TWK - Bahasa Indonesia - Huruf Kapital
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 23 Tahun 2019 tentang Kriteria Penetapan Kebutuhan Pegawai Negeri Sipil dan Pelaksanaan Seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun 2019, disebutkan bahwa salah satu tema soal dalam tes wawasan kebangsaan (TWK) yaitu mengenai bahasa Indonesia yang bertujuan supaya peserta mampu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang sangat penting kedudukannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Adapun salah satu materi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia yaitu mengenai penggunaan huruf kapital.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) terdapat ketentuan-ketentuan mengenai penggunaan huruf kapital yang akan kita jadikan acuan dalam rangkuman materi kali ini dalam rangka menghadapi TWK CPNS 2019 yang direncanakan akan menggunakan soal tipe HOTS.
1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Contoh:
Ayah membaca koran.
Bagaimana caranya?
Kita harus saling menghormati.
Bila kita perhatikan contoh tersebut, dapat kita lihat bahwa setiap huruf pertama awal kalimat (huruf a pada kata ayah, huruf b pada kata bagaimana dan huruf k pada kata kita) menggunakan huruf kapital. Alasannya, karena huruf-huruf tersebut merupakan huruf pertama awal kalimat sehingga ditulis menggunakan huruf kapital.
2.1 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.
Contoh unsur nama orang:
Ismail Marzuki sedang membaca majalah.
Ahmad Sanusi sedang tidur.
Dewi Komalasari sedang memasak.
Bila kita perhatikan contoh tersebut, dapat kita lihat bahwa setiap huruf pertama unsur nama orang (huruf i pada kata Ismail, huruf M pada kata Marzuki, huruf a pada kata Ahmad, huruf s pada kata Sanusi, huruf d pada kata Dewi dan huruf k pada kata Komalasari) menggunakan huruf kapital. Alasannya, karena huruf- huruf tersebut adalah huruf pertama unsur nama orang, sehingga ditulis dengan menggunakan huruf kapital.
Contoh unsur nama julukan:
Soekarno dan Mohammad Hatta mendapatkan julukan sebagai Dwi Tunggal.
Bandung memiliki julukan sebagai Kota Kembang.
Indonesia memiliki julukan sebagai Zamrud Khatulistiwa.
Bila kita perhatikan contoh tersebut, dapat kita lihat pada setiap huruf pertama unsur nama julukan (huruf d dan t pada kata Dwi Tunggal, huruf k pada kata Kota Kembang, serta huruf z dan k pada kata Zamrud Khatulistiwa) menggunakan huruf kapital. Alasannya, karena huruf-huruf tersebut adalah huruf pertama unsur nama julukan, sehingga ditulis dengan menggunakan huruf kapital.
2.2 Huruf kapital tidak dipakai apabila unsur nama orang digunakan sebagai nama jenis atau nama satuan.
Contoh:
Ayah sedang memperbaiki mesin diesel 10 watt
100 ohm
Bila kita perhatikan, bahwa nama jenis (diesel) tidak ditulis dalam huruf kapital meskipun berasal dari unsur nama orang (Rudolf Diesel), begitupula dengan nama satuan (watt dan volt) tidak ditulis dalam huruf kapital meskipun berasal dari unsur nama orang (James Watt dan Georg Simon Ohm). Alasannya, karena huruf- huruf tersebut adalah huruf pertama pada nama jenis atau nama satuan sehingga tidak ditulis dengan huruf kapital.
2.3 Huruf kapital tidak dipakai apabila unsur nama orang atau nama julukan terdapat kata yang bermakna ‘anak dari’ seperti bin, binti, boru, van atau huruf pertama kata tugas maka penulisannya tidak menggunakan huruf kapital.
Contoh:
Muhammad Sudais bin Abdul Aziz Siti Nur Fatimah binti Hasan Intan boru Sitanggang
Charles Adrian van Ophuijsen
Andi Meriem Matalatta mendapatkan julukan sebagai Mutiara dari Selatan.
Sultan Hasanuddin mendapatkan julukan sebagai Ayam Jantan dari Timur.
Bila kita perhatikan unsur nama orang (huruf b pada kata bin, huruf b pada kata binti, dan huruf v pada kata van) tidak menggunakan huruf kapital, begitupula dengan unsur nama julukan (huruf d pada kata dari) juga tidak menggunakan huruf kapital.Alasannya, karena huruf-huruf tersebut adalah huruf pertama pada unsur nama orang yang bermakna 'anak dari', sehingga tidak ditulis dengan huruf kapital.
Contoh kata tugas (di, ke, dari, dan, yang, untuk, tentang).
3. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Contoh:
Ayah bertanya,”Bagaimana cara membuat kue?”
Ibu menasihati anaknya, “Berhati-hatilah, Nak!”
“Mereka berhasil meraih juara satu”, katanya.
Bila kita perhatikan, huruf awal kalimat dalam petikan langsung (huruf b pada kata bagaimana, huruf b pada kata berhati-hatilah, dan huruf M pada kata mereka) menggunakan huruf kapital. Alasannya, karena huruf- huruf tersebut adalah huruf pertama pada awal kalimat dalam petikan langsung, sehingga ditulis dengan huruf kapital.
4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci, Tuhan dan kata ganti untuk Tuhan.
Contoh:
Salah satu agama yang diakui di Indonesia adalah Islam.
Salah satu agama yang diakui di Indonesia adalah Kristen.
Islam memiliki kitab suci yang bernama Alquran.
Kristen memiki kitab suci yang bernama Alkitab.
Tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah.
Segala sesuatu telah diatur oleh kehendak-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.
5.1 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan,
keagamaan atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Contoh:
Ayam Jantan dari Timur adalah julukan dari Sultan Hasanuddin.
Salah satu pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia adalah Raden Adjeng Kartini.
Toko itu milik Haji Mahmud.
Nabi Terakhir yang diutus oleh Allah adalah Nabi Muhammad.
Dosen mata kuliah filsafat adalah Doktor Idris Salim.
Peserta CPNS yang lolos pada jabatan Analis Kelembagaan bernama Ahmad Permana, Sarjana Hukum.
5.2 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi serta nama jabatan dan kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Contoh:
Selamat malam, Sultan.
Terima kasih, Yang Mulia.
Semoga berbahagia, Kiai Mohon izin, Prof.
Silahkan duduk, Jenderal
6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Paspampres sedang mengawal Presiden Joko Widodo.
Gubernur Jawa Barat sedang berpidato.
Kementerian Pertanian mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan dibidang pertanian untuk membantu Presiden Indonesia dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.
7.1 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Contoh:
Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia.
Salah satu suku di Jawa Barat adalah suku Sunda.
Salah satu bahasa daerah yang sering dipergunakan oleh masyarakat Jawa Barat adalah bahasa Sunda.
Catatan:
Bila kita perhatikan, penulisan nama bangsa yang tepat adalah bangsa Indonesia bukan Bangsa Indonesia (huruf b tidak ditulis dengan huruf kapital dan huruf i pada kata Indonesia ditulis dengan huruf kapital).
Selanjutnya, penulisan nama suku yang tepat adalah suku Sunda bukan Suku Sunda (huruf s pada kata suku tidak ditulis dengan huruf kapital dan huruf s pada kata Sunda ditulis dengan huruf kapital). Kemudian, penulisan yang tepat adalah bahasa Sunda bukan Bahasa Sunda (huruf b pada kata bahasa tidak ditulis dengan huruf kapital dan huruf s pada kata Sunda ditulis dengan huruf kapital).
7.2 Huruf kapital tidak dipakai apabila nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa menjadi bentuk dasar kata turunan.
Contoh:
Unduh adalah salah satu contoh pengindonesiaan kata asing untuk download.
Logat bicara Andi kesunda-sundaan.
Wajah cantiknya seperti kebarat-baratan.
Catatan:
Kata turunan adalah kata dasar yang telah mendapatkan imbuhan (awalan, sisipan, akhiran), pengulangan maupun gabungan kata.
8.1 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan haris besar atau hari raya.
Contoh:
Salah satu ciri dari tahun Kabisat adalah angka tahunnya bisa dibagi angka empat.
Doni lahir pada bulan September.
Sekolah libur pada hari Minggu.
Ketupat adalah salah satu makanan khas yang ada pada hari Lebaran.
8.2 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Contoh:
Jepang menyerah pada sekutu pada akhir Perang Dunia II.
