TUGAS MATA KULIAH
TEKNOLOGI BAHAN BANGUNAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas Teknologi Bahan Bangunan Dosen Pengampu :
Ir. Johannes Van Rate MT
Disusun Oleh :
LAKSAMANA PUTRA MARBANGUN 210211020030
Program Studi Sarjana Arsitektur Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado 2022
ANALISA KERUSAKAN PADA BAHAN BANGUNAN RITA SUPER MALL
Lokasi Survey : Rita Super Mall, Jl. Kolonel Sugiono Tegal, Jawa Tengah Fungsi Bangunan : Pusat perbelanjaan dan hiburan warga Kota Tegal, Kab. Brebes, Kab. Slawi dan sekitarnya
Tipe Konstruksi : -
Dokumentasi Objek Survey :
Tampak Samping Kiri
Tampak Samping Kanan
Tampak Depan
Tampak Belakang
Bahan Bangunan Yang Digunakan Batu Bata
Batu bata SNI 15-2094- 2000 merupakan suatu unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga tidak dapat hancur lagi apabila direndam dalam air
Semen
Semen adalah zat yang umum digunakan untuk bahan perekat batu, bata, batako, maupun bahan bangunan lainnya. Campuran bahan bangunan ini yang nantinya akan membentuk dindig beton atau tembok bangunan
Besi Cor Beton
Besi cor beton adalah besi yang biasa digunakan dalam pembuatan konstruksi beton, seperti pada kolom, balok, atau dak. SNI 07-2050-2002, panjang baja tulangan beton ditetapkan hanya sebesar 6 m, 9 m, dan 12 m. Hal ini merevisi pernyataan pada SII 0136-84 yang menyatakan bahwa baja tulangan beton juga memiliki ukuran 3 m. Toleransi panjang baja tulangan beton ditetapkan minus 0 mm (-0 mm) plus 70 mm (+ 70 mm). Dengan kata lain, toleransi ukuran panjang baja tulangan tidak boleh melebihi 7 cm. Sehingga jika besi ini memiliki panjang 12 meter, maka minimum panjang besi beton tersebut haruslah 11.93 meter
Keramik Lantai
SNI ISO 13006:2010. Pasal 3.1 ubin keramik lempeng tipis yang dibuat dari lempung/tanah liat dan atau material anorganik lain, biasanya digunakan untuk melapisi dinding dan lantai, pada umumnya dibentuk dengan cara ekstrusi (A) atau dipress/ditekan (B) pada suhu ruang, tetapi dapat juga dibentuk dengan proses lain (C), kemudian dikeringkan dan sesudah itu dibakar pada suhu yang cukup untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan; ubin dapat diglasir (GL) atau tanpa glasir (UGL), tidak mudah terbakar dan tidak dipengaruhi cahaya
Gypsum Board
SNI 03-6384-2000. Bahan dan pembuatan antara lain:
a) Panel atau papan gypsum harus terdiri dari bagian inti yang tidak dapat terbakar, terutama panel gypsum yang dilapis kertas pelapis yang melekat pada inti.
b) Bagian belakang panel atau papan gipsum yang berlapis kertas pelapis harus dilapisi lagi dengan kertas aluminium.
Papan Triplek
SNI 01-5008.7-1999, kayu lapis struktural adalah kayu lapis yang terdiri dari susunan venir yang dibuat khusus untuk digunakan sebagai penahan atau pemikul beban dari suatu kontruksi. Dalam SNI 01-5008.7-1999 juga dijelaskan beberapa hal menyangkut kayu lapis struktural seperti berikut :
a. Syarat bahan baku
Jenis kayu yang dapat digunakan untuk pembu atan kayu lapis struktural adalah jenis-jenis kayu yang berat jenis (BJ) nya lebih dari 0,4.
b. Syarat mutu penampilan
Syarat Umum
Tidak diperkenankan adanya delaminasi, lapuk dan serangan aktif organisme perusak kayu.
Kadar Air
Kadar air kayu lapis struktural tidak diperkenankan lebih dari 14%.
Mutu Keteknikan
Mutu keteknikan kayu lapis struktural harus diuji dengan dua cara yaitu uji lapangan dan uji laboratories.
