• Tidak ada hasil yang ditemukan

uji baktriologis pada air isi ulang di kecamatan siberut selatan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "uji baktriologis pada air isi ulang di kecamatan siberut selatan"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

UJI BAKTRIOLOGIS PADA AIR ISI ULANG DI KECAMATAN SIBERUT SELATAN KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI

Fitriani1, Gustina Indriati2, Yosmed Hidayat3

Program Studi Pendidikan Biologi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat

[email protected]

ABSTRACT

Water is very important for organism include humans. It was used for nany a ctivity like drink. Water is collect from many source, like mountain water, river, soil water, also from water company like PDAM. Now, has been come new alternative, it was celled “ refill water “ sonie refill water has not standarized. Based on the fact, has been done a reseach about “ Bacteriology test on refill water at district south Siberut Kepulauan Mentawai city “. The guality of refill water can be seen by using MPN (Most Probable Number) method. Samling was collect from two source refillwater. From the research we knows that refill water at district south Siberut is contain E. coli.

Keywords: water, needs, life, E. coli PENDAHULUAN

Pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat saat ini sangat bervariasi. Ada masyarakat yang mengambil air minum dari sumber air, sungai, tanah baik dengan menggunakan sumur dangkal ataupun dalam dan juga dari air perpipaan yang diproduksi oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Saat sekarang ini sudah muncul alternatif lain yaitu air minum yang diproduksi oleh depot air minum isi ulang.

Air minum isi ulang adalah air yang mengalami proses pemurnian baik secara penyinaran Ultraviolet, Ozonisasi, ataupun keduanya melalui berbagai tahap filtrasi untuk mendapatkan air bersih yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Pada era sekarang ini kesadaran masyarakat untuk mendapatkan air yang memenuhi syarat kesehatan semakin meningkat. Seiring dengan hal tersebut maka dewasa ini semakin menjamur pula Depot Air Minum Isi Ulang yang menyediakan air siap minum. Selain murah, air minum isi ulang juga bisa dijumpai diberbagai tempat, tetapi kemungkinan besar bisa ditumbuhi bakteri.

Hal ini disebabkan karena tidak semua depot air minum isi ulang melakukan pengolahan secara tepat dan benar, misalnya kualitas air baku yang digunakan, jenis peralatan yang digunakan, perawatan peralatan dan penanganan air hasil pengolahan. Selain itu

pengolahan air minum di depot air minum isi ulang tidak seluruhnya dilakukan secara otomatis sehingga dapat mempengaruhi kualitas air yang dihasilkan, dengan demikian kualitasnya masih perlu dikaji dalam rangka pengamanan kualitas airnya (Athena, dkk., 2003).

Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.907/Menkes/SK/VII/2002, salah satu parameter kualitas air minum yang dapat dikonsumsi adalah yang bebas dari bakteri Escherichia coli. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Athena, dkk., (2003) menunjukkan adanya bakteri Total Coli dan E. coli atau Fecal Coli dalam jumlah yang cukup tinggi dalam air minum isi ulang dari depot air minum isi ulang di Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu diketahui keberadaan bakteri E coli yang terdapat pada air isi ulang dan mengetahui kualitas air minum berada di Kecamatan Siberut Selatan.

(2)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016, sampel air isi ulang diperoleh di Kecamatan Siberut Selatan, dilanjutkan pemeriksaan sampel di lakukan pada Laboratorium Dasar Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera barat.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dimana uji bakteriologis air dilakukan berdasarkan metode MPN. Sampel air diperoleh dari dua lokasi depot air minum yang terdapat di Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai

Alat yang digunakan adalah botol sampel, tabung reaksi, tabung Durhan, autoklaf, pipet ukur 1 ml, 5 ml dan 10 ml, jarum ose, kertas label, kapas, inkubator, waterbatch, spidol, rak tabung reaksi dan lampu spritus,tabung elemeyer, drill glass, kompor listrik, karet hisap,tissue, aluminuim foil, cawan petri dan kamera digital sebagai alat dokumetasi. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Medium Laktosa Borth (LB), Medium Briliant Green Laktosa Broth (BGLB),Medium Eosin Metilen Blue (EMB) dan alkohol 70%, aquades dan sampel air isi ulang.