Masyarakat Indonesia bahagia menyambut Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
8.3 Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama peristiwa sejarah tidak ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Perlombaan senjata antar negara dapat membawa risiko terjadinya perang dunia.
Soekarno dan Hatta adalah tokoh yang memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Catatan:
Bila kita perhatikan, huruf-huruf awal pada kata perang dunia tidak ditulis dengan huruf kapital. Alasannya, karena kata ‘perang dunia’ pada contoh tersebut bukan merupakan nama peristiwa sejarah sehingga tidak ditulis dengan huruf kapital.
Kata ‘perang dunia’ pada contoh tersebut merupakan nama jenis, adapun nama peristiwa sejarah yang sebenarnya bernama Perang Dunia I atau Perang Dunia II. Kita tidak dapat mengetahui kapan terjadinya perang dunia, karena perang dunia bukan merupakan peristiwa sejarah. Namun, kita bisa mengetahui kapan terjadinya Perang Dunia I yaitu pada tahun 1914 - 1918 dan Perang Dunia II yaitu pada tahun 1939-1945.
Begitupula dengan kata ‘memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada contoh kedua juga bukan merupakan peristiwa sejarah. Kata tersebut merupakan kata kerja, adapun nama peristiwa sejarah yang sebenarnya bernama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
9.1 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Contoh:
Bandung Pulau Jawa
Dataran Tinggi Dieng
Asia Tenggara Gunung Semeru Jazirah Arab
Kecamatan Padalarang Kelurahan Cimahi Tengah Jalan Gatot Subroto
9.2 Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Kami akan pergi ke gunung.
Perahu sedang menyeberangi sungai.
Saya sedang mandi di sungai.
Catatan:
Bila kita perhatikan, kata ‘gunung’ tidak ditulis dengan huruf kapital karena bukan nama diri geografi. Kata
‘gunung’ termasuk kedalam kategori nama jenis. Nama diri geografi yang berhubungan dengan gunung misalnya, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Semeru, dan Gunung Kilimanjaro.
9.3 Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
petai cina jeruk bali pisang ambon jeruk bali Catatan:
Untuk membedakan nama diri dengan nama jenis dapat dilakukan dengan cara menganalisis nama tersebut setelah ditambah dengan nama geografi. Apabila suatu nama yang telah ditambahkan nama geografi hanya dapat disejajarkan dengan nama geografi lainnya maka nama tersebut termasuk kedalam nama diri,
sedangkan bila suatu nama yang telah ditambahkan nama geografi dapat disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya maka termasuk kedalam nama jenis.
Contohnya, bila kita analisis kata 'batik Solo' maka nama tersebut termasuk kedalam nama diri. Alasannya, karena bila kita sejajarkan kata 'batik Solo' dengan 'batik tulis' maka perbandingannya tidak sejajar. Kata 'batik Solo' merujuk pada batik dengan motif khas Solo (ciri khas daerah) sedangkan 'batik tulis' merujuk
pada teknik pembuatan batik.
Berdasarkan analisis tersebut, dapat kita lihat secara jelas bahwa perbandingannya tidak sejajar karena yang satu merujuk pada motif khas daerah tertentu sedangkan yang satu lagi merujuk pada teknik
pembuatannya.
Kata 'batik Solo' hanya bisa disejajarkan dengan nama geografi lainnya seperti batik Cirebon, batik Pekalongan, ataupun batik Yogyakarta, sehingga kata 'batik Solo' merupakan nama diri geografi sehingga penulis huruf awal nama georafinya ditulis dengan huruf kapital.
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas.
Contoh:
Kami adalah masyarakat Indonesia yang taat pada hukum.
Salah satu lembaga negara di Indonesia adalah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Badan Kepegawaian Negara sedang melakukan rapat persiapan seleksi CPNS.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah Catatan:
Contoh kata tugas (di, ke, dari, dan, yang, untuk, tentang)
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas yang tidak terletak pada posisi awal.
Contoh:
Saya membeli buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Kami telah selesai mengerjakan tugas membuat karangan yang berjudul Pengalaman Wisata ke Kota Bandung
Saya membuat artikel yang berjudul Kerajinan Tangan dari Plastik.
Kami sedang menyajikan makalah “Asas-Asas Manajemen”
Tulisan kami dimuat pada majalah Tempo.
Dia bekerja sebagai agen surat kabar Pikiran Rakyat.
Catatan:
Contoh kata tugas (di, ke, dari, dan, yang, untuk, tentang)
12. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, atau sapaan.
Contoh:
S.E. = sarjana ekonomi M.Si. = magister sains S.Pd. = sarjana pendidikan Prof. = profesor
Sdr. = saudara Ny. = nyonya Tn. = Tuan
13.1 Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan, serta kata atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Contoh:
Ahmad bertanya, “Kapan Ibu pulang?”
“Silakan makan, Dik!” kata orang itu.
Temannya berkata, “Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?”
Catatan:
Kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti Bapak, Ibu, Kakak, Adik, dan Saudara. Huruf pertama kata penunjuk kekerabatan yang tidak digunakan sebagai penyapaan atau pengacuan tidak ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:
Mari kita hormati ibu dan bapak kita
Andi mempunyai dua orang kakak dan satu orang adik.
Kami semua empat orang bersaudara.
13.2 Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Contoh:
Bagaimana cara Anda membuat benda itu?
Siapa nama ibu dan bapak Anda?
TWK - Bahasa Indonesia - Penggunaan Tanda Titik Dua
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), terdapat ketentuan-ketentuan mengenai penggunaan tanda titik dua tersebut, yang akan kita jadikan acuan dalam rangkuman materi ini, dalam rangka menghadapi TWK CPNS 2019 yang direncanakan akan menggunakan soal tipe HOTS.
Tanda baca merupakan unsur yang penting dalam bahasa tulis. Tanda baca dapat membantu pembaca bisa memahami jalan pikiran sang penulisnya. Bisa dibayangkan bertapa sulitnya kita dalam memahami suatu tulisan yang tidak dilengkapi dengan tanda baca sama sekali.
1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti pemerincian atau penjelasan.
Contoh:
Saya ditugaskan oleh pimpinan untuk membeli alat tulis kantor: kertas, penggaris, dan pulpen.
Ibu memerlukan peralatan dapur: panci, wajan, sendok, garpu, dan kompor.
Ayah membeli banyak buah-buahan: jeruk, melon, anggur, mangga, dan apel.
Bila kita perhatikan contoh tersebut, tanda titik dua digunakan untuk memerinci atau memberikan penjelasan pada suatu pernyataan lengkap. Untuk mengetahui bahwa suatu pernyataan termasuk pernyataan lengkap atau tidak lengkap dapat dilakukan dengan cara membuang pemerincian atau penjelasannya.
Apabila setelah dibuang pemerincian atau penjelasannya suatu pernyataan tetap jelas, maka pernyataan tersebut adalah pernyataan lengkap. Namun, apabila setelah dibuang pemerincian atau penjelasannya suatu pernyataan berubah menjadi tidak jelas, maka pernyataan tersebut adalah pernyataan tidak lengkap.
Contoh:
Saya ditugaskan oleh pimpinan untuk membeli alat tulis kantor (tetap jelas).
Ibu memerlukan peralatan dapur (tetap jelas).
Ayah membeli banyak buah-buahan (tetap jelas).
2. Tanda titik dua tidak dipakai jika pemerincian atau penjelasan itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Contoh:
Saya ditugaskan oleh pimpinan untuk membeli kertas, penggaris, dan pulpen.
Ibu memerlukan panci, wajan, sendok, garpu, dan kompor.
Ayah membeli jeruk, melon, anggur, mangga, dan apel.
Sistematika penyusunan laporan terdiri dari a. pendahuluan,
b. landasan teori, c. pembahasan, d. kesimpulan.
Bila kita perhatikan, pada contoh tersebut pemerincian atau penjelasan tidak menggunakan tanda titik dua.
Alasannya, karena pemerincian atau penjelasan tersebut berada sebagai posisi pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Apabila pemerincian atau penjelasan tersebut dibuang, maka pernyataan tersebut menjadi tidak lengkap dan tidak jelas.
Contoh:
Saya ditugaskan oleh pimpinan untuk membeli (membeli apa?) Ibu memerlukan (memerlukan apa?)
Aya membeli (membeli apa?)
Sistematika penyusunan laporan terdiri dari (terdiri dari apa saja?)
3. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapkan yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua : Ir. Soekarno
Wakil Ketua : Drs. Muhammad Hatta Anggota : H. Agus Salim
4. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Ayah: “Ibu sedang pergi kemana, Nak?”
