The second part of the first session of the Conference of the Parties serving as the meeting of the Parties to the Paris Agreement (CMA1.2); Part four of the first session of the Ad Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA1-4).
Twenty-third session of the Conference of the Parties to the UNFCCC (COP23 UNFCCC), Thirteenth session of the Conference of the Parties serving as the meeting
Pelaksanaan COP23/CMP13/CMA1.2 merupakan bagian penting dari perjalanan menuju pencapaian tujuan jangka panjang yang tertuang dalam Perjanjian Paris, mendukung proses pelaksanaan Perjanjian Paris di setiap Negara Pihak. UNFCCC COP23/CMP13/CMA1.2 juga berfungsi mempersiapkan dialog fasilitatif di tahun 2018, yang digunakan untuk menginventarisasi upaya kolektif di tahun 2018.
PERSIDANGAN
- Forty-seventh session of the Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBSTA 47) dan Forty-seventh session of the Subsidiary Body for Implementation
- Fourth part of the first session of the Ad Hoc Working Group on the Paris Agreement (APA 1.4)
- Hasil Persidangan
- Koordinasi Internal Delegasi RI Konsolidasi internal Delegasi RI terbagi atas
Conclusion Agenda 3-8 of the APA: (a) Modalities, procedures and guidelines for the transparency framework for action and support referred to in Article 13 of the Paris Agreement; and (b) Matters relating to the global stock referred to in Article 14 of the Paris Agreement. Work program under the framework for non-trade approaches referred to in Article 6, paragraph 8, of the Paris Agreement.
HIGH LEVEL SEGMENT UNFCCC
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyampaikan National Statement pada COP23 High Level Segment UNFCCC, 16 November 2017. Dalam negosiasi tersebut, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan selaku Ketua DELRI bersama Dirjen PPI juga berkesempatan untuk mengembangkan pertemuan bilateral.
PERTEMUAN MULTILATERAL DAN BILATERAL
Mandated Events
Indonesia menyampaikan bahwa fitur NDC pada dasarnya telah disepakati dalam Paris Agreement dan setidaknya elemen-elemen tersebut dapat dijadikan sebagai elemen yang harus dipenuhi dalam NDC. Selain itu, ia juga mengatakan jika fitur baru ditambahkan, maka akan membuka kembali negosiasi yang telah disepakati di Paris.
PERTEMUAN NON PERSIDANGAN
Side Event UNFCCC, Paviliun Negara Lain, dan Event Lainnya
Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, KLHK sebagai perwakilan DELRI mengadakan presentasi di Side Event UNFCCC CGE. Kasubdit REDD+, KLHK sebagai perwakilan DELRI memberikan presentasi di side event GCF: Proof of concept.
PAVILIUN INDONESIA
Adaptasi: Agenda adaptasi yang dibahas selama persidangan mencakup pengembangan pedoman Adaptation Communication yang menjadi salah satu mandat Paris Agreement,
Perundingan dalam agenda WIM Excom Report fokus pada 3 isu utama yang berbeda, yaitu: i) Keberadaan WIM sebagai agenda tetap di antara Dewan Pengawas; ii) Pembentukan kelompok ahli tentang aksi dan dukungan; iii) Mobilisasi sumber daya dan pembiayaan. Melalui pertemuan bilateral yang difasilitasi oleh co-fasilitator dan arahan yang diberikan oleh Kepresidenan COP kepada country group dan konsultasi internal tingkat tinggi oleh berbagai sub-grup G77+China, akhirnya disepakati landing zone untuk ketiga isu tersebut, yaitu: i) Implementasi dialog pakar tentang tindakan alur kerja dan dukungan di SBs 48, yang dapat mengisi kekosongan dalam diskusi SMO selama sesi doa syafaat hingga tahun 2020, ketika tinjauan menyeluruh dilakukan; ii) Mendorong Excom untuk bekerja sama dengan lembaga terkait di bawah Traktat dan Perjanjian Paris dalam upaya menerapkan tindakan dan dukungan alur kerja, termasuk saat mempertimbangkan mandat.
TINDAK LANJUT 8
Transparansi: Persidangan telah mengidentifikasi elemen-elemen untuk modlaitas, prosedur dan pedoman kerangka tranaparansi aksi dan sumberdaya (support) yang
Pembahasan modalitas dan prosedur NDC Public Register (terkait Article 4 Paris Agreement) dan juga Communication on Adaptation (Pasal 7 Paris Agreement), lanjutan pembahasan SBI 48 (April-Mei 2018) dengan pembahasan catatan informal yang disiapkan oleh Sofacilitator dengan mempertimbangkan negara pihak selama negosiasi dan pengajuan aplikasi. Fokus yang perlu disiapkan Indonesia terkait dengan usulan yang masih memiliki perbedaan pandangan dan juga unsur modalitas, peran, prosedur dan navigasi. Selain membahas identifikasi sumber masukan dan pengembangan modalitas tinjauan global terkait Pasal 14 Perjanjian Paris, sesi pertemuan APA berikutnya akan fokus pada pengembangan struktur akhir, elemen kunci, dan alat implementasi untuk operasionalisasi tinjauan global.
