TUGAS MATA KULIAH PATOLOGI BIROKRASI A
Dosen: Maria Rosarie Harni Triastuti, S.IP.,M.Si.
PATOLOGI BIROKRASI KASUS KORUPSI e-KTP SETNOV Disususun Oleh:
Riko Bangun 6071901126
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN BANDUNG
2021
1. Deskripsikan dan jelaskan patologi birokrasi yang muncul dari kasus Anda (WHAT) Di Indonesia, korupsi menjadi salah satu permasalahan terbesar selain kemiskinan dan kesehatan. Korupsi juga seolah-olah telah menjadi budaya dalam struktur pemerintahan dan lingkup politik. Latar belakang mengapa korupsi seakan sudah membudaya di Indonesia sejatinya memiliki sejarah panjang dan belum mempu terpecahkan hingga saat ini.
Kasus korupsi proyek e-KTP telah ditangkap oleh KPK dalam kasus korupsi tersebut yang melibatkan mantan ketua DPR-RI Setya Novanto. Kasus ini berawal saat Kemendagri di tahun 2009 merencanakan mengajukan anggaran untuk penyelesaian Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAP), salah satu komponennya adalah Nomor Induk Kependudukan (NIK). Pemerintah pun menargetkan pembuatan e-KTP bisa selesai di tahun 2013. Proyek e-KTP sendiri merupakan program nasional dalam rangka memperbaiki sistem data kependudukan di Indonesia. Lelang e-KTP dimulai sejak tahun 2011, dan banyak bermasalah karena diindikasikan banyak terjadi penggelembungan dana. Kasus korupsi proyek e-KTP terendus akibat kicauan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD), Muhammad Narzaruddin. KPK kemudian mengungkap adanya kongkalingkong secara sistemik yang dilakukan oleh birokrat, wakil rakyat, pejabat BUMN, hingga pengusaha dalam proyek pengadaan e-KTP pada 2011-2012.
Akibat korupsi berjamaah ini, negara mengalami kerugian mencapai Rp 2,3 triliun.
DPR pun sempat dibuat heboh karena KPK selama menangani kasus ini, melakukan pemanggilan kepada puluhan anggota dewan maupun mantan anggota DPR RI. Nama- nama tokoh besar bahkan ikut dikaitkan. Dalam perkara pokok kasus korupsi e-KTP, ada 8 orang yang sudah diproses dan divonis bersalah. Mereka adalah Setya Novanto, dua mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri, Irman dan Sugiharto, pengusaha Made Oka Masagung dan mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi Cahyo (keponakan Novanto). Kemudian pengusaha Andi Naragong, Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo, dan mantan anggota DPR Markus Nari.
Setya Novanto berkali-kali tak hadir, dengan berbagai alasan. Mulai dari sakit hingga meminta KPK menunggu proses praperadilan selesai. Bahkan Novanto sempat mengirimkan surat ke KPK melalui Fadli Zon yang pada tahun 2017 menjabat sebagai Wakil Ketua DPR, agar menunda proses penyidikan terhadap dirinya sampai putusan praperadilan keluar. Surat yang dikirimkan Setya Novanto menuai protes karena dikirim menggunakan kop DPR. Permintaan Novanto juga ditolak KPK. Tanggal 15 November
2017, KPK melakukan penjemputan paksa ke rumah Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. KPK sempat dihalang-halangi untuk masuk ke dalam.
Keberadaan Novanto juga tidak diketahui. Sehari setelahnya, Setya Novanto dikabarkan mengalami kecelakaan dan dilarikan ke Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Pengacara Novanto, Fredrich Yunadi mengatakan, Novanto terburu-buru menuju ke studio salah satu stasiun televisi swasta untuk melangsungkan siaran langsung. Mobil yang ia tumpangi menabrak tiang.
Setelah melangsungkan siaran langsung, Novanto diklaim berencana mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi untuk memberikan keterangan. KPK pun kemudian mengeluarkan surat penahanan terhadap Setya Novanto pada tanggal 17 November 2017.
