• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Universitas Lambung Mangkurat

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Universitas Lambung Mangkurat"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

LAPORAN KETUA PANITIA

Seminar Nasional dan Pertemuan Ilmiah Tahun Ke-2 Komunitas Manajemen Hutan Indonesia (KOMHINDO)

“PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS KPH UNTUK KEBERLANJUTAN PRODUKSI, EKOLOGI DAN SOSIAL EKONOMI

BUDAYA MASYARAKAT”

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa barakatuh, Yang terhormat:

 Rektor Universitas Lambung Mangkurat

 Bupati Hulu Sungai Selatan

 Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat

 Para Narasumber Prof.Dr.Ir.Didik Suhardjito,M.S, Prof.Ir.Udiansyah,Msi,PhD, Aji Sukmono, S. Hut, MP (Kepala KKPH Yogyakarta)

 Yang kami banggakan juga berhadir Guru Besar Fakultas Kehutanan Unlam Prof.Dr.Ir.Gt.M.Hatta (Mantan Menteri LH dan Menristek pada Kabinet Indonesia Bersatu II) dan Prof.Dr.Ir.M.Ruslan,MS (Mantan Rektor Unlam tahun 2010-2014)

 Para tamu undangan dan peserta seminar Komhindo Hadirin yang saya hormati,

Kami selaku Ketua Panitia Seminar, menyampaikan puji syukur kepada Allah SWT, dimana kita dapat bersama-sama berkumpul dalam acara Seminar Nasional dan Pertemuan Ilmiah Ke-2 KOMHINDO. Selamat Datang di Fakultas Kehutanan Unlam yang di apit oleh 3 kota yaitu Banjarbaru kota idaman, Martapura kota Intan, Kota Serambi Mekah dan Kota Santri. Banjarmasin kota seribu sungai, kota Bumi Antasari. Besok di acara field trip kita akan bertemu dengan kota Kandangan dengan julukan Bumi Antaludin.

Tema Seminar Nasional dan Pertemuan Ilmiah Ke-2 Komunitas Manajemen Hutan Indonesia ini adalah“Pengelolaan Hutan Berbasis KPH Untuk Keberlanjutan Produksi, Ekologi Dan Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat” dengan Tujuan Seminar adalah : 1. Mempublikasikan hasil-hasil penelitian ilmiah yang berkaitan dengan hutan dan

keberlanjutan produknya dalam rangka pengelolaan hutan berbasis KPH.

2. Membangun networking dan meningkatkan kerjasama antara para ilmuan/akademisi/peneliti, penyuluh, praktisi, dan birokrat untuk bersama-sama membumikan KPH agar konsep KPH dapat menjaga keberlanjutan produksi hutan, ekologi hutan, dan sosial ekonomi budaya masyarakat sekitar hutan.

Peserta seminar nasional KOMHINDO pada tahun ini berasal dari 16 Perguruan Tinggi dan 13 Balai Kehutanan/Dinas/KPH/Perusahaan sebagai pemakalah dengan 81 artikel ilmiah yang dibagi menjadi 4 (empat) tema seminar yaitu: Aspek Regulasi, Kebijakan, land tenurial dan Manajemen Hutan; Aspek Teknis Budidaya Pengelolaan Hhutan, Produksi Kayu dan Hasil Hutan Bukan Kayu; Aspek Ekologi dan Konservasi dan Aspek Sosial - Ekonomi Pengelolaan Hutan.

Sumber dana yang digunakan dalam pelaksanaan seminar ini berasal dari Universitas Lambung Mangkurat, Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kontribusi dari para Perserta Seminar. Oleh karena itu kami menyampaikan terimakasih kepada Bapak Rektor Universitas Lambung Mangkurat dan Bupati Hulu sungai Selatan atas persetujuan yang diberikan. Demikian pula kepada Bapak Dekan Fakultas Kehutanan Unlam yang merupakan inisiator seminar dan pertemuan Ilmiah ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan selaku Ketua Panitia Seminar dan Pertemuan Ilmiah Ke-2 KOMHINDO, dan selamat menjalankan seminar mudah-mudahan Allah SWT memudahkan setiap langkah kita.

(5)

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT*)

Sambutan Rektor Universitas Lambung Mangkurat Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Yang saya hormati Bupati Hulu Sungai Selatan Provinsi Kal-Sel Yang saya Hormati Dekan Fakultas Kehutanan Unlam

Yang saya Hormati Ketua Raki dan Kepala KKPH Yogyakarta, dan tamu undangan dari Perguruan Tinggi dan Litbang Kehutanan dari berbagai daerah di Indonesia serta Peserta Seminar KOMHINDO (Komunitas Manajemen Hutan Indonesia) yang berbahagia.

Hadirin yang saya hormati,

Seminar Komhindo dengan Tema “Pengelolaan Hutan Berbasis KPH Untuk Keberlanjutan Produksi, Ekologi Dan Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat” merupakan sarana untuk memberikan sumbangan pengetahuan dalam mendorong keberlanjutan ekosistem hutan dan perbaikan dalam tata kelola hutan dengan berbagai model KPH guna mewujudkan kedaulatan ekonomi, politik, kepribadian dan kebudayaan bangsa. Berbagai model KPH dilahirkan seperti di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dengan Model KPHL dan berbagai wilayah lain dengan model KPHP yang berbasis pada potensi tapak akan lebih menjamin keberlanjutan tata kelola hutan di Indonesia.

