SANKSI PIDANA DOKTER YANG LALAI DALAM MENANGANI PASIEN SEHINGGA MENYEBABKAN KEMATIAN (STUDY KASUS
PUTUSAN PENGADILAN NEGERI KOTA MADIUN NO.79 PID.SUS/2011/PN.KD.MN) PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H) Program Studi Hukum Pidana Islam
Oleh:
LISA PANDUWYNATA NIM. S20184075
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER
FAKULTAS SYARIAH
TAHUN 2022
SANKSI PIDANA DOKTER YANG LALAI DALAM MENANGANI PASIEN SEHINGGA MENYEBABKAN KEMATIAN (STUDY PUTUSAN
PENGADILAN NEGERI KOTA MADIUN NO.79
PID.SUS/2011/PN.KD.MN) PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM
SKRIPSI
Diajukan Kepada Universitas Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Hukum (S.H) Fakultas Syariah
Program Studi Hukum Pidana Islam
Oleh:
LISA PANDUWYNATA NIM. S20184075
Disetujui Pembimbing :
Dr. Abdul Wahab, M.H.I NIP. 19840112 201503 1 003
ii
SANKSI PIDANA DOKTER YANG LALAI DALAM MENANGANI PASIEN SEHINGGA MENYEBABKAN KEMATIAN (STUDY KASUS
PUTUSAN PENGADILAN NEGERI KOTA MADIUN NO.79 PID.SUS/2011/PN.KD.MN) PERSPEKTIF HUKUM PIDANA ISLAM
SKRIPSI
telah diuji dan diterima untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H)
Fakultas Syariah
Program Studi Hukum Pidana Islam
Hari : Senin Tanggal : 7 November 2022
Tim Penguji
Ketua Sekretaris
Inayatul Anisah. S.Ag.,M.Hum Muhammad Aenur Rosyid, S.HI.,M.H NIP. 19740329 199803 2 001 NIP. 19880512 201903 1 004
Anggota :
1. Dr. Muhammad Faisol S.s,.M.Ag ( )
2. Dr. Abdul Wahab, M.H.I ( )
Menyetujui Dekan Fakultas Syariah
Prof. Dr. Muhammad Noor Harisudin, M.Fil.I NIP. 19780925 200501 1 002
iii
MOTTO
ه ّ يّل َيّل ا َنْل َع َج ْدَلَف اًمْيِل ْظَم َلّتِك ْنَمَو ِّّۗ قَح ْ لاّة ا َّ
ل ّا ِ ه
للّٰا َم َّر َح ْي ّت َّ
لا َس فَّنلا اي ْ ِ لِت لَت ا ْ َ
ل َو ا ًر ْي ِصْن َم نا َ َ
ك ٗهَّنّا ِّّۗل ْتَلْلا ىّ ف ْف ّر ْسِي ا َ ل ف اًن ٰط َ ْ
ل ِس ٣٣
Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah (membunuh), kecuali dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim maka sungguh, kami telah memberi kekuasaan kepada walinya, tetapi janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan.Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (Qs. Al-Isra‟:33)
iv
PERSEMBAHAN
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran kepada saya dalam menyeleaikan skripsi ini, serta syafaat Rasulullah Muhammad SAW. Karya sederhana ini saya persembahkan kepada :
1. Seluruh keluarga besar saya, yakni ayah saya Ach.sholeh dan ibu Lian ernawati yang senantiasa memberikan dukungan serta mengiringi langkah dengan do‟a dan kasih sayangnya,
2. Guru dan dosen saya mulai MI, MTS, SMA hingga saat ini di Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad siddiq jember
3. Suami saya Moch.Nafis Madani yang selalu menjadi support system disegala usaha untuk menyelesaikan skripsi ini serta menjadi motivator yang sangat berpengaruh besar dikala ingin menyerah dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
4. Teman-teman kelas Hukum Pidana Islam/2 Angkatan 2018 yang selalu saling memberikan semangat antar satu dan yang lainnya.
5. Seluruh pihak yang turut membantu dan memberi dukungan yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan taufik serta hidayah-nya sehingga pelaksanaan dan penyusunan skripsi yang berjudul “Sanksi dokter yang lalai dalam menangani Pasien sehingga menyebabkan kematian (Study Kasus Putusan Pengadilan Negeri Kota Madiun No.79/Pid.Sus/PN.Kd.mn) Perspektif hukum pidana islam” ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW. Semoga kita mendapatkan syafaatnya dihari kiamat kelak, AMIN.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk melengkapi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar sarjana (S-1) hukum pada Fakultas Syariah, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Penelitian ini menyadari sepenuhnya, tanpa bimbingan dari berbagai pihak, skripsi ini tidak dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, Se.,MM. selaku rector UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember yang telah memberikan segaa fasilitas yang membantu kelancaran atas terselesainya penyusunan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr. Muhammad Noor Harisudin,M.Fil.l. selaku Dekan Fakultas Syariah UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
3. Bapak Dr. Abdul Wahab M.H.I selaku Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember sekaligus dosen pembimbing yang telah
vi
membimbing dan memberikan ilmu serta pengarahan selama menyusun skripsi ini.
4. Bapak Dr. H. Ahmad Junaidi, S.pd., M.Ag selaku dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing kami selama di bangku kuliah.
5. Segenap dewan penguji.
6. Seluruh dosen Fakultas Syariah khususnya yang telah memberikan ilmu kepada penulis sehingga dapat mengetahui apa yang tidak diketahui.
Tiada kata yang dapat penulis ucapkan selain doa dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya. Semoga Allah SWT memberi balasan kebaikan atas semua jasa yang telah diberikan.Penulis menyadari bawha skripsi ini banyak memiliki kekurangan sehingga masih jauh dari kata sempurna.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini sempurna. Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis berharap semoga apa yang terkandung dalam penelitian ini bermanfaat dan barokah dunia akhirat bagi semua pihak.
Jember, September 2022
Penulis
vii
ABSTRAK
Lisa Panduwynata, Abdul Wahab M.H.I, 2022 : Sanksi Pidana Dokter yang Lalai dalam Mengangani Pasien Sehingga Menyebabkan Kematian (Study Kasus Putusan Pengadilan Negeri Kota Madiun No.79/Pid.Sus/2011/PN.KD.Mn) Perspektif Hukum Pidana Islam.
Perlindungan hukum yang pasti yang ada dalam perkara malpraktik sehingga pemerintah memberikan hukum yang khusus terkait kesehatan (Lex Spesialis), sehingga menurut penulis di dalam putusan yang penulis pilih ini terdapat penerapan hukum yang tidak tepat, yang mana terdapat dr.Bambang Suprapto (Terdakwa) yang melakukan praktik karena kelalainya mengakibatkan kebocoran sepanjang 2 cm dan infeksi hingga adanya nanah sebanyak satu ½ liter dan tertinggalnya benang berwarna hitam namun majelis hakim memutus lepas terdakwa.
Fokus penelitian ini diantaranya : 1) Bagaimana dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan negeri kota madiun tentang penjatuhan putusan Malpraktik kedokteran? 2) Bagaimana perspektif hukum pidana islam terhadap dasar pertimbangan hakim pengadilan Negeri Kota Madiun tentang penjatuhan putusan malpraktik kedokteran?
Tujuan penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui bagaimana dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Kota Madiun tentang penjatuhan putusan malpraktik kedokteran? 2) Untuk mengetahui bagaimana perspektif hukum pidana islam terhadap dasar pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Kota Madiun tentang penjatuhan putusan malpraktik kedokteran?
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yakni dengan jenis penelitian menganalisis informasi (Yuridis Normatif ) dengan cara membedah atau menguraikan sutau putusan pertimbangan hakim. Adapun teknik yang digunakan adalah : 1) Editing 2) Organizing 3) Analizing. Tehnik analisis data pada penelitian ini : pola pikir deduktif yaitu mengerucutkan suatu hal dari pertimbangan hakim yang telah dipilih sehingga mendapatkan kesimpulan atau titik temu yang diinginkan.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 1) Pada analisis putusan Pengadilan Negeri Kota Madiun No.79/pid.sus/2011/pn.kd.mn tidak sesuai, semestinya tidak melepaskan terdakwa dari segala tuntutan, Pengadilan Negeri tidak menerapkan peraturan hukum atau menerapkan peraturan hukum tidak sebagaimana mestinya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 253 ayat (1) huruf a KUHAP, maka Putusan tersebut yang telah ditetapkan itu merupakan sebuah kekeliruan. 2)Sanksi menurut hukum pidana islam bagi dokter yang lalai dalam menangani pasien sehingga menyebabkan seseorang kehilangan jiwanya yang diartikan dengan pembunuhan karena kesalahan (al-khata’).