Besi Hollow Galvalume
SNI 4096:2007 Galvalume merupakan sebutan untuk Zinc-Alume yang pelapisannya mengandung unsur Alume ( Aluminium ) dan Zinc ( besi ). Untuk bahan Galvalume yang paling baik terdiri dari unsur coatingnya 55% Aluminium, unsur besi 43,5% dan unsur lapisan silicon 1,5%.
FAILURE MODES AND EFFECT ANALYSIS Bahan
Bangungan
Mode of failure
Cause of failure
Effect of failure
SNI
Batu Bata Mudah menyerap panas dan dingin
tidak memperhatikan
penggunaan alas bahan diatas bata
membuat campuran bata
lebih cepat retak
Merujuk pada SNI 15-2094-2000, bata merah memiliki proporsi ideal Panjang = 19 – 24 cm Lebar
= 9 – 12 cm Tebal = 5 – 6 cm
Merujuk pada SNI 15-2094- 2000 pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga tidak dapat hancur lagi apabila
direndam dalam air
Campuran Semen
Keretakan pada dinding batu bata
komposisi campuran pasir
tidak sesuai
dinding tidak awet/mudah
retak
SNI 15-2049-2004 campuran yang terdiri dari semen, agregat halus dan air baik dalam keadaan
dikeraskan ataupun tidak
dikeraskan Besi Cor
Beton
Besi berkarat
Besi terekspose udara luar
Beton mudah retak dan kekuatan struktur
bangun menurun
SNI 07-2050-2002, panjang baja tulangan beton ditetapkan hanya sebesar 6 m, 9 m, dan 12 m. Hal ini merevisi pernyataan pada SII 0136-84 yang menyatakan bahwa baja tulangan beton juga memiliki ukuran 3 m. Toleransi panjang baja tulangan beton ditetapkan minus 0 mm (-0 mm) plus 70 mm
(+ 70 mm). Dengan kata lain, toleransi ukuran panjang baja tulangan tidak boleh melebihi 7
cm. Sehingga jika besi ini memiliki panjang 12 meter, maka
minimum panjang besi beton tersebut haruslah 11.93 meter Keramik
Lantai
Pecah dan keretakan
pada permukaan
keramik
Semen sebagai perekat keramik
tidak dapat berfungsi dengan baik.
Lantai memikul beban yang cukup besar.
Permukaan lantai tidak rata
dan membahayakan
kaki pengguna
SNI ISO 13006:2010. Pasal 3.1 ubin keramik lempeng tipis yang dibuat dari lempung/tanah liat dan
atau material anorganik lain, biasanya digunakan untuk melapisi dinding dan lantai, pada
umumnya dibentuk dengan cara ekstrusi (A) atau dipress/ditekan (B) pada suhu ruang, tetapi dapat
juga dibentuk dengan proses lain (C), kemudian dikeringkan dan
sesudah itu dibakar pada suhu yang cukup untuk memperoleh sifat-sifat yang diinginkan; ubin
dapat diglasir (GL) atau tanpa glasir (UGL), tidak mudah terbakar dan tidak dipengaruhi
cahaya
Gypsum Board
Mudah retak, rentan air dan mudah
Tidak kuat menahan benturan yang
kuat, terkena
Plafon rawan roboh, memberikan
bekas noda
SNI 03-6384-2000. Bahan dan pembuatan antara lain:
a) Panel atau papan gypsum harus terdiri dari bagian inti yang
berjamur rembesan air coklat/hitam pada plafon
tidak dapat terbakar, terutama panel gypsum yang dilapis kertas
pelapis yang melekat pada inti.
b) Bagian belakang panel atau papan gipsum yang berlapis
kertas pelapis harus dilapisi lagi dengan kertas aluminium.
Papan Triplek
Berjamur dan tidak
solid
Bahan yang terbuat dari kayu mudah lapuk, Terpapar
cuaca dan suhu ekstrem secara terus-menerus.
