1. Home / 2. Archives /
3. Vo. 06, No. 04, Agustus 2018
Published: 2018-08-09 Articles
• PENGELOLAAN OBJEK WISATA CEKING TERRACE DI KABUPATEN GIANYAR
I Komang Iwan Saputra, Made Gde Subha Karma Resen, Cokorde Dalem Dahana 1-19
o PDF
• PELAKSANAAN KEWENANGAN UNIT PEMBERANTASAN PUNGUTAN LIAR (UPP) DAERAH KOTA DENPASAR DALAM PENERTIBAN PARKIR YANG DISELENGGARAKAN DESA PAKRAMAN
Putu Ari Permadi, I Made Arya Utama, I Ketut Suardita 1-15
o PDF
• PENYESUAIAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KABUPATEN BADUNG DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 26 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BADUNG TAHUN 2013-2033
Komang Yoga Saputra, I Gusti Ngurah Wairocana, I Ketut Suardita 1-15
o PDF
• EFEKTIVITAS PENANGANAN MASALAH SAMPAH BERBASIS MASYARAKAT DI DESA TANGKAS SEBAGAI PENERAPAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG NO. 7 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Ni Made Trisna Yogi, Ngakan Ketut Dunia 1-5
o PDF
• LEGALITAS PENJATUHAN EKSEKUSI MATI MENURUT HUKUM INTERNASIONAL (STUDI KASUS GURDIP SINGH)
Angga Nurhadi, I Gede Pasek Eka Wisanjaya, Made Maharta Yasa 1-14
o PDF
• PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 24 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH KOS TERKAIT PENYEWAAN RUMAH KOS KURANG DARI SATU BULAN
Yunizar Armani Husnan, I Ketut Suardita, Cokorda Dalem Dahana 1-15
o PDF
• IMPLEMENTASI PERATURAN WALIKOTA DENPASAR NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PENYELENGGARAAN REKLAME DALAM RANGKA PENERTIBAN REKLAME DI KOTA DENPASAR
I Made Andika Wesnala, I Nyoman Suyatna, I Ketut Sudiarta 1-16
o PDF
• IMPLIKASI PENERAPAN PERATURAN KAWASAN TERTIB HUKUM DALAM UPAYA PENGATURAN LALU LINTAS OLEH PEMERINTAH KABUPATEN BULELENG
I Made Adi Krisna Jayantara, I Gusti Ngurah Wairocana, Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati 1-15
o PDF
• PENYELENGGARAAN MANAJEMEN ASN BERDASARKAN SISTEM MERITMENURUT PASAL 51 UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA
Ni Putu Yayi Laksmi, I Ketut Markeling 1-12
o PDF
• FUNGSI PENGAWASAN DPRD PROVINSI BALI TERHADAP PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH
Ni Putu Ayu Ika Budha Yanthi, I Ketut Markeling 1-14
o PDF
• EFEKTIVITAS PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DALAM MELINDUNGI MASYARAKAT TERHADAP DAMPAK BAU PENANGANAN SAMPAH DI TPA PESANGGARAN
Luh Putu Nitya Dewi, I Made Arya Utama 1-13
o PDF
• PENGELOLAAN DANA DESA SEBAGAI UPAYA PEMBANGUNAN DESA DI DESA PERERENAN, KECAMATAN MENGWI, KABUPATEN BADUNG
Putu Satria Satwika Anantha, I Ketut Sudiarta 1-16
o PDF
• PERAN KANTOR IMIGRASI KELAS I DENPASAR DALAM MENCEGAH PENYALAHGUNAAN BEBAS VISA KUNJUNGAN BAGI ORANG ASING DI KOTA DENPASAR
I Putu Dicky Ramandhika Putra, I Gusti Ngurah Wairocana 1-12
o PDF
• IMPLEMENTASI KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NO 47 TAHUN 1999 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN KINERJA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (STUDI KASUS DI KABUPATEN
KLUNGKUNG)
Ida Bagus Putu Surya Chandra, I Gusti Ngurah Wairocana 1-15
o PDF
• PENGATURAN TENTANG PERSYARATAN ARSITEKTUR BALI TERHADAP BANGUNAN GEDUNG DI KOTA DENPASAR
I Putu Andika Pratama, I Ketut Suardita 1-15
o PDF
• ANALISIS PENGATURAN DALAM PERJANJIAN BILATERAL TENTANG YURISDIKSI
EKSTRATERITORIAL STATUS PERSONEL PADA PEMBANGUNAN PANGKALAN MILITER ASING
Kadek Genia Teresia, I Gde Putra Ariana 1-19
o PDF
• ANALISA HUKUM AMBANG BATAS PENCALONAN PRESIDEN (PRESIDENTIAL THRESHOLD) DALAM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG PEMILIHAN UMUM
Dewa Putu Wahyu Jati Pradnyana, I Gede Yusa, Ni Luh Gede Astariyani 1-13
o PDF
• PERTANGGUNGJAWABAN NEGARA PENGIRIM TERHADAP PENYALAHGUNAAN KEWENANGAN OLEH PEJABAT DIPLOMATIK
Lastri Timor Jaya, Putu Tuni Caka Bawa Landra 1-15
o PDF
• EFEKTIVITAS PERATURAN MENGENAI PENATAAN, PEMBANGUNAN, DAN PENGEMBANGAN KAWASAN PARIWISATA DI NUSA PENIDA
Anak Agung Gde Bagus Kresna Candra Wardhana, I Ketut Sudiarta 1-17
o PDF
• PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELANGGARAN PEMBUANGAN LIMBAH LAUNDRY DI KECAMATAN DENPASAR SELATAN KOTA DENPASAR
A.A. Pt. Paramitha P.D, I Nyoman Suyatna, NGA Dyah Satyawati 1-14
o PDF
• PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GIANYAR NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP) DALAM KAITANNYA DENGAN USAHA TOKO MODERN (MINIMARKET) DI KABUPATEN GIANYAR
Anak Agung Bagus Yudi Surya Dharma, I Ketut Suardita, Cokorda Dalem Dahana 1-15
o PDF
• PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG MELALUI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN SEBAGAI INSTRUMEN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN BULELENG
I Gusti Agus Alit Doni Saputra, I Ketut Sudiarta, Ni Gusti Ayu Dyah Satyawati 1-14
o PDF
• FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PENCATATAN KELAHIRAN DAN AKIBAT HUKUMNYA DI KABUPATEN BADUNG
Ni Luh Gede Sumertini, Cok Istri Anom Pemayun, Kadek Sarna 1-26
o PDF
• ANALISIS HUKUM TENTANG PENGAWASAN LEMBAGA PERKREDITAN DESA (LPD) OLEH PEMERINTAH KOTA DENPASAR
I Gede Abitha Satria, A.A. Gde Oka Parwata 1-14
o PDF
• PERSPEKTIF KEBIJAKAN PEMBATASAN PASAR MODERN BERJEJARING DESA PAKRAMAN BERMODUL SINERGITAS PEREKONOMIAN DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Ni Komang Sayu Sri Anita Dewi, I Gde Putra Ariana 1-18
o PDF
• PENEGAKAN PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KETERTIBAN UMUM TERHADAP USAHA SPA PENYEDIA PROSTITUSI
Komang Arya Suzen Agustina, Made Gde Subha Karma Resen, Cokorda Dalem Dahana 1-16
o PDF
• PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KEANEKARAGAMAN HAYATI LAUT DALAM DITINJAU DARI PERSPEKTIF HUKUM LAUT INTERNASIONAL
Ida Bagus Putu Abhijana Brahmastra, Made Maharta Yasa 1-15
o PDF
• KEWENANGAN PEMERINTAH KOTA DENPASAR DALAM MENGATUR DAN PENGENDALIAN BANGUNAN DI SEPANJANG KAWASAN SEMPADAN PANTAI
Ni Luh Gede Debby Andriani Lestari, Ibrahim R 1-12
o PDF
• PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK HIBURAN KARAOKE BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN
Gde Bagus Taruna Satria Arimbawa, I Wayan Parsa, I Ketut Suardita 1-14
o PDF
• PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 11 TAHUN 2005 TENTANG SISTEM PENYELENGGARAAN PERPARKIRAN KHUSUSNYA MENGENAI SANTUNAN KEHILANGAN KENDARAAN BERMOTOR OLEH PERUSAHAAN DAERAH PARKIR DI KOTA DENPASAR
I Putu Chandra Riantama, Putu Gede Arya Sumerta Yasa, Cokorda Dalem Dahana 1-15
o PDF
• PERANAN ASEAN DALAM PENYELESAIAN KASUS PENGHINAAN TERHADAP SIMBOL-SIMBOL NEGARA DI KAWASAN ASIA TENGGARA
Putu Wikan Antarini Pratiwi, Ida Bagus Erwin Rana Wijaya 1-17
o PDF
• IMPLIKASI PERLUASAN HAK IMUNITAS ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TERHADAP PRINSIP EQUALITY BEFORE THE LAW
Dewa Ayu Sekar Saraswati, I Nengah Suantra 1-16
o PDF
• PENGAWASAN PEMERINTAH TERHADAP LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PARIWISATA DI PROVINSI BALI
A. A. Ngr. Eka Bhuana Putra, I Nyoman Suyatna, Made Gde Subha Karma Resen 1-14
o PDF
• PENEGAKAN HUKUM PADA ALUR LAUT KEPULAUAN INDONESIA
Komang Hare Yashuananda, I Gede Pasek Eka Wisanjaya, Made Maharta yasa 1-12
o PDF
• PENYELESAIAN SENGKETA IMPOR DAGING AYAM ANTARA BRASIL DENGAN INDONESIA MELALUI DISPUTTE SETTLEMENT BODY WORLD TRADE ORGANIZATION
Luh Made Junita Dwi Jayanti, I Gede Putra Ariana 1-12
o PDF
• TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NO. 9 TAHUN 2004 TENTANG SURAT IJIN USAHA PERDAGANGAN (SIUP)
I.B. Misdinata Prabawa, I Ketut Sudiarta 1-14
o PDF
• IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 26 TAHUN 2013 MENGENAI OBJEK WISATA ALAM AIR TERJUN NUNGNUNG
Ni Luh Chintya Pratiwi, I Ketut Markeling
1-12
o PDF
• PENERAPAN ASAS MANFAAT DAN ASAS TIMBAL BALIK DALAM PERPRES R.I NO. 21 TAHUN 2016 TENTANG BEBAS VISA KUNJUNGAN
Ni Made Adinda Wikan Dewi, Made Subawa 1-13
o PDF
i
PENGELOLAAN OBJEK WISATA CEKING TERRACE DI KABUPATEN GIANYAR
Oleh:
I Komang Iwan Saputra* Made Gde Subha Karma Resen**
Cokorde Dalem Dahana***
Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Udayana
ABSTRAK
