• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS MATA KULIAH TEKNOLOGI BAHAN BANGUNAN

N/A
N/A
LAKSAMANA PUTRA (LAKSAMANA)

Academic year: 2024

Membagikan "TUGAS MATA KULIAH TEKNOLOGI BAHAN BANGUNAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH

TEKNOLOGI BAHAN BANGUNAN

Disusun Guna Memenuhi Tugas Teknologi Bahan Bangunan Dosen Pengampu :

Ir. Johannes Van Rate MT

Disusun Oleh :

LAKSAMANA PUTRA MARBANGUN 210211020030

Program Studi Sarjana Arsitektur Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado 2022

(2)

ANALISA KERUSAKAN PADA BAHAN BANGUNAN RITA SUPER MALL

Lokasi Survey : Rita Super Mall, Jl. Kolonel Sugiono Tegal, Jawa Tengah Fungsi Bangunan : Pusat perbelanjaan dan hiburan warga Kota Tegal, Kab. Brebes, Kab. Slawi dan sekitarnya

Tipe Konstruksi : -

Dokumentasi Objek Survey :

Tampak Samping Kiri

Tampak Samping Kanan

Tampak Depan

(3)

Tampak Belakang

Bahan Bangunan Yang Digunakan Batu Bata

Batu bata SNI 15-2094- 2000 merupakan suatu unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga tidak dapat hancur lagi apabila direndam dalam air

Semen

Semen adalah zat yang umum digunakan untuk bahan perekat batu, bata, batako, maupun bahan bangunan lainnya. Campuran bahan bangunan ini yang nantinya akan membentuk dindig beton atau tembok bangunan

(4)

Besi Cor Beton

Besi cor beton adalah besi yang biasa digunakan dalam pembuatan konstruksi beton, seperti pada kolom, balok, atau dak. SNI 07-2050-2002, panjang baja tulangan beton ditetapkan hanya sebesar 6 m, 9 m, dan 12 m. Hal ini merevisi pernyataan pada SII 0136-84 yang menyatakan bahwa baja tulangan beton juga memiliki ukuran 3 m. Toleransi panjang baja tulangan beton ditetapkan minus 0 mm (-0 mm) plus 70 mm (+ 70 mm). Dengan kata lain, toleransi ukuran panjang baja tulangan tidak boleh melebihi 7 cm. Sehingga jika besi ini memiliki panjang 12 meter, maka minimum panjang besi beton tersebut haruslah 11.93 meter

Keramik Lantai

SNI ISO 13006:2010. Pasal 3.1 ubin keramik lempeng tipis yang dibuat dari lempung/tanah liat dan atau material anorganik lain, biasanya digunakan untuk melapisi dinding dan lantai, pada umumnya dibentuk dengan cara ekstrusi (A) atau dipress/ditekan (B) pada suhu ruang, tetapi dapat juga dibentuk dengan proses lain (C), kemudian dikeringkan dan sesudah itu dibakar pada suhu yang cukup untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan; ubin dapat diglasir (GL) atau tanpa glasir (UGL), tidak mudah terbakar dan tidak dipengaruhi cahaya

(5)

Gypsum Board

SNI 03-6384-2000. Bahan dan pembuatan antara lain:

a) Panel atau papan gypsum harus terdiri dari bagian inti yang tidak dapat terbakar, terutama panel gypsum yang dilapis kertas pelapis yang melekat pada inti.

b) Bagian belakang panel atau papan gipsum yang berlapis kertas pelapis harus dilapisi lagi dengan kertas aluminium.

Papan Triplek

SNI 01-5008.7-1999, kayu lapis struktural adalah kayu lapis yang terdiri dari susunan venir yang dibuat khusus untuk digunakan sebagai penahan atau pemikul beban dari suatu kontruksi. Dalam SNI 01-5008.7-1999 juga dijelaskan beberapa hal menyangkut kayu lapis struktural seperti berikut :

a. Syarat bahan baku

Jenis kayu yang dapat digunakan untuk pembu atan kayu lapis struktural adalah jenis-jenis kayu yang berat jenis (BJ) nya lebih dari 0,4.

b. Syarat mutu penampilan

 Syarat Umum

Tidak diperkenankan adanya delaminasi, lapuk dan serangan aktif organisme perusak kayu.