Proses Sterilisasi Alat dan Bahan

Sebelum melaksanakan penelitian ini alat dan bahan harus disterilisasi terlebih dahulu. Botol sampel dapat disterilkan dengan autoklav. Kemudian tabung reaksi yang sudah disi tabung durham dan medium disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121°C dengan tekanan 15 Psi selama 15 menit.

Pengambilan Sampel

Sampel diambil langsung kedepot air isi ulang, dengan cara membuka mulut botol sampel yang telah disterilkan. Lalu ambil air sampel melalui kran depot isi ulang dengan secepat mungkin, setelah itu mulut botol sampel dilewatkan terlebih dahulu diatas nyala api agar tidak terkontaminasi dengan mikroorganisme.

Kemudian sampel dimasukan kedalam kotak/

termos yang berisi batu es. Setelah itu sampel langsung dibawa kepadang, setelah sampai dipadang, sampel langsung dibawa kelaboratorium.

Medium Laktosa Broth (LB)

Medium Laktosa Broth siap pakai dilarutkan sebanyak 12,96 gram medium LB kedalam 1000 ml aquades, kemudian dipanaskan sampai homogen. Larutan dimasukan kedalam tabung reasi sebanyak 10ml yang berisi tabung durham dalam keadaan terbalik, kemudian disterilkan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.

Brillian Green Laktosa Bile Broth (BGLB) Medium Brillian Green Lactosa Bile Broth siap pakai dilarutkan sebanyak 14,400 gram BGLB kedalam 1000 ml aquades, dipanaskan sampai homogen.

Setelah itu larutan dimasukan kedalam tabung reasi sebanyak 10ml yang telah berisi tabung durham dalam keadaan terbalik, kemudian disterilisasi dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit.

Medium Eosin Methylene Blue (EMB) Dilarunkan sebanyak 5,4 gram medium EMB, kedalam 1000ml aquades, selanjutnya diaduk larutan yang telah dilarutkan dengan aquades dan kemudian disterilkan kedalam autoklaf selama 15 menit pada suhu 121°C

Uji Sangkaan

Siapkan 36 tabung yang masing- masing berisi Laktosa Broth (LB) sebanyak 10 ml, kemudian masukan sampel air isi ulang kedalam tabung reaksi sebanyak 10 ml, 1 ml, 0,1 ml yang telah diberi label.

Setelah itu diinkubasi pada suhu 37 °C selama 2x24 jam.Amati masing-masing tabung untuk melihat ada tidaknya gas, adanya gas menunjukan tes sangkaan positif.

Uji Kepastian

Bila hasil sangkaan positif maka dilakukan kembali penanaman lanjut pada uji kepastian, diambil 1-2 ose isi dari tiap- tiap tabung yang positif, pembacaan dilakukan setelah 24 jam dengan melihat jumlah BGLB yang menunjukan positif gas.

Uji Kesempurnaan

Berdasarkan hasil yang positif pada uji kepastian maka dilanjutkan pada uji kesempurnaan dilakukan penanaman pada medium EMB. Diambil 1 ml atau lebih sampel dicampurkan kedalam cawan agar- agar yang telah membeku. Kemudian

(3)

diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam untuk memudahkan dan dapat dibedakan dalam pengamatan koloni yang tumbuh E.

coli atau koliform lainnya. Bila koloni yang tumbuh berwarna kilat hijau logam menunjukan adanya E. coli.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari penelitian ini telah dilakukan pengujian terhadap 2 depot air minum isi ulang yang berada di Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Mentawai didapatkan kualitas air berdasarkan MPN tes sangkaan dapat dilihat pada Tabel 1. dibawah ini.

