• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tumpukan Buku yang Berdebu

N/A
N/A
Muhammad Nashr Alafi

Academic year: 2023

Membagikan "Tumpukan Buku yang Berdebu"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Tumpukan Buku yang Berdebu Oleh Muhammad Nashr Alafi

Pagi itu matahari bersinar hingga menerobos masuk ke kamar Hana yang dipenuhi oleh tumpukan buku dan Sebagian berserakan. Ia baru saja terbangun usai kelelahan menggarap tagihan karya yang harus ia selesaikan segera atau bayaran menulisnya akan ditahan oleh pihak penerbit. Namun menulis bukanlah hal yang mudah baginya, terkadang ia mengalami buntu dan jenuh karena harus dipaksa menulis, dipaksa untuk melihat kembali tulisan amburadul yang disusunnya, perlunya riset untuk mendalami karakter, dan lain sebagainya.

Suara langkah kaki terdengar mendekati kamarnya. Buru-buru ia membasuh muka, takut jika ada seseorang melihatnya dengan wajah kusam.

“Hana, Kakak berangkat dulu ya, di atas meja depan televisi ada uang, barangkali kamu butuh sesuatu nantinya.” ucap Kakak sembari melambaikan tangan.

Hana membalas lambaian tangan itu dengan malas dan kembali merebahkan tubuh, ia menatap tumpukan buku lamat-lamat dan perlahan mencoba melihat buku apa saja yang pernah dibeli. Ia berusaha mengingat kapan ia tertarik dengan buku bacaan. Sejenak pikirannya kembali ke masa lalu, masa ia benar-benar kagum terhadap tumpukan yang berderet di toko buku. Matanya selalu berbinar melihat novel-novel karya penulis yang ditunggu-tunggu karyanya, semisal Kala karya Syahid Muhammad, Bintang karya Tere Liye, In A Blue Moon karya Ilana Tan, dan masih banyak lagi.

Jika dirunut lebih lama lagi, dulu suka sekali ia membeli atau meminjam komik pengetahuan seperti buku Kuark, Why, Keluarga Super Irit dari sepupu perempuan, bahkan lebih dari satu buku ia pinjam untuk dibaca di rumah. Berhubung karena bacaan yang sering ia baca adalah komik pengetahuan, maka tidak heran Hana sangat menyukai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan mendapat nilai hampir sempurna pada ujian nasional kala itu.

Saat ini Hana berusia 18 tahun, berjarak dua tahun dengan usia kakaknya bernama Vera. Mereka berdua tinggal bersama sejak usia 10 dan 12 tahun karena kedua orangtua mereka mengalami sebuah kecelakaan di jalan tol Waru. Mereka berdua hanya mengandalkan uang peninggalan orangtua yang berada di rak lemari, dan beberapa perhiasan yang dimiliki oleh ibunya untuk bertahan hidup. Saat ini Vera bekerja sebagai Sekretaris di balai penerbitan, diterimanya Vera juga membantu kebutuhan mereka tercukupi.

“Fokus Hana, jangan kelamaan melamun, tugasmu masih banyak yang belum kamu urus.” Hana menyadarkan dirinya kembali dari lamunan.

Hana berusaha fokus untuk kembali mengetik selama kurang-lebih tiga jam. Ia habiskan di depan laptop untuk menuangkan ide-ide yang ada di pikirannya. Tentu tidak sepenuhnya tiga jam ia benar-benar fokus. Setiap satu jam yang terlewat, ia gunakan untuk beristirahat sejenak meregangkan tubuh, meminum air, kemudian mengalihkan pandangan dari laptop kurang-lebih 10 menit. Tiga jam waktu yang dihabiskannya di dalam kamar itu menghasilkan lima halaman, mungkin bagi sebagian orang ada yang menganggap banyak tulisan yang mampu ia ketik dalam jangka waktu itu, namun ada juga yang menganggap kalau lima halaman cenderung sedikit untuk seseorang yang terbiasa menulis.

