• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA ARAB SAUDI TERHADAP

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "UPAYA ARAB SAUDI TERHADAP"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

Hubungan konflik antara Iran dan Arab Saudi pada awalnya disebabkan oleh dimensi sektarianisme dalam arti persaingan Sunni dan Syiah di Timur Tengah. Hubungan konflik antara Iran dan Arab Saudi yang berawal dari dimensi sektarian berkembang menjadi persaingan geopolitik. Faktor geopolitik yang menyebabkan terjadinya konfrontasi dapat dilihat melalui keterlibatan Iran dan Arab Saudi dalam konflik di Suriah dan Yaman.

Selain itu, Iran dan Arab Saudi juga secara tidak langsung terlibat dalam konflik di Yaman pada tahun 2015 lalu. Artinya, penyebaran ideologi merupakan salah satu cara Arab Saudi untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Salah satu kepentingan prioritas saat ini adalah menyelesaikan konflik antara Arab Saudi dan Iran.

Upaya Arab Saudi terhadap Organisasi Kerjasama Islam dalam menyelesaikan konflik antara Iran dan Arab Saudi pada 2013-2018. Bicara tentang salah satu kepentingan prioritas saat ini adalah menyelesaikan konflik antara Arab Saudi dan Iran. Selanjutnya, negara Arab Saudi telah menyusun beberapa tindakan yang akan diambil oleh OKI untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Berikut penjelasan OKI sebagai landasan politik Arab Saudi dalam mereduksi pengaruh Iran di Timur Tengah.

Arab Saudi sebagai negara pendonor terbesar

Program beasiswa yang ditawarkan oleh pemerintah Arab Saudi ini dapat dilihat sebagai upaya yang sistematis dan terorganisir dalam menyebarkan ideologinya khususnya di negara-negara anggota OKI. Bantuan keuangan yang diberikan oleh Arab Saudi juga didukung oleh keberadaan Kantor Sekretariat OKI di Arab Saudi dan Islamic Development Bank (IDB) yang berkantor pusat di Jeddah. Dengan fasilitas pendukung di atas, tentunya Arab Saudi memiliki posisi penting terkait penguasaan lembaga tersebut.

Selain itu, Arab Saudi memberikan bantuan keuangan sebesar US$1 miliar kepada IDB untuk mendukung program pengentasan kemiskinan (Johnson T., 2010). Arab Saudi mendistribusikan hingga $22,7 miliar bantuan keuangan ke Yaman, Mesir, Palestina, Yordania, Oman, dan Bahrain. Selain itu, pada tahun 2015, Arab Saudi bersama Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Oman juga menyalurkan bantuan keuangan sebesar US$12,5 miliar ke Mesir (Al-Arabiya News, 2015).

Selanjutnya, pada periode 1985-2015, diperkirakan pemerintah Arab Saudi telah menghabiskan US$130 miliar untuk bantuan luar negeri (Kechichian, 2016). Terlebih, hubungan antara Mesir dan Israel tentunya memudahkan Arab Saudi untuk melakukan dialog intensif dengan Israel. Ketegangan yang muncul antara Iran dan Arab Saudi yang muncul hingga saat ini memaksa mereka untuk terlibat dalam perang proksi di Irak, Suriah, dan Yaman.

Kemudian faktor lain yaitu adanya program pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Iran menyebabkan Arab Saudi segera bertindak. Artinya, Israel dan Arab Saudi berusaha menekan Iran untuk menyebarkan pengaruhnya dengan tujuan menciptakan aliansi baru. Dengan demikian, bantuan finansial yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi menunjukkan bahwa negara tersebut memiliki kekuatan untuk mempengaruhi negara lain agar melakukan apa yang mereka inginkan.

Arab Saudi selalu bisa beradaptasi dengan kebijakan luar negeri Arab Saudi, terutama yang tergabung dalam OKI. Oleh karena itu, ketergantungan signifikan OKI pada pendanaan Saudi menunjukkan bahwa organisasi tersebut rentan terhadap dominasi Saudi. Hal lain yang menarik untuk dicatat adalah selain pendanaan, Arab Saudi juga terus meningkatkan eksistensinya dalam rangka penguasaan struktur kelembagaan internal OKI.

Dominasi terhadap susunan struktur kelembagaan OKI

Apalagi posisi markas OKI di Arab Saudi memberikan keuntungan bagi Arab Saudi. Kemudian, hal terpenting kedua yang dicapai oleh Arab Saudi adalah terpilihnya Yousef Ahmed Al-Othaimeen sebagai Sekretaris Jenderal OKI yang berkedudukan di Arab Saudi pada tahun 2016 (Arab News, 2016). Tidak berhenti sampai di situ, Arab Saudi semakin meningkatkan usahanya untuk menguasai negara-negara OKI dengan membangun aliansi militer.

Dukungan tersebut secara khusus diungkapkan dalam pernyataan Presiden Trump saat berkunjung ke Arab Saudi pada tahun 2017 (Gedung Putih, 2017). Pernyataan di atas menunjukkan bahwa legitimasi yang diberikan pemerintah AS dipahami sebagai upaya Arab Saudi untuk melawan pengaruh Iran di Timur Tengah. Arab Saudi berhasil mengklaim Iran sebagai negara yang mendukung aksi teroris di Timur Tengah, terutama yang ditujukan kepada Hizbullah (Fabian, 2016).

