• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS MAKALAH K3 ALDI

N/A
N/A
Dayanu Arrofi

Academic year: 2025

Membagikan "TUGAS MAKALAH K3 ALDI"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA OPERATOR DI PT.

PELABUHAN INDONESIA (PERSERO) TERMINAL PETIKEMAS KENDARI TAHUN 2024

Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Dasar Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Dosen Pengampu : Ahmad Fauzi, SKM., MPH

Disusun oleh : Aldi Putra NPM: 24410015

PROGRAM STUDI

KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG

2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul "Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Kecelakaan Kerja pada Operator di PT. Pelabuhan Indonesia (PERSERO) Terminal Petikemas Kendari Tahun 2024" dengan lancar dan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan.

Penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi serta sebagai bentuk kontribusi akademik dalam upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, khususnya pada sektor industri pelabuhan. Kecelakaan kerja merupakan salah satu permasalahan serius dalam dunia kerja yang dapat berdampak buruk terhadap pekerja, perusahaan, maupun produktivitas kerja secara umum. Oleh karena itu, melalui penelitian ini, penulis berharap dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan kerja, sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi maupun perbaikan kebijakan dan sistem kerja ke depannya.

Dalam proses penyusunan karya ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, penyusunan karya tulis ini tidak akan dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak/Ibu Dosen Pembimbing, yang telah dengan sabar memberikan arahan, bimbingan, masukan, dan dukungan yang sangat berarti selama proses penyusunan karya tulis ini berlangsung.

2. Pimpinan dan seluruh staf PT. Pelabuhan Indonesia (PERSERO) Terminal Petikemas Kendari, yang telah memberikan izin serta bantuan dalam pengumpulan data dan informasi yang sangat dibutuhkan dalam penelitian ini.

3. Dosen-dosen dan staf akademik di lingkungan Universitas Malahayati, yang telah membekali penulis dengan ilmu dan pengetahuan yang menjadi dasar penyusunan karya ini.

(3)

4. Keluarga tercinta, yang selalu memberikan doa, dukungan moral, motivasi, serta semangat yang tidak ternilai selama masa studi dan proses penyusunan karya ilmiah ini.

5. Teman-teman seperjuangan dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, namun yang telah memberikan dukungan dalam berbagai bentuk baik langsung maupun tidak langsung.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis membuka diri terhadap segala bentuk saran dan kritik yang membangun demi perbaikan di masa mendatang. Besar harapan penulis, karya ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, peneliti lain, maupun pihak-pihak yang berkepentingan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Semoga karya ini dapat menjadi salah satu kontribusi kecil dalam upaya menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif.

Bandar Lampung, 12 Mei 2025

Penulis

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... iv

Abstrak... vi

Abstract...vii

BAB 1... 1

PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...3

C. Tinjauan Penelitian...3

1. Tujuan Umum...3

2. Tujuan Khusus...3

D. Manfaat Penelitian... 4

1. Manfaat Teoritis...4

2. Manfaat Praktis...4

BAB II... 5

TINJAUAN PUSTAKA... 5

A. Definisi Kecelakaan Kerja...5

B. Klasifikasi Jenis Kecelakaan Kerja... 5

C. Definisi Tentang Pengetahuan K3...5

D. Definisi Perilaku...6

E. Definisi Alat Pelindung Diri (APD)...6

F. Tinjauan Umum Tentang Pengawasan...7

BAB III... 8

METODE PENELITIAN...8

A. Jenis dan Desain Penelitian...8

B. Lokasi dan Waktu Penelitian...8

C. Subjek Penelitian...8

1. Populasi... 8

2. Sampel...9

3. Kriteria Inklusi... 9

4. Kriteria Eksklusi...9

D. Variabel Penelitian... 9

1. Variabel Bebas :...9

(5)

2. Variabel Terikat :... 10

E. Definisi Operasional...10

F. Proses Manajemen Risiko Mengacu pada ISO 31000...12

1. Penetapan Konteks (Establishing the Context)...12

2. Identifikasi Risiko (Risk Identification)...13

3. Analisis Risiko (Risk Analysis)...13

4. Evaluasi Risiko (Risk Evaluation)... 13

5. Pengendalian Risiko (Risk Treatment)...13

G. Teknik Pengumpulan Data... 14

H. Teknik Analisis Data... 14

I. Integrasi ISO 31000 dalam Konteks Organisasi...14

BAB IV...15

HASIL DAN PEMBAHASAN...15

A. Gambaran Umum Lokasi... 15

B. Hasil Penelitian...16

1. Analisis Univariat...16

2. Analisis Bivariat... 20

C. Pembahasan...24

1. Hubungan Pengetahuan K3 Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024...24

2. Hubungan Perilaku Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024...25

3. Hubungan Penggunaan APD Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024...25

4. Hubungan Pengawasan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024...26

BAB V... 28

PENUTUP... 28

A. Kesimpulan... 28

B. Saran... 28

REFERENSI...30

(6)

Abstrak

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan elemen penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif, serta sebagai langkah strategis untuk mencapai tujuan zero incident. Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh tindakan tidak aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition), di mana sekitar 85% di antaranya berkaitan dengan faktor manusia. PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari, sebagai perusahaan BUMN di bidang pelayanan kepelabuhan, mencatat 21 kasus kecelakaan kerja ringan dalam satu tahun terakhir yang melibatkan operator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada operator di perusahaan tersebut. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif dan metode total sampling sebanyak 49 responden. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test dengan bantuan perangkat lunak SPSS.

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan K3 (p=0,011), perilaku kerja (p=0,035), dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) (p=0,001) terhadap kecelakaan kerja. Namun, tidak ditemukan hubungan antara pengawasan kerja dan kecelakaan (p=1,000). Berdasarkan temuan ini, disarankan agar perusahaan meningkatkan pemahaman pekerja terkait K3, memberikan insentif sebagai bentuk motivasi, serta menerapkan sanksi disipliner untuk meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.

Kata Kunci: Kecelakaan Kerja, Pengetahuan K3, Perilaku, APD, Operator Pelabuhan.

(7)

Abstract

Occupational Safety and Health (OSH) is a crucial aspect of workplace activities aimed at creating a safe and comfortable working environment, ultimately supporting the organization's goal of achieving zero incidents and enhancing workplace effectiveness and productivity.

Workplace accidents are generally caused by unsafe actions and unsafe conditions, with approximately 85% attributed to unsafe human behavior. PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari, a state-owned enterprise specializing in container terminal services, recorded 21 minor accident cases involving operators over the past year. This study aims to identify the factors associated with work-related accidents among operators at the company. A quantitative approach with a cross-sectional design was used, involving a total sampling of 49 respondents. Data were analyzed using the Chi-Square test and Fisher’s Exact Test with the assistance of SPSS software. The results showed significant associations between OSH knowledge (p=0.011), work behavior (p=0.035), and the use of Personal Protective Equipment (PPE) (p=0.001) with work accidents. However, no significant association was found between supervision and accidents (p=1.000). Based on these findings, it is recommended that the company improve workers’ knowledge of OSH, provide rewards as motivation, and implement disciplinary measures to enhance compliance with safety procedures.