Anak: “Ibu sedang pergi ke pasar.
Ayah: “Tolong ambilkan minum, Nak!”
5. Tanda titik dua dipakai diantara jilid atau nomor dan halaman.
Contoh:
Kompas, III, No. 4/2007: 15 Suara Merdeka, V, No. 3/2009: 14 Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
6. Tanda titik dua dipakai diantara surah dan ayat dalam kitab suci.
Contoh:
Surah Alfatihah: 1 Surah Alfalaq: 3 Matius 2: 3
7. Tanda titik dua dipakai diantara judul dan anak judul suatu karangan.
Contoh:
Materi Bahasa Indonesia: Penggunaan Tanda Titik Dua Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara Penjelajahan di Gunung Semeru: Ekspedisi Menegangkan Catatan:
Anak judul adalah tambahan pada judul buku dan sebagainya (karangan) yang digunakan sebagai kata-kata penjelas terhadap judul.
8. Tanda titik dua dipakai diantara nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.
Contoh:
Jakarta: Pusat Bahasa.
Yogyakarta: Bumi Aksara.
Solo: Era Intermedia
TWK - Bahasa Indonesia
Kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar merujuk pada Ejaan yang Disempurnakan (EYD).
Ejaan adalah keseluruhan peraturan yang menggambarkan lambang-lambang bunyi ujaran dan cara interelasi antara lambang-lambang itu dalam suatu bahasa.
A. Penulisan Huruf
1. Penulisan huruf kapital (huruf besar)
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada:
Awal kalimat Contoh:
Bus itu melaju dengan cepat.
Awal petikan langsung
Petikan langsung ditandai dengan (" ... ") Contoh:
Ibu berkata, "Ayo bangun, matahari sudah tinggi."
Dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan Ungkapan yang berhubungan dalam hal keagaamaan berupa: nama Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan, dan kitab suci,
Contoh:
Allah, Maha Kuasa, Al-Qur'an, Alkitab, Islam, Hindu, Hanya kepada-Mu kami memohon.
Unsur nama orang
Contoh:Gunawan Wibisono
Unsur singkatan nama orang, gelar, dan sapaan
Untuk menulis singkatan selalu diikuti oleh tanda titik.
Contoh:
Dr. Purwa Hastuti, Ny. Martha, Prof. Gunawan, Lutfi, S.Pd.
Nama gelar kehormatan, keagamaan, dan keturunan yang diikuti nama orang Contoh:
Haji Zulkarnaen, Sultan Syahrir
Unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi dan nama tempat.
Contoh:
Kepala Dinas Pertanian, Presiden Joko Widodo, Kolonel Panjaitan Bedakan dengan penulisan berikut.
Siapakah presiden pertama kita?
Wakil Kepala Dinas Pertanian Samanhudi naik jabatan menjadi kepala dinas pertanian.
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa Contoh:
bahasa Jawa, suku Baduy, bangsa Indonesia Bedakan dengan penulisan berikut.
mengindonesiakan kata-kata asing
Nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah Contoh:
hari Senin, bulan Juli, tahun Hijriah, hari Natal, Proklamasi, Perang Dunia I
Nama geografi Contoh:
Jalan Wisnu, Selat Sunda
Unsur nama negara, lambang pemerintahan, serta nama dokumen resmi Contoh:Pengadilan Tinggi, Kementerian Hukum dan HAM, Piagam Jakarta
Setiap unsur bentuk ulang sempurna yang dipakai sebagai nama badan, lembaga pemerintah, dokumen resmi
Contoh:
Undang-Undang Dasar 1945
Semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata tugas Kata tugas adalah kata partikel seperti: di, ke, dari, untuk, dan yang.
Kata tugas tidak terletak pada posisi awal kalimat.
Contoh:
Pendidikan Karakter, karangan Gunawan, Wibisono
Kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai sebagai sapaan dan pengacuan
Kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti: bapak, ibu, adik, saudara, kakak, dan paman.
Contoh:
Kapan Paman datang?
Atas perhatian Bapak, kami ucapkan terima kasih.
Bedakan dengan penulisan berikut ini.
Kita wajib menghormati bapak dan ibu kita.
2. Penulisan huruf miring
Huruf miring dipakai pada:
Penulisan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan Contoh:
Majalah Cakrawala selalu memuat berita terbaru.
Penegasan atau pengkhususan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata Contoh:
Jalan ini adalah saksi pertempuran arek-arek Surabaya.
Penulisan kata nama ilmiah atau ungkapan asing yang belum disesuaikan ejaannya.
Contoh:
Oriza Satifa
Rapat kali ini dilaksanakan di youth centre.
B. Pemakaian Tanda Baca 1. Tanda titik (.)
Tanda titik digunakan pada:
Akhir kalimat yang bukan pernyataan seruan.
Contoh:
lbu pergi ke pasar.
Akhir singkatan nama orang.
Contoh:
M. Lufti Ade
Akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
Contoh:
Elisa, S.E.
Akhir singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum.
Contoh:
dan sebagainya disingkat menjadi dsb.
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah diterima oleh
masyarakat. Misal: Sekjen
Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
Akhir angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau daftar.
Contoh:
1.1. Tes Penalaran Verbal 1.1.1. Sinonim
1.1.2. Antonim 1.1.3. Analogi
Untuk memisahkan angka, jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Contoh:
pukul 15.03.10
Untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menyatakan jumlah.
Contoh:
Buku yang baru saja dibeli berisikan 1.350 lembar.
Catatan:
Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah, seperti tahun dan nomor telepon.
Antara nama penulis, judul karangan yang tidak berakhir dengan tanda tanya, tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Contoh:
Wibisono, Gunawan. 2016.
Pendidikan Karakter.
Jakarta: Pelita.
Catatan: Tanda baca titik tidak digunakan pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, kepala ilustrasi, tabel, di belakang alat pengirim, dan tanggal surat atau penerima surat.
2. Tanda koma (,)
Tanda koma digunakan pada:
Antara unsur-unsur suatu perinci atau pembilangan.
Contoh:
Latika membawa tas, tempat minum, dan payung.
Untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnyayang didahului oleh kata seperti, tetapi, atau melainkan.
Contoh:
Saya tidak pernah menyesal sekolah di desa, tetapi saya ingin merasakan gemerlapnya kota.
Di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat.
Termasuk di dalamnya: oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu.
Contoh:
Lagi pula, tidak ada model sepatu yang cocok untuk dikenakannya.
Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
Contoh:
Jika jalan macet, saya terlambat sampai kantor.
Jika jalan macet = Anak kalimat
saya terlambat sampai kantor = induk kalimat Catatan:
Tanda koma tidak digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak
kalimat tersebut mengiringi induk kalimatnya.
Untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan dari kata yang lain.
Contoh:
Wah, mewah sekali!
Untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam penulisan daftar pustaka.
Contoh:
Wibisono, Gunawan. 2016.
Pendidikan Karakter.
Jakarta: Pelita.
Di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan nama keluarga atau marga.
Contoh:
Lukito Edi, S.S.
Digunakan di depan angka persepuluhan dan di antara rupiah dan sen dalam bilangan.
Contoh:
35,20 cm
Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Contoh:
Kata Lisa, "Ayo berangkat!"
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat apabila petikan langsung tersebut berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan mendahului bagian lain dalam kalimat itu.
Digunakan untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
Contoh:
Guru Geografi, Pak Lukito, termasuk populer di sekolah ini.
Di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Contoh:
Yogyakarta, 1 Januari 2016.
3. Tanda titik dua (:)
Tanda titik dua digunakan pada:
Akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau perincian.
Contoh:
Bahan roti bolu kukus seperti: tepung terigu, mentega, dan telur.
Catatan:
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perincian merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Digunakan sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
Contoh:
Ketua : Rajiman Wakil : Widodo
Digunakan dalam teks drama sesudah katayang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Contoh:
Galuh :"Wen, maafkan aku,"
Wenda: "Pergi dari sini!"
Di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab suci, atau di antara judul dan anak judul suatu karangan.
Contoh:
Surat Al-Baqarah : 24 3. Tanda tanya (?)
Tanda tanya digunakan pada akhir kalimat tanya.
Contoh:
Kapan nikah?
3. Tanda seru (!)
Tanda seru digunakan sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
Contoh:
Semangat!