Penelitian yang berjudul Pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace Di Kabupaten Gianyar dilatarbelakangi dengan adanya permasalahan dimasyarakat akan pembagian hasil yang tidak merata dalam pengelolaannya. Sehingga menyebabkan adanya tindakan seorang pemilik lahan bernama I Gusti Ngurah Candra yang melakukan pemasangan seng di lahan sawahnya agar wisatawan yang melihat sawahnya dari Desa Tegallalang terganggu pengelihatannya.
Berdasarkan uraian diatas adapun permasalahan yang dibahas adalah Bagaimana pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace di Kabupaten Gianyar dan faktor apa yang menghambat dalam pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum yuridis empiris.
dengan jenis pendekatan perundang-undangan dan pendekatan fakta.
Hasil dari penelitian ini yaitu pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace yang dilakukan oleh Badan Pengelola Objek Wisata Ceking, di lakukan dengan cara kerjasama antara badan pengelola dengan pemilik lahan sawah dari Dusun Kebon Desa Kedisan.
Badan pengelola tersebut di bentuk melalui Peraturan Bendesa Desa Pakraman Tegallalang Nomor 005/VII/DPT/2011 tentang Penataan Wilayah Ceking Tanggal 13 Juli 2011. Dasar hukum pengelolaannya yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10 tahun 2013 tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar, Pasal 26 ayat (2) yang ditentukan Desa Pakraman dan Lembaga tradisional mempunyai hak untuk mengembangkan wisata pedesaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku. Namun dalam kerjasama tersebut tidak semua pihak terlibat dalam pembagian hasil, sehingga
* Penulis Pertama I Komang Iwan Saputra Mahasiswa Fakultas Hukum Uniersitas Udayana. Korespondensi: [email protected]
** Penulis Kedua Made Gde Subha Karma Resen Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana.
*** Penulis Ketiga Cokorde Dalem Dahana Dosen Fakultas Hukum Universitas Udayana.
ii menyebabkan terjadinya permasalahan seperti yang tersebut diatas. Disampaikan oleh Bendesa Desa Pakraman Tegallalang selaku ketua pengelola akan melakukan tindak lanjut dengan memohon ke pemerintah daerah sehingga dapat menengahi permasalahan yang dihadapi.
Kata Kunci: Pengelolaan, Objek Wisata, Desa Pakraman.
ABSTRACT
The research entitled Management of Ceking Terrace Tourist Objects in Gianyar Regency is motivated by the existence of problems in the community will be uneven distribution of results in its management. So that caused the action of a landowner named I Gusti Ngurah Candra who do the installation of zinc in his rice field so that tourists who see the rice field from the village of Tegallalang disturbed his sight.
Based on the description above as for the issues discussed is How the management of Ceking Terrace Tourist Attraction in Gianyar Regency and what factors inhibit the management of Ceking Terrace Tourist Attraction. In this research use juridical empirical law research method. with the type of legislation approach and factual approach.
The result of this research is the management of Ceking Terrace Tourist Objects conducted by the Ceking Tourist Attraction Management Agency, conducted by way of cooperation between the managing agency with the owner of the rice field from Dusun Kebon Desa Kedisan. The governing body is in the form of Rule Bendesa Desa Pakraman Tegallalang Number 005 / VII / DPT / 2011 on Ceking Area Arrangement on July 13, 2011. The legal basis of its management is the Regulation of Gianyar Regency Number 10 of 2013 on Cultural Tourism of Gianyar Regency, Article 26 paragraph ( 2) determined by Desa Pakraman and traditional institutions have the right to develop rural tourism in accordance with applicable laws and regulations. But in the cooperation not all parties involved in the distribution of results, causing the occurrence of problems such as the above. Presented by Bendesa Desa Pakraman Tegallalang as chairman of the manager will follow-up by applying to the local government so that it can mediate the problems faced.
