ANALISIS KEBIJAKAN MERDEKA BELAJAR (KURIKULUM NASIONAL, PEDAGOGI, DAN PENILAIAN)
Disusun sebagai tugas pada mataskuliah Analisis Kebijakan Pengembangan Pendidikan Islam
Dosen Pengampu:
Dr. Muhammad Walid, M.A.
Disusun oleh;
AHMAD MUBAROK NIM : 220106320001 /S3.MPI
DOKTOR MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2023
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pembelajaran pada abad 21 menuntut pencapaian keterampilan pada peserta didik.1 Dalam hal ini tentunya dapat diwujudkan melalui proses perencanaan pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran yang berbasis kepada keterampilan tersebut.
Kegiatan perencanaan ini tergambar dari perangkat pembelajaran yang digunakan sekolah untuk menyelenggarakan proses pembelajaran di kelas, mulai dari silabus, kurikulum, bahan ajar, media pembelajaran yang digunakan, serta instrumen penilaian yang akan digunakan. Seluruh aspek perangkat pembelajaran ini hendaknya disusun berorientasi pada kebutuhan keterampilan abad 21 yang akan dicapai. Seiring berjalannya waktu, teknologi informasi dan komukasi pun semakin berkembang sebagai sebuah prodak dari modernisasi, modernisasi telah mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat begitupun juga modernisasi bidang Pendidikan di Indonesia.
Dalam rangka mempersiapkan era globalisasi dan internasionalisasi, khususnya di bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerintah mencanangkan gagasan “Pendidikan Merdeka Belajar” dalam pidato di Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019 melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim. Gagasan ini merupakan komponen bagaimana lembaga pendidikan dapat meningkatkan standar pengajaran namun tetap terbuka dan fleksibel agar efektif dalam melayani kepentingan publik, khususnya dalam konteks Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Menurut pemerintah, gagasan tersebut sesuai dengan Pancasila dan ketentuan kebebasan berpendapat dalam Undang-Undang Tahun 1945. Oleh karena itu, sekolah harus berpikiran maju dan fleksibel.
Pemerintah berupaya meningkatkan standar pendidikan, antara lain dengan mengembangkan kebijakan baru terkait kurikulum. Kurikulum merdeka belajar inilah yang kini tengah dicanangkan oleh pemerintah, khususnya Menteri Pendidikan. Oleh karena itu, pembangunan di bidang pendidikan harus direncanakan agar dapat menyelesaikan berbagai kendala dan persoalan. Sistem pendidikan nasional harus ditata untuk menghasilkan generasi yang unggul dalam bidang pendidikan
1 Bashori, B. Manajemen Perubahan Kurikulum KTSP 2006 ke-Kurikulum 2013. 95
Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah dan menganalisis sejauh mana kebijakan pendidikan yang ada dapat berfungsi secara efektif dalam pelaksanaan pendidika. Melalui Nadiem Makarim selaku mentri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggagas program "Merdeka Belajar". Kebijakan Merdeka Belajar merupakan Langkah untuk mentransformasi Pendidikan demi terwujudnya Sumber Daya Manusia Unggul Indonesia yang memiliki profil pelajar Pancasila.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk Kebijakan Merdeka Belajar (Kurikulum Nasional, Pedagogi, Dan Penilaian)
2. Bagaimana Dampak Positif dan Negatif dari Kebijakan Merdeka Belajar 3. Bagaimana Analisis Kebijakan dan Solusi dari Kebijakan tersebut 4. Bagaimana Rekomendasi Dari Analisis Kebijakan Merdeka Belajar
BAB II PEMBAHASAN 1. Bentuk Kebijakan
Seiring berjalannya waktu, pendidikan kini dipandang sebagai sektor yang tidak hanya menyediakan barang dan jasa publik, namun juga sebagai investasi produktif yang mendorong pertumbuhan berbagai industri dan sektor pembangunan di Indonesia.
Sebagai salah satu tolok ukur kemajuan suatu negara dan negara, pendidikan memegang peranan strategis yang sangat penting dalam mewujudkan kemajuan tersebut. Oleh karena itu, setiap manajemen pendidikan harus mampu menghasilkan keluaran peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan yang sesuai dengan harapan setiap orang.
Konsepsi, kebijakan, dan program pendidikan yang sesuai, terfokus, dan dapat diterapkan diperlukan untuk berangkat dari hal ini.
