UAS LEGISLASI PANGAN
INDUSTRI WAFER COKLAT DALAM KEMASAN 150 g
Disusun Oleh Kelompok 9 :
Hilda Nurfitriana (2023349013) Nazira Maharani (2023340011) Mienal Fauzi Lutfiah (2024349007)
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS SAHID JAKARTA
2025
1. Daftar Peraturan Berdasarkan Bagian dalam Industri
No. Bagian Peraturan
a. Sarana produksi 1. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 10 tahun 2023 tentang Penerapan Program Manajemen Risiko Keamanan Pangan di Sarana Produksi Pangan Olahan
2. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 22 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Penerbitan Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik
3. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 Tentang Label Pangan Olahan
b. Desain tata letak ruang produksi
1. Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 75/M-Ind/Per/7/2010 Tentang Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik (Good Manufacturing Practices)
2. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan
3. Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Pangan
4. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2021 Tentang Tata Cara Pengelolaan Limbah Non Bahan Berbahaya Dan Beracun c Proses pengolahan
(termasuk bahan baku)
1. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 22 Tahun 2021 tentang Tata Cara Penerbitan Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik
2. Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 75/M-Ind/Per/7/2010 Tentang
Pedoman Cara Produksi Pangan Olahan Yang Baik (Good Manufacturing Practices)
3. Adrianti, et al. 2022. Handbook Registrasi Pangan Olahan Biskuit, Kukis, Wafer &
Krekers. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI : Jakarta
4. SNI 01-3140-1992 tentang Gula Pasir 5. SNI 2970-2022 tentang Susu Bubuk
6. SNI 3751-2018 tentang Tepung Terigu sebagai Bahan Makanan
7. SNI 3748-2009 tentang Lemak Kakao 8. SNI 3749-2009 tentang Kakao massa 9. SNI 7599-2010 tentang Maltodekstrin 10. SNI 2973-2022 tentang Biskuit d Pengemasan (termasuk
membuatkan desain label)
1. Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan
2. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan
3. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan 4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 69 tahun 1999
tentang Label dan Iklan Pangan e Pemasaran baik lokal
maupun internasional (termasuk ijin usaha)
1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan
2. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Perdagangan 3. Pemerintah Menteri Perdagangan Nomor 90/M-
Dag/PER/12/2014 tentang Penataan dan Pembinaan Gudang
4. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 23 Tahun 2023 tentang Registrasi Pangan Olahan
5. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan melalui Sistem Elektronik 6. Peraturan Pemerintah RI Nomor 69 tahun 1999
tentang Label dan Iklan Pangan
7. Dewan Periklanan Indonesia. 2020. Etika Pariwara Indonesia. Dewan Periklanan Indonesia: Jakarta.
8. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70 Tahun 2019 tentang Distribusi Barang Secara Langsung
9. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 23 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Ekspor
2. Daftar Aktivitas Berdasarkan Bagian dalam Industri
No. Bagian Aktivitas
a. Sarana produksi 1. Memenuhi Standar Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB)
● Memiliki desain bangunan yang higienis, dengan lantai, dinding, dan atap yang mudah dibersihkan serta mencegah kontaminasi.
● Memastikan ventilasi dan pencahayaan cukup, serta memiliki fasilitas sanitasi seperti wastafel dan toilet yang terpisah dari area produksi.
● Menjaga kebersihan peralatan produksi, dengan peralatan berbahan food-grade dan jadwal pembersihan rutin.
● Mengelola limbah dengan benar, termasuk limbah padat dan cair agar tidak mencemari lingkungan.
● Menggunakan air bersih sesuai standar kesehatan, karena digunakan dalam pencampuran adonan dan pembersihan peralatan.
2. Menerapkan Program Manajemen Risiko Keamanan Pangan (PMRKP)
● Melakukan analisis risiko keamanan pangan di setiap tahap produksi, dari bahan baku hingga produk jadi.
