Dikemukakan oleh Montesquieu bahwa jika kekuasaan yudisial tidak dipisahkan
dengan kekuasaan legislatif dan kekuasaan eksekutif maka kekuasaan atas kehidupan dan kebebasan warga negara akan dijalankan sewenang-wenang karena hakim akan menjadi pembuat hukum, dan jika hakim disatukan dengan kekuasaan eksekutif maka hakim bisa jadi penindas. Dalam perkembangannya kekuasaan yang dimiliki oleh eksekutif, legislatif, dan yudisial tidak diperbolehkan hanya dilaksanakan secara penuh
oleh masing-masing lembaga tersebut karena harus ada kontrol konstitusional terhadap pelaksanaan kekuasaan tersebut.
Pertanyaan:
1. Berdasarkan pernyataan 1, teori manakah yang sesuai dengan teori kekuasaan kehakiman. Sertakan penjelasan singkat.
2. Berdasarkan pernyataan 2, teori manakah yang sesuai dengan teori kekuasaan kehakiman. Sertakan penjelasan singkat.
3. Berikan analisis anda terhadap pentingnya independensi hakim sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia.
1. Berikan analisis anda, setelah amandemen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 sistem parlemen apa yang dianut di Indonesia
Jawaban :
Periode 1945-1949 (berlakunya UUD 1945 yang pertama)
Para pendiri bangsa dalam sidang Para pendiri bangsa dalam sidang BPUPKI ketika membahas rancanga Undang-Undang Dasar, masalah bentu negara menjadi perdebatan yang serius. Pada saat sidang tersebut, ada yang mengusulkanbentuk negara kesatuan, dan ada yang
mengusulkan bentuk negara federal. Dalam
sidang pertama BPUPKI, Muh. Yamin menyampaikan bahwa bentuk Negara Indonesia yang merdeka berdaulat itu ialah suatu Republik Indonesia yang tersusun atas faham unitarisme.
Akhirnya, pilihan jatuh pada bentuk negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang kemudian dituangkan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik”.
Sistem parlemen yang dianut adalah s i s t e m u n i k a m e r a l . M e n u r u t J i m l y Asshidiqqie, struktur parlemen yang diidealkan ketika pertama kali Indonesia dibentuk adalah parlemen berkamar tunggal (unikameral) dengan variasi yang dikaitkan dengan teori kedaulatan rakyat yang diorganisasikan secara total ke dalam organ yang bernama Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR). Majelis ini dianggap sebagai penjelmaan seluruh rakyat dan pelaku sepenuhnya kedaulatan rakyat sehingga kedudukannya merupakan lembaga tertinggi dalam struktur organisasi negara. DPR merupakan parlemen yang anggotanya juga merupakan anggota MPR, sedangkan MPR merupakan pelaku kedaulatan rakyat, sehingga tidak dapat disebut sebagai p a r l e m e n b i k a m e r a l .
Kekuasaan legislatif pada masa ini dilakukan oleh Komite Nasional Indonesia, sehingga Komite Nasional Indonesia berubah menjadi Badan Legislatif. Tugas sehari-hari Komite Nasional Indonesia dijalankan oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) dan praktis bertindak sebagai parlemen yang bertanggung jawab kepada Komite Nasional Indonesia. Hasil karya pertama Komite Nasional Indonesia ialah usul inisiatif rancangan undang-undang tentang Badan Perwakilan Daerah, yang kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945.
Periode 1949-1950 (Berlakunya Konstitusi RIS 1949)
Konstitusi RIS 1949) Bentuk negara Indonesia berdasarkan Konstitusi RIS 1949 adalah federal.
Perubahan bentuk negara dari kesatuan menurut UUD 1945 ke bentuk federal menurut Konstitusi RIS 1949 merupakan hasil akhir dari perundingan-perundingan antara Pemerintah Indonesia dan Kerajaan.
