Risiko bencana dapat dikurangi jika kapasitas penanggulangan bencana (ketahanan, kesiapsiagaan) daerah dan masyarakat meningkat. Alat ukur ini sangat penting karena dapat digunakan sebagai dasar evaluasi dan upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan daerah dalam mitigasi bencana. Memiliki alat ukur kesiapsiagaan masyarakat dalam mitigasi bencana akan sangat berguna bagi pemerintah, BNPB untuk tingkat nasional dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk tingkat Provinsi atau Kabupaten/Kota dalam menyusun program penyadaran (mitigation program) dan inisiatif pengembangan kapasitas.
Pada tahun pertama diperoleh hasil indikator-indikator terkait kapasitas masyarakat dalam mitigasi bencana dan formula pengukuran indeks kapasitas masyarakat (community capacity index/CIC). Dalam melakukan aksi mitigasi bencana, pengkajian risiko bencana suatu wilayah merupakan langkah awal dalam mitigasi bencana. 2 Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko bencana, yang dapat dilakukan saat ini adalah meningkatkan kesadaran dan membangun kapasitas mitigasi bencana.
Yulianto et al (2012) mengusulkan penggunaan data Synthetic Aperture Radar (SAR) untuk pengurangan risiko dan mitigasi bencana. Kajian ini bertujuan mengembangkan alat untuk mengukur tingkat kesiapsiagaan masyarakat dalam mitigasi bencana dan mengimplementasikannya di berbagai daerah rawan bencana.
Roadmap Penelitian
7 Menurut Hair et al (1998), SEM adalah teknik analisis multivariat, yaitu gabungan antara analisis faktor dan analisis regresi/korelasi, yang bertujuan untuk menyelidiki hubungan antar variabel dalam suatu model, baik antar indikator maupun konstruk, atau hubungan antar variabel dalam sebuah model. membangun. Suatu model dibuat berdasarkan teori tertentu, kemudian SEM digunakan untuk menguji apakah model tersebut dapat diterima atau ditolak.
Desain Penelitian
Kesiapan individu dipengaruhi oleh pengetahuan, sedangkan kesiapan kelembagaan dipengaruhi oleh adanya program, jaringan, kepemimpinan, kearifan lokal, dan fasilitas.
Indikator Capaian
Kapasitas adalah kemampuan daerah dan masyarakat dalam mengambil tindakan untuk mengurangi ancaman dan potensi kerugian akibat bencana secara terstruktur, terencana, dan terpadu. Pada tahun kedua dilakukan pengukuran dan uji model IKM di beberapa wilayah yang mewakili jenis potensi bencana seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, kekeringan dan gunung meletus. Validasi model dan indeks kapasitas masyarakat: Pengujian model di beberapa daerah rawan bencana melalui sampling.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Indikator Kapasitas Masyarakat
Regresi Logistik Ordinal
Persiapkan rencana pelarian darurat. iii) Kearifan lokal, dilambangkan dengan D, yang meliputi persepsi dan motivasi. Variabel bebas untuk Y3 adalah. i) Manajemen dan program dilambangkan dengan E,. Beberapa model diuji ternyata hanya variabel C (rencana tindakan) yang berpengaruh terhadap variabel Y1 dengan nilai estimasi parameter beserta statistik uji pada Tabel 3. Variabel Y2 dipengaruhi oleh variabel C (rencana tindakan), A3 ( pengalaman pendidikan) dan A5 (pengetahuan tempat tinggal yang merupakan daerah rawan bencana).
Variabel dependen ketiga adalah tingkat kepuasan responden terhadap pihak terkait dalam upaya peningkatan kesadaran warga terhadap bencana alam. Model variabel Y3 disusun dengan mempertimbangkan variabel bebas: kesiapan masyarakat yaitu E (Kepemimpinan dan Pemrograman), F (Informasi) dan G (Fasilitas). Dari 16 model yang diuji, diperoleh model terbaik dengan estimasi nilai parameter yang disajikan pada Tabel 5 hingga Tabel 8.