Keywords: Work Accidents, OSH Knowledge, Behavior, PPE, Port Operator.

(8)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam era globalisasi seperti saat ini perusahaan atau organisasi dituntut untuk dapat bersaing dengan perusahaan lain. Salah satu hal yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memaksimalkan sumber daya manusia yang dimliki oleh perusahaan. Karyawan berkewajiban untuk selalu berperan aktif dalam mewujudkan tujuan perusahaan dan organisasi. Oleh karena itu perusahaan harus dapat mengelola SDM dan dibentuk menjadi perencana, pelaksana, dan pengendali untuk mencapai tujuan suatu organisasi (Muliati & Budi, 2021).

Menurut Tarwaka (2014) Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) merupakan aspek dalam kegiatan di lingkungan kerja sebagai bentuk implementasi kerja aman dan nyaman untuk mencapai sebuah cita-cita organisasi yaitu zero incident sehingga mampu meningkatkan efekvititas dan produktivitas di tempat kerja. Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh dua hal yaitu tindakan tidak aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition). Dari data kecelakaan kerja memperkirakan bahwa 85% kecelakaan kerja terjadi akibat perilaku kerja tidak aman dan sebanyak 80-85% kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia (Bafadhal et al., 2022).

Pemerintah dalam upayanya melindungi keselamatan dan kesehatan kerja agar pihak perusahaan merealisasikan peraturan yang ditetapkan yaitu Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 mengenai sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Hal ini diharapkan akan menekan angka terjadinya kecelakaan kerja agar semakin rendah (Kadek et al., 2022).

Kecelakaan di negara-negara berkembang telah meningkat pesat karena adanya industri- industri sehingga banyak menimbulkan risiko bagi pekerja. Salah satunya Indonesia, banyak kejadian kecelakaan di lingkungan kerja yang menimbulkan kerugian baik bagi tenaga kerja maupun perusahaan. Contoh kerugian yang dialami pekerja yaitu cidera bahkan kematian, sementara kerugian yang dialami perusahaan ialah terganggunya proses produksi (Purnomo et al., 2022).

(9)
(10)

Menurut data International Labour Organization (ILO) menyebutkan bahwa pada tahun 2018 diperkirakan sebanyak 1,8 juta pekerja meninggal di kawasan Asia dan Pasifik tercatat 374 juta kejadian yang mengakibatkan cedera dan penyakit akibat kerja dan berdampak pada absensi kerja (Ismail, 2023).

Berdasarkan kasus data kecelakaan dari laporan Badan Pelaksanaan Jaminan Sosial (BPJS) ketenagakerjaan, di Indonesia angka kecelakaan kerja pada tahun 2017 angka kecelakaan dilaporkan meningkat pada tahun 2017, angka kecelakaan kerja yang dilaporkan sebanyak 123.041 kasus, sementara itu sepanjang tahun 2018 mencapai 173.105 kasus, bahkan setiap tahunnya BPJS melayani rata-rata sebanyak 130.000 kasus kecelakaan akibat kerja mulai dari kasus ringan sampai dengan kasus kecelakaan kerja yang fatal pada skala nasional (Monalisa et al., 2022).

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tenggara menyebutkan kasus kecelakaan yang telah terjadi di Sulawesi Tenggara pada tahun 2019 tercatat 256 orang, lalu tahun berikutnya yakni 2020 terjadi peningkatan yaitu sebanyak 494 orang, dan pada tahun 2021 pada bulan september tercatat sebanyak 517 orang (Hamiru, 2022).

Angka kecelakaan kerja di Kendari perlu menjadi perhatian khusus pemerintah menginat angka kecelakaan kerja yang masih tergolong tinggi. Hal tersebut akan menjadi masalah terkait keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu dipecahkan dengan segera. Menurut data BPJS ketenagakerjaan unit Kendari pada desember 2016 hingga Mei 2019 angka kecelakaan kerja dalam jangka waktu tersebut terjadi sebanyak 179 kasus kecelakaan kerja (Ratman et al., 2020).

Berdasarkan observasi awal penelitian dan wawancara langsung, dalam kurun waktu satu tahun terakhir terdapat kejadian kecelakaan yaitu sebanyak 21 kasus pada operator yang mengalami kejadian dengan klasifikasi tingkat ringan dan kejadian yang nyaris atau hampir terjadi (Nearmiss) di PT. Pelindo sebanyak 17 operator. Kemudian penanganaan setelah mengalami kejadian atau yang hampir terjadi, umumnya operator memilih lapor kepada pengawas, melakukan pengobatan secara mandiri, dan tidak jarang memilih bungkam untuk menyelesaikan kejadian pada proses kerja yang mereka alami.

Dari proses kerja tersebut, sampai saat ini didapatkan data dengan jenis-jenis kejadian kecelakan ringan yang dialami operator seperti terpeleset tangga RTG, tertabrak atau

(11)

tersenggol unit, terjepit, tertimpa benda jatuh, serta tergelincir di lintasan kerja. Faktor - faktor yang menjadi penyebab kecelakaan kerja yaitu unsafe action atau tindakan tidak aman yang sangat erat kaitannya dengan pengetahuan K3, perilaku pekerja yang kurang sesuai peraturan, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang belum sepenuhnya diterapkan, serta pengawasan dari pihak manajemen perusahaan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Apa faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Pelabuhan Indonesia (PERSERO) Terminal Petikemas Kendari.

C. Tinjauan Penelitian 1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan terjadinya kecelakaan kerja di PT. Pelabuhan Indonesia (PERSERO) Terminal Petikemas Kendari.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah :

A. Menganalisis hubungan pengetahuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Pelabuhan Indonesia (PERSERO) Terminal Petikemas Kendari.

B. Menganalisis hubungan masa kerja dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Pelabuhan Indonesia (PERSERO) Terminal Petikemas Kendari.

C. Menganalisis hubungan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan kejadian kecelakaan kerja di PT. Pelabuhan Indonesia (PERSERO) Terminal Petikemas Kendari.

(12)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), khususnya terkait faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja di lingkungan industri pelabuhan. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan upaya pencegahan kecelakaan kerja melalui peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pekerja terhadap K3.

2. Manfaat Praktis

Bagi Perusahaan (PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari) :

 Bagi Perusahaan (PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari):

Penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam meningkatkan sistem manajemen K3 di lingkungan kerja, serta sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan untuk menekan angka kecelakaan kerja. Hasil temuan juga dapat digunakan untuk memperkuat upaya edukasi K3, penerapan penggunaan APD, serta pengawasan terhadap perilaku kerja operator.