Keywords: Management, Tourist Attraction, Pakraman Village.
1 I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pariwisata merupakan sektor kompleks karena pariwisata bersifat multidimensi, baik fisik, politik, sosial budaya dan ekonomi. Kegiatan pariwisata sebagai kegiatan matarantai yang melibatkan berbagai sektor dan lembaga terkait1. Dalam kepariwisataan ada dua jenis objek dan daya tarik wisata, yaitu objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam, serta flora fauna dan objek daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud Museum, Peninggalan Purbakala, Peninggalan Sejarah, Seni Budaya, dan Tempat Hiburan2. Gianyar memiliki sejumlah daerah tujuan wisata terkenal seperti Objek Wisata Ceking Terrace. Objek Wisata Ceking Terrace dikenal dengan pemandangan terasering atau persawahan berundak-undak pada daerah miring atau lereng bukit yang ada di antara Desa Tegallalang dengan Dusun Kebon Desa Kedisan.
Dengan adanya sistem terasering tersebut menjadikan Desa Tegallalang ramai dikunjungi wisatawan. Namun Objek Wisata Ceking Terrace kembali terusik dengan pemasangan seng.
Sebanyak tujuh lembar seng dipasang di Objek Wisata Ceking Terrace oleh pemilik lahan I Gusti Ngurah Candra. Selama seminggu lebih pemasangan seng tersebut diakui belum menarik respon dari pihak pengelola dalam hal ini Desa Pakraman Tegallalang. “Bendesa tidak ada bicara apa. Kayaknya ngak mempan pasang seng,” terangnya. Penasehat pengelola Objek Wisata Ceking Terrace, Dewa Gede Rai Sutrisna menjelaskan pihak pengelola sudah melakukan pendataan terhadap warga yang
1Anwar, K., & Berkahti, S. (2015). Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Pariwisata Pantai Selatbaru Kabupaten Bengkalis. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 2(1).
2Ismayanti.2010, Pengantar Pariwisata, Grasindo, Jakarta, h. 148.
2 memiliki lahan di objek wisata tersebut. Diakui Gusti Ngurah Candra belum masuk dalam data tersebut. jelas pria yang juga Perbekel Tegalalang ini.
Dikatakan sejak mulai dikelola 2012 lalu, per orang pemilik lahan mendapat kontribusi Rp 500 ribu per bulan. Jumlah tersebut sudah sesuai dengan kesepakatan bersama dengan menggunakan sistem kontrak. Beberapa tahun kemudian seiring perkembangan pariwisata nilai kontraknya ditingkatkan menjadi Rp 2 juta per bulan. “Sebulan terakhir inilah nilai kontrak kembali diperbaharui menjadi Rp 4,5 juta per bulan” katanya.
Terkait adanya upaya protes dengan cara memasang seng ini, Dewa Gede Rai Sutrisna menjelaskan akan melakukan tindak lanjut. Diakui dalam hal ini hanya kurang komunikasi antara pihak pengelola dengan pemilik lahan. “Dilihat dari posisi lahannya memang agak jauh ke utara, mungkin karena itu belum dikomunikasikan,” terangnya. Untuk menciptakan suasana kondusif pihaknya berjanji akan melakukan rembug dengan pihak Desa Pakraman Tegallalang selaku pengelola, Meski saat ini diketahui belum ada upaya pengembangan view. “Tapi kedepan, kemungkinan itu tetap ada. Masih ada waktu untuk berdiskusi, 3”.
1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujian penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace di Kabupaten Gianyar. Serta untuk mengetahui faktor yang menghambat dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace.
3Manik Astajaya, 2017, Objek Wisata Ceking Kembali Ditutupi Seng, http://www.balipost.com/news/2017/08/03/17011/Objek-Wisata-Ceking- Kembali-Ditutupi.html. Diakses tanggal 3 Agustus 2017
3 II. ISI MAKALAH
2.1. Metode Penelitian
Penelitian ini mengunakan metode penelitian hukum empiris atau metode penelitian yuridis empiris. Yuridis berarti “menurut hukum; secara hukum; dari segi hukum”4. Sedangkan empiris berarti “berdasarkan pengalaman”5. Jadi penelitian yuridis empiris yaitu penelitian berdasarkan teori-teori serta berdasarkan perundang-undangan yang berlaku kemudian dihubungkan dengan keadaan secara nyata dilapangan. Bahder Johan Nasution mengatakan bahwa “Penelitian empiris berarti ingin mengetahui sejauh mana hukum itu bekerja dalam masyarakat”6. Dalam penelitian ini yang diteliti adalah bagaimana pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace di Kabupaten Gianyar.