Ketahananya akan berkurang, semakin lama akan lapuk dan
bisa bocor
Dalam SNI 01-5008.7-1999 juga dijelaskan beberapa hal menyangkut kayu lapis struktural
seperti berikut : c. Syarat bahan baku
Jenis kayu yang dapat digunakan untuk pembu atan kayu lapis struktural
adalah jenis-jenis kayu yang berat jenis (BJ) nya
lebih dari 0,4.
d. Syarat mutu penampilan
Syarat Umum Tidak diperkenankan
adanya delaminasi, lapuk dan serangan aktif organisme perusak kayu.
Kadar Air Kadar air kayu lapis
struktural tidak diperkenankan lebih dari
14%.
Mutu Keteknikan Mutu keteknikan kayu
lapis struktural harus diuji dengan dua cara yaitu uji lapangan dan
uji laboratories.
Besi Hollow Galvalume
Tidak mampu menahan beban yang
Bagian dalamnya yang
kopong tak berisi membuat
Rawan roboh akibat dari bahan yang tak
mampu
SNI
4096:2007 Galvalume merupakan sebutan untuk Zinc-Alume yang pelapisannya mengandung unsur
berat, panjang
yang terbatas.
kekuatan dari besi ini berkurang.
menahan beban yang berat
Alume ( Aluminium ) dan Zinc ( besi ). Untuk
bahan Galvalume yang paling baik terdiri dari unsur coatingnya
55% Aluminium, unsur besi 43,5% dan unsur lapisan silicon
1,5%.
Temuan Kerusakan Pada Bangunan:
A. Kolom Beton bertulang Retak
1. Titik /area kerusakan
Kerusakan terjadi pada struktur kolom beton bertulang yang terdapat pada basement bangunan
Kerusakan terdapat pada bagian bawah kolom beton yang berhubungan langsung dengan lantai basement.
Retakan beton sepanjang 70cm
Pada bagian bawah terdapat beton yang sudah terkelupas dengan lebar 10 cm dan menimbulkan konstruksi penulangan beton ter ekspose oleh udara dan lingkungan luar.
Bahan material yang digunakan pada beton berdasarkan ketentuan : campuran antara semen portland atau semen hidrolik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air, dengan atau tanpa bahan tambahan membentuk massa padat.
2. Penyebab kerusakan
Sifat dari beton, yang mana pada saat proses pengerasan beton, mulai dari plastis sampai dengan keras, maka beton akan mengalami penyusutan akibat penguapan saat proses hidrasi. Pada saat kondisi penyusutan berlangsung ada suatu tahanan dari balok atau kolom
lainnya.
Suhu yang tinggi
Korosi Pada Tulangan
Proses pembuatan beton yang kurang baik. Seperti Kurangnya penggosokan beton saat proses finishing dan tidak dilakukannya perawatan / curing saat beton masih berumur awal atau muda untuk mencegah keluarnya air dari adukan beton agar tidak terlalu cepat akan mengakibatkan keretakan beton
Faktor lingkungan luar seperti suhu yang sewaktu-waktu berubah drastis, air hujan dll
Pembebanan yang melebihi kapasitas
Bisa juga diakibatkan dari struktur tanah yang labil 3. Akibat Kerusakan
Menurunya daya tahan beton terhadap tekanan beban diatasnya
Tulangan beton yang mengalami korosi akibat dari besi yang terekspose lingkungan luar, menyebabkan kekuatan dan daya tahan besi menurun
Menyebabkan kerusakan pada struktur bangunan lain yang ada disekitarnya seperti struktur lantai, plafon dll.
4. Penanggulangan
Untuk retak diagonal dan retak horisontal perlu dilakukan pemeriksaan kekuatan kolom, apabila kolom masih cukup kuat cukup dilakukan grouting dengan cairan epoxy pada daerah tekan.
Jika setelah di analisa kolom kurang kuat, maka diperlukan pelebaran ukuran kolom. Pelebaran ini dilakukan untuk memperkuat kolom sehingga mampu menahan beban di atasnya.
Untuk retak-retak kecil, cukup dilakukan penambahan dengan plesteran agar tulangan besi tidak berhubungan dengan udara luar yang dapat menyebabkan karat.
5. SNI Terkait ( SNI 2847:2013 )
Beton (Concrete)
Campuran semen portland atau semen hidrolis lainnya, agregat halus, agregat kasar, dan air, dengan atau tanpa bahan campuran tambahan (admixture).