● Menerapkan langkah-langkah pengendalian risiko, seperti pengujian bahan baku, monitoring suhu pemanggangan, dan pengujian kadar air wafer.
● Memiliki dokumen penerapan PMRKP, yang mencakup sistem pemantauan dan tindakan koreksi jika ada risiko keamanan pangan.
● Mengajukan izin penerapan PMR ke BPOM jika produk termasuk kategori berisiko tinggi.
3. Memenuhi Standar Keamanan Bahan Baku dan Kemasan
● Menggunakan bahan baku yang aman dan sesuai standar BPOM, seperti tepung, gula, lemak nabati, dan cokelat tanpa zat tambahan berbahaya.
● Menggunakan kemasan food-grade, yang tidak mengandung BPA atau zat kimia
berbahaya lain yang dapat mencemari makanan.
● Mencantumkan informasi wajib di label kemasan, termasuk komposisi, tanggal kedaluwarsa, izin edar BPOM, dan kode produksi.
4. Menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP & ISO 22000)
● HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) untuk mengidentifikasi bahaya dan titik kendali kritis di proses produksi.
● ISO 22000 sebagai standar manajemen keamanan pangan internasional, jika ingin menembus pasar ekspor.
5. Memenuhi Persyaratan Halal
● Seluruh bahan baku, proses produksi, dan fasilitas produksi harus halal.
● Mengajukan sertifikasi halal ke BPJPH, dengan audit dari LPPOM MUI untuk memastikan kepatuhan terhadap standar halal.
6. Mengurus Perizinan Usaha dan Izin Edar
● Mengurus NIB (Nomor Induk Berusaha) &
Izin Usaha melalui OSS (Online Single Submission).
Langkah-Langkah Mendapatkan NIB melalui OSS
● Buka Website OSS → Kunjungi
https://oss.go.id dan daftar akun jika belum punya.
● Login ke OSS → Gunakan akun yang sudah terdaftar.
● Pilih Menu "Perizinan Berusaha" → Klik
"Buat NIB".
● Isi Data Usaha → Masukkan nama usaha, KBLI, alamat, modal, dan tenaga kerja.
● Tinjau & Kirim Permohonan → Pastikan semua data benar, lalu simpan dan kirim.
● Unduh NIB → Setelah diterbitkan, cetak dokumen NIB dalam format PDF.
● Mengurus Izin Edar BPOM karena produk industri menengah dan besar.
Mendapatkan Izin Edar BPOM
1. Persiapan Dokumen dan Informasi Produk
Sebelum mengajukan permohonan izin edar, pastikan Anda memiliki dokumen dan informasi terkait produk Anda:
● Nama produk, jenis produk, dan komposisi bahan yang digunakan.
● Label produk yang memuat informasi yang sesuai dengan ketentuan BPOM (misalnya, tanggal kedaluwarsa, nomor registrasi, informasi gizi, komposisi bahan, dll.).
● Sertifikat Halal (jika produk berlabel halal).
● Bukti pengujian laboratorium untuk memastikan bahwa produk aman
dikonsumsi, seperti pengujian mikrobiologi, kimia, dan fisik (tergantung pada jenis produk).
2. Pengajuan Permohonan
Langkah pertama adalah mengajukan permohonan izin edar melalui sistem e-registrasi BPOM, yang merupakan sistem online untuk pengajuan izin edar produk.
● Buat Akun di e-registrasi BPOM: Daftarkan akun di portal BPOM
(https://ereg.pom.go.id/) jika belum memiliki.
● Isi Formulir Permohonan: Isikan data yang diperlukan seperti informasi produk, produsen, alamat, dan sebagainya.
● Unggah Dokumen: Unggah dokumen yang telah disiapkan seperti komposisi bahan, label produk, dan bukti pengujian.
3. Verifikasi dan Pemeriksaan oleh BPOM
Setelah permohonan diajukan, BPOM akan memeriksa kelengkapan dan keabsahan dokumen yang diserahkan. Ini termasuk:
● Pemeriksaan label: BPOM akan memeriksa apakah label produk memenuhi persyaratan yang ditetapkan (informasi yang jelas, tidak menyesatkan, dll.).