Saya mengucapkan terimakasih kepada Bupati Hulu Sungai Selatan atas kerjasamanya dalam Pelaksaan Seminar Nasional Komhindo ke-2 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Unlam Tahun 2016. Selain itu Universitas Lambung Mangkurat sering melakukan kerjasama dengan Kabupaten Hulu Sungai Selatan dalam bidang penelitian baik mahasiswa maupun dosen terutama dibidang lingkungan, Farmasi dimana Hutan Lindung Loksado menyimpan segudang tumbuhan obat tradisional maupun budaya adat Dayak yang masih lestari diwilayah KPHL model di Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Saya juga memberikan apresiasi terhadap Dekan Fakultas Kehutanan Unlam dan seluruh panitia yang telah bekerja keras dalam penyelenggaraan seminar Komhindo ini, yang telah dipersiapkan beberapa bulan yang lalu mudah-mudahan seminar ini berjalan dengan lancar, sesuai harapan termasuk kegiatan field trip tanggal 9 Oktober 2016 di KPHL Loksado Hulu Sungai Selatan.

Demikian, dari saya. Saya akhiri, wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

*) Sambutan Rektor yang disampaikan oleh Wakil Rektor I, mewakili Rektor.

(6)

PRAKATA

Pengelolaan hutan dengan konsep KPH diharapkan dapat menjamin kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan dan bermanfaat sebesar-besarnya untuk dapat menunjang kedaulatan energi, pangan dan kesehatan bagi masyarakat. Oleh karena itu pengelolaan hutan dengan konsep KPH merupakan langkah yang signifikan menuju perbaikan tata kelola hutan untuk menuju Indonesia baru guna mewujudkan kedaulatan ekonomi, politik, kepribadian dan kebudayaan bangsa. Berbagai hasil-hasil riset dari seluruh tanah air yang disampaikan melalui kegiatan Seminar Nasional dan Pertemuan Ilmiah Komunitas Manajemen Hutan Indonesia (KOMHINDO) Ke-2 tahun 2016 dengan tema Pengelolaan Hutan Berbasis KPH untuk keberlanjutan produksi, ekologi, dan sosial ekonomi budaya masyarakat.

Hasil-hasil riset yang telah disampaikan dalam Seminar Nasional dan Pertemuan Ilmiah Komunitas Manajemen Hutan Indonesia (Komhindo) Ke-2 tahun 2016 tersebut diwujudkan dalam bentuk buku prosiding. Prosiding ini telah dikelompokkan berdasarkan masing-masing tema artikel. Tema artikel dalam prosiding ini meliputi; Aspek Regulasi, Kebijakan, Land Tenurial Dan Manajemen Hutan; Aspek Teknis Budidaya Pengelolaan Hutan, Produksi Kayu Dan Hasil Hutan Bukan Kayu; Aspek Ekologi Dan Konservasi Serta Aspek Sosial-Ekonomi Pengelolaan Hutan.

Jumlah keseluruhan artikel yang telah dipublikasikan dalam prosiding ini sebanyak 81 artikel. Banyaknya jumlah artikel yang masuk disebabkan oleh besarnya tingkat partisipasi para peneliti di seluruh tanah air untuk turut berkontribusi dalam pengelolaan hutan untuk keberlanjutan produksi, ekologi, dan sosial ekonomi budaya masyarakat.

Berbagai sumbangan artikel dari para peneliti diseluruh tanah air maka editor mewakili tim menyampaikan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya.

Akhirnya, kami menyadari walaupun seluruh artikel yang berhasil dimasukkan dalam prosiding ini telah melalui editor, namun mungkin terdapat kesalahan dan ketidaksempurnaan di dalamnya, oleh karena itu kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan cetak dalam prosiding ini. Kami berharap agar prosing ini menjadi salah satu alternative sumber referensi di bidang Kehutanan dan menjadi pionir bagi riset-riset baru di bidang pengelolaan hutan terutama dalam pengelolaan hutan berbasis KPH.

Banjarbaru, Oktober 2016 Editor,

(7)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LAPORAN KETUA PANITIA ... iii

SAMBUTAN REKTOR UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT ... iv

PRAKATA ... v

DAFTAR ISI ... vi

I. DAFTAR PEMAKALAH UMUM SEMINAR NASIONAL KOMHINDO 2016 TAHUN KE-2 ... 1

II. FULL PAPER KOMISI... 14

A. KOMISI A : ASPEK REGULASI, KEBIJAKAN, LAND TENURIAL DAN MANAJEMEN HUTAN ... 14

1. Ketahanan Daerah Aliran Sungai (DAS) Berbasis Kearifan Lokal (Studi Kasus di Sub-Sub DAS Lengkese, Sub DAS Lengkese DAS Jeneberang) ... 14

2. Skenario Luas Lahan Berhutan Untuk Optimalisasi Fungsi Ekonomi dan Ekologi Daerah Hulu DAS Tondano Sulawesi Utara ... 22

3. Konsistensi Regulasi Dalam Bidang Kehutanan Implikasinya Terhadap Tindak Pidana Kehutanan ... 32

4. Strategi Magement Regime (Rejim Pengelolaan) Dalam Pengelolaan Hutan Jati Bersama Masyarakat di Resort Polisi Hutan (RPH) Madampi Bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Muna Tengah 40 5. Dampak Kebijakan Sertifikasi Terhadap Perkembangan Hutan Rakyat di Kabupaten Pacitan ... 49

