• Tidak ada hasil yang ditemukan

universitas indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "universitas indonesia"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

Penelitian ini bertujuan untuk membangun kerangka agile enterprise berdasarkan konsep The Essence SEMAT Kernel dan teori umum rekayasa perangkat lunak. Judul: The Agile Enterprise Framework Berdasarkan Esensi Rekayasa Perangkat Lunak Menggunakan Design Science Research (DSR).

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Perumusan Masalah Penelitian
  • Pertanyaan Penelitian
  • Kontribusi Penelitian
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian
  • Ruang Lingkup Penelitian
  • Luaran atau Output dari Penelitian

Belum ada penelitian yang mengembangkan kerangka scaling agile atau enterprise agile berdasarkan The Essence dan teori rekayasa perangkat lunak. Apa landasan umum bagi kewirausahaan tangkas dalam organisasi berdasarkan gagasan Intisari rekayasa perangkat lunak dan teori umum rekayasa perangkat lunak.

STUDI PUSTAKA

Konsep agile

Justifikasi Pemakaian agile

Metode Agile

Ada beberapa kategori yang dikenal dalam metode kerja agile, seperti agile team, enterprise agility, dan business agility (Rose, 2018). Ketangkasan bisnis mengacu pada penerapan pola pikir dan prinsip tangkas yang mencakup semua domain dalam organisasi, termasuk domain di luar proses pengembangan perangkat lunak, seperti departemen SDM, kepemimpinan, desain organisasi, dan anggaran (Rose, 2018).

Pengertian dan Proses Bisnis Enterprise

Kerangka kerja yang dihasilkan dalam penelitian ini berkaitan dengan konsep agile enterprise dan agile team yang dapat diterapkan pada organisasi dalam pengembangan metode atau prosedur cara kerjanya. Sementara itu, pembahasan mengenai kelincahan bisnis berada di luar cakupan penelitian ini, karena berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu di luar cakupan manajemen proyek dan pengembangan perangkat lunak.

Software Engineering Theory

Kerangka tersebut dikaitkan dengan pertanyaan penelitian yang kesemuanya merupakan komponen pembentuk kerangka tersebut.

The Common ground pada Software Engineering

Penelitian Sebelumnya

Penelitian ini menjadi referensi bagi penulis dalam melakukan penelitian berdasarkan metode DSR. Proses evaluasi dalam penelitian ini (Almeida et al., 2019) akan menjadi acuan dalam pelaksanaan demonstrasi.

Theoretical Framework

Recker (2013) menambahkan strategi lain yaitu metode ilmu desain yang diartikan sebagai “Metode ilmu desain adalah prosedur yang mencakup metode untuk membangun dan mengevaluasi artefak baru dan inovatif (seperti model, metode atau sistem baru) sebagai hasil suatu penelitian. proses, dan yang ditandai dengan penekanan pada konstruksi artefak dan demonstrasi kegunaannya terhadap masalah organisasi". Dalam beberapa literatur ilmu desain, metode ini sering disebut sebagai penelitian ilmu desain (DSR). Kontribusi dari Penelitian Design Science dapat dikategorikan berdasarkan kematangan artefak yang dihasilkan (Gregor & Hevner, 2013).

Jenis kontribusi dalam penelitian ini berada pada level 2 yaitu pembangunan artefak berupa kerangka yang memuat metode. Merujuk pada konsep kontribusi penelitian DSR (Gregor & Hevner, 2013), konsep generalisasi ini bergantung pada jenis kontribusi dan kuadran kontribusi.

Alur Pikir Penelitian

Tahapan Penelitian

Kegiatan secara lebih rinci mengenai tahapannya mengacu pada (Johannesson & Perjons, 2014) sebagai: “Dalam proyek sains desain yang besar, biasanya menggunakan beberapa strategi dan metode penelitian karena aktivitas sains desain yang berbeda mungkin memerlukan pendekatan yang berbeda” seperti yang dicontohkan pada Gambar 3.3 . Hasil penelitian pada bab ini berdasarkan metode SLR bukanlah artefak akhir, melainkan artefak rancangan. Hasil penelitian ini juga berdasarkan tahapan penelitian seperti yang dijelaskan pada 4.1 Perancangan dan Pengembangan Artefak – RQ1.

Subbagian ini membahas tentang perancangan dan pengembangan artefak pada tahapan DSR seperti yang ditunjukkan oleh kotak merah pada Gambar 4.1.

Desain dan Pengembangan Artefak – RQ2

Komponen organisasi terdiri dari struktur tim, baik internal maupun eksternal, yang berperan dalam melaksanakan atau mendukung implementasi agile. Tim tangkas dalam organisasi menerapkan kebutuhan pengguna melalui kerangka kerja dan proses yang ditentukan untuk menghasilkan hasil atau produk kerja. Subbab ini menjelaskan tentang pembentukan praktik umum dengan menggunakan SLR untuk memperoleh praktik yang dilakukan oleh organisasi berdasarkan penelitian studi kasus sebelumnya.