Melalui kebijakan Merdeka Berlajar, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim ingin menciptakan suasana belajar yang happy dan kondusif bagi peserta didik. Merdeka belajar menurut Mendikbud berangkat dari keinginan agar output pendidikan menghasilkan kualitas yang lebih baik dan tidak lagi menghasilkan siswa yang hanya jago menghafal namun juga memiliki kemampuan analisis yang tajam, penalaran serta pemahaman yang komprehensif dalam belajar untuk mengembangkan diri.2
Menjelaskan konsep kebijakan Merdeka Belajar yang diusulkan oleh Mendikbud dan Budaya Nadiem Makarim tersebut di atas, Nadiem melakukan penilaian terobosan dalam kemampuan minimalnya, termasuk literasi, numerasi dan survei karakter. Literasi tidak hanya mengukur kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menganalisis isi bacaan bersama dengan pemahaman konsep di baliknya. Untuk kemampuan numerik, apa itu yang dinilai bukan matematika, tetapi penilaian kemampuan siswa dalam mengaplikasikan konsep numeric kehidupan nyata. Satu aspek yang tersisa, Survei Karakter, bukanlah ujian. Tapi mencari sejauh mana yang merupakan penerapan nilai- nilai budi pekerti, agama, dan pancasila yang dianut siswa (Mendikbud, 2019).
Dalam melaksanakan kebijakan Merdeka belajar maka perlu adanya pedoman penerapan Kurikulum Merdeka yang tertuang pada Keputusan Menteri Pendidikan,
2 M. Saleh. Merdeka Belajar di Tengah Pandemi Covid-19. Prosiding Seminar Nasional Hardiknas, 51–56.
Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 262/M/2022 yang merupakan pembaharuan atau perubahan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.3 Isi dari kebijakan ini terdapat dua lampiran:
1. Lampiran 1 kurikulum Merdeka Pendidikan anak usia dini, dasar dan menengah a. Struktur Kurikulum Merdeka; PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah (SD,
SMP, SMA, SMK) b. Capaian Pembelajaran c. Pembelajaran dan Asesmen
d. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
e. Perangkat Ajar (Modul P5, Modul Ajar, Buku Teks) f. Kurikulum Operasional Saruan Pendidikan (KOSP) g. Mekanisme Implementasi Kurikulum Merdeka h. Evaluasi Kurikulum pada Satuan Pendidikan
2. Lampiran 2 Pemenuhan beban kerja dan penaataan lineritas guru bersertifikat pendidik dalam implementasi pembelajaran kurikulum Merdeka
a. Beban Kerja Guru
b. Pemenuhan Beban Kerja pada Satuan Pendidikan
c. Penataan Linieritas Guru dalam Pembelajaran Kurikulum Merdeka
Hal ini ditambahkan beberapa tahapan-tahapan pelaksanaan untuk mempermudah dalam pelaksanaan dari merdeka belajar yang dilansir dari merdekabelajar.kemdikbud.go.id terdapat 26 episode kebijakan Merdeka Belajar yaitu:
Empat Pokok Kebijakan Media Belajar, Kampus Merdeka, Perubahan Mekanisme Dana BOS, Program Organisasi Penggerak, Guru Penggerak, Transformasi Dana Pemerintah Untuk Pendidikan Tinggi, Program Sekolah Penggerak, SMK Pusat Keunggulan, KIP
3 Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Indonesia.
Kuliah Merdeka, Perluasan Program Beasiswa LPDP, Kampus Merdeka Vokasi, Sekolah Aman Berbelanja dengan SIPLah, Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesiana, Kampus Merdeka dari Kekerasan Seksual, Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Belajar, Akselerasi dan Peningkatan Pendanaan PAUD dan Kesetaraan, Revitalisasi Bahasa Daerah, Merdeka Berbudaya dengan Dana Indonesiana, Rapor Pendidikan Indonesia, Praktisi Mengajar, Dana Abadi Perguruan Tinggi, Transformasi Seleksi Masuk Perguruan Tinggi, Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia, Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan, Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi.4
2. Dampak Munculnya Kebijakan a. Positif
1) Sebagai kurikulum Nasional
i. Memberikan harapan terhadap pemulihan pembelajaran peserta didik dengan mempertimbangkan kebermaknaan dalam pembelajaran dan keunikan setiap peserta didik
ii. Mendorong kualitas pendidikan dan fleksibel terhadap kebebasan dan keterbukaan diri sebagai institusi pendidikan yang dapat berperan serta berkontribusi riil demi kemaslahatan umat terutama di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0
iii. Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan kegiatan pembelajaran dan perangkat ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran, konteks satuan pendidikan, dan karakteristik peserta didik.
iv. Banyak keleluasaan yang diberikan dari kebijakan Merdeka belajar dalam mengelola dan menata hampir di setiap komponen dalam kurikulum merdeka.