Tim KPK menjemput Setya Novanto di RS Medika Permata Hijau, kemudian membantarkannya di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, untuk menjalani perawatan karena mengalami luka-luka saat kecelakaan. Setya Novanto menjalani sidang perdana pada 13 Desember 2017. Di awal persidangan, Novanto sempat tidak mau berbicara sama sekali dan memperlihatkan selayaknya orang yang sedang dalam kondisi tidak sehat.
Namun dokter menyatakan, Novanto sehat dan bisa menjalani persidangan.
2. Siapa pelaku patologi birokrasi tersebut (terlibat) (WHO), kapan terjadinya (WHEN) dan di mana terjadinya kasus patologi tersebut (WHERE)
Salah satu kasus korupsi terbesar dalam sejarah Indonesia yang dilakukan oleh pejabat negara adalah kasus pengadaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau e-KTP yang didalangi oleh Setya Novanto, atau lebih akrab dengan panggilan Setnov. Pada tanggal 17 Juli 2017 Setya Novanto yang dalam periode tersebut sedang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua Umum DPR RI ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP. Pemerintah telah mengonfirmasi Setnov ditetapkan sebagai tersangka karena telah memiliki peran penting sebagai penentu untuk menguntungkan dirinya sendiri dan beberapa pejabat lain dengan merugikan keuangan negara yang berasal dari Anggaran Belanja dan Pendapatan Nasional (APBN) yang sudah ditetapkan untuk mendanai proyek pengadaan e-KTP sebesar Rp2,3 triliun dari total anggaran Rp5,9 triliun.
Dalam melakukan tindakan korupsi tersebut, tentunya Setnov tidak bekerja sendirian, ia dibantu oleh seorang pengusaha bernama Andi Agustinus alias Andi Narogong, yang juga diketahui sebagai orang yang memiliki hubungan dekat dengan Setnov. Andi Narogong merupakan seorang pengusaha yang memenangkan lelang untuk menjadi rekanan proyek dalam pengadaan e-KTP.
Pada Februari 2010, setelah rapat pembahasan anggaran, Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, Irman, dimintai sejumlah uang oleh Ketua Komisi II DPR, Burhanudin Napitupulu. Tujuannya, agar usulan anggaran yang diminta Kemendagri disetujui Komisi II DPR. Pertemuan berikutnya, Irman kembali menemui Burhanudin dan disepakati pemberian fee untuk anggota Komisi II akan diselesaikan oleh Andi Agustinus alias Andi Narogong, pengusaha yang biasa menjadi rekanan Kemendagri. Hal itu juga disepakati oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri Diah Anggraini. Andi dan Irman sepakat menemui Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR, Setya Novanto, untuk mendapatkan kepastian dukungan Golkar dalam penentuan anggaran e-KTP.
Novanto kemudian menyatakan dukungannya dan bersedia mengkoordinasikan pimpinan fraksi lainnya. Sebelum rapat dengar pendapat antara Komisi II DPR dan Kemendagri, Irman bertemu Diah dan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Selain itu, dengan anggota Komisi II Chaeruman Harahap, Ganjar Pranowo, Taufik Efendi, Teguh Juwarno, Ignatius Mulyono, Mustoko Weni dan Arief Wibowo. Hadir pula Muhammad Nazaruddin dan pengusaha Andi Narogong. Dalam pertemuan itu, Mustoko Weni menyampaikan bahwa Andi akan mengerjakan proyek e-KTP. Mustoko juga menjamin Andi akan memberikan sejumlah fee kepada anggota DPR dan pejabat di Kemendagri. Pada Juli-Agustus 2010, DPR mulai melakukan pembahasan R-APBN 2011, salah satunya anggaran proyek e-KTP. Andi berkali-kali melakukan pertemuan dengan beberapa anggota DPR RI, khusus nya Setya Novanto, Nazaruddin dan Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Anas Urbaningrum. Mereka dianggap representasi Partai Golkar dan Demokrat yang dapat mendorong Komisi II menyetujui anggaran e-KTP.
Setelah beberapa kali pertemuan, disepakati anggaran proyek e-KTP sebesar Rp 5,9 triliun. Guna merealisasikan fee kepada anggota DPR, Andi membuat kesepakatan dengan Novanto, Anas dan Nazaruddin tentang rencana penggunaan anggaran.