(2)

Berbicara tentang novel yang sedang ia buat sekarang ini bergenre fantasi mengisahkan seorang anak yang terlahir di sebuah kerajaan. Dia tumbuh besar di kerajaan itu dengan didikan kasih sayang ibu dan pelayan di sekitarnya sehingga pada usia sepuluh tahun ia dianggap cukup mampu untuk diberikan tugas oleh ayahnya untuk mengatur negara bagian yang tidak tersentuh dan terurus oleh kerajaan. Banyak kejahatan di negara bagian tersebut mulai dari kasus penggelapan uang gereja, pemilihan dewan pengawas yang tidak transparan, pemalsuan anggaran dana kerajaan, dan permasalahan lainnya yang harus diselesaikan oleh tokoh utama.

Hana tadi baru saja menceritakan bagaimana anak itu diperintah oleh ayahnya untuk memerintah Kerajaan. Anak itu berusaha menolak, namun diancam akan kehilangan fasilitas kerajaan yang selama ini ia nikmati, sehingga mau tidak mau dia harus menerima.

Hana menengoknya jam dinding menunjukkan pukul 13.00. Ia bergegas mandi, karena ia harus menjadi pembicara di Gramedia Pandanaran pukul 15.00.

Waktu terus berlalu hingga jarum jam menunjukkan pukul 18.00. Tugasnya sebagai pembicara di sana telah usai. Jujur, bagi Hana, menjadi pembicara kali ini merupakan pengalaman pertama yang menjadi batu pijakan ke depan. Orang-orang di Gramedia Pandanaran terlihat antusias dengan materi dan cara dia membawakan materi.

“Wah kakak itu enak banget cara menyampaikannya, apalagi kalau sudah membahas karya berjudul Raindrops Will Miss You cair banget rasanya.” ucap salah seorang.

“Setuju. Aku ingin jadi penulis andal karena materi yang disampaikan tadi, agar teman-teman dan sekolahku bangga memiliki murid seorang penulis.” ucap seorang yang lain.

Hana hanya tersenyum dan segera berlalu melihat kedua orang itu tidak berhenti memuji penampilannya, ia melihat-lihat sebentar buku yang berada di sekelilingnya. Sejenak ia membaca novel Bidadari Bermata Bening karya Habiburrahman El Shirazy kemudian menyerahkannya ke kasir untuk membawanya pulang ke rumah.

Hari berganti hari, terus berganti hingga tidak terasa waktu telah berjalan enam tahun dari pertama kali ia menjadi pembicara hingga saat ini banyak kejadian yang berkesan baginya. Selama enam tahun itu pula ia telah menulis enam judul novel. Setelah buku berjudul Raindrops Will Miss You meningkat pesat penjualannya, ia sempat mengalami masa kejayaan dengan novelnya berjudul Kota di Dalam Kotak (2019), Perahu Layar (2020), Kisah Kasih Kita (2021). Masing-masing terjual 20.000 eksemplar setiap kali novelnya terbit.

Hasil penjualan karyanya dapat digunakan untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari yang kini telah memiliki suami bernama Hadi, keduanya melangsungkan pernikahan pada tahun 2021, namun mereka memutuskan tinggal bersama Sang Kakak yang masih melajang dan memilih berfokus pada pekerjaan. Penjualan novel milik Hana berjalan mulus pada awalnya, namun novel miliknya mulai mengalami penurunan penjualan semenjak tahun 2022. Novelnya berjudul Winter Dream True, dan Align Star masing hanya terjual 5.000 eksemplar setiap novelnya. Hana sempat terpukul saat itu karena bukunya tidak selaris sebelumnya. Namun suaminya berusaha untuk menenangkan pikirannya yang sedang kalut dengan ucapan.

(3)

“Hana, semangat ya, mungkin belum saatnya novelmu terbang tinggi lagi, sekarang kamu fokus aja menulis ya,” ucap Hadi.

“Kasihan kalau ibunya nangis, nanti anaknya juga ikutan nangis,” tambah Hadi lagi sembari melihat perut Hana semakin membesar.

“Sayang, menurutmu kenapa kok novelku udah ngga selaris dulu,” tanya Hana

“Coba deh, kamu cek dulu kenapa, barangkali kamu menemukan solusi,” ujar Hadi.