(6)

 Kadar Air

Kadar air kayu lapis struktural tidak diperkenankan lebih dari 14%.

 Mutu Keteknikan

Mutu keteknikan kayu lapis struktural harus diuji dengan dua cara yaitu uji lapangan dan uji laboratories.

Besi Hollow Galvalume

SNI 4096:2007 Galvalume merupakan sebutan untuk Zinc-Alume yang pelapisannya mengandung unsur Alume ( Aluminium ) dan Zinc ( besi ). Untuk bahan Galvalume yang paling baik terdiri dari unsur coatingnya 55% Aluminium, unsur besi 43,5% dan unsur lapisan silicon 1,5%.

FAILURE MODES AND EFFECT ANALYSIS Bahan

Bangungan

Mode of failure

Cause of failure

Effect of failure

SNI

Batu Bata Mudah menyerap panas dan dingin

tidak memperhatikan

penggunaan alas bahan diatas bata

membuat campuran bata

lebih cepat retak

Merujuk pada SNI 15-2094-2000, bata merah memiliki proporsi ideal Panjang = 19 – 24 cm Lebar

= 9 – 12 cm Tebal = 5 – 6 cm

Merujuk pada SNI 15-2094- 2000 pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga tidak dapat hancur lagi apabila

direndam dalam air

Campuran Semen

Keretakan pada dinding batu bata

komposisi campuran pasir

tidak sesuai

dinding tidak awet/mudah

retak

SNI 15-2049-2004 campuran yang terdiri dari semen, agregat halus dan air baik dalam keadaan

dikeraskan ataupun tidak

(7)

dikeraskan Besi Cor

Beton

Besi berkarat

Besi terekspose udara luar

Beton mudah retak dan kekuatan struktur

bangun menurun

SNI 07-2050-2002, panjang baja tulangan beton ditetapkan hanya sebesar 6 m, 9 m, dan 12 m. Hal ini merevisi pernyataan pada SII 0136-84 yang menyatakan bahwa baja tulangan beton juga memiliki ukuran 3 m. Toleransi panjang baja tulangan beton ditetapkan minus 0 mm (-0 mm) plus 70 mm

(+ 70 mm). Dengan kata lain, toleransi ukuran panjang baja tulangan tidak boleh melebihi 7

cm. Sehingga jika besi ini memiliki panjang 12 meter, maka

minimum panjang besi beton tersebut haruslah 11.93 meter Keramik

Lantai

Pecah dan keretakan

pada permukaan

keramik

Semen sebagai perekat keramik

tidak dapat berfungsi dengan baik.

Lantai memikul beban yang cukup besar.

Permukaan lantai tidak rata

dan membahayakan

kaki pengguna

SNI ISO 13006:2010. Pasal 3.1 ubin keramik lempeng tipis yang dibuat dari lempung/tanah liat dan

atau material anorganik lain, biasanya digunakan untuk melapisi dinding dan lantai, pada

umumnya dibentuk dengan cara ekstrusi (A) atau dipress/ditekan (B) pada suhu ruang, tetapi dapat

juga dibentuk dengan proses lain (C), kemudian dikeringkan dan

sesudah itu dibakar pada suhu yang cukup untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan; ubin

dapat diglasir (GL) atau tanpa glasir (UGL), tidak mudah terbakar dan tidak dipengaruhi

cahaya

Gypsum Board

Mudah retak, rentan air dan mudah

Tidak kuat menahan benturan yang

kuat, terkena

Plafon rawan roboh, memberikan

bekas noda

SNI 03-6384-2000. Bahan dan pembuatan antara lain:

a) Panel atau papan gypsum harus terdiri dari bagian inti yang

(8)

berjamur rembesan air coklat/hitam pada plafon

tidak dapat terbakar, terutama panel gypsum yang dilapis kertas

pelapis yang melekat pada inti.

b) Bagian belakang panel atau papan gipsum yang berlapis

kertas pelapis harus dilapisi lagi dengan kertas aluminium.

Papan Triplek

Berjamur dan tidak

solid

Bahan yang terbuat dari kayu mudah lapuk, Terpapar

cuaca dan suhu ekstrem secara terus-menerus.

