Terima kasih atas cinta yang telah kamu berikan dan pengorbanan yang tak terhingga, tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa terima kasihku padamu. Terima kasih kepada kakak-kakakku yang telah memberikan motivasi kepadaku dalam bekerja, juga kepada kakak-kakak dan keponakanku.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam sistem ini kedudukan anak laki-laki dan anak perempuan dalam hukum waris adalah setara dan setara. Permasalahan hukum waris adat yang diterapkan di Kecamatan Buay Pemuka Peliung Kabupaten Oku Timur Provinsi Sumatera Selatan perlu dikaji karena sistem pembagian warisan masyarakat adat Komering bersifat turun-temurun dan belum ada landasan hukum atau pedoman mengenai hukum waris yang harus dicatat. bahwa masyarakat membagi harta warisan yang tidak sesuai dengan hukum waris Islam dan pembagian tersebut bertentangan dengan hukum Islam.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Diharapkan dapat dijadikan buku sehingga dapat menjadi pedoman dan mampu memberikan informasi kepada masyarakat yang ingin mengetahui tentang sistem pewarisan pokok suku Komering di Kabupaten Bp. Diharapkan mampu memberikan bekal pengetahuan khususnya kepada peneliti individu dan masyarakat luas pada umumnya mengenai sistem pewarisan utama pada suku Komering.
Penelitian Terdahulu
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung di lapangan untuk memperoleh data-data yang diperlukan dan penelitian yang tujuannya berkaitan dengan gejala atau peristiwa yang terjadi pada suatu kelompok masyarakat. Data sekunder adalah data yang diperoleh dalam bentuk jadi, berupa publikasi/laporan, arsip/dokumentasi, dokumen pribadi, serta peraturan dan undang-undang.13.
Sistematika Penulisan
Selain itu data tersebut juga untuk keperluan verifikasi atau sebagai pembanding terhadap data tersebut.Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan adalah verifikasi melalui sumber lain.18.
Waris Menurut Hukum Islam
- Pengertian Waris Menurut Hukum Islam
- Dasar Hukum Waris
Ahli Waris : Yaitu orang-orang yang menjadi ahli waris, yaitu orang-orang yang berhak menerima harta warisan dari pewaris. e. 34; Hukum waris merupakan kumpulan peraturan yang mengatur tentang hukum yang berkaitan dengan harta benda akibat meninggalnya seseorang, yaitu mengenai peralihan harta warisan yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dan akibat dari peralihan tersebut bagi orang yang memperolehnya, baik dalam jangka waktu yang lama maupun dalam jangka waktu yang lama. hubungan di antara mereka.
Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepada kamu tentang kalalah (iaitu): jika seseorang meninggal dunia dan dia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudara perempuannya separuh dari harta yang ditinggalkannya dan saudara lelakinya mewarisi (keseluruhan harta itu). kakak) jika dia tidak mempunyai anak;.
ف اهلى أب ضئا رفلا اوقلحا لأ وهف يقب ام
Rukun dan Syarat Waris
Iaitu seseorang yang diisytiharkan mempunyai hubungan kekerabatan, sama ada melalui pertalian (nasab), hubungan perkahwinan atau perkahwinan, atau dengan memerdekakan hamba. Syaratnya ialah apabila waris meninggal dunia, waris diketahui masih hidup. Ini termasuklah bayi yang masih dalam kandungan (al-haml). Ia adalah sebarang harta yang diwarisi sama ada dalam bentuk harta atau dalam bentuk hak yang termasuk dalam kategori pewarisan.
Ahli Waris Menurut Hukum Islam a. Ahli Waris
Terdapat juga syarat lain yang mesti dipenuhi iaitu antara waris dan waris tidak ada halangan untuk saling mewarisi 41. Jika semua ahli waris hadir, maka waris sahaja ialah: anak, bapa, ibu, balu atau duda. . d.
Golongan dan Bagian Ahli Waris a. Golongan ahli waris
Setiap ahli waris mempunyai bagian yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh jumlah ahli waris yang ada dan seberapa erat hubungannya. Sendiri atau bersama Dzawil Furudh - 2 x porsi pekerjaan rumah anak (jika ada anak dan pekerjaan rumah anak). Sendiri atau bersama Dzawil Furudh - 2 x bagian Cucu (jika masing-masing ada Cucu dan Cucu) dibagi rata masing-masing Cucu lebih dari.
2/3 ahli warisnya hanya Ayah dan Ibu. setelah dikurangi hak Istri/Suami), jika ada Istri/Suami dan Ibu Ashabah, maka tidak ada ahli waris. 1/3 dari ahli warisnya adalah ibu saja, atau ayah dan ibu. setelah dikurangi hak Istri/Suami), apabila ada Istri/Suami dan Ayah.
