REVORMASI PENEGAKAN HUKUM PIDANA INDONESIA : PELUANG DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI KUHP 2023
DOSEN PENGAMPU :
I Made Heri Permana Putra,S.H., M.H.
DISUSUN OLEH :
Desak Ketut Revalina Iswandari (2314101146)
HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS HUKUM DAN ILMU SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul " REVORMASI PENEGAKAN HUKUM PIDANA INDONESIA : PELUANG DAN TANTANGAN IMPLEMENTASI KUHP 2023" ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Pidana di lingkungan Fakultas Hukum dan Ilmu sosial Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan di Universitas Pendidikan Gensha. Penulisan makalah ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami lebih dalam mengenai implementasi dan dampak dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dalam penegakan hukum pidana di Indonesia.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan keterbatasan, baik dalam segi pengetahuan maupun referensi yang digunakan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa mendatang.
Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif bagi pembaca serta menjadi referensi yang berguna dalam kajian hukum pidana di Indonesia.
Singaraja, 20 Juli 2024
Desak Ketut Revalina Iswandari
2 DAFTAR ISI
BAB I ... 3
PENDAHULUAN ... 3
1.1 Latar Belakang ... 3
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penulisan ... 4
1.4 Manfaat Penulisan ... 4
BAB II ... 5
PEMBAHASAN ... 5
2.1 Pola Penegakan Hukum dalam Hukum Pidana Diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP ... 5
2.2 Perubahan Pola Penegakan Hukum Pidana dalam Undang-Undang No.1 Tahun 2023 Tentang KUHP ... 7
2.3 Tantangan dan Peluang dalam Implementasi Pola Penegakan Hukum Sesuai KUHP Baru .... 8
BAB III ... 11
PENUTUP ... 11
3.1 Kesimpulan ... 11
3.2 Saran ... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 13
3 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia telah mengalami perubahan besar dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023. Reformasi ini bertujuan untuk menyesuaikan hukum pidana dengan dinamika sosial dan teknologi yang berkembang pesat, serta meningkatkan keadilan dan efektivitas sistem peradilan. KUHP yang baru memperkenalkan pendekatan yang lebih humanis dalam penegakan hukum, dengan penekanan pada perlindungan hak asasi manusia dan penerapan hukum yang adil. Hak-hak tersangka dan terdakwa kini lebih diutamakan, termasuk hak atas pendampingan hukum dan perlindungan dari perlakuan tidak manusiawi. Selain itu, hukuman alternatif seperti kerja sosial dan rehabilitasi diimplementasikan untuk mengurangi tekanan pada lembaga pemasyarakatan dan memberikan peluang bagi pelaku tindak pidana untuk kembali berintegrasi ke dalam masyarakat.
KUHP baru juga mencakup regulasi yang lebih komprehensif untuk mengatasi kejahatan modern, termasuk kejahatan siber dan terorisme. Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapan aparat penegak hukum dalam menghadapi tantangan baru. Penerapan KUHP yang baru memerlukan penyesuaian dalam hal pelatihan aparatur, infrastruktur, dan sosialisasi kepada masyarakat. Dengan mengatasi tantangan ini dan memanfaatkan peluang yang ada, diharapkan KUHP yang baru dapat memperbaiki sistem peradilan pidana di Indonesia dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pola penegakan hukum dalam hukum pidana diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP?
2. Bagaimana Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP mengubah pola penegakan hukum pidana di Indonesia?
3. Apa tantangan dan peluang dalam implementasi pola penegakan hukum sesuai KUHP baru?
4 1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui bagaimana pola penegakan hukum dalam hukum pidana diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP
2. Memahami perubahan pola penegakan Hukum Pidana di Indonesia pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP
3. Memahami tantangan dan peluang dalam implementasi pola penegakan hukum sesuai KUHP baru
1.4 Manfaat Penulisan
1. Makalah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis dalam bidang hukum pidana, khususnya terkait dengan implementasi dan dampak Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.
2. Hasil makalah ini dapat digunakan oleh pembuat kebijakan dan aparat penegak hukum untuk memperbaiki sistem penegakan hukum pidana di Indonesia.