Adapun orang yang dikategorikan dalam al-khata’ membayar diyat yakni orang yang membunuh karena kesalahan atau tidak sengaja dengan membayar 100 ekor unta yang dapat diangsur atau dicicil selama 3 tahun, dan besarannya adalah sepertiga dari hukuman diyat yang telah ditentukan, serta membebankan kepada terdakwa untuk membayar kaffarat, dengan memerdekakan budak atau (jika tidak mampu) puasa dua bulan berturut- turut.
Kata Kunci : Malpraktik. Putusan Hakim, Tindak pidana
viii
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Judul ... 1
B. Latar Belakang ... 1
C. Fokus Penelitian ... 5
D. Tujuan Penelitian ... 6
E. Manfaat Penelitian ... 6
F. Definisi Istilah ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12
A. Penelitian Terdahulu ... 12
B. Kajian Teori ... 17
BAB III METODE PENELITIAN ... 44
A. Jenis Penelitian ... 44
B. Data Yang Dikumpulkan... 45
ix
C. Sumber Data ... 45
D. Teknik Pengumpulan Data ... 46
E. Tekhnik Pengelolaan Data ... 46
F. Teknis Analisis Data ... 47
G. Keabsahan Data ... 48
H. Sistematika Pembahasan ... 48
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 50
A. Pertimbangan yuridis ... 50
B. Perspektif Hukum Pidana Islam ... 65
C. Temuan ... 74
BAB V PENUTUP ... 76
A. Kesimpulan ... 76
B. Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 79 SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
LAMPIRAN-LAMPIRAN
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malpraktik memiliki makna yang lebih jauh jangkauannya daripada kecerobohan. Istilah kecerobohan lebih banyak dipusatkan pada kesengajaan, kurang hati-hati, kurang teliti, tidak peduli terhadap kepentingan orang lain, namun hasil yang muncul bukanlah tujuan. Sementara kelalaian tidak sepenuhnya dikenal dalam aturan hukum positif Indonesia, dalam perilaku kesehatan ada juga administrasi kegiatan yang dilakukan dengan sengaja dan kemudian memiliki saran untuk standar sehubungan dengan Demonstrasi yang disalahgunakan.1
Tanggung jawab dalam perilaku buruk dapat muncul karena fakta bahwa seorang spesialis membuat kesalahan langsung atau tidak langsung.
Untukkelalaian, terkadang hanya ada satu pihak yang berhati-hati, terkadang ada kelompok lain yang juga dapat diandalkan, selain dari klinik atau fasilitas darurat sebagai organisasi tempat fakultas kedokteran melakukan pelatihan mereka.
Sebagaimana ditunjukkan oleh Pasal 58 ayat (1), (2) dan (3) Peraturan Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, kewajiban dokter spesialis atau staf klinis lain untuk kelalaian dokter :
1 Sutarno, Hukum Kesehatan Eutanasia dan Hukum Positif di Indonesia (Malang: Setara Press, 2007), 39.
1
1. Setiap orang dapat menjamin pembayaran dari orang (Ganti rugi), tenaga kesehatan dan penyedia layanan kesehatan telah mengalami kecelakaan karena kesalahan atau pengecualian dalam layanan medis yang diterima.
2. Kasus gantirugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan yang melakukan tindakan penyelamatan dalam keadaan darurat.
3. Pengaturan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sehubungan dengan metodologi untuk mendokumentasikan suatu kasus akan dikendalikan sesuai dengan pengaturan peraturan.
UU No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, Pasal 58 pada umumnya, tidak ada pemahaman tentang penyimpangan dalam peraturan dan pedoman Indonesia saat ini. Bagaimanapun juga, arti dari perilaku menyimpang sebenarnya dapat ditemukan dalam Peraturan Nomor 6 Tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan (Peraturan/UU Tenaga Kesehatan), Pasal 11(1) b. dan kemudian diganti dengan Peraturan Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Dengan demikian, sebagaimana ditunjukkan oleh pedoman hukum Syahrul machmud, pengaturan pasal 11 ayat (1) huruf b Peraturan Tenaga Kesehatan dapat digunakan sebagai sumber perspektif mengenai arti kesalahan klinis, membandingkan kelalaian klinis, khususnya tidak melakukan apa yang harus diselesaikan.2
Menurut Sabir Alwi, wakil ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), salah satu jenis penyimpangan dalam
2 Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
pengobatan Indonesia sesuai dengan sila Schuld dalam KUHAP, khususnya:
adanya komponen tujuan atau kealpaan/kecerobohan (Culpa), seperti dalam Pasal 359, 360 KUHP, terlepas dari apakah dilakukan dengan sengaja atau karena kecerobohan, dapat ditolak. Padahal dalam ketiga peraturan tersebut prinsipnya luar biasa (Lex Specialis) dan semua pengaturan pidana menyatakan bahwa hal itu harus bertujuan, misalnya: dengan sengaja mengeluarkan janin, membuat keterangan dokter spesialis palsu, bekerja di klinik darurat tanpa izin. Mereka percaya bahwa KodEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia) memadai untuk mengarahkan dan mengawasi yang dibuat oleh dokter, sehingga tidak ada persyaratan untuk keamanan yang sah, juga tidak perlu menyertakan tanggung jawab yang sah kepada dokter dalam menyelesaikan kewajibannya. Demikian pula, pemahaman yang samar tentang malpraktik masih sering dianggap sebagai pelanggaran standar profesi yang seharusnya tidak bergantung pada persetujuan pidana.3
Bicara malpraktik memang sulit dibuktikan sehingga sering kali kasus tersebut slesai ditengah jalan, banyak sekali kasus dengan penerapan hukum yang kurang tepat. Di dalam informasi direktori putusan mahkamah agung republik Indonesia delapan tahun terakhir terakhir terdapat 73 kasus malpraktik, hingga penulis tertarik dengan bagaimana dan apa dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan sanksi terkait malpraktik.4 Sama halnya dengan putusan hakim mengenai malpraktik yang dilakukan oleh dr.Bambang Suprapto,SpB.M.Surg seorang dokter yang ahli di bagian dokter
3 Guwandi J, Hukum dan Dokter (Jakarta: Saung Seto, 2008), 60.
4 Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Diakses pada November 14, 2022.
https://putusan3.mahkamahagung.go.id/search.html/?q=malpraktik.
bedah dan kesalahannya dokter tersebut saat terdakwa ada di kediamannya di Jl.Mayjen Sungkono Madiun ia kedatangan pasien yang bernama Yohanes Tri Handoko, pasien tersebut diduga menderita penyakit tumor ganas hingga setelah pengoperasian korban bukan mengalami kesembuhan melainkan menyebabkan kematian. Lalu pada tanggal 25 oktober 2007 dikamar operasi bedah rumah sakit tingkat IV (Rumah Sakit D.K.T) terdakwa melakukan operasi pengangkatan tumor dan penyambungan usus besar secara langsung dibantu oleh 4 perawatnya, Kemudian karna pada saat si korban tersadar mengeluh kesakitan berlebih dan terjadi kembung, pada akhirnya pada tanggal 2 November 2007 oleh terdakwa di rujuk ke Rumah Sakit R.K.Z (Rumah Sakit Khatolik ST.Vincentius a Paulo) di Surabaya. Langsung juga pada saat itu dilakukan operasi kedua sehingga menurut dokter dari Rumah sakit R.K.Z terdapat kebocoran usus sepanjang kurang lebih 2 cm yang mengakibatkan infeksi dan terdapat nanah sebanyak kurang lebih satu setengah liter.
Selanjutnya pada tanggal 4 november 2007 dilakukan operasi kedua untuk mengatasi kebocoran sambungan usus besar, namun dokter ahli menemukan benang jahitan yang tertinggal pada usus besar yang bocor lalu sela beberapa bulan yakni pada tanggal 20 juli 2008 korban meninggal dunia. Hingga dalam putusannya, terdakwa dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 76 UU No.29 Tahun 2009 Tentang Praktek Kedokteran, Namun Pengadilan Negeri Kota Madiun mengadili bahwa Melepas terdakwa atau memutus lepas dr.Bambang Suprapto,Sp.b.M.Surg dari segala tuntutan hukum dan
memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya dengan teori bahwa terdakwa tidak melakukan tindak pidana.