 Bagi Pekerja/Operator :

Penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan dalam meningkatkan sistem manajemen K3 di lingkungan kerja, serta sebagai dasar dalam penyusunan kebijakan untuk menekan angka kecelakaan kerja. Hasil temuan juga dapat digunakan untuk memperkuat upaya edukasi K3, penerapan penggunaan APD, serta pengawasan terhadap perilaku kerja operator.

 Bagi Instansi Pendidikan :

Penelitian ini dapat menjadi referensi bagi mahasiswa dan dosen dalam memahami penerapan K3 di dunia industri, serta sebagai bahan kajian atau pembelajaran dalam bidang kesehatan kerja dan keselamatan industri.

 Bagi Pemerintah dan Regulator :

Hasil penelitian ini dapat mendukung program pemerintah dalam meningkatkan keselamatan kerja, sekaligus memberikan gambaran nyata mengenai penerapan K3 di sektor pelabuhan sebagai masukan untuk kebijakan yang lebih tepat sasaran.

(13)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja merupakan kejadian yang tidak dikehendaki yang dapat mengakibatkan kerugian fisik, harta benda, atau kematian. Dari data global mengemukakan bahwa angka kematian kerja pertahun sebesar >2,78 juta orang, bahkan 2/3 kejadian ini terdapat di negara Asia. Menurut data ILO tahun 2018, lebih dari 1,8 juta kematian terjadi di kawasan Asia dan Pasifik yang terdata 374 juta menyebabkan cedera dan penyakit akibat kerja sehingga mengakibatkan absensi kerja (Handari & Qolbi, 2019).

B. Klasifikasi Jenis Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja dapat diklasifikasikan menjadi tiga , yaitu kecelakaan ringan, sedang, dan berat.

1. Kecelakaan kerja ringan, merupakan kecelakaan yang perlu penanganan pada hari itu dan dapat melanjutkan aktivitas pekerjaannya atau istirahat kurang dari 2 hari. Contoh kecelakaan ringan yaitu tergores, terpeleset, terjatuh, serta terkilir

2. Kecelakaan kerja sedang, merupakan kecelakaan kerja yang memerlukan pengobatan dan memerlukan waktu istirahat lebih dari 2 hari. Contoh kecelakaan sedang diantaranya luka bakar, luka robek, dan terjepit.

3. Kecelakaan kerja berat, merupakan kecelakaan yang dapat menimbulkan kerugian bagi harta benda ataupun nyawa seseorang. Kecelakaan kerja berat dapat berpotensi mengalami amputasi dan kegagalan fungsi tubuh. Salah satu contohnya yaitu patah tulang (Nugraha &

Yulia, 2019).

C. Definisi Tentang Pengetahuan K3

Pengetahuan merupakan hasil “tahu” yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, yaitu dengan menggunakan pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan biasanya diperoleh melalui indera pengelihatan dan

(14)

pendengaran. Pengetahuan sebagai dasar terbentuknya tindakan seseorang (Darsini et al., 2019).

Pengetahuan terhadap kecelakaan kerja merupakan antecedent atau pemicu internal seseorang untuk berperilaku yang berasal dari dalam diri individu tersebut. Pengetahuan adalah hal utama yang dibutuhkan untuk mengadopsi suatu perilaku seseorang karena salah satu unsur penyebab kecelakaan disebabkan dari faktor manusia yaitu kurangnya pengetahuan pekerja terhadap cara kerja yang aman, memahami peraturan, serta bahaya yang mengancam pekerja ketika melakukan aktivitas pekerjaan yang berujung pada kecelakaan kerja (Irlianti &

Dwiyanti, 2014).

D. Definisi Perilaku

Perilaku adalah sebuah tingkah laku atau reaksi orang-orang. Definisi ini mengemukakan bahwa perilaku cakupannya luasa dan diterapkan pada sebuah tindakan dan berhubungan dengan setiap individu maupun perilaku kelompok. Perilaku diaktulisasikan berdasarkan keinginan diri sendiri atau disebut dengan perilaku individu, sedangkan yang diaktualisasikan keinginan berkelompok adalah perilaku kelompok (Kudussamah, 2020).

E

. Definisi Alat Pelindung Diri (APD)

Alat pelindung diri (APD) adalah perlengkapan wajib yang harus dikenakan pada setiap aktivitas ketika melakukan pekerjaan untuk melindungi keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain disekitarnya. Bagi pekerja APD difungsikan agar melindungi semua atau sebagian tubuh dari peluang resiko kecelakaan kerja serta penyakit akibat kerja. Alat Pelindung Diri (APD) merupakan seperangkat perlengkapan yang membantu pekerja menghindari cedera dan penyakit akibat kerja (Aris et al., 2020).

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan alat penunjang keselamatan kerja pada tubuh pekerja yang disebabkan oleh aktivitas di tempat kerja yang berpotensi menyebabkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Dalam penggunaannya APD merupakan pilihan terakhir bagi pekerja yang terdapat pada hirarki pengendalian resiko dalam upaya menghindari kecelakaan kerja (Setiawan & Febriyanto, 2020).

(15)

F. Tinjauan Umum Tentang Pengawasan

Pengawasan dapat didefinisikan sebagai proses untuk menjamin tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai. Pengertian pengawasan menunjukan adanya hubungan antara perencanaan, karena suatu rencana tidak akan berjalan lancar tanpa adanya pengawasan didalam pelaksanaan. Pengawasan merupakan kegiatan membandingkan dan mengukur apa yang sudah dijalankan dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Didalam pengawasan terdapat suatu kriteria, norma dan standar (Rahmadianita, 2022).

Menurut Mc. Farland, Pengawasan artinya “controlling” yaitu suatu proses yang dilakukan pimpinan untuk mengetahui hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan bawahannya sesuai dengan rencana, perintah, tujuan dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Pengawasan merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya memastikan sebuah rencana berjalan lancar secara faktual atau nyata di lapangan.

(16)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari. Desain cross- sectional digunakan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat pada satu waktu yang sama.

Penelitian ini mengintegrasikan prinsip dan kerangka kerja manajemen risiko berdasarkan ISO 31000:2018 sebagai pedoman dalam identifikasi, analisis, evaluasi, dan pengendalian risiko kecelakaan kerja.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan April tahun 2024. Penelitian ini akan dilaksanakan di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari, yang beralamat di Jalan Pelabuhan Kontainer No. 02, RT 01/RW 01, Kelurahan Bungkutoko, Kecamatan Nambo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

C. Subjek Penelitian

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh operator yang bekerja di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari selama tahun 2024. Operator dalam konteks ini mencakup tenaga kerja yang secara langsung terlibat dalam operasional bongkar muat, pengangkutan, dan penanganan peti kemas di area pelabuhan. Jumlah populasi : 49 orang

(17)

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh anggota populasi, karena jumlahnya relatif kecil dan memungkinkan untuk dilakukan total sampling. Artinya, seluruh operator yang berjumlah 49 orang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini.