3. Makalah ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang perubahan dalam hukum pidana dan pentingnya perlindungan hak asasi manusia dalam proses penegakan hukum.
5 BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pola Penegakan Hukum dalam Hukum Pidana Diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) merupakan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perbuatan pidana secara materiil di Indonesia. Secara prinsip, KUHP adalah suatu bentuk penalaran regulasi, terutama di sektor hukum pidana. Dengan adanya KUHP, penyempurnaan hukum pidana di Indonesia dapat dicapai melalui konsolidasi ketentuan pidana dalam berbagai undang-undang sektoral serta pencegahan disparitas pidana antar ketentuan.
Saat ini, KUHP yang digunakan masih merupakan warisan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, yaitu Wetboek van Strafrecht, sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana yang telah beberapa kali diubah. Dalam upaya mewujudkan hukum nasional yang sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yang adil dan makmur sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD NRI 1945, salah satunya adalah dengan menyusun hukum pidana nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, UUD NRI 1945, serta asas-asas hukum yang diakui masyarakat.
Pembaruan undang-undang ini melalui beberapa misi, yaitu "dekolonisasi" KUHP dalam bentuk rekodifikasi, "demokratisasi hukum pidana", "konsolidasi hukum pidana", dan "adaptasi serta harmonisasi" terhadap berbagai perkembangan hukum yang terjadi. Pada tanggal 2 Januari 2023, Pemerintah Indonesia telah menerbitkan Undang-Undang (UU) Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP yang akan berlaku setelah tiga tahun sejak tanggal diundangkan. Ini menjadi langkah penting bagi terwujudnya hukum nasional yang telah lama dicita-citakan. Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP mengatur pola penegakan hukum pidana dengan beberapa prinsip dan ketentuan baru yang berbeda dengan KUHP lama (Wetboek van Strafrecht atau WvS). Berikut beberapa poin pentingnya:
6 a) Diversifikasi Penjatuhan Pidana
KUHP baru memberikan hakim kewenangan lebih luas dalam memilih jenis dan beratnya sanksi pidana yang sesuai dengan jenis dan beratnya tindak pidana, serta mempertimbangkan latar belakang pelaku dan korban. Beberapa jenis sanksi alternatif yang dapat dijatuhkan hakim antara lain pidana denda, pidana wajib kerja, pidana pengawasan, dan restorative justice.
b) Restorative Justice
Konsep ini memperkenalkan penyelesaian perkara pidana melalui musyawarah untuk mencapai mufakat antara pelaku, korban, dan pihak lain yang berkepentingan, dengan tujuan memulihkan keadaan dan membangun kembali hubungan sosial yang terganggu akibat tindak pidana. Hakim dapat mempertimbangkan restorative justice sebagai salah satu solusi dalam menjatuhkan sanksi pidana.
c) Keadilan Restoratif
Sama seperti restorative justice, konsep ini bertujuan untuk memulihkan keadaan dan membangun kembali hubungan sosial yang terganggu melalui musyawarah antara pelaku, korban, dan pihak terkait.
d) Sistem Keadilan Pidana Berbasis Kemanusiaan
Sistem ini tercermin dalam berbagai ketentuan, seperti pengetatan terhadap penahanan praperadilan, pembatasan penahanan, pemberian hak yang lebih luas bagi terdakwa dan tahanan, serta penerapan rehabilitasi bagi pelaku tindak pidana.
e) Penyederhanaan Proses Peradilan Pidana
KUHP baru bertujuan untuk membuat proses peradilan pidana lebih efektif dan efisien melalui pembatasan jumlah tahapan peradilan, penyederhanaan tata cara pemeriksaan perkara, dan pemanfaatan teknologi informasi dalam proses peradilan.