Sistem parlemen menurut Konstitusi RIS adalah bikameral yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. Senat mewakili daerah-daerah bagian, dan setiap daerah bagian diwakili oleh dua anggota dalam Senat. Setiap anggota Senat mempunyai satu suara dalam Senat. Anggota Senat tidak dipilih melalui pemilu, tetapi ditunjuk oleh pemerintah daerah-daerah bagian, dari
daftar yang disampaikan oleh masing-masing perwakilan rakyat yang memuat tiga calon untuk tiap-tiap kursi. Bisa menjadi anggota Senat jika berumur minimal tiga puluh tahun
2. Jelaskan kedudukan MPR, DPR, dan DPD di parlemen dalam mengubah/menyusun UUD dan undang-undang
Jawaban :
Kedudukan MPR pasca amandemen UUD 1945 berubah menjadi lembaga Negara yang sederajat dengan Lembaga-lembaga negara lain seperti: kepresidenan, DPR. DPD, MK, MA, BPK, KY dan KPU. Konsekuensi logis hilangnya predikat MPR sebagai lembaga tertinggi Negara, MPR tidak lagi berwenang untuk memilih dan mengangkat presiden karena pemilihan presiden dan wakil presiden sudah diserahkan secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum.
Kedudukan MPR pasca amandemen UUD 1945 sederajat dengan Lembaga-lembaga Negara dimaksudkan agar dapat melakukan kegiatan fungsi saling mengontrol dan saling mengimbangi (check and balances), maka tidak ada kewajiban lembaga-lembaga Negara untuk memberikan laporan tahunan kepada MPR lagi.
Yang menyebabkan kedudukan MPR berubah menjadi lembaga Negara bukan sebagai tertinggi negara lagi karena pasca amandemen UUD 1945 MPR tidak berwenang lagi memilih presiden dan wakil presiden karena sudah diserahkan secara langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum. Hal lain MPR pasca amandemen UUD 1945 MPR tidak berwenang lagi menetapkan GBHN sebagai panduan bernegara. Inilah salah satu kelemahan perubahan UUD 1945 yang meniadakan GBHN sebagai panduan haluan bernegara. Kedudukan MPR saat ini menjadi lembaga Negara dimaksudkan agar semua lembaga-lembaga Negara dapat melakukan fungsi kegiatan saling mengontrol dan saling mengimbangi (check and balances).
Menariknya meski secara legal formal, MPR pasca amandemen UUD 1945
berkedudukan sebagai lembaga negara, namun dalam praktek ketatanegaraan MPR tetap sebagai lembaga negara diatas lembaga Negara lain, hal ini dapat dilihat kewenangan MPR yang dapat menetapkan dan merubah UUD 1945, MPR memiliki kewenangan menghapus dan menambahkan lembaga-lembaga negara pada akhirnya MPR dapat memberhentikan presiden dan/atau wakil presiden menurut UUD 1945 setelah didahului putusan dari Mahkamah Konstitusi bahwa Presiden telah bersalah melanggar hukum.
3. Berikan analisis anda, perubahan apa yang terjadi pasca
amandemen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 terhadap kekuasaan presiden dalam membentuk undang-undang.
Jawaban :
Pada pasal 6 UUD 1945 sebelum amandemen tertulis “Presiden dan Wakil
Presiden dipilih oleh MPR dengan suara terbanyak” Pasal tersebut diubah menjadi
“Presiden dan Wakil Presiden dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat” (pasal 6A ayat (1). Perubahan ini diharapkan rakyat dapat berpartisipasi secara langsung menentukan pilihannya sehingga tidak mengulang kekecewaannya yang pernah terjadi pada Pemilu 1999. Dan dengan perubahan ini pula diharapkan Presiden dan Wakil Presiden akan memiliki otoritas dan legitimasi yang sangat kuat karena dipilih langsung oleh rakyat.
Selanjutnya hasil perubahan UUD 1945 yang berkaitan langsung dengan
kekuasaan Presiden dan Wakil Presiden, adalah pembatasan kekuasaan Presiden sebagaimana diatur dalam pasal 7 (lama), yang ber- bunyi “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali”. Kemudian pasal 7 tersebut diubah, yang bunyinya menjadi “ Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan”.