Disepakati, sebesar 51 persen dari total anggaran (Rp 2,662 triliun) akan digunakan untuk belanja modal atau belaja rill proyek. Sisanya 49 persen (Rp 2,5 triliun) akan dibagi-bagi dengan rincian:
1. Pejabat Kemendagri 7 persen 2. Anggota Komisi II DPR 5 persen 3. Setya Novanto dan Andi 11 persen 4. Anas dan Nazaruddin 11 persen
Sisanya 15 persen akan diberikan sebagai keuntungan pelaksana pekerjaan atau rekanan.
Dalam proses pengadaan barang, Sugiharto diangkat oleh Irman sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Pada pelaksanaan pengadaan, Sugiharto menetapkan dan menyetujui harga perkiraan sendiri (HPS) yang telah digelembungkan.
3. Carilah penyebab dari patologi birokrasi kasus Anda (WHY)
Korupsi yang dilakukan oleh setya novanto adalah korupsi yang sangat berat padahal setya novanto adalah ketua DPR harusnya beliau dapat memberikan contoh yang baik untuk bawahan nya. Dan juga korupsi serempak yang dilakukan oleh anggota DPRD kota Malang. Sebanyak 41 anggota DPRD Kota Malang yang harus berurusan dengan KPK dan hanya tersisa 5 orang yang tidak terkena kasus tersebut. Banyak sekali para pejabat – pejabat tinggi yang memiliki kedudukan dan kekuasaan yang tinggi mereka malah melakukan dan menggunakan kekuasaan nya untuk hal yang sangat tidak senonoh.
Padahal jika dilihat dari sisi ekonomi mereka adalah orang-orang yang mampu. Dengan gajinya pun sudah cukup untuk makan,minum hidup sehari-hari dengan keluarga, tetapi mereka malah melakukan perbuatan yang seperti itu yang dapat membawa dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kurangnya bersyukur atas nikmat, jabatan dan kekuasaan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka malah tidak menggunakan dengan baik. Jika menuruti kodrat manusia pasti rasanya kurang terus. Sudah memiliki jabatan dan harta yang melimpah masih kurang lagi dan akhir nya mengambil suatu keputusan dengan korupsi.
Itu merupakan keputusan yang sangat sangat salah karena disisi negara kita melanggar undang-undang negara yang berlaku kalau disisi agama pun itu juga berdosa, karena dengan korupsi kita makan uang haram dan di agama jika kita makan uang haram sama aja itu tidak berkah dan itu tidak baik. Lebih baik kita mensyukuri setiap apa yang diberikan tuhan pada kita jangan sampai salah dalam mengambil keputusan.
Terkadang pemerintah kurang adil dalam menyikapi hal seperti ini terkadang di anggap sebagai hal yang sepele. Padahal jika masalah ini dibiarkan akan menjadi masalah yang besar. Terkadang jika yang memiliki masalah adalah orang yang kurang mampu pasti akan di beri hukuman yang setimpal teatpi kalau yang terkena masalah adalah orang – orang besar? /pejabat pasti dibiarkan. Korupsi diibaratkan sebagai pernyakit manusia yang sulit diberantas. Jika tidak ada kesadaran dalam diri sendiri untuk tidak lagi mengulangi tindakan korupsi itu tidak bisa harus meliki kesadaran diri terlebih dahulu setelah itu mendekat kan diri memperkuat iman nya agar tidak tergoda untuk korupsi.
Sebaiknya bergaul dengan orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat dan sikap yang jujur sehingga tidak mempengaruhi untuk melakukan kesalahan tersebut.
Terkadang para pejabat memandang remeh suatu hukuman atau pun penjara karena didalam penjara pun kadang disediakan fasilitas yang enak seperti di hotel sehingga mereka enjoy – enjoy saja. Padahal itu adalah suatu hukuman tetapi jika fasilitas penjara seperti itu maka para pejabat akan biasa – biasa saja bahkan tidak takut dan menggulangi lagi kesalahan nya dan tidak ada jera nya. Seharusnya hukuman yang diberikan harus sesuai dengan undang – undang yang berlaku dan faasilitas penjara pun harus sesuai jangan ada perbedaan. Jika yang terkena masalah adalah orang yang kaya atau pejabat fasilitas penjara nya seperti hotel tetapi kalua yang terkena masalah adalah orang biasa maka fasilitas penjara tidak baik bahkan tidak layak atau tidak diperhatikan. Harusnya sebagai pihak hukum harus adil dalam hal itu. Karena setiap orang yang bersalah atau melanggar hukum itu wajib dihukum sesuai dengan undang – undang tanpa memandang bulu.