2.2. Hasil dan Analisis Data
2.2.1. Pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace di Kabupaten Gianyar
a. Pengaturan Pengelolaan Pariwisata di Indonesia
Peraturan perundang-undangan menjadi sangat penting dan tidak bisa diabaikan terutama dalam suatu negara hukum.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu unsur dari negara hukum adalah pemerintahan berdasarkan peraturan perundang- undangan atau negara yang sering disebut asas legalitas. Asas legalitas adalah syarat yang menyatakan bahwa perbuatan atau keputusan administrasi negara tidak boleh dilakukan tanpa dasar undang-undang tertulis7. Dengan kata lain, setiap
4 Soesilo Pragojo, 2017, Kamus Hukum, Wipress, Jakarta, h.516.
5 J.C.T. Simorangkir et. Al., 1995, Kamus Hukum, Bumi Aksara, Jakarta, h.22.
6Bahder Johan Nasution, 2008, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar maju, Bandung, h. 3.
7 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, 2016, RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 97.
4 penyelenggaraan dan pemerintahan harus memiliki legitimasi, yaitu kewenangan yang diberikan oleh undang-undang. Dengan demikian substansi asas legalitas adalah wewenang, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan hukum tertentu”8.
Pemerintah telah menerapkan kebijakan pemandu dalam setiap perencanaan pembangunan kepariwisataan agar tetap dilestarikan dan mempertahankan nilai budaya serta kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. Dengan demikian maka pengembangan pariwisata harus memperhatikan kepentingan masyarakat lokal, sehingga masyarakat lokal dapat memperoleh kesempatan untuk kesejahtraan9. Untuk melaksanakannya pemerintah menerapkan sejumlah kebijakan pemandu dalam setiap perencanaan pembangunan kepariwisataan yang tertuang dalam sejumlah aturan hukum yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan;
3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2011 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010-2025;
4. Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali;
5. Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10 Tahun 2013 tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar.
b. Pengelolaan Objek Wisata oleh Desa Pakraman di Kabupaten Gianyar
8Ibid, h. 98.
9 Setyorini, T. (2004). Kebijakan Pariwisata dalam rangka meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat kabupaten Semarang (Doctoral dissertation, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro) Semarang, h.
35.
5 Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 18 ayat (6) ditentukan “Pemerintah Daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan”. Melaksanakan ketentuan tersebut, lahirlah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Ditentukan pada Pasal 1 angka 6 “Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.
Pemberian kewenangan otonomi harus berdasarkan asas desentralisasi dan dilaksanakan dengan prinsip luas, nyata dan bertanggungjawab10. Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa ditentukan bahwa desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat dan berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kata desa berasal dari bahasa Sansekerta, deca yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran. Dari perspektif geografis, desa atau village diartikan sebagai “a groups of hauses or shops in a country area, smaller than a town”. Desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk didalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia11.
10 Hari Sabarno, 2010, Memandu Otonomi Daerah Menjaga Kesatuan Bangsa, Sinar Grafika, Jakarta, h. 30.
11 Bayu Suryaningrat, 1981, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (L.K.M.D) dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (P.K.K) (dilengkapi peraturan
6 Guna menjamin kesejahteraan masyarakat sesuai dengan yang di cita-citakan, pemerintah Provinsi Bali mengeluarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali yang ditentukan bahwa kepariwisataan Bali bertujuan untuk mendorong pemerataan kesempatan berusaha dan memperoleh manfaat yang sebesar- besarnya bagi kesejahteraan masyarakat sehingga terwujud cita- cita kepariwisataan untuk Bali. Yang didukung oleh peran serta masyarakat dalam pengelolaan daya tarik wisata sesuai dengan Pasal 24 Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali yang ditentukan bahwa:
(1)Masyarakat berhak memperoleh kesempatan yang seluas- luasnya untuk berperan-serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan.
(2)Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup:
a. Sebagai pekerja pada usaha pariwisata;
b. Sebagai pengelola daya tarik wisata;
c. Melaksanakan promosi;
d. Duduk dalam kelembagaan pariwisata.
Pasal 26 ayat (2) ditentukan “Desa Pakraman dan Lembaga tradisional mempunyai hak untuk mengembangkan wisata pedesaan sesuai dengan potensi setempat”. Yang kemudian didukung oleh Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10 Tahun 2013 tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar.