6. Tanda hubung (-)
Tanda hubung digunakan pada:
Untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Contoh:
undang-undang
Untuk menyambung huruf kata yang dieja satu per satu dan bagian-bagian tanggal.
Contoh:
i-l-u-s-i 29-07-1994
Untuk merangkaikan (se-) dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital.
Contoh:
se-Indonesia
Untuk merangkaikan (ke-) dengan angka.
Contoh:
putra ke-2
Untuk merangkaikan angka dengan akhiran (-an).
Contoh:
gaya 90-an
Untuk merangkaikan singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
Contoh:
SIM-nya
Digunakan untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Contoh:
di-charge C. Penulisan Kata
1. Kata depan
Kata depan di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikuti, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Contoh:
di sungai, ke Jakarta, dari Mekkah 2. Kata sandang si dan sang
Kata sandang si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Contoh:
sang kancil, si manis
3. Kata ganti/klitik ku, kau, mu, dan nya Klitik ku, kau, mu, dan nya ditulis serangkai.
Contoh:
dihadapannya 4. Partikel
Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apakah ayahmu baik-baik saja?
Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya Contoh:
apa pun Catatan:
Berikut adalah kelompok kata yang sudah dianggap padu ditulis serangkai.
adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sungguhpun, walaupun.
Partikel per ditulis terpisah jika berarti mulai, demi, dan setiap.
Contoh:
Harga bensin saat ini naik per liternya.
Harga bensin naik per 1 Januari 2016.
Bedakan dengan penulisan berikut.
Satu demi satu pergi meninggalkan induknya.
TWK - Bahasa Indonesia ( Pemahaman Bacaan )
membaca pemahaman sebagai suatu proses interaksi antara pembaca dengan teks dalam suatu peristiwa membaca. Kegiatan atau membaca yang penekanannya diarahkan pada keterampilan dan menguasai isi bacaan. Pembaca harus mampu menguasai dan memahami bacaan yang dibacanya. Dalam hal ini, unsur yang harus ada dalam setiap kegiatan membaca adalah pemahaman.
terdapat tiga hal pokok dalam membaca pemahaman, yaitu:
pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki,
menghubungkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki dengan teks yang akan dibaca, dan proses pemerolehan makna secara aktif sesuai dengan pandangan yang dimiliki.
A. Gagasan Utama Bacaan
Gagasan utama/gagasan pokok/ide pokok merupakan gagasan atau ide yang menjadi pokok pengembang bacaan. Cara menemukannya adalah sebagai berikut:
1. membaca secara cermat;
2. memahami maksud pembicaraan atau hal pokok yang dibicarakan dalam bacaan;
3. menemukan ide pokok tiap paragraf kemudian digabungkan dan dirangkum sehingga didapatkan kesimpulan hal pokok yang dibicarakan dalam bacaan tersebut.
B. Paragraf
Paragraf adalah seperangkat kalimat yang berhubungan dan membentuk satu gagasan. Biasanya dalam satu paragraf terdiri dari beberapa kalimat yang padu, dan kalimat pertama dalam suatu paragraf ditulis dengan cara agak menjorok ke dalam.
Jenis-jenis paragraf berdasarkan letak gagasan utama.
1. Paragraf deduktif
Gagasan utama terletak pada awal paragraf.
2. Paragraf induktif
Gagasan utama terletak pada akhir paragraf.
3. Paragraf campuran
Gagasan utama terletak pada awal dan akhir paragraf.
C. Gagasan Utama Paragraf
Gagasan utama/gagasan pokok/ide pokok merupakan gagasan atau ide yang menjadi pokok pengembang paragraf sehingga dalam satu paragraf hanya ada satu gagasan utama.
D. Kalimat Utama
Pada umumnya, kalimat utama terletak di awal atau akhir paragraf. Dalam satu paragraf, terdapat gagasan pokok atau utama yang berada pada kalimat utama. Kalimat utama dikembangkan oleh kalimat penjelas. Kalimat utama adalah kalimat yang di dalamnya terdapat ide pokok paragraf.
Kalimat utama sering disebut kalimat topik sehingga perlu dijelaskan dengan kalimat-kalimat selanjutnya dalam paragraf tersebut yang disebut sebagai kalimat penjelas.
Ciri kalimat utama:
1. Mengandung permasalahan yang dapat diuraikan lebih lanjut.
2. Berupa kalimat lengkap dan dapat berdiri sendiri.
3. Mempunyai arti yang jelas tan pa dihubungkan dengan kalimat lain.
4. Pada paragraf induktif, kalimat utama sering kali ditandai dengan kata-kata seperti: "Sebagai kesimpulan .. :: "Yang penting .. :: "Jadi, .. :: "Dengan demikian ... "
E. Kalimat Penjelas
Kalimat penjelas, yaitu kalimat yang isinya memperjelas, menguraikan, atau berupa rincian-rincian tentang kalimat utama.
Ciri-ciri kalimat penjelas:
1. merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri;
2. arti kalimatnya akan lebih jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu paragraf;
3. pembentukannya memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung atau kalimat transisi;
4. berisi rincian, keterangan, contoh dan data yang mendukung kalimat utama.
TIPS:
Berikut adalah tips untuk meningkatkan pemahaman bacaan.
1. Perbanyak membaca
Melatih diri dengan banyak membaca menjadikan Anda gemar membaca sehingga Anda akan terlatih dengan bacaan-bacaan panjang dan tidak cepat lelah saat membaca.
Jangan khawatir bagi Anda yang tidak terlalu senang membaca, ada tips untuk Anda, yaitu awali dengan membaca bacaan pendek, misalnya berita di koran, artikel majalah kesayangan Anda, artikel di internet yang menarik minat Anda untuk membaca.
Terus lakukan kebiasaan kecil ini dan bertahap Anda coba membaca cerita pendek di koran atau majalah, novel atau buku yang tentunyajuga menarik minat membaca Anda sehingga lambat laun Anda akan terbiasa dengan suatu bacaan, terutama saat tes pemahaman bacaan.
2. Latihan membaca cepat
Waktu yang disediakan dalam tes sangat terbatas sehingga apabila Anda menerapkan kebiasaan cara baca santai seperti saat di rumah tanpa target waktu akan menjadi sangat merugikan saat tes
berlangsung. Teknik membaca cepat dapat membantu Anda dalam menjawab soal dengan lebih mudah dan cepat dengan membaca langsung ke inti-intinya karena pada umumnya soal-soal yang ditanyakan dalam tes terdapat di inti bacaan.
3. Ambil intinya
Saat membaca, bagian yang paling penting Anda baca adalah di awal bacaan (paragraf 1) karena di situlah letak gagasan utama/gagasan pokok/ide pokok bacaan. Lanjutkan dengan membaca awal atau akhir setiap paragraf karena biasanya di situ merupakan letak kalimat utama paragraf.
Setelah mendapatkan kalimat utama paragraf, cobalah melanjutkan dengan mengambil inti dari kalimat utama paragraf tersebut karena inti dari kalimat utama merupakan gagasan utama/gagasan pokok/ ide pokok paragraf. Terakhir, bacalah bagian akhir bacaan karena biasanya intisari atau kesimpulan bacaan ada di bagian tersebut.
4. Cermati fakta dan data dalam bacaan
Anda bisa menandaifaktayang terjadi dalam sebuah kejadian atau data yang terdapat di bacaan
dengan menandai dengan garis bawah karena bisa jadi fakta dan data ini dapat membantu Anda dalam menjawab soal selanjutnya. Dengan berpedoman fakta dan data dalam bacaan maka Anda dapat terhindar dari opini yang mungkin Anda bentuk selama membaca.
TRIK:
Berikut adalah trik agar mempermudah Anda dalam menyelesaikan soal yang ada kaitannya dengan pemahaman bacaan.
1. Bacalah dengan cepat
Membaca denganteknikcepatdapat membantu Anda dalam memanfaatkan waktu dengan baik, dan menemukan beberapa kata kunci yang diperlukan tanpa harus membaca terlalu detail atau tanpa membaca semua kalimat.
2. Konsentrasi
Membaca dengan konsentrasi dapat membantu Anda dalam hal mengingat kata kunci yang diperlukan, inti bacaan, mengaitkan antarkejadian dan membantu Anda dengan cukup sekali saja membaca bacaan tersebut tanpa harus mengulangnya berkali-kali.