Beton bertulang (Reinforced concrete)
Beton struktural yang ditulangi dengan tidak kurang dari jumlah baja prategang atau tulangan nonprategang minimum yang ditetapkan dalam standar ini
Kolom
Komponen struktur dengan rasio tinggi terhadap dimensi terkecil laterallebih dari 3 yang digunakan terutama untuk menumpu beban tekan aksial. untukkomponen struktur dengan perubahan dimensi lateral, dimensi lateral terkecil adalah rata-rata dimensi atas dan bawah sisi yang lebih kecil
B. Plafon Bocor atau Ada Rembesan Air
1. Titik/area kerusakan
Kerusakan terjadi pada kontruksi plafon yang taerdapat di koridor menuju area toilet dan mushola mall.
Area bekas rembesan dan kebocoran terdapat pada bagian pinggir plafon yang berhubungan langsung dengan dinding.
Bahan material yang digunakan berdasarkan ketentuan : tepung gipsum , air, serat, resin, calsium
2. Penyebab kerusakan
Adanya kebocoran pada instalasi saluran air bersih dan air kotor yang terdapat tepat diatas plafon.
3. Akibat kerusakan
Noda coklat pada plafon
Plafon Berjamur
Plafon mudah runtuh dan retak
Ruangan menjadi lembab
Tak indah dipandang 4. Penanggulangan
Pengecekan area kebocoran instalasi air
Pemberian lapisan pelindung (waterproofing) 5. SNI Terkait ( SNI 03- 6434 – 2000 )
Bahan dan pembuatan antara lain:
a) Panel atau papan gypsum harus terdiri dari bagian inti yang tidak dapat terbakar, terutama panel gypsum yang dilapis kertas pelapis yang melekat pada inti.
b) Bagian belakang panel atau papan gipsum yang berlapis kertas pelapis harus dilapisi lagi dengan kertas aluminium.
c) Daya serap air 17,39-24,81 %, pengembangan tebal antara 0,077-0,654 % dan keteguhan patah (MoR) berkisar antara 15,51-65,29 kg/cm 2 .
C. Sambungan Plafon Retak / Terbuka
1. Titik/area kerusakan
Kerusakan terjadi pada plafon area bermain mall dan koridor menuju area toilet dan mushola.
Retakan plafon terjadi pada tengah sambungan plafon dan pinggir palfon yang berhubungan langsung dengan dinding
2. Penyebab kerusakan
Jarak rangka plafon yang terlalu jauh.
Tongkat penyangga rangka plafon ke atap yang terlalu sedikit.
Tidak di cutter pada sambungan gypsum, sehingga dempul tidak masuk.
Jarak skrup pada penutup rangka plafon yang terlalu jauh
Tidak menggunakan plester gypsum.
Dempulan terlalu tipis 3. Akibat kerusakan
Menimbulkan garis retak yang memanjang
Rawan jatuh
Ketahan Konstruksi plafon menurun
Menghilangkan segi keindahan plafon
4. Penanggulangan
Gunakan compound untuk memperbaiki retakan
Bisa juga menggunakan tepung gypsum di tambah lem kayu sebagai pengganti compound
Penggantian struktur plafon yang lama dengan yang baru 5. SNI Terkait (SNI 01-5008.7-1999)
Syarat bahan baku
Jenis kayu yang dapat digunakan untuk pembuatan kayu lapis struktural adalah jenis-jenis kayu yang berat jenis (BJ) nya lebih dari 0,4.
Syarat mutu penampilan
Syarat Umum
Tidak diperkenankan adanya delaminasi, lapuk dan serangan aktif organisme perusak kayu.
Kadar Air
Kadar air kayu lapis struktural tidak diperkenankan lebih dari 14%.
Mutu Keteknikan
Mutu keteknikan kayu lapis struktural harus diuji dengan dua cara yaitu uji lapangan dan uji laboratories.
