Nama : Rianto
NIM : 215120101111005 Kelas : B-3 Sosiologi Agama
Tugas Review Film PK (2014)
Pada penugasan ini penulis akan mereview film berjudul PeeKay (PK) yang berasal dari India dan rilis pada tahun 2014. Film ini merupakan film bergendre komedi yang menceritakan seorang alien yang tersesat di bumi. Ketika di bumi ia bertemu dengan seorang laki-laki, yang ternyata laki-laki ini mencuri kalungnya dimana kalung ini merupakan alat yang menjadi penghubung dirinya dengan planet asalnya. Karena kalung miliknya dicuri kemudian ia berusaha untuk mencarinya dan dari sinilah cerita film ini dimulai. Untuk mencari kalungnya di bumi mau tidak mau alien ini harus beradaptasi dengan kehidupan manusia. Suatu ketika ia mencari kalungnya ke daerah New Delhi, kemudian sesampainya di sana ia mulai bertanya kepada orang- orang mengenai keberadaan kalungnya itu, namun mereka semua menjawab bahwa "hanya Tuhan yang tahu" keberadaan kalungnya. Dari perkataan itu PK kemudian mencari Tuhan, karena menurutnya jika dia ingin mendapatkan kalungnya kembali, maka ia harus menemukan Tuhan terlebih dahulu untuk bertanya dimana kalungnya berada. Perjalanan mencari keberadaan Tuhan ia lalui dan banyak hal yang dilakukannya demi menemukan Tuhan, kemudian ia mendapati sebuah kenyataan yang membuatnya bingung bahwa nyatanya ada banyak Tuhan karena di setiap agama Tuhannya pun berbeda-beda, ia mencoba untuk mempercayai keberadaan semua Tuhan tersebut namun tidak ada satupun Tuhan yang benar yang bisa membantunya.
Kemudian hal tersebut membuat ia memberanikan diri untuk membuat selebaran yang menyatakan bahwa Tuhan hilang dan siapa yang menemukan Tuhan agar ia dapat menghubunginya.
Ketika menonton film ini penulis meyoroti beberapa hal yang menarik untuk dibahas.
Yang pertama adalah mengenai keberadaan Tuhan yang banyak dan berbeda-beda di setiap agama. Adegan ini menunjukkan bahwa suatu agama memiliki Tuhannya masing-masing dan keberadaan agama-agama tersebut masih ada sampai sekarang dan telah hidup berdampingan dengan ajarannya masing-masing, bahkan keberadaan agamapun telah ada sejak dahulu. Lalu yang menjadi pertanyaan penulis adalah keberadaan agama-agama ini tetap eksis dan bertahan sampai sekarang tanpa adanya perdebatan antara keduanya, lalu mengapa manusia sebagai pemeluk agama seringkali memperdebatkan agamanya masing-masing?. Film PK menunjukkan bahwa permasalahan yang sering terjadi pada jaman sekarang ini mulai dari radikalisme, rasisme agama, dan konflik agama ini lahir karena ciptaan manusia itu sendiri bukan suatu agama yang mengajarkannya. Film ini juga mencoba menjelaskan kepada penonton bahwa sebuah agama adalah ranah privasi manusia, bukan menjadi suatu perdebatan dan menciptakan perbandingan untuk mencari kebenaran antara agama yang satu dengan yang lainnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Emile Durkheim mengenai teorinya yang menyebutkan bahwa agama bersifat sosial, ia menyebutkan bahwa suatu agama didasarkan pada perbedaan antara yang sakral dan yang
profan. Artinya agama memiliki perhatian pada yang sakral dan harus dijaga agar tidak bercampur dengan yang profan. Dalam hal ini Durkehim mencoba menjelaskan bahwa sesuatu yang sakral selalu terikat pada peristiwa besar yang bersifat klan tetapi sesuatu yang profan merupakan bagian dari kehidupan pribadi seorang manusia (Kamirudin, 2006). Kemudian adegan menaik lainnya yang penulis rasa ingin di sampaikan oleh film ini adalah bagaimana para pemimpin agama atau tokoh agama menggunakan agama sebagai ladang untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Hal ini menunjukkan bahwa agama menjadi salah satu cara manusia untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, hal ini tentu sangat relate dengan kehidupan masyarakat Indonesia, yang mana seperti yang kita ketahui masyarakat Indonesia merupakan mayoritas masyarakat muslim, hal ini menjadi suatu kesempatan bagi orang-orang dengan tingkat pengetahuan agama yang tinggi atau tokoh agama memanfaatkan momentum untuk bersyiar sembari memenuhi kebutuhan ekonominya. Namun hal ini tentu akan berbeda kenyataanya ketika suatu agama dijadikan sebagai ladang ekonomi dengan cara-cara yang salah hanya untuk meraup kepentigan pribadi atau kelompok bahkan parahnya sampai menimbulkan penyimpangan-penyimpangan yang melecehkan agama dan manusia. Misalnya saja salah satu penyelewengan agama yang pernah terjadi di indonesia adalah pemerkosaan 12 santri wanita yang dilakukan oleh guru pesantren, kemudian terdapat penipuan yang dilakukan oleh sosok Eyang Subur yang sempat viral karena dugaan perdukunan dan ajaran sesat.