7
2.2 Perubahan Pola Penegakan Hukum Pidana dalam Undang-Undang No.1 Tahun 2023 Tentang KUHP
Dalam KUHP baru ini, terdapat sejumlah perubahan dan penambahan ketentuan-ketentuan yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penegakan hukum pidana di Indonesia. Misalnya, terdapat penambahan beberapa jenis tindak pidana baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman dan tantangan keamanan yang dihadapi. Selain itu, juga terdapat perubahan dalam sistem hukuman, yaitu dari sistem hukuman pidana yang lebih mengutamakan pemidanaan dan rehabilitasi, menjadi sistem hukuman yang lebih mengedepankan restoratif justice. Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur pola penegakan hukum pidana dengan beberapa prinsip dan ketentuan baru, yang berbeda dengan KUHP lama (Wetboek van Strafrecht atau WvS). Berikut beberapa poin pentingnya:
a. Pertama ada KUHP yang masih berlaku saat ini terdiri dari 3 buku, yakni buku kesatu mengenai aturan umum, buku kedua mengenai kejahatan dan buku ketiga mengenai pelanggaran. Sedangkan pada UU No. 1 Tahun 2023 hanya terdiri dari 2 buku, yakni buku kesatu tentang aturan umum dan buku kedua tentang tindak pidana.
b. Kedua, pada KUHP saat ini masih mengenal adanya perbedaan antara kejahatan dan pelanggaran. Sedangkan pada UU No. 1 Tahun 2023 sudah tidak lagi membedakan antara kejahatan dan pelanggaran.
c. Ketiga, pada KUHP yang masih berlaku saat ini dalam hal penafsiran diatur oleh hakim dengan bersandar pada doktrin hukum pidana. Sedangkan pada KUHP Nasional telah diatur secara khusus bahwa penafsiran analogi tidak lagi diperkenankan.
d. Keempat, pada KUHP dalam menentukan locus delicti (tempat terjadinya tindak pidana) dan tempus delicti (waktu terjadinya tindak pidana) diserahkan pada hakim yang bersandar pada doktrin hukum pidana. Sedangkan pada KUHP Nasional telah diatur secara khusus mengenai hal tersebut.
e. Kelima, UU No 1 Tahun 2023 juga memperkuat keterbukaan dan akuntabilitas dalam penegakan hukum. KUHP baru ini memberikan hak kepada masyarakat untuk memperoleh
8
informasi dan mengakses proses penegakan hukum, serta memberikan sanksi bagi aparat penegak hukum yang melakukan pelanggaran atau penyalahgunaan kekuasaan.
f. Keenam, UU No 1 Tahun 2023 juga memperkuat kerja sama antara aparat penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat penegakan hukum di Indonesia. KUHP baru ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk turut serta dalam proses penegakan hukum, serta memperkuat kerja sama dan koordinasi antara aparat penegak hukum dan pemerintah dalam menangani tindak pidana yang merugikan masyarakat.
2.3 Tantangan dan Peluang dalam Implementasi Pola Penegakan Hukum Sesuai KUHP Baru
Implementasi pola penegakan hukum sesuai dengan UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menghadapi berbagai tantangan dan peluang.
Perubahan ini bertujuan untuk memperkuat sistem peradilan pidana di Indonesia dengan penekanan pada hak asasi manusia, transparansi, dan modernisasi prosedural. Namun, keberhasilan implementasi ini memerlukan perhatian dan upaya yang serius dari semua pihak yang terlibat.
1. Tantangan dalam Implementasi a) Sosialisasi dan Pendidikan Hukum
Salah satu tantangan terbesar adalah sosialisasi dan pendidikan hukum. Aparat penegak hukum, termasuk polisi, jaksa, hakim, dan pengacara, perlu memahami dan menginternalisasi perubahan-perubahan dalam KUHP baru. Hal ini memerlukan pelatihan yang intensif dan berkelanjutan. Masyarakat juga harus diberikan pemahaman yang memadai tentang hak dan kewajiban mereka di bawah hukum baru ini.
b) Infrastruktur dan Teknologi
Implementasi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses penyelidikan dan penyidikan membutuhkan infrastruktur yang memadai. Tantangan ini
9
meliputi ketersediaan perangkat teknologi, jaringan internet yang stabil, serta kemampuan aparat untuk menggunakan teknologi tersebut secara efektif. Kurangnya infrastruktur dapat menghambat upaya untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi penegakan hukum.