3. Kriteria Inklusi

 Operator aktif yang bekerja di area Terminal Petikemas Kendari.

 Bekerja minimal selama 6 bulan terakhir.

 Bersedia menjadi responden dalam penelitian dan menandatangani lembar persetujuan partisipasi (informed consent).

4. Kriteria Eksklusi

 Operator yang sedang cuti panjang atau tidak aktif saat waktu pengumpulan data.

 Responden yang tidak mengisi kuesioner dengan lengkap atau tidak bersedia mengikuti seluruh rangkaian penelitian.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas :

 Pengetahuan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

 Perilaku kerja.

 Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

 Pengawasan dari atasan atau supervisor.

2. Variabel Terikat :

 Kecelakaan kerja (yang terjadi dalam satu tahun terakhir).

(18)

E. Definisi Operasional

Definisi operasional bertujuan untuk menjelaskan secara rinci bagaimana setiap variabel dalam penelitian ini diukur atau dinilai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor seperti pengetahuan K3, perilaku kerja, penggunaan APD, dan pengawasan terhadap kejadian kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelindo Terminal Petikemas Kendari.

Variabel Definisi Operasional

Indikator Skala Cara Ukur

Pengetahuan K3

Tingkat pemahaman pekerja terhadap konsep dan penerapan Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (K3) dalam

aktivitas kerja sehari-hari.

- Mengetahui bahaya kerja

- Tahu cara penggunaan

APD

- Tahu prosedur tanggap darurat - Tahu SOP keselamatan kerja

Ordinal

(Baik/Cukup/Kurang)

Kuesioner pilihan ganda 10 butir

Perilaku kerja

Tindakan atau sikap pekerja saat

melakukan pekerjaan apakah sesuai atau tidak sesuai dengan prosedur keselamatan dan kesehatan

- Kepatuhan pada SOP

- Kesadaran terhadap risiko

- Proaktif terhadap keselamatan kerja

Ordinal

(Positif/Negatif)

Kuesioner 10

pernyataan skala Likert

(19)

kerja.

Penggunaan APD

Tingkat kepatuhan pekerja dalam menggunakan Alat

Pelindung Diri (APD) selama

melakukan pekerjaan sesuai dengan jenis dan fungsi APD yang

diwajibkan.

- Konsistensi penggunaan APD - Kesesuaian APD

dengan jenis

pekerjaan

- Pengetahuan fungsi APD

Nominal (Ya/Tidak) Kuesioner dan observasi checklist

Pengawasan Aktivitas pemantauan, pengarahan, dan

pembinaan dari atasan kepada

pekerja terkait penerapan keselamatan

kerja di

lapangan.

- Frekuensi supervisi - Teguran atas pelanggaran

- Monitoring SOP

Ordinal

(Baik/Cukup/Kurang)

Kuesioner dan

wawancara singkat

Kecelakaan kerja

Kejadian tidak diinginkan

- Jumlah insiden dalam 1 tahun - Jenis cedera

Nominal (Ya/Tidak) Data sekunder dari

(20)

yang terjadi saat

melakukan pekerjaan yang

menyebabkan cedera atau kerugian, meskipun bersifat ringan.

(ringan/sedang/berat) - Lokasi dan waktu kejadian

laporan internal PT.

Pelindo

F. Proses Manajemen Risiko Mengacu pada ISO 31000

ISO 31000 menggarisbawahi kerangka kerja manajemen risiko melalui 4 tahapan utama, yang diaplikasikan dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Penetapan Konteks (Establishing the Context)

 Konteks organisasi: PT. Pelindo Terminal Petikemas Kendari sebagai perusahaan BUMN di sektor pelabuhan yang memiliki potensi risiko kecelakaan kerja.

 Tujuan utama: Menciptakan lingkungan kerja aman (zero incident).

 Fokus risiko: Kecelakaan kerja pada operator petikemas akibat perilaku tidak aman dan kondisi tidak aman.

2. Identifikasi Risiko (Risk Identification)

 Mengidentifikasi risiko berdasarkan catatan kecelakaan kerja dalam satu tahun terakhir sebanyak 21 kasus.

 Risiko yang diidentifikasi meliputi kurangnya pengetahuan K3, perilaku tidak aman, tidak konsistennya penggunaan APD, dan lemahnya pengawasan.

(21)

3. Analisis Risiko (Risk Analysis)

 Menilai kemungkinan dan dampak dari faktor-faktor risiko terhadap terjadinya kecelakaan kerja menggunakan data yang dikumpulkan dari kuesioner.

 Analisis statistik dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variabel menggunakan uji chi-square dan Fisher’s exact test.

4. Evaluasi Risiko (Risk Evaluation)

Menginterpretasikan hasil uji statistik untuk menentukan tingkat signifikansi masing- masing faktor terhadap kecelakaan kerja.

 Hasil menunjukkan:

 Pengetahuan K3 (p = 0,011) → berhubungan signifikan

 Perilaku kerja (p = 0,035) → berhubungan signifikan

 Penggunaan APD (p = 0,001) → berhubungan signifikan

 Pengawasan (p = 1,000) → tidak berhubungan signifikan 5. Pengendalian Risiko (Risk Treatment)

 Memberikan rekomendasi berbasis bukti:

 Peningkatan edukasi K3 secara rutin.

 Penerapan sistem reward untuk motivasi pekerja agar mematuhi K3.

 Penerapan punishment sebagai tindakan disiplin terhadap pelanggaran K3.

 Evaluasi berkala terhadap penerapan penggunaan APD.

G. Teknik Pengumpulan Data

 Instrumen: Kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya.

 Jenis data: Data primer dikumpulkan langsung dari responden, serta data sekunder dari catatan kejadian kecelakaan kerja di perusahaan.

(22)

H. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS dengan prosedur sebagai berikut:

 Uji Chi-Square digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel kategori jika syarat minimal terpenuhi.

 Fisher’s Exact Test digunakan bila data tidak memenuhi asumsi uji chi-square (frekuensi sel terlalu kecil).

 Taraf signifikansi yang digunakan adalah 0,05 (5%). Nilai p < 0,05 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan.

I. Integrasi ISO 31000 dalam Konteks Organisasi

Penerapan ISO 31000 dalam penelitian ini diharapkan dapat:

 Membantu organisasi dalam mengelola risiko kecelakaan kerja secara sistematis dan berkelanjutan.

 Meningkatkan budaya keselamatan melalui pendekatan berbasis bukti dan mitigasi risiko.

