• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulisan Buku Akademik dalam Bahasa Ing

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penulisan Buku Akademik dalam Bahasa Ing"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Penulisan Buku Akademik dalam Bahasa Inggris: Beberapa Catatan

Christopher A. Woodrich International Indonesia Forum

Latar Belakang

Dalam perkembangan keilmiahan di Indonesia, salah satu hal yang masih kurang berkembang adalah penulisan dan penerbitan buku akademik yang berbahasa Inggris. Mengingat bahwa rata-rata wacana akademik diadakan dalam bahasa tersebut, banyak hasil penelitian di Indonesia tidak dapat dijadikan bahan rujukan oleh akademisi dan mahasiswa di luar Indonesia. Hal ini sangat membatasi dampak dari penelitian-penelitian yang dilakukan peneliti Indonesia. Tulisan sederhana ini dimaksud untuk mengantarkan akademisi Indonesia dalam menulis buku ilmiah berbahasa Inggris, sehingga, dengan berjalannya waktu, mereka dapat menghasilkan dan menerbitkan buku yang dirujuk bukan hanya di wilayah Nusantara, melainkan juga di luar negeri.

Beberapa Fundamental Penulisan

Meskipun banyak akademisi Indonesia sudah berpengalaman dalam menulis buku, masih ada beberapa poin penting yang layak dicatat untuk mempermuda penulisan buku yang berbahasa Inggris. Meskipun poin-poin tersebut sebenarnya bersifat sangat mendasar, ia kerap tidak dihiraukan.

Untuk menulis buku yang baik, seharusnya tujuan tersebut sudah disadari dari awal, sewaktu melakukan penelitian. Objek penelitian harus dipandang bukan hanya berdasarkan ilmu yang dapat dihasilkan, tetapi juga berdasarkan uraian yang dapat dihasilkan untuk pembaca yang (mungkin saja) belum banyak tahu tentang objek penelitian tersebut. Karena itu, untuk menghasilkan sebuah buku, sebaiknya penelitian tidak terpusat hanya pada satu aspek saja, tetapi juga mencakup pengertian dasar tentang objek penelitian. Selain itu, selama penelitian dilaksanakan, semua temuan yang sekiranya menarik untuk pembaca dapat dicatat dan diuraikan secara sederhana; uraian tersebut masih dapat direvisi sewaktu buku ditulis dengan sungguh-sungguh.

Proses penulisan buku sendiri tidak harus, dan memang sebaiknya jangan, langsung selesai. Untuk menghindari kebiasaan yang akrab dikenal sebagai sistem kebut semalam atau SKS, penulisan sebaiknya dicicil dengan alokasi waktu yang teratur. Seorang penulis dapat, misalnya, hanya menulis 500 kata per hari; kalau penulis tersebut menulis setiap hari, maka dalam seminggu ia sudah menghasilkan 3.500 kata, dan dalam sebulan ia sudah menghasilkan 15.000 kata. Supaya tetap termotivasi, ada baiknya penulis menetapkan serangkaian deadline untuk diri sendiri (misalnya, harus mencapai jumlah kata tertentu atau jumlah halaman tertentu sebelum tanggal sekian). Dengan demikian, hasil pencapaian menjadi nyata.

(2)

penulis mendapatkan inspirasi baru, yang harus segera dicatat; itu tidak menjadi masalah. Namun, pertimbangan yang lebih mendalam sebaiknya dilakukan secara terfokus.

Ketika menulis, penulis harus membatasi diri untuk tidak menghasilkan tulisan yang terlalu panjang. Apabila buku yang dihasilkan terlalu tebal, ada kemungkinan audiens yang dituju penulis tidak akan membaca buku tersebut. Buku yang tidak akan dibaca juga tidak akan diminati oleh penerbit, mengingat bahwa tujuan penerbitan buku akademik tidak semata-mata untuk menyebarluaskan pengetahuan. Karena itu, buku yang dihasilkan penulis sebaiknya menggunakan batas halaman/kata yang sepadan dengan isi buku dan audiens yang dituju. Batas yang tepat berbeda-beda; Jeff Goins (2012), seorang penulis yang sering menasihati calon penulis, menyarankan 40.000 hingga 70.000, sementara Tanya Golash-Boza (2011), seorang sosiolog di University of California, Merced, menyarankan 70.000 hingga 150.000 kata.