Jadi disini peneliti memiliki dorongan dan semangat untuk meneliti hal tersebut, apa yang mendasari pertimbangan hakim sehingga memutuskan putusan lepas kepada terdakwa. Sehingga peneliti meneliti skripsi dengan judul Sanksi Pidana Terhadap Dokter yang lalai dalam menangani pasien sehingga menyebabkan kematian Study Kasus Putusan Pengadilan Negeri Madiun No.79/Pid.Sus/2011/Pn.Kd.Mn Perspektif Hukum Pidana Islam.
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan uraian di atas, problematika yang akan diteliti agar menemukan fakta akurat dan jelas sehingga sesuai dengan apa yang akan dicapai memerlukan adanya fokus penelitian. Fokus penelitian harus disusun secara singkat, jelas, spesifik, dan dan teori yang dituangkan dalam bentuk kalimat tanya. Beberapa hal terkait yang menjadi fokus penelitian, yakni : 1. Bagaimana dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Kota
Madiun No.79/Pid.Sus/2011/Pn.Kd.Mn tentang penjatuhan putusan Malpraktik kedokteran ?
2. Bagaimana perspektif Hukum Pidana Islam terhadap dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Kota Madiun No.79/Pid.Sus/2011/Pn.Kd.Mn tentang penjatuhan putusan Malpraktik kedokteran?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan dalam rangka untuk mencapai tujuan tujuan penelitian sehingga sebuah penelitian tersebut membawa manfaat yang baik bagi masyarakat umum utamanya dan baik bagi pembaca. Tujuan penelitian yakni untuk menemukan secara kontekstual terkait sebuah ilmu pengetahuan.
Secara khusus, tujuan dari penelitian kualitatif yaitu dengan bertujuan untuk menemukan jawaban masalah tersebut. Dengan metode kualitatif, maka peneliti memahaman secara luas terhadap situasi sosial yang kompleks, sehingga dapat ditemukan hipotesis, pola hubungan yang akhirnya dapat dikembangkan menjadi teori. Melalui fokus penelitian di atas, maka peneliti akan menemukan tujuan penelitian yang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Kota Madiun No.79/Pid.Sus/2011/Pn.Kd.Mn tentang penjatuhan putusan Malpraktik kedokteran
2. Untuk mengetahui bagaimana menurut Hukum Pidana Islam terhadap dasar hukum pertimbangan hakim Pengadilan Negeri Kota Madiun No.79/Pid.Sus/2011/Pn.Kd.Mn tentang penjatuhan putusan Malpraktik kedokteran
D. Manfaat Penelitian
Karena banyak sekali kasus tentang dokter yang lalai dalam menangani pasien atau banyak sekali hak pasien yang tidak mendapatkan pelayanan yang bagus dan baik yang juga semua orang dapat menikmati fasilitas dan
pelayanan yang adil tanpa pandang bulu, serta masih dibilang penulis yang ingin membahas masalah ini, selain masih sedikit referensi yang muncul untuk pembahasan tentang malapraktik. Maka ini merupakan tantangan bagi penulis dan harapan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu hukum terutama di bidang pidana.
1. Manfaat bagi Akademis
Bagi Kiai Haji Achmad siddiq jember saya sebagai penulis ingin berkontribusi dalam bentuk buku bacaan di perpustakaan, yang dimaksudkan sebagai sarana informasi bagi mahasiswa khususnya pada fakultas syariah khususnya pada hukum pidana islam dan hukum positif tentang pemidanaan bagi kelalaian seorang dokter dalam mengobati seorang pasien.
2. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang sanksi pidana terhadap dokter yang lalai dalam menangani pasien dalam hukum pidana islam.
3. Manfaat praktis
Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan memberikan tambahan pengetahuan ilmu bagi setiap individu, masyarakat ataupun pihak-pihak yang berkepentingan terkait hukum kesehatan indonesia.
E. Definisi Istilah
Agar tidak salah mengartikan terjemahan judul di atas, penting untuk membatasi masalah yang dianalisis oleh pembuatnya. Dengan tujuan agar
tidak terjadi bias dalam masalah tersebut. Untuk situasi ini, ada beberapa hal yang perlu diketahui dari istilah-istilah dalam judul di atas, khususnya:
1. Analisis Yuridis
Analisis yuridis adalah tindakan untuk menemukan dan menangani bagian-bagian dari suatu masalah untuk dikonsentrasikan secara lebih mendalam dan kemudian dikaitkan dengan peraturan, aturan, dan standar yang sah yang berlaku sebagai pemecah masalah.5
2. Arti Kekuasaan kehakiman/ Kekuatan Hukum
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Kehakiman Nomor 48 Tahun 2009, kekuasaan hakim adalah menyelenggarakan peradilan untuk menyelenggarakan ketertiban dan keadilan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 yang melaksanakan Peradilan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. sebuah negara merdeka. Hakim juga termasuk dalam Pasal 1, Pasal 8 KUHP, yang mengatur bahwa hakim adalah pegawai pengadilan negeri yang disahkan dengan undang-undang untuk memberi wewenang.6
3. Sanksi pidana
Dalam Rujukan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sanksi adalah ketentuan (kegiatan, disiplin, dll) untuk membatasi individu untuk menjaga pengaturan atau tunduk pada pengaturan undang-undang.7
5 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum ( Bandung: Mandar Maju, 2008), 83.
6 Sekretariat Negara Republik Indonesia.Undang-Undang No.48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
7 Djoko Sumaryanto, Buku Ajar Hukum Pidana ( T.t Cv. Jakad Media Publishing, 2019), 21.
Sanksi juga sering disebut sebagai tindakan yang dipaksakan oleh negara atau kelompok tertentu karena pelanggaran yang diajukan oleh seseorang atau kelompok. Hal ini cenderung beralasan bahwa pengesahan pelanggar hukum adalah suatu keputusasaan atau pengalaman yang disebabkan oleh seseorang yang bersalah melakukan demonstrasi yang dibatasi oleh peraturan pidana.
Sementara itu, persetujuan pidana juga dapat disebut sebagai kekekalan yang memberikan dampak hambatan sebagai siksaan bagi pelakunya. Ini sesuai Anselm Von Fauerbach dengan instruksinya yang terkenal dengan tekanan psikologi (de psychologiesche dwang) yaitu bahwa bahaya disiplin akan mencegah orang lain mengirimkan demonstrasi jahat dan kemungkinan besar tidak akan mengulanginya.
4. Dokter
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah lulusan pendidikan klinik yang ahli di bidang penyakit dan pengobatannya. Yang dimaksud dengan "dokter" secara fungsional adalah tenaga medis yang pertama kali melakukan kontak dengan pasien, tetapi perhatian utamanya adalah sifat penyakit, keluhan yang menjadiperhatian utamanya, tanpa memandang usia berdasarkan pengaturan, semua itu terjadi adalah untuk mengurus setiap masalah medis. Menjunjung tinggi standar pelayanan yang sukses dan produktif serta kewajiban profesional, etika dan moral kedokteran.8
8 R.Abdoel Djamali, Lenawati Tedjapermaba, Tanggung Jawab Seorang Dokter dalam Menangani Pasien (Jakarta:CV Abardin, 1988), 110.
5. Kelalaian
Kecerobohan ada dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), kecerobohan biasanya juga disebut sebagai kesalahan, kesembronoan, atau kecerobohan.
Pasal 359 KUHP: Barang siapa karena kelalaiannya (kecerobohannya) membuat orang lain meninggal dunia, dijerat dengan pidana kurungan paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling berat satu tahun.9
Dalam peraturan pidana kecerobohan, kesalahan, kesembronoan, atau kecerobohan disebut juga dengan Culpa. Mengatakan bahwa pentingnya culpa adalah "Kekacauan Umum." Namun dalam ilmu hukum ia memiliki arti khusus, yakni suatu jenis kesalahan oleh pelakunya yang tidak begitu murni seperti kesengajaan, khususnya kecerobohan sehingga terjadi akibat yang tidak disengaja.10
6. Pasien
Seorang pasien adalah setiap orang yang berkonsultasi tentang kondisi medisnya untuk mendapatkan perawatan kesehatan yang penting, baik secara langsung atau tidak langsung, kepada seorang spesialis.