D. Lantai Keramik Retak
Foto kerusakan pada lokasi koridor antara toilet dan mushola
Foto kerusakan pada area berbelanja
1. Titik/area kerusakan
Retakan terjadi pada area koridor penghubung antara area berbelanja dengan area toilet dan mushola
Retakan juga berada pada area supermarket mall
Retakan keramik pada area supermarket mall seluas 7.2 m²
Retakan keramik pada area koridor seluas 2.7 m² 2. Penyebab kerusakan
Semen sebagai perekat keramik tidak dapat berfungsi dengan baik.
Lantai tersebut tidak direndam dalam air selama kurang lebih 1 jam, upaya merendam, lantai keramik ialah untuk membuat semen bisa dengan mudah melekat pada lantai keramik tersebut.
Lantai memikul beban yang cukup besar. Setiap jenis lantai keramik tentu mempunyai daya tamping beban yang berbeda-beda. Sama halnya dengan struktur, beban berlebihan pada satu titik dapat secara langsung membuat
lantai keramik yang kamu miliki mengalami keretakan yang sewaktu- waktu dapat menjadi pecah. Pada umumnya, hal ini sering sekali terjadi pada ruangan yang digunakan sebagai gudang, bengkel dan sebagainya.
Bagian nat lantai tidak terisi secara keseluruhan oleh semen. Sehingga, apabila nat tidak terisi full oleh semen maka lantai keramik tidak akan sepenuhnya rapat dan terjadi celah untuk mengalami keretakan dan akhirnya pecah. Nat ( Jarak antar keramik ) yang terlalu rapat, dapat menyebabkan keramik tidak bisa memuai dengan semestinya. Sebaliknya nat yang cukup renggang serta tidak terisi dengan baik juga akan beresiko menjadi jalur masuknya air ke bawah keramik yang memicu awal mula keramik mengalami keretakan.
Lapisan dibawah lantai keramik memiliki tekstur yang lembab serta berjamur. Sehingga membuat campuran perekat tidak dapat merata dengan baik.
Permukaan lantai keramik yang tidak merata akibat contour tanah.
Pemuaian dikarenakan kondisi cuaca yang berubah secara ekstrem.
3. Akibat kerusakan
Membuat kaki rawan terkena permukan tajam dari pecahan keramik
Mengganggu kenyamanan pengunjung mall
Tidak bagus dari segi estetika 4. Penanggulangan
Menghindari getaran atau tumbukan yang keras secara langsung dan terus menerus ke permukaan lantai
Pemadatan tanah yang merata dan sesuai dengan tingkat kekerasan yang sudah ditententukan
Ganti keramik yang pecah 5. SNI Terkait (SK SNI-04-1989-F)
Kekerasan ubin keramik berglasir tidak boleh kurang dari 5lima skala Mohs. ii. Kekerasan ubin keramik tidak berglasir tidak boleh kurang dari 6enam skala Mohs.
Glasir ubin keramik berglasir tidak boleh menunjukan tanda-tanda keretakan.
Kuat lentur dari ubin lantai keramik tidak boleh kurang dari batas yang tercantum pada tabel VI Tabel VI Kuat lentur kg fcm 2 Jenis ubin Rata-
rata Minimum yang diperbolehkan Porselen “stoneware” 250 250 200 200 117 Gerabah keras 175 150 SKSNI S-04-1989-F Ketahanan terhadap asam dan basa Tidak boleh ada perbedaan penampakan antara bagian yang tercelup dan bagian yang tidak tercelup.
Kehilangan berat akibat gesekan tidak boleh lebih dari 0,1 gram per berat ubin yang diuji.
E. Dinding Bangunan Retak
1. Titik/area kerusakan
Retakan terjadi pada dinding lantai paling atas pada bangunan
Retakan terjadi pada dinding atas yang berhubungan langsung dengan konstruksi plafon
Lebar retakan ± 2-3 mm
Panjanng retakan ± 1m 2. Penyebab kerusakan
Plesteran dinding yang belum kering, namun namun langsung ditabur aci.
.Hal inilah yang mengakibatkan kadar air dalam plesteran yang masih jenuh tertutup oleh semen. Sehingga tembok pun menjadi mudah retak bahkan aciannya sampai lepas.
Turunnya permukaan tanah
Kurangnya kualitas material penyusun dinding
Adanya kerusakan struktur bangunan
Kelebihan beban muatan
Campuran bahan material yang tidak sesuai.