Ditentukan dalam Pasal 16 ayat (1) “Pengelolaan daya tarik wisata dapat dilakukan oleh perorangan, lembaga tradisional, Desa Pakraman, organisasi, dan badan usaha berbadan hukum”. Pasal 26 ayat (2) “Desa Pakraman dan lembaga tradisional mempunyai hak untuk mengembangkan wisata pedesaan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku”.
dan peraturan pelaksana, Organisasi dan Tata Kerja L.K.M.D. dan P.K.K, Jakarta, h.12
7 c. Pelaksanaan Pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace di
Kabupaten Gianyar
Berdasarkan Keputusan Bupati Gianyar Nomor 402 Tahun 2008 tentang Penetapan Objek dan Daya Tarik Wisata Kabupaten Gianyar, Desa Tegallalang merupakan salah satu dari sekian objek dan daya tarik wisata yang ditetapkan dan merupakan objek dan daya tarik wisata alam. Wisata alam tersebut antara lain keanekaragaman hayati, keunikan dan keaslian budaya tradisional, keindahan bentang alam dan gejala alam12. Objek Wisata Ceking Terrace di dkenal akan keindahan sawah berundak- undak pada daerah miring/lereng bukit yang ada di antara Desa Pakraman Tegallalang dengan Desa Pakraman Kedisan tepatnya Dusun Kebon. Seluruh potensi wisata alam tersebut merupakan sumber daya ekonomi yang bernilai tinggi dan sekaligus merupakan media pendidikan dan pelestarian lingkungan13.
Dalam memenuhi fasilitas yang diperlukan dalam menunjang kegiatan kepariwisataan di Kabupaten Gianyar dijelaskan oleh Ni Ketut Mariatni Sukadewi selaku kepala bidang destinasi pariwisata Kabupaten Gianyar, pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace berpedoman pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 41 Tahun 2010 tentang Standarisasi Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pasal 5 ditentukan bahwa:
(1)Pengelolaan daya tarik wisata alam dan budaya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Memiliki pengelola objek wisata dengan manajemen yang tertata dan disarankan berbadan hukum;
b. Memprioritaskan sumber daya manusia yang dipekerjakan dari masyarakat setempat;
c. Memiliki toilet yang standar;
d. Memiliki fasilitas P3K yang memadai;
12 Ketut Wirata, 2015, Kebijakan Pengelolaan Wisata Ekoreligi Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Hukum Adat Bali, Surya Pena Gemilang, Jawa Timur, h.15.
13 Ibid.
8 e. Memiliki loket penjualan tiket/karcis/donasi;
f. Memiliki petugas yang menangani keamanan;
g. Memiliki petugas yang menangani parkir;
h. Memiliki petugas yang menangani kebersihan;
i. Memiliki fasilitas parkir;
j. Memiliki fasilitas tempat sampah yang cukup memadai;
k. Memiliki informasi tentang daya tarik wisata;
l. Memiliki usaha penunjang DTW seperti art shop, restoran, warung dan lain-lain yang ditempatkan di tempat parkir.
Dasar hukum dalam pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace dijelaskan oleh Ibu Ni Ketut Mariatni Sukadewi selaku kepala bidang destinasi pariwisata Kabupaten Gianyar mengacu pada Pasal 24 Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali yang ditentukan bahwa:
(1) Masyarakat berhak memperoleh kesempatan yang seluas- luasnya untuk berperan-serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan.
(2)Hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup:
a. Sebagai pekerja pada usaha pariwisata;
b. Sebagai pengelola daya tarik wisata;
c. Melaksanakan promosi;
d. Duduk dalam kelembagaan pariwisata.
Pasal 26 ayat (2) “Desa Pakraman dan lembaga tradisional mempunyai hak untuk mengembangkan wisata pedesaan sesuai dengan potensi setempat”. Dan Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10 Tahun 2013 tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar yang ditentukan dalam Pasal 16 ayat (1)
“Pengelolaan daya tarik wisata dapat dilakukan oleh perorangan, lembaga tradisional, Desa Pakraman, organisasi, dan badan usaha berbadan hukum”. Pasal 24 Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10 Tahun 2013 tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar ditentukan bahwa:
9 (1)Masyarakat berhak memperoleh kesempatan yang seluas-
luasnya untuk berperan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan.
(2)Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Sebagai pekerja pada usaha pariwisata;
b. Sebagai pengelola daya tarik wisata;
c. Melaksanakan promosi; dan
d. Duduk dalam kelembagaan pariwisata.
Pasal 26 ayat (2) “Desa Pakraman dan lembaga tradisional mempunyai hak untuk mengembangkan wisata pedesaan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku”. Yang kemudian memberikan keleluasaan Desa Pakraman atau lembaga tradisional lainnya untuk mengelola dan mengembangkan wisata pedesaan sesuai dengan potensi setempat. Sehingga untuk mempertahankan, keindahan, keaslian dan keasrian warisan budaya alam tersebut dan untuk memanfaatkannya untuk kepentingan pertumbuhan ekonomi masyarakat pedesaan, Desa Pakraman Tegallalang mengeluarkan Peraturan Bendesa Desa Pakraman Tegallalang Nomor 005/VII/DPT/2011, tentang Penataan Wilayah Ceking Tanggal 13 Juli 2011. Yang ditentukan dalam Pasal 2 “Penataan wilayah Ceking dilaksanakan oleh Desa Pakraman Tegallalang”. Menurut Bapak I Made Suprapta selaku wakil Bendesa Desa Pakraman Tegallalang pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace yang dilakukan oleh Desa Pakraman Tegallalang tersebut merupakan pengelolaan yang dilakukan secara kerjasama oleh Desa Pakraman Tegallalang dengan pemilik view sawah yang berasal dari Dusun Kebon Desa Pakraman Kedisan dengan sistem kontrak.