2) Dari Sisi Pedagogis
4 Kemdikbud, “Episode Merdeka Belajar”, , https://merdekabelajar.kemdikbud.go.id/
Diakses tanggal 18 Oktober 2023
i. Penekanan dalam penguasaan teori belajar dan penerapanya lebih ditekankan dan dilaksanakan secara masif sesuai dengan prinsip pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat
ii. Penekanan dalam penguasaan teori belajar hampir mencakup semua lini dari madzhab psikologi belajar yakni behaviorisme, konstruktivisme, humanisme, kognitivisme
iii. Penguasaan teori perkembangan peserta didik, pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan iv. Dalam hal pengembangan kurikulum dan evaluasi pembelajaran guru
diberi lebih leluasa untuk menentukan kegiatan pembelajaran dan perangkat ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran, konteks satuan pendidikan, dan karakteristik peserta didik.
v. Satuan pendidikan dan pendidik memiliki keleluasaan untuk menentukan jenis, teknik, bentuk instrumen, dan waktu pelaksanaan asesmen berdasarkan karakteristik tujuan pembelajaran.
3) Dari Sisi Penilaian
i. Sistem dan penggunaan makna Ujian digeser menjadi asesmen, yang mana pada pelaksanaannya ujian seolah-olah menjadi hal yg terpisah atau bagian akhir dari proses pembelajaran dalam kurun tertentu selama setengah atau semester, sedangkan pemaknaan asesmen lebih menekankan pada analisis proses pembelajaran dan bagian tidak terpisahkan dalam pembelajaran ii. Asesmen ini menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang
didasarkan pada praktik terbaik tes PISA.
iii. Asesmen hasilnya diharapkan menjadi masukan bagi lembaga pendidikan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya sebelum peserta didik
menyelesaikan pendidikannya, berbeda dengan ujian lebih menilai dari kemampuan peserta didik.
iv. Adanya Rapor Pendidikan yang menjadi bagian dari program ini sangat membantu sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikannya.
v. Adanya asesmen di awal pembelajaran dapat dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, dan hasilnya digunakan untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan tahap capaian peserta didik
b. Negatif
1) Sebagai kurikulum Nasional
i. Kurikulum Prototype yang diujicobakan secara terbatas di sekolah-sekolah penggerak. Namun sampai sekarang belum ada evaluasi menyeluruh tentang keampuhan Kurikulum Merdeka untuk mengatasi learning loss.
tahapan uji coba juga secara terbatas belum menyeluruh, karena dimelihat pembelajaran berbasis proyek, dokumennya baru muncul setelah semester awal, sehingga di sekolah-sekolah penggerak, mereka belum memiliki panduan yang utuh dan lengkap untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka.
Bahkan hasil dari Kurikulum Merdeka ini belum ada, kecuali bahwa ada hasil dari survei persepsi yang dilakukan terhadap bapak ibu guru
ii. Belum matangnya panduan yang jelas, lengkap dan menyeluruh dari Merdeka belajar, akan tetapi penerapannya sudah digaungkan dan ditekankan secara masif dalam penerapannya di sekolah. Akhirnya banyak sekolah apalagi sekolah di daerah masih bingung dengan penerapannya
2) Dari Sisi Pedagogis
i. Terlalu luasanya Satuan Pendidikan dan Pendidikan dalam memilah dan memilih dalam menentukan kegiatan pembelajaran dan perangkat ajar menjadikan binguung dan terlihat tidak terarah, karena bagaimanapun pendidik atau bahkan satuan Pendidikan harus diberikan contoh dari masing-masing konteks yang ditawarkan sebelum memilihnya.