4. Berdasarkan Siagian (1994) penyebab tersebut (no 3) termasuk dalam kategori/kelompok patologi yang manakah?
1. Patologi karena Persepsi, Perilaku dan Gaya Manajerial
a. Tidak adil, karena SETNOV melakukan korupsi karena ingin merasakan kepuasan dalam diri sendiri tidak memikirkan pada masyarakat yang lebih membutuhkan.
b. Bertindak diluar wewenangnya, ini sudah pasti karena korupsi sangat dilarang apa lagi para pejabat yang bertanggung jawab kepada masyarakat.
c. Kurangnya komitmen, akibat kurangnya komitmen dan prinsip untuk melakukan hal yang baik pasti akan selalu melakukan hal-hal yang tidak baik.
d. Tindakan yang tidak rasional, Akibat korupsi berjamaah ini, negara mengalami kerugian mencapai Rp 2,3 triliun. Kalau dipikir-pikir itu bisa membantu banyak masyarakat yang sangat membutuhkan.
4. Patologi Sebagai Manifestasi Disfungsi Perilaku a. Bertindak Sewenang-wenang
b. Tidak Sopan c. Tidak Displin
d. Tidak Peduli Kualitas Kinerja e. Tanggung Jawab yang Rendah f. Tidak Profesional
5. Bagaimana patologi birokrasi kasus Anda dapat terjadi dalam institusi/lembaga pemerintah, jelaskan (HOW)
Korupsi dimulai setelah rapat pembahasan anggaran pada Februari 2010. Saat itu, Irman yang masih menjabat sebagai Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kemendagri dimintai sejumlah uang oleh Ketua Komisi II DPR Burhanudin Napitupulu.
Permintaan uang itu bertujuan agar usulan anggaran proyek e-KTP yang diajukan Kemendagri disetujui Komisi II DPR. Proyek e-KTP ini memang dibahas di Komisi II DPR, sebagai mitra dari Kemendagri. Irman kemudian menyetujui permintaan tersebut, dan menyatakan pemberian fee kepada anggota DPR akan diselesaikan oleh Andi Agustinus alias Andi Narogong. Irman sendiri bekerja sama dengan Andi Narogong agar perusahaan Andi dimenangkan dalam tender proyek e-KTP.
Andi dan Irman kemudian meminta bantuan kepada Setya Novanto yang saat itu menjabat sebagai Ketua Fraksi Golkar. Mereka berharap agar Novanto dapat mendukung dalam penentuan anggaran proyek ini. Novanto pun menyatakan akan mengoordinasikan dengan pimpinan fraksi yang lain agar memuluskan pembahasan anggaran proyek e-KTP di Komisi II DPR. Beberapa nama disebut-sebut ikut dalam sejumlah pertemuan untuk membahas anggaran proyek e-KTP, termasuk Nazaruddin dan Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR kala itu, Anas Urbaningrum. Dari beberapa kali pertemuan, disepakati anggaran proyek e-KTP sebesar Rp 5, 9 triliun.
Sebanyak 51 persen dari total anggaran yaitu Rp 2,662 triliun akan digunakan untuk belanja modal atau belanja rill proyek, dan sisanya 49 persen yakni Rp 2,5 triliun akan menjadi bancakan. Rincian uang korupsi tersebut dibagi kepada pejabat Kemendagri sebesar 7 persen (Rp 365,4 miliar), anggota Komisi II DPR 5 persen (Rp 261 miliar), Setya Novanto dan Andi Narogong 11 persen (574,2 miliar), Anas dan Nazaruddin 11 persen (Rp 574,2 miliar), serta sisa 15 persen (783 miliar( akan diberikan sebagai keuntungan pelaksana pekerjaan atau rekanan.