6. Prospek Ekonomi Pembangunan KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Sebagai Entitas Bisnis Melalui Strategi Diversifikasi Produk dan Jasa (Teori, Implementasi, Usulan Kebijakan) ... 58

7. Kajian Keberlanjutan Pengelolaan Hutan Mangrove Di Mangrove Center Graha Indah (MCGI) Kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur ... 67

8. Dinamika Menuju Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Hutan Pendidikan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman “Sebuah Harapan dan Tantangan ... 82

9. Strategi Pengelolaan Jasa Lingkungan Wisata Alam Arung Jeram Di Kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Telake Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur ... 96

10. Strategi Pengembangan KPHP Bongan Menuju Pemanfaatan Hutan Lestari... 104

11. Penataan Batas Kawasan Hutan di KPHP Model Banjar ... 113

(8)

12. Besaran Nilai Produk Hutan sebagai Barometer Pembentukan Hutan

Lestari... 126 13. Studi Perbandingan Penataan Hutan dengan Pola Ruang Hutan

Berbasis Boxgrid dan Berbasis Daerah Aliran Sungai dalam Rangka

Pengelolaan Hutan Lestari... 132 14. Perkembangan Pembangunan KPH di Sulawesi Selatan ... 139 15. Kajian Kebijakan Pengelolaan Hutan Konservasi Berbasis

Masyarakat (Studi Kasus SM Kuala Lupak dan Pulau Kaget

Kalimantan Selatan) ... 152 B. KOMISI B : ASPEK TEKNIS BUDIDAYA PENGELOLAAN HUTAN,

PRODUKSI KAYU DAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU ... 160 1. Pengaruh Pola Tanam Campuran terhadap Pertumbuhan Tanaman

Mangium, Mahoni dan Sengon di Lahan Alang-Alang ... 160 2. Analisa Resiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT) Untuk

Importasi Fagus Sylvatica Dari Switzerland ke Dalam Wilayah

Indonesia ... 171 3. Uji Coba Penanaman Nyawai (Ficus variegata Blume) di KPH

Yogyakarta ... 176 4. Pembibitan Beberapa Varietas Murbei (Morus sp) Untuk Mendukung

Persuteraan Alam di Kabupaten Soppeng ... 186 5. Kebun Benih Uji Keturunan Bitti (Vitex cofassus) Untuk Memenuhi

Kebutuhan Masyarakat di Kabupaten Enrekang ... 194 6. Pengaruh Kompos Dan Mulsa Jerami Terhadap Pertumbuhan

Tanaman Mahoni (Swieteniamacrophyllaking) Di Mengkendek, Kab.

Tanatoraja ... 202 7. Respon Pertumbuhan Bibit Trembesi (Samanea Saman) Terhadap

Pemberian Pupuk NPK Di Persemaian ... 211 8. Pertumbuhan Mahoni Pada Area Bekas Stockpile PT Jorong

Barutama Grestin dengan Pemberian Pupuk Organik ... 219 9. Pertumbuhan Tanaman Meranti Merah (Shorea pauciflora King.)

Umur 36 Bulan pada Berbagai Ukuran Rumpang di KHDTK Kintap .. 226 10. Model Revegetasi Lahan Bekas Tambang Batubara ... 234 11. Evaluasi Teknik Silvikultur, Pertumbuhan Dan Hasil Tegakan Hutan

Tanaman Sungkai Di Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah .... 242 12. Kualitas Papan Partikel Berbahan Baku Limbah Pengolahan Kayu

dan Limbah Tanaman Pertanian ... 250 13. Limbah Industri Kayu Lapis dan Limbah Kayu HTI Untuk Pembuatan

Briket Arang ... 254 14. Prestasi Kerja dan Pengorganisasian Pemanenan Daun Kayu Putih

di KPH Yogyakarta ... 261 15. Kemampuan Daya Serap Arang Aktif Kayu Galam (Melaleuca

Leucadendron Linn) Terhadap Benzena dan Iodium ... 271 16. Hubungan Luas Sampel Eceng Gondok (Eichornia crassipes) dan

Rendemen Pada Pengolahan Tas di Kecamatan Candi Laras Selatan

Kabupaten Tapin C ... 279

(9)

17. Kajian Senyawa Kimia Gula Cair (Liquid Sugar) dalam Rangka

Peningkatan Kualitas dan Inovasi Produk Gula Banua ... 287 18. Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Nyawai

(Ficus Variegata Blum.) Umur 4 Tahun di KHDTK Riam Kiwa ... 294 19. Aplikasi Pupuk Bioorganik Cair dan Mulsa Pada Peningkatan

Pertumbuhan Tanaman Aren (Arenga pinnata Merr.) ... 303 20. Studi Fitokimia Empat Jenis Tumuhan Rawa Kabupaten Barito Kuala 311 21. Budidaya Lebah Madu Kelulut (Apis Trigona) di Desa Karang Taruna 318 22. Pengaruh Kalsium (Ca) Terhadap Pertumbuhan tanaman Jati

(Tectona grandis L.F) di Tropika Basah ... 323 C. KOMISI C : ASPEK EKOLOGI DAN KONSERVASI ... 329 1. Pemetaan Sebaran Hotspot di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan 329 2. Konservasi Biodiversitas Burung Air (Studi Kasus di Divisi I PT