Perubahan pasal ini dipandang sebagai langkah yang tepat untuk mengakhiri perdebatan tentang periodesasi jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
Sebelum ada perubahan pasal 13, Presiden sebagai kepala Negara mempunyai wewenang untuk menentukan sendiri duta dan konsul serta menerima duta negara lain, tetapi setelah adanya perubahan”dalam hal mengangkat duta dan menerima penempatan duta negara lain, Presiden memperhatikan pertimbangan DPR”.
Perubahan ini penting dengan alasan: (1) dalam rangka menjaga objektivitas terhadap kemampuan dan kecakapan seseorang pada jabatan tersebut, karena ia akan menjadi duta dari seluruh rakyat Indonesia di negara lain; dan (2) dalam rangka membangun akurasi informasi untuk kepentingan hubungan baik antara kedua negara dan bangsa.
Pasal 14 hasil amandemen berbunyi sebagai berikut:
1) Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.
2) Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
Alasan perlunya Presiden memperhatikan MA dalam hal memberi grasi dan
rehabilitasi, pertama: grasi dan rehabilitasi itu adalah proses yustisial dan biasanya diberikan kepada orang yang sudah mengalami proses; dan kedua: grasi dan
rehabilitasi lebih banyak bersifat perorangan. Sedangkan perlunya Presiden memperhatikan DPR dalam hal memberi amnesti dan abolisi, pertama: amnesti dan abolisi lebih bersifat politik; dan kedua: amnesti dan abolisi lebih bersifat massal.
Perubahan lain terjadi pada pasal 15, berbunyi sebagai berikut: “Presiden memberi gelar, tanda jasa, dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan undang-undang”. Perubahan dilakukan agar Presiden dalam memberikan berbagai anda kehormatan kepada siapapun (baik warga negara, orang asing, badan atau embaga) didasarkan pada undang-undang yang merupakan hasil pembahasan DPR bersama pemerintah, sehingga berdasarkan pertimbangan yang lebih objektif.
4. Berikan analisis anda hubungan antara presiden dan parlemen pasca amandemen Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Jawaban :
Dalam hubungan MPR dan Presiden, wewenang MPR setelah amandemen adalah MPR tidak berwenang lagi memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden, karena Presiden dan Wakil Presiden sesuai pasal 6 A ayat (1) UUD 1945 dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat. Demikian pula dalam hal pemberhentian Presiden, MPR tidak hanya melanjutkan usul DPR untuk menyelenggarakan sidang guna meminta pertanggung jawaban Presiden sehubungan adanya pelanggaran hukum, tetapi harus lebih dahulu mendapat keputusan Mahkamah Konstitusi.
Perihal hubungan DPR dan Presiden, terlihat prinsip demokrasi berupa kontrol dan keseimbangan antara DPR dan Presiden sebagaimana diatur dalam pasal 11, 13 dan 14 UUD 1945.
Pasal 11 UUD 1945 :
1. Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.
2. Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan
negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukan undang-undang harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
3. Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang- undang.
Pasal 13 UUD 1945 :
1. Presiden mengangkat duta dan konsul
2. Dalam hal mengangkat duta, Presiden memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat
3. Presiden menerima penempatan duta negara lain dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
Pasal 14 UUD 1945 :
1. Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.
2. Presiden memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.
Kontrol dan keseimbangan (check and balances) antar lembaga negara terbagi secara merata antara DPR dan Presiden.
Hubungan DPR dan BPK terlihat dari pasal 23 E UUD 1945, dimana sebelum amandemen untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara, BPK cukup memberitahu saja. Sedang setelah amandemen, hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR, DPD dan DPRD sesuai dengan kewenangannya untuk ditindaklanjuti.
Dalam hubungan Presiden dan MA, pasal 14 ayat (1) UUD 1945 mensyaratkan pertimbangan Mahkamah Agung dalam hal Presiden memberi grasi dan rehabilitasi.
Berdasarkan pernyataan 1, teori manakah yang sesuai dengan teori kekuasaan kehakiman. Sertakan penjelasan singkat.