Hana mengingat-ingat kembali kemunduran apa yang telah dilakukannya dalam dua tahun terakhir. Seharusnya tidak ada pandangan aneh dari orang-orang terhadap dirinya, kemampuan menulisnya juga tidak buruk, bahkan beberapa teman penulis dan kritikus mengatakan bahwa seluruh karyanya menarik. Kemudian ia menarik sebuah buku dari lemari bacaan yang penuh dengan debu, bahkan tidak jarang halaman dari buku-buku yang ada saling melekat satu sama lain. Tersadarlah ia akan kesalahan yang dibuatnya selama dua tahun terakhir.

Jarang membaca buku, itulah alasan terbesar mengapa tulisannya kini tidak cukup menarik dibandingkan tulisan pada masa awal menulis, masa ia mengoleksi dan membaca banyak sekali buku, menganalisis karakter tokoh dengan pembacaan berulang, mencari sumber cerita, dan caranya mengembangkan ide juga berkurang sehingga ceritanya terkesan monoton tanpa menghasilkan sesuatu yang baru.

“Ternyata ini letak kesalahanku,” ucap Hana.

Semenjak adanya penyebaran virus yang menyerang seluruh dunia membuat dirinya jarang menghabiskan waktu untuk keluar meskipun hanya membaca buku di perpustakaan atau berkumpul dengan teman, atau melihat berita-berita terkini. Waktunya sebagian besar hanya dihabiskan dengan merebahkan tubuh di kamar, dan bermalas-malasan di dalam rumah.

“Apakah mungkin bagiku untuk bangkit wahai suamiku” tanya Hana pada Hadi suaminya.

“Sangatlah mungkin wahai istriku, usiamu juga masih muda, perjalananmu tentu belum usai,” ujar Hadi menyemangati.

Perkataan Hadi bisa dibilang ada benarnya, bahwa ia masih terbilang muda dari segi usia, meskipun tidak ada rentang usia untuk menulis, namun ia harus tetap bersemangat.

Hana segera mengambil sebuah buku dan mulai membaca ulang buku-bukunya.

Perlahan tapi pasti, Hana kembali mendapatkan popularitas, buku-bukunya mulai terjual 10.000 eksemplar setiap terbit, Hana juga kerap mendapat pujian, baik dari pengamat ataupun pembaca awam, ternyata kesalahan yang ia perbuat dua tahun terakhir hanyalah kurang riset, dan pembacaan perlahan yang membuat tulisannya semakin indah dan bermakna bagi seluruh pembaca.

Tamat

Referensi

Dokumen terkait

Terbilang : Tiga ratus tiga puluh enam juta enam ratus tujuh belas ribu rupiah Jangka Waktu Pelaksanaan : 75 (tujuh puluh lima ) Hari Kalender. Kepada peserta diberikan

Jangka waktu pelaksanaan adalah 165 (seratus enam puluh lima hari) kalender.. Masa berlaku penawaran adalah 30 (tiga puluh)

(Tiga Ratus Lima Belas Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah) Jangka Waktu Pelaksanaan : 30 (Tiga Puluh) Hari Kalender. Evaluasi Penawaran Administrasi : Memenuhi Syarat

( Lima Puluh Dua Juta Tiga ratus Dua Puluh Ribu Rupiah ) sudah termasuk pajak dan pungutan resmi lainnya. Jangka Waktu Pekerjaan : 30 (Tiga puluh)

Untuk memberikan kepastian hukum bagi Wajib Pajak berkenaan dengan pelaksanaan pemungutan pajak dengan sistem self assessment , apabila dalam jangka waktu 5 (lima)

Jangka Waktu Pelayanan 15 (lima belas) menit sejak berkas masuk setelah dokumen dinyatakan benar dan lengkap, apabila berkas masuk kurang dari 15 (lima belas) menit sebelum

Perubahan jangka waktu yang diperhitungkan pada penanggalan ini adalah perubahan tanggal (hari), bulan, tahun, tiga puluh tahunan, dan tahun kabisat yang jangka

Tulisan sederhana ini dimaksud untuk mengantarkan akademisi Indonesia dalam menulis buku ilmiah berbahasa Inggris, sehingga, dengan berjalannya waktu, mereka dapat menghasilkan