Dalam proses pengadaan barang, Sugiharto diangkat oleh Irman sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Pada pelaksanaan pengadaan, Sugiharto menetapkan dan menyetujui harga perkiraan sendiri (HPS) yang telah digelembungkan. Sejumlah pihak membentuk konsorsium dalam pengerjaan proyek ini. Isinya mulai dari pejabat Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI), dan perwakilan vendor-vendor (PT Sucofindo, PT LEN, PT Quadra Solution, dan PT Sandipala Arthaputra). PNRI disepakati menjadi pemimpin konsorsium. Hal itu agar mudah diatur karena konsorsium ini dipersiapkan sebagai pemenang lelang pekerjaan e-KTP. Nama Setya Novanto sejak
awal memang sudah disebut-sebut terlibat dalam kasus korupsi e-KTP. Namun keterlibatan mantan Ketua Umum Golkar itu semakin kuat setelah namanya disebut dalam sidang perdana kasus tersebut dengan Sugiharto dan Irman yang duduk sebagai terdakwa.
Dalam dakwaan yang dibacakan jaksa KPK di Pengadilan Tipikor, Kamis (9/3/2017), Novanto disebut memiliki peran dalam mengatur besaran anggaran e-KTP yang mencapai Rp 5,9 triliun itu. Novanto sempat membantah dan mengelak. Ia bahkan mengajukan praperadilan atas penetapan statusnya sebagai tersangka. Sempat memenangkan praperadilan, akhirnya Novanto kembali ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dan terus berproses hingga divonis bersalah. Pada September 2017, KPK memanggil Novanto untuk diperiksa sebagai tersangka. Saat itu, Novanto sudah menjadi Ketua DPR RI.
6. Gambarkan dalam bentuk diagram alur pemikiran identifikasi kasus Anda
KORUPSI e-KTP
Korupsi menjadi salah satu permasalahan terbesar
selain kemiskinan dan kesehatan. Korupsi juga seolah-olah telah menjadi
budaya dalam struktur pemerintahan dan lingkup
politik.
Salah satu kasus korupsi terbesar dalam sejarah Indonesia yang dilakukan oleh pejabat negara adalah
kasus pengadaan Kartu Tanda Penduduk Elektronik
atau e-KTP
Setiap orang yang bersalah atau melanggar hukum itu wajib dihukum sesuai dengan undang –undang tanpa memandang bulu.
Ketua DPR harusnya dapat memberikan contoh yang baik untuk bawahan nya.
Kurangnya bersyukur atas nikmat, jabatan dan kekuasaan yang diberikan
oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Negara mengalami kerugian mencapai Rp 2,3
triliun.
Daftar Refrensi
https://nasional.kompas.com/read/2022/02/04/12351421/awal-mula-kasus-korupsi-e- ktp-yang-sempat-hebohkan-dpr-hingga-seret-setya?page=all
https://vik.kompas.com/korupsi-e-ktp/
Gabrillin, A. (2017, Agustus 14). Mengenal Andi Narogong, Pelaku Utama di Balik Skandal Korupsi E-KTP.
Retrieved from Kompas:
https://nasional.kompas.com/read/2017/08/14/09073551/mengenal-andi-narogong- pelaku-utama-di-balik-skandal-korupsi-e-ktp?page=all
Haris Fadhil, R. A. (2017, Maret 9). Ini Alur Pembahasan Anggaran Proyek e-KTP di DPR. Retrieved from Detik News:
https://news.detik.com/berita/d-3442248/ini-alur-pembahasan-anggaran-proyek-e-ktp- di-dpr
Kasus Korupsi Terbesar di Indonesia dengan Kerugian Negara Fantastis. Retrieved from Suara.com:
https://www.suara.com/news/2019/02/11/163457/5-kasus-korupsi-terbesar-di- indonesia-dengan-kerugian-negara-
fantastis?page=all#:~:text=Kasus%20pengadaan%20E%2DKTP%20menjadi,mencap ai%20Rp%202%2C3%20triliun.
https://www.kompasiana.com/ahmadlutfiabdillah/57f79b24127f616116b9f400/faktor- internal-dan-eksternal-penyebab-korupsi