Jawaban :
Kebebasan Hakim merupakan salah satu prinsip penting dalam konsep negara hukum diatur dalam keputusan simposium Universitas Indonesia tentang konsep negara hukum tahun 1966, disebutkan bahwa penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka merupakan salah satu ciri khas negara hukum. Dalam pasal 1 ayat (3) Perubahan ketiga UUD 1945 karena negara Indonesia adalah negara hukum menurut menurut Budiardjo[1] salah satu ciri-ciri adanya prinsip penyelenggaraan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan dijamin secara konstitusional.
Lebih lanjut Seno Adji menyebutkan ada tiga ciri khusus konsepsi negara hukum yaitu:
1) Pengakuan dan perlindungan hak asasi di bidang politik, hokum, social, ekonomi, budaya dan pendidikan
2) Legalitas dalam arti hukum dalam sejarah
3) Tidak bersifat memihak, bebas dari segala pengaruh kekuasaan lain
Dalam mewujudkan kekuasaan kehakiman yang merdeka maka diwajibkan kepada hakim untuk selalu menjaga kemandirian peradilan dalam menjalankan tugas dan fungsinya (pasal 3 ayat (1) Undang-undang Kekuasaan Kehakiman. Berdasarkan penjelasan pasal tersebut yang dimaksud dengan kemandirian Hakim adalah bebas dari campur tangan pihak luar dan bebas dari segala bentuk tekanan baik fisik maupun psikis. Kebebasan Hakim dalam pelaksanaan tugas peradilan Hakim tidak boleh dipengaruhi oleh kekuasaan apapun, bahkan ketua hakim pengadilan yang lebih tinggi, tidak berhak untuk ikut campur dalam soal peradilan yang dilaksanakannya.
Berdasarkan pernyataan 2, teori manakah yang sesuai dengan teori kekuasaan kehakiman. Sertakan penjelasan singkat.
Jawaban :
Hakim membuat Undang-undang karena Undang-undang tertinggal dari perkembangan masyarakat. Hakim sebagai penegak hukum dan keadilan yang juga berfungsi sebagai penemu yang dapat menentukan mana yang merupakan hukum dan mana yang bukan hukum.
Tugas hakim yaitu menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan setiap perkara perdata yang diajukan, serta wajib membantu para pencari keadilan.
Secara yuridis maupun filosofis, hakim Indonesia mempunyai kewajiban atau hak untuk melakukan penafsiran hukum atau penemuan hukum agar putusan yang diambilnya dapat sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.
Berikan analisis anda terhadap pentingnya independensi hakim sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia.
Jawaban :
Independensi hakim itu bisa bersifat normatif, bisa juga bersifat realita. Kedua independensi itu tidak bisa dipisahkan (Muchsin, 2004: 10). Ada juga yang membedakan independensi dalam arti sempit dan arti luas. Pada dasarnya, independensi kekuasaan kehakiman tak semata independensi kelembagaan, tetapi juga independensi personal hakim. Independensi hakim karena itu adalah kondisi di mana para hakim bebas dari pengaruh apalagi tekanan lingkungannya dan mengadili suatu perkara hanya berdasarkan fakta yang terbukti di pengadilan dan berdasarkan hukum.
Tentu saja, dalam memutus perkara, hakim harus merujuk pada undang-undang yang berlaku. Tetapi, dalam konteks Indonesia, hakim bukanlah corong undang-undang.
Hakim adalah corong kepatutan, keadilan, kepentingan umum, dan ketertiban umum.
Dalam konteks inilah, rumusan keharusan hakim memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat harus dibaca. Penjelasan Pasal 28 ayat (1) UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan ketentuan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dimaksudkan agar putusan hakim sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.
Lagipula, penting diingat bahwa undang-undang bukan satu-satunya sumber hukum.
Kebiasaan dalam masyarakat juga merupakan sumber hukum. Dengan demikian, hakim bisa menggunakan kebiasaan sebagai rujukan.
Meskipun UU Kekuasaan Kehakiman mengharuskan hakim memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, tak selamanya hakim tunduk pada keharusan itu.
Bahkan, kadangkala hakim ‘menabrak’ nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat untuk tujuan memberikan keadilan. Misalnya, putusan MA No. 1048K/Pdt/2012 yang menegaskan hukum adat setempat yang tidak mengakui hak perempuan setara dengan laki-laki tidak bisa dipertahankan lagi.