Adegan film yang juga penulis soroti adalah bagaimana suatu komunitas manusia yang memeluk agama ini menciptakan suatu solidaritas yang mana terbentuk dari sekumpulan orang yang memiliki komitmen kuat untuk berkumpul bersama dan menjalankan suatu kegiatan keagamaan secara bersama-sama dan taat terhadap peraturan yang ada pada komunitas tersebut.
Dalam film ini juga menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan atau biasa disebut dengan ritual keagamaan pada suatu kelompok masyarakat akan memunculkan suatu kesadaran bersama.
Dalam perspektif Emile Durkheim, tokoh sosiologi menyinggung mengenai solidaritas sosial dalam agama, ia menyebutkan bahwa agama memungkinkan masyarakat untuk menumbuhkan rasa solidaritas (mekanis) antara sesama pemeluk agama tersebut (Kamiruddin, 2011). Dalam agamalah suatu masyarakat dapat saling berinteraksi secara akrab dan intim karena kegiatan- kegiatan yang dilakukan secara rutin dan bersama-sama seperti melakukan ibadah atau doa bersama, merayakan hari besar kegamaan, membuat sesajian atau persiapan ritual dan lainnya.
Hal ini menyebabkan masyarakat melalui kebiasaan yang dilakukan bersama-sama dan memiliki satu tujuan yang sama menjadi saling akrab, simpati, dan setia satu sama lain. Selain itu juga kedekatan antara para pemeluk agama ini berasal dari kesadaran kolektif yang mana menurut Durkheim, kesadaran kolektif ini muncul dari dalam komunitas yang memiliki perasaan solidaritas religius artinya perasaan ini muncul karena satu komunitas melakukan ritual-ritual keagamaan secara bersama-sama (Kamiruddin, 2011).
Selanjutnya penulis menemukan suatu fenomena yang juga relate dengan kehidupan beragama masyarakat. penggunaan simbol merupakan salah satu wujud dari komunikasi agama dimana setiap para penganut agama memiliki simbol-simbol yang menjadi ciri khas agama mereka. Misalnya saja dalam agama Hindu seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya
menggunakan pakaian sari berwarna putih, kemudian dalam agama Islam seorang wanita harus memakai baju yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tanagn. Selain simbol cara berpakaian juga terdapat simbol yang menunjukkan suatu keadaan misalnya ketika terdapat keluarga yang meninggal maka pakaian hitam menjadi simbol berkambung atau berduka.
Adanya simbol-simbol ini secara langsung menunjukkan suatu identitas agama suatu masyarakat, namun simbol-simbol ini hanya menjadi suatu simbol masyarakat terhadap agamanya bukan sebagai pengganti Tuhan yang harus mereka sembah dan ikuti.
Dalam agama memang terdapat suatu ajaran yang seharusnya manusia sebagai penganutnya menjalankannya di kehidupan dunia. Dalam penjelasan dan pendapat penulis mengenai film ini dari segi solidaritas menunjukkan bahwa agama akan menciptakan suatu integrasi yang akhirnya menciptakan suatu solidaritas atau komunitas masyarakat. Selain itu juga agama dapat pula menimbulkan suatu permasalahan dan menjadi suatu sumber konflik apabila ajaran dan aturan-aturan yang ada dalam agama tidak dipahami dan dipraktekkan dengan cara yang baik.
Daftar Pustaka
Kamiruddin, K. (2011). 1060-2326-1-Sm. In TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama (Issue Vol 3, No 2 (2011): Juli-Desember, pp. 157–176). http://ejournal.uin- suska.ac.id/index.php/toleransi/article/view/1060/958
Kamirudin. (2006). Religion and Social Solidarity : How Islam views the social. Jurnal Ilmiah Keislaman, 5(1), 70–83.