● Uji keamanan produk: Untuk produk pangan, BPOM biasanya akan meminta hasil uji lab untuk memastikan produk aman dikonsumsi (misalnya, pengujian
mikrobiologi, bahan berbahaya, atau komposisi yang sesuai dengan standar).
● Audit Pabrik (jika diperlukan): BPOM dapat melakukan pemeriksaan fisik atau audit ke fasilitas produksi untuk memastikan pabrik mematuhi standar produksi yang baik (Good Manufacturing Practices - GMP).
4. Pembayaran Biaya Registrasi
Setelah permohonan diperiksa dan disetujui, Anda akan diminta untuk membayar biaya registrasi.
Biaya ini dapat bervariasi tergantung pada jenis produk dan proses registrasi.
5. Penerbitan Izin Edar
Jika semua persyaratan dipenuhi dan produk dinyatakan memenuhi standar yang ditetapkan oleh BPOM, maka BPOM akan mengeluarkan Nomor Izin Edar (NIE) untuk produk Anda. Produk yang
telah mendapat izin edar BPOM dapat dipasarkan secara legal di Indonesia.
6. Pemeliharaan dan Pengawasan
Setelah mendapatkan izin edar, perusahaan harus menjaga kualitas produk secara berkelanjutan dan mematuhi peraturan BPOM.
● Pemantauan berkala: BPOM dapat melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan produk tetap aman dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
● Pembaruan Izin: Izin edar dapat diperbarui atau dicabut jika ditemukan pelanggaran atau jika ada perubahan dalam komposisi atau proses produksi.
b. Desain tata letak ruang produksi
1. Menentukan Alur Produksi yang Efisien dan Higienis
● Pastikan alur produksi satu arah untuk menghindari kontaminasi silang, dari bahan baku hingga produk jadi.
● Pisahkan area bersih dan area kotor untuk menghindari kontaminasi.
2. Zonasi dan Alur Produksi
Desain ruang produksi harus memiliki alur yang jelas dari bahan baku masuk hingga produk jadi keluar untuk mencegah kontaminasi silang. Alur produksi harus mengikuti prinsip "one way flow"
(aliran searah), yang terdiri dari:
● Zona Penerimaan Bahan Baku: Tempat untuk memeriksa dan menyimpan bahan baku (tepung, gula, coklat, dll.).
● Zona Penyimpanan Bahan Baku: Gudang terpisah untuk bahan kering dan basah dengan suhu terkontrol.
● Zona Persiapan Bahan: Area untuk menimbang dan mencampur bahan sebelum produksi.
● Zona Pembentukan dan Pemanggangan:
Mesin untuk mencetak dan memanggang wafer.
● Zona Pelapisan Coklat: Mesin untuk melapisi wafer dengan coklat cair.
● Zona Pendinginan dan Pengeringan:
Ruang untuk mendinginkan wafer setelah dilapisi coklat.
● Zona Pengemasan: Mesin untuk mengemas wafer dalam kemasan 150 gram.
● Zona Penyimpanan Produk Jadi: Gudang untuk menyimpan produk yang telah
dikemas.
● Zona Pengiriman: Area untuk
mempersiapkan dan mengirim produk ke distribusi.
3. Ventilasi dan Kebersihan Udara
● Sistem ventilasi dengan tekanan positif untuk menghindari kontaminasi dari luar.
● Filter HEPA di area produksi untuk menjaga kebersihan udara.
● Suhu dan kelembaban dikontrol agar sesuai dengan standar penyimpanan coklat.
4. Material Bangunan dan Peralatan
● Dinding dan lantai dari bahan tahan air, mudah dibersihkan, dan tidak menyerap debu (misalnya keramik atau epoxy).