Gunung Madu Plantations Kabupaten Lampung Tengah Provinsi

Lampung) ... 335 3. Sebaran Dan Karaktersitik Sarang Burung Elang Sulawesi di Hutan

Pendidikan UNHAS ... 348 4. Perilaku Harian Primata (Hylobates syndactylus, Macaca fascicularis,

Presbytis melalophos) di Pusat Primata Schmutzer Taman

Margasatwa Ragunan Jakarta ... 360 5. Pemenuhan Kebutuhan Pakan Rusa melalui Drop In di Penangkaran

Rusa PT GMP (Studi di GMP Lampung Tengah) ... 367 6. Perilaku Harian Great Apes (Gorilla Gorilla, Pantroglodytes

Blumenbach, Pongo Pygmaeus) di Pusat Primata Schmutzer Taman

Margasatwa Ragunan Jakarta Selatan ... 375 7. Analisis Potensi Erosi Menggunakan Sistem Informasi Geografi di

DAS Olonjonge Wilayah KPH Dolago Tanggunung ... 386 8. Potensi Jumpun Pembelon Sebagai Ekowisata Berbasis Kelestarian

Ekosistem Gambut ... 394 9. Partisi Curah Hujan Pada Berbagai Tegakan di Daerah Tangkapan Air

Binang Jajang ... 403 10. Konservasi S. belangeran dari Hutan Kerangas Sebagai Bahan Obat

Alami ... 412 11. Komposisi Vegetasi Habitat Jamblang Pada Hutan Rakyat Desa

Wonosadi Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul Yogyakarta ... 420 12. Kuantitas dan Kualitas Air Untuk Penentuan Daya Dukung DAS

Tabunio Kabupaten Tanah Laut... 428 13. Arahan Pemanfaatan Lahan Berdasarkan Kemampuan Lahan di Sub

DAS Kusambi Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan ... 437 14. Karakterisasi DAS Satui Untuk Penentuan Kerawanan Banjir di

Kabupaten Tanah Bumbu ... 449 15. Risiko Banjir dan Upaya Pengendaliannya Di Sub DAS Martapura

Kabupaten Banjar ... 461 16. Potensi Nyawai (Ficus variegeta Blume) Sebagai Tanaman Obat ... 469 17. Etnobotani Tumbuhan Berkhasiat Obat di Kecamatan Marabahan dan

Tabukan Kabupaten Barito Kuala Propinsi Kalimantan Selatan ... 478

(10)

18. Keanekaragaman Jenis Buah Lokal di Kabupaten Sintang Kalimantan

Barat ... 487 19. Keanekaragaman Jenis Pohon Riparian Pada Sub Das Nanga Silat

Kecamatan Silat Hilir Kabupaten Kapuas Hulu ... 495 20. Potensi Ekowisata Pantai Pagatan Di Kabupaten Tanah Bumbu

Kalimantan Selatan ... 502 21. Kajian Kekritisan Lahan dan Aspek Sosial Ekonomi Sebagai Arahan

Penentuan Urutan Prioritas Rehabilitasi Hutan dan Lahan Di Sub-Sub

DAS Amandit Kalimantan Selatan ... 510 22. Efektivitas Stik Jarum dalam Pemadaman Kebakaran Lahan Gambut 520 23. Kajian Biomassa dan Kandungan Karbon Pada Hutan Rawa Galam

(Melaleuca cajuputi) ... 526 24. Penyusunan Persyaratan Tumbuh Jenis Ulin (Eusideroxylon zwageri

t. & b.) dengan Penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) ... 535 D. KOMISI D : ASPEK SOSIAL-EKONOMI PENGELOLAAN HUTAN ... 544

1. Kajian Pemanfaatan Hutan Daerah Panyangga Untuk Ketahanan Pangan Masyarakat Sekitar Hutan Studi Kasus di Enclave Lindu

Taman Nasional Lore Lindu ... 544 2. Analisis Tekanan Penduduk Dan Dukungan Aspek Sosial Ekonomi

Masyarakat dalam Rangka Perencanaan RHL di Sub Amandit ... 553 3. Keterkaitan Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Taboyan Dalam

Pelestarian Hutan Lindung Lampeong-Gunung Lumut Kabupaten

Barito Utara ... 558 4. Studi Potensi HHBK di Hutan Pendidikan UM Palangkaraya ... 568 5. Model Perlindungan Hutan dengan Pendekatan Pemanfaatan HHBK

Bagi Masyarakat Kawasan Hutan Pendidikan UM Palangkaraya ... 575 6. Strategic Business Unit sebagai Suatu Model Pelibatan Masyarakat

dalam Pengembangan Konsep KPH... 582 7. Analisis Biaya Penanaman dan Pendapatan pada Pembangunan

Model Unit Manajemen Hutan Meranti (Shorea. Spp) PT Inhutani II

Kotabaru ... 593 8. Tumbuhan Hutan Berbahaya yang Berpotensi Menggangu Kesehatan 598 9. Insentif Finansial Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari Dari

Skema Perdagangan Karbon ... 608 10. Analisis Kelayakan Usaha Pemanfaatan Bambu (Studi Kasus di Desa

Panggungan Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan) .. 618 11. Pengembangan Sistem Pengelolaan Agroforestri Lahan Basah

Berbasis Pengetahuan dan Teknologi Ekologi Lokal ... 624 12. Pengetahuan Masyarakat Tentang KPHL Rinjani Barat dan