Pembentukan IMAFT meningkatkan kehadiran Arab Saudi untuk menarik negara-negara anggota OKI untuk terlibat dalam organisasi keamanan tersebut. Arab Saudi mengetahui negara-negara anggota OKI yang tergabung dalam koalisi Saudi untuk memerangi aksi terorisme. Bantuan ini diberikan oleh Arab Saudi sebagai upaya untuk mendominasi OKI melalui pendekatan soft power dengan menciptakan ketergantungan ekonomi.

Ketergantungan OKI terhadap bantuan keuangan Arab Saudi diduga dapat berdampak pada netralitas OKI. Lebih lanjut, posisi dan peran Arab Saudi yang dominan di lembaga-lembaga internal OKI membuat negara-negara anggota setia kepada Arab Saudi. Karena dengan posisinya, Arab Saudi bisa melawan negara lain yang dipandang sebagai ancaman untuk mempertahankan eksistensinya di kawasan Timur Tengah dan OKI.

Posisi Arab Saudi yang semakin dominan di lembaga internal OKI akan memudahkan Arab Saudi untuk melindungi kepentingan nasionalnya. Karena dapat mengganggu kepentingan nasionalnya, pemerintah Arab Saudi mengajak negara-negara anggota OKI untuk menyelesaikan konflik antara Arab Saudi dan Iran yang semakin memanas, terutama pasca eksekusi Syekh Nimr Al-Nimr pada 2016 lalu. Kerjasama Islam merupakan landasan politik Arab Saudi untuk mengurangi pengaruh Iran di Timur Tengah.

Organisasi Kerja sama Islam sebagai landasan politik Arab Saudi dalam meminimalisir pengaruh Iran di Timur Tengah

Arab Saudi sendiri telah berusaha memperbaiki hubungan dengan Iran, terutama pasca eksekusi Syekh Nimr Al-Nimr. Upaya lain yang dilakukan pemerintah Arab Saudi untuk menormalkan hubungan dengan Iran adalah dengan menggunakan pihak ketiga atau perantara. Inisiatif lain yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi untuk menyelesaikan konflik dengan Iran adalah melalui organisasi internasional.

Adanya pertemuan negara-negara anggota OKI diusulkan oleh pemerintah Arab Saudi untuk menyelesaikan konflik di Timur. Oleh karena itu, pemerintah Arab Saudi mengambil langkah positif untuk membangun hubungan damai dengan Iran. Dalam perkembangannya, peneliti berasumsi bahwa upaya yang akan dilakukan Arab Saudi untuk menyelesaikan konfliknya dengan Iran akan dilakukan melalui OKI.

Selanjutnya peneliti akan memberikan interpretasi terhadap pendekatan yang dilakukan oleh Arab Saudi dengan pendekatan teori aktor rasional. Untuk itu, Arab Saudi harus selalu mempertimbangkan keuntungan dan kerugian yang akan diperoleh negara jika menggunakan kekuatan militer. Kondisi ini didukung oleh ketergantungan pendanaan Arab Saudi dan dominasi struktur OKI.

Saat ini, Arab Saudi juga menjadi pembeli senjata terbesar, terutama di kawasan Timur Tengah. Arab Saudi telah menghabiskan lebih dari $80 miliar dan telah tumbuh sebesar 300% (DePetris, 2017). Selanjutnya, Arab Saudi berupaya menjadi negara adikuasa yang mendominasi ekonomi, militer, politik, dan keamanan.

Dengan bergesernya posisi hegemoni Arab Saudi, tentu dapat menarik perhatian publik, khususnya di Timur Tengah. Namun dalam perkembangannya, OKI menghadapi berbagai tantangan yang tidak mudah diselesaikan dalam konteks ketegangan antara Arab Saudi dan Iran. Untuk itu, Arab Saudi membangun kekuatan dengan mengajak negara-negara anggota OKI menghentikan kebangkitan Iran dan sekutunya di Timur Tengah.

Selanjutnya, Arab Saudi telah menggunakan OKI untuk membentuk posisi yang mendukung Arab Saudi dalam memitigasi kebangkitan Iran sendiri. Lebih jauh lagi, jika kita melihat hubungan antara Iran dan Arab Saudi yang berujung pada konflik, justru pasca eksekusi. Membicarakan tindakan Arab Saudi dalam menjalin hubungan damai dengan Iran adalah dengan menggunakan pendekatan damai, yakni melalui forum-forum di dalam institusi internal OKI.

Dengan demikian, peneliti berpendapat bahwa penyelesaian konflik antara Arab Saudi dan Iran dengan keterlibatan OKI cenderung memiliki tujuan tersendiri.

Referensi

Dokumen terkait

a.. Indonesia termasuk salah satu negara dengan pemasok jamaah haji terbanyak. Sebab kuota yang ditentukan oleh Arab Saudi adalah 1 persen dari total jumlah