Diharapkan bahwa praktik-praktik ini dapat lebih menjelaskan model dan landasan bersama untuk penskalaan tangkas. Evaluasi upaya dua tahap dapat meningkatkan akurasi Organisasi • Penggunaan pelatih eksternal dan agen perubahan.

Proses Evaluasi RQ1, RQ2, dan RQ3

  • Uji Coba secara Proof of Concept
  • Uji Coba Penelitian Studi Kasus

Pemaparan dalam penelitian ini merupakan uji coba rancangan artefak framework pada beberapa perusahaan di Indonesia sebagai lokasi studi kasus. Eksperimen pembuktian konsep dilakukan dengan menggunakan template dokumen yang disediakan dalam penelitian ini (Lampiran 2) dalam bentuk file berupa dokumen Power Point atau Microsoft Word. Proses monitoring berupa wawancara, observasi atau focus group Discussion (FGD) dilakukan sebagai masukan untuk menghasilkan hasil.

Dokumen studi kasus, seperti prosedur atau proses lainnya, juga digunakan untuk melengkapi pembuatan keluaran. Pilihan praktik seperti yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan studi literatur mengenai metode agile dan agile scaling yang ada saat ini.

Tempat studi kasus

Tahapan ini dilakukan setelah kegiatan demonstrasi desain atau uji coba artefak seperti terlihat pada Gambar 6.1 di kotak merah. Proses validasi menggunakan kriteria teoritis dalam rekayasa perangkat lunak juga dilakukan untuk memperkuat justifikasi validitas penelitian ini.

Evaluasi Akhir Tahap Pertama RQ1, RQ2, RQ3, dan RQ4

Enterpise Agile Framework

  • Makna Framework pada Penelitian
  • Susunan Kerangka Kerja
  • Common Ground dari Enterprise Agile
  • Model Kerangka Kerja
  • Perbandingan Kerangka Kerja ini dengan Kerangka Kerja Scaling Agile

Pertanyaan apa yang dijawab oleh oval abu-abu, yaitu model kerangka perusahaan yang tangkas, yang terdiri dari landasan bersama. Berdasarkan beberapa percobaan pada studi kasus, framework ini juga dapat diimplementasikan pada proyek agile dan agile scaling. Kerangka kerja ini dibangun berdasarkan kerangka penskalaan tangkas yang sudah ada seperti SAFe, LeSS, DA, Scrum of Scrum, dan Nexus.

Kerangka kerja ini dibentuk oleh praktik yang ada dalam kerangka penskalaan tangkas. Kerangka penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 6.7 yang terdiri dari landasan bersama, model, rencana pelaksanaan dan dokumentasi.

Analisis Kontribusi Penelitian

Pada contoh kerangka implementasi organisasi terlihat ada level tim dan level program. Level tim merupakan pengembangan produk yang dilakukan untuk masing-masing tim, sedangkan level program merupakan integrasi dari level tim. Di tingkat tim, terdapat product backlog yang sedang dikerjakan oleh tim tangkas menggunakan praktik di Pemrograman Ekstrim, Kanban, dan Scrum.

Pada tingkat program ini dilakukan seleksi praktik dalam bentuk program rencana inkremental, yaitu pertemuan bersama seluruh tim pada awal pelaksanaan. Pada tataran implementasi, praktik scrum of scrums digunakan dengan sistem retrospektif bersama dan demo secara terkoordinasi.

Kontribusi pada Aspek Teori

Analisis Aspek Teori dan Praktik

Pada sub-bb 6.5 dan 6.6 analisis penelitian ini dijelaskan secara rinci berdasarkan referensi teori umum rekayasa perangkat lunak dan evaluasi hasil penelitian teori rekayasa perangkat lunak.

Analisis Uji Coba

Aspek praktisnya sangat terlihat ketika melakukan uji coba yang melibatkan studi kasus di banyak organisasi di berbagai industri, seperti e-commerce, pemerintahan, perbankan, dan perusahaan start-up. Pengembangan metode pada kedua perusahaan ini tidak memberikan kontribusi yang signifikan, namun penggunaan bahasa intisari dapat digunakan untuk pengembangan yang lebih detail. Hal ini dilakukan dengan memperluas bahasa penting untuk studi kasus proyek Jenius menggunakan pembuktian konsep.

Analisis uji coba juga dilakukan untuk studi kasus organisasi yang menerapkan hybrid, yaitu kombinasi pengembangan tangkas dan air terjun. Untuk studi kasus kali ini, framework ini masih dapat digunakan dengan menggunakan referensi tambahan untuk Waterfall yang dapat diambil dari kombinasi PMBOK dan agile practice guide.

Keseragaman Pola Uji Coba

Masukan dan Luaran dari Hasil Uji Coba

Studi kasus yang belum menerapkan agile, atau dengan kata lain masih melakukan proses air terjun. Hal ini terjadi pada studi kasus Kalbe Farma yang menerapkan Kanban dan Scrum sebagai metode utamanya. Studi kasus yang telah menerapkan agile dalam proses pengembangannya, namun praktik tersebut tidak diterapkan dengan benar, konsisten, dan terdokumentasi.