c) Resistensi Perubahan
Perubahan dalam sistem hukum sering kali menghadapi resistensi, baik dari dalam lembaga penegak hukum maupun masyarakat luas. Kebiasaan dan praktik lama yang telah mengakar sulit untuk diubah dalam waktu singkat. Perlawanan terhadap perubahan ini dapat menghambat proses penegakan hukum yang efektif.
d) Sumber Daya Manusia
Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor krusial dalam implementasi KUHP baru. Kurangnya tenaga profesional yang kompeten dan berintegritas dapat menghambat upaya untuk menerapkan pola penegakan hukum yang baru. Rekrutmen, pelatihan, dan pengawasan yang ketat diperlukan untuk memastikan aparat penegak hukum dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
2. Peluang dalam Implementasi
a) Perlindungan Hak Asasi Manusia
KUHP baru memberikan peluang besar untuk memperkuat perlindungan hak asasi manusia. Dengan aturan yang lebih rinci tentang hak-hak tersangka dan terdakwa, serta prosedur yang transparan, sistem peradilan pidana di Indonesia dapat menjadi lebih adil dan manusiawi. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.
b) Modernisasi dan Efisiensi
Penerapan teknologi dalam proses penegakan hukum dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi. Penggunaan teknologi informasi untuk penyelidikan, penyidikan, dan pengumpulan bukti digital dapat mempercepat proses peradilan dan mengurangi kesalahan manusia. Ini juga memungkinkan koordinasi yang lebih baik antar lembaga penegak hukum.
c) Penanganan Tindak Pidana Khusus
Dengan pengaturan yang lebih komprehensif terhadap tindak pidana khusus seperti korupsi, terorisme, dan kejahatan siber, KUHP baru memberikan kerangka yang lebih
10
kuat untuk menangani kejahatan-kejahatan yang kompleks. Hal ini dapat memperkuat upaya pemberantasan korupsi dan meningkatkan keamanan nasional.
d) Penggunaan Pidana Alternatif
Pengenalan pidana alternatif seperti pidana kerja sosial dan pidana denda memberikan peluang untuk mengurangi overkapasitas di lembaga pemasyarakatan dan memberikan hukuman yang lebih sesuai dengan prinsip rehabilitasi. Ini juga membantu dalam reintegrasi sosial para pelaku kejahatan, mengurangi tingkat residivisme.
11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Penerapan Undang-Undang No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang- Undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia mencerminkan perubahan signifikan dalam penegakan hukum pidana di negara ini. KUHP yang baru ini menggantikan sistem hukum pidana lama yang diwariskan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan memperkenalkan sejumlah pembaruan penting yang disesuaikan dengan perkembangan zaman serta tantangan hukum modern.
Perubahan utama meliputi diversifikasi penjatuhan pidana, pengenalan konsep keadilan restoratif, dan penerapan sistem keadilan pidana berbasis kemanusiaan. Selain itu, Undang-Undang No. 1 Tahun 2023 juga mengedepankan penyederhanaan proses peradilan pidana dan memperkuat keterbukaan serta akuntabilitas dalam penegakan hukum.
Meskipun ada kemajuan ini, penerapan undang-undang ini tidak lepas dari tantangan seperti kebutuhan akan sosialisasi yang luas, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta resistensi terhadap perubahan dari berbagai pihak. Di sisi lain, undang-undang ini juga menawarkan peluang untuk memperkuat perlindungan hak asasi manusia, modernisasi dan efisiensi sistem peradilan, serta penanganan yang lebih efektif terhadap tindak pidana khusus.
3.2 Saran
Untuk meningkatkan efektivitas penegakan hukum sesuai dengan Undang- Undang No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP, beberapa langkah perlu diambil.
Pertama, penyelenggaraan pelatihan dan pendidikan yang intensif bagi aparat penegak hukum sangat penting untuk memastikan mereka memahami dan mampu mengaplikasikan ketentuan baru. Sosialisasi kepada masyarakat juga harus dilakukan secara luas dan berkelanjutan agar masyarakat memahami hak dan kewajibannya di bawah hukum baru ini.