3. Kali mat utama terletak di awal paragraf atau di akhir paragraf
Soal bacaan sering kali menuntut Anda untuk menemukan beberapa hal yang ada kaitannya dengan kalimat utama sehingga menemukan kalimat utama dalam suatu paragraf menjadi sangat penting dalam hal ini.
4. Pisahkan antara kalimat utama dengan kalimat penjelas
Dengan memisahkan kalimat utama dengan kalimat penjelas, maka Anda akan lebih mudah menemukan gagasan utama/gagasan pokok/ ide pokok suatu paragraf.
5. Gagasan utama/gagasan pokok/ide pokok paragraf melekat pada kalimat utama
Seperti halnya kalimat utama, gagasan utama/gagasan pokok/ide pokok terletak di awal paragraf atau di akhir paragraf.
6. Gagasan utama/gagasan pokok/ide pokok bacaan terdapat di bagian awal bacaan dan kaitkan dengan ide pokok dari tiap paragraf.
7. Cari jawabannya di dalam bacaan
Semua jawaban dari soal bacaan terdapat di bacaan yang telah disediakan sehingga Anda dapat mencari jawabannya di dalam bacaan sesuai dengan petunjuk soal.
8. Hindari opini
Hindarilah menjawab soal bacaan menurut pendapat Anda/opini/persepsi Anda melainkan jawablah sesuai dengan apa yang sudah tertulis di bacaan sehingga di antara pilihan jawaban yang disediakan maka pilihlah yang paling sesuai dengan fakta atau data yang telah dijelaskan di bacaan. Na mun apabila jawaban yang dimaksud tidak tertulis di bacaan, bisa jadi jawaban yang diinginkan oleh penulis soal merupakan kaitan antarkalimat/kejadian dalam bacaan tersebut (hasil konsekuensi logis).
TWK - Bhs Indonesia ( Pemahaman Bacaan )
Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan kata membaca. Membaca merupakan hal yang sudah kita lakukan sejak kecil bahkan hingga sekarang. Tujuan membaca tentunya untuk mendapatkan informasi dari sumber bacaan tersebut. Pada bagian ini, kita dituntut tidak hanya membaca saja tetapi juga untuk bisa memahami bacaan dengan baik dan benar. Itulah sebabnya tes kemampuan pemahaman bacaan tidak semudah yang dipikirkan, apalagi dengan bentuk pertanyaan yang bervariasi.
Bentuk-bentuk pertanyaan yang sering dimunculkan dalam usm adalah sebagai berikut : Judul yang cocok
Untuk menentukan judul yang tepat atas bacaan, tentunya kita harus memahami apa inti dari pokok bahasan tersebut. Judul tersebut harus dapat menggambarkan garis besar pembahasannya.
Ide pokok/tema
Ide pokok dalam suatu bacaan biasanya akan kita temukan dalam bentuk kalimat topik (kalimat kunci). Jika kita berhasil menemukan kalimat kunci dalam suatu bacaan, sesungguhnya kita sudah memahami hampir semua isi bacaan.
Pernyataan yang sesuai dan tidak sesuai dengan bacaan
Pertanyaan ini berisi daftar pernyataan yang akan kita cari apakah ada didalam teks atau tidak.
Fakta yang ada di dalam bacaan
Pertanyaan ini menuntut kita untuk dapat memilah bagian mana yang merupakan suatu keadaan nyata (fakta) dan mana yang merupakan pendapat (opini).
Menjawab pertanyaan singkat
Pertanyaan ini dapat berupa mencari tokoh, tempat bahkan mencari kesimpulan kecil dalam suatu bagian teks tersebut.
Sinonim dan kosakata
Sinonim adalah persamaan kata atau bisa disebut juga dengan padanan kata.
Antonim
Antonim suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain. Antonim disebut juga dengan lawan kata.
Kesimpulan
Kesimpulan adalah pernyataan berisi fakta, pendapat, alasan pendukung mengenai tanggapan suatu objek. Bisa dikatakan bahwa kesimpulan merupakan pendapat akhir dari suatu uraian berupa informasi.
TRIK :
Cara membuat kesimpulan
Kesimpulan atas suatu persoalan adalah jawabannya.
Kesimpulan atas suatu masalah biasanya adalah rancangan tindakan penyelesaian masalah itu sendiri.
Kesimpulan atas perbincangan tentang suatu perwujudan, maka kesimpulannya ialah suatu generalisasi tehadap apa yang telah diperbincangkan.
TIPS :
1. Baca terlebih dahulu soal yang menjadi pertanyaan
2. Pahami dengan jelas apa yang ditanyakan dalam soal tersebut 3. Mulailah membaca secara detail kata perkata dalam wacana tersebut
4. Sambil membaca temukan ide pokok dari teks wacana itu karena biasanya yang ditanyakan dalam soal adalah ide pokok
5. Hubungkan pertanyaan yang sudah terlebih dahulu kita baca dengan isi dari wacana tersebut 6. Baca kembali soal dan temukan jawaban yang paling tepat
Teks bacaan yang diberikan biasanya cukup panjang dengan beberapa paragraf. Padahal, waktu pengerjaan yang tersedia hanya kurang dari satu menit untuk tiap soalnya. Sehingga kita harus membaca teks tersebut dengan cepat dan juga memahaminya dengan baik. Ada dua trik umum terkenal yang dapat kita gunakan, yaitu teknik scanning dan skimming.
1. Teknik Scanning
Teknik membaca scanning adalah membaca suatu informasi dimana bacaan tersebut dibaca secara loncat- loncat dengan melibatkan imajinasi, sehingga dalam memahami bacaan tersebut seseorang dapat
menghubungkan kalimat yang satu dengan kata-kata sendiri. Jadi dalam teknik ini tidak seluruh kata/kalimat dibaca melainkan kata-kata yang menjadi kunci dari bacaan tersebut.
Berikut adalah bagian-bagian yang dapat dilompati antara lain :
1) Bagian yang sudah pernah kita baca dari sumber lain, biasanya bagian ini berupa pengetahuan umum dan lainnya.
2) Bagian yang berisi informasi yang tidak memenuhi tujuan membaca.
3) Bagian yang hanya merupakan contoh atau ilustrasi.
4) Bagian yang merupakan ringkasan bab/paragraf sebelumnya.
2. Teknik Skimming
Teknik membaca Skimming adalah membaca secara garis besar (sekilas) untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Dari bagian-bagian ini minimal kita bisa menafsirkan apa inti dari isi buku yang akan kita baca tersebut. Fungsi skimming adalah
1. Untuk mengenali topik bacaan
2. Untuk mengetahui pendapat/opini dalam bacaan
3. Untuk mendapatkan bagian penting yang kita butuhkan
4. Untuk mengetahui struktur penulisan, urutan ide pokok, dan cara berpikir penulis
TWK - Bela Negara
BELA NEGARA
Bela Negara adalah sebuah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut.
Setiap warga negara memiliki kewajiban yang sama dalam masalah pembelaan negara. Hal tersebut merupakan wujud kecintaan seorang warga negara pada tanah air yang sudah memberikan kehidupan padanya. Hal ini terjadi sejak seseorang lahir, tumbuh dewasa serta dalam upayanya mencari penghidupan.
Secara fisik, hal ini dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut, sedangkan secara non-fisik konsep ini diartikan sebagai upaya untuk serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut.
Dalam pelaksanaan pembelaan negara, seorang warga bisa melakukannya baik secara fisik maupun non fisik. Pembelaan negara secara fisik diantaranya dengan cara perjuangan mengangkat senjata apabila ada serangan dari negara asing terhadap kedaulatan bangsa.
Sementara, pembelaan negara secara non fisik diartikan sebagai semua usaha untuk menjaga bangsa serta kedaulatan negara melalui proses peningkatan nasionalisme. Nasionalisme adalah rangkaian kecintaan dan kesadaran dalam proses berkehidupan dalam negara dan bangsa, serta upaya untuk menumbuhkan rasa cinta pada tanah air. Selain itu, pembelaan bisa dilakukan dengan cara menumbuhkan keaktifan dalam berperan aktif untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan negara.
Landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer. Subyek dari konsep ini adalah tentara atau
perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Beberapa negara (misalnya Israel, Iran) dan Singapura memberlakukan wajib militer bagi warga yang memenuhi syarat (kecuali dengan dispensasi untuk alasan tertentu seperti gangguan fisik, mental atau keyakinan keagamaan). Sebuah bangsa dengan relawan sepenuhnya militer, biasanya tidak memerlukan layanan dari wajib militer warganya, kecuali dihadapkan dengan krisis perekrutan selama masa perang.
Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Jerman, Spanyol dan Inggris, bela negara dilaksanakan pelatihan militer, biasanya satu akhir pekan dalam sebulan. Mereka dapat melakukannya sebagai individu atau sebagai anggota resimen, misalnya Tentara Teritorial Britania Raya. Dalam beberapa kasus milisi bisa merupakan bagian dari pasukan cadangan militer, seperti Amerika Serikat National Guard.
Di negara lain, seperti Republik China (Taiwan), Republik Korea, dan Israel, wajib untuk beberapa tahun setelah seseorang menyelesaikan dinas nasional. Sebuah pasukan cadangan militer berbeda dari
pembentukan cadangan, kadang-kadang disebut sebagai cadangan militer, yang merupakan kelompok atau unit personel militer tidak berkomitmen untuk pertempuran oleh komandan mereka sehingga mereka tersedia untuk menangani situasi tak terduga, memperkuat pertahanan negara.
Pengertian Bela Negara di Indonesia
Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.
Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan Negara.
Di Indonesia proses pembelaan negara sudah diatur secara formal ke dalam Undang-undang. Diantaranya sudah tersebutkan ke dalam Pancasila serta Undang-undang Dasar 1945, khususnya pasal 30. Didalam pasal tersebut, dijelaskan bahwa membela bangsa merupakan kewajiban seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Dengan melaksanakan kewajiban bela bangsa tersebut, merupakan bukti dan proses bagi seluruh warga negara untuk menunjukkan kesediaan mereka dalam berbakti pada nusa dan bangsa, serta kesadaran untuk mengorbankan diri guna membela negara. Pemahaman bela negara itu sendiri demikian luas, mulai dari pemahaman yang halus hingga keras.
Diantaranya dimulai dengan terbinanya hubungan baik antar sesama warga negara hingga proses kerjasama untuk menghadapi ancaman dari pihak asing secara nyata. Hal ini merupakan sebuah bukti adanya rasa nasionalisme yang diejawantahkan ke dalam sebuah sikap dan perilaku warga negara dalam posisinya sebagai warga negara. Didalam konsep pembelaan negara, terdapat falsafah mengenai cara bersikap dan bertindak yang terbaik untuk negara dan bangsa.
Unsur Dasar Bela Negara
Didalam proses pembelaan bangsa, ada beberapa hal yang menjadi unsur penting, diantaranya adalah : Cinta Tanah Air Kesadaran Berbangsa & bernegara Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara Rela berkorban untuk bangsa & Negara Memiliki kemampuan awal bela Negara
Contoh-Contoh Bela Negara : Melestarikan budaya
Belajar dengan rajin bagi para pelajar taat akan hukum dan aturan-aturan Negara Dan lain-lain.
Dari unsur yang ada tersebut, bisa disebutkan mengenai beberapa hal yang menjadi contoh proses pembelaan negara.
Beberapa contoh tersebut diantaranya adalah : Kesadaran untuk melestarikan kekayaan budaya, terutama kebudayaan daerah yang beraneka ragam. Sehingga hal ini bisa mencegah adanya pengakuan dari negara lain yang menyebutkan kekayaan daerah Indonesia sebagai hasil kebudayaan asli mereka. Untuk para pelajar, bisa diwujudkan dengan sikap rajin belajar. Sehingga pada nantinya akan memunculkan sumber daya manusia yang cerdas serta mampu menyaring berbagai macam informasi yang berasal dari pihak asing.
Dengan demikian, masyarakat tidak akan terpengaruh dengan adanya informasi yang menyesatkan dari budaya asing. Adanya kepatuhan dan ketaatan pada hukum yang berlaku. Hal ini sebagai perwujudan rasa cinta tanah air dan bela bangsa. Karena dengan taat pada hukum yang berlaku akan menciptakan keamanan
dan ketentraman bagi lingkungan serta mewujudkan rasa keadilan di tengah masyarakat. Meninggalkan korupsi. Korupsi merupakan penyakit bangsa karena merampas hak warga negara lain untuk mendapatkan kesejahteraan. Dengan meninggalkan korupsi, kita akan membantu masyarakat dan bangsa dalam
meningkatkan kualitas kehidupan.
Dasar Hukum
Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara :
Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan Nasional. Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988. Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI. Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI. Amandemen UUD ’45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3. Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.Undang-Undang No.56 tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih
Untuk mewujudkan kesadaran dan menyatukan konsep pembelaan negara di tengah masyarakat, salah satunya dilakukan melalui penciptaan lagu Mars Bela Negara. Mars ini digubah oleh salah seorang musisi Indonesia yang memiliki nasionalisme, yaitu Dharma Oratmangun.
Selain itu, dalam upaya menjaga kesadaran bela negara, dibuatlah sebuah momen untuk memperingatinya.
Hari yang sudah ditetapkan sebagai hari Bela Negara dipilih tanggal 19 Desember. Penetapan ini dimulai tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dituangkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 28 Tahun 2006.
Fungsi dan Tujuan Bela Negara Tujuan bela negara, diantaranya:
Mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara
Melestarikan budayaMenjalankan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945 Berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Menjaga identitas dan integritas bangsa/ negara Sedangkan fungsi bela negara, diantaranya:
Mempertahankan Negara dari berbagai ancaman; Menjaga keutuhan wilayah negara; Merupakan kewajiban setiap warga negara. Merupakan panggilan sejarah;
Manfaat Bela Negara
Berikut ini beberapa manfaat yang didapatkan dari bela negara:
Membentuk sikap disiplin waktu,aktivitas,dan pengaturan kegiatan lain.
Membentuk jiwa kebersamaan dan solidaritas antar sesama rekan seperjuangan.
Membentuk mental dan fisik yang tangguh.
Menanamkan rasa kecintaan pada Bangsa dan Patriotisme sesuai dengan kemampuan diri.
Melatih jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun kelompok.
Membentuk Iman dan Taqwa pada Agama yang dianut oleh individu.
Berbakti pada orang tua, bangsa, agama.
Melatih kecepatan, ketangkasan, ketepatan individu dalam melaksanakan kegiatan.
Menghilangkan sikap negatif seperti malas, apatis, boros, egois, tidak disiplin.
Membentuk perilaku jujur, tegas, adil, tepat, dan kepedulian antar sesama.
Contoh bela negara dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang di berbagai lingkungan:
Menciptakan suasana rukun, damai, dan harmonis dalam keluarga. (lingkungan keluarga) Membentuk keluarga yang sadar hukum (lingkungan keluarga)
Meningkatkan iman dan takwa dan iptek (lingkungan sekolah)Kesadaran untuk menaati tata tertib sekolah (lingkungan sekolah)
Menciptakan suasana rukun, damai, dan aman dalam masyarakat (lingkungan masyarakat) Menjaga keamanan kampung secara bersama-sama (lingkungan masyarakat)
Mematuhi peraturan hukum yang berlaku (lingkungan negara) Membayar pajak tepat pada waktunya (lingkungan negara)
Itulah penjelasan bela negara dengan fungsi dan tujuan mengapa bela negara dilakukan, semoga dengan melakukan hal itu manfaat nya bisa dirasakan dan bisa menjadi salah satu bagian dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini.
sumber: www.wantannas.go.id
TWK - Bela Negara 2
Sebagai warga Negara Indonesia kita wajib untuk membela Negara kita tercinta ini dari setiap ancaman baik dari dalam maupun luar negara. Meskipun bangsa indonesia sekarang telah merdeka, namun kita tetap memiliki tugas untuk menjaga dan membelanya, salah satunya adalah dengan mengisi kemerdekaan
tersebut. Salah satu Warisan terbesar dari pendiri bangsa ini yang dapat kita jadikan sebagai pedoman dalam mengisi kemerdekaan adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar.
Pengertian Bela Negara
Bela Negara adalah tekad, perilaku dan sikap warga negara yang dilakukan secara menyeluruh, teratur dan terpadu serta dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI , kesadaran berbangsa dan bernegara Indonesia serta mempunyai keyakinan atas kesaktian Pancasila berdasarkan pancasila dan UUD 1945 dalam menjamin kelangsungan (eksistensi) hidup Bangsa dan Negara.