Ketahananya akan berkurang, semakin lama akan lapuk dan

bisa bocor

Dalam SNI 01-5008.7-1999 juga dijelaskan beberapa hal menyangkut kayu lapis struktural

seperti berikut : c. Syarat bahan baku

Jenis kayu yang dapat digunakan untuk pembu atan kayu lapis struktural

adalah jenis-jenis kayu yang berat jenis (BJ) nya

lebih dari 0,4.

d. Syarat mutu penampilan

Syarat Umum Tidak diperkenankan

adanya delaminasi, lapuk dan serangan aktif organisme perusak kayu.

Kadar Air Kadar air kayu lapis

struktural tidak diperkenankan lebih dari

14%.

Mutu Keteknikan Mutu keteknikan kayu

lapis struktural harus diuji dengan dua cara yaitu uji lapangan dan

uji laboratories.

Besi Hollow Galvalume

Tidak mampu menahan beban yang

Bagian dalamnya yang

kopong tak berisi membuat

Rawan roboh akibat dari bahan yang tak

mampu

SNI

4096:2007 Galvalume merupakan sebutan untuk Zinc-Alume yang pelapisannya mengandung unsur

(9)

berat, panjang

yang terbatas.

kekuatan dari besi ini berkurang.

menahan beban yang berat

Alume ( Aluminium ) dan Zinc ( besi ). Untuk

bahan Galvalume yang paling baik terdiri dari unsur coatingnya

55% Aluminium, unsur besi 43,5% dan unsur lapisan silicon

1,5%.

Temuan Kerusakan Pada Bangunan:

A. Kolom Beton bertulang Retak

1. Titik /area kerusakan

 Kerusakan terjadi pada struktur kolom beton bertulang yang terdapat pada basement bangunan

 Kerusakan terdapat pada bagian bawah kolom beton yang berhubungan langsung dengan lantai basement.

 Retakan beton sepanjang 70cm

 Pada bagian bawah terdapat beton yang sudah terkelupas dengan lebar 10 cm dan menimbulkan konstruksi penulangan beton ter ekspose oleh udara dan lingkungan luar.

 Bahan material yang digunakan pada beton berdasarkan ketentuan : campuran antara semen portland atau semen hidrolik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk massa padat.

2. Penyebab kerusakan

 Sifat dari beton, yang mana pada saat proses pengerasan beton, mulai dari plastis sampai dengan keras, maka beton akan mengalami penyusutan akibat penguapan saat proses hidrasi. Pada saat kondisi penyusutan berlangsung ada suatu tahanan dari balok atau kolom

(10)

lainnya.

 Suhu yang tinggi

 Korosi Pada Tulangan

 Proses pembuatan beton yang kurang baik. Seperti Kurangnya penggosokan beton saat proses finishing dan tidak dilakukannya perawatan / curing saat beton masih berumur awal atau muda untuk mencegah keluarnya air dari adukan beton agar tidak terlalu cepat akan mengakibatkan keretakan beton

 Faktor lingkungan luar seperti suhu yang sewaktu-waktu berubah drastis, air hujan dll

 Pembebanan yang melebihi kapasitas

 Bisa juga diakibatkan dari struktur tanah yang labil 3. Akibat Kerusakan

 Menurunya daya tahan beton terhadap tekanan beban diatasnya

 Tulangan beton yang mengalami korosi akibat dari besi yang terekspose lingkungan luar, menyebabkan kekuatan dan daya tahan besi menurun

 Menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan lain yang ada disekitarnya seperti struktur lantai, plafon dll.

4. Penanggulangan

 Untuk retak diagonal dan retak horisontal perlu dilakukan pemeriksaan kekuatan kolom, apabila kolom masih cukup kuat cukup dilakukan grouting dengan cairan epoxy pada daerah tekan.

 Jika setelah di analisa kolom kurang kuat, maka diperlukan pelebaran ukuran kolom. Pelebaran ini dilakukan untuk memperkuat kolom sehingga mampu menahan beban di atasnya.

 Untuk retak-retak kecil, cukup dilakukan penambahan dengan plesteran agar tulangan besi tidak berhubungan dengan udara luar yang dapat menyebabkan karat.

5. SNI Terkait ( SNI 2847:2013 )

Beton (Concrete)

Campuran semen portland atau semen hidrolis lainnya, agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan campuran tambahan (admixture).