 Mendukung pencapaian zero incident melalui intervensi terencana dan terukur terhadap faktor risiko.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi

PT. Pelabuhan Indonesia adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang jasa kepelabuhan, logistik, pengelolaan dan pengembangan pelabuhan.

PT. Pelabuhan Indonesia saat ini mengoperasikan kurang lebih 94 pelabuhan yang terletak di 34 provinsi di Indonesia.

(23)

PT. Pelabuhan Indonesia IV secara efektif telah bekerja sejak tanggal1 Desember 1992.

Namun, pendirian PT. Pelabuhan Indonesia ini tak lepas dari sejarah Indoensia dalam pengelolaan pelabuhan laut di Indonesia. Sebelum tahun 1983, pengelolaan pelabuhan laut dilaksanakan oleh delapan Badan Usaha yang berbentuk Perusahaan Negara yaitu PN Pelabuhan 1-PN Pelabuhan VIII. Namun sejalan dengan kebijakan tatanan pelabuhan nasional delapan badan usaha tersebut dimerjer menjadi empat Badan Usaha yang berstatus Perusahaan Umum (Perum) I-Perusahaan Umum (Perum) IV.

Perum pelabuhan IV merupakan hasdil merger PN Pelabuhan V, VI, VII, dan VIII.

Selanjutnya dilandasi oleh pertimbangan efisiensi dan efektivitas perusahaan Perum Pelabuhan VI beralih untuk menjadi Persero, sehingga menjadi PT> Pelabuhan Indonesia Persero IV.

Perjalanan panjang PT. Pelabuhan Indonesia IV telah dimulai sejak adanya nasionalisasi perusahaan pada jaman kolonial hingga perubahan status dari perusahaan jawatan menjadi Perum lalu akhirnya Persero.

Untuk mengelola kepelabuhan di Indonesia, dibentuk empat pelabuhan Indonesia yang terbagi berdasarkan wilayah yang berbeda. Merger atau integrasi keempat Pelindo tersebukemudia menjadi satu Pelindo yang kemudian diberi nama PT. Pelabuhan Indonesia.

Hal ini berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 101 Tahun 2021 tentang penggabungan PT.

Pelindo I, III, dan IV kedalam PT. Pelindo II. PT. Pelindo II berperan sebagai holding induk perusahaan (perusahaan induk) dan PT. Pelindo I, III, dan IV sebagai sub-holding perusahaan.

Pembentukan sub-holding untuk mengelola klaster-klaster usaha yang ditujukan untuk meningkatklan kapasitas pelayanan Pelindo dan efisiensi usaha.

Berdirinya PT, Pelabuhan Indonesia (Persero) sebagai perusahaan hasil integrasi adalah inisiatif strategis pemerintah selaku pemegang saham untuk mewujudkan konektivitas nasional dan jaringan ekosistem logistik yang lebih kuat. Konektivitas maritim baik keterhubungan antar pelabuhan-pelabuhan di dalam negeri maupun di luar negeri.

PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) IV cabang Kota Kendari terdiri atas empat wilayah kerja antara lain Terminal Bungkutoko, Terminal Petikemas Kota Kendari New Port, Terminal Nusantara, dan Terminal Pangkalan Perahu. PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) IV cabang Kota Kendari juga mengelola wilayah kerja di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bau-Bau dan lima kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) yang terdiri atas KUPP Molawe, KUPP Kolonodale, KUPP Kolaka, KUPP Pomalaa, dan KUPP Lapuko.

(24)

PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari dibangun dalam jangka waktu dua tahun, mulai tahun 2017 smpai 2019 dan mulai aktif beroperasi pada 15 November 2022. Hal tersebut yang menjadikan PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari termasuk dalam subholding dari PT. Pelabuhan Indonesia (Persero).

B. Hasil Penelitian

1. Analisis Univariat a. Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak terduga, tidak diharapkan, tidak direncanakan,, serta tidak diinginkan yang berpotensi mengganggu atau mempengaruhi keberlangsungan dari suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan luka atau kerusakan benda dan peralatan (Hamudya et al., 2022).

Kecelakaan kerja yang dimaksud mulai dari kecelakaan kerja ringan (terpeleset, tergores, tersandung) kecelakaan kerja sedang (terjepit, tertimpa benda, tertabrak, terjatuh), sedangkan kecelakaan kerja berat yaitu hingga meninggal dunia (fatality). Tabel distribusi kecelakaan kerja sebagai berikut:

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari Tahun 2024

No Kecelakaan Kerja Jumlah (n) Presentasi (%)

1 Mengalami 21 42,9%

2 Tidak Mengalami 28 57,1%

Total 49 100.0%

Sumber: Data Primer (Mei,2024)

Tabel 1 menunjukan hasil bahwa responden yang pernah mengalami kecelakaan kerja (kategori ringan) sebanyak 21 orang (42,9%), dan responden yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 28 orang (57%).

(25)

b. Pengetahuan K3

Pengetahuan adalah hal utama yang dibutuhkan untuk mengadopsi suatu perilaku seseorang karena salah satu unsur penyebab kecelakaan disebabkan dari faktor manusia yaitu kurangnya pengetahuan pekerja terhadap cara kerja yang aman, memahami peraturan, serta bahaya yang mengancam pekerja ketika melakukan aktivitas pekerjaan yang berujung pada kecelakaan kerja (Irlianti & Dwiyanti, 2014). Tabel distribusi pengetahuan K3 disajikan sebagai berikut:

Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan K3 Pada Operator Di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari Tahun 2024

No Kecelakaan Kerja Jumlah (n) Presentasi (%)

1 Cukup 32 65,3%

2 Kurang 17 34,7%

Total 49 100.0%

Sumber: Data Primer (Mei,2024)

Tabel 2 menunjukan hasil bahwa responden dengan pengetahuan K3 dengan kategori cukup sebanyak 32 orang (65,3%), dan responden dengan kategori kurang sebanyak 17 orang (34,7%).

c. Perilaku

Perilaku merupakan bentuk respon yang diterapkan oleh sebuah tindakan pada pekerja yang berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan akibat faktor tindakan tidak aman.

Distribusi perilaku disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari Tahun 2024

No Kecelakaan Kerja Jumlah (n) Presentasi (%)

(26)

1 Benar 26 53,1%

2 Salah 23 46,9%

Total 49 100.0%

Sumber: Data Primer (Mei,2024)

Tabel 3 menunjukan bahwa responden yang memiliki perilaku benar sebanyak 26 orang (53,1%) dan responden yang memiliki perilaku salah sebanyak 23 orang (46,9%).

d. Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri)

Alat Pelindung Diri (APD) yang dimaksud yaitu alat penunjang keselamatan kerja pada tubuh pekerja yang disebabkan oleh aktivitas di tempat kerja sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Setiawan & Febriyanto, 2020).