Pengelolaannya ... 634 13. Demplot Agroforestry Bambu Media Belajar Bersama Masyarakat ... 640 14. Kondisi Kelembagaan Petani Hutan Untuk Mendukung Perekonomian

(Kasus Desa Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, NTB) ... 649 15. Pengetahuan Petani Hutan Rakyat mengenai Peraturan Peredaran

Kayu Rakyat di Ciamis, Tasikmalaya dan Sukabumi ... 656

(11)

16. Pengetahuan Masyarakat Petani Dalam Pemanfaatan Tanaman

Hutan Jenis Obat (Syzygium cumini Linn)... 664 17. Penerapan Konsep-Konsep Hukum Adat Dalam Pengelolaan Hutan

(Studi Suku Dayak Halong di Kab. Balangan) ... 672 18. Kelestarian Praktek Agroforestri Lokal Pada Masyarakat Karo di

Sekitar Taman Wisata Alam Sibolangit Provinsi Sumatera Utara ... 686 19. Pengetahuan Penyuluh Kehutanan Sebagai Pelaku Pemberdayaan

Masyarakat Dalam Pengelolaan Hutan Rawa (Studi Di Kawasan

Hutan Konservasi Suaka Margasatwa Kuala Lupak) ... 696 20. Kajian Sistem dan Pola Pemanenan Hutan Rakyat di Daerah

Tangkapan Hujan DAS Jeneberang... 711

(12)

323

PENGARUH KALSIUM (Ca) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN JATI (Tectona grandis L.F) DI TROPIKA BASAH

Yusanto Nugroho1)

1)Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat

ABSTRAK

Variasi pertumbuan tanaman jati pada hutan rakyat di daerah tropika basah salah satunya diduga dipengaruhi oleh keberagaman kualitas lahan sebagai faktor lingkungan tumbuh salah satunya ialah kandungan kalsium tanah (Ca), karena jati merupakan jenis calcareus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kalsium terhadap terhadap pertumbuhan tanaman jati (tinggi, diameter dan volume). Penelitian ini dilakukan pada hutan rakyat tanaman jati daerah tropika basah yang berada di Kabupaten Tapin dan Banjar Provinsi Kalimantan Selatan dengan umur tanaman jati 11 tahun (KU II). Metode penelitian meliputi 1) uji kadar kalsium tanah tiap unit lahan 2) Pengukuran pertumbuhan meliputi tinggi, diameter dan volume kayu, hubungan masing-masing parameter dengan menggunakan regresi linear.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar kalsium tanah pada masing-masing unit lahan. Unit lahan 1 dan 2 memiliki kadar kalsium dengan harkat rendah, unit lahan 3 dan 4 dengan harkat kalsium sedang dan unit lahan 5 dan 6 dengan kadar kalsium dengan harkat tinggi. kadar kalsium tanah menjalin hubungan linear nyata positif (P<0,05) terhadap tinggi batang bebas cabang (T.Bc), tinggi total tanaman (T.total), diameter dan volume kayu bebas cabang (V.Bc). Semakin besar kadar kalsium tanah maka akan dikuti oleh peningkatan tinggi tanaman baik tinggi bebas cabang maupun tinaggi total, diameter dan volume kayu. pertumbuhan tanaman tanaman jati akan terhambat pada daerah-daerah yang memiliki kadar kalsium tanah rendah, hal ini menunjukkan bahwa rendahnya kadar kalsium tanah menjadi salah satu faktor penghambat terhadap pertumbuhan tanaman jati di tropika basah

Kata Kunci : Kalsium, Pertumbuhan, tropika basah

PENDAHULUAN

Daerah tropika basah (humid tropic) seperti di Kalimantan Selatan, tanaman jati merupakan jenis introduksi yang banyak dikembangkan dalam bentuk hutan rakyat yang mulai berkembang pada tahun 2002. Walupun demikian Tanaman Jati di kenal di Indonesia sejak 400 - 600 tahun yang lalu (Ombina, 2008; Verhaegen et al., 2010;

Widjajani et al., 2011) dan mulai digalakkan dalam skala industry pada abat ke-19 ati cukup luas ditanam maysrakat dan tersebar hampir di seluruh wilayah Kalimantan Selatan. Kualitas dan nilai ekonomi kayu jati memberikan daya tarik masyarakat untuk pengembangan tanaman jati (Bermejoet al.,2003). Nilai ekonomi kayu jati yang tinggi disebabkan karena kayu jati termasuk kayu mewah dan awet (Sumarna, 2001; Bermejoet al.,2003; Ombina, 2008).

Kondisi tempat tumbuh tanaman jati dari asalnya di Jawa yang memiliki periode musim kemarau yang tegas akan berbeda dengan kondisi tempat tumbuh pada daerah tropika basah seperti di Kalimantan Selatan yang mempunyai periode hujan merata sepanjang tahun. Di samping itu jati pada daerah Jawa banyak tumbuh pada daerah-

(13)

324

derah dengan tanah dengan kadar kalsium yang cenderung tinggi. Jati merupakan jenis calcareus (memerlukan kalsium dalam jumlah yang tinggi), sementara di tropika basah daerah yang mengandung batuan kapur atau terdapat intrusi kapur memiliki penyebaran yang tidak merata. Perbedaan tempat tumbuh daerah tropika basah sebagai daerah pengembangan tanaman jati dari habitat aslinya di diduga menjadi salah satu penyebab varasi pertumbuhan tanaman jati hutan rakyat.