ii. pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar, semakin heterogennya kebutuhan belajar dari peserta didik maka semakin sulit dan banyak variasi yang harus dipersiapkan dari pendidik untuk mengakomodasinya
iii. Dalam Merdeka belajar pendidik ditunut memahami karakteristik dan perkembangan peserta didik yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan atau dikenal dengan istilah diferensiasi dari peserta didik, dalam prosesnya tahapan asesmen awal pembelajaran pendidik kesulitan memetakannya ditambah lagi pada tahap pelaksanaannya
3) Dari Sisi Penilaian
i. Dengan adnya pergeseran atau bahkan penghapusan Ujian Nasional menjadi Asesmen Nasional secara langsung, hal ini berpengaruh pada minat dan motivasi peserta didik secara umum, seperti mereka cenderung lebih meremehkan kegiatan pembelajaran karena sudah bisa dipastikan lulus
ii. Model penilaian Asesmen yang menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang tidak bertahap juga memberikan efek kejut kepada peserta didik, apalagi dengan berubahnya sistem seleksi masuk PTN dengan menggunakan literasi dan numerasi padahal proses pembiasaan masih belum berjalan secara maksimal
iii. Hasil Asesmen Nasional berupa rapor pendidikan diharapkan menjadi masukan bagi lembaga pendidikan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya sebelum peserta didik menyelesaikan pendidikannya juga masih berupa rekomendasi template dan secara umum padahal setiap satuan Pendidikan mempunyai karekteritik kebutuhan dan masalahnya masing-masing.
iv. Pelaksanaan asesmen awal pembelajaran dalam proses penerapannya juga terkendala pada kesiapan sekolah baik secara fasilitas, waktu, tenaga dan lain-lain apalagi bagi sekolah daerah
3. Analisis Kebijakan dan Solusi a. Kebijakan Nasional
1) Evaluasi Kurikulum 2013
Dari hasil kajian di Kemendikbudristek, disimpulkan bahwa Kurikulum 2013 terlalu luas dan terlalu banyak materinya serta muatannya juga berat, bahkan buku-buku teksnya banyak dan administrasinya berat. Jika konteksnya terletak pada muatan dan proses pelaksanaan serta sosialisasinya, kenapa solusinya harus menawarkan kurikulum alternatif, bukan menata kembali isi kurikulum, menata muatan materi dan kemudian menyederhanakan administrasi yang harus
dilakukan oleh pendidik 2) Uji coba Kurikulum Merdeka
Pelaksanaan Uji coba kurikulum Merdeka juga masih terbatas pada sekolah- sekolah penggerak, belum dievaluasi secara maksimal pelaksanaanya apalagi pemerataan uji cobanya ke sekolah-sekolah lain
3) Konsep tentang capaian pembelajaran di dalam kurikulum Merdeka
Kalau dilihat di dalam dokumen-dokumen ternyata tidak seragam. Ada yang memiliki isi, elemen, sub elemen dan capaian pembelajaran. Lalu yang lain hanya element saja, lalu capaian pembelajaran dan proses penjelasannya masih sangat rumit, muatannya sangat banyak. Yang dipertanyakan, sebenarnya
capaian pembelajaran ini yang disederhanakan apanya. Kalau misalkan di dalam Kurikulum Merdeka itu mereka menyatakan ada penyederhanaan. Kemudian dikatakan bahwa dalam K13 itu materinya terlalu berat. Ternyata setelah
dianalisis di dalam struktur isi kompetensi yang ada sekarang ini, tema-temanya dijadikan satu.
4) Konsep tentang fase pembelajaran
Ada kebingungan dilapangan terkait dengan fase-fase pembelajaran yang ada di dalam Kurikulum Merdeka. Karena dikatakan nantinya sudah tidak ada naik kelas lagi, yang ada naik fase. ini kan jelas membingungkan. Belum lagi konsep
fase ini tidak berlanjut sampai perguruan tinggi, padahal muara akhir dari fase pembelajaran adalah aktualisasi peserta didik Ketika sudah di bangku
perkuliahan sehingga perlu ada penyempurnaan 5) Kurikulum harusnya fokus pada pembelajaran
Kalau ada pada pembelajaran, maka ada di dalam penguatan guru melalui pelatihan dan pengembangan. faktanya pelatihan dan pengembangan guru hanya dilakukan disekolah-sekolah penggerak dengan mekanisme dan pembiayaan yang tinggi karena ada proses seleksi tadi di sekolah sekolah penggerak dan pelatihan-pelatihan secara intensif.