Berikutnya adalah pemahaman pasien dari beberapa spesialis, khususnya:
a. Menurut Prabowo dalam bukunya, yang dimaksud pasien adalah seseorang yang memiliki kekurangan fisik atau mental, melepaskan perawatan dan perawatannya, mengakui dan mengikuti pengobatan yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan.
9 Sekretariat Negara Republik Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pasal 359.
10Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2016), 72.
b. Menurut Aditama dalam bukunya, pasien adalah orang-orang yang dirawat di klinik gawat darurat.
c. Juga seperti yang ditunjukkan oleh Soejadi, pasien adalah orang utama di klinik darurat.11
Berdasarkan penilaian ahli di atas, pasien mungkin memiliki cacat fisik atau mental, memerlukan pemantauan dan pengobatan, serta dirawat dan diikuti oleh staf medis atau paramedis di rumah sakit.
7. Hukum pidana islam
Hukum pidana islam (fiqh jinayah) adalah hukum Allah SWT, yang mengatur aturan kehidupan manusia pada khususnya, dan bisa dibilang dalam kasus kriminal atau tindak pidana oleh mukallaf (yang dapat dilakukan atau bertanggung jawab). Dalil dari al-Quran dan Hadits hukum pidana islam mengandung kemaslahatan mendasar bagi dunia dan umat manusia di masa depan. Syariat Islam yang dimaksud mencakup kewajiban manusia kepada setiap orang yang melakukannya. Gagasan syariat menempatkan Allah SWT sebagai pemegangsegala sesuatu dipertimbangan.12
11Pengertian Pasien, Diakses pada November 20, 2021`
https://Kumpulanpengertian.com/2018/11/pengertian-pasien-menururt-para-ahli-html.
12 Dede Rosyada, Hukum Islam dan Pranata Sosial ( Jakarta:Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan,1992 ), 86.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitan Terdahulu
Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu penelititi melakukan beberapa pustaka terkait dengan judul Sanksi pidana terhadap dokter yang lalai dalam menangani pasien sehingga menyebabkan kematian, sebagai objek dari penelitian ini dan juga mencari penulis yang sebelumnya telah melakukan penilitian tentang judul yang penulis tulis saat ini. Untuk memastikan ada tidaknya penelitian yang serupa dengan penelitian ini. Diantara beberapa karya yang berhubungan dengan penelitian tersebut yakni antara lain:
1. Skripsi yang ditulis Yusuf Anwar yang Perlindungan hukum pidana terhadap korban tindak pidana yang dilakukan oleh dokter, bagian hukum pidana, fakultas Hukum dari Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2015. Yang merumuskan masalahnya yaitu : 1) Perlindungan hukum seperti apa yang diberikan kepada korban atas tindak pidana yang dilakukan oleh tenaga medis (dokter)? 2) Seperti apa penegakan perlindungan hukum pidana bagi korban kejahatan medis (peraturan perundang-undangan kesehatan)?13
Teori ini menggambarkan, Pertama, peraturan perlindungan hukum yang diberikan kepada korban terhadap korban. untuk melihat menurut perspektif hukum. Jadi, beberapa Peraturan perundang-undang sangat
13 Yusuf Anwar, “Perlindungan Hukum Pidana Terhadap Korban Tindak Pidana yang Dilakukan oleh Dokter, Tahun Pelajaran 2015”(Skripsi, Universitas Hasanuddin Makassar, 2015).
12
eratkaitannya dengan pelanggaran ini khususnya KUHP, Peraturan Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan Nomor 36 Tahun 2014 tentang Praktek Kedokteran, Peraturan Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan kedokteran. isu-isu yang berbeda, termasuk pula Putusan Menteri Kesehatan R.I Nomor: 434/Men.Kes/SK/X/1993 tentang pengesahan dan Kode Etik Kedokteran Indonesia. Kedua, Perlindungan hukum bagi pasien yang menjadi korban kelalaian di Indonesia dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, lebih khusus melalui pengaturan persetujuan sejauh tanggung jawab umum, pidana dan otoritatif, termasuk dokter spesialis yang bersangkutan. Di Indonesia, persoalan kewajiban pidana seorang dokter dalam KUHPidana yang memuat tanggung jawab yang disebabkan oleh kesengajaan atau kecerobohan atau kecerobohan diatur dalam Pasal 359, 360 KUHP yang mencakup kesalahan karena kesengajaan. Sedangkan alasan kelalaian atau kecerobohan ada dalam Pasal 267 KUHP. Lebih tegas lagi, sanksi pelanggar hukum yang dikenakan terhadap dokter spesialis yang terbukti melakukan kelalaian klinis sebagaimana diatur dalam Pasal 75, 76, 77, 78, dan 79 praktek kedokteran. Terlihat bahwa upaya pemerintah untuk memberikan rasa aman terhadap korban penyimpangan klinis sangat besar dengan mengedepankan prinsip-prinsip berbeda yang dapat dipertimbangkan oleh masing-masing spesialis sebelum mengambil tindakan, hanya saja sejauh menerapkannya di Indonesia sendiri, itu masih sangat kurang, sebagaimana ditegaskan oleh banyaknya kasus kelalaian yang terjadi dan
tidak mendapatkan tindakan penanggulangan lebih lanjut oleh aparat hukum dan umumnya berakhir dengan mediasi penal. Kedekatan penyusunan teori ini dengan komposisi analisis adalah bahwa keduanya mengkaji perilaku kealpaan, dan apa perbedaannya disini berbicara tentang tindak pidana dokter yang dilakukan oleh dokter sedangkan peneliti disini membahas tentang dasar hukum yang dijadikan sebagai acuan pertimbangan.
2. Skripsi yang ditulis oleh Sayyid Muhibbun yang berjudul Pertanggungjawaban pidana dalam kasus malpraktik oleh korporasi (Analisis pasal 201 UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan ditinjau dari hukum pidana islam) fakultas syariah dan hukum program studi hukum pidana islam dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh 2017. Yang merumuskan masalahnya yaitu : 1) bagaimana UU no.36 tahun 2009 mengatur pertanggung jawaban pidana atas perbuatan melawan hukum korporasi. 2) apa standar aktivitas ilegal perusahaan dalam hukum dan peraturan islam. 3) sebagai penelaahan terhadap putusan-putusan islam terkait sanksi pidana yang diatur dalam UU no.36 tahun 2009?.14
Teori ini menggambarkan, Pertama, risiko pidana malpraktek oleh korporasi yang dikendalikandalam peraturan nomor 36 tahun 2009, dalam hal tindak pidana kriminal yang diarahkan dalam pasal 190 ayat (1), pasal 191, pasal 192, pasal 196, pasal 197 pasal 198 pidana kurungan dan pidana
14 Sayeed Muhibbun, “Pertanggungjawaban Pidana dalam Kasus Malpraktik oleh Korporasi (Analisis Pasal 201 UU No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Ditinjau dari Hukum Pidana
Islam), Aceh Tahun Pelajaran 2017” (Skripsi,UIN Ar-Raniry Aceh, 2017).
denda dapat dipaksakan dalam penyelenggaraannya, pidana juga dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda sebesar 3 (tiga) kali lipat pidana kurungan, atau pidana ekstra berupa pencabutan izin usaha atau pengingkaran status badan hukum. Selain itu, kelalaian memiliki beberapa jenis atau model, untuk lebih spesifiknya: 1) malpraktek etis, khususnya spesialis yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan moral klinis, khususnya sekumpulanstandar etis, aturan, atau standar moral yang berlaku untuk dokter. 2) kelalaian yuridis, yang diakui dalam beberapa kegiatan. Kelalaian umum, karena tidak melakukan sebagaimana yang ditunjukkan oleh pemahaman harus diperlakukan, menyelesaikannya namun terlambat dalam melakukannya dan terlihat cacat dalam pelaksanaannya. Ketiga, kesalahan administratif. Dengan asumsi seorang spesialis atau pekerja kesehatan menyalahgunakan peraturan terkait.misalnya, menjalankan pelatihan spesialis tanpa izin, berlatih dengan izin yang sudah habis, dan menjalankan pelatihan tanpa membuat catatan klinis. Sementara itu, dalam Islam, standar perilaku yang salah mencakup antara lain individu yang bersangkutan. tidak memiliki keterampilan, mengabaikan standar logika (Mukholafatul Usul Al- Ilmiyah) di luar dugaan, dan dengan sengaja menyakiti (I'tida' ).
