1
BAB 1 PENDAHULUAN
Pendahuluan berisikan penjelasan singkat mengenai permasalahan yang menjadi latar belakang dari penelitian ini. Isi dari pendahuluan terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, Batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan kerangka penelitian pada IKIP PGRI Kalimantan Timur.
1.1 Latar Belakang
Penerapan teknologi informasi merupakan hal yang penting untuk mendukung organisasi menjadi tangguh dan mampu bersaing di tengah persaingan bisnis yang ketat. Organisasi berinvestasi pada teknologi dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh postitif terhadap kinerja organisasi. Teknologi informasi tersebut membutuhkan pengelolaan sumber daya secara efektif. Agar hal tersebut tercapai dibutuhkan tata kelola teknologi informasi. Pengembangan dan pengelolaan teknologi informasi serta risiko yang efektif dapat memengaruhi struktur, operasi, dan strategi organisasi menjadi lebih efisien, produktif, dan mampu untuk bersaing (Sutomo & Saputra, 2017). Penerapan teknologi informasi pada saat ini telah banyak dilakukan berbagai macam organisasi, salah satunya perguruan tinggi.
Perguruan tinggi merupakan tempat mahasiswa menimba ilmu yang dalam proses penyelengaraannya membutuhkan teknologi informasi. IKIP PGRI Kalimantan Timur merupakan perguruan tinggi swasta yang telah menerapkan teknologi informasi. Jumlah dosen tetap pada IKIP PGRI Kalimantan Timur adalah 39 orang dan jumlah tenaga kependidikan adalah 27 orang. Sedangkan jumlah mahasiswa periode ganjil 2019/2020 adalah sebanyak 1475 orang. Pada saat ini, IKIP PGRI Kalimantan Timur memiliki 4 teknologi informasi yang masih aktif yaitu, website IKIP PGRI Kalimantan Timur dan SIAKAD (Sistem Informasi Akademik Kampus), website e-learning dan e-journal. Sementara itu, terdapat 1 sistem informasi yang telah tidak digunakan lagi yaitu, sistem informasi pembayaran. Tidak adanya sistem informasi pembayaran menjadikan proses
2 verifikasi pembayaran biaya pendaftaran, biaya partisipasi dan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dilakukan dengan cara manual. Selain itu, terdapat kendala yang dialami IKIP PGRI Kalimantan Timur selama menerapkan teknologi informasi seperti, website sistem telah diretas, pihak ketiga yang mengembangkan website sistem tidak dapat dihubungi kembali dan proses perbaikan yang membutuhkan waktu lama karena kurangnya keterampilan dan jumlah sumber daya manusia. Proses bisnis yang mengalami gangguan dan dijalankan dengan cara manual membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk diselesaikan. Hal tersebut diatas menunjukkan ketidakselarasan antara strategi bisnis dengan strategi teknologi informasi.
Ketidakselarasan antara strategi bisnis dengan strategi teknologi informasi (TI) dapat diketahui melalui penilaian tingkat keselarasan. Salah satu metode untuk menilai tingkat keselarasan strategi adalah model Luftman yang dipublikasikan pada tahun 2003. Akan tetapi sebelumnya, IKIP PGRI Kalimantan Timur belum pernah melakukan penilaian keselarasan strategi bisnis dengan strategi TI. Oleh karena itu, untuk membuktikan ketidakselarasan antara strategi bisnis dengan strategi TI, dilakukan penilaian menggunakan model Luftman. Hasil dari penilaian tersebut menunjukkan tingkat keselarasan antara strategi bisnis dengan TI pada IKIP PGRI Kalimantan Timur berada pada level 1. Hal tersebut menunjukkan, untuk meningkatkan keselarasan antara strategi bisnis dengan strategi TI pada IKIP PGRI Kalimantan Timur membutuhkan perancangan tata kelola teknologi informasi.
Perancangan tata kelola teknologi informasi dapat dibuat berdasarkan framework sebagai panduannya. Terdapat berbagai macam framework dengan fokus dan kelebihan yang berbeda. Pada penelitian ini, perancangan tata kelola teknologi informasi menggunakan framework COBIT 2019. Dikarenakan framework COBIT 2019 telah mencakup secara luas, mengombinasikan prinsip-
prinsip model acuan (seperti COSO), disejajarkan dengan standar infrastruktur TI (seperti ITIL, ISO 9000, CMM) dan dapat digunakan pada berbagai tingkat organisasi. Framework COBIT 2019 dapat membantu IKIP PGRI Kalimantan Timur untuk merancang tata kelola teknologi informasi dan menyusun rekomendasi-rekomendasi perbaikan sesuai dengan kondisi saat ini (ISACA, 2018).