Mengenai peran serta Pemerintah Daerah berkaitan dengan pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace di Kabupaten Gianyar ditinjau dari Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10
10 Tahun 2013 tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar bahwa pemerintah berperan serta dalam pengembangan dan pengelolaan kepariwisataan sesuai dengan Pasal 32 yang ditentukan bahwa:
(1)Bupati melakukan pembinaan dan pengawasan kegiatan kepariwisataan budaya Kabupaten Gianyar;
(2)Pembinaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengelolaan dan tenaga kerja pariwisata, lingkungan destinasi pariwisata, mekanisme pemasaran pariwisata dan penguatan kelembagaan kepariwisataan;
Dijelaskan oleh Ibu Ni Ketut Mariatni Sukadewi selaku kepala bidang destinasi pariwisata Kabupaten Gianyar walaupun dalam pengelolaannya tersebut dilakukan secara kerjasama antara Badan Pengelola Objek Wisata Ceking (BPOWC) dengan pihak pemilik view sawah dari Dusun Kebon Desa Pakraman Kedisan, Pemerintah Daerah dalam hal ini dinas pariwisata tetap melakukan pembinaan terhadap pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace seperti mengadakan seminar kepariwisataan, pelatihan tenaga kerja pariwisata, mengadakan evaluai sewaktu-waktu dan tetap mempromosikan Objek Wisata Ceking Terrace.
2.2.2. Faktor penghambat serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace Di Kabupaten Gianyar
1. Pelaksanaan pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace yang dilakukan oleh badan pengelola Objek Wisata Ceking memiliki hambatan yaitu:
a. Pemilik lahan dari Dusun Kebon Desa Kedisan yang tidak turut dalam perjanjian kontrak pembagian hasil memasang seng di lahan yang dimilikinya sehingga wisatawan yang melihat objek sawah dari Desa Pakraman Tegallalang terganggu pengelihatannya.
11 b. Kurangnya lahan parkir pada Objek Wisata Ceking
Terrace yang menyebabkan kemacetan.
c. Wisatawan sering melakukan tracking ke kawasan objek Rice Terrace.
d. Pedagang acung sering memaksa wisatawan untuk berbelanja.
e. Pemilik lahan hanya menerima hasil kontrak dari badan pengelola tanpa menandatangani perpanjangan kontrak.
f. Kawasan daya tarik view Rice Terrace di bangun fasilitas penunjang kegiatan pariwisata.
2. Upaya yang dilakukan oleh badan pengelola Objek Wisata Ceking untuk mengatisi permasalahan diatas yaitu:
a. Untuk menjaga kenyamanan wisatawan yang berkunjung, akan dikoordinasikan kembali mengenai keberatan yang dilakukan dengan memasang seng tersebut agar adanya pengembangan view dan dapat menciptakan suasana kondusif.
b. Upaya yang dilakukan badan pengelola mengenai kurangnya lahan parkir yaitu pembelian lahan seluas 38 are dan 25 are (Mengontrak).
c. Upaya yang dilakukan badan pengelola untuk menjaga keindahan, keasrian dan keaslian objek Rice Terrace dengan memasang papan pengumuman yang berisikan larangan untuk melakukan tracking.
d. Upaya badan pengelola mengatasi pedagang acung yaitu mengeluarkan Keputusan Bendesa Desa Pakraman Tegallalang Nomor 137//DPT/V/2015 ditentukan “Untuk menjaga keamanan dan kenyamanan yang berkunjung ke Objek Wisata Ceking
12 Terrace maka pedagang tidak diperkenankan berjualan di area Objek Wisata Ceking Terrace, apabila tidak memiliki tempat yang tetap untuk memajang dagangannya”.
e. Akan dikomunikasikan kembali terkait permasalahan nilai kontrak yang mungkin perlu diperbaharui sehingga dapat menciptakan suasana kondusif.
f. Guna mengatasi permasalahan yang ada di kawasan Objek Wisata Ceking Terrace, dilakukan cara menutup akses jalan tracking dan memohon kepada pihak Pemerintah Daerah untuk dapat menengahi permasalahan pada kawasan Objek Wisata Ceking Terrace.
13 III. PENUTUP
1.1. 3.1. Kesimpulan
1. Pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace yang dilakukan Badan Pengelola Objek Wisata Ceking dilakukan dengan cara kerjasama oleh Badan Pengelola Objek Wisata Ceking dengan pemilik lahan view sawah dari Dusun Kebon Desa Kedisan. Di bentuk melalui Peraturan Bendesa Desa Pakraman Tegallalang Nomor 005/VII/DPT/2011 tentang Penataan Wilayah Ceking Tanggal 13 Juli 2011. Dasar hukum pengelolaannya berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10 tahun 2013 tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar, Pasal 26 ayat (2) “Desa Pakraman dan lembaga tradisional mempunyai hak untuk mengembangkan wisata pedesaan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Namun tidak semua pemilik lahan view sawah terlibat dalam pembagian hasil. sehingga menimbulkan permasalahan dalam pengelolaannya.