Perumpamaan penyusunan proposisi ini dengan ilmuwan adalah bahwa keduanya memeriksa kewajiban dalam kasus-kasus pelanggaran, dan apa pengaruh antara menyusun teori dan spesialis di sini sehubungan dengan contoh kelalaian oleh kemitraan dalam penyelidikan Pasal 201 UU No.36
Tahun 2009 tentang Kesehatan, sekaligus penyusun skripsi ini adalah tentang sanksi bagi tindak pidana demonstrasi yang dilakukan oleh ahli dengan perspektif hukum pidana Islam.
3. Skripsi yang ditulis oleh Muhammad Jaya Sugito yang berjudul tinjauan hukum pidana terhadap tindakan medis yang mengakibatkan malpraktik, fakultas hukum dari Universitas Muhammadiyah Sumatera , Medan. 2019.
Adapun rumusan masalah yang dimaksudkan yaitu: : 1) Apa sanksi pidana untuk kegiatan illegal seperti malpraktek? 2) Bagaimana bentuk kesalahan malpraktek dalam hukum pidana? 3) Siapa yang berwenang mengadili kecurangan seperti malpraktek?.15
Skripsi ini menggambarkan kesalahan ahli yang menyalahgunakan kualitas ikrar atau standar moral dari pemanggilan, penilaian dan kegiatan, yang diselesaikan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) atau atasan langsung yang disetujui. (khususnya departemen kesehatan Republik Indonesia), penilaian dibantu dengan Majelis Koede Etik Kedokteran (MKEK). atau Panitia pertimbangan dan pembinaan etik kedokteran (P3EK). Yayasan ini adalah sebuah badan non struktural departemen kesehatan yang dibentuk dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no.554/menkes/per/XII/1982 Tugas organisasi ini adalah memberikan pertimbangan etik kedokteran kepada Menteri Kedokteran. Selesaikan masalah moral klinis dengan memberikan perenungan dan gagasan kepada otoritas yang disetujui di bidang kesehatan. Aturan yang berlaku yakni
15 Muhammad Jaya Sugito, “Tinjauan Hukum Pidana Terhadap Tindakan Medis yang Mengakibatkan Malpraktik, Sumatra Utara Tahun Pelajaran 2019” (Skripsi,Universitas Muhammadiyah, 2019).
aturan Menteri Kesehatan atau aturan administrasi sesuai dengan arahan yang terkandung dalam undang-undang Menteri Kesehatan yang bersangkutan menjadi dasar hukum.Misalnya, seorang dokter spesialis yang perbuatannya dapat dikualifikasikan menyalahi janji dokter spesialis, setelah dilakukan penilaian yang cermat, dapat disahkan oleh pasal 54 ayat (1) peraturan nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan. Kesamaan antara penyusunan teori ini dengan penyusunan makalah eksplorasi adalah keduanya berkaitan dengan kasus-kasus kelalaian dan yang berbeda disini adalah bahwa penyusunan tersebut meneliti siapa yang disetujui untuk memberikan peraturan pidana terhadap pembuktian perbuatan tercela itu sendiri, sedangkan penulis adalah tentang bagaimana sanksi dari hal tersebut.
B. Kajian Teori
1. Pengertian Hakim dan Kekuasaan Kehakiman
Kekuasaan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan kemampuan yang merdeka untuk menguasai pemerataan untuk melaksanakan pengaturan dan keadilan.16
Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang bebas untuk mengawasi
16 Sekretariat Negara Republik Indonesia, Pasal 24 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
pengadilan guna mengesahkan hukum dan persamaan menurut Pancasila dan undang-undang dasar Tahun 1945 Republik Indonesia.17
Tugas hakim adalah menegakkan peraturan dan keadilan melalui kasus-kasus yang diajukan kepadanya dengan menutup kasus-kasus ini dengan cara yang paling menarik seperti yang ditunjukkan oleh peraturan perundang-undangan. Untuk menegakkan peraturan dan keadilan, seorang hakim memiliki komitmen atau kewajiban yang sah sesuai Peraturan No.
48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman adalah sebagai berikut:
a. Dalam merampungkan kewajiban & kapasitasnya, hakim & hakim konstitusi harus menjaga kemandirian Peradilan (Pasal 3 Ayat (1)).
b. Hakim & hakim konstitusi harus memiliki & mengikuti & menguasai nilai-nilai aturan rasa keadilan pada masyarakat (Pasal 5 Ayat (1)).
c. Memikirkan keseriusan kesalahan atau berat ringannya hukuman,(Pasal 8 Ayat (2)) -, dll.
Pilihan hakim secara teratur disebut "Putusan" yang tugasnya membuat kepastian hukum. Dengan keyakinan hukum yang sah, permohonan dapat dipertahankan dan kerukunan dapat dibuat mengingat pilihan hakim atau "Putusan Pengadilan" merupakan cara pandang yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan kasus pada khususnya kasus pidana.18
17Sekretaria Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
18Kekuasaan Kehakiman, Tugas Hakim, Diakses pada Januari 26, 2022 https://www.hukumonline.com
Pemikiran Hakim dalam Perundang-undangan No. 48 Tahun 2009 Yurisdiksi adalah putusan yang ditentukan dengan memeriksa kemungkinan bersalah atau tidaknya pelaku tindak pidana dalam memutuskan suatu perkara. Setiap hakim akan memberikan pertimbangan dan pendapat secara tertulis tentang masalah yang diselesaikan. Hal ini adalah bagian penting dari keputusan.
Pertimbangan hakim dalam putusan
Pertimbangan hakim dalam menentukan pilihan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Pertimbangan hukum, khususnya fakta-fakta hukum yang diungkapkan dalam pendahuluan dan aturan-aturan yang tercantum sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan ( dakwaan penuntut umum, keterangan tergugat, kesaksian dan barang bukti ).
b. Pertimbangan non hukum, antara lain ( latar belakang tergugat, status penggugat, agama penggugat )
Upaya hukum
Terdapat beberapa upaya hukum yang artinya adalah hak terdakwa atau penuntut umum untuk tidak menerima putusan pengadilan jika putusan tersebut dianggap tidak ada rasa keadilan yang berupa :
a. Perlawanan b. Banding c. Kasasi
d. Hak terpidana untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK).
2. Sanksi Pidana
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), sanksi adalah tanggungan (hukuman, disiplin, dll) untuk membatasi individu untuk menjaga peraturan atau tunduk pada pengaturan undang-undang.19
Sanksi juga sering disebut sebagai tindakan hukuman yang dipaksakan oleh negara atau seorang yang lebih berkuasa karena pelanggaran yang diajukan oleh seseorang.
Dapat disimpulkan bahwa Sanksi pidana adalah kesusahan yang disebabkan oleh seseorang yang telah melakukan yang dilarang secara pidana.
Peraturan pidana modern mengakui kewenangan pidana dan tindakansecara praktis sulit untuk mengenali pidana dan tindakan karena keduanya merupakan sanksi yang mengarah pada perampasan dan bahkan kesulitan kebebasan bagi individu yang mewujudkannya. Secara teoritis, kesalahan tersebut memberikan penderitaan sementara tindakan tersebut bermaksud untuk menginstruksikan dan melindungi masyarakat dari risiko. Secara yuridis diatur dalam Pasal 10 KUHP yang kemudian diatur dalam Pasal 45 Pasal 46 dan Pasal 57, sedangkan sampai sekarang kegiatannya diarahkan pada Pasal 24 Peraturan Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan anak.
19 A Djoko Sumaryanto, Buku Ajar Hukum Pidana (Surabaya: Cv. Jakad Media Publishing, 2019), 21.
Pasal 10 KUHP menyatakan bahwa perbuatan salah terdiri dari:
a. Pidana pokok setara dengan hukuman mati, penahanan, represi, denda.
b. Pidana tambahansama dengan penolakan hak-hak istimewa, penyitaan barang dagangan tertentu, pernyataan pilihan hakim.
Meskipun penggunaan arti penting persetujuan pidana, dalam pengaturan peraturan pidana juga digunakan istilah lain yang pada dasarnya mengandung arti dan kepentingan yang sama seperti menghukum, memberikan disiplin, dan peraturan pidana.