Beton bertulang (Reinforced concrete)

(11)

Beton struktural yang ditulangi dengan tidak kurang dari jumlah baja prategang atau tulangan nonprategang minimum yang ditetapkan dalam standar ini

Kolom

Komponen struktur dengan rasio tinggi terhadap dimensi terkecil laterallebih dari 3 yang digunakan terutama untuk menumpu beban tekan aksial. untukkomponen struktur dengan perubahan dimensi lateral, dimensi lateral terkecil adalah rata-rata dimensi atas dan bawah sisi yang lebih kecil

B. Plafon Bocor atau Ada Rembesan Air

1. Titik/area kerusakan

 Kerusakan terjadi pada kontruksi plafon yang taerdapat di koridor menuju area toilet dan mushola mall.

 Area bekas rembesan dan kebocoran terdapat pada bagian pinggir plafon yang berhubungan langsung dengan dinding.

 Bahan material yang digunakan berdasarkan ketentuan : tepung gipsum , air, serat, resin, calsium

2. Penyebab kerusakan

 Adanya kebocoran pada instalasi saluran air bersih dan air kotor yang terdapat tepat diatas plafon.

(12)

3. Akibat kerusakan

 Noda coklat pada plafon

 Plafon Berjamur

 Plafon mudah runtuh dan retak

 Ruangan menjadi lembab

 Tak indah dipandang 4. Penanggulangan

 Pengecekan area kebocoran instalasi air

 Pemberian lapisan pelindung (waterproofing) 5. SNI Terkait ( SNI 03- 6434 – 2000 )

Bahan dan pembuatan antara lain:

a) Panel atau papan gypsum harus terdiri dari bagian inti yang tidak dapat terbakar, terutama panel gypsum yang dilapis kertas pelapis yang melekat pada inti.

b) Bagian belakang panel atau papan gipsum yang berlapis kertas pelapis harus dilapisi lagi dengan kertas aluminium.

c) Daya serap air 17,39-24,81 %, pengembangan tebal antara 0,077-0,654 % dan keteguhan patah (MoR) berkisar antara 15,51-65,29 kg/cm 2 .

C. Sambungan Plafon Retak / Terbuka

1. Titik/area kerusakan

 Kerusakan terjadi pada plafon area bermain mall dan koridor menuju area toilet dan mushola.

 Retakan plafon terjadi pada tengah sambungan plafon dan pinggir palfon yang berhubungan langsung dengan dinding

(13)

2. Penyebab kerusakan

 Jarak rangka plafon yang terlalu jauh.

 Tongkat penyangga rangka plafon ke atap yang terlalu sedikit.

 Tidak di cutter pada sambungan gypsum, sehingga dempul tidak masuk.

 Jarak skrup pada penutup rangka plafon yang terlalu jauh

 Tidak menggunakan plester gypsum.

 Dempulan terlalu tipis 3. Akibat kerusakan

 Menimbulkan garis retak yang memanjang

 Rawan jatuh

 Ketahan Konstruksi plafon menurun

 Menghilangkan segi keindahan plafon

4. Penanggulangan

 Gunakan compound untuk memperbaiki retakan

 Bisa juga menggunakan tepung gypsum di tambah lem kayu sebagai pengganti compound

 Penggantian struktur plafon yang lama dengan yang baru 5. SNI Terkait (SNI 01-5008.7-1999)

Syarat bahan baku

Jenis kayu yang dapat digunakan untuk pembuatan kayu lapis struktural adalah jenis-jenis kayu yang berat jenis (BJ) nya lebih dari 0,4.

Syarat mutu penampilan

 Syarat Umum

Tidak diperkenankan adanya delaminasi, lapuk dan serangan aktif organisme perusak kayu.

 Kadar Air

Kadar air kayu lapis struktural tidak diperkenankan lebih dari 14%.

 Mutu Keteknikan

Mutu keteknikan kayu lapis struktural harus diuji dengan dua cara yaitu uji lapangan dan uji laboratories.

(14)

D. Lantai Keramik Retak

Foto kerusakan pada lokasi koridor antara toilet dan mushola

Foto kerusakan pada area berbelanja

1. Titik/area kerusakan

 Retakan terjadi pada area koridor penghubung antara area berbelanja dengan area toilet dan mushola

 Retakan juga berada pada area supermarket mall

 Retakan keramik pada area supermarket mall seluas 7.2 m²

 Retakan keramik pada area koridor seluas 2.7 m² 2. Penyebab kerusakan

 Semen sebagai perekat keramik tidak dapat berfungsi dengan baik.