Bela Negara juga dapat diartikan sebagai suatu konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi sebuah negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan menjaga dan mempertahankan keberlangsungan negara tersebut. Secara fisik, hal ini dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang
mengancam eksistensi negara tersebut, sedangkan secara non-fisik konsep ini diterjemahkan sebagai upaya untuk turut serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, baik lewat moral, sosial, pendidikan, maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut.
sedangkan Upaya Bela Negara adalah kegiatan yang dilakukan oleh setiap warna negara sebagai penuaian hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan keselamatan negara.
Di Indonesia proses pembelaan negara sudah diatur secara formal ke dalam Undang-undang. Diantaranya sudah tersebutkan ke dalam Pancasila serta Undang-undang Dasar 1945, khususnya pasal 30. Didalam pasal tersebut, dijelaskan bahwa membela bangsa merupakan kewajiban seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.
Untuk penjabaran lebih lengkap mengenai dasar hukum undang-undang tentang upaya bela negara adalah sebagai berikut:
1. Pasal 30 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. pada pasal ini usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
2. Pasal 27 ayat (3) UUD 1945 menyatakan bahwa semua warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.
Hakikat Petahanan dan Keamanan
adalah perlawanan rakyat semesta untuk menghadapi setiap bentuk ancaman terhadap keselamatan bangsa dan negara, yang penyelenggaraannya disusun dalam sistem pertahanan keamanan rakyat semesta dan didasarkan pada kesadaran akan tanggung jawab tentang hak dan kewajiban warga negara, serta keyakinan akan kekuatan sendiri, keyakinan akan kemenangan dan tidak kenal menyerah, baik penyerahan diri maupun penyerahan wilayah.
Unsur Dasar Bela Negara
Didalam proses pembelaan bangsa, ada beberapa hal yang menjadi unsur penting, diantaranya adalah:
1. Cinta Tanah Air
2. Rela berkorban untuk bangsa & Negara 3. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara 4. Kesadaran Berbangsa & bernegara
5. Memiliki kemampuan awal bela Negara
Fungsi dan Tujuan Bela Negara
Terdapat beragam Fungsi bela negara, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Menjaga keutuhan wilayah negara.
2. Mempertahankan Negara dari berbagai ancaman.
3. Merupakan panggilan sejarah.
4. Merupakan kewajiban setiap warga negara.
Terdapat beragam Tujuan bela negara, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara.
2. Menjaga identitas dan integritas bangsa/ negara.
3. Melaksanakan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.
4. Melestarikan budaya.
5. Berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Manfaat Bela Negara
Berikut ini berbagai manfaat yang bisa diperoleh dari bela negara:
1. Membentuk perilaku jujur, adil, tegas, tepat, dan kepedulian antar sesama.
2. Menghilangkan sikap negatif seperti tidak disiplin, egois, malas, boros dan apatis.
3. Melatih kecepatan, ketangkasan, ketepatan individu dalam melaksanakan kegiatan.
4. Berbakti pada agama, orang tua dan bangsa.
5. Membentuk Iman dan Taqwa pada Agama yang dianut oleh individu.
6. Melatih jiwa leadership dalam memimpin diri sendiri maupun kelompok.
7. Menanamkan rasa kecintaan pada Bangsa dan Patriotisme sesuai dengan kemampuan diri.
8. Membentuk mental dan fisik yang tangguh.
9. Membentuk jiwa kebersamaan dan solidaritas antar sesama rekan seperjuangan.
10. Membentuk sikap disiplin waktu, aktivitas dan pengaturan kegiatan lain.
Contoh Bela Negara dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh beberapa bentuk bela negara dalam kehidupan sehari-hari di zaman sekarang di berbagai lingkungan adalah sebagai berikut:
1. Membayar pajak tepat pada waktunya (lingkungan negara) 2. Mematuhi peraturan hukum yang berlaku (lingkungan negara)
3. Menjaga keamanan kampung secara bersama-sama (lingkungan masyarakat) 4. Melestarikan budaya yang ada (lingkungan masyarakat)
5. Menciptakan suasana rukun, damai, dan aman dalam masyarakat (lingkungan masyarakat) 6. Kesadaran untuk menaati tata tertib sekolah (lingkungan sekolah)
7. Meningkatkan iman dan takwa dan iptek (lingkungan sekolah) 8. Membentuk keluarga yang sadar hukum (lingkungan keluarga)
9. Menciptakan suasana rukun, damai, dan harmonis dalam keluarga. (lingkungan keluarga)
Dasar Hukum Bela Negara
Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara adalah sebagai berikut:
1. Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep Wawasan Nusantara dan Keamanan Nasional.
2. Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI. Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
3. Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
4. Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5. Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6. Undang-Undang No.56 tahun 1999 tentang Rakyat Terlatih 7. Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
8. Amandemen UUD ’45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
Dalam upaya menjaga kesadaran bela negara, dibuatlah sebuah momen untuk memperingatinya. Hari yang sudah ditetapkan sebagai hari Bela Negara dipilih tanggal 19 Desember. Penetapan ini dimulai tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dituangkan melalui Keputusan Presiden Republik
Indonesia No. 28 Tahun 2006.
Selain itu, Untuk mewujudkan kesadaran dan menyatukan konsep bela negara di tengah masyarakat, salah satunya dilakukan melalui penciptaan lagu Mars Bela Negara. Mars ini digubah oleh salah seorang musisi Indonesia yang mempunyai nasionalisme, yaitu Dharma Oratmangun.
TWK - Pilar Negara ( Bhinneka Tunggal Ika )
A. Sejarah Penemuan Bhinneka Tunggal lka
Sesanti atau semboyan Bhinneka Tunggal lka diungkapkan pertama kali oleh Mpu Tantular, pujangga agung kerajaan Majapahit yang hidup pada masa pemerintahan Raja Hayamwuruk pada abad XIV (1350-1389).
Sesanti tersebut terdapat dalam karyanya, kakawin Sutasoma yang berbunyi "Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa" yang artinya, "Berbeda-beda, tak ada pengabdian yang mendua" Kutipan tersebut berasal dari pupuh 139, bait 5, kekawin Sutasoma.
Semboyan yang kemudian dijadikan prinsip dalam kehidupan dalam pemerintahan kerajaan Majapahit itu mengantisipasi adanya keanekaragaman agama yang dipeluk oleh rakyat Majapahit pada waktu itu.
Meskipun mereka berbeda agama, mereka tetap satu pengabdian.
Sasanti yang merupakan karya Mpu Tantular diharapkan dijadikan acuan bagi rakyat Majapahit dalam berdharma, sedangkan oleh bangsa Indonesia dijadikan semboyan dan pegangan bangsa dalam membawa diri dalam hidup berbangsa dan bernegara.
B. Landasan Hukum Bhinneka Tunggal lka
Pada 1951 semboyan Bhinneka Tunggal lka ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai semboyan resmi Negara Republik Indonesia dengan Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 1951.
Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 1951 menyatakan bahwa:
Sejak 17 Agustus 1950, Bhinneka Tunggal lka sebagai semboyan yang terdapat dalam Lambang Negara Republik Indonesia, Garuda Pancasila. Kata bhinna ika kemudian dirangkai menjadi satu kata bhinneka.
Pada perubahan UUD 1945 yang kedua, Bhinneka Tunggal lka dikukuhkan sebagai semboyan resmi yang terdapat dalam lambang negara, dan tercantum dalam pasal 36A UUD 1945.
Seperti halnya Pancasila, istilah Bhinneka Tunggal lka juga tidak tertera dalam UUD 1945 (asli), namun esensinya terdapat di dalamnya. Sebagai contoh:
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai penjelmaan seluruh rakyat Indonesia, terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ditambah dengan utusan-utusan dari
daerah-daerah dan golongan-golongan.
Penjelasan UUD 1945 yang menyatakan:
Di daerah yang bersifat otonom, akan diadakan badan perwakilan daerah, oleh karena di daerah pun pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. Dalam teritori negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbesturende Jandschappen dan voksgemeenschappen. Daerah-daerah itu
mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa.
Makna dari contoh di atas adalah dalam menyelenggarakan kehidupan kenegaraan perlu ditampung keanekaragaman atau kemajemukan bangsa dalam satu wadah, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
C. Lambang Negara Indonesia
Dalam Konstitusi RIS dan UUDS 1950, Pasal 3 Ayat (3) menentukan perlunya ditetapkan lambang negara oleh pemerintah.
Sebagai tindak lanjut dari pasal tersebut, terbit Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 1951 tentang Lambang Negara.
Baru setelah diadakan amandemen UUD 1945, dalam pasal 36A menyebutkan bahwa lambang negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal lka.