Berdasarkan Tabel 8, variabel Y3c hanya dipengaruhi oleh variabel E dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara Y3d=2 dan Y3d=1 atau terhadap Y3d=3. Sebaliknya, jika nilai IKM semakin kecil (mendekati 0) berarti masyarakat sangat tidak siap dalam menghadapi bencana.
Hasis Survey Kapasitas Masyarakat di Kabupaten Bantul terhadap Gempa
- Diskripsi Responden
- Analisis Regresi Logistik
- Nilai masing-masing faktor
Tingkat pengetahuan umum tentang pengurangan resiko bencana alam baru mencapai 55,148%, tingkat pengetahuan umum tentang cara menyelamatkan keluarga saat terjadi bencana alam adalah 58,541. Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DI Yogyakarta, merupakan salah satu daerah yang mengalami kerusakan terparah saat gempa 27 Mei lalu. Bencana kerusakan tersebut bisa dikatakan akibat ketidaktahuan masyarakat bahwa mereka hidup di zona patahan yang rawan gempa.
Untuk memulihkan diri pasca gempa, banyak bantuan yang diberikan kepada masyarakat, antara lain berupa bantuan tunai sebesar Rp 30 juta. untuk memperbaiki rumah yang roboh. Kecamatan Bambanglipuro beriklim tropis dataran rendah dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya. 99,5% wilayah Kecamatan Bambanglipuro berupa datar hingga bergelombang dan 0,5% bergelombang hingga berbukit.
Jumlah penduduk Kecamatan Bambanglipuro sebanyak 42.745 jiwa dengan penduduk laki-laki sebanyak 20.539 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 22.206 jiwa. Model menggunakan analisis regresi logistik ordinal untuk mengetahui pola pengaruh faktor rencana aksi terhadap pengetahuan pengurangan risiko bencana. Model memiliki nilai deviasi 113,5690 (P-value 0,994) yang berarti model layak untuk digunakan.
Selain itu, model regresi ondinal adalah pengaruh faktor tindakan dan faktor persiapan terhadap pengetahuan tentang cara menyelamatkan keluarga saat terjadi gempa. Evaluasi parameter pengaruh faktor tindakan dan faktor persiapan terhadap pengetahuan cara menyelamatkan keluarga saat terjadi gempa. Model memiliki nilai deviasi 147,289 (P-value 0,994) yang berarti model layak untuk digunakan.
Model logistik biner antara variabel penyelamatan bencana (V27) dan pengaruhnya terhadap pengetahuan cara menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi (V18) dijelaskan pada Tabel 26. Model ini memiliki nilai Likelihood Ratio Tests sebesar 33,119 (P-value 0,000 ), artinya model tersebut layak untuk digunakan. Berdasarkan Tabel 27 dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kabupaten Bantul memiliki nilai kearifan lokal yang sangat baik.
5.KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
DAFTAR PUSTAKA
SURVEY
KESIAPSIAGAAN TERHADAP BENCANA
25 Apakah Anda puas dengan upaya penyadaran akan kemungkinan terjadinya bencana alam oleh. Indonesia secara geografis merupakan negara yang memiliki potensi bencana alam yang tinggi untuk berbagai jenis bencana seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, kekeringan dan gunung meletus. Makalah ini membahas pengembangan model kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana dengan menggunakan analisis regresi logistik ordinal.
Model regresi dibangun dengan menggunakan tiga variabel dependen, yaitu (i) pengetahuan umum tentang pengurangan risiko bencana alam, dilambangkan dengan Y1 (ii) pengetahuan umum tentang cara menyelamatkan keluarga saat terjadi bencana alam, dilambangkan dengan Y2, (iii) upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran warga menghadapi bencana alam oleh pihak terkait disimbolkan dengan Y3. Alat ukur untuk menilai kapasitas individu, rumah tangga, dan kelompok masyarakat dalam menghadapi bencana sangat penting sebagai dasar evaluasi kesiapsiagaan daerah. Nugraha et al (2015) dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM) membuktikan hubungan antara kapasitas masyarakat dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam.