Kerangka kerja ini dan implementasinya dalam studi kasus dapat dijadikan acuan untuk membangun metode pengembangan yang tepat. Sebuah studi kasus yang diimplementasikan agile namun masih memerlukan beberapa perbaikan pada proses pengembangan metode dan hasil prosesnya.

Analisis Kecocokan Uji Coba pada Requirement Enterprise

Hal ini terjadi pada studi kasus, misalnya, Bank BRI, perusahaan konsultan internasional, dan perusahaan perangkat lunak. Kerangka kerja ini dapat digunakan dengan menambahkan praktik pada proses air terjun, misalnya praktik yang mereferensikan PMBOK dan PRINCE2. Pada saat implementasi studi kasus tidak ditemukan hasil keluaran dari proses yang awalnya dilakukan secara agile kemudian berubah menjadi air terjun setelah diterapkannya framework ini, padahal secara teoritis hal tersebut dapat dilakukan jika mengacu pada panduan implementasi yang didalamnya studi kasus harus sesuai untuk menggunakan metodologi air terjun.

Untuk eksperimen yang melibatkan lebih dari satu tim tangkas, praktik tangkas perusahaan terkait penskalaan tangkas dapat diterapkan. Bab ini membahas tentang kesimpulan dan proposisi yang diperoleh dari hasil penelitian, analisis, demonstrasi atau pengujian suatu kerangka kerja berdasarkan metodologi Design Science Research (DSR).

Kesimpulan

  • RQ1: Common Ground dari Enterprise Agile
  • RQ2: Model konseptual dari enterprise agile
  • RQ3: Current Practices untuk Enterprise Agile
  • Pemetaan The Essence SEMAT Kernel untuk Enterprise Agile Framework (RQ4)
  • Kerangka Kerja Enterprise agile (RQ5)

Kesamaan ini dihasilkan melalui beberapa tahapan iterasi dan evaluasi melalui proses uji ahli, wawancara dan FGD. Beberapa percobaan yang dilakukan di Bab 5 telah berhasil memetakan praktik organisasi pada komponen inti umum ini. Model konseptual ini merupakan model tahap akhir yang telah disempurnakan melalui tahapan evaluasi dan pengujian.

Pengujian terhadap organisasi yang dijelaskan pada Bab 5 berhasil menjadikan model konseptual ini sebagai panduan bagi organisasi dalam mendefinisikan proses atau prosedurnya. Praktik yang diterapkan saat ini pada perusahaan agile dilakukan melalui proses Tinjauan Literatur Sistematis (SLR).

Saran-saran

  • Penelitian Studi Kasus
  • Membangun Software Engineering Theory
  • Pengembangan Obyek Penelitian Lainnya
  • Penerapan the Essence Language
  • Pengembangan Penelitian ini Menjadi Teori Software Engineering

Model konseptual yang telah disusun dan diuji dapat menjadi acuan yang cocok untuk dikembangkan menjadi suatu teori, karena model konseptual yang dibangun berkaitan dengan teori umum rekayasa perangkat lunak (Johnson & Ekstedt, 2016). Framework ini telah divalidasi berdasarkan konsep teori rekayasa perangkat lunak sebagaimana dijelaskan pada subbab 6.6. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah framework agile yang agile dan fleksibel yang telah diuji pada beberapa studi kasus.

Framework yang dibuat didasarkan pada teori-teori solid yang sudah ada yaitu: Teori Umum Rekayasa Perangkat Lunak dan Dasar-Dasar Rekayasa Perangkat Lunak. Evaluasi kerangka kerja dilakukan berdasarkan kriteria kualitas yang digunakan oleh teori rekayasa perangkat lunak (Johnson & Ekstedt, 2016).

Kontribusi Penelitian

Framework ini dapat menjawab berbagai fenomena yang terjadi pada proses pengembangan perangkat lunak, misalnya framework ini dapat memberikan pedoman pemetaan Essence Language untuk agile scaling.

Keterbatasan Penelitian

Untuk mengimplementasikan kerangka ini, peneliti tetap perlu memberikan panduan, betapapun singkatnya, kepada praktisi yang akan menggunakannya. Beberapa upaya di banyak perusahaan tidak mencakup seluruh tahap implementasi, meskipun secara umum kerangka ini dapat digunakan. Untuk mencapai tingkat kecanggihan tersebut, tentunya diperlukan sosialisasi dan pengujian yang lebih lama, mendalam, serta penelitian lanjutan yang lebih banyak.

Saat ini terdapat beberapa usulan usulan mengenai penelitian studi kasus dengan menggunakan panduan kerangka ini.

Komunikasi Hasil Penelitian

Coordination in multi-team programs: An investigation of team mode in large-scale agile software development.

Referensi