Tugas Mata Kuliah Pranata Pembangunan ( 01 Juni 2023 ) Dosen : Ir. Puguh Harijono, MM, IAI
Nama : Rahardyan Anindito Putra Nim : 152012221007
1. Apa yang dimaksud dengan pasal 26 ayat (3) UU No. 6/2017 bahwa : organisasi profesi (dalam hal ini Ikatan Arsitek Indonesia) harus bersifat mandiri dan independen ? Mengapa tidak diperlakukan sama dengan LPJK oleh pemerintah ?
Jawaban :
Berdasarkan pasal 26 ayat (3) UU No. 6 Tahun 2017, dinyatakan bahwa Ikatan Arsitek Indonesia/IAI, selaku organisasi profesi, bersifat independen dan mandiri karena dibentuk oleh persatuan arsitek professional dan bertujuan untuk melakukan penyelenggaraan keprofesian arsitek yang bersifat objektif dan netral dalam membantu pemerintah pusat, serta tetap mempertahankan kualitas dan profesionalitas sesuai dengan kode etik arsitek.
Sedangkan LPJK adalah organisasi yang dibawahi serta bertanggung jawab terhadap kepada Menteri, sehingga pemerintah memiliki kewenangan untuk mengatur. Karena kedua hal inilah, maka IAI tidak dapat disamakan dengan LPJK.
2. Apa dampak yang terjadi bila lisensi hanya berlaku pada provinsi tempat diterbitkan sebagaimana disebutkan pada pasal 39 ayat (5) PP No. 15/2021? Apa harapan kita pada Arsitek Indonesia setelah lisensi telah bisa diterbitkan di setiap provinsi ?
Jawaban :
Dengan adanya lisensi yang hanya berlaku sesuai dengan daerahnya, maka dapat terjadinya praktek pinjam meminjam lisensi antar arsitek. Praktek tersebut memberikan dampak negative dan juga positif. Dampak negativenya antara lain dapat terjadinya kelalaian terhadap pemantauan/pengawasan proyek tersebut sehingga dapat merugikan arsitek yang meminjamkan lisensinya. Sedangkan hal positifnya adalah dapat terjalinnya kolaborasi antara arsitek antar daerah/wilayah dalam mewujudkan peran pembangunan pada daerah. Harapan saya bila dapat diterbitkan di setiap provinsi antara lain mengurangi kesenjangan antar arsitek dalam pembagian proyek, meminimalisir praktik pinjam meminjam lisensi antar arsitek sebab dalam realitanya lebih dominan dampak negativenya.
3. Sebutkan secara garis besar permasalahan yang umumnya di hadapi para pelaku di dalam proses penyelenggaraan konstruksi ! Bagaimana upaya mereduksi permasalahan tersebut ?
Jawaban :
a. Permasalahan :
Adanya perubahan yang mendadak/keterbatasan waktu akibat permintaan dari pemilik proyek/owner.
Upaya untuk mereduksinya :
Sebelum pekerjaan dimulai, perlu dibuat dokumen kontrak antara pihak pertama dan pihak kedua sehingga dapat meminimalisir kerugian terutama pada pihak kedua.
Perlunya Pihak pertama untuk membuatkan SPK untuk acuan pihak kedua dalam memulai pekerjaan.
b. Permasalahan :
Adanya kesalahan pada dokumen teknis yang tidak sesuai dengan lapangan.
Upaya untuk mereduksinya :
Koordinasi terhadap bagian lapangan/MK/Supervisor dengan pihak perencanaan/Estimator dalam menentukan jenis material/spek maupun kondisi dilapangan.
c. Permasalahan :
Keterbatasan komunikasi/koordinasi antara kontraktor dengan konsultan perencana terhadap permasalahan yang ada di lapangan.
Upaya untuk mereduksinya :
Menghire/meminta konsultan pengawas/Mk sebagai penengah proyek antara kontraktor dan konsultan pengawas, sehingga dapat mengetahui lingkup pekerjaan masing – masing.
4. Buatlah tulisan tentang pranata pembangunan terkait hubungan antar lembaga di dalam penyelenggaraan konstruksi! Berikan contoh kasus untuk tulisan tersebut di atas!
Jawaban :
Pada proyek pembangunan rumah mewah di suatu developer, dalam proyek tersebut, pelaku yang terlibat antara lain pemilik proyek sebagai owner yang mendanai, arsitek sebagai perancang dan yang mengusulkan, serta kontraktor sebagai pelaksana yang mengeksekusi lapangan.
Owner/pemilik proyek bertugas sebagai yang mendanai dan mengusulkan konsep pada bangunan yang akan dimilikinya.
Arsitek bertugas untuk membuat usulan rancangan desain yang telah di setujui oleh owner,
sedangkan kontraktor bertugas sebagai eksekutor yang membangun bangunan yang telah di buat berdasarkan gambar kerja, spesifikasi dan volume yang telah di buat dan disetujui oleh arsitek dan owner.