Distribusi penggunaan APD disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan APD Pada Operator Di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari Tahun 2024

No Kecelakaan Kerja Jumlah (n) Presentasi (%)

1 Menerapkan 36 73,5%

2 Tidak Menerapkan 13 26,5%

Total 49 100.0%

Sumber: Data Primer (Mei,2024)

Dari tabel 4 menunjukan bahwa operator yang menerapkan penggunaan APD di tempat kerja sebanyak 36 orang dengan persentase (73,5%), dan yang tidak menerapkan penggunaan APD sebanyak 13 orang dengan persentase (26,5%).

(27)

e. Pengawasan

Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan pihak perusahaan sebagai peranan meningkatkan nilai inti perusahaan khusunya pada aspek-aspek keselamatan dan kesehatan kerja untuk mencapai tujuan dan rencana yang telah ditetapkan. Distribusi yang disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Peengawasan Pada Operator Di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kendari Tahun 2024

No Kecelakaan Kerja Jumlah (n) Presentasi (%)

1 Baik 43 87,8%

2 Kurang Baik 6 12,2%

Total 49 100.0%

Sumber: Data Primer (Mei,2024)

Pada tabel 5 menunjukan bahwa operator dengan pengawasan sudah baik sebanyak 43 orang (87,8%), dan operator dengan pengawasan yang kurang baik sebanyak 6 orang (12,2%).

2. Analisis Bivariat

a. Hubungan Pengetahuan K3 Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Hasil analisis hubungan pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja pada operator di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024 yang diperoleh dari hasil uji chi-square dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 6. Distribusi Hubungan Pengetahuan K3 Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

(28)

Pengetahuan K3

Kecelakaan Kerja p-value

Mengalami Tidak Mengalami

Total

Cukup 9 23 32 65,3% 0,011

Kurang 12 5 17 34,7%

Total 21 28 49 100%

Sumber: Data Primer (Mei,2024).

Tabel 6 menunjukan hasil bahwa responden dengan pengetahuan K3 cukup yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 9 orang (18,4%), dan responden dengan pengetahuan K3 cukup yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 23 orang (46,9%). Maka total keseluruhan responden yang memiliki pengetahuan K3 cukup sebanyak 32 orang (65,3%).

Sedangkan responden dengan pengetahuan K3 kurang yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 12 (24,5%), dan responden dengan pengetahuan K3 kurang yang tidak mengalami kecelakaan sebanyak 5 (10,2%). Maka total keseluruhan responden yang memiliki pengetahuan K3 kurang sebanyak 17 (34,7%).

Berdasarkan analisis uji chi-square didapatkan bahwa nilai p – value <α (0,011), dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Peetikemas Kota Kendari Tahun 2024.

b. Hubungan Perilaku Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Hasil analisis hubungan perilaku K3 dengan kecelakaan kerja pada operator di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024 yang diperoleh dari hasil uji chi-square dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 7. Distribusi Hubungan Perilaku dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

(29)

Perilaku Kecelakaan Kerja p- value Mengalami Tidak

Mengalami

Total

n n n % 0,035

Benar 7 19 26 53,1

Salah 14 9 23 46,9

Total 21 28 49 %

Sumber: Data Primer (Mei,2024)

Tabel 7 menunjukan hasil bahwa responden dengan perilaku benar yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 7 orang (14,3%), dan responden dengan perilaku benar yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 19 orang (38,8%). Maka total keseluruhan responden yang memiliki perilaku benar sebanyak 26 orang (53,1%). Sedangkan responden dengan perilaku salah yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 14 (28,6%), dan responden dengan perilaku salah yang tidak mengalami kecelakaan sebanyak 9 (18,4%).

Maka total keseluruhan responden yang memiliki perilaku salah sebanyak 23 (46,9%).

Berdasarkan analisis uji chi-square didapatkan bahwa nilai p – value <α (0,035), dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Peetikemas Kota Kendari Tahun 2024.

c. Hubungan Penggunaan APD Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Hasil analisis hubungan penggunaan APD dengan kecelakaan kerja pada operator di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024 yang diperoleh dari hasil uji chi-square dapat dilihat pada tabel berikut:

(30)

Tabel 8. Distribusi Hubungan Penggunaan APD dengan Kecelakaan Kerja pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Perilaku Kecelakaan Kerja p- value

Mengalami Tidak Mengalami

Total

n n n % 0,001

Benar 10 26 36 73,5

Salah 11 2 13 26,5

Total 21 28 49 %

Sumber: Data Primer (Mei,2024)

Tabel 8 menunjukan hasil bahwa responden dengan penggunaan APD kriteria menerapkan yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 10 orang (20,4%), dan responden dengan penggunaan APD kriteria menerapkan yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 26 orang (53,1%). Maka total keseluruhan responden yang menerapkan penggunaan APD sebanyak 36 orang (73,5%). Sedangkan responden dengan penggunaan APD tidak menerapkan yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 11 orang (22,4%), dan responden dengan penggunaan APD kategori tidak menerapkan serta tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 2 orang (4,1%). Maka total keseluruhan responden yang tidak menerapkan penggunaan APD sebanyak 13 (26,5%).

Berdasarkan analisis uji chi-square didapatkan bahwa nilai p – value <α (0,001), dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Peetikemas Kota Kendari Tahun 2024.

(31)

d. Hubungan Pengawasan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Hasil analisis hubungan peengawasan dengan kecelakaan kerja pada operator di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024 yang diperoleh dari hasil uji chi-square dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 9. Distribusi Hubungan Pengawasan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Pengawasan Kecelakaan Kerja p-

value

Mengalami Tidak

Mengalami

Total

n n n % 1,000

Baik 18 25 43 87,8

Kurang Baik 3 3 6 12,2

Total 21 28 49 %

Sumber: Data Primer (Mei,2024).

Tabel 9 menunjukan hasil bahwa responden dengan pengawasan baik yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 18 orang (36,7%), dan responden dengan pengawasan baik yang tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 25 orang (51%). Maka total keseluruhan responden yang memiliki perilaku benar sebanyak 43 orang (87,8%). Sedangkan responden dengan pengawasan kurang baik yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 3 orang (6,1%), dan responden dengan pengawasan kurang baik serta tidak mengalami kecelakaan kerja sebanyak 3 orang (6,1%). Maka total keseluruhan responden yang memiliki pengawasan kurang baik sebanyak 6 (12,2%).

Berdasarkan analisis uji fisher’s exact test menunjukan bahwa nilai p – value < α (1,000), hasil tersebut disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pengawasan dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024.