Selain itu, pembahasan tentang ekuitas akan merumuskan solusi untuk mengatasi masalah bagaimana memasukkan ekuitas dalam inventarisasi global dan bagaimana itu dioperasionalkan. Peningkatan kapasitas: Peningkatan kapasitas merupakan isu penting karena merupakan prasyarat untuk implementasi aksi perubahan iklim dalam kerangka implementasi.
Peningkatan Kapasitas: Peningkatan kapasitas merupakan isu penting karena menjadi prasyarat untuk dapat terlaksananya aksi-aksi perubahan iklim dalam rangka pelaksanaan
Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi implementasi PA secara global, regional dan nasional. Mengenai Mekanisme Teknologi, dalam hal ini Technology Executive Committee (TEC) dan Climate Technology Center and Network (CTCN), diharapkan Indonesia mendapat manfaat dari review kegiatan TEC dan CTCN selama empat tahun pertama. dukungan alih teknologi sesuai kebutuhan Indonesia.
Pendanaan Iklim: Isu finance yang cukup penting pada COP23 UNFCCC ini adalah Penyusunan Pedoman untuk GEF dan GCF oleh COP. Beberapa isu yang menjadi
Article 6 of the Paris Agreement : Isu terkait Article 6 Paris Agreement yang membahas kerjasama dalam implementasi NDC menekankan perlunya mempersiapkan dokumen
Compliance : kemajuan pembahasan akan sangat tergantung perkembangan pembahasan di berbagai agenda items lain mengingat linkage antara Komite Compliance
Research and Systematic Observation (RSO) : Negara pihak terutama negara berkembang diminta untuk melakukan peningkatan systematic observations secara
Gender and Climate Change: Gender Action Plan (GAP) atau Rencana Aksi Gender yang dihasilkan akan mendukung pelaksanaan berbagai keputusan dan mandat terkait gender
Pertanian: Persidangan terkait pertanian akan melanjutkan pembahasan pada persidangan SBSTA 48 (April– May 2018) mengenai basis dari elemen-elemen untuk
Local Communities and Indigenous Peoples Platform : DELRI berhasil menjadikan keseimbangan antara Local Communities dan Indigenous Peoples sebagai posisi bersama
- Penyiapan Facilitative Dialogue 2018
- Implementasi Paris Agreement dan NDC
"Green Climate Fund Report to the Conference of the Parties and Guidelines to the Green Climate Fund"). Reference: FCCC/CP/2017/L.8 or Green Climate Fund Report to the Conference of the Parties and Guidelines for the Green Climate Fund. 10d Report of the Global Environment Facility to the Conference of the Parties and Guidelines to the Global Environment Facility.
"Report of the Global Environment Facility to the Conference of the Parties and Guidelines to the Global Environment Facility"). Reference: FCCC/CP/2017/L.11 or the report of the Global Environment Facility to the Conference of the Parties and.
Strategi NDC
SBSTA setuju untuk memperpanjang batas waktu penyampaian pandangan15 tentang bagaimana meningkatkan lebih lanjut relevansi dan efektivitas NWP dari 12 Januari 2018 hingga 30 Maret 2018. SBSTA mencatat bahwa komentar ini merusak penilaian NWP pada SBSTA 48 (April –Mei 2018). COP, dengan keputusannya 1/CP.21, paragraf 20, memberikan mandat untuk "menyelenggarakan pada tahun 2018 sebuah dialog yang memfasilitasi antara Negara Pihak untuk mempertimbangkan tindakan kolektif Negara Pihak sehubungan dengan kemajuan menuju jangka panjang" . tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4(1) Perjanjian Paris dan penyusunan NDC sesuai dengan Pasal 4(8) Perjanjian Paris.
Berdasarkan masukan dari Negara Pihak pada peluncuran Dialog Fasilitasi pada COP23, diharapkan bahwa Dialog Fasilitasi akan dilakukan dengan pendekatan konstruktif, fasilitatif dan berorientasi solusi, yang tidak mengarah pada diskusi konfrontatif yang diprakarsai oleh masing-masing Negara Pihak, dan didasarkan pada cara-cara yang mempromosikan kolaborasi. Sebagai tindak lanjut dari peluncuran Dialog Fasilitatif 2018, Negara Pihak dan pemangku kepentingan non-Pihak diharapkan dapat bekerja sama dalam mengadakan pertemuan acara di tingkat lokal, nasional, regional atau global untuk mendukung persiapan dan penyediaan masukan yang relevan mengenai hal ini. tiga topik umum.