Setelah menulis, proses revisi tidak boleh dilupakan. Selain melakukan revisi sendiri serta berdasarkan masukan dari penerbit, penulis juga sebaiknya mencari masukan dari siswa, rekan, dan sebagainya. Ini dikarenakan penulis sering memerlukan masukan dari orang lain supaya asumsi atau biasnya sendiri dapat diketahui dan dibatasi, serta kekurangjelasan dapat dihindari atau diperjelas. Misalnya, kalimat "Darah dan Doa was the first Indonesian film" mengandung asumsi bahwa "Indonesia" identik dengan "pribumi", mengingat bahwa banyak film lain diproduksi di Nusantara sebelum Darah dan Doa, dan bahkan sebelum kemerdekaan. Apabila asumsi "Indonesia" identik dengan "pribumi" tidak diketahui, ia dapat mempengaruhi validitas penelitian.

Buku Akademik sebagai Komoditas

Buku ilmiah atau buku ilmiah popular bukanlah alat untuk wacana akademik semata. Ia juga merupakan komoditas, yang diperjualbelikan penerbit (dan kadang penulis) untuk mencari keuntungan finansial. Karena itu, baik penerbit akademik maupun penerbit non-akademik akan mempertimbangkan nilai jual buku. Buku yang tidak akan laku di pasar akan lebih sulit diterima oleh penerbit, apalagi penerbit yang tidak disubsidi dari instansi atau penulis.

Karena itu, sewaktu buku ditulis penulis sudah harus mempertimbangkan nilai jual bukunya. Hal ini dapat mempengaruhi hal-hal yang paling mendasar sekalian. Topik tulisan harus bersifat agak umum, dan bukan sangat spesifis. Dengan demikian, tulisan dapat dibeli, dibaca, dan dirujuk sebanyak mungkin. Bandingkan, misalnya, judul A Comparison of Visual Markers in Two Adaptations of Marga T.'s Novel Badai Pasti Berlalu dengan judul Filmic Transformations in Indonesian Film Adaptations. Judul yang pertama bersifat sangat spesifis, dan tema yang diangkat pun bersifat spesifis: hanya ada dua film yang menjadi bagian dari korpus. Sementara itu, judul yang kedua bersifat umum, dengan korpus yang lebih luas, dan karena itu dia dapat digunakan oleh lebih banyak orang. Sebagai contoh yang nyata, dapat dilihat buku Modern Noise, Fluid Genres: Popular Music in Indonesia, 1997– 2001 (Wallach, 2008), yang ditulis mengenai musik popular secara umum, meskipun juga membahas pemusik seperti Krisdayanti dan band seperti Dewa.

(3)

non-formal atau bahkan puitis daripada bahasa yang digunakan dalam artikel jurnal. Istilah yang sangat teknis, atau jargon, sepantasnya dihindari atau dikurangi apabila dimungkinkan. Dalam judul Contemporary Indonesian Film: Spirits of Reform and Ghosts from the Past (van Heeren, 2012), misalnya, kata spirit ('jiwa') dan ghost ('hantu') digunakan dengan maksud metaforis: . Istilah yang bersifat sangat spesifis—Reformasi, yang dibatasi pada konteks Indonesia dan Malaysia—diganti dengan kata reform yang lebih umum tetapi juga merujuk pada era Reformasi.

Target audience menjadi penting; apabila buku dituju kepada pembaca yang duduk di bangku kuliah, gaya penulisan akan berbeda dengan apabila buku dituju kepada pembaca yang awam. Ini juga mempengaruhi informasi yang disajikan dalam buku, yang bersifat lebih umum atau luas. Sebaiknya penulis jangan menguraikan setiap detail secara mendalam, mengingat bahwa rata-rata pembaca tidak akan memerlukan informasi tersebut; informasi yang lebih mendetail dapat diterbitkan dalam artikel jurnal, di mana pembacanya sudah memiliki pengertian yang lebih umum tentang objek penelitian.

Penulis juga sebaiknya memusatkan hasil penelitian atau praktek, bukan metodologi (kecuali untuk buku yang dimaksud untuk mengajarkan metodologi, tentu!). Pada umumnya, pembaca tidak mencari informasi yang mendetail mengenai metodologi yang digunakan untuk memperoleh hasil tertentu; yang dicari tetaplah hasil penelitiannya. Karena itu, menurut Karen Kelsky (2016), seorang sosiolog yang pernah mengajar di University of Oregon dan University of Illinois at Urbana-Champaign, mengingatkan bahwa bagian metodologi dan tinjauan pustaka dapat dihilangkan sama sekali atau dimasukkan ke bagian pengantar. Jangan sampai, seperti buku Novel dan Film karya Pamusuk Eneste (1991), hasil penelitian hanya mengisi beberapa halaman saja.