6) Adanya persoalan tunjangan sertifikasi guru
Ada beberapa sekolah seperti di Salatiga misalkan yang menjadi sekolah penggerak ternyata ketika mereka menerapkan model pembelajaran sekolah penggerak dengan adanya mata pelajaran peminatan, ada beberapa guru tidak mendapatkan siswa, tidak mendapatkan kelas sehingga jam mengajarnya di bawah 24 jam. Perlu adanya batas maksimal dan minimal dalam pengarahan pemilihan peminatan oleh siswa sehingga tidak berdampak signifikan pada jam mengajar guru
b. Pedagogis
1) Administrasi yang disederhanakan
Memang sejak awal Mas Nadiem mengatakan RPP yang disederhanakan. RPP satu lembar. tetapi disatu sisi, jika diperhatikan, Kurikulum Merdeka ini malah memberikan banyak pekerjaan baru bagi bapak-ibu guru yang menyita waktu dan energi, terutama dalam membuat pembelajaran berbasis proyek. Karena mereka harus membuat tim, membuat modul pembelajaran, mereka bertemu dan lain-lain. Ditambah lagi pergantian istilah dalam perangkat pembelajaran yang substansinya tidak menjadi administrasi guru lebih sederhana.
2) Pemilihan mata Pelajaran peminatan
Konsep pemilihan mata Pelajaran peminatan belum memiliki panduan yang jelas dari awal dan juga peminnatan dimulai dari kelas 11 atau awal fase F, perlu adanya sinkronisasi kebutuhan dan tujuan dari semua fase peminatan siswa jika
dilaksanakan hanya kurang dari 2 tahun menjadikan kurang maksimal belum lagi keberlanjutan fase tidak sampai pada jenjang berikutnya yakni Perguruan Tinggi
3) Pembelajaran berbasis proyek
Pembelajaran berbasis proyek yang diintegrasikan di dalam keseluruhan kurikulum ini mengandalkan adanya pelatihan-pelatihan dan penguatan- penguatan, karena itu tidak akan mudah bagi guru seandainya dia tidak pernah melakukan pelatihan yang disebut pembelajaran berbasis proyek. Jadi masalah pembelajaran berbasis proyek ini terkait dengan kesiapan guru, kesiapan sekolah. Sehingga perlu banyak bantuan pelatihan secara merata ke sekolah- sekolah
c. Penilaian
1) Konsep Asesmen Nasional
Penerapan konsep ini terlalu terburu-buru mempengaruhu kecenderungan siswa perlu ada tahap-tahap yg lebih jelas lagi dalam penerapan teknisnya 2) Rapor pendidikan
Rekomendasi yang diberikan masih berupa rekomendasi template dan secara umum padahal setiap satuan Pendidikan mempunyai karekteritik kebutuhan dan masalahnya masing-masing. Sehingga perlu ada pendampingan atau tim khusus dari dinas Pendidikan jikalau memang ini dianggap penting
3) Asesmen Awal Pembelajaran
Proses penerapannya juga terkendala pada kesiapan sekolah baik secara fasilitas, waktu, tenaga dan lain-lain apalagi bagi sekolah daerah. Perlu pendampingan serius dari dinas pendidikan
4. Rekomendasi
1) Dalam pengembangan program skala nasional alangkah baiknya perlu waktu dan analisis yang cukup sebelum benar-benar disahkan menjadi panduan nasional
2) Setiap program yang dibuat berdasar atas asas kepentingan Bersama tidak kepentingan sesaat atau kelompok
3) Perlu tim yang solid dan komprehensif terutama peru Tim Pengembangan Kurikulum di setiap sekolah untuk mendampingi keberlangsungan Lembaga Pendidikan
4) Perlu ada keberlanjutan program Pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai tinggi 5) Perlu ada eksplorasi lebih dalam dari setiap satuan Pendidikan tentang
pengembangan muatan lokal sebagai kearifan satuan Pendidikan
6) Perlu ada penyederhanaan alur pembelajaran yang bisa dilaksanakan di Lapangan, baik acuan minimal dan acuan maksimal
7) Perlu memaksimalkan asset kunci sumber daya manusia untuk mensukseskan program, sebelum ada pembaharuan yang kurang substansial dan hanya berdasar gengsi pemangku kebijakan.
BAB III PENUTUP Kesimpulan
1. Merdeka belajar menurut Mendikbud berangkat dari keinginan agar output pendidikan menghasilkan kualitas yang lebih baik dan tidak lagi menghasilkan siswa yang hanya jago menghafal namun juga memiliki kemampuan analisis yang tajam, penalaran serta pemahaman yang komprehensif dalam belajar untuk mengembangkan diri.
2. Pedoman penerapan Kurikulum Merdeka yang tertuang pada Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 262/M/2022 yang merupakan pembaharuan atau perubahan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.