Salah satu faktor pertumbuhan tanaman ialah faktor lingkungan tumbuh (Hardjowigeno, 1993; Zobel dan Talbert, 1984). Perbedaan kualitas tumbuh tapak dapat menyebabkan variasi pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman jati (Sumarna, 2001).

Jati untuk tumbuh optimal memerlukan persyaratan seperti, tanah yang netral atau sedikit basa (Zhou et al., 2011; Bermejo et al., 2003; White, 1998; Kaosa-ard 1998;

Purwowidodo, 1991). Unsur kimia pokok yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman jati ialah kalsium (Ca), untuk pertumbuhan dan perkembangan jati membutuhkan jumlah kalsium yang relatif besar dalam tanah (Zhouet al.,2011). Faktor lain yang penting untuk pertumbuhan jati ialah draenase, kelerengan, salinitas, dan kedalaman tanah (Rugmini, 2007; CSR/FAO Staff, 1983). Tanaman jati juga memerlukan kejenuhan basa tinggi (60- 80 %) sampai sangat tinggi (<80 %) (Chongsuksatikum dan Tantiraphan, 1991).

Persebaran tanaman jati rakyat di Kalimantan Selatan tersebar secara sporadik pada berbagai variasi tapak, tanah tropika basah yang kecenderungannya memiliki pH relatif asam dan daerah yang terdapat intrusi kapur tidak merata menyebabkan variasi pertumbuhan di areal pertanaman hutan jati rakyat, oleh karena itu diperlukan penelitian pengaruh terhadap kadar kalsium tanah terhadap pertumbuhan tanaman jati di daerah pengembangan baru di tropika basah.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kadar kalsium tanah terhadap pertumbuhan tanaman jati di tropika basah.

Bahan dan Metode Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada hutan rakyat tanaman tanaman Jati (Tectona grandis Linn. F) pada umur 11 tahun (kelas umur II) di Kabupaten Kabupaten Tapin dan Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan dengan kareakteristik daerah tropika basah.

Prosedur Pengambilan Data

Prosedur pengambilan data dilakukan dengan metode survei lapangan dan observasi, adapaun tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Membuat Unit Pengamatan

Membuat unit pengamatan blok hutan rakyat tanaman jati di daerah tropika basah yang meliputi 6 unit lahan berdasarkan karakteristik geologi pada system lahan. Pada masing-masing sistem lahan dibuat pengulangan pengamatan blok hutan rakyat

(14)

325

sebanyak 3 lokasi hutan rakyat, sehingga pada keenam sistem lahan jumlah pengamatan menjadi 18 blok hutan rakyat.

2. Pengukuran kadar kalsium tanah

Pengamatan kalsium (ca) tanah dengan mengambil tanah pada kedalaman 10 cm, 20 cm dan 30 cm kemudian dicampur secara merata (dikompositkan) dan diukur kadar ca tanah di laboratorium ilmu tanah.

3. Mengukur Pertumbuhan

Mengukur pertumbuhan (tinggi, diameter tanaman dan volume) secarasystematic sampling menggunakan plot ukur berbentuk lingkaran dengan jari-jari (r) sebesar 7,94 meter) dan jarak antar plot ukur 50 m. Setiap blok pengamatan diambil sebanyak 4 plot ukur, sehingga dengan 18 blok pengamatan yang meliputi 6 sistem lahan dan 3 ulangan memerlukan 72 plot ukur. Tinggi tanaman diukur pada permukaan tanah hingga batang bebas cabang (T.Bc) dan tinggi total (T. Tot) dihitung dari permukaan tanah hingga pucuk batang. Diameter tanaman diukur pada diameter setinggi dada (Dbh) atau ± 130 cm dari permukaan tanah.

Analisis Data

Volume dihitung dengan menggunakan rumus volume batang menurut Simon

2

dan f : faktor koreksi pohon sebesar 0,7. Analisis Regresi Linear (Gomez dan Gomez, 1995) dengan menggunakan SPSS versi 17.

Hasil dan Pembahasan

Hubungan Kadar Kalisum Tanah Terhadap Pertumbuhan (Tinggi, Diameter, Volume) Pengukuran kadar kalsium tanah yaitu kadar kalsium yang tersedia bagi tanaman (dapat ditukar) Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar kalsium pada masing-masing unit lahan. Unit lahan 1 dan 2 memiliki kadar kalsium dengan harkat rendah, unit lahan 3 dan 4 dengan harkat kalsium sedang dan unit lahan 5 dan 6 dengan kadar kalsium dengan harkat tinggi berdasarkan pada klasifikasi harkat hara menurut CSR/FAO (1983). Pertumbuhan tanaman selain dipengaruhi oleh faktor internal berupa genetik yang dibawa dari induknya juga dipengaruhi oleh faktor eksternal dari lingkungan berupa letak lahan, kondisi ekologis, iklim dan kesuburan tanah (Siregar 2005).

Jati merupakan jenis calcareus (Purwowidodo, 1991; Widodo,1989) yang memerlukan kalsium dalam jumlah banyak dapat dibuktikan pada tabel 1 bahwa terdapat hubungan yang linear antara kadar kalsium dan pertumbuhan tanaman. Ukuran pertumbuhan yang dimaksud meliputi Pengukuran tinggi tanaman bebas cabang (T.Bc) dan tinggi total (T.Total), diameter tanaman dan volume kayu komersial yaitu volume kayu bebas cabang (Jumani, 2009).