Waris Menurut Hukum Adat
- Pengertian Waris Menurut Hukum Adat
- Sistem Warisan Menurut Hukum Adat
- Ahli Waris Menurut Hukum Adat
- Pembagian Harta Waris Menurut Hukum Adat
Harta warisan yang ditinggalkan oleh ahli waris dapat dibagikan kepada para ahli waris sebagaimana dalam korporasi bilateral di Pulau Jawa.54. Untuk menentukan siapa ahli waris menurut hukum adat digunakan dua jalur utama, yaitu. Garis dasar suksesi adalah garis hukum yang bertujuan untuk menentukan siapa di antara masyarakat kelompok prioritas tertentu yang bertindak sebagai ahli waris.
Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dalam menentukan ahli waris garis utama dan penerusnya. Tata cara perpindahan atau peralihan harta benda dari ahli waris kepada ahli waris, yang harus berlaku menurut hukum adat.
Al-„Urf
- Pengertian „Urf
- Dasar Hukum „Urf
Proses pembagian harta warisan setelah meninggalnya seorang ahli waris: Jika seseorang meninggal dunia dan meninggalkan harta benda, maka timbul pertanyaan apakah harta itu akan dibagikan atau tidak kepada para ahli waris, siapa yang akan menguasai dan memiliki harta itu, dan apakah harta itu akan dibagikan kepada ahli waris. dibagi, siapa yang mendapat bagian dan bagaimana pembagiannya. Barangsiapa menerima warisan berarti melunasi segala hutang yang berkaitan dengan hutang ahli waris. Urf adalah sesuatu yang sering diketahui masyarakat dan sudah menjadi tradisi, baik berupa perkataan maupun perbuatan dan/atau hal-hal yang meninggalkan sesuatu disebut juga adat istiadat.
Dalam ilmu ushul fiqh yang dimaksud dengan “Urf” adalah sesuatu yang sudah biasa dilakukan oleh orang-orang atau sebagian dari mereka dalam hal muamalat dan senantiasa melihat/mendiamkan diri dalam beberapa hal yang diterima dengan akal sehat. 64. Urf dalam bahasa Indonesia sering disamakan dengan 'adat istiadat', namun para ulama memperdebatkan kedua kata tersebut secara panjang lebar, sehingga dapat disimpulkan: AI-'Urf adalah sesuatu yang diterima oleh fitrah manusia dan akal sehat. Walaupun arti dari kedua kata ini sedikit berbeda, namun jika kita perhatikan baik-baik, yuk kita perhatikan, sebenarnya keduanya adalah dua kalimat yang jika digabungkan mempunyai arti yang berbeda, namun dipisahkan artinya sama. Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian aturan ini menurut istilah berpasangan adalah .
دوعسم نب للها دبع نع: ؿاق
دابعلا وف
ه في رظن مش وتل اس رب وعتب اف وسفنل
وباحص أ ب ولق دج وف دممح بلق دعب دابعلا بولق ك مهلعجف دابعلا بولق يرخ
يلع ف ولت اقي ويبن ءار
اكأر امك نسح للها دنع وهف انسح فوماسلما لأر امف ونيد ئس ولللا دنع وهف أيس
Syarat-syarat „Urf
Penggunaannya tidak mengakibatkan melampaui teks syariat, juga tidak mengakibatkan kekacauan, kesempitan dan kesulitan.
Kehujjahan „Urf
ةمكمح ةداعلا
Kaidah-kaidah Yang Berkaitan Dengan „Urf
Profil Kecamatan Buay Pemuka Peliung
- Gambaran Umum Kecamatan Buay Pemuka Peliung
- Kependudukan di Kecamatan Buay Pemuka Peliung
Seluruh desa di Kecamatan Buay Pemuka Peliung masih berstatus desa hingga akhir tahun 2018. Kecamatan Buay Pemuka Peliung terdiri dari 65 desa, 151 Satuan Kelurahan (RT), 156 Perangkat Desa, dan 121 anggota BPD. Pada tahun 2018, jumlah penduduk di Kecamatan Buay Pemuka Peliung sebanyak 34.305 jiwa, terdiri atas laki-laki sebanyak 17.531 jiwa dan perempuan sebanyak 16.774 jiwa.
Berdasarkan data jumlah penduduk dan luas wilayah terlihat rata-rata kepadatan penduduk di Kecamatan Buay Pemuka Peliung adalah 245,70 jiwa per Km2. Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa jumlah penduduk di Kecamatan Buay Pemuka Peliung mempunyai jumlah penduduk sebanyak 34.305 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 17.531 jiwa dan perempuan sebanyak 16.774 jiwa dengan dominasi laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan.