Tabel 1. Hasil tes sangkaan pada air minum isi ulang

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan pada depot air minum isi ulang yang beredar di Kecamatan Siberut Selatan diperoleh hasil positif tercemar oleh bakteri E coli. Hasil uji sangkaan terhadap 2 depot air minum isi ulang yang memiliki kandungan bakteri. Berdasarkan klasifikasi menurut Suriawiria (1986) hasil pengujian terhadap 2 depot air minum isi ulang yang berada di Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kapulauan Mentawai, yaitu tiap depot memiliki klasifikasi diragukan, jelek dan baik.

Berdasarkan hasil uji diketahui bahwa depot air minum isi ulang yang berada di depot 1 dan 2 tercemar bakteri yaitu berkisar antara 43-240 sel/100 ml. Hal ini menunjukan bahwa air minum isi ulang sangat berbahaya untuk dikonsumsi secara terus menerus oleh masyarakat Dusun Muara dan Dusun Tetesinabak. Menurut Dinas Kesehatan air minum di Indonesia harus memenuhi persyaratan peraturan Menteri Kesehatan RI. NO. 492 tahun 2010 menyatakan bahwa dalam air minum tidak ada bakteri ataupun virus berbahaya lainnya.

Selain itu menurut Suriawiria (1986) klasifikasi air minum bahwa standar mutu air

minum yang layak untuk dikonsumsi adalah kurang dari 1 (tadak ada).

Sedangkan pada depot 1 pengambilan pagi diketahui bahwa air minum isi ulang ini tergolong diragukan yaitu 9,1 sel/100.

Karena air minum isi ulang pada pengambilan pagi masih diragukan untuk dikonsumsi atau dijadikan sebagai air minum (Suriawiria, 1986). Sedangkan depot 2 pada pengambilan sore diketahui bahwa air minum isi ulang ini tergolong baik yaitu 0 sel/100 ml. Berati air minum isi ulang pada lokasi ini baik untuk dikonsumsi atau dijadikan air minum isi ulang. Untuk lebih memastikan air minum isi ulang ini layak atau tidak dikonsumsi dilakukan uji analisis selanjutnya yaitu uji kepastian yang digunakan untuk menentukan air minum isi ulang tersebut tergolong kedalam air minum isi ulang yang tidak layak untuk dikonsumsi (Suriawiria, 1986).

Uji kepastian yang telah dilakukan pada air minum isi ulang yang berada di Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai yang dilakukan analisis terhadap 2 depot air minum isi ulang. Pada pengambilan pagi dan sore di dapatkan hasil positif tercemar oleh bakteri koliform atau sama dengan uji sangkaan.

Selanjutnya setelah didapatkan hasil dari uji kepastian dilakukan uji kesempurnaan, pada uji kesempurnaan ini ternyata didapatkan bahwa air minum isi ulang adanya mikroba (tabel 2) adanya mikroba menandakan air minum isi ulang tersebut tidak layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat di Kecamatan Siberut Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Hal ini disebabkan karena dalam pengujian sangkaan dan kepastian ditemukan adanya koliform. kehadiran koliform sebagai indikator alami dalam menentukan tingkat pencemaran disebabkan bakteri bersamaan bakteri pathogen yang terbawa bersama materi tinja. Selain itu dalam pengujian ini juga dijadikan pada media EMB adalah media selektif merupakan media yang mendukung pertumbuhan mikrooganisme tertentu dengan menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang lain (Suriawiria, 1986).

Berdasarkan hal diatas dapat diketahui bahwa air minum isi ulang yang berada di Kecamatan Siberut Selatan tercemar oleh bakteri E coli. Hal ini Depot Pengam

bilan

Nilai (MPN/100ml)

Kualitas

1 Pagi

Sore

9,1 Diragukan

240 Jelek

2 Pagi

Sore

43 Jelek

- Baik

(4)

disebabkan karena penggunaan air sebagai bahan baku dalam kebutuhan sehari-hari sudah terkontaminasi pada saat pengolahan atau penyaluran air minum untuk keperluan masyarakat setempat dan tidak dimasak terlebih dahulu.