(15)

326

Rekapitulasi hasil pengukuran tinggi bebas cabang (T.Bc) dan tinggi total tanaman (T.Tot), diameter setinggi dada (DBH) dan penghitungan volume kayu (Tabel 1), menunjukkan bahwa bahwa kadar kalsium tanah menjalin hubungan linear nyata positif (P<0,05) terhadap tinggi batang bebas cabang (T.Bc), tinggi total tanaman (T.total), diameter dan volume kayu bebas cabang (V.Bc). Semakin besar kadar kalsium tanah maka akan dikuti oleh peningkatan tinggi tanaman baik tinggi bebas cabang maupun tinaggi total, diameter dan volume kayu.

Tabel 1. Hasil Pengukuran Kadar Kalsium tanah dan Pertumbuhan Tinggi Tanaman pada Masing-masing Unit Lahan

Unit lahan

Kadar kalsium tanah (me/100 g)

Tinggi (T.Bc) (m)

Tinggi Total (T.Total)

(m)

Diameter (cm)

Volume kayu (m3.ha-1)

1 3.37 5.23 10.91 16.40 63.83

2 4.22 7.07 13.91 18.18 108.56

3 6.62 7.81 14.24 19.26 135.19

4 7.20 7.64 14.25 18.55 114.42

5 10.57 8.34 15.39 20.61 162.37

6 10.91 8.38 15.85 22.27 169.94

Hubungan kadar kalsium dengan Tinggi, Diameter

dan Volume Jati

= 5,097+0,32X R2= 0.75

= 10,66+0,48X

R2= 0.76

=14,85+0,61X R2= 0.88

= 42,49+11,64X

R2= 0.87

Unit lahan yang memiliki Kadar kalsium tanah dengan harkat tinggi merupakan daerah dengan lahan yang terdapat pada geologi batuan kapur sehingga pH tanah lebih tinggi dan kadar kalsium tanah tinggi, menghasilkan rata-rata pertumbuhan tinggi bebas cabang 8,34-8,38 m, tinggi total 15,39-15,85 m, diameter 20,61-22,27 cm dan volume kayu 162,37-69,94 m3.ha-1. Lahan dengan kadar kalsium tanah dengan harkat sedang merupakan lahan dengan geologi terdapat intrusi batuan kapur menghasilkan pertumbuhan tanaman jati dengan rata-rata tinggi bebas cabang sebesar 7,64-7,81 m, tinggi total 14,24-14,25 m, diameter 18,55-19,26 cm dan volume kayu 135,19-114,42 m3.ha-1, sedangkan unit lahan dengan kadar kalsium tanah dengan harkat rendah menghasilkan tanaman jati dengan tinggi bebas cabang terendah 5,23-7,07 m, tinggi total 10,91-13,91 m, diameter 16,40-18,18 cm dan volume kayu 63,83-108,56 m3.ha-1. Hal ini membuktikan bahwa kadar kalsium di dalam tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman jati, semakin tinggi kadar kalsium tanah menunjukkan semakin tinggi pertumbuhan tanaman jati.

Riap tumbuh tanaman jati tertinggi daerah tropika basah pada daerah yang mengandung kadar kalsium tanah tinggi menunjukkan riap tinggi sebesar 1,44 m.th-1, riap diameter 2,03 cm.th-1 dan riap volume 15,45 m3.ha-1.th-1. Riap tanamn jati di daerah lain seperti di Jawa Barat dengan curah hujan yang tinggi di Kecamatan congeang pada umur 12 tahun memiliki riap tinggi terhadap tinggi total 1,02 m.th-1 dan riap volume 14,08 m3.ha-1.th-1 (Supriatna dan Widjayanto, 2011) dan di daerah ciamis dapat mencapai 2,25

(16)

327

m.th-1pada usia 5 tahun (Hadiyan, 2009). Pertumbuhan Jati di Kalimantan Timur pada Hutan Rakyat pada iklim tropika basah pada umur 8 tahun mencapai riap terhadap tinggi total sebesar 1,13 m.th-1 (Jumani, 2009). Berdasarkan pada perbandingan dengan daerah-daerah lain maka pertumbuhan jati di tropika basah di Kalimantan Selatan yang tumbuh pada lahan dengan kandungan kadara kalsium tanah tinggi mampu bersaing terhadap riap tinggi pada daerah lain pada curah hujan yang sama-sama tinggi bahkan di Jawa yang merupakan daerah indegeneus tanaman jati.

Kesimpulan

Jati di tropika basah seperti di Kalimantan Selatan memiliki pertumbuhan yang baik pada lahan-lahan yang memiliki kandungan kalsium tanah minimal dengan harkat kalsium tanah sedang. pertumbuhan tanaman tanaman jati akan terhambat pada daerah-daerah yang memiliki kadar kalsium tanah rendah, hal ini menunjukkan bahwa rendahnya kadar kalsium tanah menjadi salah satu factor penghambat terhadap pertumbuhan tanaman jati di tropika basah.

DAFTAR PUSTAKA

Bermejo I, Isabel Canellas I, Miguel A.S. 2003. Growth and yield models for teak Plantationsin Costa Rica. Forest Ecology and Management 189 (2004) 97 110 CSR/FAO Staff. 1983. Reconnaissance Land Resource Survey, Prepare For The Land

Evaluation With Emphasis on Outher Islands Project. Center For Soil Research, bogor Indonesia. Pp 105

Chongsuksantikun, P. and Tantiraphan, W. 1991.Study on the relationship between some soil properties and growth of Tectona grandis. Van saran, Dumanauw, J.F. 1994.