Mata Pencaharian Penduduk Kecamatan Buay Pemuka Peliung
- Pendidikan
- Sarana Produksi
- Data Wawancara
- Data Observasi
Pada awalnya suku Komering menggunakan sistem pewarisan mayorat, dimana seluruh harta warisan menjadi milik anak laki-laki tertua. Masyarakat Desa Banumas juga pada awalnya menggunakan sistem pewarisan mayorat dimana seluruh harta warisan jatuh ke tangan anak sulung. Jika dalam keluarga tidak mempunyai anak laki-laki, maka menantu laki-laki tertualah yang berhak mewarisi harta warisan dan cara pembagiannya sama.” 75 Wawancara dengan Pak Misdi selaku warga desa Negeri Agung.
Sejauh yang anda ketahui, sistem pewarisan di Desa Negeri Agung menganut sistem pewarisan dimana harta warisan yang dominan diberikan kepada anak laki-laki tertua, yang akan meneruskan tanggung jawab ahli warisnya.” 80 Wawancara Bapak Ansor selaku Anggota Masyarakat Desa Banumas. Masyarakat Desa Banumas hanya memberikan harta warisan dan warisannya kepada anak laki-laki dan anak perempuan tidak mendapat apa-apa.”85.
Sistem kewarisan adat suku Komering di Kecamatan Buay Pemuka Peliung Kabupaten Oku Timur Provinsi Sumatera
Jika dalam keluarga tersebut tidak mempunyai anak laki-laki, maka anak perempuan tertua berhak mewarisi harta warisan. Namun dalam sistem ini, anak laki-laki tertua mendominasi warisan atau menerima lebih banyak, sedangkan anak perempuan hanya menerima sepertiga. Jika dalam keluarga tidak mempunyai anak laki-laki, maka menantu laki-laki tertualah yang berhak mewarisi harta warisan dan cara pembagiannya sama.
Jika dalam keluarga tersebut tidak mempunyai anak laki-laki, maka anak perempuan tertualah yang berhak mewarisi harta warisan. Apabila dalam keluarga itu tidak mempunyai anak laki-laki, maka menantu laki-laki yang tertualah yang berhak mendapat warisan paling banyak 100 orang.
Tinjauan „Urf Tentang Kewarisan Adat Suku Komering di Kecamatan P. Peliung Kabupaten Oku Timur Provinsi
Namun kini telah terjadi pergeseran dimana anak laki-laki tertualah yang mendominasi harta warisan sedangkan anak perempuan mendapat sepertiga jika tidak ada anak laki-laki atau suatu keluarga hanya mempunyai 1 anak laki-laki. Sedangkan istri ahli waris tidak menerima warisan, melainkan seluruh kebutuhannya ditanggung oleh anak sulung atau menantu sulung. Sebab dalam sistem ini, anak laki-laki lebih dominan mendapatkan sebagian besar harta warisan, sedangkan anak perempuan hanya mendapat sepertiganya dengan dalih tanggung jawab anak laki-laki jauh lebih besar dibandingkan anak perempuan.
Ahli waris dalam sistem pewarisan marga Komering terkonsentrasi hanya pada anak laki-laki dan perempuan, sedangkan istri ahli waris tidak menerima warisan, tetapi segala kebutuhan dipenuhi oleh anak sulung atau menantu sulung. Masyarakat suku Komering menganut sistem pembagian warisan dengan cara membagi warisan dominan kepada anak laki-laki tertua, sedangkan anak perempuan mendapat sepertiga jika tidak ada anak laki-laki atau dalam suatu keluarga hanya mempunyai 1 anak laki-laki.
PENUTUP
Saran
Bagi masyarakat yang belum mengetahui sistem pewarisan utama suku Komering, hal ini diperbolehkan dan tidak bertentangan dengan hukum Islam mengenai pewarisan. Masyarakat hendaknya lebih memahami apa itu hukum waris Islam dan apa itu hukum waris adat agar mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang bisa digunakan dalam masyarakat ini. Diharapkan para tokoh adat dan tokoh masyarakat di Kecamatan Buay Pemuka Peliung dapat mengoptimalkan peran dan kualitasnya sehingga mampu menjelaskan situasi pusaka mayoritas suku Komering.
Diharapkan generasi muda penerus suku Komering di kecamatan Buay Pemuka Peliung memahami dan memahami adat istiadat yang ada di lingkungan suku Komering sehingga dapat mempelajari adat istiadat dan budaya suku Komering yang dilestarikan berdasarkan Al-Qur'an. sebuah dan hadis.
Buku
Hukum Waris Indonesia Menurut Hukum Adat, Hukum Agama Hindu-Islam, Bandung: Citra Adyta Bakhti.
Artikel dan Jurnal
Kedudukan Anak Perempuan Sebagai Ahli Waris Dalam Hukum Warisan Patrilineal Masyarakat Suku Sentani Kecamatan Ebungfau Kabupaten Jayapura” Makassar: Universitas Hasanuddin Makassar Fakultas Hukum.