Sedangkan pidana adalah suatu anggapan atau delik (punishment) dan berwujud suatu penderitaan yang dengan sengaja ditimpakan oleh negara atau lembaga negara terhadap pembuat delik. Dirumuskan pula bahwa hukum adalah suatu perasaan tidak enak atau kesengsaraan yang dijatuhkan oleh hakim dengan putusan, kepada orang-orang yang melanggar undang-undang hukum pidana.20
Pada kriminal malpraktik, pembuktian yang didasarkan pada semua tindakan komponen pidana karena tergantung dari ragam kriminal merupakan malpraktik yang disangkakan. Kriminal malpractik delik umum, justifikasinya pun tunduk pada hukum acara pidana yang berlaku, yaitu dalam KUHP, Pasal 184 KUHP, mengatur alat bukti apa yang dapat digunakan untuk membuktikan suatu kejahatan yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat petunjuk dan Tindak pidana malpraktek terjadi apabila meninggal dunia atau mengalami cedera karena dokter atau
20 Bambang Waluyo, Hukum Pidana Islam ( Jakarta: Sinar Grafika, 2000), 9.
kesejahteraan lainnya tidak adanya kewaspadaan atau tidak hati-hati dalam melakukan upaya penyembuhan pasien.
Jadi kita dapat menggambarkan beberapa jenis perilaku kriminal, khususnya:
1) Malpraktek pidana karena kesengajaan untuk dijadikan panutan dalam kasus-kasus aborsi tanpa bakat medis, mengungkap rahasia klinis, tidak melakukan pertolongan dalam kasus-kasus darurat padahal diketahui tidak ada orang lain yang dapat membantu.
2) Perilaku kriminal karena kesembronoan. Misalnya, melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip keahlian dan melakukan tindakan tanpa persetujuan klinik.
3) Perilaku kriminal karena kecerobohan, Misalnya masalah fisik atau kematian seseorang (pasien) karena kecerobohan atau akibat seorang dokter yang meninggalkan suatu alat medis di tubuh pasien.21
Kelalaian suatu kesalahan suatu perbuatan seseorang dapat termasuk dalam jenis malpraktek pidana apabila perbuatan tersebut memenuhi perincian tindak pidana secara spesifik perlakuan tidak wajar, sikap batin, mengenai sebab akibat.
a) Perlakuan salah
Perbuatan atau perlakuan salah adalah bukti yang sebenarnya bahwa hal tersebut juga bagian dari perbuatan dan khususnya pada semua kegiatan tentang layanan kesehatan, layanan kesehatan juga
21 Muhammad Said, Etika dan Hukum Kesehatan (Jakarta: Prenada Media Grup. 2015), 66.
dapat mengalami kesalahan yang sengaja atau tidak mungkin untuk memberikan perawatan, yang disalahpahami untuk menerapkan penyimpangan.
b) Sikap batin
Sikap batin adalah sesuatu yang ada di dalam batin sebelum seseorang melakukan hal yang berbentuk atau berupa seperti kehendak, pengetahuan, pikiran, yang melukiskan keadaan batin seseorang sebelum berbuat dan mengaplikasikan sikap batinnya ke dalam perbuatan
c) Adanya akibat kerugian
Jika jenis kerugian tertentu merupakan bagian dari pelanggaran dan merupakan bagian dari pelanggaran yang menyebabkan kematian atau cedera serius pada seseorang, merupakan komponen pelanggaran yang diatur dalam bagian 359 dan 360, jika kelalaian atau intervensi medis melanggar Pasal 310 dari KUHP Dalam hal ini perlakuan termasuk dalam kategori penyalahgunaan, sebagaimana tercantum dalam pasal 1365 BW yang dapat pula dituntut dengan pergantian kerugian.22
3. Dokter
a. Pengertian Dokter
Kata dokter yakni berasal dari bahasa Belanda (Center Ducht) yang berarti pendidik, instruksi atau pengajar dalam bidang Kesehatan.
22 Cecep Triwibowo, Etika dan Hukum Kesehatan ( Yogyakarta: Nuha Medika 2014 ), 273-276.
Dokter adalah seseorang yang berdasarkan wawasannya berusaha untuk memperbaiki orang-orang yang lemah. Tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut sebagai spesialis. Untuk menjadi seorang spesialis umumnya membutuhkan kurikulum khusus dan persiapan serta memiliki gelar dalam pengobatan.23
b. Etika Profesi Dokter
Etika profesi dokter adalah kesadaran dan aturan yang menjadi pedoman prinsip moral dan etika dalam melakukan kegiatan tenaga kesehatan agar mutunya tetap terjaga. Sangat mungkin untuk memikirkan etika seorang profesional medis sebagai pengembangan perilaku medis dalam kaitannya dengan pasien, keluarga dan staf.24 c. Hak dan Komitmen Seorang Dokter
Sebagaimana ditunjukkan oleh Peraturan No.29 Tahun 2004 tentang praktek kedokteran, Pasal 50 dan 51
Hak
1) Memperoleh kepastian hukum selama mereka menyelesaikan kewajibannya seperti yang ditunjukkan oleh standar profesi dan standart oprasional prosedur.
2) Menawarkan jenis bantuan klinis sesuai standar profesi hukum.
3) Memperoleh data dan asli dari pasien atau keluarganya.
4) Mendapatkan biaya administrasi
23 Pengertian Dokter, Diakses pada Januari 15, 2022 https://id.wikipedia.org/wiki
24 Ali, Muhammad Mulyohadi, Kemitraan dalam Hubungan Dokter-Pasien (Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia, 2006), 22.
Kewajiban
1) Menawarkan jenis bantuan klinis seperti yang ditunjukkan oleh standar profesi dan standart oprasional prosedur.
2) Jika alat klinis tidak dapat diakses atau pengujian tidak dapat dilakukan untuk pengobatan, dokter dapat merujuk pasien ke dokter spesialis/bidan lain yang lebih kompeten.
3) Menyimpan semua yang dia tau dari pasien bahkan setelah pasien meninggal dunia
4) Lakukan bantuan krisis dengan dasar kemanusiaan kecuali jika dia yakin bahwa orang lain dapat melakukannya.
5) Mengikuti perkembangan ilmu kedokteran25 4. Kelalaian/Kealpaan
Dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), kelalaian biasanya disebut juga dengan kesalahan, kurang hati-hati-,atau kealpaan.
Pasal 359 KUHP: Barang Siapa karena kesalahannya (Kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.
Dalam hukum pidana kelalaian, kesalahan, kurang hati-hati atau kealpaan disebut dengan culpa.Bahwa culpa adalah kesalahan pada umumnya.Tetapi dalam ilmu pengetahuan hukum mempunyai artian dalam teknis yaitu salah satu contoh kesalahan tersangka tindak pidana yang tidak seberat kesengajaan, yaitu kurang hati-hati dalam memberikan
25 Sekretaria Negara Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
pelayanan kepada pasien sehingga mengakibatkan masalah yang tidak disengaja.26
Jika dasar adanya suatu kelalaian adalah sikap terdakwa yang kurang memperhatikan dan kurang hati-hati terhadap objek yang dilindungi oleh hukum, maka dasar hukum untuk memberikan pidana terhadap delik culpa (kealpaan) yaitu kepentingan penghidupan masyarakat yang mengharapkan setiap anggota memasyarakat-kan dalam perbuatan untuk berusaha sedemikian rupa dalam memperhatikan kepentingan hukum sesama anggotanya sehingga tidak melakukan kesalahan yang sama dan jika tidak maka yang bersangkutan harus mempertanggungjawabkan perlakuannya yaitu pidana. Sehingga dapat dikatakan dalam delik culpa (Kealpaan ) bercirikan sebagai:
a. Kejahatan yang tidak disengaja karena tidak adanya perhatian terhadap objek yang dilindungi oleh peraturan.
b. Sebuah kewajiban yang tidak melakukan komitmen yang diperlukan secara hukum.
c. perbuatan yang tidak menganggap pelarangan pedoman yang sah.
d. Semacam perilaku buruk menurut peraturan pidana, dan
e. Kejahatan yang memiliki kewajibanatau pertanggungjawaban berdiri sendiri.
Dibandingkan dengan struktur yang bertujuan (Kesengajaan), dapat dikatakan bahwa jenis kecerobohan adalah semacam kesalahan yang
26 Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia (T.t: PT.Refika Aditama, 2003), 72.
memiliki premis yang sama dengan struktur yang disengaja, khususnya bahwa tindakan penjahat harus terjadi (tindakan yang dibatasi dan dikompromikan dengan disiplin), dan harus ada kapasitas untuk berhati- hati tanpa alasan untuk menghapus kesalahan sebagai pengampunan. . Macam-macam kecerobohan (Culpa) dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1) Culpa Levissima.