Pasal 1 Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 1951, menyebutkan lambang negara terdiri atas tiga bagian, yaitu
a. Burung Garuda yang menengok dengan kepala lurus ke sebelah kanannya.
b. Perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda.
c. Semboyan yang ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Di atas pita, tertulis dengan huruf latin sebuah semboyan dalam bahasa Jawa Kuno yang berbunyi "Bhinneka Tunggal lka"
Bhinneka Tunggal lka tidak dapat dipisahkan dari Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Dasar Negara Pancasila. Hal ini sesuai dengan komponen yang terdapat dalam Lambang Negara Indonesia.
D. Konsep Dasar Bhinneka Tunggal lka
Bhinneka Tunggal lka merupakan semboyan yang merupakan kesepakatan bangsa yang ditetapkan dalam UUD-nya. Oleh karena itu, untuk dapat dijadikan acuan secara tepat dalam hidup berbangsa dan bernegara, makna Bhinneka Tunggal lka perlu dipahami secara tepat dan benar untuk selanjutnya dipahami cara untuk mengimplementasikan secara tepat dan benar pula.
Dalam menerapkan Bhinneka Tunggal lka di kehidupan bangsa Indonesia, perlu mengacu pada prinsip yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu mengutamakan kepentingan bangsa, bukan kepentingan individu. Berikut isi dalam Pembukaan UUD 1945:
a. Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa.
b. Kemerdekaan yang dinyatakan oleh bangsa Indonesia supaya rakyat dapat berkehidupan kebangsaan yang bebas.
c. Salah satu misi negara Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
d. Salah satu dasar negara Indonesia adalah Persatuan Indonesia yang merupakan wawasan kebangsaan.
e. lngin diwujudkan dengan berdirinya negara Indonesia yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dari isi dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut, jelas bahwa prinsip kebangsaan mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia. lstilah individu atau konsep individualisme tidak terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Dengan kata lain, Bhinneka Tunggal lka yang diterapkan di Indonesia tidak berdasar pada individualisme dan liberalisme.
E. Prinsip Bhinneka Tunggal lka
Prinsip Bhinneka Tunggal lka, yaitu Asas yang mengakui adanya kemajemukan bangsa dilihat dari segi agama, keyakinan, suku bangsa, adat budaya, keadaan daerah, dan ras.
Beberapa cara menyikapi kemajemukan di antaranya adalah:
Kemajemukan dihormati dan dihargai serta didudukkan dalam suatu prinsip yang dapat mengikat keanekaragaman tersebut dalam kesatuan yang kokoh.
Kemajemukan bukan dikembangkan dan didorong menjadi faktor pemecah bangsa, tetapi kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing komponen bangsa.
Kemajemukan diikat secara sinergi menjadi kekuatan yang luar biasa untuk dimanfaatkan dalam menghadapi segala tantangan dan persoalan bangsa.
F. Paham Bhinneka Tunggal lka
Paham Bhinneka Tunggal lka oleh Ir. Sujamto disebut sebagai paham Tantularisme, bukan paham
sinkretisme. Paham Bhinneka Tunggal lka dicoba untuk mengembangkan konsep baru dari unsur asli dengan unsur dari luar.
Contoh:
Adat istiadat tetap diakui eksistensinya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan kebangsaan.
G. Prinsip-Prinsip yang Terkandung dalam Bhinneka Tunggal lka Prinsip-prinsip yang terkandung dalam Bhineka Tunggal lka, yaitu:
1. Toleransi
Pembentukan kesatuan dari keanekaragaman (bukan pembentukan konsep baru dari keanekaragaman) pada unsur atau komponen bangsa. Contoh: terdapat keanekaragaman agama dan kepercayaan.
Artinya:
Ketunggalan Bhinneka Tunggal lka tidak dimaksudkan untuk membentuk agama baru.
Setiap agama diakui seperti apa adanya, tetapi dicari common denominator dalam kehidupan beragama di Indonesia.
Common denominator adalah prinsip-prinsip yang ditemui dari setiap agama yang memiliki kesamaan.
Common denominator ini dipegang sebagai ketunggalan yang dipergunakan sebagai acuan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
2. Bhinneka Tunggal lka tidak bersifat sektarian dan eksklusif, melainkan bersifat inklusif Bhinneka Tunggal lka tidak bersifat sektarian dan eksklusif
Artinya: Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak dibenarkan merasa dirinya yang paling benar, paling hebat, dan tidak mengakui harkat dan martabat pihak lain.
Kelemahan pandangan sektarian dan eksklusif (tertutup):
Menghambat terjadinya perkembangan dalam menghadapi arus globalisasi dan keanekaragaman budaya bangsa.
Memicu terbentuknya keakuan yang berlebihan.
Cirinya: tidak atau kurang memperhitungkan pihak lain, memupuk kecurigaan, kecemburuan, dan persaingan yang tidak sehat.
Cara menyikapi pandangan sektarian dan eksklusif:
Perlu adanya sifat terbuka yang terarah agar memungkinkan terbentuknya masyarakat yang pluralistik secara koeksistensi, mamiliki sifat saling menghormati, tidak merasa dirinya yang paling benar, dan tidak memaksakan kehendak pribadi kepada pihak lain.
Sehingga dapat berkembangnya menjadi masyarakat modern.
Bhinneka Tunggal lka bersifat inklusif.
Artinya: Golongan mayoritas dalam hidup berbangsa dan bernegara tidak memaksakan kehendaknya pada golongan minoritas.
Kelebihan:
Kelebihan dari Bhinneka Tunggal lka yang bersifat inklusif ada pada segala peraturan perundang-undangan khususnya peraturan daerah dibuat agar mampu :
Mengakomodasi masyarakat yang pluralistik dan multikultural dengan tetap berpegang
teguh pada dasar negara Pancasila dan UUD 1945.
Menghindari hal-hal yang memberi peluang terjadinya perpecahan bangsa.
3. Bhinneka Tunggal lka tidak bersifat formalitas yang hanya menunjukkan perilaku semu
Bhinneka Tunggal lka dilandasi oleh sikap saling mempercayai, saling menghormati, saling mencintai, dan rukun. Hanya dengan cara demikian, keanekaragaman ini dapat dipersatukan.
4. Bhinneka Tunggal lka bersifat konvergen (tidak divergen)
Hal ini bermakna bahwa perbedaan yang terjadi dalam keanekaragaman tidak untuk dibesar-besarkan, melainkan dicari titik temu dalam bentuk kesepakatan bersama. Kesepakatan tersebut akan terwujud jika dilandasi oleh sikap toleran, nonsektarian, inklusif, akomodatif, dan rukun.
5. Terbuka
6. Koeksistensi damai dan kebersamaan 7. Kesetaraan
8. Musyawarah disertai dengan penghargaan terhadap pihak lain yang berbeda.
Dengan menerapkan nilai-nilai tersebut, secara konsistensi akan terwujud masyarakat yang damai, aman, tertib, dan teratur sehingga kesejahteraan dan keadilan akan terwujud.
H. Penerapan Bhinneka Tunggal lka dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Dalam Pembukaan UUD 1945, alinea pertama disebutkan bahwa:
"Sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."
Awalnya, kemerdekaan atau kebebasan diberi makna bebas dari penjajahan negara asing, namun saat ini memiliki makna yang lebih luas yaitu menyangkut harkat dan martabat manusia, serta hak asasi manusia, karena di era globalisasi berkembang neoliberalisme dan neokapitalisme. Paham neoliberalisme dan neokapitalisme menyebabkan penjajahan dalam bentuk baru, yaitu penjajahan dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya, dan bidang kehidupan yang lain. Dengan begitu, kemerdekaan dimaknai sebagai bebas dari berbagai eksploitasi manusia oleh manusia dalam segala dimensi kehidupan, baik dari luar maupun dari dalam negeri.
Manusia memiliki kebebasan dalam berpikir, berkehendak, memilih, dan bebas dari segala macam ketakutan yang merupakan aktualisasi dari konsep hak asasi manusia, yaitu menundukkan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya.
Sementara itu, penerapan Bhinneka Tunggal lka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus berdasar pada Pancasila (dasar negara) yang telah ditetapkan oleh bangsa Indonesia. Dengan demikian, penerapan Bhinneka Tunggal lka harusdijiwai oleh konsep religiositas, humanitas, nasionalitas, sovereinitas, dan sosialitas. Hanya dengan ini maka Bhinneka Tunggal Ika akan teraktualisasi.