3. Akibat kerusakan
Permasalahan baru disekitar area retakan
Seperti strukrur plafon yang mengalami kerusakan
Bangunan lembab
Bangunan bisa runtuh
Sarang serangga
Menghilangkan estetika bangunan 4. Penanggulangan
Menggunakan Semen Putih
Menggunakan Wall Filler
Menggunakan Styrofoam Caranya adalah dengan membuat celah pada area dinding bagian atas yang dapat mengurangi tekanan dari pergerakan tanah. Lalu Anda bisa mengisi celah tersebut menggunakan styrofoam atau karet. Tutup celah yang sudah Anda isi tersebut menggunakan lis gypsum atau lis kayu. Setelah itu, tambal dengan campuran semen dan pasir kemudian biarkan sampai mengering.
Membuat Dilatasi Jika penyebab keretakan adalah perbedaan bahan dinding, maka Anda bisa mengatasinya dengan membuat dilatasi atau peronggaan. Misalnya pada dinding yang sama menggunakan material bata dan beton sekaligus, kemudian menimbulkan keretakan. Anda dapat membuat dilatasi pada area bertemunya kedua bahan yang berbeda tersebut. Lalu isi dilatasi dengan bahan perekat, bisa berupa fiberglass atau rubber sealant. Pastikan Anda mengaplikasikan bahan perekat dengan merata agar dinding menjadi lebih kuat.
5. SNI Terkait ( SNI 15-2094- 2000 )
Batu bata merupakan suatu unsur bangunan yang diperuntukkan pembuatan konstruksi bangunan dan yang dibuat dari tanah dengan atau tanpa campuran bahan-bahan lain, dibakar cukup tinggi, hingga tidak dapat hancur lagi apabila direndam dalam air
Daftar Pustaka
Faktor-faktor Penyebab Beton Retak
https://ducotile.com/faktor-faktor-penyebab-beton-retak/
7 PENYEBAB LANTAI KERAMIK RETAK DAN PECAH, SERTA CARA MENGATASINYA
https://studio.suryanipalamui.com/lantai-keramik-retak-dan-pecah/
7 PENYEBAB TEMBOK RETAK, JENIS, DAN CARA MENGATASINYA
https://www.icreate.id/blog/tembok-retak/
Mengenali 6 Cara Mengatasi Plafon Bocor pada Rumah
https://rumahlia.com/perawatan/atap/cara-mengatasi-plafon-bocor
Ini Dia Penyebab Plafon Retak Pada Sambungan Papan Gypsum https://www.larantukagypsum.com/2020/07/penyebab-plafon- retak.html
Faktor-faktor Penyebab Beton Retak
https://ducotile.com/faktor-faktor-penyebab-beton-retak/
7 PENYEBAB LANTAI KERAMIK RETAK DAN PECAH, SERTA CARA MENGATASINYA
https://studio.suryanipalamui.com/lantai-keramik-retak-dan-pecah/
7 PENYEBAB TEMBOK RETAK, JENIS, DAN CARA MENGATASINYA
https://www.icreate.id/blog/tembok-retak/
Mengenali 6 Cara Mengatasi Plafon Bocor pada Rumah
https://rumahlia.com/perawatan/atap/cara-mengatasi-plafon-bocor
Ini Dia Penyebab Plafon Retak Pada Sambungan Papan Gypsum https://www.larantukagypsum.com/2020/07/penyebab-plafon- retak.html
https://kanggo.id/blog/mengatasi-tembok-retak/
https://www.academia.edu/34676652/SNI_03_0349_1989_Bata_Beton_U ntuk_Pasangan_Dinding_pdf
SNI-2847-2019-Persyaratan-Beton-Struktural-Untuk-Bangunan- Gedung
https://correadymix.com/news/cara-mengatasi-retak-pada-beton
https://www.astalog.com/9295/bahan-utama-pembuat-gipsum.htm
http://ejournal.kemenperin.go.id/jrihh/article/view/853
https://jasakontraktorjogja.net/mengatasi-retak-pada-plafond/
https://mrhlf.blogspot.com/2013/04/kayu-lapis-struktural-structural- plywood.html