2) Culpa Lata.
a) Culpa Levissima ( Lichtste Schuld )
Meskipun banyak jenis pelanggaran ditemukan secara tidak terduga karena sifatnya yang ringan, pelanggaran ini juga ditemukan dalam Buku III KUHP. Perlu juga dicatat bahwa ada beberapa pandangan bahwa delik tidak diatur dengan peraturan dan oleh karena itu tidak tergantung pada persetujuan pelaku.
b) Culpa Lata
Culpa Lata atau Merkelujke Schuld memiliki arti kecerobohan yang sebenarnya, di mana culpa Lata dianggap terkait dengan kesalahan karena kecerobohan dan sifatnya yang berat.
Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara pengertian kecerobohan secara keseluruhan dan kecerobohan menurut peraturan pidana yang lebih eksplisit kepentingannya dan dapat diterapkan pada peraturan pidana meskipun pada
kenyataannya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tidak memberikan pentingnya kecerobohan.27
5. Pasien
a. Pengertian pasien
Pasien adalah seseorang yang memiliki keluhan atau ingin konsultasi perihal kesehatan untuk memperoleh pelayanan medis yang diperlukan secara langsung atau tidak langsung dari dokter.
1) Menurut Prabowo dalam bukunya mengemukakan pengertian Pasien adalah orang-orang yang sakit fisik dan mental dan meninggalkan pemantauan dan perawatan kepada dokter perihal kesehatan mereka.
2) Menurut Aditama dalam bukunya berpendapat bahwa pasien adalah mereka yang berobat dan dirawat di rumah sakit.
3) Dan menurut Soejadi pasien adalah peran terpenting di rumah sakit.28
Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa pasien sakit atau lemah fisik atau mental dan mempercayakan perawatannya kepada tenaga medis.
b. Kewajiban pasien
Menurut UU Rumah Sakit No 4 Tahun 2009, selain kewajiban pasien, setiap pasien bertanggung jawab kepada rumah sakit atas
27Culpa/ Kelalaian, Diakses pada Desember 31, 2021 https://www.erisamdyprayatna.com/2020/09/
28Pengertian Pasien, Diakses pada November 21, 2021
Https://Kumpulanpengertian.com/2018/11/pengertian-pasien-menurut-para-ahli.html
pelayanan yang diterimanya.Selain itu, Keputusan Menteri menetapkan ketentuan tambahan tentang kewajiban pasien.
UU No.29 Tahun 2009 Berdasarkan Undang-Undang Praktik Medis, pasien memiliki kewajiban sebagai berikut saat menerima layanan:
1) Menyampaikan berita atau info yang lengkap dan transparan 2) Menaati peraturan dan petunjuk dokter
3) Mematuhi ketentuan yang sedang berlaku
4) Memberi imbalan ( uang) atas jasa atau pelayanan yang diterima.29 Berdasarkan penjabaran tentang kewajiban pasien diatas dapat peneliti simpulkan bahwa pasien memiliki hak menerima pelayanan yang baik, mendapat sikap yang baik, entah itu informasi seputar kesehatan atau data diri masing-masing.
c. Hak pasien
Menurut ( UU No.4 Tahun 2009 tentang rumah sakit pasal 31 dan 32 ) setiap pasien memiliki hak, yaitu :
1) Mengetahui peraturan perundang-undangan yang berlaku di rumah sakit.
2) Harus paham dan tau kewajiban pasien atau kewajiban dan hak sendiri.
3) Memdapatkan pelayanan yang pantas dan baik ( Manusiawi tanpa diskriminasi )
29 Sekretariat Negara Republik Indonesia, Undang-Undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
4) Menerima pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar medis atau profesional dan operasional.
5) Hindari kerugian fisik atau material dengan pelayanan yang akurat dan efektif.
6) Memberikan pendapat tentang pelayanan yang didapat selama dirumah sakit
7) Dapat memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
8) Mintalah saran terlebih dahulu mengenai kondisi fisiknya atau diskusikan penyakitnya dengan dokter lain yang telah memiliki SIP baik di dalam maupun di luar rumah sakit.
9) Melindungi privasi pasien.
10) Mendapatkan informasi tentang diagnosis dan prosedur untuk melakukan langkah-langkah medis, menunjukkan perkiraan langkah-langkah medis alternatif serta perkiraan biaya perawatan.
11) Mendapatkan hak atas izin sebelum melakukan tindakan medis.
12) Dapat didampingi oleh keluarga dalam keadaan kritis.
13) Dapat menjalankanIbadah dapat dilakukan menurut keyakinan individu selama tidak mempengaruhi kesehatan diri sendiri atau kesehatan pasien lain.30
Memahami kebutuhan dan kepuasan pasien adalah hal yang paling utama dalam perkembangan dan kemajuan rumah sakit, jadi
30 Sekretaria Negara Republik Indonesia, Undang-Undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran
bisa dibilang kepuasan pasien adalah aset yang paling utama dan paling berharga. Ketika seorang pasien merasa puas dengan pelayanan rumah sakit maka pasien tersebut merasa bahwa ia tidak salah mempercayakan pihak tersebut dalam tindakan medis yang dipilihnya.
Menurut Tjiptono mengartikan kepuasan pasien pelanggan sebagai evaluasi atau penilaian secara sadar menyangkut apakah kinerja didalam rumah sakit tersebut baik atau jelek dengan tujuan pemakaiannya. Jadi, kepuasan merupakan suatu bentuk dari kegiatan yang dirasakan oleh seseorang terhadap suatu yang diperolehnya.
Untuk mendapatkan kepuatan tersebut seseorang akan menilai terhadap system yang akan dijalankan orang lain dengan demikian pengukuran kepuasan hanya dapat dirasakan pribadi atau per- individu.31
Jadi dapat peneliti simpulkan bahwa kepuasan pasien adalah suatu kondisi dimana pelanggan mendapatkan pelayanan terbaik dan kesehatan sebagimana yang mereka harapkan, sesuai dengan titik semakin baik pelayanan maka semakin menyenangkan pasien.
Berbicara tentang kebahagiaan pasien maka berbicara tentang kualitas pelayanan kesehatan.
31 Hermein Hadiati Koeswadji, Hukum Pidana Kesehatan (Bandung: Widiana Bhakti Persada, 1998 ), 66.
6. Hukum Pidana Islam
a. Pengertian Hukum Pidana Islam
Hukum pidana Islam (Fiqh jinayah) adalah hukum Allah SWT, yang mengatur aturan kehidupan manusia pada khususnya, dan bisa dibilang dalam kasus kriminal atau tindak pidana oleh Mukallaf (yang dapat dilakukan atau bertanggung jawab). Dalil dari al-quran dan hadits hukum pidana islam mengandung kemaslahatan mendasar bagi dunia dan umat manusia di masa depan. Syariat islam yang dimaksud mencakup kewajiban manusia kepada setiap orang yang melakukannya. Gagasan syariat menempatkan Allah SWT sebagai pemegang segala sesuatu dipertimbangan.
Hukum pidana islam dapat diibaratkan dengan istilah Jarima dalam hukum Islam. Hal ini menunjukkan larangan yang diberlakukan oleh Allah SWT terhadap setiap tindakan yang memerlukan disiplin Had dan Ta‟zir.32
Adapun pengertian jinayah, para fuqoha menyatakan bahwa lafadz jinayah yaitu setiap perbuatan yang dilarang oleh syara‟ islam, baik perbuatan itu mengenai jiwa, harta benda atau lain-lainnya.
32 Rahmad Rosyadi dan Rais Ahmad, Formulasi Syari’at Islam dalam Perspektif Tata Hukum Indonesia (Bogor: Ghalia Indonesia, 2006), 123.
b. Macam pembunuhan menurut hukum pidana islam dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu :
1) Pembunuhan secara sengaja ( Al-Qatlu Al-‘Amdi )
Yang berarti pembunuhan dilakukan pembunuh dengan terencana kepada manusia yang mashum (terjaga darahnya), dia membunuhnya dengan prasangka kuat bahwa orang tersebut mati karenanya.