 Lantai tersebut tidak direndam dalam air selama kurang lebih 1 jam, upaya merendam, lantai keramik ialah untuk membuat semen bisa dengan mudah melekat pada lantai keramik tersebut.

 Lantai memikul beban yang cukup besar. Setiap jenis lantai keramik tentu mempunyai daya tamping beban yang berbeda-beda. Sama halnya dengan struktur, beban berlebihan pada satu titik dapat secara langsung membuat

(15)

lantai keramik yang kamu miliki mengalami keretakan yang sewaktu- waktu dapat menjadi pecah. Pada umumnya, hal ini sering sekali terjadi pada ruangan yang digunakan sebagai gudang, bengkel dan sebagainya.

 Bagian nat lantai tidak terisi secara keseluruhan oleh semen. Sehingga, apabila nat tidak terisi full oleh semen maka lantai keramik tidak akan sepenuhnya rapat dan terjadi celah untuk mengalami keretakan dan akhirnya pecah. Nat ( Jarak antar keramik ) yang terlalu rapat, dapat menyebabkan keramik tidak bisa memuai dengan semestinya. Sebaliknya nat yang cukup renggang serta tidak terisi dengan baik juga akan beresiko menjadi jalur masuknya air ke bawah keramik yang memicu awal mula keramik mengalami keretakan.

 Lapisan dibawah lantai keramik memiliki tekstur yang lembab serta berjamur. Sehingga membuat campuran perekat tidak dapat merata dengan baik.

 Permukaan lantai keramik yang tidak merata akibat contour tanah.

 Pemuaian dikarenakan kondisi cuaca yang berubah secara ekstrem.

3. Akibat kerusakan

 Membuat kaki rawan terkena permukan tajam dari pecahan keramik

 Mengganggu kenyamanan pengunjung mall

 Tidak bagus dari segi estetika 4. Penanggulangan

 Menghindari getaran atau tumbukan yang keras secara langsung dan terus menerus ke permukaan lantai

 Pemadatan tanah yang merata dan sesuai dengan tingkat kekerasan yang sudah ditententukan

 Ganti keramik yang pecah 5. SNI Terkait (SK SNI-04-1989-F)

 Kekerasan ubin keramik berglasir tidak boleh kurang dari 5lima skala Mohs. ii. Kekerasan ubin keramik tidak berglasir tidak boleh kurang dari 6enam skala Mohs.

 Glasir ubin keramik berglasir tidak boleh menunjukan tanda-tanda keretakan.

 Kuat lentur dari ubin lantai keramik tidak boleh kurang dari batas yang tercantum pada tabel VI Tabel VI Kuat lentur kg fcm 2 Jenis ubin Rata-

(16)

rata Minimum yang diperbolehkan Porselen “stoneware” 250 250 200 200 117 Gerabah keras 175 150 SKSNI S-04-1989-F Ketahanan terhadap asam dan basa Tidak boleh ada perbedaan penampakan antara bagian yang tercelup dan bagian yang tidak tercelup.

 Kehilangan berat akibat gesekan tidak boleh lebih dari 0,1 gram per berat ubin yang diuji.

E. Dinding Bangunan Retak

1. Titik/area kerusakan

 Retakan terjadi pada dinding lantai paling atas pada bangunan

 Retakan terjadi pada dinding atas yang berhubungan langsung dengan konstruksi plafon

 Lebar retakan ± 2-3 mm

 Panjanng retakan ± 1m 2. Penyebab kerusakan

 Plesteran dinding yang belum kering, namun namun langsung ditabur aci.

.Hal inilah yang mengakibatkan kadar air dalam plesteran yang masih jenuh tertutup oleh semen. Sehingga tembok pun menjadi mudah retak bahkan aciannya sampai lepas.

 Turunnya permukaan tanah

 Kurangnya kualitas material penyusun dinding

(17)

 Adanya kerusakan struktur bangunan

 Kelebihan beban muatan

 Campuran bahan material yang tidak sesuai.