3
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan kondisi dan permasalahan pada IKIP PGRI Kalimantan Timur dapat dirumuskan permasalahan bahwa:
1. Teknologi informasi pada IKIP PGRI Kalimantan Timur belum selaras dengan tujuan organisasi.
2. IKIP PGRI Kalimantan Timur belum memiliki tata kelola teknologi informasi.
1.3 Batasan Masalah
Agar permasalahan dapat terfokus dan mudah dipahami, maka diperlukan batasan dalam penelitian. Batasan yang diterapkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Perancangan tata kelola teknologi informasi pada IKIP PGRI Kalimantan Timur menggunakan framework COBIT 2019.
2. Perbaikan rekomendasi berupa pembuatan work product hanya sebatas pada 1 rekomendasi dari core model dengan prioritas tertinggi berdasarkan framework COBIT 2019.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian perancangan tata kelola TI pada IKIP PGRI Kalimantan Timur adalah:
1. Meningkatkan keselarasan teknologi informasi dengan tujuan organisasi.
2. Merancang tata kelola teknologi informasi pada IKIP PGRI Kalimantan Timur.
1.5 Manfaat Penelitian
Penilitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Membantu mencapai tata kelola teknologi informasi yang optimal pada IKIP PGRI Kalimantan Timur.
2. Membantu meningkatkan kinerja IKIP PGRI Kalimantan Timur dalam melaksanakan kegiatan lembaga pendidikan khususnya dalam pelayanan terkait kebutuhan akademik.
4 3. Sebagai bahan pendukung dalam memberikan rekomendasi tata kelola
teknologi informasi guna memanajemen risiko terkait teknologi informasi.
1.6 Kerangka Pemikiran Penelitian
Kerangka pemikiran yang menGambarkan penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.1.
Gambar 1.1 Kerangka pemikiran penelitian
Gambar 1.1 menunjukkan kerangka pemikiran penelitian dengan menggunakan 4 M yaitu machine (mesin/teknologi), method (metode), man (manusia), dan measurement (ukuran). Permasalahan pada machine atau teknologi yang digunakan adalah sistem informasi yang menggunakan jasa pihak ketiga. Hal tersebut menjadi masalah karena, adanya sistem yang tidak dapat digunakan lagi karena pihak ketiga tidak dapat dihubungi ketika sistem informasi tersebut mengalami masalah. Pihak IKIP PGRI Kalimantan Timur masih berusaha untuk menghubungi pihak ketiga yang membuat sistem informasi. Namun, permasalahan tersebut tidak menjadi fokusan utama. Kemudian, kurangnya keamanan sistem informasi. Sistem informasi pada IKIP PGRI Kalimantan Timur kurang dalam segi pengamanan hingga diretas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pada sisi metode, ditemukan permasalahan dimana belum adanya prosedur pembuatan dokumen tata kelola TI. Serta belum adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) pada unit teknologi informasi. Alasannya berkaitan dengan sisi
5 manusia, dimana sumber daya manusia belum memiliki keterampilan yang cukup untuk membuat dokumen tata kelola TI maupun Standar Operasional Prosedur (SOP) pada unit teknologi informasi. Selain itu, unit teknologi informasi masih tergabung dalam bagian laboratorium, sehingga kinerja pegawai tidak berfokus pada bagian teknologi informasi saja.
Pada sisi manusia, permasalahannya adalah kurangnya SDM yang memiliki keterampilan pada bidang TI. Saat ini keterampilan dari unit teknologi informasi masih kurang karena bukan berasal dari lulusan perguruan tinggi yang berkaitan dengan teknologi. Selain itu, jumlah sumber daya manusia yang terbatas.
Maksudnya, jumlah pada unit teknologi informasi saat ini ada 3 orang. Unit teknologi informasi mengurus cukup banyak sistem informasi dan website. Sumber daya saat ini kurang optimal karena banyaknya sistem yang telah mengalami gangguan. Sehingga, untuk memulihkannya membutuhkan waktu yang cukup lama.
Selanjutnya telah ditemukan permasalahan pada sisi pengukuran.
Permasalahannya adalah belum ada pengukuran terkait manfaat TI yang telah diterapkan. Selain itu, sebelum penelitian ini dilakukan IKIP PGRI Kalimantan Timur belum pernah melakukan pengukuran tingkat kematangan keselarasan strategi SI dan TI. Berdasarkan hasil wawancara, pengukuran tidak dilakukan karena tidak adanya standar dan target dari manfaat yang diperoleh dari teknologi informasi. Selain itu, IKIP PGRI Kalimantan Timur belum melihat TI sebagai bentuk investasi.
6 (halaman ini sengaja dikosongkan)