3. Terdapat 26 episode kebijakan Merdeka Belajar yaitu: Empat Pokok Kebijakan Media Belajar, Kampus Merdeka, Perubahan Mekanisme Dana BOS, Program Organisasi Penggerak, Guru Penggerak, Transformasi Dana Pemerintah Untuk Pendidikan Tinggi, Program Sekolah Penggerak, SMK Pusat Keunggulan, KIP Kuliah Merdeka, Perluasan Program Beasiswa LPDP, Kampus Merdeka Vokasi, Sekolah Aman Berbelanja dengan SIPLah, Merdeka Berbudaya dengan Kanal Indonesiana, Kampus Merdeka dari Kekerasan Seksual, Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Belajar, Akselerasi dan Peningkatan Pendanaan PAUD dan Kesetaraan, Revitalisasi Bahasa Daerah, Merdeka Berbudaya dengan Dana Indonesiana, Rapor Pendidikan Indonesia, Praktisi Mengajar, Dana Abadi Perguruan Tinggi, Transformasi Seleksi Masuk Perguruan Tinggi, Buku Bacaan Bermutu untuk Literasi Indonesia, Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan, Transformasi Standar Nasional dan Akreditasi Pendidikan Tinggi.
4. Ada implikasi yang muncul baik positif dan negatif dari Kurikulum Merdeka baik sebagai Kurikulum Nasional, dari sisi pedagogis dan penilaian
5. Analisa Kebijakan Kurikulum Merdeka secara Kebijakan Nasional: Evaluasi Kurikulum 2013, Uji coba Kurikulum Merdeka, Konsep tentang capaian pembelajaran di dalam kurikulum Merdeka, Konsep tentang fase pembelajaran,
Kurikulum harusnya fokus pada pembelajaran, Adanya persoalan tunjangan sertifikasi guru
6. Analisis Kebijakan Kurikulum Merdeka secara Pedagogis: Administrasi yang disederhanakan, Pemilihan mata Pelajaran peminatan, Pembelajaran berbasis proyek
7. Analisis Kebijakan Kurikulum Merdeka dari sisi Penilaian Pendidikan: Konsep Asesmen Nasional, Rapor pendidikan, Asesmen Awal Pembelajaran
8. Rekomendasi dari analisis kebijakan ini yakni : Perlu waktu dan analisis yang cukup sebelum benar-benar disahkan menjadi panduan nasional, Setiap program yang dibuat berdasar atas asas kepentingan Bersama Perlu tim yang solid dan komprehensif terutama peru Tim Pengembangan Kurikulum di setiap sekolah untuk mendampingi keberlangsungan Lembaga Pendidikan, Perlu ada
keberlanjutan program Pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai tinggi, Perlu ada eksplorasi lebih dalam dari setiap satuan Pendidikan tentang pengembangan muatan lokal sebagai kearifan satuan Pendidikan, Perlu ada penyederhanaan alur pembelajaran yang bisa dilaksanakan di Lapangan, baik acuan minimal dan acuan maksimal, Perlu memaksimalkan asset kunci sumber daya manusia untuk mensukseskan program, sebelum ada pembaharuan yang kurang substansial dan hanya berdasar gengsi pemangku kebijakan.
DAFTAR RUJUKAN
Bashori, B. (2016). Manajemen Perubahan Kurikulum KTSP 2006 ke-Kurikulum 2013 di SMA Negeri 1 Kediri. Jurnal LPPM, 4(2), 94–106
Hamdi, S., Triatna, C., & Nurdin, N. (2022). Kurikulum merdeka dalam perspektif pedagogik. SAP (Susunan Artikel Pendidikan), 7(1), 10-17.
Kompasiana, “Analisis Kebijakan Merdeka Belajar”, Diakses tanggal 03 Oktober 2023 https://www.kompasiana.com/alvinabidin3710/628b3a131ee922487d0435d2/anali sis-kebijakan-merdeka-belajar
A. Jojor dan H. Sihotang, (2022). Analisis Kurikulum Merdeka dalam Mengatasi Learning Loss di Masa Pandemi Covid-19 (Analisis Studi Kasus Kebijakan Pendidikan),” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 4, no. 4, pp. 5150–5161, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022) Keputusan Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Indonesia.
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Keputusan Kepala Badan Standar,
Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka. Indonesia, 2022
Kemdikbud, “Episode Merdeka Belajar”, Diakses tanggal 18 Oktober 2023, https://merdekabelajar.kemdikbud.go.id/
M. Saleh. (2020). Merdeka Belajar di Tengah Pandemi Covid-19. Prosiding Seminar Nasional Hardiknas, 1, 51–56.