49 : 38-41

Gomez. K.A and Gomez. A. A. 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian Terjemahan Sjamsuddin E dan Baharsjah J.S. Edisi Kedua. Penerbit universitas Indonesia (UI-Press). pp 698 McGraw-Hill. Inc. Pp. 748

Hadiyan Y. 2009. Keragaman Pertumbuhan Jati (Tectona grandisL. F) Umur 5 Tahun Di Ciamis Jawa Barat. Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan. 2 (2) : 95-102

Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Edisi Revisi. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta. pp. 180

Jumani, 2009. Kelas Bonita Tanaman Jati (Tectona grandis Linn.f) Di Lokasi Hutan Rakyat Kelompok tani Ngudi Santoso Desa Bangun Rejo Kecamatan Tenggarong.

Jurnal AGRIFOR. 8 (1) : 21-25

Kaosa-ard A (1998) Overview of problems in teak plantation establishment. In: Kashio Masakazu and Kevin

Forum Komunikasi Jati IV. Tema Pengembangan Jati Unggul Untuk Peningkatan Produktivitas Hutan Rakyat. Yogyakarta. 2005.

Ombina C.A. 2008. Soil Characterization For teak (Tectona grandis) Plantation In Nzara District Of south sudan. Thesis Forest Science Departement of forestry Stellenbosch University.

Purwowidodo, 1991. Gatra Tanah dalam Pembangunan Hutan Tanaman. IPB Press.

Bogor.

Rugmini P, Balagopalan M, Jayaraman K. 2007. Modelling the growth of teak in relation to soil conditions in the Kerala part of the Western Ghats (Final Report of the Research Project No. KFRI/431/2004 April 2004 - March 2007). KFRI Research Report No.284A. ISSN 0970-8103. pp 46

(17)

328

Supriatna A.H, Wijayanto N. 2011. Pertumbuhan Tanaman Pokok Jati (Tectona grandis L.F) Pada Hutan Rakyat di Kecamatan Congeang Kabupaten Sumedang. Jurnal silvikultur Tropika. 3 : 130-135

Sumarna, Y. 2001 Budidaya Jati.

PT. Penebar Swadaya. Jakarta. pp 124

Verhaegen D, Fofana I.J, Zénor A. Logossa, Daniel Ofori D. 2010. What is the genetic origin of teak (Tectona grandis L.) introduced in Africa and in Indonesia?. Tree Genetics and Genomes (2010) 6 : 717 733

White (eds). RAP Publication: 1998/5, TEAKNET Publication: No. 1. Teak for the future.

In: Proceedings of the second regional seminar on teak, Yangon (Myanmar), 29 May-3 Jun 1995. FAO Regional Office for Asia and the Pacific (RAP), Bangkok, Thailand

Widjajani, B.W, Wisnubroto, E.I, Sukresno, Utomo, W.H. 2011.The Sustainability of Teak Forest Management in Cepu, Central Java Indonesia : A Soil Resources Point of View. J. Basic Appl.Sci.Res., I (9) : 1207-1213.

Widodo, P. 1989. Model Penduga Pertumbuhan Hasil Tegakan Hutan Tanaman Seumur Pinus merkusii Jungh et de Vriese. Disertasi Program Doktor Fakultas Pascasarjana IPB, Bogor.

Zobel, B dan Talbert, J. 1984. Applied Tree Improvement. John Wivey and Sons New York.

Zhou Z, Liang K, Xu D, Zhang Y, Huang G, Ma H. 2011. Effects of calcium, boron and nitrogen fertilization on the growth of teak (Tectona grandis) seedlings and chemical property of acidic soil substrate. DOI 10.1007/s11056-011-9276-6. New Forests (2012) 43 : 231 243.

(18)

Referensi

Dokumen terkait

Seminar Nasional Teknik Lingkungan IV 2018 mengangkat tema “Pengembangan Smart City melalui Pengelolaan Lingkungan yang Inovat if.” yang sesuai dengan visi-misi Universitas

Kegiatan itu merupakan bentuk pengamalan atau penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) yang dilaksanakan melembaga, melalui metode ilmiah, dan

Beberapa di antara sarana/prasarana itu adalah ruang pendidikan dan pelatihan (belajar mengajar, seminar, lokakarya), peralatan dan fasilitas peragaan, laboratorium,

Pakaian bukan lagi sekedar untuk menutupi bagian tubuh, namun apa yang dipakai mahasiswa akan menentukan siapa dirinya dan dari mana ia berasal, lingkungan lah yang menentukkan

HIDAYATULLAH 710035182 L 27-Oct-81 DEPHUT BALITBANG KEHUTANAN/ BALAI. PENELITIAN KEHUTANAN KU KUPANG

Seperti terlihat dalam denah memori-data Gambar 2, memori-data dibagi menjadi dua bagian, memori nomor $00 sampai $7F merupakan memori seperti RAM selayaknya

Rektor Universitas Lambung Mangkurat Jl. Dasar Hukum 1) Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyeleggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan

34 29 44 2 3 2 1 4 3 Buku berISBN Video berhak cipta Berita populer Artikel ilmiah prosiding seminar Nasional Artikel ilmiah Jurnal internasional Modul berISBN Permohonan paten