Transparency Framework
Misalnya, agenda tentang cara mempertanggungjawabkan sumber daya keuangan yang disediakan dan dikumpulkan melalui intervensi publik sesuai dengan Pasal 9(7) Perjanjian Paris, SBSTA47 tidak dapat menyelesaikan mandatnya seperti dalam Keputusan 1/CP.211. Pembahasan yang tertunda pada Pasal 9(7) Perjanjian Paris adalah contoh refleksi lebih lanjut dari kerja keras Negara Pihak untuk mengubah hal-hal abstrak menjadi hal-hal konkret menjelang COP24 di Katowice, Polandia pada tahun 2018. Ini juga merupakan pekerjaan rumah lebih lanjut untuk masing-masing Negara Pihak untuk dapat memantau hasil pertemuan di tingkat nasional, sub-nasional dan lokal, dengan tugas pertama adalah meningkatkan pemahaman berbagai pemangku kepentingan di negara tersebut mengenai hasil pertemuan tersebut.
Lebih lanjut, Laporan DELRI ini merupakan bentuk komunikasi dan sosialisasi kepada pemangku kepentingan, yang menggambarkan suara kepentingan Indonesia dalam melakukan negosiasi (formal dan informal) selama Konferensi Perubahan Iklim PBB. 1.
PENUTUP 9
Meminta agar TEC dan CTCN memasukkan dalam rekomendasi laporan tahunan mereka tentang langkah ke depan dan tindakan tindak lanjut yang diperlukan. Meminta Komite Adaptasi (pelaksana TEP Adaptasi) untuk: (1) mempertimbangkan kebutuhan Negara Pihak yang diidentifikasi dalam NDC, Rencana Adaptasi Nasional dan Komunikasi Nasional, (2) menangani 4 fungsi TEP Adaptasi, (3) membuat rekomendasi tentang jalur lebih lanjut dan tindak lanjut yang akan diambil berdasarkan hasil pertemuan para ahli teknis yang ditujukan kepada Negara Pihak dan organisasi lain; Posisi Indonesia adalah memperhatikan laporan dan rekomendasi yang disampaikan oleh AC dan AC/LEG dari perspektif kebutuhan pemantauan konkrit terhadap hal-hal penting yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas adaptif negara-negara berkembang.
meminta agar TEC dan CTCN memasukkan rekomendasi dalam laporan tahunan mereka tentang langkah ke depan dan tindak lanjut yang akan diambil berdasarkan hasil pertemuan ahli teknis yang ditujukan kepada Negara Pihak dan organisasi lain; Berdasarkan hasil konsultasi informal ke-3 tentang kemajuan terkini, draf teks akhir disiapkan terkait laporan AC dan LEG dengan pendanaan GCF untuk membantu negara-negara berkembang dalam proses RAN.
SBSTA 12
SBSTA 13
Terkait paragraf terkait keuangan, negara-negara G77 + China meletakkan dasar mandat WIM Excom yang disepakati dalam 2/CP.19 dan 2/CP21 tentang fasilitasi mobilisasi sumber daya, keputusan pada tahap ini harus diarahkan k realisasinya mandat, tidak lagi hanya penelitian, tetapi negara maju bersikeras bahwa ini bukan mandat SBI. Hal ini mendasari pentingnya menjaga kesinambungan pembahasan masalah ini untuk lebih mengangkat profil masalah kehilangan dan kerusakan serta mengantisipasi kesenjangan yang ada terkait pelaksanaan mandat WIM Excom dan WIM. Hasil dialog pakar ini akan berupa dokumen teknis dari sekretariat yang akan menjadi bahan pertimbangan WIM Excom saat melakukan proses review.
Analisis gap antara mandat WIM dengan mandat WIM Excom serta keselarasannya dengan implementasi Pasal 8 Paris Agreement, sebagai landasan posisi Indonesia dan juga sebagai masukan untuk pengajuan penilaian ToR oleh WIM. Ini adalah posisi mundur dari G77 karena pada dasarnya tidak ada permintaan khusus mengenai pendanaan (yang sulit untuk disepakati dalam agenda ini), tetapi setidaknya masih membuka kemungkinan untuk pembentukan kelompok khusus aksi dan dukungan ahli. dan mendorong pertimbangan ketersediaan dan mekanisme mobilisasi sumber daya disederhanakan dalam struktur WIM Excom saat ini.
APA 5 Modalities, procedures and guidelines for the
Persidangan APA agenda item 6 Issues relating to the global stock referred to in Article 14 of the Paris Agreement are open for 6 ongoing informal consultations on building blocks and forever. SBI 4(b) Work of the Consultative Group of Experts on National Communications from Parties not included in Annex I of the Convention. Development of modalities and procedures for the operation and use of a public registry referred to in Article 4 paragraph 12 of the Paris Agreement.
Development of modalities and procedures for the operation and use of the public register referred to in Article 7(12) of the Paris Agreement. Environmental Fund for the Conference of the Parties and Guidelines for the Global Environment Facility. SBSTA 11(b) Rules, modalities and procedures for the mechanism established by Article 6(4) of the Paris Agreement.
SBSTA 11(c) Program of work under the framework of non-market approaches referred to in Article 6(1) 8, of the Paris Agreement.
SBSTA 17
LOKASI KEMAJUAN DAN HASIL KEGIATAN TINDAK LANJUT YANG DIPERLUKAN menemukan cara untuk memperkuat kerja sama.