3. Akibat kerusakan

 Permasalahan baru disekitar area retakan

 Seperti strukrur plafon yang mengalami kerusakan

 Bangunan lembab

 Bangunan bisa runtuh

 Sarang serangga

 Menghilangkan estetika bangunan 4. Penanggulangan

 Menggunakan Semen Putih

 Menggunakan Wall Filler

 Menggunakan Styrofoam Caranya adalah dengan membuat celah pada area dinding bagian atas yang dapat mengurangi tekanan dari pergerakan tanah. Lalu Anda bisa mengisi celah tersebut menggunakan styrofoam atau karet. Tutup celah yang sudah Anda isi tersebut menggunakan lis gypsum atau lis kayu. Setelah itu, tambal dengan campuran semen dan pasir kemudian biarkan sampai mengering.

 Membuat Dilatasi Jika penyebab keretakan adalah perbedaan bahan dinding, maka Anda bisa mengatasinya dengan membuat dilatasi atau peronggaan. Misalnya pada dinding yang sama menggunakan material bata dan beton sekaligus, kemudian menimbulkan keretakan. Anda dapat membuat dilatasi pada area bertemunya kedua bahan yang berbeda tersebut. Lalu isi dilatasi dengan bahan perekat, bisa berupa fiberglass atau rubber sealant. Pastikan Anda mengaplikasikan bahan perekat dengan merata agar dinding menjadi lebih kuat.

5. SNI Terkait ( SNI 15-2094- 2000 )

 Batu bata merupakan suatu unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga tidak dapat hancur lagi apabila direndam dalam air

(18)

Daftar Pustaka

Faktor-faktor Penyebab Beton Retak

https://ducotile.com/faktor-faktor-penyebab-beton-retak/

7 PENYEBAB LANTAI KERAMIK RETAK DAN PECAH, SERTA CARA MENGATASINYA

https://studio.suryanipalamui.com/lantai-keramik-retak-dan-pecah/

7 PENYEBAB TEMBOK RETAK, JENIS, DAN CARA MENGATASINYA

https://www.icreate.id/blog/tembok-retak/

Mengenali 6 Cara Mengatasi Plafon Bocor pada Rumah

https://rumahlia.com/perawatan/atap/cara-mengatasi-plafon-bocor

Ini Dia Penyebab Plafon Retak Pada Sambungan Papan Gypsum https://www.larantukagypsum.com/2020/07/penyebab-plafon- retak.html

Faktor-faktor Penyebab Beton Retak

https://ducotile.com/faktor-faktor-penyebab-beton-retak/

7 PENYEBAB LANTAI KERAMIK RETAK DAN PECAH, SERTA CARA MENGATASINYA

https://studio.suryanipalamui.com/lantai-keramik-retak-dan-pecah/

7 PENYEBAB TEMBOK RETAK, JENIS, DAN CARA MENGATASINYA

https://www.icreate.id/blog/tembok-retak/

Mengenali 6 Cara Mengatasi Plafon Bocor pada Rumah

https://rumahlia.com/perawatan/atap/cara-mengatasi-plafon-bocor

Ini Dia Penyebab Plafon Retak Pada Sambungan Papan Gypsum https://www.larantukagypsum.com/2020/07/penyebab-plafon- retak.html

https://kanggo.id/blog/mengatasi-tembok-retak/

https://www.academia.edu/34676652/SNI_03_0349_1989_Bata_Beton_U ntuk_Pasangan_Dinding_pdf

(19)

SNI-2847-2019-Persyaratan-Beton-Struktural-Untuk-Bangunan- Gedung

https://correadymix.com/news/cara-mengatasi-retak-pada-beton

https://www.astalog.com/9295/bahan-utama-pembuat-gipsum.htm

http://ejournal.kemenperin.go.id/jrihh/article/view/853

https://jasakontraktorjogja.net/mengatasi-retak-pada-plafond/

https://mrhlf.blogspot.com/2013/04/kayu-lapis-struktural-structural- plywood.html

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian adalah, (1) mengetahui pengaruh persentase penggunaan abu vulkanik untuk menggantikan sebagian agregat halus terhadap resapan air, berat jenis dan

Gambar 3. Dari persamaan tersebut diperoleh nilai kuat tekan optimal sebesar 23,231 MPa pada persentase penggatian abu vulkanik 8,36%. Dari gambar 3 menunjukkan bahwa