Menghasilkan Buku Berbahasa Inggris

Menulis buku dalam bahasa Inggris merupakan tantangan tersendiri, apalagi untuk akademisi Indonesia. Selain kendala menulis secara ringkas, bernas, dan jelas, terdapat pula kendala menulis dalam bahasa yang bukan bahasa ibu. Karena itu, banyak akademisi Indonesia tidak menulis langsung dalam bahasa Inggris; tulisan dihasilkan dalam bahasa Indonesia dulu, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Cara kerja seperti ini tentu membutuhkan keahlian khusus dalam hal penerjemahan, serta pemahaman bidang kajian yang memadai. Tidak semua penerjemah, misalnya, akan menyadari bahwa istilah arena dalam kajian yang menggunakan teori Pierre Bourdieu selazimnya diterjemahkan field dalam bahasa Inggris.

Apabila kemampuan berbahasa Inggris seorang penulis memadai, ia dapat menulis langsung dalam dalam bahasa Inggris. Hal ini akan membantu penulis menyesuaikan diri dengan pola pikir yang tersirat dalam kajian akademik internasional dan mengeluarkan diri dari asumsi-asumsi dan bias-bias yang ada dalam bahasa Indonesia. Dengan memaksakan diri menulis dalam bahasa yang bukan bahasa ibu, yang mengandung pola pikir yang bukan pola pikir masyarakat setempat, penulis dapat lebih banyak mempertimbangkan bias-bias yang mungkin mempengaruhi hasil tulisannya.

(4)

Indonesia mengandung pengertian "tidak mengenakan pakaian". Sementara itu, kata naked dan nude dalam bahasa Inggris, yang sama-sama mengandung pengertian "tidak mengenakan pakaian", memiliki konotasi yang berbeda. Naked selalu mengacu kepada ketelanjangan (manusia) dalam kehidupan nyata, sementara nude dalam kajian seni visual memiliki konotasi "figur telanjang yang dilukis secara artistis". Apabila istilah yang salah digunakan, hasil penulisan tidak akan mencerminkan maksud penulis. Karena itu, peran penyunting— apalagi seorang native speaker, bilamana ada—sangat diperlukan.

Selain itu, ketika menulis untuk pembaca internasional, diperlukan kesadaran bahwa pembaca tersebut belum tentu memiliki latar belakang sosio-budaya untuk memahami semua pernyataan yang umum disampaikan melalui tulisan. Frasa "Since Indonesia's independence", misalnya, lazim dipahami pembaca Indonesia sebagai "Sejak tahun 1945". Namun, pembaca dari luar yang tidak tahu kapan Indonesia merdeka akan bingung dan bertanya "sejak kapan?". Pembaca yang lebih tahu sejarah Indonesia, atau mungkin pembaca yang dibesarkan dalam narasi sejarah Belanda, mungkin bertanya "Sejak merdeka secara de facto pada tahun 1945, atau sejak merdeka secara de jure pada tahun 1949?" Ambiguitas serupa dapat dilihat, misalnya, dalam kalimat "Children were reminded to not use their left hands" (Mengapa anak-anak tidak boleh menggunakan tangan kiri? Di negara lain seperti Kanada atau Amerika Serikat boleh-boleh saja.) atau "The judge found the defendant guilty of all charges and sentenced him" (Mengapakah hakim yang menyatakan kalau terdakwa bersalah atau tidak? Banyak negara Barat menggunakan sistem trial by jury dalam persidangan pidana).