Menurut Marsida (2005) kontaminasi air minum yang dipasok oleh keperluan masyarakat umum akibat buangan industry, buangan limbah domestik. Proses kontaminasi dapat terjadi mulai dari sumber air baku, selama proses pengelohan ataupun pada pipa distribusinya selain itu air yang digunakan sebagai sumber belum mememuhi standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Menurut Dinkes (2010), kualitas air bersih di Indonesia harus memenuhi persyaratan yang tertuang didalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.429 tahun 2010, dimana persyaratan diantara lain adalah tidak adanya bakteri ataupun virus berbahaya lainya dalam air.

Menurut WHO dan APHA kualitas air ditentukan oleh kehadiran dan jumlah E. Coli didalamnya. Selain disebabkan karena air juga disebabkan dalam pembuatan, pengelolahan dan penyajian air minum isi ulang yang belum memenuhi standar yang ditetapkan oleh pemerintah, selain air yang kurang bersih, hal lain yang memungkinkan terkontaminasinya air minum isiulang yang diproduksi oleh depot isi ulang dan disebabkan karena peralatan yang digunakan kurang bersih (Sopandi dan Wardah, 2014).

Dimana berbagai peralatan yang kurang bersih digunakan secara terus - menerus dalam jangka waktu yang lama, mikroorganisme akan berkembang biak secara terus-menerus dan menjadi sumber kontaminasi dalam air isi ulang. Peralatan yang disimpan dalam keadaan terbuka juga akan mengumpulkan bakteri, khamir dan jamur benang dari udara (Suharni, 2008).

Hal lain sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fauzi, (2011) terhadap Kerapatan Eschrichia coli pada air isi ulang di Muaro Labuah juga tercemar oleh bakteri koliform seperti E. Coli. Hal ini dapat membahayakan bagi masyarakat Muara Siberut yang mengkonsumsi air minum isi ulang tersebut dengan ditemuinya bakteri koliform E. Coli pada sampel air minum isi ulang yang nantinya akan dapat mnyebabkan penyakit diare apabila dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Air minum isi ulang yang beredar di Kecamatan Siberut Selatan, terdeteksi dengan adanya bakteri E coli. Kemudian berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap kualitas air minum isi ulang yang disediakan oleh depot air minum isi ulang yang berada di Kecamatan Siberut Selatan tidak layak untuk dikonsumsi karena terdapat bakteri E.

coli dan belum memenuhi standar kualitas air minum.

Daftar Pustaka

Athena, Sukar, Hendro, M., Anwar, M.D., dan Haryono, 2003, Kandungan.Bakteri Total Coli dan Escherichia Coli/Fecal Coli pada air minum dari depot air minum isi ulang di Jakarta, Tangerang dan Bekasi,Puslitbang Ekologi Kesehatan,

http://ekologi.litbang.depkes.go.id diakses pada tanggal 27 Agustus 2008.

Depkes RI, 2002, Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, PerMenKes

RI,No.907/MenKes/SK/VII/2002, DepKes RI, Jakarta.

Fauzi, M. 2011. Kerapatan Escherichia coli Pada Air Isi Ulang Kecamatan Muaro Labuah Kabupatan Solok Selatan.

Skripsi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang

Suriawiria, 1986. Pengantar Mikrobiologi Umum. Bandung : Angkasa

Marsida, Rusliasih dan N. I. Said. 2005.

Masalah Polutan Mikro di Dalam Air Minum Dan Cara Penanggulanginya.

(Jurnal). Kelompok Teknik Pengolahan Dan Limbah Cair, Pusat Pengkajian Dan Penerapan Teknologi Lingkungan,BPPT

Sopandi, Tatang dan Wardah. 2014.

Mikrobiologi pangan. Yogyakarta : Andi

Referensi

Dokumen terkait

Dalam menanggulangi permasalahan tersebut strategi yang diterapkan yang membuat depot air minum isi ulang Bandar Rejo bisa bertahan hingga sekarang yakni pada pelayanan tersebut

coli Dari hasil pemeriksaan bakteri E.coli dan Coliform yang telah dilakukan pada delapan sampel, ternyata ada 6 sampel yaitu 1, 2, 3, 5, 6, dan 8 depot air minum isi ulang yang