● Langit-langit harus rata, mudah dibersihkan, dan bebas dari kemungkinan jatuhnya partikel.
● Peralatan produksi berbahan stainless steel untuk mencegah karat dan mudah
dibersihkan.
5. Higiene dan Sanitasi
● Disediakan ruang ganti khusus bagi pekerja sebelum masuk ke area produksi.
● Wastafel dengan sensor otomatis di setiap titik kritis (misalnya sebelum masuk ruang produksi).
● Protokol pembersihan harian dan berkala diterapkan dengan penggunaan bahan pembersih food grade.
6. Pencegahan Kontaminasi Silang
● Jalur bahan baku dan jalur produk jadi tidak boleh bersinggungan.
● Penggunaan sistem warna atau label pada peralatan dan pakaian pekerja untuk membedakan area kerja.
● Area produksi harus memiliki standar kebersihan tinggi, dan bahan kimia non- food harus disimpan terpisah.
7. Pengelolaan Limbah
● Limbah padat dan cair dikelola dengan sistem pembuangan yang sesuai regulasi lingkungan.
● Saluran air memiliki kemiringan yang cukup untuk menghindari genangan dan
mempermudah pembersihan.
Skema Tata Letak Ruang Produksi
Bahan Baku Masuk → Gudang Penyimpanan → Penimbangan & Pencampuran → Pemanggangan → Pendinginan → Pelapisan Coklat → Pengemasan
→ Gudang Produk Jadi & Distribusi
Penerimaan Bahan Baku
● Lokasi: Di luar area produksi utama, terpisah dengan area pengemasan dan pengiriman.
● Fasilitas: Tempat untuk memeriksa bahan baku, serta ruang penyimpanan sementara untuk bahan-bahan kering (tepung, gula) dan bahan basah (coklat, krim).
● Proses: Pemeriksaan kualitas bahan baku, pengecekan dokumen pemasok, serta penyimpanan dengan sistem FIFO untuk bahan kering dan kontrol suhu untuk bahan basah.
Penyimpanan Bahan Baku
● Lokasi: Berdekatan dengan area persiapan, terpisah dari area produksi untuk
menghindari kontaminasi.
● Fasilitas: Gudang bahan baku dengan rak atau sistem penyimpanan yang memadai, dengan suhu terkontrol untuk coklat dan bahan sensitif lainnya.
● Proses: Bahan-bahan ditempatkan sesuai kategori dan kondisi penyimpanan yang diperlukan (misalnya bahan basah dalam suhu rendah).
Persiapan Bahan
● Lokasi: Di area produksi yang bersih, terhubung langsung dengan area penyimpanan bahan baku.
● Fasilitas: Meja dan alat untuk menimbang, mencampur bahan, serta mesin untuk pencampuran bahan dengan standar kebersihan tinggi.
● Proses: Proses pencampuran tepung, gula, bahan pengisi, dan coklat dengan mesin pengaduk otomatis. Setiap bahan yang digunakan harus dipastikan dalam kondisi yang higienis dan sesuai standar.
Pencetakan dan Pembentukan
● Lokasi: Di area produksi utama, setelah tahap pencampuran bahan.
● Fasilitas: Mesin pembentuk wafer dan mesin pemotong sesuai ukuran produk (misalnya 150 gram).
● Proses: Setelah adonan dicampur, adonan dicetak menjadi bentuk wafer sesuai ukuran, dipotong dengan presisi. Pemotongan yang rapi sangat penting untuk memastikan ukuran dan bentuk yang konsisten.
Pemanggangan
● Lokasi: Area yang terpisah, menghadap ke ventilasi untuk menghindari asap dan bau terkontaminasi ke area lain.
● Fasilitas: Oven pemanggang otomatis dengan kontrol suhu yang tepat.
● Proses: Proses pemanggangan wafer dilakukan dengan kontrol suhu yang akurat untuk menghasilkan tekstur wafer yang renyah. Waktu dan suhu sangat penting untuk memastikan kualitas wafer yang baik.