Makalah ini membahas penyusunan indeks kapasitas masyarakat dalam penanggulangan bencana dengan menggunakan analisis regresi logistik ordinal. Observasi masyarakat untuk memperoleh data tentang variabel dependen. i) pengetahuan umum tentang pengurangan risiko bencana alam, dilambangkan dengan Y1. ii) pengetahuan umum tentang cara menyimpan pengetahuan. Persiapan mengamankan barang-barang berharga - Persiapan rencana penyelamatan diri dari bencana. iii) Kearifan lokal, dilambangkan dengan D, yang meliputi persepsi dan motivasi.
Upaya pemerintah dalam peringatan dini bencana. v) Informasi yang dilambangkan dengan F - Peran media dalam kesiapsiagaan bencana. vi) Fasilitas yang dilambangkan dengan G. Persentase responden yang mengalami setiap jenis bencana alam (gempa bumi, banjir, cuaca ekstrim, kekeringan, tsunami, tanah longsor, gunung meletus, gelombang ekstrim, kebakaran) ditunjukkan pada Gambar 2. jaka nugraha , fitri nugraheni , irwan nuryana kurniawa. Hal ini menunjukkan bahwa responden berpendapat bahwa upaya peningkatan ... pemerintah relatif sama dengan ... menghadapi bencana alam dengan menggunakan analisis regresi fitri nugraheni, Irwan Nuryana Kurniawan).
Hal ini menunjukkan bahwa menurut responden upaya penyadaran terhadap bencana alam relatif sama. 1 (10) IQM dapat digunakan sebagai ukuran indeks kapasitas masyarakat yang memiliki nilai dari 0 hingga 100%, jika nilai IQM mendekati 100, berarti masyarakat sangat siap menghadapi kesulitan. Tingkat pengetahuan umum tentang pengurangan resiko bencana alam baru mencapai 55,148%, tingkat pengetahuan umum tentang cara menyelamatkan keluarga saat terjadi bencana alam adalah 58,541.
Upaya penyadaran masyarakat dalam menghadapi bencana alam yang dilakukan oleh pemerintah relatif sama dengan yang dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat. Nugraha J., Nugraheni F., Kurniawan IN, (2015), “Indikator Kapasitas Masyarakat dan Kesiapsiagaan Bencana”, Prosiding Munas II Forum Teknologi Daerah Istimewa Yogyakarta.
INVITATION LETTER
- INTRODUCTION
- DISASTER PREPAREDNESS
- SEM ANALYSIS PROCEDURE
- INDICATORS OF CAPACITY AND COMMUNITY PREPAREDNESS
- SURVEY RESULTS AND DISCUSSION
- CONCLUSIONS AND RECOMMENDATIONS
- ACKNOWLEDGMENT
- REFERENCES
Capacity building aims to improve disaster preparedness of government/organisations, communities and individuals. When implementing disaster mitigation, disaster risk assessment in a region is the first step in disaster mitigation. Three aspects are included in the calculation of regional disaster risk: hazard, vulnerability and capacity of the region, based on the characteristics of the physical condition and territory.
According to these laws, the regional capacity of the policy aspects, the readiness and the role of the institutions are emphasized. The degree to which a region is prepared to anticipate the impact of an impending disaster will vary from region to region. Compilation of the adaptive capacity of vulnerable areas of communities' drinking water and sanitation impacts of climate change was done by Yuda (2013).
This instrument is very important because it can be used as a basis for assessing whether efforts to increase the region's preparedness have been successful. Individual preparedness influenced by knowledge and wisdom/attitude, while community preparedness influenced by program, network, leadership and facilities. The realization of the use of knowledge, innovation and education for capacity building and ensuring a disaster culture at all levels.
Therefore, the main requirement that the SEM uses is the hypothetical model consisting of the structural model in the form of a diagram the path based on the theory. Conceptualization stage of the model related to the development of hypotheses (based on the theory) as a basis for linking the latent variables to other latent variables and indicator variables. The creation of stage flow diagrams (path diagram construction) will facilitate the visualization of hypotheses proposed in the conceptualization of the model above.
The concept of community capacity and readiness described in Figure 1 will be tested using SEM analysis. Distribution of the number of respondents who have experienced natural disasters is shown in Figure 2. The estimated values of the parameter and statistical test on each path are presented in Table 5.