Satu perbedaan lain yang sebaiknya diingat ialah bahwa, dalam bahasa Inggris, tulisan ilmiah tertentu dapat (tetapi tidak selalu) mengakui keterlibatan peneliti dengan menggunakan kata "I", "my", "we", dan sebagainya. Pengakuan keterlibatan peneliti cenderung digunakan apabila keberadaan peneliti dapat mempengaruhi hasil penelitian. Misalnya,

"'Discourse' is a prominent concept in this book. Along the lines of Norman Fairclough's media discourse analysis, I use the term in a combination of two senses. I use it in the sense which is prevalent in language studies: 'discourse as social action and interaction, people interacting together in real social situations' …. In addition, I use the term in the sense in which it is prevalent in post-structuralist social theory, as propounded by Foucault: 'a discourse as a social construction of reality, a form of knowledge'…." (van Heeren, 2012: 2)

Dari kutipan ini, bandingkan kalimat "I use the term in a combination of two senses" dan "The term is used in a combination of two senses". Kalimat pertama menegaskan bahwa istilah yang digunakan belum tentu dipahami dengan dua cara secara umum, melainkan bahwa penulis memahami istilah yang digunakan dengan dua pemahaman. Sementara itu, kalimat kedua mengimplikasikan bahwa istilah yang digunakan secara universal dipahami dengan dua pemahaman. Pengakuan "aku" ini lebih umum ditemukan dalam ilmu-ilmu sosial, tetapi juga dapat ditemukan dalam hasil penelitian ilmu alam.

Penerbit dan Pembaca

(5)

memiliki jaringan distribusi yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sehingga buku yang diterbitkan mereka dapat dibaca dan dirujuk oleh lebih banyak orang. Karena itu, sebelum penulis memilih penerbit, sebaiknya penulis mencari tahu:

- Jenis buku apa yang sering diterbitkan penerbit?

- Bagaimana kredibilitas penerbit dengan pembaca? Dengan ilmuwan lain?

- Bagaimana kontrak yang biasanya disiapkan penerbit? Hak dan kewajiban penulis apa? Hak dan kewajiban penerbit apa?

- Bagaimana proses menerbitkan buku dengan penerbit? Apakah harus membuat proposal?

Selain itu, sebagaimana sudah dinyatakan di atas, sebelum dan sewaktu menulis, sudah harus ada ide kira-kira siapa akan menjadi pembaca buku. Target audience-nya harus jelas. Cara memperluas audiens tersebut juga harus jelas; meskipun penerbit menjual buku yang diterbitkan, penulis juga harus ikut menjual bukunya secara aktif untuk mendapatkan hasil yang paling maksimal. Untuk memperlancar penjualan, penulis dapat mengirim beberapa eksemplar untuk di-review dalam jurnal, menggunakan buku sebagai bahan ajar, dan/atau bahkan mengiklankan bukunya melalui media sosial atau media lain. Dengan demikian, buku diharapkan lebih laris dijual dan dirujuk.

Daftar Rujukan

Eneste, Pamusuk. (1991). Novel dan Film. Ende: Nusa Indah.

Goins, Jeff. (2012). "10 Ridiculously Simple Tips for Writing a Book." Diunduh dari http://goinswriter.com/tips-writing-book/ pada tanggal 17 Oktober 2016.

Golash-Bosa, Tanya. (2011). "How to write a book proposal for an academic press." Diunduh dari

http://getalifephd.blogspot.nl/2011/03/how-to-write-book-proposal-for-academic.html pada tanggal 17 Oktober 2016.

Kelsky, Karen. (2016). "My Top Five Tips for Turning Your Dissertation into a Book–A Special Request Post". Diunduh dari http://theprofessorisin.com/2016/02/26/how-to-turn-your-dissertation-into-a-book-a-special-request-post/ pada tanggal 17 Oktober 2016.

Van Heeren, Katinka. (2012). Contemporary Indonesian Film: Spirits of Reform and Ghosts from the Past. Leiden: KITLV Press.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan pengalaman, teknologi serta armada yang saat ini dimiliki, jasa pelayaran yang dimiliki perseroan akan terus terserap oleh sejumlah perusahaan migas besar dalam jangka

HTML (Hyper Text Markup Language) adalah simbol-simbol atau tag-tag yang dituliskan dalam sebuah file yang dimaksudkan untuk menampilkan halaman pada web browser.. Tag-tag HTML

Syarat- syaratnya adalah: Harga barang ditentukan jelas dan pasti diketahui pihak penjual dan pembeli, pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak

Visual basic dapat menampilkan grafik dan menyimpan data, rangkaian komunikasi serial RS-485 dapat bekerja dengan baik dan sistem pengambilan data dapat bekerja dengan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa hasil dari koefisien determinan adalah sebesar 34,4% yang artinya dalam penelitian ini variabel tingkat

penghambat kembalinya aset negara, walaupun vonis hakim telah menjatuhkan sanksi pidana tambahan berupa pengembalian kerugian keuangan negara oleh terpidana korupsi,