Pelapisan Coklat
● Lokasi: Area setelah pemanggangan, terpisah dari proses pembentukan dan pemanggangan.
● Fasilitas: Mesin pelapis coklat otomatis, yang dapat melapisi wafer dengan coklat cair dan memberikan lapisan coklat yang seragam.
● Proses: Wafer yang telah dipanggang kemudian dilapisi dengan coklat cair dengan mesin pelapis coklat untuk memastikan
setiap wafer tertutup rapat. Setelah proses pelapisan, wafer harus didinginkan dengan sistem pendingin untuk mengeras.
Pendinginan dan Pengeringan
● Lokasi: Area pendinginan yang terpisah, dengan suhu yang terkontrol.
● Fasilitas: Ruang pendinginan dengan mesin atau conveyor yang bisa mengalirkan udara dingin.
● Proses: Wafer yang telah dilapisi coklat harus didinginkan untuk mengeras. Proses pendinginan harus cukup untuk
mempertahankan tekstur coklat dan kualitas wafer.
Pengemasan
● Lokasi: Di area terpisah dari proses produksi utama untuk menjaga kebersihan dan mencegah kontaminasi.
● Fasilitas: Mesin pengemas otomatis dengan kemampuan untuk mengemas 150 gram wafer coklat dalam kemasan yang rapat dan aman.
● Proses: Setelah produk dingin, wafer dipindahkan ke mesin pengemas otomatis yang akan membungkusnya dengan kemasan yang sesuai. Label dan tanggal kedaluwarsa dicetak langsung pada kemasan.
Penyimpanan Produk Jadi
● Lokasi: Gudang produk jadi yang terpisah dari area produksi.
● Fasilitas: Rak atau gudang dengan kontrol suhu untuk menjaga kualitas produk.
● Proses: Produk yang telah dikemas kemudian disimpan dalam gudang yang bersih, dengan suhu yang terkontrol agar tetap dalam kondisi optimal sampai pengiriman.
Pengiriman
● Lokasi: Terpisah dari ruang produksi untuk memastikan area pengemasan tetap steril.
● Fasilitas: Area untuk memuat dan mengirim produk yang telah selesai ke distribusi.
● Proses: Pengemasan akhir, pemeriksaan kualitas produk, dan pemindahan ke truk distribusi.
c. Proses pengolahan (termasuk bahan baku)
1. Membuat Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB)
a) Melakukan pendaftaran akun terlebih dahulu melalui laman resmi pelayanan publik BPOM dan harus memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).
b) Mengisi dan mengunggah data profil perusahaan pada laman resmi pelayanan publik BPOM.
c) Dalam jangka waktu paling lama 3 hari, hasil verifikasi yang dinyatakan lengkap dan benar akan diberikan nama pengguna dan kata sandi.
d) Menyiapkan dokumen persyaratan, seperti : peta lokasi sarana produksi; denah bangunan (lay out) sarana produksi; panduan mutu meliputi dokumen yang memuat persyaratan untuk penerapan CPPOB di sarana produksi; deskripsi
Pangan Olahan; dan alur proses produksi beserta penjelasannya.
e) Mengisi data dan mengunggah dokumen pada laman resmi pelayanan publik BPOM.
f) BPOM akan menerbitkan surat perintah bayar dan pembayaran dilakukan dalam jangka waktu 7 hari.
g) BPOM melakukan penilaian berupa evaluasi dan audit yang dilakukan dalam jangka waktu 20 hari dari hari pembayaran.
h) Hasil penilaian diperlukan Tindakan Perbaikan yang harus dikirimkan dalam jangka waktu 30 hari.
i) Kepala BPOM akan menerbitkan keputusan berupa penerbitan Izin Penerapan CPPOB setelah dinyatakan memenuhi persyaratan CPPOB.