(32)

C. Pembahasan

1. Hubungan Pengetahuan K3 Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Pengetahuan yaitu pemahaman seseorang terhadap suatu pekerjaan. Pekerja dapat membedakan dan mengetahui sumber bahaya apa saja yang ada di sekitar lingkungan kerja, serta pekerja dapat melakukan pekerjaan sesuai prosedur yang telah ditetapkan karena mereka menyadari resiko bahaya yang ditimbulkan serta dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan di tempat kerja (Ashari, 2019).

Berdasarkan hasil uji chi-square yang telah dilakukan antara pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja didapatkan nilai p- value = 0,004 artinya ada hubungan antara pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024.

Fakta di lapangan didapatkan faktor yang menjadikan pengetahuan K3 hal yang penting dalam mempengaruhi angka kecelakaan seperti pendidikan yang rata-rata sebagian besar operator merupakan lulusan SMA sederajat dan mengabaikan dasar-dasar K3 sesuai prosedur yang ditetapkan seperti safety briefing, melakukan P2H, mengisi lembar fit to work, komunikasi dua arah, melakukan safety induction, serta kurangnya kesadaran dalam menjunjung tinggi nilai inti (core value) yang telah ditetapkan perusahaan.

Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Eko Maulana (2019) menyatakan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian kecelakaan kerja yaitu variabel pengetahuan (p – value = 0,000). Hasil lain yaitu penelitian Siti Riptifah Tri Handari dan Meidisty Samrotul Qolbi (2019, hasil uji chi square didapatkan adanya hubungan antara variabel pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja yaitu (p – value = 0,003).

2. Hubungan Perilaku Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Perilaku dalam penelitian ini disebabkan karena faktor manusia yang merupakan aspek penting dalam keselamatan dan kesehatan kerja, khususnya ketika pekerja dengan perilaku tidak aman (unsafe action) menjadi penyebab tingginya angka kecelakaan di tempat kerja.

(33)

Hal tersebut disebabkan karena tingkah laku seperti tergesa-gesa, cenderung mengabaikan peraturan dan bahaya di sekitarnya (Harahap, 2021).

Hasil uji bivariat antara variabel perilaku dengan kecelakaan kerja menunjukan bahwa adanya hubungan antara keduanya dengan nilai p - Value = < fakta di lapangan, responden yang berperilaku salah karena kurangnya kesadaran dalam bekerja sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

Hal ini sejalan dengan penelitian Dea Herlin Prasetia Ningsih dan Widodo yaitu adanya hubungan antara perilaku dengan kecelakaan kerja yang mempunyai nilai p – value = 0,000. Penelitian lain yaitu pada penelitian Ani Anggraini dan Putri Handayani (2018), hasil uji chi square diperoleh nilai p – Value = 0,024 atau adanya hubungan antara perilaku dengan kecelakaan kerja.

3. Hubungan Penggunaan APD Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Penggunaan alat pelindung diri merupakan hal yang wajib dilakukan saat melakukan pekerjaan hal ini dikarenakan penggunaan alat pelindung diri dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja ditempat kerja. Berdasarkan hal tersebut pekerja yang baik harus mentaati peraturan yang telah disediakan. Pekerja juga harus memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk menindungi diri dan menghindari bahaya dan risiko ditempat kerja (Munthe, 2020)

Fakta di lapangan yang terdapat dalam penelitian ini dimana responden lebih banyak tidak menerapkan fungsi alat pelindung diri karena alasan kenyamanan, karena telah jelas peraturan perusahaan yang tertulis maupun tidak tertulis yang berguna untuk menekan angka kecelakaan kerja dalam hal pemakaian APD, pemeliharaan APD, hingga larangan melepas APD ketika bekerja.

Berdasarkan hasil uji chi square terdapat adanya hubungan antara penggunaan APD dengan kecelakaan kerja dimana nilai p – value = 0,000. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa lebih banyak responden yang tidak menerapkan penggunaan APD sehingga menyebabkan faktor terjadinya kecelakaan kerja.

(34)

Hasil penelitian Meelindah (2018) terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan APD dengan kecelakaan kerja yang memiliki nilai p – value = (0,011) dan hasil penelitian dari Munthe (2022) menunjukan adanya hubungan antara penggunaan APD dengan kecelakaan kerja dengan nilai p – value = 0,003.

4. Hubungan Pengawasan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024

Pengawasan adalah bentuk langkah dalam mendukung tercapainya tujuan yang telah direncanakan dan mengukur tercapainya prestasi kerja. Pengawasan juga berguna untuk memperbaiki dan mengoreksi sebuah sistem kegiatan untuk mencapai tujuan sesuai apa yang diharapkan (Tamaka et al, 2022).

Pengawasan artinya “controlling” yaitu suatu proses yang dilakukan pimpinan untuk mengetahui hasil pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan bawahannya sesuai dengan rencana, perintah, tujuan dengan kebijakan yang telah ditetapkan. Pengawasan merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam upaya memastikan sebuah rencana berjalan lancar secara faktual atau nyata di lapangan (Rahmadianita, 2022).

Hasil uji bivariat menggunakan fisher exact test menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara variabel pengawasan dengan kecelakaan kerja dimana nilai p – value = 1,000. Dari hasil jawaban tersebut diketahui bahwa responden dengan pengawasan baik memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan responden dengan pengawasan kurang baik.

Hasil ini sejalan dengan penelitian lain yaitu oleh Sylvia et al (2018) diperoleh bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengawasan dengan kecelakaan kerja tertusuk jarum suntik atau benda tajam lainnya dengan nilai p – value = 0,090.

(35)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024, dapat disimpulkan bahwa :

 Ada hubungan antara pengetahuan K3 dengan kecelakaan kerja pada operator di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024.

 Ada hubungan antara perilaku dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024.

 Ada hubungan antara penggunaan alat pelindung diri (APD) dengan kecelakaan kerja pada operator di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024.

 Tidak ada hubungan antara pengawasan dengan kecelakaan kerja pada operator di PT.

Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024.

B. Saran

Saran dalam penelitian yang berjudul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) Terminal Petikemas Kota Kendari Tahun 2024 yaitu sebagai berikut :

1. Bagi perusahaan

 Perusahaan akan lebih baik jika meningkatkan pengetahuan K3 pada pekerja guna menurunkan angka kecelakaan kerja.

 Memberikan reward sebagai motivasi agar pekerja senantiasa peduli akan keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain di tempat kerja.

 Melakukan punishment dalam rangka mendisiplinkan pekerja agar menjunjung tinggi nilai-nilai keselamatan dan kesehatan kerja terkhusus pada area tempat kerja.

(36)

2. Bagi pekerja

 Pekerja memiliki sifat aware atau peduli akan aspek-aspek keselamatan guna mencapai peningkatan produktivitas bersama.

 Berperan aktif sumbang saran dan masukan terkait keselamatan kerja kepada pihak perusahaan.