12
Selain itu, peningkatan infrastruktur dan teknologi merupakan langkah krusial untuk mendukung penerapan KUHP baru, terutama dalam hal penyelidikan dan penyidikan. Pemerintah perlu menyediakan perangkat teknologi yang memadai dan memastikan jaringan internet yang stabil. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui rekrutmen, pelatihan, dan pengawasan yang ketat juga diperlukan untuk memastikan aparat penegak hukum dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
Terakhir, pembentukan mekanisme pengawasan dan evaluasi yang ketat sangat penting untuk memastikan implementasi Undang-Undang No. 1 Tahun 2023 berjalan sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kerja sama yang erat antara lembaga-lembaga penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat sipil perlu terus didorong untuk memperkuat sistem hukum pidana di Indonesia. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, diharapkan penegakan hukum pidana di Indonesia dapat berjalan dengan lebih baik, adil, dan sesuai dengan prinsip-prinsip hukum yang berlaku.
13
DAFTAR PUSTAKA
IBLAM Library. (2023). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 Tentang
KUHP. Retrieved from
[https://library.iblam.ac.id/index.php?p=show_detail&id=22245](https://library.iblam.ac.i d/index.php?p=show_detail&id=22245).
LKPP. (2023). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 KUHP Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana. Retrieved from [https://e
katalog.lkpp.go.id/katalog/produk/detail/75057637](https://e- katalog.lkpp.go.id/katalog/produk/detail/75057637).
Pachrozi, I. (2023). Menakar Arti Penting Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang KUHP.
Retrieved from [https://kumparan.com/irwan-pachrozi/menakar-arti-penting-undang- undang-nomor-1-tahun-2023-tentang-kuhp-1zxgXlDQ1TC](https://kumparan.com/irwan- pachrozi/menakar-arti-penting-undang-undang-nomor-1-tahun-2023-tentang-kuhp- 1zxgXlDQ1TC).
IJRS. (2024). Asesmen Peraturan Internal Lembaga Penegak Hukum tentang Keadilan Restoratif terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Retrieved from [https://ijrs.or.id/publikasi-ijrs/asesmen-peraturan-internal- lembaga-penegak-hukum-tentang-keadilan-restoratif-terhadap-undang-undang-nomor-1- tahun-2023-tentang-kitab-undang-undang-hukum-pidana/](https://ijrs.or.id/publikasi- ijrs/asesmen-peraturan-internal-lembaga-penegak-hukum-tentang-keadilan-restoratif- terhadap-undang-undang-nomor-1-tahun-2023-tentang-kitab-undang-undang-hukum- pidana/).
UHN. (2023). Penyuluhan Hukum Mengenal dan Memahami Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2023 Tentang KUHP. Retrieved from
[https://ejournal.uhn.ac.id/index.php/pengabdian/article/download/1358/831/6374](https:/
/ejournal.uhn.ac.id/index.php/pengabdian/article/download/1358/831/6374).
14
PTIK Library. (2023). Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nomor 1 Tahun 2023.
Retrieved from [http://library.stik-
ptik.ac.id/detail?id=58943&lokasi=lokal](http://library.stik- ptik.ac.id/detail?id=58943&lokasi=lokal).
Annisa24280. (2023). Relevansi UU No. 1 Tahun 2023 sebagai Aturan Hukum Pidana yang Sesuai
dengan Cita-Cita Bangsa Indonesia. Retrieved from
[https://www.kompasiana.com/annisa24280/647855198221996905327102/relevansi-uu- no-1-tahun-2023-sebagai-aturan-hukum-pidana-yang-sesuai-dengan-cita-cita-bangsa- indonesia](https://www.kompasiana.com/annisa24280/647855198221996905327102/rele vansi-uu-no-1-tahun-2023-sebagai-aturan-hukum-pidana-yang-sesuai-dengan-cita-cita- bangsa-indonesia).
Wikisource. (2023). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023/Penjelasan.
Retrieved from [https://id.wikisource.org/wiki/Undang- Undang_Republik_Indonesia_Nomor_1_Tahun_2023/Penjelasan](https://id.wikisource.o rg/wiki/Undang-Undang_Republik_Indonesia_Nomor_1_Tahun_2023/Penjelasan).