2. Memeriksa terkait Bahan Baku dan Bahan Tambahan Pangan (BTP)
a) Membuat komposisi atau formula dasar bahan baku dan BTP.
b) Menggunakan bahan yang tidak rusak, busuk, dan mengandung bahan berbahaya.
c) Memastikan bahwa Bahan Baku, Bahan Tambahan Pangan serta Produk jadi Sesuai dengan SNI yang berlaku
d) Menggunakan bahan yang tidak merugikan dan membahayakan kesehatan serta memenuhi standar mutu yang ditetapkan.
Komposisi Bahan Baku Wafer Coklat
Standar Mutu SNI dari Bahan Baku dan BTP
Proses Produksi
Hasil Analisa Produk Akhir
d. Pengemasan (termasuk membuatkan desain label)
1. Standar Kemasan Pangan
a) Menggunakan bahan kemasan pangan yang tidak membahayakan kesehatan manusia.
b) Menggunakan zat kontak pangan dan bahan kontak pangan yang aman dan memenuhi persyaratan.
2. Tata Cara Pengemasan Pangan
a) Ruangan pengemasan pangan selalu dikontrol untuk melindungi dan mempertahankan mutu pangan dari pengaruh luar, seperti kelembaban, suhu, dan cahaya.
b) Kemasan yang digunakan cukup kuat untuk tahan terhadap perlakuan selama proses pengolahan, pengangkutan pangan, dan peredaran pangan agar tidak menyebabkan kerusakan.
c) Kemasan yang digunakan melindungi pangan dari cemaran yang dapat merusak kualitas dan memastikan pangan tetap dalam kondisi yang aman untuk dikonsumsi.
d) Pengemasan disertai dengan pelabelan yang jelas dan akurat, yang mencantumkan informasi penting terkait produk pangan.
e) Bahan kemasan pangan disimpan dan ditangani dalam kondisi higienis, serta terpisah dari bahan baku dan produk akhir untuk mencegah kontaminasi silang.
3. Membuat Desain Kemasan dengan keterangan minimal nama produk, daftar bahan, berat bersih, nama dan alamat produsen dan tanggal kedaluwarsa
Ukuran Kemasan: 13 x 20 cm
Jenis Kemasan : PE (ketebalan 100 mikron) dengan alumunium foil dengan sealing lock Keterangan : tulisan font tercetak utuh pada media label dan tidak mudah luntur
Tampak Depan :
Tampak Belakang :
e. Pemasaran baik lokal maupun internasional (termasuk ijin usaha)
1. Membuat Dokumen Tanda Daftar Gudang (TDG) kepada Kepala Unit PTSP setempat Kategori : gudang tertutup Gol A
2. Mendaftarkan produk melalui platform e-reg BPOM, uji laboratorium hingga terbit nomor izin edar dan mencantumkan izin edar ke kemasan
3. Pengajuan dokumen PB-UMKU (Perizinan Berusaha Untuk Menunjang Kegiatan Usaha) oleh pemerintah daerah melalui OSS. [dokumen berlaku 5 tahun dan dapat diperpanjang dengan registrasi ulang]
4. Pembuatan dokumen SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan)
5. Jika ada raw material yang impor dari luar negeri, perusahaan asal harus melengkapi pemenuhan persyaratan CPPOB berupa : - Sertifikat GMP
- Sertifikat HACCP - Hasil audit
6. Menyediakan layanan pengaduan bagi konsumen yang mencakup alamat dan kontak pengaduan, prosedur, mekanisme tindak lanjut, jangka waktu penyelesaian serta petugas yang kompeten (baik perdagangan langsung maupun sistem elektronik
7. Membuat iklan, baik melalui media cetak maupun media elektronik
8. Melalui sales, dimasifkan untuk berjualan ke agen atau supermarket
9. Pembuatan laporan tahunan kegiatan usaha setiap tanggal 31 Juni tahun berikutnya
10. Jika ingin melakukan ekspor, harus memiliki NIB dan mendapatkan perizinan berusaha di bidang ekspor yang diakses melalui SINSW pada sistem INTRADE