2. Hambatannya yaitu pemilik lahan view sawah dari Dusun Kebon Desa Kedisan yang tidak turut dalam perjanjian kontrak pembagian hasil, memasang seng di lahannya, Kurangnya lahan parkir pada Objek Wisata Ceking Terrace menyebabkan kemacetan, Wisatawan sering melakukan tracking ke kawasan objek Rice Terrace, Kawasan daya tarik view Rice Terrace di bangun fasilitas penunjang kegiatan pariwisata. Guna mengatasi permasalahan yang ada di kawasan Objek Wisata Ceking Terrace, dilakukan cara pembelian lahan parkir, memasang papan pengumuman untuk larangan tracking,
14 menutup akses jalan tracking, dan memohon kepada pihak Pemerintah Daerah untuk dapat menengahi permasalahan pada kawasan Objek Wisata Ceking Terrace.
3.2. Saran
1. Diharapkan keseriusan Pemerintah Daerah dalam turut serta dalam pengawasan serta evaluasi terhadap pengelolaan Objek Wisata Ceking Terrace yang sudah ditetapkan menjadi daya tarik wisata alam Kabupaten Gianyar sehingga dapat memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi dalam pengelolaannya.
2. Perlunya Sosialisasi bagi masyarakat akan pentingnya peran pemerintah dalam pengelolaan objek wisata tersebut sehingga dapat bertahan menjadi daya tarik wisata yang di cita-citakan dan berkelanjutan untuk masa depan masyarakat desa itu sendiri.
15 DAFTAR PUSTAKA
Buku
Bayu Suryaningrat, 1981, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (L.K.M.D) dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (P.K.K) (dilengkapi peraturan dan peraturan pelaksana, Organisasi dan Tata Kerja L.K.M.D. dan P.K.K, Jakarta
Hari Sabarno, 2010, Memandu Otonomi Daerah Menjaga Kesatuan Bangsa, Sinar Grafika, Jakarta,
Ismayanti,. 2010, Pengantar Pariwisata, Grasindo, Jakarta.
Nasution, Bahder Johan, 2008, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar maju, Bandung
Pragojo, Soesilo, 2017, Kamus Hukum, Wipress, Jakarta.
Ridwan, HR, 2016, Hukum Administrasi Negara, Jakarta, Raja Grafindo Persada,
Simorangkir J.C.T, et. al, 1995, Kamus Hukum, Bumi Aksara, Jakarta.
Wirata, Ketut, 2015, Kebijakan Pengelolaan Wisata Ekoreligi Berkelanjutan Berbasis Masyarakat Hukum Adat Bali, Surya Pena Gemilang, Jawa Timur.
Jurnal
Anwar, K., & Berkahti, S. (2015). Implementasi Kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Pariwisata Pantai Selatbaru Kabupaten Bengkalis. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 2(1).
Setyorini, T. (2004). Kebijakan Pariwisata dalam rangka meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat kabupaten Semarang (Doctoral dissertation, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Diponegoro)
Internet
Manik astajaya, 2017, Objek Wisata Ceking Kembali Ditutupi Seng,
http://www.balipost.com/news/2017/08/03/17011/Objek-
16 Wisata-Ceking-Kembali-Ditutupi.Html. Diakses tanggal 3 Agustus 2017
Peraturan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945;
Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 Tentang Kepriwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 11)
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5495)
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2287)
Peraturan Pemerintah RI Nomor 67 Tahun 1996 tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3658)
Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010- 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5262)
Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Kepariwisataan Budaya Bali (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2012 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Bali Nomor 2).
Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10 tahun 2013 Tentang Kepariwisataan Budaya Kabupaten Gianyar (Lembaran Daerah Kabupaten Gianyar Tahun 2013 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Gianyar Nomor 10).
Peraturan Gubernur Bali Nomor 41 Tahun 2010 Tentang Standarisasi Pengelolaan Daya Tarik Wisata (Berita Daerah Provinsi Bali Tahun 2010 Nomor 41).
17 Keputusan Bupati Gianyar Nomor 402 Tahun 2008 Tentang Penetapan Obyek dan Daya Tarik Wisata Kabupaten Gianyar Peraturan Bendesa Desa Pakraman Tegallalang Nomor
005/VII/DPT/2011 Tentang Penataan Wilayah Ceking Tanggal 13 Juli 2011
Keputusan Bendesa Desa Pakraman Tegallalang Nomor 090/III/DPT/2012 Tentang Penataan Obyek Wisata Ceking Terrace.