Yang bisa digunakan untuk membunuh, contohnya sebagai berikut : senjata tajam : pisau, golok, panah dll, benda berat yang ditimpakan dari arah atas, tali dan sejenisnya yang bisa menahan saluran nafas, racun mematikan, menjatuhkan dari ketinggian, memasukkan ke dalam kandang hewan buas, mengurungnya dengan tidak memberi makan dan minum dan barang yang lain yang dapat membunuh secara adat atau kebiasaan.
a) Konsekuensi hukumnya adalah qisas yaitu pelaku harus diberikan sanksi yang berat sesuai dengan sebagaimana dengan ia membunuh korban. Namun jika korban memaafkan pelaku maka hukumnya adalah membayar diyat mughalladzah (denda berat) yang diambil dari harta pembunuh dan dibayarkan secara tunai kepada pihak keluarga.
2) Pembunuhan seperti sengaja ( Al-Qatlu Syibhul-‘Amdi)
Maksutnya adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang dengan maksut menyakiti orang yang terbunuh dengan
tidak ada rencana untuk membunuh dan dia menggunakan sesuatu yang secara kebiasaan tidak bisa membunuh. Disatu sisi dia memiliki niat untuk menyakiti, tetapi disisi lain dia tidak ada rencana untuk membunuh.
Contoh dari pembunuhan seperti ini adalah sebagai berikut : a) Seseorang memukul wajah orang lain dengan pukulan yang
tidak begitu keras, kemudian orang yang dipukul mati.
b) Seseorang menyayatkan silet ke tangan seseorang dengan luka yang tidak begitu besar dan bukan di saluran pembuluh darah utamanya kemudian orang tersebut meninggal.
c) Seorang menimpakan benda kecil yang tidak tajam dari arah atas ternyata orang yang terkena benda tersebut meninggal.
d) Seorang memasukkan orang lain ke kandang banyak ayam dan ternyata ayam-ayam tersebut mengamuk dan menyerang orang tersebut sampai mati.
1) Konsekuensi hukumnya adalah pelaku pembunuhan seperti sengaja tidak diqisas. Ia dihukum dengan membayar diyat mugalladzah (denda berat) yang diambilkan dari harta keluarganya dan dapat dibayarkan secara bertahap selama 3 tahun kepada keluarga korban, setiap tahunnya sepertiga dari hukuman tersebut. Selain itu pembunuh juga harus melaksanakan kaffarat berupa 30 ekor hiqqoh ( Unta betina berumur 3 tahun masuk 4 tahun), 30 ekor jadza’ah ( Unta
betina berumur 4 tahun masuk 5 tahun), 40 ekor khilfah (Unta betina yang sedang bunting).
3) Pembunuhan tidak sengaja atau tersalah ( Al-Qatlu Al-Khata’) Yang mana pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang dengan tidak ada maksud apapun untuk melukai orang yang terbunuh tetapi ternyata mengenai orang tersebut dan terbunuh.
Contoh dari hal ini yakni :
a) Seseorang berburu dengan senapan burung, ternyata ketika melepaskan tembakan, disana ada seseorang yang sedang memnjat pohon untuk mengambil buah hingga tanpa di sadari peluru tersebut mengenai orang yang sedang memanjat tersebut.
b) Seseorang menaruh cairan racun untuk penelitian dimeja makan, kemudian dia pergi ke belakang untuk buang air, karena berwarna menarik diminumlah oleh seseorang kemudian oang tersebut meninggal.
c) Seseorang yang menggali sumur diarea rumahnya, kemudian ada orang yang berlari dan terjatuh kedalamnya.33
d) Konsekuensi hukumnya adalah membayar diyat mukhaffafah (denda ringan) yangdiambilkan dari harta keluarga pembunuh dan dapat dibayarkan secara bertahap selama 3 tahun kepada keluarga korban, setiap tahunnya sepertiga dari hukuman
33 Umadatul Aulia, Mahmunah Ani Zulfa, Buku Ajar Fiqih XI Keagamaan (Jombang: Universitas KH.A.Wahab Hasbullah Tambak Beras, 2021), 5-10.
tersebut. Serta membayar kaffarat berupa 20 ekor biktu makdhah (unta betina yang usianya memasuki 2 tahun), 20 ekor bintu labun (unta betina yang usianya memasuki 3 tahun), 20 ekor unta (unta yang berumur 4 tahun), 20 ekor unta jadza’ah (unta betina yang berumur 5 tahun), 20 ekor unta jantan yang berumur 2 tahun.34
c. Jenis-jenis Hukuman dalam Hukum Pidana Islam
Menurut hukum Islam, tindak pidana diklasifikasikan menurut beratnya hukuman sebagai berikut:
1) Jarimah hudud
Jarimah Hudud adalah jenis dan ancaman hukuman yang ditentukan oleh Nash, khususnya Had. Hukuman untuk situasi ini tidak memiliki batas bawah atau atas dan tidak dapat dicabut oleh orang (korban atau wakilnya) atau perwakilan lokal (ulil umri).
Ada 7 macam jarimah hudud, yaitu; jarimah kekafiran, jarimah qadzaf, jarimah syurbul khamr, jarimah kriminal, jarimah hirabah, jarimah riddah, jarimah Al Baghyu (kemaksiatan).35
2) Jarimah qisash
Sesuai dengan istilah syara, qisas adalah memberikan balasan kepada pelakunya yang ditunjukkan dengan perbuatannya.
Dan itu mengandung pengertian keseimbangan dan kesepadanan (ikuti mengikuti) dengan alasan bahwa demonstrasi yang dilakukan
34 Umadatul Aulia, Mahmunah Ani Zulfa, Buku Ajar Fiqih XI Keagamaan (Jombang: Universitas
KH.A.Wahab Hasbullah Tambak Beras, 2021), 13.
35 Makhrus Munajat, Rekontruksi Hukum Pidana Islam (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2004), 12.
oleh pelakunya adalah mengakhiri keberadaan orang lain (membunuh), maka pada saat itu, hukuman yang pantas adalah dibunuh atau hukuman mati.
Alasan pendisiplinan qisas pada jarimah qisas adalah Al- Quran surah al-Baqarah pasal 178 sampai 179 yang isinya:
ِدْت َع ْ
لا َو ّ ر ِحْلاّة ُّرِح ْ ل َ
ا ِّۗى ٰ لْت ل َ ْ
لا ىّف ِصا ُص ّل ْ لا ِم ِ
كْي َ لَع َبّت ِ
ك ا ْيِن َم ٰ ا َنْي ّذ َّ
لا اَىُّي َ آٰي ّف ْو ِر ْع َم ْ
لاّةۢ ٌعاَبّ تاَف ٌء ْي َش ّهْي ّخ َ ا ْن ّم ٗه َ
ل َي ّف ِع ْنَمَف ِّۗىٰثْنِاْلاّة ىٰثْنِاْلاَو ّدْتَع ْ لاّة ّلٰذ ِّۗ ٍنا َس ْحّاّة ّهْي َ
ل ّا ٌءۤا َدَاَو َد ْعَة ى ٰدَت ْعا ّن َم فِّۗ ٌث َمْح َر َو ْم َ ِ
كّ ة َّر ْن ّ م ٌ
ف ْي ّف ْخ َت َك
ٗه َ ل َ
ف َكّل ٰذ
ٌ باَذَع ٌمْيّل َ
ا ١٧٨ ْم ِ
ك َّ
ل َع َ ل ّباَب ْ
ل َ ا ْ
لا ى ّلو ِ
آّٰ ي ٌةيٰي َح ّ صا ُص ّل ْ لا ىّف ْم ِ
ك َ ل َو
َ ن ْي ِ ل َّ تَت ١٧٩
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu qisosterhadap orang yang terbunuh, orang merdeka atas orang merdeka, budak dari budak, dan wanita atas wanita, maka barang siapa yang mendapat ampunan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikutinya. dengan jalan yang baik, dan hendaklah (memaafkan) membayar (diat) kepada orang yang memaafkan dengan cara yang baik pula.
maka itu adalah keringanan dari Tuhanmu dan rahmat.
Barang siapa yang melampaui batas setelah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan di dalam qisos itu (menjamin kelangsungan hidup) kehidupan bagimu, hai orang-orang yang berakal, agar kamu bertakwa (Q.S Al Baqarah 178-179).36
3) Jarimah diyat
Arti kata diat yang dikutip Sayyid Sabiq adalah harta yang wajib diisi atas kesalahan yang dilakukan kepada seseorang atau walinya yang selamat dari kesalahan. Hal ini terutama penting
36 Departemen Agama RI, Al-Qur’an & Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitap Suci Al-Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati Group, 1995), 27.