3. Bagi peneliti selanjutnya

 Agar penelitian lebih efektif dan akurat, kedepannya fapat mengembangkan variabel- variabel lain sehingga tidak terbatas hanya pada variabel penelitian ini.

(37)

REFERENSI

Aris, S., Hayati, R., & MF, A. (2020). Hubungan pengetahuan, sikap dan ketersediaan bahan APD dengan kepatuhan pemakaian APD pada petugas pengangkut sampah di Kecamatan Pelaihari tahun 2020. Jurnal Keperawatan, 15(2), 1-23.

Bafadhal, W. D., Hapis, A. A., & Kurniawati, E. (2022). Faktor yang berhubungan dengan perilaku aman pekerja sawmill Kelurahan Pasir Panjang Kota Jambi tahun 2022. Jurnal Dunia Kesmas, 11(3), 35-42. https://doi.org/10.33024/jdk.v11i3.8207

Ashari, G. N. (2019). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan kerja pada pekerja proyek pembangunan The Park Mall Sawangan di area mezzanine PT. PP Presisi TBK tahun 2019.

Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(4), 45-50.

Darsini, F., Fahrurrozi, & Cahyono, E. A. (2019). Pengetahuan: Artikel review. Jurnal Keperawatan, 12(1), 97-104.

Handari, S. R. T., & Qolbi, M. S. (2019). Faktor-faktor kejadian kecelakaan kerja pada pekerja ketinggian di PT. X tahun 2019. Jurnal Kesehatan dan Keselamatan Kerja, 8(3), 90 98.

Harahap, N. (2021). Faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pekerja bengkel mobil di Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara. Jurnal Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara, 7(3), 6-10.

Irlianti, A., & Dwiyanti, E. (2014). Analisis perilaku aman tenaga kerja menggunakan model perilaku ABC (Antecedent Behavior Consequence). The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health, 3(9), 1-6.

Ismail, A. G. (2023). Analisis penyebab kecelakaan kerja pada pekerja konstruksi di PT. Standar Beton Indonesia dengan pendekatan metode Behavior Based Safety. JUSTI (Jurnal Sistem dan Teknik https://doi.org/10.30587/justicb.v3i2.5228

Kadek, N., Murtiasih, A., & Wiryawan, W. G. (2022). Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) di PT PLN (PERSERO) UID Bali. Jurnal Hukum Mahasiswa, 2(02), 258-269.

https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/jhm/article/view/5533

Kementerian Tenaga Kerja. (1998). Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia 03/MEN.

Monalisa, U., Sibakir, & Listiawati, R. (2022). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku tidak aman pada pekerja service PT. Agung Automall cabang Jambi. Jurnal Inovasi Penelitian,

journal.id/JIP/article/view/1332

Muliati, L., & Budi, A. (2021). Pengaruh manajemen waktu, keselamatan kerja, dan kesehatan kerja terhadap kinerja karyawan PT PLN Area Cikokol Divisi Konstruksi. Dynamic Management Journal, 5(1), 38-47. https://doi.org/10.31000/dmj.v5i1.4102

Ningsih, D. H. P., Brontowiyono, W., & Abidin, A. U. (2018). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kecelakaan kerja pada manusia di home industry C-Maxi Alloycasting. DSpace UII, 1-25.

https://dspace.uii.ac.id/handle/123456789/12017

Nugraha, H., & Yulia, L. (2019). Analisis pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja dalam upaya meminimalkan kecelakaan kerja pada pegawai PT. Kereta Api Indonesia (Persero). Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia, 10(2), 93-102.

(38)

Ode Hamiru, L. (2022). Hubungan sikap dan komitmen pekerja dengan penerapan program K3 di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kendari. Jurnal Healthy Mandala Waluya, 1(2), 70-76.

https://doi.org/10.54883/jhmw.v1i2.70

Purnomo, A., Endaryanto, A., Priasmoro, D., Abdullah, A., Sarjana, F., & Ilmu Kesehatan. (2022).

Hubungan posisi perawat dalam melakukan pasien handling transferbed terhadap keluhan nyeri punggung bawah perawat di Rumah Sakit Reksa Waluya Mojokerto. Jurnal Keperawatan

Muhammadiyah, 7(2), 102-108.

Rahmadianita, A. (2022). Pengaruh pengawasan kerja terhadap produktivitas kerja karyawan pada PT.

Andalas Karya Mulia Pekanbaru. Skripsi Universitas Andalas, 1(1), 1-23.

Setiawan, A., & Febriyanto, K. (2020). Hubungan masa kerja dengan kepatuhan penggunaan APD pada pekerja di galangan kapal Samarinda. Borneo Student Research, 2(1), 433 439.

https://journals.umkt.ac.id/index.php/bsr/article/download/1711/698

Ratman, E., Karimuna, S. R., & Saptaputra, S. K. (2020). Gambaran tindakan tidak aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition) pada pekerja proyek kantor perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) di Kota Kendari tahun 2019. Jurnal Kesehatan dan Kerja Universitas

https://doi.org/10.37887/jk3-uho.v1i1.12615 Halu

Gambar

Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kecelakaan Kerja Pada Operator Di PT.
Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan K3 Pada Operator Di PT.
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Penggunaan APD Pada Operator Di PT.
Tabel 3 menunjukan bahwa responden yang memiliki perilaku benar sebanyak 26 orang (53,1%) dan responden yang memiliki perilaku salah sebanyak 23 orang (46,9%).
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan, masalah keamanan dan keselamatan kerja merupakan system penting yang harus menjadi perhatian utama semua pihak. Kerberhasilan

Makalah ini dilatar belakangi oleh pentingnya pengetahuan dan informasi mengenai memori, yang meliputi aspek-aspek penting dalam ingatan, bagaimana informasi masuk ke ingatan

Beberapa kasus menunjukkan adanya hambatan dalam perkembangan kemampuan berkomunikasi atau berbicara pada manusia terkait bahasa, yang salah satunya disebabkan oleh

Maccoby dan Martin (1983) menetapkan dua aspek penting dalam menganalisis perilaku Maccoby dan Martin (1983) menetapkan dua aspek penting dalam menganalisis

Pencahayaan merupakan suatu aspek lingkungan fisik yang penting bagi keselamatan kerja. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pencahayaan yang tepat dan sesuai

Sosialisasi keselamatan jalan raya di Kabupaten Indramayu disebabkan oleh faktor manusia seperti perilaku pengemudi yang

Selain faktor manusia, kondisi teknis kendaraan juga memainkan peran penting dalam keselamatan transportasi.Kendaraan yang tidak layak jalan atau tidak terawat dengan baik dapat

2.1.4 Jenis-Jenis Perilaku Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3 Setiap jenis keselamatan dan kesehatan kerja K3 berfokus pada pengendalian dan pencegahan bahaya spesifik, seperti